Doa: Kuasa Hedonisme Kristen

Dari Gospel Translations Indonesian

Revisi per 19:02, 20 Oktober 2020; Pcain (Bicara | kontrib)
(beda) ←Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya→ (beda)
Langsung ke:navigasi, cari

Yang Berhubungan Dengan Sumber Daya
Lagi Oleh John Piper
Indeks Pengarang
Lagi Mengenai Hedonisme Kristiani
Indeks Topik
Tentang terjemahan ini
English: Prayer: The Power of Christian Hedonism

© Desiring God

Bagikan ini
Misi Kami
Terjemahan ini diterbitkan oleh Injil Terjemahan, sebuah pelayanan yang ada untuk membuat buku-buku dan artikel injil-tengah yang tersedia secara gratis untuk setiap bangsa dan bahasa.

Pelajari lebih lanjut (English).
Bagaimana Anda Dapat Membantu
Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan baik, Anda dapat membantu kami sebagai penerjemah secara sukarela.

Pelajari lebih lanjut (English).

Oleh John Piper Mengenai Hedonisme Kristiani
Bagian dari seri Desiring God

Terjemahan oleh Susy Chindrawaty

Review Anda dapat membantu kami memperbaiki terjemahan ini dengan meninjau untuk meningkatkan akurasi terjemahan. Pelajari lebih lanjut (English).



Yohanes 16:2

“Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”

Kadang hedonis kristen di tanya, Apakah kamu mau di kutuk demi kemuliaan Tuhan? Maksudnya apakah kamu rela menyerahkan semua sukacitamu jika dengan demikian Tuhan akan semakin di muliakan? Pertanyaan ini seakan-akan menjadi dilema. Jika kita bilang tidak rela, maka kita sepertinya menempatkan kebahagiaan kita di atas kemuliaan Tuhan. Jika kita bilang rela, maka kita berhenti menjadi hedonis kristen karena kita tidak lagi mengejar sukacita.

Daftar isi

Asumsi Tidak Biblikal Mengenai Neraka dan Tuhan

Serangan terhadap hedonisme kristen ini gagal karena pertanyaan yang di ajukan mengandung dua asumsi yang tidak benar: satunya mengenai neraka, dan satunya lagi mengenai Tuhan. Ketika orang yang mengkritik bertanya,”apakah kamu bersedia masuk neraka demi kemuliaan Tuhan?”, sebenarnya dia gagal melihat bahwa jika kita jawab ya itu artinya keinginan kita yang terdalam adalah melihatTuhan di muliakan lewat hidup dan mati kita. Karena itu, jika kita harus masuk neraka agar Tuhan di muliakan, maka neraka menjadi sarana untuk memuaskan kerinduan kita. Jika demikian maka neraka tidak menjadi neraka lagi. Secara biblikal, neraka artinya penderitaan kekal, tidak ada kepuasan sama sekali disana. Jadi pertanyaan yang di ajukan oleh orang yang menyerang hedonisme kristen di bangun di atas asumsi yang tidak biblikal tentang neraka.

Juga di bangun di atas asumsi yang tidak biblikal tentang Tuhan. Pertanyaan mereka berasumsi bahwa Tuhan dapat mengutuk seseorang yang bersedia menjadi terkutuk demi kemuliaan Tuhan. Namun ini adalah asumsi yang tidak biblikal. Komitmen Tuhan menegakkan kemuliaanNya artinya Tuhan juga akan menegakkan kemuliaan mereka yang menghargai kemuliaanNya di atas segalanya. Tuhan yang ada di alkitab tidak dapat mengutuk orang yang mengagumi kemuliaanNya. Karena itu pertanyaan,”Apakah kamu rela di kutuk Tuhan demi kemuliaanNya?” melanggar keadilan Tuhan. Pertanyaan ini beri kita pandangan seakan-akan Tuhan itu tidak adil. Jadi dua pertanyaan ini berlawanan dengan prinsip alkitab.

Keinginan Kita dan Kemuliaan Allah Adalah Satu Kesatuan

Lagipula bukan hedonisme kekristenan yang di serang. Sasaran si musuh sebenarnya adalah orang yang menempatkan kehendaknya di atas kehendak Tuhan dan orang yang mengutamakan kebahagiaannya di atas kemuliaan Tuhan. Hedonisme kristiani tidak lakukan ini. Kita para hedonis kristen memang benar mengejar kehendak dan kebahagiaan kita dengan seluruh jiwa raga, namun alkitab juga katakan Tuhan muliakan namaNya dengan cara mencurahkan kasih karuniaNya atas kita. Artinya dalam usaha kita mencari kehendak dan sukacita sejati tidak mungkin di atas kehendak Tuhan tapi selalu di dalam Tuhan. Satu kebenaran yang paling berharga di alkitab adalah bahwa cara Tuhan meninggikan kemuliaanNya adalah dengan menjadikan para pendosa beroleh sukacita di dalam Dia. Saat kita merendahkan diri seperti anak kecil dan tidak andalkan diri tapi dengan sukacita berlari menghampiri Bapa maka kemuliaan Tuhan di tinggikan sekaligus keinginan jiwa kita terpuaskan. Di dalam bijaksana Tuhan dan oleh kasih karuniaNya, keinginan kita dan kemuliaan Tuhan adalah satu paket.

Salah satu contoh jelas bahwa usaha mencari sukacita kita dan mencari kemuliaan Tuhan adalah satu paket ada di pengajaran Yesus tentang doa di injil Yohanes yaitu Yohanes 14:13 dan 16:24. Ayat satunya menunjukkan doa adalah mencari kemuliaan Tuhan. Ayat lainnya menunjukkan doa adalah mencari sukacita kita. Di Yohanes 14:13 Tuhan Yesus berfirman “dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” Di Yohanes 16:24 Yesus berkata, “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Tuhan selama-lamanya. Dua tujuan utama ini di persatukan di dalam doa. Seperti rusa haus yang berusaha minum dari sungai demikian juga postur hedonis kristen adalah berlutut dalam doa.

Mungkin kalian juga mengalami sama dengan apa yang saya alami, perubahan musim panas yang santai berganti ke musim semi yang penuh dengan berbagai aktifitas, ini menganggu disiplin kehidupan doaku. Kita perlu seseorang yang bisa mengingatkan pentingnya kehidupan doa yg disiplin. Dengan begitu kita dapat kembali rutin bangun pagi untuk renungan dan doa atau meditasi firman di siang hari atau doa di malam hari. Kita perlu menetapkan dan mengatur ulang arah tujuan kita untuk setahun ini. Saya berharap hari ini adalah saatnya kamu memutuskan untuk mulai punya kehidupan doa yang disiplin.

Doa sebagai Pencarian Kemuliaan Tuhan

Mari kita lihat bagaimana doa sebagai usaha mengejar kemuliaan Tuhan dan kemudian doa sebagai pencarian sukacita kita. Di Yohanes 14:13 Yesus mengatakan, “ Apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” Misalkan kamu lumpuh total dan tidak dapat melakukan apapun, hanya bisa berbicara saja. Dan misalkan ada teman yang kuat dan dapat di andalkan mau tinggal menemani dan menolongmu. Bagaimana kamu memuji temanmu itu jika ada tamu yang datang mengunjungimu? Kamu dapat berkata,”Temanku dapatkah kamu mengendong aku ke posisi duduk dan sanggah pinggangku dengan bantal supaya aku dapat melihat tamuku. Dan bisa tolong pasangkan kacamataku? Jadi tamumu mengerti bahwa kamu tidak dapat berbuat apa-apa dan temanmu itu sangat kuat dan baik hati. Kamu memuji temanmu dengan cara menunjukkan betapa kamu butuh dia, meminta bantuannya dan bergantung kepadanya.

Di Yohanes 15:5 Yesus berkata,“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Jadi kita sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa. Tanpa Kristus kita tidak mampu berbuat baik (Roma 7:18). Namun adalah kehendak Tuhan bahwa kita berbuah. Tuhan berjanji menolong kita (seperti teman yang kuat dan dapat di percaya itu) melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Bagaimana kita meninggikan Tuhan? Yesus beri jawabannya di Yohanes 15:7, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Kita berdoa. Kita minta kepada Bapa menolong kita melalui Kristus melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan yaitu menghasilkan buah. Jadi bagaimana Tuhan di permuliakan dengan doa? Doa adalah pengakuan terbuka bahwa tanpa Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dan doa adalah berpaling dari diri kepada Tuhan dengan kepercayaan yang kokoh bahwa Dia akan menyediakan pertolongan yang kita butuhkan. Doa merendahkan kita sebagai orang yang perlu pertolongan dan meninggikan Tuhan sebagai pihak yang menyediakan dan memberi pertolongan.

Ayat lain di Yohanes menunjukkan bagaimana memuliakan Tuhan, di Yohanes 4:9-10. Yesus minta minum kepada seorang wanita:

“Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: ”Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Jika kamu seorang pelaut yang punya penyakit kekurangan vitamin C, kemudian ada seorang yang sangat murah hati naik ke kapalmu, kantongnya penuh dengan vitamin C dan orang itu minta sepotong jeruk milikmu, kamu mungkin saja akan berikan kepadanya. Tapi jika kamu tahu dia sangat murah hati dan dia membawa apa yang kau butuhkan untuk sembuh, maka pasti situasi berubah menjadi kamulah yang meminta pertolongannya.

Yesus berkata kepada wanita itu, ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Aku, kamu akan berdoa kepadaKu.” Ada korelasi langsung antara tidak mengenal Yesus dengan benar dan tidak meminta banyak dari Dia. Gagalnya kehidupan doa kita biasanya karena kita gagal mengenal Yesus. ”Jikalau engkau tahu siapakah Aku yang berkata kepadamu, niscaya engkau akan meminta kepadaKu!” Orang kristen yang tidak berdoa adalah seperti sopir bis yang berusaha mati-matian dorong bisnya supaya keluar dari lumpur karena dia tidak tahu ada Clark Kent di bis nya. “Jika kamu tahu, kamu akan minta.” Kristen yang tidak berdoa adalah seperti orang yang dinding kamarnya penuh dengan tempelan voucher hadiah dari toko Dayton tapi dia belanja di toko Rag Stock karena dia tidak dapat membaca. ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu, niscaya engkau akan meminta kepada-Nya – KAMU AKAN MEMINTA!”

Implikasinya adalah mereka yang meminta – adalah orang kristen yang berdoa – mereka berdoa karena mereka melihat Tuhan adalah pemberi berkat dan bahwa Kristus adalah bijak, pemurah dan punya kuasa tanpa batas. Karena itu doa mereka meninggikan Kristus dan memuliakan BapaNya. Tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan Tuhan. Jadi jika kita mau menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki, kita harus menjadi orang yang suka berdoa.

Doa sebagai Pencarian Sukacita Kita

Tapi tujuan utama manusia adalah juga menikmati Tuhan selamanya. Ini membawa kita kembali ke Yohanes 16:24, “Yesus berkata, “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Bukankah ini ada undangan utk kita mendapatkan hedonisme kristen? Kejarlah kepenuhan sukacitamu! BERDOA! Dari firman ini dan dari pengalaman kita dapat tarik kesimpulan: di antara banyak orang yang mengaku kristen namun tidak punya kehidupan doa dipastikan hidup mereka tidak ada sukacita. Mengapa? Mengapa kehidupan doa yang dalam membawa kepada kepenuhan sukacita. Sedangkan kehidupan doa yang dangkal menghasilkan hidup yang tanpa sukacita. Yesus memberikan dua alasan. Yang pertama di Yohanes 16:20-21. Yesus memperingatkan murid-muridNya bahwa mereka berduka atas kematianNya tapi kemudian akan bersukacita atas kebangkitanNya. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” “Jadi kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” Apa sumber sukacita para murid? Jawabannya: hadirat Yesus. “Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira.” Tidak ada seorang kristenpun yang beroleh sukacita penuh tanpa ada persekutuan yang intim dengan Tuhan. Mengenal Dia saja tidak cukup, melayani Dia juga tidak cukup. Kita harus punya hubungan pribadi, persekutuan yang intim sebab jika tidak demikian maka kekristenan akan menjadi beban yang berat. Di suratnya yang pertama Yohanes menulis, “persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” Persekutuan dengan Yesus apabila di bagikan kepada orang lain berikan sukacita penuh untuk kita.

Alasan utama mengapa doa membawa kepada kepenuhan sukacita adalah bahwa doa merupakan pusat dari persekutuan kita dengan Yesus. Dia tidak dapat di lihat. Namun melalui doa kita berbicara kepadaNya seakan-akan dia hadir. Dan keteduhan saat itu ketika kita mendengarkan isi hatiNya dan kita mencurahkan kerinduan kita. Mungkin Yohanes 15:7 yang bisa menggambarkan hubungan dua arah ini: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Saat firman Yesus tinggal di hati kita, kita mendengar isi hati Kristus yang hidup, karena Dia tidak berubah dulu, sekarang dan selamanya. Dan dari mendengar isi hati Tuhan itu menghasilkan doa yang begitu indah yang merupakan persembahan yang harum bagi Tuhan. Kehidupan doa membawa kepada kepenuhan sukacita karena doa adalah pusat dari persekutuan kita dengan Yesus.

Alasan kedua adalah bahwa doa beri kita kuasa melakukan apa yang suka kita lakukan tapi tidak mampu kita lakukan tanpa bantuan Tuhan. Firman katakan, “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Persekutuan dengan Tuhan sangat penting sehingga kita tergerak untuk membagikan Yesus dengan orang lain. Orang kristen tidak dapat bahagia dan pelit, karena lebih berbahagia memberi daripada menerima. Karena itu alasan kedua mengapa kehidupan doa membawa kepada kepenuhan sukacita adalah bahwa doa mampukan kita mengasihi sesama. Jika pompa kasih kering berarti pipa doa kurang dalam.

Ringkasannya: Alkitab dengan jelas mengajarkan tujuan dari setiap yang kita lakukan adalah mempermuliakan Tuhan. Tapi juga mengajarkan dalam setiap tindakan itu kita harus mengejar sukacita. Ada ahli teologi yang berusaha bedakan dua pengejaran ini dengan ajukan pertanyaan seperti, “Apakah kamu bersedia terkutuk demi kemuliaan Allah?” Namun alkitab tidak pernah memaksa kita memilih antara kemuliaan Allah atau sukacita kita. Alkitab malahan melarang kita memilih. Dan seperti yang kita lihat dari injil Yohanes di nyatakan bahwa doa menyatukan kedua pengejaran itu. Dengan berdoa kita mendapatkan sukacita dalam persekutuan dengan Yesus dan beroleh kuasa untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain. Lewat doa kita juga memuliakan Tuhan dengan jadikan Dia sebagai satu-satunya tempat pengharapan kita. Lewat doa, kita mengakui kemiskinan kita dan kelimpahanNya, ketidakmampuan kita dan kemurahanNya, kesengsaraan kita dan kasih karuniaNya. Karena itu doa sangat meninggikan dan memuliakan Tuhan saat kita mengejar apa yang kita inginkan di dalam Dia bukan di dalam diri kita. “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya Bapa di muliakan di dalam Anak dan supaya penuhlah sukacitamu.”

Doa Perlu di Rencanakan

Saya tutup dengan satu permintaan. Salah satu alasan mengapa banyak anak Tuhan tidak punya kehidupan doa yang berdampak adalah bukan karena mereka tidak mau tapi karena tidak ada perencanaan. Jika kamu mau pergi berlibur, tidak mungkin kamu bangun tidur langsung bilang, “Ayo kita pergi berlibur hari ini!” Kamu pasti tidak siap. Kamu tidak tahu mau kemana. Belum ada rencana sama sekali. Begitulah perlakuan kita terhadap doa. Tiap pagi kita bangun tidur dan sadar bahwa seharusnya kita berdoa tapi tidak pernah terjadi. Kita tidak tahu apa yang harus di doakan. Tidak ada perencanaan jam, tempat, prosedurnya. Dan lawan kata dari perencanaan pasti bukanlah pengalaman doa yang dalam. Jika kamu tidak punya rencana untuk berlibur, pastinya kamu akan santai di rumah dan nonton TV. Kehidupan spiritual yang tidak ada perencanaannya adalah seperti ombak gairah yang dalam surutnya. Ada perlombaan lari yang di wajibkan bagi kita dan pertandingan yang harus kita selesaikan. Mau pembaharuan di dalam kehidupan doamu, harus ada perencanaan jika kamu mau lihat ada perubahan.

Karena itu inilah permintaanku: ambil sepuluh menit sore ini, pikirkan apa prioritasmu dan bagaimana masukkan doa sebagai prioritasmu. Buat perubahan. Coba sesuatu yang baru dengan Tuhan. Tetapkan waktunya. Tetapkan tempatnya. Pilih ayat alkitab sebagai bahan doamu. Saya sendiri harus disiplin lakukan ini karena kesibukan sehari-hari akibatkan aku lengah. Jadikan hari ini titik balik kehidupan doamu – untuk kemuliaan Tuhan dan kepenuhan sukacitamu.