Mengapa dan Bagaimana Kita Merayakan Perjamuan Tuhan

Dari Gospel Translations Indonesian

Revisi per 21:24, 9 Februari 2018; Pcain (Bicara | kontrib)
(beda) ←Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya→ (beda)
Langsung ke:navigasi, cari

Yang Berhubungan Dengan Sumber Daya
Lagi Oleh John Piper
Indeks Pengarang
Lagi Mengenai Perjamuan Tuhan
Indeks Topik
Tentang terjemahan ini
English: Why and How We Celebrate the Lord's Supper

© Desiring God

Bagikan ini
Misi Kami
Terjemahan ini diterbitkan oleh Injil Terjemahan, sebuah pelayanan yang ada untuk membuat buku-buku dan artikel injil-tengah yang tersedia secara gratis untuk setiap bangsa dan bahasa.

Pelajari lebih lanjut (English).
Bagaimana Anda Dapat Membantu
Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan baik, Anda dapat membantu kami sebagai penerjemah secara sukarela.

Pelajari lebih lanjut (English).

Oleh John Piper Mengenai Perjamuan Tuhan

Terjemahan oleh Desiring God


> Dalam peraturan-peraturan yang berikut aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. 18 Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. 19 Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapakah di antara kamu yang tahan uji. 20 Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. 21 Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. 22 Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau maukah kamu menghinakan Jemaat Allah dan memalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji. 23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” 25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” 26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. 27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. 28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. 29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. 30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. 31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. 32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia. 33 Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain. 34 Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum. Hal-hal yang lain akan kuatur, kalau aku datang.

Sebelum kita kembali ke Surat Roma minggu depan (jika Allah berkehendak), saya pikir akan baik bagi kita untuk menempatkan Perjamuan Tuhan dalam konteks Alkitab dan memfokuskan perhatian kita pada mengapa dan bagaimana kita memelihara ketetapan ini. Jadi hari ini kita akan membahas bagian Alkitab yang bertemakan Perjamuan Tuhan terlebih dahulu, baru kemudian membahas tema Perjamuan Tuhan itu di dalam khotbah.

Setelah Alkitab, yang merupakan dasar yang infalibel (tidak dapat salah) bagi hidup kami dan gereja kami, salah satu dokumen yang paling penting dalam hidup gereja kami adalah Bethlehem Baptist Church Elder Affirmation of Faith (“Pernyataan Iman Penatua Gereja Baptis Betlehem”). Saya mendorong Anda semua untuk membacanya. Anda dapat melihatnya di website gereja atau website Desiring God. Paragraf 12.4 memberikan rangkuman doktrinal mengenai apa yang kami percaya, sekaligus mengajarkan tentang Perjamuan Tuhan.

Kami percaya bahwa Perjamuan Tuhan merupakan sebuah ketetapan dari Tuhan, di mana orang percaya berkumpul untuk makan roti, yang melambangkan tubuh Kristus yang diserahkan bagi umat-Nya, dan minum cawan Tuhan, yang melambangkan Kovenan Baru di dalam darah Kristus. Kita melakukan hal ini sebagai peringatan akan Tuhan, dan dengan demikian, memberitakan kematian-Nya sampai Ia datang. Orang-orang yang makan dan minum dengan cara yang layak itu mendapat bagian di dalam tubuh dan darah Kristus, bukan secara jasmaniah, melainkan secara rohaniah, dengan iman, mereka diberi makan dari pengalaman kemenangan melalui kematian-Nya, dan dengan demikian, mereka bertumbuh dalam anugerah.

Saya akan mencoba untuk memberikan dasar Alkitab bagi pemahaman tentang Perjamuan Tuhan ini di dalam enam kelompok judul, yakni 1) asal-usul historis (sejarah) ; 2) orang-orang percaya yang menjadi peserta; 3) aktivitas jasmaniah; 4) aktivitas mental; 5) aktivitas batin; dan 6) keseriusan yang sakral.

1. Asal-usul Historis Perjamuan Tuhan

Baik Injil Matius (26:26 dst.), Markus (14:22 dst.), maupun Lukas (22:14 dst.), kesemuanya mencatat tentang peristiwa Perjamuan Terakhir yang dilangsungkan oleh Yesus bersama para murid-Nya pada malam sebelum Ia disalibkan. Masing-masing Injil tersebut menggambarkan bagaimana Yesus mengucap syukur atau memberkati roti dan cawan itu, serta memberikannya kepada para murid-Nya seraya berkata bahwa roti itu adalah tubuh-Nya dan bahwa cawan itu adalah darah perjanjian, atau perjanjian baru dalam darah-Nya. Dalam Injil Lukas 22:19, Yesus berkata, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” Injil Yohanes tidak mencatat aktivitas makan dan minum itu, tetapi mencatat tentang sejumlah ajaran serta aktivitas lain yang mengisi malam itu.

Sejauh yang dapat kita katakan dari tinjauan terhadap naskah-naskah yang paling awal ditulis, kita dapat mengatakan bahwa gereja telah melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus: Mereka melakukan lagi perjamuan itu demi mengenang akan Yesus dan peristiwa kematian-Nya. Surat-surat Paulus merupakan sekumpulan naskah paling awal yang kita miliki, dan di dalam Surat 1 Korintus 11:20, Rasul Paulus merujuk kepada sebuah peristiwa dalam kehidupan bergereja yang disebut sebagai “Perjamuan Tuhan.” Sebutan “Perjamuan Tuhan” mungkin didasarkan pada fakta bahwa peristiwa itu diprakarsai atau ditetapkan oleh Tuhan Yesus, dan bahwa peristiwa itu bermakna sebagai peringatan untuk mengenang kematian Tuhan. Paulus mengatakan dalam Surat 1 Korintus 11:23-24, “Apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ ” “Telah aku terima dari Tuhan ...” mungkin bermakna bahwa Tuhan sendirilah yang telah memberikan penegasan kepada Paulus (yang tidak mengikuti Perjamuan Terakhir seperti halnya para rasul yang lain) bahwa apa yang dicatat oleh para rasul yang lain mengenai Perjamuan Terakhir itu benar-benar terjadi.

Dengan demikian, asal-usul historis Perjamuan Tuhan adalah perjamuan terakhir di mana Yesus makan bersama dengan para murid-Nya pada malam sebelum Ia disalibkan. Aktivitas serta makna dari peristiwa Perjamuan Tuhan itu kesemuanya didasarkan pada apa yang Yesus katakan dan lakukan pada malam terakhir itu. Yesus sendirilah yang menjadi asal-usul dari Perjamuan Tuhan. Ia memerintahkan agar Perjamuan itu terus dilangsungkan. Dan Ia adalah fokus sekaligus isi dari Perjamuan itu.

2. Orang-orang Percaya yang Menjadi Peserta Perjamuan Tuhan

Perjamuan Tuhan merupakan sebuah aktivitas berkumpul dari keluarga orang-orang yang percaya kepada Yesus, atau gereja. Itu bukanlah aktivitas bagi orang-orang yang tidak percaya. Orang-orang yang tidak percaya boleh saja hadir – bahkan, kita menyambut kehadiran mereka – tidak ada hal-hal yang bersifat rahasia dalam Perjamuan Tuhan. Aktivitas itu dilangsungkan di hadapan publik. Aktivitas itu bermakna umum. Itu bukanlah ritual pemujaan yang bersifat rahasia dengan kuasa-kuasa magisnya. Itu merupakan aktivitas penyembahan di hadapan publik oleh gereja Tuhan yang sedang berkumpul. Faktanya, di dalam Surat 1 Korintus 11:26, Rasul Paulus mengatakan, “Setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.” Jadi, ada aspek proklamasi yang terkandung dalam aktivitas perjamuan. Proklamasi, bukan privasi, identik dengan berita untuk dikumandangkan.

Kami tidak melarang diselenggarakannya Perjamuan Tuhan bagi seorang penghuni di panti atau seorang pasien di rumah sakit, tetapi jenis peringatan individual semacam itu adalah perkecualian, bukan norma Alkitab. Sebanyak 5 kali dalam Surat 1 Korintus 11 Rasul Paulus berbicara tentang jemaat yang “berkumpul” ketika Perjamuan Tuhan dilangsungkan. Ayat 17b: “Sebabpertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan.” Ayat 18: “Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu.” Ayat 20: “Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan.” Ayat 33: “Jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain.” Ayat 34: “Kalau ada orang yang lapar, baiklah ia makan dahulu di rumahnya, supaya jangan kamu berkumpul untuk dihukum.”

Dengan kata lain, mereka telah melakukan pelecehan dengan cara mereka yang terlalu dekat mengaitkan Perjamuan Tuhan itu dengan perjamuan makan rutin mereka. Ada sebagian orang yang memiliki begitu banyak untuk dimakan, sementara sebagian lainnya sama sekali tidak memiliki apa-apa. Maka Rasul Paulus pun berkata, makanlah makan malammu di rumahmu sendiri, baru kemudian berkumpul di rumah Tuhan untuk makan Perjamuan Tuhan.

Dan coba perhatikan kata “jemaat” pada ayat ke-18: “apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat.” Ini adalah tubuh Kristus, sidang jemaat dari para pengikut Yesus: orang-orang yang telah berpaling dari berhala dan mempercayai Yesus saja sebagai sumber pengampunan bagi dosa-dosa mereka, dan sumber pengharapan akan hidup kekal, serta sumber kepuasan jiwa mereka. Mereka inilah orang Kristen. Jadi para peserta dalam Perjamuan Tuhan adalah sekumpulan orang yang percaya kepada Yesus.

3. Aktivitas Jasmaniah dari Perjamuan Tuhan

Aktivitas jasmaniah dari Perjamuan Tuhan bukanlah dengan menyantap serangkaian menu tujuh-jenis makanan. Sebaliknya, aktivitas itu sangatlah sederhana. Aktivitas itu adalah makan roti dan minum dari cawan. Ayat ke-23b-25, “Ia mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’ Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: ‘Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!’”

Tidak ada ketentuan khusus mengenai jenis roti atau cara roti itu dipecah-pecahkan. Satu-satunya pernyataan yang menjelaskan tentang apa saja yang ada di dalam cawan itu terangkum dalam satu ayat, masing-masing ada di dalam kitab Matius, Markus, dan Lukas: “Aku berkata kepadamu: mulai dari sekarang Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini sampai pada hari Aku meminumnya, yaitu yang baru, bersama-sama dengan kamu dalam Kerajaan Bapa-Ku” (Matius 26:29; bdk. Markus 14:25; Lukas 22:18). Demikianlah, itu disebut sebagai “hasil pokok anggur.” Saya pikir kita tidak perlu terlalu mempersoalkan apakah itu menggunakan jus anggur atau arak anggur. Tidak ada sesuatu pun dalam teks yang memerintahkan atau melarang yang satu atau yang lain.

Yang harus kita hindari adalah upaya untuk menggantikan Perjamuan Tuhan dengan perjamuan sesuka hati – misalnya, dengan makan donat dan minum minuman bersoda sambil duduk mengelilingi api unggun. Perjamuan Tuhan bukanlah acara bersenang-senang. Kita selayaknya memperingatinya dengan kesungguhan hati – inilah yang akan menjadi tema pembicaraan kita selanjutnya.

Saya juga hendak secara sepintas menyebutkan bahwa di dalam Perjanjian Baru tidak secara persis disebutkan tentang frekuensi Perjamuan Tuhan. Sebagian orang percaya bahwa Perjamuan Tuhan sebaiknya dilakukan setiap minggu; sebagian orang lainnya melakukanya setiap tiga bulan sekali. Posisi kami adalah di tengah keduanya, dan biasanya kami memperingatinya pada Minggu pertama setiap bulan. Saya pikir kita bebas dalam hal ini, dan yang kemudian perlu dipertanyakan adalah 1) Apakah tinggi rendahnya frekuensi itu memiliki keterkaitan yang signifikan dengan pelayanan Firman Allah? dan 2) Apakah tinggi rendahnya frekuensi itu menolong kita untuk semakin menghargai nilainya, atau justru menjadikannya rutinitas belaka? Itu bukanlah penilaian yang mudah untuk dilakukan, dan gereja yang berbeda melakukannya dengan cara yang berbeda pula.

4. Aktivitas Mental dari Perjamuan Tuhan

Aktivitas mental dari para peserta Perjamuan Tuhan adalah mengarahkan pikiran kepada Yesus, khususnya kepada karya historis-Nya, yakni mati bagi dosa-dosa kita. Ayat ke-24 dan 25 menyebutkan, “Perbuatlah ini menjadiperingatan akan Aku.” Sembari melakukan aktivitas jasmaniah makan dan minum, kita hendaknya sekaligus melakukan aktivitas mental mengingat. Maksudnya, kita hendaknya dengan secara sadar mengingat kembali pribadi Yesus sebagaimana Ia pernah hidup dan karya Yesus sebagaimana Ia pernah mati dan bangkit kembali, dan apa makna dari karya-Nya bagi pengampunan dosa-dosa kita.

Dari masa ke masa, Perjamuan Tuhan telah menjadi pengingat yang tak terbantahkan, yang menegaskan betapa Kekristenan bukanlah spiritualitas zaman-baru. Perjamuan Tuhan bukanlah aktivitas yang berhubungan dengan eksistensi internal Anda. Itu bukanlah mistisisme. Sebaliknya, Perjamuan Tuhan didasarkan pada sejumlah fakta historis. Yesus pernah hidup. Ia memiliki tubuh, dan jantung yang berfungsi memompa darah, dan kulit yang berdarah. Ia pernah mati di hadapan publik di atas kayu salib buatan pemerintah Romawi untuk menggantikan orang-orang berdosa, sehingga barangsiapa yang percaya kepada-Nya boleh diselamatkan dari murka Allah. Itu terjadi satu kali untuk selamanya di dalam sejarah.

Oleh karena itu, aktivitas mental dari Perjamuan Tuhan pada hakikatnya adalah mengingat, Bukan membayangkan. Bukan memimpikan. Bukan merenungkan. Bukan mendengarkan. Bukan bersikap netral. Perjamuan Tuhan merupakan pengarahan pikiran secara sadar, kembali ke dalam sejarah, kepada Yesus dan apa yang kita ketahui tentang Dia dari Alkitab. Dari masa ke masa, Perjamuan Tuhan menjadikan kita berakar di atas fakta-fakta sejarah yang mendasar. Roti dan cawan. Tubuh dan darah. Hukuman mati dan kematian.

5. Aktivitas Batin dari Perjamuan Tuhan

Ini yang paling penting. Alasannya: mereka yang bukan orang percaya pun mampu melakukan hal-hal yang telah saya deskripsikan sebelum ini. Bahkan, jika Iblis bisa memiliki tubuh dan daging, maka ia pasti juga mampu melakukan semua itu. Makan, minum, dan mengingat. Tidak ada sedikit pun unsur spiritual yang bersifat inheren dalam hal itu. Maka, agar Perjamuan Tuhan menjadi sebagaimana yang dimaksudkan oleh Yesus, harus ada sesuatu yang lebih dari sekadar aktivitas makan, minum, dan mengingat. Sesuatu itu harus tidak dapat dilakukan baik oleh orang-orang yang belum percaya maupun oleh Iblis.

Saya akan membacakan kalimat penting dari ElderAffirmation of Faith (“Pernyataan Iman Penatua Gereja Baptis Betlehem”) sekali lagi dan kemudian menunjukkan kepada Anda dari bagian Alkitab yang manakah gagasan itu berasal. “Orang-orang yang makan dan minum dengan cara yang layak itu mendapat bagian di dalam tubuh dan darah Kristus, bukan secara jasmaniah, tetapi secara rohaniah, dengan iman, mereka diberi makan dari pengalaman kemenangan melalui kematian-Nya, dan dengan demikian, mereka bertumbuh dalam anugerah.

Dari mana asal gagasan “mendapat bagian di dalam tubuh dan darah Kristus ... secara rohaniah ... dengan iman” ini? Teks terdekat untuk mengonfirmasi hal ini ada dalam pasal sebelumnya, yakni 1 Korintus 10:16-18. Ketika saya membacanya, saya bertanya, “Apakah makna ‘mendapat bagian’ itu?”

Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita mengucapkan syukur itu, adalah persekutuan dengan (partisipasi dalam) darah Kristus (koinōnia estin tou haimatos tou Christou)? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalahpersekutuandengan tubuh Kristus (ouchi koinōnia tou sōmatos tou Christou estin)? Karena roti tersebut berjumlah satu, maka kita, sekalipun berjumlah banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dari roti yang satu itu. Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah (koinōnia tou thusiastēriou)?

Inilah sesuatu yang jauh lebih mendalam daripada sekadar aktivitas mengingat itu. Inilah orang-orang percaya itu – orang-orang yang mengimani dan mengasihi Yesus Kristus. Rasul Paulus mengatakan bahwa mereka itu sedang mendapat bagian dalam persekutuan dengan tubuh dan darah Kristus. Secara faktual, mereka sedang melakukan aktivitas berbagi (koinōnia) di dalam tubuh dan darah-Nya. Mereka sedang melakukan aktivitas kemitraan dalam kematian-Nya.

Mendapat Bagian di dalam Tubuh dan Darah Kristus, Secara Spiritual, oleh Iman

Dan apakah makna dari mendapat bagian/berbagi/kemitraan ini? Saya pikir ayat ke-18 dapat menjadi petunjuk bagi kita karena ayat tersebut menggunakan kata yang sama, tetapi membandingkannya dengan apa yang terjadi dalam aktivitas mempersembahkan korban yang dilakukan orang Yahudi: “Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukankah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian [sebuah bentuk kata yang sama] dalam pelayanan mezbah?” Apakah makna dari yang mendapat bagian/yang berbagi/yang bermitra dalam pelayanan mezbah? Itu berarti bahwa mereka sedang mendapat bagian dalam, atau sedang ikut mengalami, sesuatu yang telah terjadi di atas altar. Mereka sedang ikut mengalami, misalnya, pengampunan dan persekutuan yang dipulihkan kembali dengan Allah.

Maka saya merujuk kepada ayat 16 dan 17 untuk menyimpulkan bahwa ketika kita selaku orang percaya makan roti dan minum cawan secara jasmaniah, kita sekaligus melakukan sejenis lain aktivitas makan dan minum secara rohani. Kita makan dan minum – maksudnya, kita menerapkan ke dalam hidup kita – apa yang telah terjadi di atas kayu salib. Oleh iman – dengan percaya kepada semua keberadaan Allah bagi kita di dalam Yesus – kita memberi makan diri kita dari manfaat yang Yesus peroleh bagi kita ketika Ia mengalirkan darah dan mati di atas kayu salib.

Inilah sebabnya, selama berbulan-bulan kami membawa Anda memasuki sejumlah pokok bahasan seputar meja Perjamuan Tuhan (damai bersama Allah, sukacita di dalam Kristus, pengharapan akan masa mendatang, kemerdekaan dari rasa takut, pertolongan dalam kesesakan, pimpinan dalam kekalutan, kesembuhan dari sakit penyakit, kemenangan atas pencobaan, dst.). Sebab ketika Yesus mati, darah-Nya yang tercurah dan tubuh-Nya yang terpecah itu, dipersembahkan melalui kematian diri-Nya yang menggantikan diri kita, demi menebus semua janji Allah. Paulus mengatakan, “Kristus adalah ‘ya’ bagi semua janji Allah” (2 Korintus 1:20). Setiap pemberian Allah, dan segala persekutuan penuh sukacita yang kita alami dengan Allah, diperoleh dengan darah Yesus. Ketika Paulus menyatakan, “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus?” ia bermaksud mengatakan: Bukankah di meja Perjamuan Tuhan, kita dengan iman makan secara rohani semua berkat rohani yang telah dibeli dengan tubuh dan darah Kristus? Orang yang belum percaya takkan mampu melakukan hal itu. Iblis juga takkan sanggup melakukannya. Itu merupakan pemberian bagi keluarga orang percaya. Ketika merayakan Perjamuan Tuhan, kita dengan iman makan secara rohani semua janji Allah yang telah ditebus dengan darah Yesus.

6. Keseriusan yang Sakral dari Perjamuan Tuhan

Saya akan menutup sesuai dengan cara Paulus menutup Surat 1 Korintus 11. Ia memperingatkan bahwa jika Anda datang ke Perjamuan Tuhan dengan sikap hati yang congkak, tidak layak, tidak peduli, tidak memperhatikan keseriusan dari apa yang telah terjadi di atas kayu salib, maka jika Anda adalah orang percaya, Anda mungkin kehilangan nyawa Anda, bukan sebagai akibat dari murka Allah, tetapi lebih sebagai tindakan disiplin dari Allah selaku Bapa. Biarkan saya dengan perlahan-lahan membaca Surat 1 Korintus 11:27-32, sementara kita dengan penuh sukacita dan kesungguhan berjalan menuju meja Perjamuan Tuhan.

Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak [yaitu, dengan tidak mengimani dan menghargai anugerah Kristus yang tak ternilai itu] makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. 28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu [bukan untuk melihat apakah Anda cukup baik, tetapi untuk melihat apakah Anda bersedia berpaling dari diri Anda dan mengimani Yesus sehubungan dengan apa yang Anda butuhkan] ia makan roti dan minum dari cawan itu. 29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan [yaitu, tanpa menyadari bahwa roti ini bukanlah untuk diperlakukan sama seperti roti lapis isi ikan, seperti yang pernah dilakukan oleh sejumlah orang di kota Korintus] ia mendatangkan hukuman atas dirinya. 30 [Dan inilah yang dimaksudkannya:] Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal [bukan dikirim ke neraka; ayat selanjutnya menjelaskan hal ini]. 31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. 32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik [yaitu, beberapa orang menjadi lemah, sakit, dan tidak sedikit yang meninggal], supaya kita tidak akan dihukum [yaitu, masuk ke neraka] bersama-sama dengan dunia.

Jangan menganggap ringan Perjamuan Tuhan. Perjamuan Tuhan merupakan salah satu anugerah paling berharga dari Kristus kepada gereja-Nya. Mari kita menikmatinya bersama-sama.