Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 2)

Dari Gospel Translations Indonesian

Revisi per 20:36, 22 Januari 2020; Pcain (Bicara | kontrib)
(beda) ←Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya→ (beda)
Langsung ke:navigasi, cari

Yang Berhubungan Dengan Sumber Daya
Lagi Oleh R.C. Sproul
Indeks Pengarang
Lagi Mengenai Doa
Indeks Topik
Tentang terjemahan ini
English: If God Is Sovereign, Why Pray? (pt. 2)

© Ligonier Ministries

Bagikan ini
Misi Kami
Terjemahan ini diterbitkan oleh Injil Terjemahan, sebuah pelayanan yang ada untuk membuat buku-buku dan artikel injil-tengah yang tersedia secara gratis untuk setiap bangsa dan bahasa.

Pelajari lebih lanjut (English).
Bagaimana Anda Dapat Membantu
Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan baik, Anda dapat membantu kami sebagai penerjemah secara sukarela.

Pelajari lebih lanjut (English).

Oleh R.C. Sproul Mengenai Doa
Bab 0 buku Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 2)

Terjemahan oleh Selvina Wikarsa

Review Anda dapat membantu kami memperbaiki terjemahan ini dengan meninjau untuk meningkatkan akurasi terjemahan. Pelajari lebih lanjut (English).



Kemanjuran Doa

Kita harus berhati-hati agar tidak mengambil pandangan yang fatal tentang masalah doa ini. Kita tidak dapat membiarkan diri kita untuk mengabaikan doa dari kehidupan kita hanya karena hal tersebut tampaknya tidak memiliki nilai pragmatis. Berhasil atau tidaknya doa, kita seharusnya terlibat di dalamnya, hanya karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk melakukannya. Bahkan pembacaan yang sepintas dari Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, mengungkapkan penekanan yang mendalam tentang doa, permohonan dan syafaat. Tidak dapat dihindari bahwa doa adalah kegiatan yang diharapkan bagi umat Allah. Selain itu, Tuhan kita sendiri adalah teladan utama bagi kita dalam segala hal, dan Ia dengan jelas menjadikan doa sebagai prioritas besar dalam hidup-Nya. Kita tidak bisa untuk kurang melakukannya.

Tetapi juga benar bahwa Alkitab mengajarkan kita bahwa doa memang “berhasil” dalam beberapa hal. Ijinkan saya mengutip tiga contoh.

Kita semua tahu bahwa rasul Petrus dengan berani menyatakan bahwa ia tidak akan mengkhianati Yesus, bahwa dia siap untuk masuk penjara dan bahkan mati untuk Tuhannya. Tetapi bukannya memuji Petrus atas sikapnya, Yesus menegurnya dan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Matius 26: 34). Injil Lukas menambahkan detil yang menarik pada pertukaran ini. Yesus berkata: “Simon, Simon! Lihat, Iblis telah menuntut, untuk menampi kamu seperti gandum. Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur; Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Lukas 22: 31-32). Yesus memperingatkan Petrus bahwa saat “penampian” akan datang dalam hidupnya, bahwa Iblis akan menyerangnya. Tetapi Yesus yakin bahwa Petrus akan berbalik dari dosanya dan kembali kepada Yesus. Bagaimana Yesus bisa yakin akan hal tersebut? Ya, Dia telah berdoa untuk Petrus, agar iman Petrus tidak goyah. Yesus benar — Petrus sungguh kembali kepada Yesus dan ia melakukan banyak hal untuk menguatkan saudara-saudaranya. Doa Yesus untuk Petrus sungguh efektif.

Kita melihat bahwa tidak hanya doa-doa Yesus saja yang membawa perubahan di dunia ini, kita juga melihat bahwa doa-doa dari orang-orang kudus juga bekerja. Pada masa-masa gereja perdana, Petrus dijebloskan ke dalam penjara, tetapi orang-orang percaya berkumpul dalam suatu waktu untuk berdoa dengan intens atas namanya. Mereka mencurahkan isi hati mereka di hadapan Tuhan, memohon agar Allah mengatasi kesulitan akan situasi yang ada dan menjamin pembebasan Petrus. Tahukah anda apa yang terjadi: Ketika mereka sedang berdoa secara intens, ada yang mengetuk pintu. Mereka tidak mau terganggu dari waktu berdoa mereka, jadi mereka menyuruh pelayan mereka ke pintu. Ketika pelayan tersebut pergi ke pintu dan bertanya siapa yang mengetuk pintu, Petrus menjawab dan pelayan tersebut mengenali suara Petrus. Saking gembiranya, pelayan tersebut meninggalkan pintu dengan keadaan masih tertutup dan berlari untuk memberitahukan pada yang lainnya bahwa Petrus ada di luar. Para murid menolak untuk mempercayai hal itu sampai mereka membuka pintu dan melihat Petrus berdiri di sana. Tuhan menjawab doa-doa umat-Nya, mengirim Petrus keluar dari penjara dengan bantuan malaikat, tapi ketika Petrus muncul di rumah dimana mereka berkumpul, orang-orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh untuk pembebasan Petrus ini menjadi takut dan terkejut bahwa Tuhan sesungguhnya benar-benar menjawab doa mereka. Seringkali kita pun juga demikian; ketika Tuhan menjawab doa-doa kita, kita sulit untuk mempercayainya.

Beralih ke bagian pengajaran, Yakobus dengan sungguh mendorong umat Allah untuk berdoa:

Apakah ada seorang di antara kamu yang menderita? Baiklah ia berdoa. Apakah ada seorang yang bergembira? Baiklah ia menyanyikan mazmur. Apakah ada seorang di antara kamu yang sakit? Baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia, mengurapinya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu, dan Tuhan akan membangunkan dia… . Berdoalah bagi satu sama lain, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya. (Yakobus 5: 13-18)

Setelah kata-kata yang menggugah ini, yang sangat menekankan keefektifan doa, Yakobus kemudian berbicara tentang nabi Elia. Ia menekankan bahwa Elia adalah seorang manusia biasa yang sama seperti kita — ¬ia bukan orang yang super suci atau pesulap. Namun, doanya sangat kuat. Ia berdoa agar Tuhan menghentikan hujan, dan hujan tidak turun sama sekali selama tiga setengah tahun lamanya. Kemudian ia berdoa agar Tuhan menurunkan hujan, dan hujan turun dengan derasnya.

Mengingat ayat-ayat suci ini, dan masih banyak lagi yang dengan jelas menunjukkan bahwa doa benar-benar mencapai sesuatu, kita tidak bebas untuk mengatakan: “Ya, Allah yang memegang kendali, Ia berdaulat, kekal, dan mahatahu, jadi apapun yang terjadi akan terjadi. Tidak ada gunanya berdoa.“ Alkitab secara universal dan mutlak menolak kesimpulan itu. Sebaliknya, Alkitab menegaskan bahwa doa membawa perubahan. Allah, dalam kedaulatan-Nya, menanggapi doa-doa kita.