Doa sebagai Cara untuk Berjalan dalam Kasih: Sebuah Perjalanan Pribadi

Dari Gospel Translations Indonesian

Langsung ke:navigasi, cari

Yang Berhubungan Dengan Sumber Daya
Lagi Oleh Francis Chan
Indeks Pengarang
Lagi Mengenai Doa
Indeks Topik
Tentang terjemahan ini
English: Prayer as a Way of Walking in Love: A Personal Journey

© Desiring God

Bagikan ini
Misi Kami
Terjemahan ini diterbitkan oleh Injil Terjemahan, sebuah pelayanan yang ada untuk membuat buku-buku dan artikel injil-tengah yang tersedia secara gratis untuk setiap bangsa dan bahasa.

Pelajari lebih lanjut (English).
Bagaimana Anda Dapat Membantu
Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan baik, Anda dapat membantu kami sebagai penerjemah secara sukarela.

Pelajari lebih lanjut (English).

Oleh Francis Chan Mengenai Doa

Terjemahan oleh Yopi Jalu Paksi

Review Anda dapat membantu kami memperbaiki terjemahan ini dengan meninjau untuk meningkatkan akurasi terjemahan. Pelajari lebih lanjut (English).


Catatan yang diambil selama sidang.

Kagum oleh Jawaban Doa

Pastor John memberi saya topik tentang doa sebagai sebuah perjalanan pribadi. Dalam hidup saya, doa bahkan sudah melebihi ayat-ayat Kitab Suci dalam membangkitkan kasih saya kepada Allah. Saya tahu Yesus mengasihi saya karena Alkitab mengatakan demikian—Allah, Engkau sangat mengasihiku! Tapi aku tahu kalau Dia mengasihiku dengan cara-Nya menjawab doa-doaku. Lima menit yang lalu, sambil memohon kepada Allah, “Bagaimana aku menyaksikan apa yang aku dan Kaualami selama beberapa tahun ini!? Bagaimana aku mengatakannya? Apakah Engkau sangat mengasihi orang-orang ini? Aku melihat besarnya kasih-Mu ketika Engkau menjawab doa-doaku.”

Setiap kali saya menerima uang di bank, saya ingin memberikannya kepada orang-orang yang membutuhkan. Namun, kali ini saya ingin mengajak keluarga berlibur dan saya memohon dan mengungkapkannya kepada Allah. Saya berdoa dan menunggu. Beberapa hari kemudian, istri saya menelepon ke tempat kerja saya dan mengatakan bahwa kami mendapat kiriman cek dari bank sebesar $2000. Hanya ada secarik kertas kecil bertuliskan: “Pakailah uang itu untuk keluargamu.” Wow! Allah sungguh baik karena menjawab doa-doa saya.

Suatu saat, saya dan istri sedang berbicara. Istri saya mengatakan kalau dia sangat menyukai kehidupan kami dan kesederhanaan hidup kami. Namun dia berkata, “Ketahuilah, aku sangat ingin lebih banyak berderma.” Kami selalu rindu menjadi orang-orang yang segera menulis cek untuk orang lain. Sekalipun kami bukanlah seperti mereka, kami berdoa agar banyak orang kaya di gereja yang digerakkan hatinya untuk berderma. Kami juga berdoa agar Allah membuat kami kaya agar bisa memberi. Dan tahun lalu, kami menerima $2 juta dari penjualan Crazy Love. Semuanya didermakan dan kami bisa menulis cek untuk orang lain.

Doa adalah cara untuk berjalan dalam kasih. Saya sangat mengasihi Allah karena Dia sudah menjawab doa-doa saya. Bahkan terkadang kami salah berdoa dan kami sangat bersyukur dan kagum karena Allah tidak mengabulkan doa-doa itu. Namun ketika melihat ayat Kitab Suci, tahukah bahwa doalah yang membedakan kita dengan agama lainnya? Dalam kisah Elia, Allahlah yang menjawab doa. Dia bukanlah sebatang kayu. Dia menjawab doa umat-Nya.

Satu hal yang sudah saya lakukan adalah menulis di buku doa harian. Saya menuliskan doa-doa di satu halaman lalu kembali menulis di halaman berikutnya ketika Allah menjawab doa itu. Mengingat kembali saat Allah menjawab doa amatlah baik. Kita sangat mudah melupakan perbuatan Allah. Inilah yang sangat memengaruhi doa kita.

Suatu saat saya sedang membersihkan garasi. Saya enggan melakukannya. Saya ingin melakukan sesuatu yang kekal. Jadi, saya berdoa agar Allah menolong saya untuk melakukan sesuatu yang kekal dalam pekerjaan itu. Akhirnya ketika saya sedang membersihkan garasi, tetangga saya mampir. Dia mengatakan kalau ingin berbicara dengan saya dan minta didoakan. Sungguh luar biasa!

Memercayai Kuasa Allah

Setiap kali menerima jawaban doa, saya sangat kagum kepada Allah. Mengapa saya hanya berdoa? Satu-satunya yang sangat membedakan saya dan beberapa agama lain adalah Allah-lah yang menjawab doa. Ketika saya berbicara dengan seseorang di pesawat atau di mana pun, saya berdoa agar Allah menunjukkan kuasa-Nya, sebab jika tidak, saya sama saja dengan satu di antara agama-agama tersebut. Dia pasti bekerja dan berkarya.

Ketika ada orang yang tidak percaya masuk gereja Anda, tidakkah Anda ingin dia pergi sambil berkata, “Bung, orang itu, jemaat ini, dekat dengan Allah!” Itukah yang mereka lihat? Apakah itu terjadi di gereja Anda? Bukankah itu yang kita inginkan? Kita ingin menunjukkan betapa besarnya Allah melalui hubungan kita dengan-Nya.

Ya, Allah Mahakuasa dan Dia bisa memakai orang yang tidak percaya untuk memberitakan Injil dengan kuasa. Namun, tidakkah Anda mau dekat dengan Allah sehingga orang-orang mencari-Nya? Ingatkah saat mengikuti Sekolah Minggu? Anda mau menerima dan memercayai bahwa Allah bisa melakukan segala sesuatu! Anda mau membaca dan mendengar semua perkara besar yang telah dilakukan Allah dan mau memercayainya. Namun kini seiring bertambahnya usia, kita tidak lagi heran oleh mukjizat-mukjizat yang dilakukan Allah. Alih-alih, kita kagum oleh gaya berbicara dan pengetahuan.

Mungkin kita perlu mengkhotbahkan lagi kisah-kisah hebat mengenai kebesaran Allah dalam Perjanjian lama. Kita perlu mengingatkan jemaat bahwa Allah kita bisa melakukan segala sesuatu. Masihkah Anda memercayainya? Masihkah Anda percaya bahwa Allah bisa melakukan segala sesuatu? Kita menganggap Musa dan Elia sebagai pahlawan super, tetapi mereka hanya manusia biasa seperti kita. Mereka sama seperti kita. Seandainya mereka masih hidup hingga saat ini, mungkin kita kagum kepada mereka. Namun itu tidak penting! Kita sama seperti mereka. Mereka berdoa dengan sungguh-sungguh. Kita pun bisa seperti itu.

Berserulah, Dia akan Menjawab

Kini, saya semakin percaya bahwa Allah menjawab doa sehingga saya hanya berserah kepada-Nya ketika Dia tidak menjawabnya. Saya tidak tahu alasan Dia tidak menyembuhkan seseorang. Saya harus sadar kalau saya berdoa dengan motivasi yang salah atau tidak memperlakukan istri dengan baik atau apa saja. Saya ingin menunjukkan Yesaya 58:5-9.

Ada orang-orang yang sedang memohon hal-hal tertentu kepada Allah, tetapi karena mereka mengabaikan perintah-perintah-Nya, tentu saja Dia tidak mau mendengarkan mereka. Namun, segera setelah mereka mulai melakukannya, Dia berfirman, “Inilah Aku.” Ada masa ketika saya heran kepada Tuhan karena saya tidak berdoa sungguh-sungguh seperti beberapa orang. Saya kecewa oleh jawaban-Nya ketika saya berdoa dengan singkat atau memikirkan sesuatu. Ayat ini mengatakan kalau Dia akan menjawab. Berserulah.

Jika Anda tinggal di dalam Yesus, Dia akan tinggal di dalam Anda. Mungkin inilah kegagalan terbesar saya. Saya sangat mudah menyibukkan diri dalam pelayanan dan kehidupan doa saya berubah menjadi, “Lakukan ini. Lakukan itu.” Saya tidak tinggal di dalam Yesus. Sekalipun demikian, untuk duduk dan tinggal di dalam Allah diperlukan iman. Saya mengabaikan hal yang paling penting, yaitu doa sebagai cara untuk berjalan dalam kasih. Saya gagal bersekutu dan berbicara dengan Allah.

Saya cemas kalau kebanyakan dari kita terlalu mementingkan pekerjaan Allah sehingga mengabaikan Pribadi-Nya. Jika Anda tinggal di dalam Dia, Anda akan berbuah lebat. Renungkanlah. Perkara-perkara besar yang terjadi dalam pelayanan Anda—apakah itu hasil dari perencanaan yang sangat matang atau strategi atau kebetulan? Itu adalah anugerah Allah. Tinggallah di dalam Allah.

Satu-satunya Hal

Saya telah menghidupi ayat ini selama beberapa minggu, Mazmur 27:4. Adakah sesuatu yang terus Anda minta kepada Tuhan? Seandainya saya membaca salinan doa Anda, adakah saya temukan satu-satunya hal yang terus Anda minta? Akankah itu, “Biarkan aku tinggal di rumah-Mu seumur hidupku dan memandang keindahan-Mu”? Apakah itu yang tertulis? Yoel berkata tadi malam, “Jika Anda ingin mempermalukan seorang pria, tanyakan kehidupan doanya.” Apa yang akan terjadi?

Konteks ayat ini adalah bahaya dan hal-hal tidak masuk akal yang terjadi dalam kehidupan pemazmur. Musuh ingin agar kita memandang semua hal yang terjadi sekitar kita dan mencemaskan masa depan serta semua kekacauan. Jika ia bisa membuat kita takut dan khawatir tentang hal-hal di sekitar kita, apalagi Allah. Namun, pemazmur mengatakan bahwa Allah adalah benteng hidupnya.

Hal-hal lain menjadi benteng kita. Kita mengandalkan staf kita yang banyak sekali yang mampu menyelesaikan segala hal. Atau kita menantikan cuti atau liburan atau konferensi besar seperti ini sebagai benteng. Mungkin Anda datang ke sini bukan merindukan Tuhan, melainkan menginginkan Kerinduan Tuhan. Atau mungkin Anda ingin melihat karya John Piper. Kita mulai menemukan benteng di banyak hal di luar Allah. Namun, ketika Anda menyendiri bersama Allah dan membuka jiwa kepada-Nya, pasti ada persekutuan indah dan ketaatan.

Ketika Anda mengalami stres dan kesulitan hidup, Anda seharusnya mampu berkata, “Ayo, lakukan sesukamu.” Anda seharusnya memiliki keyakinan. Mengapa? Karena ada satu hal yang telah Anda minta kepada Tuhan. Karena Anda berada dalam hadirat Allah, bersekutu dengan-Nya. Siapakah yang akan menyerang Anda ketika bersekutu dengan Tuhan? Itu konyol! Tinggallah bersama Tuhan dan semuanya akan baik-baik saja.

Renungkanlah. Jika hanya ada satu Pribadi yang berdaulat atas seluruh alam semesta dan saya tetap menaati-Nya, segala sesuatu akan diselesaikan. Benar, kan? Kita mau mengatakan bahwa kita percaya pada kedaulatan Allah, tetapi pertanyaannya adalah bagaimana menjabarkan hal itu dalam hidup Anda. Apakah itu menghasilkan damai sejahtera yang melampaui segala akal? Bahkan ketika sepertinya tidak ada perubahan, Anda memiliki Allah yang berdaulat sebagai tempat perlindungan.

Apakah Anda sudah sampai ke titik di mana Anda hanya ingin dekat dengan Allah dan berada dalam hadirat-Nya? Itulah yang dijelaskan oleh ayat tersebut—hanya memandang keindahan-Nya dan menghabiskan saat-saat yang indah bersama-Nya. Tidak perlu mencari tempat khusus. Saya menghabiskan dua jam di restoran IHOP sambil makan pancake dan berkomunikasi dengan Allah. Terkadang di tengah malam saya merasakan setiap embusan napas dan kagum karena Tuhan sudah memberi saya napas lagi. Seharusnya hal itu memesona kita karena Allah semesta alam mau mendengarkan doa kita. Adakah yang lebih baik daripada itu? Dia mendengarkan, mendengar, dan mengasihi. Biarlah hal ini menjadi satu-satunya permintaan Anda.

Perangkap Asumsi

Setiap orang membicarakan kepergian saya dari gereja di Simi Valley. Saya pindah ke San Francisco tiga minggu lalu dan setiap orang menanyakan apa yang akan saya lakukan di sana. Namun tidak seorang pun bertanya, “Bagaimana kehidupan doa Anda?” Ini karena semua orang menganggap bahwa Anda pasti melakukannya. Saya pikir orang lain menganggap saya pasti melakukannya. Mungkin mereka menganggap konyol jika menanyakan apakah saya berdoa. Saya berharap makin banyak orang mau berkata, “Saya harap Anda tak memulai sesuatu tanpa berdoa.”

Kita semua melakukannya, bukan? Kita telah membuat asumsi tentang para staf atau jemaat. Lalu kita akhirnya mengetahui persoalan dan pergumulan. Jadi, saya tidak ingin mengasumsikan sesuatu pagi ini. Saya tidak menganggap bahwa kini Anda dekat dengan Tuhan. Doa saya adalah Anda bermegah dalam Allah dan Anda dekat dengan Allah sehingga orang lain melihatnya dalam diri Anda.

Tinggal dalam Kristus dan tinggal dalam rumah Tuhan membutuhkan iman besar. Saya berdoa agar Anda memahaminya. Itulah yang ingin dilihat banyak orang ketika datang ke gereja Anda. Mereka ingin melihat orang yang dekat dengan Allah. Elia adalah manusia seperti Anda dan saya. Ia dekat dengan Allah. Saya ingin Anda pun demikian.