Mempersiapkan Diri untuk Menikah: Bantuan bagi Pasangan Kristen/Pernikahan, Melajang, dan Perbuatan Kebajikan Kristen

Dari Gospel Translations Indonesian

Revisi per 18:05, 4 Januari 2013; Kathyyee (Bicara | kontrib)
(beda) ←Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya→ (beda)
Langsung ke:navigasi, cari

Yang Berhubungan Dengan Sumber Daya
Lagi Oleh John Piper
Indeks Pengarang
Lagi Mengenai Pernikahan
Indeks Topik
Tentang terjemahan ini
English: Preparing for Marriage: Help for Christian Couples/Marriage, Singleness, and the Christian Virtue of Hospitality

© Desiring God

Bagikan ini
Misi Kami
Terjemahan ini diterbitkan oleh Injil Terjemahan, sebuah pelayanan yang ada untuk membuat buku-buku dan artikel injil-tengah yang tersedia secara gratis untuk setiap bangsa dan bahasa.

Pelajari lebih lanjut (English).
Bagaimana Anda Dapat Membantu
Jika Anda mampu berbahasa Inggris dengan baik, Anda dapat membantu kami sebagai penerjemah secara sukarela.

Pelajari lebih lanjut (English).

Oleh John Piper Mengenai Pernikahan
Bab 5 buku Mempersiapkan Diri untuk Menikah: Bantuan bagi Pasangan Kristen

Terjemahan oleh Yahya Kristiyanto

Review Anda dapat membantu kami memperbaiki terjemahan ini dengan meninjau untuk meningkatkan akurasi terjemahan. Pelajari lebih lanjut (English).


Akhir dari segala sesuatu sedang bergerak mendekat; oleh karena itu, bersikaplah mampu mengendalikan diri dan berpikiran jernih demi doa-doa Anda. Di atas semua itu, tetaplah saling mengasihi satu sama lain dengan sepenuh hati, karena kasih akan menutupi banyak dosa. Tunjukkan sikap ramah kepada satu sama lain tanpa menggerutu. Tindakan ini akan mendapatkan karunia, jadi gunakan untuk saling melayani, sebagai hamba Tuhan dengan berbagai macam karunia: siapa pun yang berbicara, berbicaralah sebagai orang yang mengucapkan hukum Tuhan; siapa pun yang melayani, melayanilah dengan kekuatan yang diberikan Tuhan, supaya di dalam segala sesuatu Tuhan dimuliakan melalui Yesus Kristus. Kemuliaan dan kedaulatan adalah kepunyaan-Nya selama-lamanya. Amin.

—1 Petrus 4:7-11

Apa yang mendorong bab ini adalah hasrat supaya Kristus dimuliakan dengan cara yang digunakan orang-orang yang sudah menikah maupun orang-orang yang melajang untuk menunjukkan sikap ramah satu terhadap yang lain. Atau, dengan kata lain, bila ini benar – yang mana saya percaya, benar – bahwa keluarga Allah yang terwujud, dengan kelahiran baru dan dengan iman di dalam Kristus adalah lebih sentral dan lebih bertahan lama daripada keluarga-keluarga yang terwujud karena pernikahan dan melahirkan keturunan maupun adopsi. Selanjutnya, bagaimana keluarga spiritual yang kekal itu (yakni gereja) saling berhubungan satu dengan yang lain (yang menikah dan yang lajang) adalah saksi yang sangat penting kepada dunia bahwa hidup kita berorientasi pada kemenangan Kristus dan bahwa hubungan kita ditentukan bukan hanya oleh alam, melainkan oleh Kristus. Saya rindu melihat Kristus dimuliakan melalui orang-orang yang sudah menikah yang menjalin orang-orang lajang ke dalam hidup mereka, dan melalui orang-orang lajang yang menjalin orang-orang yang sudah menikah ke dalam hidup mereka demi Kristus dan Injil.

“Karena Dia Seorang Murid”

Yesus berkata, “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Matius 10:42). Tentu saja, Yesus juga mengatakan agar kita mengasihi musuh kita (Matius 5:44), dan Paulus mengatakan agar kita memberi secangkir air kepada musuh kita (Roma 12:20). Kasih seperti ini akan mendapat imbalan. Namun di sini Yesus mengatakan agar kita menunjukkan kebaikan kepada orang-orang karena mereka adalah pengikut Yesus. Dan ini pun akan mendapatkan imbalan.

Dengan kata lain, apabila Anda memandang kepada mata orang lajang atau orang yang sudah menikah dan melihat wajah seorang pengikut Yesus – seorang saudara laki-laki atau saudara perempuan dari keluarga kekal Anda sendiri – maka hubungan dengan Yesus yang Anda lihat itu akan menarik hati Anda ke dalam kebaikan praktis – seperti keramahtamahan – demi Yesus sendiri. Di sini, Yesus menjadi fokus. Ia berkata, lakukan ini, “karena ia murid-Ku”. Karena alasan itu, saya akan merasa dihormati secara istimewa kalau Anda memberi minuman kepada salah seorang murid saya. Kalau murid saya datang ke rumah Anda, lakukan hal ini karena saya. Itulah yang saya maksud ketika saya mengatakan, saya rindu melihat Kristus dimuliakan melalui orang-orang yang sudah menikah yang menjalin orang-orang lajang ke dalam hidup mereka, dan melalui orang-orang lajang yang menjalin orang-orang yang sudah menikah ke dalam hidup mereka.

Dunia Materi — untuk Kemuliaan Allah

Saya ingin menyampaikan beberapa kata pendahuluan lagi sebelum kita melihat teks di dalam surat 1 Petrus. Pernahkah Anda ditanya, Mengapa Tuhan memberikan tubuh kepada kita dan membuat alam semesta yang berupa materi? Dan, mengapa Ia membangkitkan tubuh kita dari kematian dan menjadikan tubuh yang baru, dan kemudian memerdekakan bumi ini supaya menjadi sebuah bumi yang baru agar kita dapat hidup selama-lamanya di dalam tubuh kita yang baru? Apabila Tuhan bermaksud memberikan pujian besar (“TUHAN maha besar dan terpuji sangat” (Mazmur 96:4)), mengapa Tuhan tidak menciptakan saja malaikat-malaikat tanpa tubuh tetapi dengan hati yang besar yang hanya dapat berbicara dengan Tuhan dan tidak dengan satu sama lain? Mengapa harus dengan tubuh ini dan mengapa orang harus bisa berkomunikasi satu sama lain? Dan mengapa dengan pepohonan dan tanah dan air dan api dan angin dan singa dan domba dan bunga bakung (bunga lili) dan burung-burung dan roti dan anggur?

Ada beberapa jawaban yang mendalam dan mengagumkan atas pertanyaan-pertanyaan ini. Tetapi satu jawaban yang ingin saya sebutkan adalah Tuhan menciptakan tubuh dan materi karena ketika semua ini terlihat dengan benar dan digunakan dengan benar, maka kemuliaan Tuhan akan jauh lebih diketahui dan dipertunjukkan. Surga memberitahukan kemuliaan Allah (Mazmur 19:1). Perhatikan burung-burung di udara dan bunga bakung di padang, maka Anda akan lebih mengetahui kebaikan dan kepedulian Allah (Matius 6:26-28). Lihatlah sifat-sifat-Nya yang tidak terlihat di dalam segala sesuatu yang sudah dibuat-Nya – yakni kuasa kekal-Nya dan sifat ilahi-Nya (Efesus 5:23-25). Dengan seringnya Anda makan roti ini dan minum dari cawan ini, Anda menyatakan kematian Tuhan sampai Ia datang kembali (1 Korintus 11:26). Entah Anda makan atau minum atau apa pun yang Anda kerjakan, lakukanlah semua itu demi kemuliaan Tuhan (1 Korintus 10:31). Dunia materi bukanlah tujuan akhir, dunia materi itu dirancang untuk menunjukkan kemuliaan Allah dan membangkitkan hati kita agar lebih mengenal-Nya dan lebih menghargai-Nya.

Menjadikan Makanan dan Seks Kudus

Realitas fisik itu baik. Allah membuatnya sebagai suatu pewahyuan atas kemuliaan-Nya. Dan Ia menghendaki agar kita menguduskannya dan menyembah-Nya dengan dunia fisik itu – artinya, memandangnya dalam hubungannya dengan Dia dan memanfaatkannya dengan cara yang mengagungkan Dia dan sementara kita melakukannya, hal itu memberikan sukacita kepada kita. Semua itu memiliki kaitan langsung dengan pernikahan maupun status melajang. Hal ini melindungi kita dari memberhalakan seks dan makanan sebagai tuhan. Semua itu bukanlah tuhan; semua itu dibuat oleh Tuhan untuk memuliakan Dia. Dan itu melindungi kita dari rasa takut terhadap seks maupun makanan lalu menganggapnya sebagai sesuatu yang jahat. Keduanya bukanlah sesuatu yang jahat, keduanya adalah alat untuk menyembah – keduanya adalah cara untuk mengagungkan Kristus. Berikut ini adalah ayat utamanya: 1 Timotius 4:1-5. Ini merupakan salah satu ayat penting di dalam Alkitab tentang arti dari nafsu fisik atau seks.

Roh Kudus mengatakan bahwa di zaman akhir akan ada orang-orang yang menjauhkan diri dari iman dengan cara menyerahkan diri kepada roh-roh yang menipu dan kepada pengajaran setan, melalui ketidaktulusan para pembohong yang moralnya bejat, yang melarang pernikahan dan menuntut adanya puasa terhadap makanan yang sudah diciptakan Tuhan untuk diterima dengan ucapan syukur oleh orang-orang yang percaya dan mengenal kebenaran. Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan itu baik, dan tidak ada yang perlu ditolak apabila itu diterima dengan ucapan syukur, karena itu dijadikan kudus oleh firman Allah dan doa.

Seks dan makanan – dua berhala besar di Asia Kecil pada abad pertama dan di Amerika pada abad kedua puluh satu. Dan tanggapan Tuhan kepada orang-orang yang memecahkan masalah pemberhalaan terhadap seks dan makanan dengan meninggalkan atau menghindarinya adalah dengan mengatakan bahwa pelajaran itu berasal dari setan – “pengajaran setan” (ayat 1). Lalu, apa solusi dari Tuhan? Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan itu baik, tidak ada yang perlu ditolak apabila hal itu diterima dengan ucapan syukur dan dijadikan kudus dengan firman Allah dan doa. Anda bisa menjadikan makanan kudus dengan memanfaatkannya sesuai dengan firman Tuhan melalui doa yang bergantung pada Kristus. Anda bisa menjadikan seks kudus dengan memanfaatkannya sesuai dengan firman Tuhan melalui doa yang bergantung pada Kristus.

Lebih Memuliakan Kristus — Lajang ataupun Menikah

Semua ini adalah pendahuluan untuk menjadikan semua itu jelas di dalam keindahan pernikahan sebagai suatu perumpamaan fisik dari kasih ikat janji antara Kristus dan gereja, dan keindahan melajang sebagai suatu perumpamaan fisik dari sifat rohani dari keluarga Allah yang tumbuh melalui regenerasi dan iman, dan bukan memperanakkan dan seks – untuk menjadikan segalanya jelas bahwa baik menikah maupun melajang tidak diberhalakan ataupun ditakuti. Pernikahan dan hidup selibat bisa menjadi berhala. Pasangan-pasangan yang menikah bisa saling menyembah atau menyembah seks atau menyembah anak-anak mereka atau menyembah daya beli dari penghasilan ganda tanpa anak. Orang-orang yang melajang bisa menyembah sikap otonom dan kebebasan. Orang-orang yang melajang bisa memandang pernikahan sebagai kompromi Kristen kelas dua terhadap dorongan seks. Sedangkan, orang-orang yang menikah bisa memandang hidup melajang sebagai ketidakdewasaan atau sikap tidak bertanggung jawab atau ketidakmampuan atau bahkan homoseksualitas.

Tetapi apa yang ingin saya coba untuk jelaskan di sini adalah bahwa ada cara untuk memuliakan Kristus dengan menikah dan ada cara untuk memuliakan Kristus dengan melajang. Ada cara untuk menggunakan tubuh kita, hasrat kita untuk menikah atau melajang yang memulikan Kristus.

Kalimat yang Keras di Dalam 1 Korintus 7:9

Saya pikir, saya perlu memberi sedikit komentar terhadap kalimat yang bernada keras di dalam 1 Korintus 7:9, yang berbunyi, “Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin daripada hangus karena hawa nafsu.” Ingat, perkataan ini secara eksplisit ditujukan kepada pria dan wanita (ayat 8). Dan inilah yang ingin saya katakan tentang hal ini: Ketika seseorang ingin menikah, karena menyadari bahwa apabila ia melajang, ia bisa “hangus karena hawa nafsu”, ini bukan berarti bahwa pernikahan menjadi sekadar sebuah cara untuk menyalurkan dorongan seks. Paulus tidak pernah bermaksud demikian sehubungan dengan Efesus 5.

Sebaliknya, apabila seseorang menikah – saya akan gunakan pria sebagai contoh di sini – ia membawa hasrat seksualnya, dan ia melakukan hal yang kita semua harus melakukannya dengan hasrat jasmani kita jika kita ingin menjadikannya sebagai sarana untuk pnyembahan – 1) ia membawanya dalam keselarasan dengan firman Tuhan, 2) ia menundukkannya di bawah pola kasih dan perhatian yang lebih tinggi, 3) ia mengubah musik kenikmatan jasmani menjadi musik penyembahan rohani, 4) ia mendengarkan gema kebaikan Tuhan di setiap saraf yang ada, 5) ia berusaha melipatgandakan kenikmatan yang diperolehnya dengan menjadikan sukacita pasangannya sebagai sukacitanya sendiri, dan 6) ia mengucap syukur kepada Tuhan dari dasar hatinya yang terdalam karena ia tahu dan ia merasa bahwa ia tidak layak sedikit pun atas kenikmatan ini.

Memuliakan Kristus dengan Menunjukkan Sikap Ramah

Sekarang perhatikan 1 Petrus 4:7-11 dan apa yang menggerakkan pasal ini, yaitu sebuah dorongan untuk memuliakan Kristus dengan cara orang yang menikah dan orang yang melajang saling menunjukkan sikap ramah satu sama lain. Kita akan melihat kutipan ini dengan cepat dan kemudian menarik implikasi yang sederhana dan jelas – dan berdoa agar Tuhan mempergunakan firman ini dengan penuh kuasa untuk mengubah kita bagi kemuliaan-Nya dan sukacita kita.

Akhir Itu Sudah Dekat

Ayat 7 mengatakan, “Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.” Petrus tahu bahwa dengan kedatangan Sang Mesias berarti akhir zaman sudah tiba (1 Korintus 10:12; Ibrani 12:2). Kerajaan Allah sudah datang (Lukas 17:21). Oleh karena itu, penggenapan dari segala sesuatu dapat menyapu seluruh dunia dalam waktu yang sangat singkat.

Oleh karena itu, Yesus mengajar kita untuk waspada di dalam hidup kita dan terus bersikap awas, seperti yang dikatakan Petrus (ayat 7), “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.” Artinya, jagalah hubungan yang sangat pribadi dengan Dia yang Anda harapkan untuk bisa Anda temui muka dengan muka pada kedatangan-Nya. Jangan sampai tidak mengenali Kristus. Tentu Anda tidak ingin berjumpa dengan-Nya seperti berjumpa dengan orang yang asing bagi Anda. Dan carilah melalui doa segala pertolongan yang Anda butuhkan di hari-hari akhir ini supaya Anda bisa bertahan berdiri di zaman yang penuh dengan tekanan besar ini (Lukas 21:36). Dan jangan bergantung pada spontanitas Anda untuk membawa Anda pada doa. “Kuasailah diri sendiri dan berpikirlah dengan tenang, supaya Anda dapat berdoa.”

Kasih Itu Paling Tinggi Tingkatannya

Selanjutnya ayat 8, “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.” Kasih itu paling tinggi tingkatannya dan akan lebih dibutuhkan lagi dengan semakin dekatnya akhir zaman. Mengapa? Karena tekanan, desakan dan penganiayaan zaman akhir akan mengakibatkan hubungan berada di bawah tekanan yang luar biasa. Dan di zaman ini kita saling membutuhkan satu sama lain, dan dunia akan memperhatikan apakah kita sungguh-sungguh, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:35). Apakah kita akan menutupi dan menanggung serta menahan kesalahan atau kekurangan satu sama lain, atau justru akan menjadi marah di dalam hati kita?

Sikap Ramah tanpa Bersungut-sungut

Ayat 9 menunjukkan satu bentuk dari kasih; apakah ayat ini mengatakan bahwa ia mengucapkannya tanpa bersungut-sungut? “Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.” Apabila kita mengasihi dengan tulus, sedangkan kasih itu menutupi banyak sekali dosa, tentunya kita tidak akan begitu mudah bersungut-sungut, bukan? Kasih menutupi banyak hal yang membuat kita bersungut-sungut. Jadi, sikap ramah tanpa bersungut-sungut adalah panggilan bagi orang Kristen di zaman akhir. Di zaman sekarang ini, jika stres yang Anda alami sangat berat, dan ada dosa-dosa yang perlu ditutupi, dan ada alasan untuk bersungut-sungut, Petrus memberi nasihat bahwa apa yang perlu kita lakukan adalah memperlihatkan sikap ramah.

Rumah kita harus terbuka. Karena hati kita terbuka. Hati kita terbuka karena hati Allah terbuka bagi kita. Ingatkah Anda bagaimana Rasul Yohanes mengkaitkan kasih Allah dengan kasih kita satu sama lain dalam hubungannya dengan sikap ramah? Ia menulis di dalam 1 Yohanes 3:16-17, “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu [baik menikah ataupun melajang!], bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?”

Bermacam-macam Kasih Karunia Hamba Allah

Ini bisa sampai seberapa jauh kita mampu melangkah dalam teks ini. Kecuali untuk sekadar menunjuk pada apa yang terjadi ketika kita berkumpul bersama di rumah kita. Ayat 10 mengatakan, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” “Pengurus yang baik dari kasih karunia Allah!” Saya suka perkataan ini. Setiap orang Kristen adalah pengurus – penjaga, pengelola, pengawas, penyalur, hamba – dari kasih karunia Allah yang bermacam-macam. Sungguh alasan yang luar biasa untuk tetap hidup! Setiap orang Kristen hidup di dalam kasih karunia. “Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan” (2 Korintus 9:8). Jika Anda takut terhadap sikap ramah – di mana Anda tidak memiliki banyak kekuatan maupun kekayaan – itu baik. Anda tidak akan mengintimidasi siapa pun. Anda akan lebih bergantung lagi pada kasih karunia Allah. Anda akan lebih memandang lagi pekerjaan Kristus dan bukan pekerjaan Anda sendiri. Dan betapa besarnya berkat yang akan diperoleh orang-orang di dalam rumah Anda yang sederhana. Atau apartemen kecil Anda.

Terimalah Satu Sama Lain Seperti Kristus Telah Menerima Anda

Jadi, intinya adalah: kebajikan Kristen dalam hal keramahtamahan – strategi kasih yang memuliakan Kristus di zaman akhir.

Berikut ini adalah beberapa aplikasi sebagai penutup: Pertama, untuk semua pembaca. Jika Anda adalah kepunyaan Kristus, jika Anda dengan iman telah menerima kebaikan-Nya (keramahtamahan-Nya) yang menyelamatkan, yang sudah dibayarkan-Nya dengan darah-Nya sendiri, maka sebarkanlah keramahan atau kebaikan itu kepada orang-lain. Roma 15:7 mengatakan, “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.” Anda hidup dari kasih karunia yang diberikan dengan cuma-cuma setiap hari. Jadilah pengurus yang baik dari kasih karunia ini.

Kedua, untuk pasangan yang menikah. Rencanakan bahwa keramahan Anda itu mencakup untuk orang-orang yang melajang – kelompok-kelompok kecil, makan malam di hari Minggu, piknik, atau perayaan hari raya. Dan tidak perlu membesar-besarkannya. Yang wajar-wajar sajalah. Dan jangan lupa bahwa ada anak-anak yang berusia delapan tahun yang masih lajang dan ada orang-orang lajang yang sudah berusia enam puluh tahun, empat puluh tahun, tiga puluh tahun, atau dua puluh tahun, baik pria maupun wanita, yang pernah menikah atau tidak pernah menikah, yang bercerai, dan janda atau duda. Berpikirlah seperti seorang Kristen. Inilah keluarga Anda, lebih dalam dan lebih kekal daripada kerabat Anda.

Ketiga, untuk orang-orang yang melajang. Tunjukkan sikap ramah kepada orang lain yang melajang dan juga kepada pasangan-pasangan yang sudah menikah. Barangkali sepertinya ini janggal. Tetapi haruskah demikian? Tidakkah ini akan menjadi tanda kedewasaan dan kestabilan yang tidak biasa? Tidakkah ini akan menjadi tanda kasih karunia Allah di dalam hidup Anda?

Saya berdoa agar Tuhan mengerjakan karya yang indah ini di tengah-tengah kita – kita semua. Akhir dari segalanya sudah dekat. Marilah kita lebih bersungguh-sungguh dengan doa kita. Marilah kita saling mengasihi satu sama lain. Marilah kita menjadi pengurus yang baik dari kasih karunia Allah yang bermacam-macam, dan marilah kita tunjukkan sikap ramah tanpa bersungut-sungut. “Terimalah satu sama lain seperti Kristus telah menerima Anda.”