Pernikahan: Sebuah Matriks dari Hedonisme Kristen

Dari Gospel Translations Indonesian

Revisi per 14:47, 28 September 2009; JoyaTeemer (Bicara | kontrib)
(beda) ←Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya→ (beda)
Langsung ke:navigasi, cari

Yang Berhubungan Dengan Sumber Daya
Lagi Oleh John Piper
Indeks Pengarang
Lagi Mengenai Hedonisme Kristiani
Indeks Topik
Tentang terjemahan ini
English: Marriage: A Matrix of Christian Hedonism

© Desiring God

Bagikan ini
Misi Kami
Terjemahan ini diterbitkan oleh Injil Terjemahan, sebuah pelayanan yang ada untuk membuat buku-buku dan artikel injil-tengah yang tersedia secara gratis untuk setiap bangsa dan bahasa.

Pelajari lebih lanjut (English).
Bagaimana Anda Dapat Membantu
Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan baik, Anda dapat membantu kami sebagai penerjemah secara sukarela.

Pelajari lebih lanjut (English).

Oleh John Piper Mengenai Hedonisme Kristiani
Bagian dari seri Desiring God

Terjemahan oleh Hondho Wahyu

Review Anda dapat membantu kami memperbaiki terjemahan ini dengan meninjau untuk meningkatkan akurasi terjemahan. Pelajari lebih lanjut (English).


Efesus 5:21-33
21) Dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus. 22)Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. 23) karena suami adalah kepala istri seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24) Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu. 25) Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya. 26) untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27) supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaaat di hadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28) Demikian juga suami harus harus mengasihi isterinya sebagaimana tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29) Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatnya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30) karena kita adalah anggota tubuhNya. 31) Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 32) Rahasia ini besar tetapi yang Aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 33) Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku : kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.

Teologi Pernikahan yang dikemukakan Paulus dimulai dengan Firman Tuhan: Firman Tuhan yaitu Yesus Kristus; dan Firman Tuhan yaitu Kitab Perjanjian Lama yang penuh dengan inspirasi. Dan karena Tuhan kita bukanlah Tuhan yang menimbulkan kebingungan, maka FirmanNya pun selalu konsisten, sejalan dan mudah dipahami. Firman Tuhan mempunyai satu kesatuan yang utuh. Karena itu saat Rasul Paulus ingin memahami makna pernikahan maka diapun mengacu kepada Firman Tuhan – yaitu mengacu kepada Tuhan Yesus dan Alkitab. Saat Paulus menyatukan kedua acuaanya, yaitu Kristus dan Alkitab, untuk mengetahui Firman Tuhan tentang pernikahan, yang didapatkannya adalah suatu rahasia besar yang indah dan kokoh dengan hal-hal yang bisa di praktekkan secara terus menerus dalam kenyataan. Dan yang ingin saya lakukan dengan anda pagi ini adalah untuk menggali rahasia besar tersebut dan menerapkan dua implikasi praktis dalam kehidupan kita.

Pernikahan dalam Kitab Kejadian

Efesus 5:31 merupakan kutipan dari Kejadian 2:24, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Kemudian Rasul Paulus menambahkan dalam ayat 32, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan adalah hubungan Kristus dengan jemaat.” Rasul Paulus mengetahui sesuatu tentang Kristus dan gerejaNya yang menyebabkan dia melihat Kitab Kejadian 2:24 sebagai rahasia dalam pernikahan. Coba kita kembali ke kejadian 2:24 dan melihat lebih dekat pada konteks ayat ini dan hubungannya dengan penciptaan.

Menurut Kejadian 2, Tuhan menciptakan Adam terlebih dulu dan menempatkannya dalam taman sendirian. Kemudian di ayat 18 Tuhan berfirman, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Saya pikir inisiatif Tuhan untuk memberikan pasangan ini bukanlah sebuah tuduhan atau hal yang menyatakan hubungan Adam dengan Tuhan; atau, bukan juga tanda bahwa taman itu terlalu luas dan susah untuk dirawat. Titik utamanya adalah bahwa Tuhan menciptakan manusia untuk berbagi. Tuhan menciptakan kita bukan sekedar untuk menjadi penerima kemurahanNya semata, tetapi menjadi sebuah sistem dua arah. Tidak ada manusia yang lengkap jika dia tidak mengalirkan kemurahan (seperti listrik) antara Tuhan dan orang lain. (Jangan menyimpulkan bahwa hal ini hanya bisa terjadi dalam pernikahan). Dan yang bisa menerima kemurahan tersebut harus juga manusia yang lain, bukan binatang. Demikian juga dalam Kejadian 2:19-20 Tuhan memberikan teman bagi Adam sejumlah besar binatang untuk menunjukkan kepada Adam bahwa binatang-binatang tersebut tidak akan pernah bisa menjadi ‘penolong yang sepadan’ untuknya. O, tentu saja banyak hal yang bisa dilakukan binatang. Tetapi hanya manusia lah yang bisa menjadi teman sepadan untuk menerima bagian yang tidak dapat binasa dalam kehidupan ( 1 Petrus 1: 4-7). Hanya manusia lah yang mampu menerima dan menghargai dan menikmati kemurahan. Yang diperlukan seorang manusia adalah manusia lain yang bisa diajak berbagi kasih Tuhan. Binatang tidak akan bisa! Ada perbedaan besar yang tidak terbatas antara berbagi bintang di langit dengan orang yang anda kasihi dan berbaginya dengan anjing anda.

Sehingga, menurut ayat 21, “Lalu Tuhan Allah membuat manusia itu tertidur nyenyak; ketika ia tidur Tuhan Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangunnya seorang perempuan, lalu dibawanya kepada manusia itu.” Setelah Tuhan menunjukkan kepada Adam bahwa tidak satupun dari binatang-binatang yang diberikannya akan bisa menjadi penolongnya yang tepat, Tuhan menciptakan manusia dari daging dan tulang manusia itu sendiri untuk menjadi serupa dengan dia – tetapi tidak sama dengan dia. Tuhan tidak menciptakan manusia laki-laki yang lain. Tuhan menciptakan perempuan. Dan Adam mengenalinya sebagai bagian yang sempurna dari dirinya – yang berbeda dari semua binatang. “Inilah daging dari dagingku dan tulang dari tulangku; dia akan disebut Perempuan, karena diambil dari Laki-laki.”

Dengan menciptakan seseorang serupa dengan Adam, tetapi juga sekaligus sangat berbeda dengan Adam, Tuhan sudah menyediakan kemungkinan akan sebuah kesatuan besar yang dalam yang tidak akan terjadi jika salah satu dari keduanya dihilangkan atau diganti dengan yang lain. Ada sebuah kesatuan yang berbeda yang bisa dirasakan dan dinikmati dengan bersatunya bagian-bagian yang berbeda (yaitu laki-laki dan perempuan) yang tidak akan ditemukan oleh bersatunya dua hal yang sama dan sejenis. Jika kita menyanyikan baris melodi yang sama, maka disebut “unison” artinya “satu suara”. Tetapi bila kita menyatukan baris-baris yang berbeda dari Soprano, Alto, Tenor dan Bass, kita menyebutnya ‘harmoni’, dan bagi anda sekalian yang memiliki kemampuan untuk mendengarkan musik akan mengetahui bahwa ada sesuatu yang lebih mendalam yang kita miliki yang hanya bisa disentuh oleh harmoni dan tidak bisa disentuh oleh unison. Karena itulah Tuhan menciptakan wanita dan bukan laki-laki yang lain. Tuhan menciptakan hitro seksual dan bukan homo seksual. Institusi pertama Tuhan adalah pernikahan, bukan fraternitas (fraternitas: komunitas para pria yang saling menganggap mereka sama dan saling tertarik satu dengan yang lain)

Perhatikan hubungan antara ayat 23 dan 24, yang didahului oleh kata “Therefore” (“Karena itu”) pada ayat 24. Pada ayat 23 fokusnya berada pada 2 hal: secara obyektif, pada kenyataannya wanita adalah bagian dari tulang dan daging pria; secara subyektif, sukacita Adam didapatkan dari bersatunya dia dengan wanita yang diberikan kepadanya. “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku!” Dari kedua hal ini penulis berpendapat tentang pernikahan di ayat 24: “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Dengan kata lain, pada mulanya Tuhan mengambil perempuan dari laki-laki sebagai tulang dari tulangnya dan daging dari dagingnya, dan kemudian Tuhan membawanya kembali kepada laki-laki itu agar terjadi persekutuan yang hidup, yaitu untuk menjadi satu daging. Kemudian ayat 24 memberikan juga pelajaran bahwa pernikahan itu adalah: seorang laki-laki meninggalkan ayahnya dan ibunya karena Tuhan telah memberikan yang lain kepadanya, yaitu kesatuan dengan wanita ini dan bukan hal yang lain, dan kemudian menemukan pengalaman menjadi satu daging. Itulah yang dilihat Rasul Paulus saat dia mengacu kepada Akitab.

Rahasia Pernikahan

Tetapi Rasul Paulus mengetahui Firman Tuhan yang lain – Yesus Kristus. Paulus mengenalNya secara mendalam dan intim. Dia belajar dari Tuhan Yesus bahwa gereja dan jemaat adalah tubuh Kristus (Efesus 1:23). Dengan iman lah seseorang disatukan dengan Tuhan Yesus dan dengan orang-orang percaya yang lain sehingga kita “adalah satu dalam Kristus Yesus” (Galatia 3:28). Orang-orang percaya dalam Kristus adalah tubuh Kristus – kita adalah makhluk-makhluk dimana Dia memanifestasi kehidupanNya dalam kita dan tempat berdiam bagi Roh. Melihat hubungan tentang Kristus dan jemaatNya ini, Paulus melihat adanya hubungan yang parallel dengan pernikahan. Paulus melihat bahwa suami dan istri menjadi satu daging (menurut Kejadian 2:24) dan bahwa Kristus dan jemaatnya menjadi satu tubuh. Sehingga Paulus berkata kepada jemaat, misalnya dalam 2 Korintus 11:2, “Sebab itu aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu dengan satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.” Paulus menggambarkan Kristus sebagai suami, gereja/jemaat sebagai mempelai wanita dan proses perubahan mereka sebagai komitmen perjanjian akan bersatunya mereka. Peristiwa membawa mempelai wanita kepada Suaminya mungkin akan terjadi pada kedatangan Tuhan yang kedua. Hal itu dijelaskan dalam Efesus 5:27 juga. Sehingga seakan-akan Paulus menggunakan hubungan dalam pernikahan manusia, yang dipelajari dari Kejadian 2, untuk menjelaskan dan menggambarkan hubungan antara Kristus dan gereja/jemaatNya.

Tetapi saat kita melihatnya seperti itu, ada suatu hal yang sangat penting yang perlu dicermati. Hal ini membawa kita kembali pada surat Efesus 5:32. Setelah mengutip dari Kejadian 2:24 tentang laki-laki dan perempuan yang menjadi satu daging, Paulus berkata, “Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” Pernikahan adalah sebuah rahasia. Ada hal yang lebih dari sekedar mengarahkan target ke tujuan dari pernikahan itu sendiri. Apakah hal yang lebih itu? Saya berpikir begini: Tuhan tidak menciptakan persekutuan antara Kristus dan jemaat setelah pola pernikahan manusia diciptakan; tetapi sebaliknya, Tuhan menciptakan pernikahan manusia pada pola hubungan Kristus dan jemaatNya. Rahasia besar dalam kitab Kejadian 2:24 adalah bahwa pernikahan yang di gambarkan adalah perumpamaan atau symbol dari hubungan Kristus dengan orang-orang pilihanNya. Tuhan tidak melakukan sesuatu semaunya sendiri dan tanpa tujuan. Setiap hal mempunyai tujuan dan arti. Setelah Tuhan berkehendak untuk menciptakan laki-laki dan perempuan dan menciptakan lembaga pernikahan, Tuhan tidak melempar dadu atau mencabut sedotan atau melempar koin untuk melakukan hal selanjutnya. Semua hal yang terjadi bukan atas dasar kebetulan, tetapi sangat jelas bahwa Tuhan menciptakan pola pernikahan itu dengan suatu tujuan yang telah direncanakanNya dari awal mulanya, setelah adanya hubungan antara PuteraNya dan jemaatNya. Dan dengan demikian, pernikahan adalah rahasia – karena pernikahan itu mengungkapkan dan mengandung arti jauh lebih besar dari yang sekedar kita lihat dari luar. Apa yang sudah Tuhan persatukan hendaknya mencerminkankan persekutuan antara PuteraNya dan jemaat/gereja sebagai mempelaiNya. Bagi anda sekalian yang sudah menikah, hendaknya anda terus menerus melihat lebih dalam lagi betapa indah dan misteriusnya saat Tuhan menganugerahkan kehormatan untuk kembali menggambarkan kehebatan tentang kenyataan ilahi yang begitu besar dan dahsyat, yang melebihi kenyataan kita sendiri.

Menggambarkan Kristus dan JemaatNya

Sekarang apa implikasi praktis dari rahasia pernikahan ini? Saya akan menyebutkan dua hal yang mendominasi bagian dari kitab Efesus. Pertama, bahwa suami dan istri harus secara sadar meniru hubungan yang Tuhan ciptakan antara Kristus dan jemaatNya. Kedua, bahwa dalam pernikahan, masing-masing pasangan harus mengejar sukacitanya yang juga menjadi sukacita pasangannya, yaitu, bahwa pernikahan harus menjadi nilai dalam Hedonisme Kristen. Pertama, pola apa yang telah Tuhan tetapkan bagi para suami dan istri saat Dia mengatur dan menciptakan pernikahan sebagai perumpamaan atau gambaran yang penuh rahasia dari hubungan Kristus dan jemaatNya? Rasul Paulus menyebutkan dua hal, satu untuk suami dan satu untuk istri. Bagi para istri, tertulis dalam ayat 22-24.

Hai istri, tunduklah pada suamimu, seperti kepada Tuhan. Karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.

Menurut pola ilahi, isteri bertugas mengambil bagian dengan keunikannya dari tujuan gereja. Sebagaimana gereja tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami. Gereja tunduk kepada Kristus sebagai kepalanya. Ayat 23: “Suami adalah kepala isteri sebagaimana Kristus adalah kepala jemaat.” Menjadi kepala (Kepemimpinan) mengandung paling tidak dua hal: Kristus adalah penyedia/pemberi atau Juru Selamat, dan Kristus adalah Pemimpin atau pemegang kekuasaan. Kepala digunakan dalam dua kesempatan yang lain dalam kitab Efesus. Efesus 4:15, 16 menggambarkan kepala sebagai penyedia/pemberi dan Efesus 1:20 – 23 menggambarkan kepala sebagai pemegang kekuasaan.

….. tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal kearah Dia, Kristus yang adalah kepala. Dari padaNyalah seluruh tubuh, - yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya di dalam kasih. (4:15, 16)

Kepala adalah tujuan kita bertumbuh dan pemberi pertumbuhan yang kita alami. Kemudian, kita lihat Efesus 1:20 – 23,

…..yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kananNya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang ada adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi semua dan segala sesuatu.

Saat Tuhan membangkitkan Dia dari antara orang mati, Dia menjadikanNya Kepala dalam arti memberiNya kuasa dan kekuasaan mengatasi segala bentuk aturan dan penguasa dan kekuasaan dan pemerintahan. Dengan demikian, dari konteks Efesus, penempatan suami sebagai kepala mengandung makna bahwa sebisa mungkin dia harus menerima tanggung jawab yang lebih besar untuk menyediakan segala apa yang dibutuhkan isterinya (yang meliputi kebutuhan material, tetapi juga perlindungan dan kasih, dan dia harus menerima tanggung jawab yang lebih besar dalam hal otoritas, kekuasaan dan kepemimpinan dalam sebuah keluarga.

Kemudian, hal yang tertulis dalam ayat 24, “Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.” Arti dasar dari penyerahan diri atau tunduk adalah: mengakui dan menghormati tanggung jawab yang lebih besar yang dimiliki suami untuk menyediakan perlindungan dan pemeliharaan; membuang segala otoritas dan kekuasaanya dan memberikannya kepada Kristus dan selalu sejalan dalam kepemimpinanNya. Alasan saya mengemukakan arti penyerahan seperti itu mengandung arti membuang dan memberikan dan terus menempel untuk mengikuti, frase kecil tersebut secara aslinya memuat “kepada Tuhan” yang di ayat 22 tidak tertulis saat menyebut penyerahan. Tidak seorang isteri pun bisa menggantikan kekuasaan Kristus dengan kekuasaan suaminya. Dia tidak boleh menyerahkan dan mengikuti suaminya apabila suaminya berbuat dosa. Tetapi bahkan seorang isteri Kristen yang berdiri teguh di dalam Kristus dan menentang keinginan dosa dari suaminya, masih bisa memiliki roh penyerahan. Dia bisa menunjukkan dengan sikap dan perbuatannya bahwa dia tidak menyetujui perbuatan suaminya dan dia rindu agar suaminya membuang dan menjauhi dosa-dosa tersebut sehingga suaminya bisa kembali memimpinnya di dalam kebenaran sehingga penyerahan dirinya untuk menghormati suaminya bisa kembali membuahkan keharmonisan. Maka dari itu, rahasia perumpamaan dalam pernikahan, isteri bertugas menjalankan peran secara khusus dari maksud Tuhan terhadap jemaat dalam hubungannya dengan Kristus.

Sekarang kepada para suami, Rasul Paulus berkata, jalankan tugas khususmu dari Kristus. Ayat 25, “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya.” Apabila suami adalah kepala isteri seperti yang tertulis dalam ayat 23, biarlah para suami mempunyai pemahaman bahwa hal ini memiliki arti dasar suami akan memimpin dengan kasih yang demikian yang bersedia mati untuk memberikan hidupnya. Sebagaimana Tuhan Yesus katakan dalam Lukas 22:26, “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar diantara kamu hendaklah menjadi yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan.” Seorang suami yang hanya duduk di depan TV dan menyuruh isterinya melakukan ini dan itu seperti seorang budak telah merendahkan Kristus dan kehendakNya. Kristus telah merendahkan diriNya dengan handuk dan membasuh kaki murid-muridNya. Tirulah Kristus, Jangan tiru Jabba si Hutt.

Sangat benar bahwa dalam ayat 21 termuat seluruh bagian yang mencangkup arti saling menyerahkan diri. “Tunduklah satu sama lain seperti kalian tunduk pada Kristus.” Tetapi kalau kita melihat ayat ini, cara Kristus menyerahkan diriNya kepada jemaat dan cara jemaat menyerahkan diriNya kepada Kristus adalah sama. Jemaat menyerahkan diriNya kepada Kristus dengan jalan menyangkal dirinya dan mengikut kepemimpinanNya. Saat Kristus berkata, “Biarlah pemimpin itu menjadi pelayan.” Dia tidak bermaksud bahwa pemimpin itu harus berhenti menjadi pemimpin. Bahkan saat Dia membungkuk membasuh kaki murid-muridNya, semua orang mengetahui siapa pemimpin di tempat itu. Hal yang sama juga adalah setiap suami Kristen harus melakukan kewajibannya dengan sungguh-sungguh dibawah kaki Tuhan yang menyediakan visi moral dan kepemimpinan roh sebagai pelayan yang rendah hati untuk isteri dan keluarganya.

Jadi implikasi yang pertama tentang rahasia pernikahan sebagai pencerminan hubungan Kristus dengan jemaatNya adalah bahwa isteri harus melakukan tugas istimewanya sebagai perwujudan gereja/jemaat dan suami juga melakukan tugas istimewanya sebagai perwujudan Kristus. Apabila anda menemukan pernikahan yang seperti itu, anda akan menemukan dua orang yang paling berbahagia di dunia, karena kehidupan mereka berasal dari Firman Tuhan dalam Alkitab dan Firman Tuhan dalam Yesus Kristus.

Mengejar sukacita di dalam sukacita yang dimiliki Pasangan

Implikasi terakhir yang sangat praktis dari rahasia pernikahan: suami dan isteri harus mengejar sukacita mereka masing-masing yang hanya berada dalam sukacita pasangan. Jarang sekali ditemukan ayat yang lebih Hedonistik di dalam Alkitab daripada Efesus 5:25 – 30. Sangat jelas tertulis dalam ayat ini bahwa banyaknya kesedihan dan dukacita di dalam pernikahan bukan karena para suami dan isteri mencari kesenangan masing-masing, tetapi mereka tidak mencarinya di dalam kesenangan pasangan mereka. Tetapi ayat ini mengingatkan kita agar mencarinya di dalam kesenangan dan sukacita pasangan kita, karena Kristus juga melakukan hal ini.

Pertama, perhatikan contoh Kristus di dalam ayat 35 – 27:

“Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya. Untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. “

Kristus mati untuk jemaat agar Dia bisa mempersembahkan seorang mempelai yang cantik dan indah pada diriNya sendiri. Dia melewati kesengsaraan salib untuk sukacita pernikahan yang sudah direncanakan untukNya. Tetapi apakah yang menjadi sukacita utama dari suatu gereja? Bukankah sukacita utama itu adalah saat-saat dipersembahkannya mempelai yang cantik di dalam tahta Tuhan? Dengan demikian, Kristus mencari sukacitaNya di dalam sukacita jemaat. Sehingga, contoh Kristus yang diberikan kepada para suami adalah untuk mencari sukacitanya di dalam sukacita isterinya.

Ayat 28 membuat penerapan ini menjadi lebih jelas. “Dengan demikian suami harus mengasihi isteri sama seperti tubuhnya sendiri: siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri tetapi mengasuhnya dan merawatnya.” Rasul Paulus mengakui juga salah satu landasan Hedonisme Kristen: Tidak ada orang yang membenci dirinya sendiri. Bahkan orang-orang yang melakukan bunuh diri pun melakukannya untuk menghindari atau lari dari kesedihan. Secara alami, kita mencintai diri kita sendiri, kita akan melakukan hal-hal yang akan membuat kita bahagia. Dan Rasul Paulus tidak membangun bendungan dalam sungai Hedonisme; melainkan dia membangun salurannya. Dia berkata, “Suami dan istri, ketahuilah bahwa di dalam pernikahan kalian sudah menjadi satu daging; sehingga, apabila kamu hidup dengan kesenanganmu sendiri diatas pengurbanan pasanganmu, kamu hidup membenci dirimu sendiri dan berakhir dengan menghancurkan sukacita terbesarmu sendiri. Tetapi apabila kamu menyerahkan dirimu dengan sepenuh hatimu di dalam sukacita kudus yang dimiliki pasanganmu, kamu juga akan hidup untuk sukacitamu dan membuat sebuah pernikahan seperti gambaran Kristus dan jemaatnya.”

Walaupun kesaksian pribadi saya tidak akan memberikan kontribusi dalam Firman Tuhan, tetapi saya akan tetap memberikan kesaksian saya. Saya menemukan Hedonisme Kristen pada tahun 1968, yaitu pada tahun yang sama saat saya menikah. Selama 15 tahun Noel dan saya, dalam ketaatan kepada Kristus, telah mengejar sukacita terdalam sebisa mungkin yang sanggup sami lakukan. Semuanya sangat tidak sempurna, kadang-kadang semuanya dilakukan dengan setengah hati, kami sudah mencoba mencari sukacita kami sendiri dalam sukacita pasangan bagaikan seorang pemburu. Dan kami bisa bersaksi bersama: itulah hadiah. Dan kami percaya bahwa dengan membuat pernikahan sebagai nilai di dalam Hedonisme Kristen, masing-masing kami memenuhi peran yang sudah ditentukan, rahasia pernikahan yang bagaikan hubungan Kristus dan jemaatNya terwujud untuk kemuliaanNya. Amin.