Bagaimana Menderita Tanpa Mengeluh

Dari Gospel Translations Indonesian

Langsung ke:navigasi, cari

Yang Berhubungan Dengan Sumber Daya
Lagi Oleh John Piper
Indeks Pengarang
Lagi Mengenai Penderitaan
Indeks Topik
Tentang terjemahan ini
English: How to Suffer Without Grumbling

© Desiring God

Bagikan ini
Misi Kami
Terjemahan ini diterbitkan oleh Injil Terjemahan, sebuah pelayanan yang ada untuk membuat buku-buku dan artikel injil-tengah yang tersedia secara gratis untuk setiap bangsa dan bahasa.

Pelajari lebih lanjut (English).
Bagaimana Anda Dapat Membantu
Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan baik, Anda dapat membantu kami sebagai penerjemah secara sukarela.

Pelajari lebih lanjut (English).

Oleh John Piper Mengenai Penderitaan

Terjemahan oleh Alexander Rahmaputra

Review Anda dapat membantu kami memperbaiki terjemahan ini dengan meninjau untuk meningkatkan akurasi terjemahan. Pelajari lebih lanjut (English).


MENGAPA SAYA MENCINTAI RASUL PAULUS

Saya tertarik kepada orang orang yang menderita tapi tidak mengeluh. Terutama saat mereka percaya Tuhan dan tidak pernah marah atau mengkritik Dia. Bagi saya tidak mengeluh adalah sikap terlangka di dunia. Dan ketika digabungkan dengan iman kepada Tuhan yang dalam — yang dapat mengubah kondisi kita yang menyakitkan tapi tidak dilakukan — memiliki kualitas yang indah, percaya dan hormat kepada Tuhan yang menjadikan segalanya menjadi lebih menarik. Paulus persis seperti demikian.

Dibawa ke Ujung Maut

Paulus bercerita saat imannya dicoba sampai pada ujung keputusasaan dan maut:

Kita merasa sangat terbebani diluar kemampuan kita kehilangan harapan pada hidup kita sendiri. Memang kita merasa mendapatkan hukuman terberat. Tetapi itu akan membuat kita tidak bergantung pada diri kita sendiri tetapi juga kepada Tuhan yang telah membangkitkan orang mati. Dia menghindarkan kita dari bahaya kematian dan Dia akan menolong kita. Kepada Tuhan kita menggantungkan harapan bahwa Dia akan menolong kita kembali. (2 Korintus 1:8-10)

Tiga hal menarik disini. Pertama adalah kejamnya penderitaan: “Kita merasa telah menerima hukuman mati terberat.” Kedua ada tujuan atau rencana dibalik penderitaan ini: “Itu akan membuat kita tidak hanya bergantung pada diri sendiri tetapi juga kepada Tuhan yang telah membangkitkan orang mati.” Ketiga tujuan ini adalah tujuan Tuhan. Tidak mungkin tujuan Setan, karena Setan tidak mau Paulus bergantung kepada Tuhan.

Jadi kebenaran dari Paulus tentang penderitaannya — tak peduli seberapa parah — bahwa pada akhirnya akan tiba bersama tujuan Tuhan dan tujuannya adalah agar Paulus tidak terlalu bergantung pada diri sendiri tetapi lebih kepada Tuhan, setiap saat kehidupannya, terutama saat mendekati ajalnya.

Kunci untuk Tidak Mengeluh

Ini, sepertinya, adalah bagaimana cara Paulus untuk tidak mengeluh dalam penderitaannya. Dia tahu Tuhan sedang bekerja, dan tujuan Tuhan sepenuhnya demi kebaikan Paulus. Paulus mewartakan kebenaran ini di beberapa tempat lain:

Kita bergembira dalam penderitaan kita, karena penderitaan ini menghasilkan ketabahan, dan ketabahan akan membentuk karakter, dan karakter akan menghasilkan harapan dan harapan tidak akan mempermalukan kita karena kasih Tuhan telah dituangkan ke dalam hati kita melalui Roh Kudus yang diberikan kepada kita. (Roma 5:3-5)

Juga, dasar Paulus tidak mengeluh — selain adanya kegembiraan — adalah kepercayaannya bahwa Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang penting dalam diri Paulus: menghasilkan ketabahan dan harapan yang disertai Tuhan.

Menderita pada Akhir Kehidupan Duniawi

Tetapi bagaimana dengan penderitaan yang berujung kematian dan bukan pada tahap baru kehidupan duniawi dimana ketergantungan kepada Tuhan (2 Korintus 1:9) dan pendalaman karakter dan harapan (Roma 5:4) dapat ditingkatkan? Paulus sangat sadar atas pertanyaan ini dan memberikan jawabannya pada 2 Korintus 4:16–18:

Kita tidak kehilangan hati. Meski jasad kita rusak, jiwa kita diperbarui setiap hari. Pada saat penderitaan yang singkat ini mempersiapkan kita untuk kemenangan abadi melebihi segalanya, saat kita melihat tidak hanya yang terlihat tetapi juga yang tidak terlihat. Bahwa hal yang terlihat hanyalah sementara, tetapi yang tidak terlihat adalah abadi.

Persoalan disini adalah berakhirnya kehidupan manusia secara bertahap — lewat penderitaan dan sakit dan bertambahnya usia. Dengan kata lain, tahap berikut setelah penderitaan ini bukanlah iman dan harapan yang lebih besar di dunia. Tahap berikutnya adalah surga.

Jadi, apakah inti dari penderitaan bertahap yang berujung pada kematian Bagaimana kita yang masih memiliki beberapa tahun tersisa agar tidak bersungut pada kesakitan dan penderitaan dan pada ajal yang menjelang? Jawaban Paulus adalah pada penderitaan hidup ini — jika kita tabah dengan mengimani Kristus — akhirnya akan menghasilkan kemuliaan yang lebih besar di surga. “Penderitaan ini...mempersiapkan kita pada kemuliaan abadi yang besar.”

Rahasia Kesukacitaan

Dari sebab itu meski kehidupan Paulus sepertinya tidak henti-hentinya menderita (2 Korintus 11:23–33), ada sedikit kelihatan mengeluh, tetapi tidak kepada Tuhan. Dia bisa marah pada kesalahan yang fatal dan para gurunya (Galatia 1:8–9; 5:12). Dan dia bisa melampiaskan tekanan dan bebannya (2 Korintus 11:28). Tetapi kesukacitaan dia saat mengalaminya bukanlah hal yang biasa.

Dia berkata bahwa dia telah mempelajari rahasia kesukacitaan:

Aku telah belajar untuk bersukacita dalam situasi apapun. Aku tahu saat untuk merendah dan aku tahu saat berkelimpahan. Dalam setiap keadaan, aku telah belajar rahasia untuk menghadapi kelimpahan dan kelaparan, kekayaan dan kesusahan. Aku bisa melakukan segala hal bersama Dia yang menguatkanku. (Filipi 4:11–13)

“Rahasia” ini sepertinya menjadi kehadiran dan nilai yang memuaskan dari Kristus (Filipi 3:8) bersama dengan keyakinan yang dirasakan Paulus dalam kerahiman Tuhan yang bekerja untuk segala kepentingan-Nya (Filipi 1:12; Roma 8:28). Menyaksikan Paulus mempertahankan kesederhanaan, ketergantungan kepada Tuhan, kesukacitaannya memuliakan Tuhan dalam semua penderitaannya membuat saya semakin kagum kepadanya.