<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://id.gospeltranslations.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title>Gospel Translations Indonesian - Kontribusi pengguna [id]</title>
		<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/Pcain</link>
		<description>Dari Gospel Translations Indonesian</description>
		<language>id</language>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>
		<lastBuildDate>Wed, 13 May 2026 21:57:25 GMT</lastBuildDate>
		<item>
			<title>Saya Belum Siap Menikah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Saya_Belum_Siap_Menikah</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|I Wasn’t Ready for Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;  Baru-baru ini, suami saya dan saya melewati sebuah tonggak bersejarah. Sudah setahun sejak dia mengirim pesan teks yang memula...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|I Wasn’t Ready for Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru-baru ini, suami saya dan saya melewati sebuah tonggak bersejarah. Sudah setahun sejak dia mengirim pesan teks yang memulai hubungan kami: “Hei, kamu. Beri tahu saya kapan waktu yang tepat untuk berbicara.” Aku berteriak, melempar ponselku, dan berlari ke bawah sambil terengah-engah, &amp;quot;Aku belum siap!&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tahu bahwa dia ingin berbicara tentang kami, dan meskipun saya tahu percakapan ini akan datang dan telah menunggu dengan tidak sabar sampai itu tiba, ketika itu benar-benar terjadi, saya panik. Realitas memulai hubungan dengan seseorang yang saya hormati sama seperti saya menghormatinya membuat saya takut setengah mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin perasaan malu ini hanya menyerang orang-orang yang tahu diri seperti saya, tetapi jika kita semua mengambil waktu sejenak untuk benar-benar mengevaluasi semua yang dapat dihasilkan oleh suatu hubungan, kita semua mungkin menjadi sedikit kurang sabar untuk satu hubungan dan sedikit lebih terkejut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setahun sejak panggilan telepon itu, saya memahami kenyataan dari reaksi awal saya: saya belum siap. Namun, dalam 365 hari berikutnya, saya mulai belajar bahwa ketidaksiapan saya hanyalah gambaran dari kesetiaan Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Aku Belum Siap Disakiti====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum menikah, saya mengalami penghinaan dan sakit hati yang sering menyertai perpisahan. Setiap kali rasa sakit itu muncul, di benak saya, saya akan merindukan pernikahan dengan pria yang tidak akan pernah menyakiti saya seburuk itu lagi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
C.S. Lewis menulis,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Mencintai dengan sepenuh hati berarti menjadi rentan. Cintai apa pun dan hatimu akan diperas dan mungkin hancur. Jika Anda ingin memastikannya tetap utuh, Anda tidak boleh memberikannya kepada siapa pun, bahkan hewan sekalipun. Bungkus dengan hati-hati dengan hobi dan sedikit kemewahan; menghindari semua keterikatan. Kuncilah dengan aman di peti mati atau peti mati keegoisan Anda. (Empat Cinta)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebenaran poin Lewis dengan cepat menjadi jelas bagi saya ketika saya menikah. Semakin saya tumbuh untuk mencintai suami saya, semakin rentan saya untuk disakiti. Karena keintiman kami akan melebihi siapa pun yang pernah saya kenal sebelumnya, begitu pula potensi rasa sakit. Perasaan terluka, kesombongan yang terluka, dan hati yang terluka berlimpah dalam rasa sakit yang tumbuh menjadi satu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Saya Belum Siap Dibentuk====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya terbiasa melajang. Nyatanya, saya baru saja menjadi ahli dalam hal itu! Saya mencintai keluarga saya, pekerjaan saya, teman-teman saya, dan kehidupan normal saya. Ketika teman-teman memberi tahu saya bahwa saya &amp;quot;menangkap&amp;quot;, saya akan tersenyum dan menempatkan pernikahan dalam kategori &amp;quot;suatu hari nanti&amp;quot; yang nyaman itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika suami saya datang, &amp;quot;suatu hari nanti&amp;quot; menjadi &amp;quot;hari ini&amp;quot;, dan kehidupan yang saya tahu mulai bergeser dari prioritas tunggal ke prioritas baru. Kerentanan itu mulai berlaku saat kami mulai menyerahkan hidup kami dengan cara yang semakin besar. Pentingnya komunikasi menjadi sangat jelas saat perjalanan pengudusan baru kami dimulai. Saya bukan hanya saya lagi; Saya adalah bagian dari tim (Efesus 5:31). Dan seromantis kedengarannya di kepalaku, secara praktis, itu menjadi pertempuran terus-menerus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Aku Belum Siap Dicintai====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya selalu berpikir bahwa akan sangat membebaskan untuk dicintai terlepas dari kekurangan saya. Dalam benak saya, itu adalah gambaran yang indah tentang kasih yang tidak pantas yang Tuhan curahkan kepada saya di dalam Kristus (Roma 5:8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, di hati saya, rasanya seperti asam. Kebanggaan saya lebih suka mendapatkan kasih sayang daripada menerimanya. Sangat sulit untuk dicintai di tengah kehancuranku karena aku ingin dicintai karena kebersamaanku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pernikahan, cinta semacam itu bukanlah suatu pilihan. Suami saya sangat menghargai pemberian saya, tetapi jika dia hanya mencintai bagian terbaik dari diri saya, akan ada banyak hal yang tidak terungkap (1 Petrus 4:8). Dia melihat dosa saya lebih jelas daripada orang lain dan tetap mencintai saya. Saya bisa membencinya karena pengetahuan ini atau menghadapinya dengan kerendahan hati dan rasa syukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Saya Belum Siap untuk Mati====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika beban menjadi istri yang sempurna bagi suami saya berada tepat di pundak saya, ketakutan awal saya akan sepenuhnya dibenarkan. Saya tidak bisa melakukannya. Puji Tuhan bahwa beban tidak pernah ada di pundak saya!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum saya menjadi pengantin Phillip, saya adalah bagian dari gereja, pengantin Kristus. Sebelum dunia dijadikan (Roma 8:29), Mempelai Pria saya yang kekal telah memilih saya terlepas dari kenyataan bahwa saya tidak pantas menerima Dia (Efesus 1:3-4). Di tengah kesengsaraan ini, dia mati untukku (Roma 5:8). Dia mengenakan saya dalam kebenarannya. Dia mengadopsi saya sebagai miliknya. Dia menyelamatkan saya. Dia memilih suamiku untuk menggemakan cinta abadinya. Dia memilih pernikahan kami untuk menggemakan perjanjian kekal itu. Dia memilih kita, bukan karena kesempurnaan kita, tetapi karena kemampuannya untuk menggantikan kita dengan sempurna. Hidupku adalah miliknya. Pernikahan kita adalah miliknya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan dalam terang kebenaran yang mulia ini, bahkan ketika keegoisan, berpusat pada diri sendiri, dan pembenaran diri sehingga kita berseru melawan lonceng kematian manusia lama (Galatia 2:20), kita tahu bahwa kemenangan akhir adalah milik Mempelai Pria surgawi kita (Filipi 1:6). Kelemahan kita mengarahkan kita pada kekuatannya (2 Korintus 12:9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkawinan saya bukanlah yang pamungkas, tetapi itu melukiskan, sesederhana mungkin, sebuah gambaran dari yang ada (Wahyu 19:7–9), dan ketakutan saya ditelan oleh fakta bahwa mempelai ini dicintai oleh dua mempelai laki-laki yang menjagai agar gambar itu tetap terlihat.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 08 Feb 2023 12:24:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Saya_Belum_Siap_Menikah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kamu disambut di sini</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kamu_disambut_di_sini</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|You Are Welcome Here}}&amp;lt;br&amp;gt;  '''Apa yang Gereja Anda Katakan kepada Dunia'''  Kematian penebusan Yesus menyelamatkan pribadi manusa, tetapi lebih dari itu. Itu menc...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|You Are Welcome Here}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Apa yang Gereja Anda Katakan kepada Dunia'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian penebusan Yesus menyelamatkan pribadi manusa, tetapi lebih dari itu. Itu menciptakan suatu perkumpulan, secara ajaib membentuk orang-orang yang ditebus menjadi gereja-gereja yang hidup sebagai keluarga, satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Roma 15:7, rasul Paulus mengidentifikasi dasar dan tujuan komunitas sejati: “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap gereja yang saya kenal ingin menjadi gereja yang ramah. Namun cara kita berpikir tentang “menyambut” seringkali dangkal, terbatas pada sapaan hangat dengan senyuman, jabat tangan, dan sapaan selamat datang di Minggu pagi. Pemahaman Paulus tentang &amp;quot;selamat datang&amp;quot; lebih dalam dan lebih tinggi dari itu — berakar jauh di dalam tanah Injil itu sendiri dan menjangkau tinggi untuk mencapai sesuatu yang bernilai tak terukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Akar Komunitas Kristiani'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah .” Paulus menulis kata-kata ini kepada gereja di Roma, yang mengalami ketegangan yang cukup besar antara orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi, yang tidak setuju tentang makan makanan tertentu dan menjalankan hari-hari tertentu. Di dalam konflik ini, Paulus menyatakan kebenaran Injil bahwa “Kristus telah menyambut kamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambutan Kristus bukan hanya jabat tangan yang ramah dan senyuman yang menyenangkan. Itu adalah keselamatan (Roma 10:13), rekonsiliasi (Roma 5:10), penerimaan ke dalam keluarga Tuhan (Roma 8:16). Dan itu mahal harganya, dibutuhkan kematian Kristus menggantikan kita dan kebangkitan dari kematian agar kita dapat disambut olehnya. Namun demikian, itu adalah harga yang dengan senang hati Sang Anak terima untuk menerima kita (Yohanes 10:18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sambutan Kristus terhadap kita adalah dasar dan model untuk saling menyambut satu sama lain: “Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita” Karena Yesus mati menggantikan kita untuk menyambut kita ke dalam keluarga Tuhan, penyambutan kita satu sama lain berarti kita hidup bersama sebagai keluarga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dinamika Komunitas Kristiani'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana keluarga yang sehat berinteraksi satu sama lain? Pertanyaan itu menuntun hidup kita bersama dalam komunitas Kristiani. Kami saling mencintai melalui ketidaksepakatan, seperti keluarga yang sehat. Kami bersedia untuk berdamai dan beribadah dan bekerja sama. Kita tidak menghindari atau membenci anggota keluarga yang memiliki kepribadian aneh, atau sifat-sifat yang menyebalkan — atau mereka yang hanya berbeda dari kita dalam cara berpakaian atau berbicara atau berpenampilan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebaliknya, kami menerima satu sama lain karena kami adalah bagian dari keluarga yang sama. Kami berpartisipasi bersama dalam komunitas dan saling melayani dalam pekerjaan yang perlu dilakukan, karena itulah yang dilakukan oleh keluarga yang sehat. Kita menemukan cara, baik besar maupun kecil, melalui kata-kata dan tindakan, untuk mengatakan, “Kamu adalah keluarga bagiku, jadi aku akan berkorban untuk melayanimu.” Kami saling menyambut dengan melayani di kamar bayi, duduk di samping tempat tidur rumah sakit, menyediakan transportasi, berdoa dengan setia, mengatasi konflik, dan dalam ribuan cara lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jenis penyambutan yang Paulus minta bukanlah tugas dari “pelayanan penyambut” atau “tim penyambut” saja, tetapi seluruh gereja. Ini bukan peristiwa, tetapi cara hidup yang berkelanjutan. Mengasihi keluarga gereja kita membutuhkan waktu dan pengorbanan serta kerendahan hati, sama seperti Kristus menyambut kita ke dalam keluarga-Nya menuntut kematian-Nya di kayu salib.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Tujuan Komunitas Kristiani'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hasil dari komunitas Kristen yang benar-benar hidup dengan cara ini sungguh menakjubkan. Paulus berkata bahwa kita harus saling menyambut seperti Kristus menyambut kita “untuk kemuliaan Tuhan.” Adalah mungkin bagi komunitas pendosa yang telah ditebus untuk menampilkan nilai KeTuhanan kepada dunia. Tidak ada tujuan yang lebih tinggi untuk gereja mana pun. Ajaran Paulus adalah berita besar bagi gereja-gereja kecil dan biasa. Itu berarti Anda tidak membutuhkan gedung-gedung yang indah, atau pelayanan yang canggih, atau pendeta terkenal, atau musik yang fenomenal, atau program untuk segala usia untuk memuliakan Tuhan. Gereja Anda memuliakan Tuhan dengan menjadi keluarga satu sama lain, dengan menyambut satu sama lain seperti Kristus telah menyambut Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Minggu Paskah ini, mari kita ingat salah satu karunia besar yang datang kepada kita dari kayu salib: komunitas sejati yang menceritakan kemuliaan Tuhan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 10 Jan 2023 13:16:10 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kamu_disambut_di_sini</comments>		</item>
		<item>
			<title>Dua Belas Bagian Injil untuk Direnungkan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Dua_Belas_Bagian_Injil_untuk_Direnungkan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Twelve Gospel Passages to Soak In}}&amp;lt;br&amp;gt;  Hanya Kebenaran tidaklah cukup bagi kita. Jiwa kita sangat membutuhkan Injil.  “Kasih karunia Allah yang sebenarnya” (...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Twelve Gospel Passages to Soak In}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Kebenaran tidaklah cukup bagi kita. Jiwa kita sangat membutuhkan Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kasih karunia Allah yang sebenarnya” (Kolose 1:6) adalah kejutan yang menghidupkan jiwa yang mati, dan suatu nilai yang membuatnya tetap hidup. Injil adalah hal spiritual  yang membangunkan dan menyemangati hati manusia, bukan sekadar kebenaran — tetapi sama pentingnya dengan kebenaran. Dua tambah dua sama dengan empat - itu benar. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk memulai dan mendorong jiwa yang merana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mempelajari berbagai kebenaran dari Alkitab itu indah dan baik — dan ada banyak kebenaran penting untuk dipelajari — tetapi kita tidak boleh melewatkan atau meremehkan satu kebenaran Injil, “firman kebenaran” (Efesus 1:13; Kolose 1:5), pesannya begitu sentral dan signifikan sehingga rasul menyebutnya bukan hanya kebenaran, tetapi kebenaran, di seluruh Surat Penggembalaan (1 Timotius 2:4; 3:15; 4:3; 6:5; 2 Timotius 2:18, 25; 3:7, 8; 4:4; Titus 1:1, 14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Selusin Teks Tentang Kebenaran====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru-baru ini kami menyusun dua daftar pendek ayat-ayat Alkitab yang secara khusus sesuatu yang berharga yang dengan hati-hati terukir di hati kami. Satu adalah sepuluh bagian untuk dihafal oleh pendeta; yang lainnya adalah sepuluh ringkasan Injil yang terdiri dari satu ayat untuk semua. Di sini sekarang ada dua belas &amp;quot;bagian Injil&amp;quot; yang dipilih dengan cermat yang menjadi inti dari kabar baik alkitabiah hanya dalam dua sampai empat ayat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian-bagian pendek ini siap untuk dihafal, dan setidaknya membutuhkan waktu refleksi yang panjang. Bangun hidup Anda di atas mereka dan di sekitar mereka, dan biarkan mereka membentuk dan membumbui segalanya. Renungkan - dan resapilah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yesaya 53:4-6'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya  , dan kesengsaraan  kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas  Allah.  Tetapi dia tertikam  oleh karena pemberontakan   kita  , dia diremukkan   oleh karena kejahatan kita; ganjaran   yang mendatangkan keselamatan   bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya   kita menjadi sembuh Kita sekalian sesat  seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan  kita sekalian.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Roma 3:23-24'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah dan oleh kasih karunia  telah dibenarkan  dengan cuma-cuma karena penebusan  dalam Kristus Yesus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Roma 4:4-5'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Korintus 15:3-4'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Galatia 3:13-14'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ”Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!” Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Efesus 2:4-5'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan –&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Filipi 2:6-8'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kolose 1:19-20'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kolose 2:13-14'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib:&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Titus 2:4-7'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;dan dengan demikian mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar firman Allah jangan dihujat orang. Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Ibrani 2:14-17'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1 Petrus 2:22-25'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 20 Dec 2022 14:08:34 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Dua_Belas_Bagian_Injil_untuk_Direnungkan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Saya Dapat Mengetahui Saya Anak Tuhan?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Saya_Dapat_Mengetahui_Saya_Anak_Tuhan%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|How Can I Know I’m a Child of God?}}&amp;lt;br&amp;gt;  '''Transkrip Audio'''  Ada dua cara Roh Kudus bekerja dengan kesaksiannya untuk memberi Anda jaminan bahwa Anda benar-b...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|How Can I Know I’m a Child of God?}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip Audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada dua cara Roh Kudus bekerja dengan kesaksiannya untuk memberi Anda jaminan bahwa Anda benar-benar diselamatkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dia memimpin Anda. Dalam konteksnya, kita melihat apa itu kepemimpinan: memimpin Anda ke dalam kebencian dan berperang melawan dosa Anda. &amp;quot;Saya membencinya. Saya membunuhnya. Saya seorang pembunuh. Saya membenci dosa saya lebih dari saya membenci siapa pun atau apa pun.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda melakukan itu? Apakah Anda membenci dosa Anda lebih dari Anda membenci iblis? Dosa Anda adalah masalah yang jauh lebih besar daripada iblis. Iblis tidak dapat menempatkan Anda di neraka. Dosa Anda bisa. Dosa Anda adalah masalah terbesar di dunia. Apakah kamu membencinya? Apakah Anda berperang melawannya? Jika Anda melakukannya, Roh Kudus dengan lantang bersaksi, memberikan kesaksian: “Kamu milikku!” Karena setiap orang yang dipimpin oleh Roh Kudus adalah anak Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Apakah Anda, seperti bayi kecil, tak berdaya, tidak mengudara, berkata, &amp;quot;Abba, Ayah, aku membutuhkanmu&amp;quot;? Saya pikir itulah yang tersirat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pikir itu sebabnya Paulus mengatakan Abba. Mengapa dia mengatakan &amp;quot;Abba&amp;quot;, bukan hanya Ayah? Mengapa dia tidak mengatakan saja, “Setiap orang yang mengatakan Bapa sedang mengalami kesaksian Roh Kudus”? Karena dia mencoba mengatakan, tidak, tidak, kesaksian Roh Kudus yang sebenarnya adalah pekerjaan di dalam hati yang seperti anak kecil. “Jika kamu tidak berbalik dan menjadi seperti anak kecil, kamu tidak akan pernah masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Matius 18:3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia telah membuat Anda kekanak-kanakan, sedikit, putus asa, tidak berdaya, “Saya butuh bantuan. Saya bukan siapa-siapa. Saya tidak bisa menyelamatkan diri. Aku harus punya ayah. Saya tidak bisa hidup tanpa bantuan.” Itu Roh Kudus yang berbicara. Itu bukan terkomputerisasi, &amp;quot;Abba Bapa.&amp;quot; Itu adalah tangisannya yang nyata, kekanak-kanakan, dan bahagia kepada Bapa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, jika Anda membenci dosa Anda dan mematikannya, dan jika Anda adalah seorang anak kecil yang patah hati yang berseru kepada Bapa Anda, Anda adalah seorang Kristen. Anda dapat mengetahuinya karena dia mengerjakan hal-hal itu di dalam diri Anda.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 13 Dec 2022 12:54:06 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Saya_Dapat_Mengetahui_Saya_Anak_Tuhan%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Berjalan oleh Iman</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Berjalan_oleh_Iman</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Living by Faith}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Sahut Abraham: &amp;quot;Allah yang akan menyediakan 1  o  anak domba p  untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.&amp;quot; Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Kejadian 22:8&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;-	Kejadian 22:1-14&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini kita telah banyak membahas tentang apa artinya berjalan oleh iman. Kita telah melihat bahwa keimanan yang kita miliki bukanlah keimanan buta, melainkan didasarkan pada tindakan Tuhan di masa lampau. Kita juga telah melihat bagaimana iman berperan penting dalam keselamatan kita dan bagaimana iman berhubungan dengan pengharapan akan kebangkitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita tahu bahwa kita memiliki alasan yang baik untuk menaruh iman kita kepada Tuhan, itu tidak berarti bahwa kehidupan iman selalu mudah. Kadang-kadang ketika Tuhan memanggil kita untuk bertindak, kita tidak dapat memastikan apa yang Dia rencanakan untuk dilakukan melalui kita. Terkadang kita harus mempercayai-Nya di saat yang sulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan Abraham adalah contoh yang baik tentang hal ini. Ingatlah bahwa Abraham dijanjikan suatu bangsa dengan banyak keturunan (Kejadian 15:1–6). Tetapi ketika Tuhan menunda memberikan seorang anak laki-laki kepada Abraham, Abraham mengambilnya sendiri untuk menjadi ayah Ismael dengan pembantunya Hagar (16:1–16). Meskipun Tuhan memang berjanji untuk membuat suatu bangsa Ismael, dia bukanlah anak yang dijanjikan. Akhirnya, setelah penantian yang lama, anak yang dijanjikan, Ishak, lahir dari Abraham dan Sarah (21:1-7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan betapa senangnya melihat kelahiran putra yang dijanjikan. Tuhan melakukan hal yang mustahil dan memberikan seorang anak kepada pasangan yang sudah lanjut usia – pasangan yang harus kita ingat, yang belum pernah hamil. Mempercayai Tuhan memberi mereka mujizat yang besar ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ceritanya tidak berakhir di situ. Dalam renungan hari ini, Abraham dipanggil untuk mengorbankan anak yang dijanjikan ini (Kejadian 22:1-2). Meskipun kita tidak akan pernah dipanggil untuk melakukan ini, kita hanya dapat membayangkan betapa sulitnya hal ini bagi Abraham untuk melakukannya. Lagipula, Tuhan memanggilnya untuk menyerahkan putra dan ahli waris kesayangannya yang akhirnya lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kita membaca kisah selanjutnya, kita tahu bahwa Abraham patuh. Namun kita tidak boleh berpikir bahwa ketaatan ini adalah sesuatu yang datang dengan mudah. Karena Abraham tidak langsung bangun — dia menunda perjalanan sampai pagi (ayat 3). Selain itu, meskipun Abraham memberi tahu Ishak bahwa Tuhan akan menyediakan seekor anak domba (ay.8), kita bertanya-tanya betapa mudahnya dia mempercayai hal ini, terutama karena Tuhan tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa dia akan melakukannya. Tuhan memang datang dengan anak domba itu —pada saat-saat terakhir (ay.9-14) — tetapi sampai saat itu, Abraham harus mengandalkan Tuhan di tengah-tengah keadaan yang sulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Coram Deo&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Sproul mengatakan bahwa “hidup dengan iman berarti kadang-kadang kita berpegang pada tebing tandus dengan kuku kita dengan segenap kekuatan kita saat kita percaya pada Tuhan yang tidak kelihatan.” Inilah yang dilakukan Abraham ketika dia diperintahkan untuk mengorbankan Ishak. Ketika hidup Anda mencerminkan pernyataan ini, ingatlah bahwa Anda harus berpegang teguh pada kepercayaan Anda kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;h4&amp;gt;Bahan untuk Studi Lebih Lanjut&amp;lt;/h4&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Ayub 1:20–21&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
Hab. 3:17–18&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
Mat. 15:21–28&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
Ibr 11:32–40&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;hr /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;Di Hadirat Tuhan&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 13 Dec 2022 12:45:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Berjalan_oleh_Iman</comments>		</item>
		<item>
			<title>Berjalan oleh Iman</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Berjalan_oleh_Iman</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Living by Faith}}&amp;lt;br&amp;gt;  &amp;lt;blockquote&amp;gt;Sahut Abraham: &amp;quot;Allah yang akan menyediakan 1  o  anak domba p  untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.&amp;quot; Demikianlah keduanya ber...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Living by Faith}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Sahut Abraham: &amp;quot;Allah yang akan menyediakan 1  o  anak domba p  untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.&amp;quot; Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Kejadian 22:8&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;-	Kejadian 22:1-14&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejauh ini kita telah banyak membahas tentang apa artinya berjalan oleh iman. Kita telah melihat bahwa keimanan yang kita miliki bukanlah keimanan buta, melainkan didasarkan pada tindakan Tuhan di masa lampau. Kita juga telah melihat bagaimana iman berperan penting dalam keselamatan kita dan bagaimana iman berhubungan dengan pengharapan akan kebangkitan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita tahu bahwa kita memiliki alasan yang baik untuk menaruh iman kita kepada Tuhan, itu tidak berarti bahwa kehidupan iman selalu mudah. Kadang-kadang ketika Tuhan memanggil kita untuk bertindak, kita tidak dapat memastikan apa yang Dia rencanakan untuk dilakukan melalui kita. Terkadang kita harus mempercayai-Nya di saat yang sulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan Abraham adalah contoh yang baik tentang hal ini. Ingatlah bahwa Abraham dijanjikan suatu bangsa dengan banyak keturunan (Kejadian 15:1–6). Tetapi ketika Tuhan menunda memberikan seorang anak laki-laki kepada Abraham, Abraham mengambilnya sendiri untuk menjadi ayah Ismael dengan pembantunya Hagar (16:1–16). Meskipun Tuhan memang berjanji untuk membuat suatu bangsa Ismael, dia bukanlah anak yang dijanjikan. Akhirnya, setelah penantian yang lama, anak yang dijanjikan, Ishak, lahir dari Abraham dan Sarah (21:1-7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan betapa senangnya melihat kelahiran putra yang dijanjikan. Tuhan melakukan hal yang mustahil dan memberikan seorang anak kepada pasangan yang sudah lanjut usia – pasangan yang harus kita ingat, yang belum pernah hamil. Mempercayai Tuhan memberi mereka mujizat yang besar ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ceritanya tidak berakhir di situ. Dalam renungan hari ini, Abraham dipanggil untuk mengorbankan anak yang dijanjikan ini (Kejadian 22:1-2). Meskipun kita tidak akan pernah dipanggil untuk melakukan ini, kita hanya dapat membayangkan betapa sulitnya hal ini bagi Abraham untuk melakukannya. Lagipula, Tuhan memanggilnya untuk menyerahkan putra dan ahli waris kesayangannya yang akhirnya lahir.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kita membaca kisah selanjutnya, kita tahu bahwa Abraham patuh. Namun kita tidak boleh berpikir bahwa ketaatan ini adalah sesuatu yang datang dengan mudah. Karena Abraham tidak langsung bangun — dia menunda perjalanan sampai pagi (ayat 3). Selain itu, meskipun Abraham memberi tahu Ishak bahwa Tuhan akan menyediakan seekor anak domba (ay.8), kita bertanya-tanya betapa mudahnya dia mempercayai hal ini, terutama karena Tuhan tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa dia akan melakukannya. Tuhan memang datang dengan anak domba itu —pada saat-saat terakhir (ay.9-14) — tetapi sampai saat itu, Abraham harus mengandalkan Tuhan di tengah-tengah keadaan yang sulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Coram Deo&amp;lt;sup&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Sproul mengatakan bahwa “hidup dengan iman berarti kadang-kadang kita berpegang pada tebing tandus dengan kuku kita dengan segenap kekuatan kita saat kita percaya pada Tuhan yang tidak kelihatan.” Inilah yang dilakukan Abraham ketika dia diperintahkan untuk mengorbankan Ishak. Ketika hidup Anda mencerminkan pernyataan ini, ingatlah bahwa Anda harus berpegang teguh pada kepercayaan Anda kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bahan untuk Studi Lebih Lanjut====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayub 1:20–21&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
Hab. 3:17–18&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
Mat. 15:21–28&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
Ibr 11:32–40&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;hr&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;sup&amp;gt;&amp;gt;1&amp;lt;/sup&amp;gt;Di Hadirat Tuhan&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 13 Dec 2022 12:44:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Berjalan_oleh_Iman</comments>		</item>
		<item>
			<title>15 Doa untuk Kekuatan Tuhan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/15_Doa_untuk_Kekuatan_Tuhan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|15 Prayers for God’s Power}}&amp;lt;br&amp;gt;  Saya suka kekuatan. Saya suka kata &amp;quot;perkasa,&amp;quot; seperti dalam &amp;quot;Wanita Perkasa Tuhan,&amp;quot; dan &amp;quot;Pria Perkasa Tuhan.&amp;quot; Saya senang mende...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|15 Prayers for God’s Power}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya suka kekuatan. Saya suka kata &amp;quot;perkasa,&amp;quot; seperti dalam &amp;quot;Wanita Perkasa Tuhan,&amp;quot; dan &amp;quot;Pria Perkasa Tuhan.&amp;quot; Saya senang mendengar bahwa “ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya” (Kisah Para Rasul 7:22), dan bahwa Apolos adalah “sangat mahir dalam soal-soal Kitab Suci” (Kisah Para Rasul 18:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya suka ketika Paulus berkata, “Bersikaplah sebagai laki-laki! Dan tetap kuat!” (1 Korintus 16:13), atau, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya” (Efesus 6:10), atau, “jadilah kuat oleh kasih karunia dalam Kristus Yesus.” (2 Timotius 2:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi jangan salah, mengejar kekuatan ini bukanlah jalan menuju kekuatan dan kebanggaan manusia. Ini adalah jalan peperangan tanpa henti dengan diri Anda sendiri. Kekuatan terbesar di dunia di antara manusia adalah kekuatan untuk tidak berbuat dosa. Kekuatan kekudusan dan cinta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi jika Anda siap untuk itu, maukah Anda bergabung dengan saya dalam 15 doa ini agar Anda menjadi pria Tuhan yang perkasa atau wanita Tuhan yang perkasa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Tuhan, jadikanlah aku begitu perkasa dalam hikmat sehingga aku tahu dan merasakan bahwa puncak keperkasaan adalah seperti anak kecil (Matius 18:4).&lt;br /&gt;
#Tuhan, jadikanlah aku begitu perkasa dalam peperangan sehingga aku mengalahkan setiap dorongan dalam jiwaku yang merusak perdamaian (Ibrani 12:14; Roma 14:19; Matius 5:9).&lt;br /&gt;
#Tuhan, kuatkan aku dalam kekerasanku melawan kepahitan sehingga kelembutan hati tidak dihancurkan oleh luka (Hosea 11:8; Efesus 4:32; 1 Petrus 3:8).&lt;br /&gt;
#Tuhan, jadikanlah aku dengan kekuatan yang teguh dan tidak luwes dalam ketetapan Kristus yang meninggikan untuk membengkokkan dan menjadi segala sesuatu bagi semua orang agar aku dapat menyelamatkan beberapa orang (1 Korintus 9:22).&lt;br /&gt;
#Tuhan, jadikanlah batang dan cabangku begitu kuat dan tahan terhadap angin dan kekeringan sehingga aku tidak pernah berhenti menghasilkan buah kelembutan (Galatia 5:23; Yakobus 3:17; 1 Petrus 3:4).&lt;br /&gt;
#Tuhan, jadikanlah aku begitu perkasa dalam cerdik seperti ular sehingga aku melihat setiap celah untuk cinta tulus seperti merpati (Matius 10:16).&lt;br /&gt;
#Tuhan, buatlah aku begitu kuat tidak tergoyahkan oleh sengatan dan tipu daya ketidakadilan terhadapku sehingga aku dapat merasakan dan menunjukkan keajaiban belas kasihan yang tidak selayaknya diperoleh (Lukas 10:23; 15:20; Ibrani 10:34; 1 Petrus 3:8).&lt;br /&gt;
#Tuhan, jadikanlah aku begitu kuat pantang menyerah pada bujukan keegoisan sehingga dari hatiku kebaikan mengalir selamanya (2 Korintus 6:6; Galatia 5:22; Efesus 4:32; Kolose 3:12).&lt;br /&gt;
#Tuhan, buatlah aku menjadi sangat tidak responsif terhadap godaan mengasihani diri sendiri yang manis sehingga aku mungkin memiliki sumber daya yang selalu terisi untuk membalas kebaikan dengan kejahatan (Roma 12:17; 1 Tesalonika 5:15; 1 Petrus 3:9).&lt;br /&gt;
#Tuhan, kuatkan aku dengan keberanian yang kejam untuk memotong tanganku pada setiap jejak keserakahan agar aku puas dengan apa yang aku miliki (Filipi 4:11; 1 Timotius 6:8; Ibrani 13:5).&lt;br /&gt;
#Tuhan, kuatkan aku dengan pikiran bahagia anak dan istri dan Raja untuk merobek mataku agar aku tidak mengkhianati kepercayaan mereka dan kehilangan kemurnian yang melihat Tuhanku (Matius 5: 8).&lt;br /&gt;
#Tuhan, buat aku begitu kuat melawan kekuatan pembenaran diri sehingga aku tidak pernah kehilangan kerendahan hati untuk bertobat dan menangisi dosaku (Yakobus 4:9; 5:16).&lt;br /&gt;
#Tuhan, kuatkan aku dalam melawan umpan produktivitas yang hiruk pikuk sehingga aku tidak pernah berhenti menikmati air tenang doa dan kehadiran-Mu yang manis (Mazmur 23:2; Yesaya 46:10; Lukas 10:42).&lt;br /&gt;
#Tuhan, kuatkan aku melawan arus mematikan dari kemandirian sehingga aku tidak pernah malu untuk mempercayai lengan-Mu, seperti seorang anak dengan ayahnya, dalam setiap gelombang yang pecah (Mazmur 37:3, 5; Amsal 3:5; Galatia 2 :20).&lt;br /&gt;
#Tuhan, kuatkan aku dalam melihat dan kuat dalam menikmati janji-janji anugerah-Mu yang berdaulat sehingga dalam semua kesedihanku aku tidak pernah berhenti menyanyikan pujian-Mu (Matius 5:11-12; Kisah Para Rasul 16:25; 2 Korintus 6:10; 1 Petrus 4:13).&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 12:15:09 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:15_Doa_untuk_Kekuatan_Tuhan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Gema yang Abadi di Setiap Pernikahan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Gema_yang_Abadi_di_Setiap_Pernikahan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Eternity Echoes in Every Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;  '''Transkrip Audio'''  Pernikahan ada sebagai perbuatan tangan Tuhan dan sebagai pertunjukan Tuhan. Tidak ada lembaga lain...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Eternity Echoes in Every Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip Audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan ada sebagai perbuatan tangan Tuhan dan sebagai pertunjukan Tuhan. Tidak ada lembaga lain yang seperti itu. Bahkan tidak ada yang mendekati disain ini sebagai tampilan Tuhan: cintaNya, putraNya, perjanjianNya. Tidak ada yang mendekati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kejadian 2:24: “Karena itu, laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya, lalu bersatu dengan istrinya sehingga mereka akan menjadi satu daging.” Hubungan macam apa itu? Apakah itu? Bagaimana kedua orang ini disatukan? Bisakah mereka menjauh dari ini? Bisakah mereka pergi dari pasangan satu ke pasangan lain? Apakah hubungan ini berakar pada romantisme? Apakah hubungan ini berakar pada hasrat seksual? Apakah itu berakar pada kebutuhan akan persahabatan? Apakah itu berakar pada kenyamanan akan kebudayaan? Apakah yang disebut satu daging yang diciptakan Tuhan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam ayat 24, kata-kata, “lalu bersatu dengan istrinya,” dan kata-kata, “sehingga mereka akan menjadi satu daging.” menunjuk pada sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih permanen daripada perzinahan sesekali atau pernikahan berantai. Apa yang ditunjukkan oleh kata-kata ini adalah pernikahan sebagai perjanjian sakral yang berakar pada komitmen perjanjian yang bertahan melawan setiap badai selama kita berdua hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu hanya tersirat di sini, tetapi eksplisit dalam Efesus 5. Melihat hubungan antara Kejadian 2:24 dan Efesus 5:31-32 adalah hal yang paling mengungkapkan tentang pernikahan dalam Alkitab. Ini adalah surat Paulus kepada jemaat Efesus dalam Perjanjian Baru. Dia mengutip Kejadian 2:24 dan kemudian dia mengatakan hal yang paling mulia, paling indah, paling mengejutkan yang mungkin bisa dikatakan tentang pernikahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Efesus 5:31: “Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” Kemudian di ayat 32 dia memberikan interpretasi yang sangat penting dari kata-kata itu. Dia berkata, &amp;quot; Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, ketika Tuhan merencanakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan, berpindah dari satu keluarga ke keluarga lain ke dalam satu kesatuan daging yang baru, Ia mencontohkannya pada Kristus, Putra-Nya, dan mempelai-Nya, gereja. Itu tidak terjadi sebaliknya. Tuhan tidak menciptakan laki-laki dan perempuan, merancang pernikahan, dan kemudian berpikir, “Tidak. Anda tahu itu akan mencerahkan pemahaman gereja jika saya merancang Putra saya dan hubunganNya dengan umat tebusan-Nya setelah itu. Ini benar-benar salah. Tuhan telah membunuh Putra-Nya sebelum dunia dijadikan. Kasih karunia telah mengalir melalui dia ke dalam orang-orang pilihan sebelum ada Adam dan Hawa. Saat Dia merancang kemanusiaan yang luar biasa ini, Dia merancang pernikahan menurut Putra-Nya dan hubungan Putra-Nya dengan istrinya, gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengatakan bahwa itu merujuk pada Kristus dan gereja.” Itulah arti dari Kejadian 2:24. Hal paling utama yang dapat dikatakan tentang pernikahan adalah bahwa pernikahan itu ada untuk kemuliaan Tuhan, bahwa pernikahan itu ada untuk menampilkan Tuhan. Dan sekarang kita melihat bagaimana pernikahan dipolakan menurut hubungan perjanjian Kristus dengan gereja. Oleh karena itu, makna tertinggi dan tujuan utama pernikahan adalah untuk menunjukkan hubungan perjanjian antara Kristus dan gereja-Nya di dunia.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 12:08:55 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Gema_yang_Abadi_di_Setiap_Pernikahan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Tiga Cara Mencintai Suami Yang Tidak Sempurna</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Tiga_Cara_Mencintai_Suami_Yang_Tidak_Sempurna</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Three Ways to Love Your Imperfect Husband}}&amp;lt;br&amp;gt;  Kadang-kadang kita sepertinya mudah memenuhi peran alkitabiah sebagai seorang istri jika suami kita hanya melakuka...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Three Ways to Love Your Imperfect Husband}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang-kadang kita sepertinya mudah memenuhi peran alkitabiah sebagai seorang istri jika suami kita hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika mereka memupuk kehidupan doa yang lebih kuat, kita akan merasa lebih baik untuk mengikuti jejak mereka. Jika mereka bertumbuh melalui pembelajaran Kitab Suci secara teratur, kita akan merasa terhormat untuk tunduk. Jika mereka mengasihi kita seperti Kristus mengasihi gereja, kita akan menghujani mereka dengan rasa hormat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi panggilan kita tidak bergantung pada seberapa setia suami kita meninggalkan mereka. Kita berdiri di hadapan Tuhan sendirian, dan kita melakukan semua seperti kepada-Nya. Dan kenyataannya adalah lebih mudah untuk melihat di mana kekurangan orang lain — terutama ketika seseorang tinggal di bawah atap yang sama, dengan kebiasaan dan keanehan yang telah kita urai selama bertahun-tahun. Kita bisa menjadi seseorang yang pemilih dan kritis tentang apa kebutuhan mereka dan segudang kekurangan yang kita miliki.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, itu adalah masalah yang sangat nyata jika suami kita tidak memupuk disiplin rohani seperti berdoa dan belajar Alkitab. Dan jika cinta kurang, itu benar-benar memilukan. Bagaimana kita mengesampingkan rasa sakit dan frustrasi kita sendiri dan menjalani panggilan kita sebagai istri Kristen? Bagaimana kita mengikuti seorang gembala yang tidak cukup menggembalakan? Berikut adalah tiga cara untuk mencintai suami Anda yang tidak sempurna.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====1. Doakan Suamimu====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai istri, doa adalah pelayanan kita yang paling kuat terhadap suami kita. Pola pikirnya bukanlah, &amp;quot;Saya kira saya akan berdoa karena tidak ada hal lain yang berhasil.&amp;quot; Sebaliknya, itu adalah pikiran yang sepenuhnya diyakinkan bahwa doa harus menjadi yang pertama dan terutama - dan itu adalah layanan paling kuat dan efektif yang dapat kita berikan kepada suami kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami dapat berdoa untuk suami kami karena tidak ada orang lain yang bisa. Kita melihat pasang surutnya, suasana hatinya dan sikapnya, serta kekuatan dan kelemahannya. Kita lihat untuk apa dia mencurahkan waktunya. Dengan kata-kata dan tindakannya, kita melihat hatinya terhadap hal-hal Allah. Apa yang kita lakukan dengan wawasan ini adalah kuncinya. Kita dapat mencoba untuk &amp;quot;memperbaiki&amp;quot; hal-hal itu sendiri — dengan dorongan yang berubah menjadi omelan, atau koreksi yang berubah menjadi kritik. Atau kita dapat memercayai Gembala yang Baik untuk melakukan pekerjaan dalam waktu dan kuasa-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa mengundang Yesus untuk tinggal di tengah-tengah kepedulian dan perhatian kita terhadap suami kita. Itu mengubah dinamika. Kami tidak lagi fokus pada masalah tetapi pada orang yang bisa menyelesaikannya. Kita diingatkan bahwa tidak ada yang terlalu sulit bagi Tuhan. Sama seperti hati raja seperti saluran air di tangan Tuhan, sehingga dia dapat memutarnya ke mana pun dia mau (Amsal 21:1), hati suami kita sepenuhnya dapat diakses dan lunak di tangan Tuhan. Dia mampu mengubah hatinya ke arahnya. Melalui doa-doa kami, kami bergabung dengan suami kami untuk membawa perubahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdoa untuk suami kita juga bekerja di hati kita sendiri. Hati kita dilunakkan saat kita bersyafaat. Kita memperoleh kerendahan hati dan kasih sayang ketika kita menyadari bahwa kita berdua, suami dan istri, memiliki kekurangan dan sangat membutuhkan kasih karunia. Ini khususnya penting jika suami seseorang tidak mengenal Yesus sebagai Tuhan. Doa-doa kita adalah pengingat baru akan anugerah keselamatan yang kita terima, yang dapat dicurahkan Tuhan kepada suami kita untuk membawa perubahan penebusan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====2 . Dorong Suami Anda====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dipanggil oleh Tuhan sebagai kepala rumah tangga bukanlah beban yang membuat iri. Suami kita memikul harapan dan tanggung jawab di hadapan Tuhan yang sangat besar, termasuk kedalaman di mana mereka dipanggil untuk mencintai. Istri dipanggil untuk mengasihi suaminya (Titus 2:4), sedangkan suami dipanggil untuk mengasihi istrinya seperti Kristus mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya untuknya (Efesus 5:25). Tidak peduli seberapa kuat seseorang berjalan dengan Tuhan, cinta yang berkorban adalah standar yang menakutkan. Memang, luasnya standar ilahi bagi para suami—kasih, menafkahi keluarga, membimbing keluarga secara rohani—dapat menyebabkan mereka lebih stres daripada yang kita sadari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun mata kita secara alami tertuju pada area di mana suami kita perlu ditingkatkan, kita seharusnya mencari cara untuk memberkati mereka dengan dorongan. Ini tidak serta merta mudah, terutama jika kita telah melihat pola perilaku tertentu dari waktu ke waktu. Kita mungkin skeptis tentang perubahan positif apa pun. Itu tidak akan bertahan lama mungkin melayang di benak kita. Kita bahkan mungkin tergoda untuk meremehkan upaya yang dilakukan suami kita, yang menganggapnya tidak memadai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi saat kita bersyafaat untuk suami kita, sikap dan tindakan kita harus sejalan dengan tujuan akhir. Kita harus percaya bahwa perubahan itu mungkin dan mendorong bahkan gerakan kecil yang kita lihat. Saat kita mengucapkan kata-kata yang membangun dan memberikan kasih karunia (Efesus 4:29), kita tidak hanya menghidupkan kembali suami kita, tetapi juga pernikahan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====3. Mati untuk Diri Sendiri====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya cara kita dapat benar-benar meninggalkan panggilan kita sebagai istri meskipun kita sendiri terluka dan frustrasi adalah dengan mati terhadap diri sendiri. Ini adalah panggilan utama kita sebagai orang percaya: untuk setiap hari menyalibkan daging kita agar Kristus dapat hidup sepenuhnya melalui kita. Dan ketika Kristus hidup melalui kita, kita mengalami kebesaran kuasa-Nya yang luar biasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan tahu kita tidak bisa menjadi istri yang Dia panggil kita dengan kekuatan kita sendiri - dan untungnya, dia tidak mengharapkan kita melakukannya. Ketika diri keluar dari jalan, Roh-Nya mengambil alih, menanamkan kita dengan rahmat dan kekuatan yang luar biasa. Kita bisa berdoa saat lelah berdoa dan mencintai saat &amp;quot;perasaan&amp;quot; hilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kasih karunia menyoroti cara-cara kita dapat mendorong, membumbui ucapan kita, dan menenangkan semangat kita. Dan sementara kita menunggu Yesus menjawab doa-doa kita bagi suami kita, kasih karunia-Nya membuat mata kita tertuju pada Dia, Gembala kita yang Baik, yang pada akhirnya kita dipanggil untuk mengikutinya. Di sini terletak harta abadi. Saat kita berjalan dalam ketaatan pada panggilan kita sebagai istri, kita menemukan diri kita dalam persekutuan yang diberkati dengan Tuhan kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 11 Oct 2022 12:01:10 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Tiga_Cara_Mencintai_Suami_Yang_Tidak_Sempurna</comments>		</item>
		<item>
			<title>Sebuah Pernikahan Yang Baik Perlu Suatu Usaha</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Sebuah_Pernikahan_Yang_Baik_Perlu_Suatu_Usaha</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|A Good Marriage Requires Work}}&amp;lt;br&amp;gt;  Saya terus bersyukur kepada Tuhan atas kemitraan dan kerekanan Nanci dalam Injil. Saya pertama kali mendengar Injil dari Nanci...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|A Good Marriage Requires Work}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya terus bersyukur kepada Tuhan atas kemitraan dan kerekanan Nanci dalam Injil. Saya pertama kali mendengar Injil dari Nanci, dan kami berdiskusi tentang Firman yang saya dengar di gereja dan kelompok pemuda selama delapan bulan sebelum saya datang kepada Kristus sebagai siswa kelas dua di sekolah menengah. Kemudian, kami pergi ke sekolah Alkitab bersama-sama dan berada di sebagian besar kelas masing-masing. Kami mendiskusikan kuliah dan mengerjakan pekerjaan rumah kami bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seiring berlalunya waktu, kami mendiskusikan teologi di pesawat dan di dalam mobil dan di ruang tamu kami. Kami akan menonton video Proyek Alkitab bersama dan mendengarkan khotbah online dan membicarakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan kami jauh dari sempurna, karena dia (dan saya masih!) tidak sempurna. Menjadi seorang pria, saya memiliki gen bodoh. Dan tidak ada yang yang melihatnya di tempat kerja  lebih dari istri saya. Kami berkata satu sama lain dengan jujur, “Kami cukup berbeda sehingga jika kami tidak memiliki Tuhan, kami mungkin akan bercerai karena perbedaan yang tidak dapat didamaikan.” Tapi Tuhan mendamaikan perbedaan kita dan membuat kita masing-masing lebih baik. Dan pada waktunya perbedaan itu tidak menjengkelkan; mereka menjadi menyenangkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami belajar menyukai apa yang disukai orang lain. Kami berdua menyukai anjing dan film serta olahraga yang bagus. Dari tahun 1977 hingga 1990, ketika saya masih seorang pendeta, kami mengadakan pertemuan staf pada Senin sore. Saya sering berkata kepada pendeta-pendeta lain, “Teman-teman, kita semua harus mengasihi istri kita dengan penuh pengorbanan. Jadi malam ini, mari kita lakukan apa pun yang ingin istri kita lakukan. Anda dapat membawa istri Anda ke restoran Prancis dan balet, tetapi istri saya ingin saya pulang untuk sepak bola dan pizza Senin malam. Ini pekerjaan yang sulit, tetapi seseorang harus melakukannya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetap saja, menikmati pernikahan tidak datang dengan mudah. Butuh banyak kerja keras. Tapi kami melakukan pekerjaan itu, dengan kasih karunia Tuhan. Awalnya, kami menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mencoba mengubah satu sama lain. Ketika kami berhenti, pernikahan kami menjadi lebih baik dan lebih baik. Kami belajar untuk menerima perbedaan kami dan menikmatinya alih-alih menolak dan membencinya. (Semoga berhasil mencoba melakukannya tanpa rahmat dan kuasa Tuhan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami saling mencintai sejak awal, tetapi kami harus belajar apa arti cinta dan  pengorbanan sebenarnya. Dan dengan kasih karunia Tuhan, kami melakukannya. Itu tidak otomatis. Tidak hanya butuh usaha, butuh banyak pertobatan dan pengampunan dan merendahkan diri kita sendiri. Dan itu terjadi—kami menjadi belahan jiwa sejati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan semua yang dilakukan lebih dari layak untuk setiap pengorbanan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 13 Sep 2022 20:08:56 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Sebuah_Pernikahan_Yang_Baik_Perlu_Suatu_Usaha</comments>		</item>
		<item>
			<title>Klub Kristen</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Klub_Kristen</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|The Christian Club}}&amp;lt;br&amp;gt;  Banyak gereja di Amerika sedang berantakan. Secara teologis mereka acuh tak acuh, bingung, bahkan sangat salah. Secara liturgis mereka ad...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|The Christian Club}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak gereja di Amerika sedang berantakan. Secara teologis mereka acuh tak acuh, bingung, bahkan sangat salah. Secara liturgis mereka adalah tawanan mode yang dangkal. Secara moral mereka menjalani kehidupan yang tidak dapat dibedakan dari dunia. Seringkali mereka memiliki banyak jemaat, uang, dan aktivitas. Namun apakah mereka benar-benar gereja, atau apakah mereka berubah menjadi klub yang istimewa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang salah? Inti dari kekacauan ini adalah fenomena sederhana: gereja-gereja tampaknya telah kehilangan kasih dan kepercayaan akan Firman Tuhan. Mereka masih membawa Alkitab dan menyatakan otoritas Firman itu. Mereka masih menyampaikan khotbah yang berdasarkan ayat-ayat Alkitab dan masih memiliki kelas pelajaran Alkitab. Namun tidak banyak isi  Alkitab yang benar-benar dibaca dalam pelayanan mereka. Khotbah dan pelajaran mereka biasanya bukan menyelidiki Alkitab untuk mengetahui apa yang dianggap penting bagi umat Allah. Mereka makin memperlakukan Alkitab sebagai ilham puitis, psikologi populer, dan nasihat untuk menolong diri sendiri. Jemaat di gereja di mana Alkitab diabaikan atau disalahgunakan berada dalam bahaya yang paling besar. Gereja-gereja yang menyimpang dari Firman akan segera mengetahui bahwa Allah telah meninggalkan mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Solusi apa yang diajarkan Alkitab untuk situasi yang menyedihkan ini? Jawaban singkat namun mendalam diberikan oleh Paulus dalam Kolose 3:16: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Kita membutuhkan Firman untuk berdiam di dalam kita dengan limpah sehingga kita akan mengetahui kebenaran yang menurut Tuhan paling penting dan agar kita mengetahui tujuan dan prioritas-Nya. Jangan terlalu memikirkan kebutuhan yang kita rasakan, namun pikirkan lebih banyak lagi tentang kebutuhan nyata dari orang-orang berdosa yang terhilang seperti yang diajarkan dalam Alkitab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus tidak hanya memanggil kita di sini untuk memiliki Firman yang tinggal di dalam kita dengan limpah, tetapi menunjukkan kepada kita seperti apa pengalaman yang kaya akan Firman itu. Dia menunjukkan itu kepada kita dalam tiga poin. (Bagaimanapun, Paulus adalah seorang pengkhotbah.)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, dia memanggil kita untuk dididik oleh Firman, yang akan membawa kita kepada hikmat yang semakin berlimpah dengan “saling mengajar dan menegur.” Paulus mengingatkan kita bahwa Firman harus diajarkan dan diterapkan kepada kita sebagai bagian darinya yang tinggal dengan kaya di dalam kita. Gereja harus mendorong dan memfasilitasi pengajaran seperti itu baik dalam khotbah, pelajaran Alkitab, buku-buku, atau diskusi. Kita harus bertumbuh dalam Firman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, bukan hanya sekadar informasi yang harus kita kumpulkan dari Firman itu. Kita harus bertumbuh dalam pengetahuan akan kehendak Tuhan bagi kita: “Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna,” (Kol 1:9). Mengetahui kehendak Tuhan akan membuat kita bijaksana dan dalam kebijaksanaan itu kita akan diperbarui menurut gambar Pencipta kita, gambar diri kita yang begitu rusak oleh dosa: “dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (Kol 3:10).”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebijaksanaan ini juga akan menyusun kembali prioritas dan tujuan kita, dari yang duniawi kepada yang surgawi: “oleh karena pengharapan, yang disediakan bagi kamu di sorga. Tentang pengharapan itu telah lebih dahulu kamu dengar dalam firman kebenaran, yaitu Injil,” (Kol 1:5). Ketika Firman itu berdiam di dalam kita dengan limpah, kita dapat yakin bahwa kita mengetahui kehendak Allah sepenuhnya: “Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu,” (Kol 1 :25). Dari Alkitab kita mengetahui semua yang kita butuhkan untuk keselamatan dan kesalehan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, Paulus meminta kita untuk mengungkapkan Firman dari hati yang selalu diperbarui dalam “nyanyian” kita. Menariknya, Paulus menghubungkan Firman yang tinggal di dalam kita secara kaya dengan nyanyian. Dia mengingatkan kita bahwa bernyanyi adalah sarana yang sangat berharga untuk menempatkan kebenaran Tuhan jauh di dalam pikiran dan hati kita. Saya telah mengenal orang-orang Kristen lanjut usia dengan penyakit Alzheimer yang masih dapat menyanyikan lagu-lagu pujian bagi Tuhan. Bernyanyi juga membantu menghubungkan kebenaran dengan emosi kita. Ini membantu kita mengalami dorongan dan kepastian iman kita: “supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus, sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” (Kol 2:2–3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pentingnya bernyanyi tentunya membuat isi lagu yang kita nyanyikan menjadi vital. Jika kita menyanyikan lagu-lagu yang dangkal dan berulang-ulang, kita tidak akan menyimpan banyak Firman Tuhan di dalam hati kita. Namun jika kita menyanyikan Firman itu sendiri dalam kepenuhan dan kekayaannya, kita benar-benar akan membuat diri kita kaya akan FirmanNya. Kita perlu ingat bahwa Tuhan telah memberi kita sebuah buku nyanyian, Mazmur, untuk membantu kita dalam bernyanyi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketiga, Paulus memanggil kita untuk mengingat pengaruh Firman yang menjadikan kita umat yang selalu siap untuk mengucap syukur. Tiga kali dalam Kolose 3:15–17 Paulus mengajak kita untuk bersyukur. Ketika Firman Kristus berdiam di dalam kita dengan kaya, kita akan dituntun pada kehidupan yang penuh syukur. Saat kita mempelajari dan merenungkan semua yang telah Tuhan lakukan bagi kita dalam penciptaan, pemeliharaan, dan penebusan, kita akan dipenuhi dengan ucapan syukur. Saat kita mengingat janji pengampunan, pembaruan, pemeliharaan, dan kemuliaan-Nya, kita akan hidup sebagai orang yang benar-benar bersyukur.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita membutuhkan sabda Kristus untuk berdiam di dalam kita dengan limpah hari ini lebih dari sebelumnya. Kemudian gereja-gereja dapat melarikan diri dari kekacauan dan menjadi tubuh Kristus yang bercahaya seperti yang Allah maksudkan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 12 Sep 2022 11:31:59 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Klub_Kristen</comments>		</item>
		<item>
			<title>9 Cara untuk Berdoa Bagi Jiwa Anda</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/9_Cara_untuk_Berdoa_Bagi_Jiwa_Anda</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|9 Ways to Pray for Your Soul}}&amp;lt;br&amp;gt;  Inilah beberapa cara berdoa bagi diri Anda agar Anda berdoa selaras dengan cara Allah bekerja.  '''1.	Agar kerinduan hatiku ada...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|9 Ways to Pray for Your Soul}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah beberapa cara berdoa bagi diri Anda agar Anda berdoa selaras dengan cara Allah bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1.	Agar kerinduan hatiku adalah kepada Tuhan dan FirmanNya.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Condongkanlah hatiku kepada peringatan-peringatan-Mu, dan jangan kepada laba.” (Maz 119:36)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2.	Agar mata hatiku terbuka.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” (Maz 119:18)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3.	Agar hatiku diterangi dengan “kekaguman”'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang,” (Ef 1:18).&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4.	Bulatkanlah hatiku, bukan bercabang, untuk Tuhan.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.” (Maz 86:11)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5.	Agar hatiku dipuaskan oleh Tuhan dan bukan oleh dunia ini.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.” (Maz 90:14)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6.	Untuk kekuatan di masa yang penuh sukacita, dan ketabahan di masa yang gelap.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu.” (Ef 3:16)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''7.	Untuk perbuatan dan pekerjaan kasih yang baik dan nyata kepada orang lain.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah,” (Kol 1:10)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''8.	Agar Allah dipermuliakan.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Dikuduskanlah nama-Mu.” (Mat 6:9)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''9.	Dalam nama Yesus.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” (Roma 8:32)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 12 Sep 2022 11:19:37 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:9_Cara_untuk_Berdoa_Bagi_Jiwa_Anda</comments>		</item>
		<item>
			<title>Mengapa Tidak Berhubungan Sex sebelum Menikah?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Mengapa_Tidak_Berhubungan_Sex_sebelum_Menikah%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Why Save Sex for Marriage?}}&amp;lt;br&amp;gt;  '''Transkrip Audio'''  Seorang pendengar podcast menulis untuk menanyakan ini: “Pendeta John, pacar saya, yang tidak lagi peraw...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Why Save Sex for Marriage?}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip Audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang pendengar podcast menulis untuk menanyakan ini: “Pendeta John, pacar saya, yang tidak lagi perawan, terus menginginkan seks, dan berpikir itu wajar meskipun faktanya itu adalah pranikah. Dia ingin aku berhubungan seks dengannya. Namun, saya seorang perawan yang ingin tetap suci sampai menikah. Pertanyaan saya adalah, jika seks begitu alami dan normal, lalu mengapa kita menolak keinginan daging kita dan menahan seks sampai menikah?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia tidak berpikir berhubungan seks di luar nikah itu adalah dosa , maka Anda memiliki seorang gadis yang sangat bodoh dan sangat bodoh di tangan Anda. Ini sangat mendasar bagi Kekristenan dan jika dia menganggap seks di luar nikah itu suci, maka dia bukan calon yang layak untuk menikah, dan hubungan yang Anda jalani, tampaknya, tentu saja lebih dari biasa jika dia menginginkan seks. Jadi nasihat saya adalah keluar dari hubungan ini dengan cepat. Arahkan dia ke Alkitab. Sarankan agar dia mempelajarinya, dan berada dalam hubungan dibimbing dengan baik dengan seorang wanita saleh, dan lihat apakah dia dewasa dalam kebenaran.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika dia berpikir bahwa itu adalah dosa, maka Anda memiliki seorang gadis yang sangat egois, dan bahkan kejam, di tangan Anda. Dia tidak hanya bersedia untuk berbuat dosa dan mempertaruhkan jiwanya sendiri, tetapi juga mencoba untuk membawa Anda tidak hanya ke tempat tidur, tetapi juga ke neraka bersamanya, dan dengan demikian menempatkan jiwa Anda dalam risiko. Dan di dalam salah satu dari dua kasus ini, apakah dia bodoh dan bodoh di satu sisi, atau egois dan kejam di sisi lain, dia mungkin dimotivasi oleh pemikiran bahwa membuat Anda berhubungan seks dengannya mungkin merupakan cara dia bertahan. Bagi Anda, karena dari sudut pandangnya, selama Anda tidak berhubungan seks, Anda tidak terikat padanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Rayuan Yang Mendalam====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi itu semua bukan menjawab pertanyaan Anda. Itu hanya apa yang saya rasakan ketika membaca pertanyaan Anda. Bukan itu yang Anda tanya, meskipun saya pikir itu yang harus Anda tanyakan dan apa yang perlu Anda dengar. Anda bertanya: Jika seks begitu alami dan normal mengapa kita menolak keinginan daging kita dan menahannya sampai menikah?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, saya harap pertanyaan itu tidak menunjukkan lemahnya keyakinan dan keberanian Anda. Dan jika Anda merasa diri Anda lemah, silakan baca Amsal 7 yang menggambarkan situasi Anda dengan tepat. Dikatakan, “Ia merayu orang muda itu dengan berbagai-bagai bujukan, dengan kelicinan bibir ia menggodanya.  Maka tiba-tiba orang muda itu mengikuti dia seperti lembu yang dibawa ke pejagalan, dan seperti orang bodoh yang terbelenggu untuk dihukum, sampai anak panah menembus  hatinya; seperti burung dengan cepat menuju perangkap, dengan tidak sadar, bahwa hidupnya  terancam.” (Amsal 7:21-23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan jika menurut Anda itu tidak terlalu serius, kembalilah dan bacalah kata-kata Yesus dan tanyakan: Mengapa Dia berbicara seperti ini dalam Matius 5:29: “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.” Mengapa Yesus berbicara tentang neraka dalam kaitannya dengan godaan seksual? Karena menyerah pada wanita atau pria yang menggoda itu seperti lembu yang pergi ke pembantaian dan seekor burung yang terbang ke dalam perangkap. Itu akan mengorbankan nyawanya. Jangan bermain api - larilah dari api. Jangan memasukkan tangan Anda ke dalamnya. Jangan pergi tidur dalam api.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kami Menjaga Yang Berharga====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi di sini, akhirnya, adalah jawaban atas pertanyaan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menahan seks sebelum pernikahan justru karena itu wajar dan normal, dan indah sehingga kami bisa tetap seperti itu. Sehingga tidak menjadi umum, dan kotor, dan manipulatif, dan berpenyakit, dan murah, tetapi berharga, dan pribadi, dan bersih, dan suci. Anda tidak memasang pagar di sekitar gulma. Anda memasang pagar di sekitar taman. Kami tidak mengunci dan mencuci kaus kaki kotor kami di kamar hotel. Kami menaruh cincin dan dompet kami di brankas. Menahan seks sampai menikah tidak membuatnya tidak wajar. Itu membuatnya tak ternilai harganya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan lain kita menyimpan seks sampai pernikahan adalah bahwa pernikahan adalah gambaran dari perjanjian antara Kristus dan Gereja-Nya. Dan seks dalam gambar itu adalah petunjuk paling indah dalam hubungan perjanjian dengan kesenangan yang tak terlukiskan yang menunggu persekutuan penuh kita dengan Kristus, di zaman yang akan datang, dalam perjanjian dengan Yesus. Seks di luar nikah adalah kebohongan tentang Yesus dan tentang hubungannya dengan Gereja. Ini adalah kebohongan tentang di mana kebahagiaan tertinggi dapat ditemukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, akhirnya, Paulus memerintahkan, 1 Korintus 6:18: “Jauhkanlah dirimu dari percabulan! Setiap dosa lain yang dilakukan manusia, terjadi di luar dirinya. Tetapi orang yang melakukan percabulan berdosa terhadap dirinya sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang saya tidak tahu semua itu artinya, tetapi itu berarti, setidaknya, ada sifat unik yang mendalam dari dosa percabulan ini, dan saya pikir setiap wanita yang berpikir bahwa pengalaman penyatuan seksual ini dapat ditawarkan tanpa pandang bulu, tentu sedang bercanda tentang dirinya sendiri. Kedalaman luka yang dia lakukan pada jiwanya sendiri. Makanya dilindungi. Jaga keperawanan Anda dan jangan letakkan leher Anda dalam jerat rayuan ini.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 31 Aug 2022 19:40:17 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Mengapa_Tidak_Berhubungan_Sex_sebelum_Menikah%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Rasul Terkecil</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Rasul_Terkecil</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Least of the Apostles}}&amp;lt;br&amp;gt;  Ada sekitar dua puluh enam ciri karakter Kristen yang berbeda yang diajarkan baik melalui ajaran atau teladan dalam Perjanjian Baru. T...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Least of the Apostles}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sekitar dua puluh enam ciri karakter Kristen yang berbeda yang diajarkan baik melalui ajaran atau teladan dalam Perjanjian Baru. Tiga di antaranya, yaitu: memercayai Tuhan (sebagai lawan dari cemas atau takut), kasih, dan kerendahan hati. Ketiganya diajarkan lebih sering daripada yang lain. Karena beberapa dari yang tersisa — seperti belas kasih, kebaikan, kelembutan, dan kesabaran — tumbuh dari kasih dan kerendahan hati, kita dapat belajar banyak tentang karakter rasul Paulus dengan membatasi pembahasan kita pada tiga karakter ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat pertama-tama pada kepercayaan Paulus kepada Tuhan, kita ingat bahwa dialah yang menulis kepada gereja Filipi kata-kata yang terkenal itu: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Flp. 4:6). Tidak diragukan lagi, Paulus memiliki banyak kesempatan untuk mempraktekkan apa yang dia khotbahkan di tengah-tengah kesulitan luar biasa yang dia alami dalam pekerjaan kerasulannya. Faktanya, Paulus menulis kata-kata dalam Filipi 4:6 saat berada di penjara di Roma. Namun, satu contoh utama dari kepercayaannya kepada Tuhan terjadi beberapa tahun sebelum ayat ini ditulis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai hasil dari pemberitaan Injil, Paulus dan Silas dipukuli dan dijebloskan ke dalam penjara (Kisah Para Rasul 16:16-40). Bagi kebanyakan dari kita, peristiwa seperti itu mungkin akan menciptakan tingkat kecemasan yang tinggi, tetapi tidak untuk Paul dan Silas. Sebaliknya kita membaca: “Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.” (ay. 25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak tahu apa-apa tentang isi doa-doa mereka, tetapi keseluruhan narasi menunjukkan bahwa mereka bersyukur kepada Tuhan karena mereka dianggap layak untuk menderita demi Kristus dan meminta Dia untuk menggunakan keadaan mereka untuk memberitakan Injil. Mereka sepenuhnya percaya kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana kita menjelaskan kepercayaan Paulus kepada Allah dan sukacita dalam keadaannya bahkan di penjara di Filipi dan di Roma? Beberapa tahun sebelumnya, dia telah menulis kepada jemaat di Roma: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28). Paulus memiliki keyakinan mutlak dalam kedaulatan dan kebaikan Allah. Ia mengetahui ajaran Yesus bahwa tidak ada seekor burung pipit pun yang dapat jatuh ke tanah tanpa dikehendaki Allah, dan tidak seekor burung pipit pun yang dilupakan Allah (Mat. 10:29; Luk 12:6). Dia memercayainya dan memegangnya dalam inti keberadaannya. Kepercayaan Paulus kepada Tuhan didasarkan pada keyakinannya tentang kedaulatan dan kebaikan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi Paulus juga menjadi dasar kerendahan hatinya. Dia tidak memulai kehidupan dewasanya sebagai pengikut Yesus yang rendah hati. Sebaliknya, pertama kali kita bertemu Paulus dalam Kisah Para Rasul, kita melihatnya sebagai orang Farisi yang sombong dan fanatik, merusak gereja dan menyeret pria dan wanita ke penjara. Meskipun kita melihat karakter Paulus, kita tidak bisa mengabaikan kepribadian dasarnya, yang kuat dan tegas. Pertemuan traumatisnya dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju Damaskus tidak mengubah itu. Sebaliknya, segera kita melihat dia dengan berani memberitakan tentang Yesus di rumah-rumah ibadat di Damaskus. Bertahun-tahun kemudian kita menemukan dia berurusan dengan tegas dengan masalah moral di gereja Korintus dan mengutuk guru-guru palsu di Galatia yang menumbangkan Injil. Jelas, Paulus tidak kehilangan apa pun dari kepribadiannya yang kuat dan tegas sebagai orang Farisi. Meskipun demikian, hidupnya sebagai rasul jelas ditandai dengan kerendahan hati yang mendalam, baik terhadap Tuhan maupun orang lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerendahan hati Paulus paling jelas terlihat dalam penilaian dirinya sendiri. Menulis kepada jemaat Korintus pada tahun 55 M, ia menyebut dirinya “aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah,” (1 Kor 15:9). Kepada jemaat Efesus sekitar lima tahun kemudian, ia menyebut dirinya sebagai yang paling hina dari semua orang kudus (Ef 3:8). Menjelang akhir hidupnya, ia menganggap dirinya yang paling berdosa (1 Tim 1:15). Itu adalah kemajuan yang cukup besar dalam kesadaran tentang siapa dirinya, dari seorang Farisi yang sombong dan merasa paling benar menjadi orang yang paling berdosa. Hanya orang dengan kerendahan hati yang tulus akan menggambarkan dirinya dalam istilah seperti itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang mengubah seorang Farisi yang dulu sombong menjadi rasul Kristus yang rendah hati? Itu adalah pemahaman Paulus tentang kasih karunia Allah. Dia memahami kasih karunia Tuhan lebih dari berkat yang tidak layak ia terima. Dia melihat dirinya tidak hanya tidak layak tetapi jauh dari layak. Dia tahu bahwa di dalam dirinya sendiri, selain Kristus, dia sepenuhnya layak menerima murka Allah. Sebaliknya, dia telah dijadikan pembawa pesan yang pernah dia coba hancurkan. Itulah sebabnya dia menyertai penilaiannya sebagai rasul yang paling hina dengan pernyataan &amp;quot;Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang&amp;quot; (1 Kor 15:10). Itulah sebabnya dia akan berkata, “Kepadaku, yang paling hina di antara segala orang kudus, telah dianugerahkan kasih karunia ini,” (Ef 3:8). Dia melihat dirinya sebagai contoh utama dari kasih karunia Allah, dan teologi kasih karunia menghasilkan kerendahan hatinya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana dengan kasih dalam kehidupan Paulus? Mengingat lagi kepribadiannya yang kuat dan tegas, apakah kita merasa itu sesuai dengan kasih? Apakah orang yang menulis deskripsi indah tentang kasih dalam 1 Korintus 13 menunjukkan sifat-sifat itu dalam hidupnya sendiri? Wawasan dari empat suratnya ke gereja yang berbeda menunjukkan kepada kita bahwa dia menunjukkan kasihnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepada orang-orang percaya di Filipi, Paulus menulis, “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian.” (Fil 1:8). Dan kepada jemaat di Tesalonika, dia dapat menulis, “Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” (1 Tes 2:7). Kita memang menemukan paradoks yang luar biasa dalam diri Paulus — kepribadian yang kuat dikombinasikan dengan karakter kasih dan kelemahlembutan yang lebih lembut.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja, gereja di Filipi dan Tesalonika adalah dua gereja Paulus yang “lebih baik”. Kita dapat mengatakan bahwa mengasihi orang-orang yang mengasihi dirinya cukup mudah. Namun bagaimana dengan gereja-gereja yang bermasalah — Korintus dan Galatia — yang membuat Paulus begitu sedih? Apakah kasihnya juga dinyatakan kepada mereka? Tidak diragukan lagi bahwa Paulus cukup tegas dalam surat-suratnya kepada kedua gereja tersebut. Kepada jemaat di Korintus ia menulis, “aku menulis kepada kamu dengan hati yang sangat cemas dan sesak dan dengan mencucurkan banyak air mata, bukan supaya kamu bersedih hati, tetapi supaya kamu tahu betapa besarnya kasihku kepada kamu semua” (2 Kor 2 :4). Dan kepada jemaat Galatia ia menulis, “hai anak-anakku, karena kamu aku menderita sakit bersalin lagi, sampai rupa Kristus menjadi nyata di dalam kamu.” (Gal 4:19). Kasih Paulus yang dalam bagi orang-orang itu dan kesedihan hatinya yang menyebabkan dia memperlakukan mereka dengan begitu keras. Itulah yang hari ini kita sebut dengan “kasih yang keras.” Namun kenyataannya kasih yang demikian adalah yang paling berharga dari semuanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa akar dari kasih Paulus yang dalam kepada gereja-gereja? Itu tumbuh dari pemahamannya yang mendalam tentang kasih Tuhan baginya. Paulus sangat menyadari kasih Kristus baginya sehingga dalam arti tertentu ia dipaksa untuk hidup bagi Kristus dan untuk mengasihi seperti Kristus mengasihi. Dia mengasihi jemaat Korintus dan Galatia karena Kristus mengasihi dia. Jadi kita melihat lagi bahwa karakter tumbuh dari teologi seseorang. Karena teologi Paulus berakar kuat dalam kasih Kristus, karakternya mencerminkan kasih itu, dan dia dapat mengasihi orang lain seperti Kristus mengasihi dia.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 16 Aug 2022 19:20:05 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Rasul_Terkecil</comments>		</item>
		<item>
			<title>Telinga Terpenting dalam Penyembahan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Telinga_Terpenting_dalam_Penyembahan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|The Most Important Ear in Worship}}&amp;lt;br&amp;gt;  Siapapun yang terlibat dalam pelayanan pujian penyembahan atau tim produksi pasti sangat menyadari pentingnya volume dalam...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|The Most Important Ear in Worship}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapapun yang terlibat dalam pelayanan pujian penyembahan atau tim produksi pasti sangat menyadari pentingnya volume dalam pelayanan ibadah. Bisakah jemaat bisa mendengar suara drum? Apakah orang-orang di barisan belakang dapat mendengar pembacaan Kitab Suci? Apakah kata-kata yang dinyanyikan cukup jelas untuk dimengerti?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, apa pun itu, ada masalah volume dan pemahaman yang lebih kritis yang berperan. Dan itu adalah salah satu kebenaran paling mulia di alam semesta. Itu tersirat dalam penyembahan kita, tetapi terlalu jarang disebutkan. Ketika kita berkumpul untuk beribadah di gereja-gereja lokal, di balik semua doa dan nyanyian kita, di balik semua kata-kata nasihat dan dorongan kita, ada kebenaran yang menakjubkan ini: Tuhan mendengar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kebenaran yang sederhana dan menakjubkan itu akhir-akhir ini luput dari perhatian Anda? Apakah Anda menyadari bahwa, meskipun Tuhan Mahakuasa dan Mahahadir di mana-mana, Dia tidak diharuskan untuk mendengarkan Anda? Apakah keterlibatan Anda dalam ibadah bersama akan berbeda jika Anda lebih menyadari kebenaran itu daripada volume instrument musik?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Mengapa Tidak Terdengar====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikirkan alasan mengapa kita tidak dapat mendengar ketika seseorang memanggil kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ada yang salah dengan telinga kita. Anak-anak saya sering bertanya-tanya apakah, setelah puluhan tahun menampilkan musik secara langsung, ada yang salah dengan pendengaran ayahnya. Mungkin mereka benar dan pendengaran saya bermasalah — saya lebih suka berpikir mereka terlalu jauh ketika mereka memanggil saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin jarak antara pembicara dan gendang telinga kita terlalu jauh untuk dapat terdengar jelas. Atau mungkin ada kesenjangan sosial atau relasional antara pembicara dan pendengar, seperti ketika seorang selebriti berjalan melewati kerumunan egonya terlalu penting untuk berhenti dan mendengarkan semua teriakan dari para penggemarnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tuhan yang Mendengar====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun pikirkan keagungan Tuhan alam semesta. Pertama, telinga Tuhan tidak pernah bermasalah. Pendengarannya, setelah ribuan tahun mendengarkan, tidak memudar. Kedua, Tuhan tidak pernah terlalu jauh untuk mendengar tangisan kita. TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina (Mazmur 138:6). Pengertian ini sangatlah berharga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun kenyataan mulia dari Tuhan yang mendengar menjadi paling jelas bagi saya ketika saya memikirkan bagaimana Tuhan tetap mendengarkan menembus perbedaan sosial dan relasional di antara kita. Filsuf Nicholas Wolterstorff menulis, &amp;quot;Dengan mendengarkan apa yang kita katakan kepada Tuhan, Tuhan yang agung dan tak tertandingi menunjukkan bahwa tindakan kita yang kecil dan tidak sempurna ini menjadi penghubung di antara kita dan Tuhan&amp;quot; (''The God We Worship'', 77). Dia melanjutkan, dengan sebuah tambahan: &amp;quot;Ini menakjubkan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh menakjubkan bahwa Allah — yang sangat kaya dan tidak pernah kekurangan — melintasi jurang dan menjawab yang miskin dan yang membutuhkan (Mazmur 86:1). Bahwa Allah, yang sepenuhnya adil, mendengar mereka yang membutuhkan pembebasan dan penyelamatan (Mazmur 71:2). Bahkan mereka yang berada di tengah-tengah situasi yang paling gelap (Mazmur 88:2, 6), saat-saat yang paling menyusahkan (Mazmur 102:2), dan semangat yang patah (Mazmur 143:7) dapat berpaling kepada Tuhan dalam doa. Mereka yang menghadapi musuh (Mazmur 64:1) atau perjalanan yang penuh air mata (Mazmur 39:12) dapat membawa kekhawatiran ini kepada Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kitab Suci menjanjikan kita bahwa Allah mendengar doa orang yang membutuhkan (Mazmur 69:33) dan tangisan orang yang menderita (Mazmur 22:24). Tuhan mendengar setiap saat sepanjang hari (Mazmur 55:17), bahkan pada hari kesusahan (Mazmur 86:7), dan memulai memberikan jawaban bahkan sebelum permintaan kita diucapkan sepenuhnya (Yesaya 65:24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Telinga-Nya yang Penuh Perhatian====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iman adalah percaya bahwa Tuhan akan mendengar dan menjawab doa (Mazmur 17:6). Iman ini memberikan kesabaran ketika orang percaya menunggu jawaban doanya (Mazmur 40:1). Karena Allah sebelumnya telah memberikan kelegaan pada saat-saat yang sulit, maka orang percaya berseru pada-Nya terus-menerus (Mazmur 4:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar bahwa Tuhan mendengar dan membebaskan orang benar dari masalah mereka (Mazmur 34:17), bahkan orang berdosa yang tidak layak dapat yakin bahwa Tuhan mendengar tangisan belas kasihan mereka (Mazmur 55:1). Karena Allah itu pengasih, Ia mendengar tangisan kita (Mazmur 27:7), bahkan sampai Ia membuat perkataan dari mulut kita layak diterima di hadapan-Nya (Mazmur 19:14).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hebatnya, kita bahkan bisa lebih percaya pada kebenaran ini daripada pemazmur karena Putra-Nya sendiri telah membeli akses untuk menjangkau kita dengan darah-Nya (Efesus 2:18), merintis jalan ke hadirat Bapa (1 Petrus 3:18), dan duduk di tempat terhormat di sebelah kanan-Nya menjadi perantara bagi kita (Ibrani 8:1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, orang percaya, bagaimana Anda akan berdoa hari ini jika Anda tahu bahwa Tuhan mendengarkan doa Anda? Bagaimana Anda akan bernyanyi jika Anda tahu Tuhan mendengar nyanyian Anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Firman Tuhan memberitahu kita untuk berseru pada-Nya dan membawa apa pun keadaan kita yang paling sulit ke telinga-Nya yang penuh perhatian. Dia mendengarkan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 08 Oct 2021 11:32:52 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Telinga_Terpenting_dalam_Penyembahan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Belas Kasihan Allah dengan Tidak Memberitahukan Segalanya</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Belas_Kasihan_Allah_dengan_Tidak_Memberitahukan_Segalanya</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|God Is Merciful Not to Tell Us Everything}}&amp;lt;br&amp;gt;  Ketika Allah memilih untuk tidak memberi tahu kita segalanya, Dia menunjukkan belas kasihan-Nya lebih dari yang ki...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|God Is Merciful Not to Tell Us Everything}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Allah memilih untuk tidak memberi tahu kita segalanya, Dia menunjukkan belas kasihan-Nya lebih dari yang kita sadari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Bukit Zaitun, tepat sebelum Yesus naik kepada Bapa, salah satu murid mengajukan pertanyaan yang pasti ada di benak setiap orang: &amp;quot;Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?&amp;quot; (Kisah Para Rasul 1:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah lama mereka menunggu. Dua ribu tahun berlalu sejak Tuhan berjanji untuk memberikan Abraham benih yang akan memberkati semua manusia di bumi; 1.500 tahun berlalu sejak Tuhan memberi tahu Musa bahwa seorang nabi besar akan muncul untuk memimpin bangsa itu, dan seribu tahun telah berlalu sejak Tuhan berjanji untuk menempatkan pewaris abadi Daud di atas takhta.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, setelah kebangkitan Yesus yang penuh kemenangan, mereka akhirnya mengerti mengapa Sang Raja harus menderita dan mati sebelum kerajaan Allah itu benar-benar datang. Yesus adalah Anak Domba Allah yang dikorbankan yang kematian-Nya akan menebus semua dosa umat-Nya untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ‘panggung’ itu tampaknya telah siap. Setelah menaklukkan kematian, Sang Raja ini tak terkalahkan. Apa ancaman yang bisa diberikan Sanhedrin atau Herodes atau Pilatus atau Kaisar? Tentunya waktunya telah tiba bagi Sang Raja yang telah lama ditunggu-tunggu untuk mengambil alih pemerintahannya di dunia, bukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====“Kau Tidak Perlu Mengetahui Itu”====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus menjawab, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:7-8)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, “Sekarang bukan waktunya dan kamu tidak perlu tahu kapan itu akan terjadi. Namun untuk saat ini, Aku memiliki pekerjaan yang harus kamu lakukan. ”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dapatkah Anda bayangkan bagaimana perasaan para murid jika pada saat itu Yesus menjelaskan kepada mereka bahwa Dia tidak akan mengambil alih pemerintahan duniawi-Nya selama 2000 lagi, di mana Gereja akan menghadapi penundaan, perjuangan, dan pengorbanan saat tersebar ke seluruh dunia? Dua ribu tahun?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan berbelas kasih untuk tidak memberi tahu kita segalanya. Dia memberi tahu kita secukupnya untuk menopang kita jika kita memercayai-Nya, tapi seringkali itu tidak terasa cukup. Kita benar-benar berpikir kita ingin tahu lebih banyak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Beberapa Pengetahuan Terlalu Berat untuk Anda====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam bukunya, The Hiding Place, Corrie Ten Boom mengenang saat ketika dia masih kecil dia pulang ke rumah dengan kereta api bersama ayahnya setelah menemaninya membeli suku cadang untuk bisnis pembuatan jam tangannya. Setelah mendengar istilah &amp;quot;sexsin&amp;quot; dalam puisi di sekolah, dia bertanya kepada ayahnya apa artinya. Setelah berpikir sebentar, ayahnya berdiri dan menurunkan kopernya dari rak. Dan beginilah cara Corrie mengingat percakapan mereka:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;quot;Maukah kau membawanya turun dari kereta, Corrie?&amp;quot; kata Ayah.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Aku berdiri dan menariknya. Koper itu penuh dengan jam tangan dan suku cadang yang dia beli pagi itu. &amp;quot;Ini berat seali,&amp;quot; kataku.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;quot;Benar,&amp;quot; katanya. “Dan Ayah adalah ayah yang sangat payah jika meminta gadis kecilnya untuk membawa beban seperti itu. Demikian pula, Corrie, dengan pengetahuan. Beberapa pengetahuan terlalu berat untuk anak-anak. Ketika kamu sudah lebih tua dan lebih kuat, kamu bisa menanggungnya. Untuk saat ini kamu harus mempercayai Ayah untuk membawakan koper itu untukmu. ”&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan juga adalah Bapa yang bijaksana yang tahu kapan sebuah pengetahuan terlalu berat untuk kita. Dia bukan berbohong ketika Dia tidak memberi kita penjelasan lengkap. Justru Dia memikul beban kita (1 Petrus 5:7). Jika kita menganggap beban kita berat, kita harus melihat beban yang dipikul-Nya. Beban yang Dia berikan kepada kita untuk dipikul adalah ringan (Matius 11:30).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan sangat sabar dan penuh belas kasih terhadap kita. Suatu hari nanti, ketika kita lebih dewasa dan lebih kuat, Dia akan membiarkan kita membawa lebih banyak beban pengetahuan. Namun sampai saat itu tiba, mari kita percaya pada-Nya dan berterima kasih pada-Nya karena telah memikul beban kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 08 Oct 2021 11:29:04 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Belas_Kasihan_Allah_dengan_Tidak_Memberitahukan_Segalanya</comments>		</item>
		<item>
			<title>Damai Sejahtera yang Melebihi Segala Akal</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Damai_Sejahtera_yang_Melebihi_Segala_Akal</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Peace That Passes All Understanding}}&amp;lt;br&amp;gt;  Ini adalah salah satu ayat yang dikenal di dalam Alkitab:  Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi n...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Peace That Passes All Understanding}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah salah satu ayat yang dikenal di dalam Alkitab:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus. (Filipi 4:6-7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini tentu cukup mudah: doa + syukur = damai. Ikuti saja langkah-langkahnya dan dapatkan kedamaian. Lalu mengapa tidak berhasil meskipun sudah mengikuti rumus di atas? Ketika cemas saya berdoa, tetapi pikiran saya terus melayang kembali kepada kecemasan itu, dan sebelum saya menyadarinya saya mencoba untuk memecahkan masalah itu sendiri. Setelah kembali mengakui saya tidak fokus, saya kembali berdoa, hanya untuk melanjutkan siklus tersebut. Agar lebih baik dalam mengucap syukur, saya menulis daftar hal yang saya syukuri, tetapi daftar itu jarang menghilangkan kecemasan saya, dan memang benar. Tidak peduli seberapa panjang daftarnya, tidak ada jaminan bahwa saya akan terhindar dari malapetaka terbaru ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana? Saya baru saja mencoba salah satu ayat klasik tentang kecemasan dan itu tidak berhasil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
A-ha, ada petunjuk. Saya sedang mencari obat. Saya mengunjungi Tuhan, apoteker saya, dan bertanya obat apa yang harus saya minum untuk mengobati kecemasan saya. Bukan begitu cara kerja Firman Tuhan. Saya seharusnya memperhatikannya ketika saya menjadikan ayat itu sebagai sebuah rumus. Sebaliknya, Kitab Suci adalah tentang Allah Tritunggal. Ini tentang mengetahui dan mempercayai seseorang, dan rumus itu sebenarnya dapat menjauhkan kita dari pribadi-Nya dan menyebabkan kita bergantung pada serangkaian langkah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi mari kita kembali ke Alkitab dan carilah tentang Raja Damai (Yesaya 9:6).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tuhan Sudah Dekat====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perintah seperti “jangan khawatir” biasanya muncul setelah alasan mengapa kita tidak perlu khawatir. Dalam hal ini, alasannya diselipkan ke dalam ayat sebelumnya: “Tuhan sudah dekat” (Filipi 4:5).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu mengubah segalanya. Penekanannya bukan pada bagaimana kita berdoa. Namun pada Tuhan yang dekat, yang mendengar, dan yang bersama kita. Satu-satunya hal yang dapat memisahkan kita dari kasih dan hadirat-Nya adalah dosa-dosa kita, dan dosa-dosa itu telah dibasuh oleh darah Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah kehadiran orang lain dalam situasi yang menakutkan dapat mengurangi ketakutan kita? Ketakutan tidak bisa disingkirkan dengan serangkaian langkah impersonal; namun dengan seseorang yang bersama kita. Saat berjalan di tempat gelap yang asing seorang diri, Anda akan merasa takut. Namun dengan menggandeng tangan seseorang saat Anda berada di tempat gelap itu, itu akan membuat ketakutan Anda surut. Jika kita terhibur oleh kehadiran seorang manusia biasa, yang mungkin tidak lebih kuat dan berani dari diri kita sendiri, apalagi penghiburan dari janji kehadiran Kristus yang Mahakuasa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jalan menuju kedamaian dan ketentraman. Renungkan tentang Immanuel, yang berarti “Tuhan beserta Kita.” Ingatlah bagaimana Roh Kudus telah diberikan kepada kita (Yohanes 14:27). Dia tidak dibatasi oleh tubuh fisik yang membatasi Dia untuk berada di satu tempat dan bersama satu orang pada satu waktu. Dia bersama semua umat Tuhan sepanjang waktu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''Immanuel Akan Memberi Kita Manna'''''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun apa yang akan Dia lakukan ketika Dia bersama kita? Akankah Dia memberi kita uang yang kita butuhkan? Akankah Dia membunuh orang yang ingin mencelakai kita? Akankah Dia menjaga anak-anak kita dari segala kecelakaan? Kita tahu bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini adalah “tidak selalu.” Kita tahu bahwa hal-hal buruk bisa terjadi pada umat Tuhan. Lalu apa bedanya kehadiran Tuhan ketika, meskipun Dia adalah Tuhan Yang Mahakuasa, Dia tidak selalu menggunakan kuasa-Nya seperti yang kita inginkan? Kita merasa seperti tetap berada di kondisi semula — mempercayai beberapa langkah yang kita harap akan membuat kita merasa lebih damai. Pasti ada lagi yang Tuhan katakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Benar. Pertama, kita harus memahami bahwa ketika Tuhan berkata bahwa Dia hadir (atau mendengar, melihat, mengingat), Dia mengatakan bahwa Dia sedang melakukan sesuatu. Dia tidak pernah menjadi pengamat pasif. Kedua, apa yang Dia lakukan adalah ini: Dia memberi kita apa yang kita butuhkan saat kita membutuhkannya (Matius 6:19-34). Dalam Perjanjian Baru Dia berkata bahwa Dia akan memberi kita anugerah yang kita butuhkan, dan anugerah itu adalah bagian dari tradisi yang dimulai dengan munculnya manna untuk orang Israel yang sedang membutuhkan. Di saat-saat sulit, Tuhan berjanji untuk memberi kita manna yang kita butuhkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bahkan menjelaskan bagaimana ini akan terjadi (Kel. 16). Ada kalanya kita akan merasa seperti pengembara miskin di padang belantara dengan sedikit harapan akan makanan dan air. Tuhan akan memberi kita manna pada saat kita membutuhkannya. Dia tidak akan memberi kita begitu banyak sehingga kita punya cukup manna untuk keesokan harinya karena dengan begitu kita akan mulai berharap pada manna daripada mempercayai Immanuel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan berjanji akan memberi manna — atau anugerah — ketika Anda membutuhkannya, bukan sebelumnya. Artinya Anda akan merasa khawatir jika Anda meramalkan masa depan karena Anda membuat prediksi berdasarkan manna yang tersisa dari hari ini, dan tidak ada manna yang tersisa. Apa yang tidak Anda perhitungkan dalam prediksi Anda adalah bahwa Anda akan menerima anugerah baru saat Anda membutuhkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu seharusnya terdengar familier. Pikirkan saat-saat Anda takut mengenai yang terjadi di masa mendatang dan itu tidak seburuk yang Anda perkirakan. Anda diberi manna ketika Anda membutuhkannya. Pikirkan saat-saat ketika Anda dikejutkan oleh sesuatu yang sangat sulit. Meskipun menyakitkan, Anda menerima kasih karunia untuk bertahan dengan iman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita akan mengalami kesulitan dalam hidup, tidak diragukan lagi. Alkitab tidak menawarkan surga yang menghindarkan kita dari rasa sakit. Sang Raja memang berjanji, bagaimanapun, bahwa Dia akan bersama kita dalam setiap pencobaan dan akan memberi kita manna yang kita butuhkan sehingga kita dapat mengenal Dia lebih baik, percaya kepada-Nya, hidup bagi Dia, dan semakin serupa dengan Yesus tidak peduli apa yang mungkin disodorkan oleh padang gurun kehidupan kepada kita. Dengan kata lain, Dia akan memberi kita anugerah terbaik ketika kita membutuhkan bantuan. Manna merujuk pada sesuatu yang jauh lebih baik (Ulangan 8:2-3); yaitu Roti Kehidupan yang akan memuaskan rasa lapar kita sedemikian rupa sehingga kita tidak akan selalu merasa lapar dua jam kemudian. Manna merujuk kepada Yesus dan apa yang diberikan kepada kita dalam kematian dan kebangkitan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda melihat ada harapan yang muncul? Lawan dari kecemasan adalah harapan. Kecemasan memprediksi bahwa manna tidak akan datang. Harapan mengatakan bahwa Tuhan akan bersama kita dan memberi kita sesuatu yang lebih baik daripada manna. Di mana ada harapan? Damai ada bersama pengharapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''Kerendahan hati adalah jalan'''''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Harapan dan kedamaian tidak bisa didapatkan tanpa perjuangan. Tuhan senang mengerjakan harapan dan kedamaian dalam diri kita secara pasti tetapi bertahap. Keduanya datang saat kita berdoa, memakan Firman Tuhan, ‘mengkonsumsi’ Kristus, dan terus meminta manna dan kasih karunia. Kerajaan Allah nyata melalui kelemahan dan ketergantungan pada Sang Raja, bukan melalui kemenangan yang cepat dan tanpa perjuangan. Jika Anda merasa sedikit lemah, kemungkinan Anda berada di jalan yang benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang penting untuk pertempuran dengan ketakutan dan kekhawatiran ini adalah karunia kerendahan hati. Sangat cocok, bukan? Dalam kekhawatiran kita, kita biasanya mengkhawatirkan hal-hal yang kita sukai. Kita ingin mengatur. Kita ingin mengambil tindakan sendiri untuk melindungi masa depan kita, tapi kita menemukan bahwa tidak mungkin untuk mengendalikan semua kemungkinan yang mungkin terjadi. Kita ingin melindungi kerajaan kita. Bertemulah dengan kekhawatiran maka seringkali Anda akan menemukan bahwa agenda Anda lebih penting bagi Anda daripada agenda Tuhan. Anda mungkin menyadari bahwa Anda menginterpretasikan sendiri tentang dunia Tuhan daripada tunduk pada firman Tuhan yang jelas tentang kuasa, kasih, dan pemeliharaan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah bagaimana rasul Petrus mengaitkan kerendahan hati dan kecemasan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:6-7)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia meminta kita untuk melakukan hanya satu hal - merendahkan diri di hadapan Tuhan. Kerendahan hati diungkapkan dengan menyerahkan kekhawatiran kita pada Allah yang perkasa dan dapat dipercaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika ketakutan anak tidak diredakan oleh upaya orang tuanya untuk menghibur, seorang anak pada dasarnya mengatakan bahwa monster di bawah tempat tidur lebih kuat daripada orang tuanya, atau orang tua tidak terlalu peduli pada anaknya. Ketakutan seorang anak menunjukkan kurangnya kepercayaan atau keyakinan pada orang tuanya. Kerendahan hati, sebaliknya, mendengar suara orang tua dan percaya bahwa orang tuanya dapat dipercaya, bahkan ketika bukti menunjukkan bahwa keadaan di luar kendali. Kerendahan hati berkata, &amp;quot;Aku mempercayai-Mu lebih dari aku memercayai mataku atau imajinasiku.&amp;quot; Kerendahan hati berarti tunduk.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini berarti bahwa informasi dan pengetahuan belaka tidak akan membawa kedamaian. Lebih dari itu, kita harus menanggapi apa yang kita dengar dengan kerendahan hati dan kepercayaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''Mengejar Kedamaian untuk Kemuliaan Tuhan'''''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada langkah-langkah menuju kedamaian, tetapi itu berbeda dari mengikuti langkah-langkah sebuah resep. Semua langkah ini bersifat pribadi. Kenali Tuhan yang datang mendekat, harapkan manna yang lebih baik, dan berjalanlah di hadapan-Nya dengan kerendahan hati. Jangan menyerah untuk mengejar kedamaian. Kedamaian akan membuat Anda merasa lebih baik. Ini hal yang baik, tetapi ada sesuatu yang lebih besar yang dipertaruhkan. Di dunia di mana perdamaian sejati tampak mustahil, kita ingin menjadi duta yang mengatakan bahwa perdamaian sejati hanya ada di dalam Raja Damai. Ini akan membawa kemuliaan bagi Tuhan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 08 Oct 2021 11:23:40 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Damai_Sejahtera_yang_Melebihi_Segala_Akal</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kamu Akan Mengetahui Kebenaran dan Kebenaran Itu Akan Memerdekakan Kamu</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kamu_Akan_Mengetahui_Kebenaran_dan_Kebenaran_Itu_Akan_Memerdekakan_Kamu</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|You Will Know the Truth and the Truth Will Set You Free}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan khotbah ini adalah supaya kamu dapat mengalami Yesus. Yesus yang berdaulat, yang bangkit, Yesus yang adalah Tuhan penguasa alam semesta yang hidup. Yesus  yang adalah sumber dan kepuasan dari kemerdekaan sejati di dalam hidupmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mencapai itu kita butuh dua hal: Kita butuh firman Tuhan yang memerdekakan dan kita butuh anugrah Tuhan yang memerdekakan. Itu berarti saya perlu mengkhotbahkan firman Tuhan dan berdoa di beri kuat kuasa Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita baca ayat alkitab yang akan saya bahas dan kemudian saya akan berdoa. '''Yohanes 8:30-36''':&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: ”Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka: ”Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Tuhan, celikkan mata kami kepada kebenaranMu yg memerdekakan dan dengan kuat kuasaMu bebaskan kami dari perbudakan dosa. Dalam nama Yesus, amin.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kita Semua Mau Merdeka====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya yakin semua yang ada disini ingin merdeka. Jika saya katakan bahwa lawan dari merdeka adalah perbudakan pasti tidak ada yang mau di perbudak. Tapi bagaimana jika kamu di perbudak oleh kebiasaan yang menyenangkan mungkin kamu bilang tidak apa deh di perbudak. Saya mau kamu renungkan. Lebih baik bahagia dalam perbudakan atau bahagia  di dalam kebebasan tanpa di perbudak oleh kecanduan walaupun kecanduan itu menyenangkan. Semua orang pasti mau merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Yohanes 8:36 Yesus mengatakan, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Itulah yang kita kejar. “Benar-benar merdeka”. Kemerdekaan sejati. Kemerdekaan ini yang Yesus tawarkan kepada kita pagi ini. Inilah arti Paskah. Perayaan kebangkitan Yesus dari kematian. Dia hidup. Dia bukan hanya sekedar memori. Bukan hanya sekedar tokoh sejarah seperti Julius Caesar atau Shakespeare atau John Kennedy. Dia bangkit dari kematian dengan tubuh kemuliaan yang baru. Dia bangkit dan memerintah sebagai Raja semesta ini dan Dia menawarkan kemerdekaan sejati ini kepada kita semua hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Yesus Tokoh Sejarah sebagai Yesus Fondasi Iman Kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita orang Kristen percaya apa yang di catat di 27 buku Perjanjian Baru adalah benar. 27 buku itu semuanya mengajarkan atau berasumsi bahwa Yesus hidup, mati menggantikan orang berdosa dan bangkit kembali pada hari ketiga, naik ke surga dan memerintah dunia sebagai Tuhan segala Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke 27 buku ini di catat dengan teliti sampai kepada gambaran fisik Yesus setelah kebangkitanNya. Misalkan di Injil Yohanes (20:27-28), Yesus menampakkan diri kepada Tomas salah satu muridNya yang tidak percaya bahwa Yesus sudah bangkit dan Yesus berkata kepada Tomas: ”Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: ”Ya Tuhanku dan Allahku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bukan Mitos====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita kehidupan Yesus sama sekali bukan mitos, bukan seperti mitos Yunani atau mitos Romawi yang tidak ada hubungannya dengan sejarah. Buku Perjanjian Baru berbicara tentang sejarah, suatu peristiwa/tokoh yang benar-benar ada. Pilatus Gubernur Romawi, Herodes Raja Galilea, Kayafas Imam Besar. Ini semua bukan figur mitos. Mereka adalah orang yang di kenal dari catatan sejarah di luar tulisan alkitab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua 27 buku itu di tulis saat saksi matanya masih hidup. Surat-surat Paulus di tulis 15-30 tahun setelah kematian Yesus. Di salah satu suratnya, dia menyinggung fakta bahwa ada 500 orang sekaligus yang melihat kebangkitan Yesus dan kebanyakan dari mereka masih hidup (1 Korintus 15:6). Hampir semua buku itu di tulis sebelum tahun 70 masehi, empat puluh tahun setelah kematian Yesus. Walaupun injil Yohanes di tulis oleh Rasul Yohanes pada masa tuanya sekitar tahun 90 masehi, jarak waktunya tidak terlalu jauh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sejarah yang di Ingat dan di Saksikan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya kita dapat bayangkan, saya beri ilustrasi. Seumpama kita adalah penulis Perjanjian Baru di tahun 2011, bagi sebagian penulis Yesus hidup di akhir tahun 1980, bagi penulis yang lain Yesus hidup di tahun 1970an atau 1950an. Jadi Yesus bukan mitos. Dia benar-benar ada dalam sejarah. Sejarah yang di ingat. Sejarah yang ada saksi matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musuh kristen waktu itu tentu saja ingin bisa membawa tubuh Yesus yang mati itu ke Yerusalem untuk membuktikan bahwa kebangkitanNya adalah hoaks. Tapi mereka tidak bisa lakukan itu karena kuburNya kosong, tidak ada mayat Yesus di situ. Benarkah para murid mencuri mayatNya dan mengarang cerita tentang kebangkitanNya? Coba bayangkan, para murid  lari meninggalkan Yesus karena takut di bunuh, murid yang sebelumnya berharap Yesus menjadi juru selamat Israel (Lukas 24:21) –mereka tiba-tiba sepakat mengarang hoaks itu dan kemudian rela mati untuk Yesus. Menurut kalian menggelikan tidak? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bukan Orang Gila tapi Mereka adalah Saksi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Rasul ini bukan orang gila, mereka adalah saksi hidup. 27 tulisan Perjanjian Baru bukanlah mitos tapi itu adalah tulisan tentang Yesus yang di saksikan dan di ingat oleh penulisnya. Richard Bauckham, mantan profesor universitas St.Andrew yang mempelajari sejarah Perjanjian Baru menulis di bukunya yang berjudul ''Yesus dan Para saksi Mata: injil Sesuai Kesaksian Para Saksi Mata''. Yesus yang di ceritakan di injil adalah Yesus seperti yang di gambarkan oleh para saksi mata (halaman 472). Inilah kesimpulan bukunya yang terdiri dari  hampir 500 halaman tentang studi historis Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu saksi matanya adalah Yohanes. Bauckham juga menulis buku berjudul: ''Kesaksian Murid yang di Kasihi: Narasi, Sejarah, dan Teologi Injil Yohanes.'' Dan pokok utama buku ini adalah bahwa penulis injil Yohanes adalah saksi mata dan Yohanes berkomitmen menulis sesuai dengan fakta sejarah (halaman 27).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kebangkitan, Sesuai Fakta Sejarah====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud semua ini untuk mengatakan bahwa ketika kita orang Kristen berkata Yesus bangkit dari antara orang mati, kita bukan menceritakan suatu mitos dan kita bukan bicara tanpa fakta. Kita juga bukan bicara hanya berdasarkan perasaan dan kepercayaan buta. Kita berbicara berdasarkan fakta sejarah. Ujung-ujungnya Yesus mau kita percaya kepadaNya. Maksudku Yesus yang ada di sejarah itu bisa di jumpai, tidak sesusah yang kau bayangkan. Karena itu biarlah Dia berbicara kepadamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Perkataan Yang Keras: Semua Orang di Perbudak oleh Dosa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ijinkan Tuhan berbicara kepadamu tentang kemerdekaan. Di Yohanes 8:32, Yesus berkata, “ Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Sama dengan kebanyakan dari kita, mereka berkata: ”Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: “Kamu akan merdeka?” Mereka fokus kepada salah satu aspek dari kemerdekaan tapi bukan kemerdekaan itu yang Yesus maksudkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu di ayat 34 Yesus menjelaskan kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Ini adalah perkataan yang keras. Kita semua berdosa. Karena itulah Yesus mengatakan setiap orang adalah hamba dosa. Artinya dosa bukan hanya perbuatan jahat tapi ada dorongan di hati kita yang membuat kita berbuat jahat. Kita berbuat dosa karena natur kita adalah pendosa. &lt;br /&gt;
‭‭‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬&lt;br /&gt;
Jadi kita di perhamba oleh dorongan yang ada dalam kita. Mungkin ada beberapa macam kemerdekaan yang bisa kita miliki tapi kemerdekaan dari dosa tidak mungkin bisa kita miliki. Inilah inti perkataan Yesus. Perhambaan ini terlalu dalam. Dan kita semua di perhamba oleh dosa. Hanya Yesus yang dapat memerdekakan kita dari dosa. Seperti yang Yesus katakan di ayat 36, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dosa Memperhamba Lewat 2 Cara====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dosa memperhamba lewat dua cara maka kemerdekaan juga ada dua bentuk. Yang pertama dosa perhamba kita dengan menimbulkan keinginan yang menarik hati. Dengan menjadikan hal lain lebih mempesona di bandingkan Yesus. Inilah dosa yaitu menginginkan hal lain lebih dari menginginkan Yesus dan kemudian bertindak sesuai keinginan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kedua adalah dosa memperhamba dengan membawa kita kepada kebinasaan. Membawa kita ke neraka, kecuali ada intervensi. Menurut saya ini artinya kita di perhamba. Ada yang katakan,” Apa salahnya menginginkan hal lain lebih dari menginginkan Yesus?” Kamu tidak akan seringan itu mengatakannya jika kamu bisa melihat ujungnya adalah kebinasaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Di Merdekakan dari Dominasi Dosa dan Kutukan Dosa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Yesus saja yang dapat membebaskan kita dari dua macam perhambaan ini: di kuasai dan dibawa kepada kebinasaan oleh dosa.  “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Galatia‬ ‭3:13‬). Dia tebus kita dari kuasa dosa dengan merubah natur kita (manusia pendosa) melalui lahir baru. Esensi  lahir baru ini adalah beri kita mata rohani yang dapat melihat betapa Juru Selamat kita lebih mempesona di bandingkan semua yang ada di dunia ini.‬‬‬‬‬‬&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dosa kita di ampuni  dan murka Allah sudah di angkat dan kita bisa lihat Yesus sebagai harta yang sangat berharga tiada bandingannya, kita sudah di bebaskan dari kutuk dan kuasa dosa. Kita benar-benar merdeka. Itulah tawaran Yesus kepadamu hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Apa Arti Kemerdekaan Utuh====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang saya bicarakan kemerdekaan yang bagaimana yang kita inginkan. Mungkin kamu sering dengar orang yang mengatakan,”Saya orang merdeka, kalian orang kristen yang terikat oleh peraturan moral. Saya bebas lakukan apa yang kuinginkan. Dan saya bersyukur tinggal di negara yang beri kebebasan itu. Kemerdekaan seperti itulah yang aku inginkan”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi mari kita perjelas apa arti kemerdekaan sejati itu? Yesus katakan,”Benar-benar merdeka”. Itu hanya Yesus yang bisa berikan. Jadi ada jenis kemerdekaan apa saja? Kemerdekaan apa yang “tidak benar-benar merdeka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====4 Macam Kemerdekaan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paling tidak ada empat jenis kemerdekaan. Ijinkan saya gabungkan ke empat kemerdekaan ini  menjadi suatu definisi yang utuh: benar-benar merdeka, sungguh-sungguh merdeka jika kamu punya keinginan, kemampuan dan kesempatan melakukan apa yang membuat kamu bahagia dan tanpa penyesalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jika kamu tidak punya keinginan melakukan sesuatu, kamu tidak benar-benar merdeka melakukannya. Mungkin saja kamu dapat memaksa diri melakukannya tapi itu artinya kamu tidak merdeka. Tidak ada orang yang mau hidup seperti itu, ada tekanan untuk lakukan apa yang tidak ingin dia lakukan.&lt;br /&gt;
*Jika kamu punya keinginan/kehendak tapi tidak punya kemampuan untuk melakukannya, artinya kamu tidak merdeka.&lt;br /&gt;
*Jika kamu punya keinginan, punya kemampuan melakukannnya tapi tidak ada kesempatan melakukannya, artinya kamu tidak merdeka.&lt;br /&gt;
*Jika kamu punya keinginan, punya kemampuan, punya kesempatan tapi mengakibatkan kehancuranmu. Artinya kamu tidak benar-benar merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk benar-benar merdeka, kita harus punya keinginan, kemampuan dan kesempatan melakukan apa yang membuat kita bahagia selamanya. Tanpa penyesalan. Dan hanya Yesus, Anak Allah yang mati dan bangkit bagi kita, yang mampu berikan itu kepada kita. Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka. Untuk dapat bahagia selama-lamanya, dosa kita harus di ampuni, murka Allah di angkat dari kita dan Kristus harus menjadi Harta yang terutama. Hanya Yesus yang dapat lakukan itu. Sebenarnya Dia telah lakukan. Dia mati untuk dosa kita. Dia yang menanggung murka Allah. Dia bangkit dari antara orang mati dan hari ini Dia menjadi kemuliaan kita. Dan Yesus tawarkan itu kepada kita sebagai anugrah, hadiah tanpa syarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya coba beri gambaran kemerdekaan ini, semoga saya dapat menjadikannya lebih jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Gambaran Kemerdekaan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ambil contoh skydiving. Kau ingin merasakan kebebasan menikmati pengalaman skydiving. Misalkan kamu sedang dalam perjalanan ke bandara untuk pertama kalinya skydiving tapi mobilmu mengalami kecelakaan lalulintas. Kamu tidak lagi bebas untuk skydiving, walaupun kamu punya ketrampilan skydiving tapi kesempatannya sudah lewat karena kamu harus menunggu mobil derek. Kamu tidak punya kebebasan karena kehilangan kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau kamu berhasil sampai ke bandara tapi kelas latihan skydving sudah selesai sehingga kamu tidak tahu cara skydiving. Kamu tidak punya pengetahuan praktis misalkan bagaimana cara membuka parasutnya. Kesempatan ada tapi kamu tidak punya kebebasan karena tidak punya ketrampilan skydiving. Mereka tidak akan mengijinkan kamu skydiving. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau kamu sampai ke bandara, kamu ikut semua kelas latihannya, kamu punya ketrampilan melakukannya. Kamu naik ke pesawat tapi begitu pintu di buka, kamu lihat keluar, kamu tidak berani lompat keluar pesawat. Ada kesempatan, ada kemampuan tapi kamu tidak punya kebebasan karena ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada satu syarat lagi untuk mendapatkan kemerdekaan yang utuh. Misalkan kamu ke bandara tanpa hambatan (kamu bebas karena ada kesempatan), kamu tahu cara skydiving (kamu bebas karena ada kemampuan), kemudian kamu juga punya keberanian melompat keluar dari pesawat (kamu bebas lakukan keinginanmu). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kamu terjun bebas, selagi menikmati semuanya, di luar pengetahuanmu ternyata parasutmu tidak bisa di buka. Coba pikirkan apakah kamu benar-benar merdeka? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak. Kamu tidak benar-benar merdeka. Apa yang sedang kau lakukan dengan penuh kegembiraan ini akan membunuhmu. Walaupun sekarang ini kamu belum menyadarinya bahwa sebenarnya kamu dalam perhambaan yang membawamu kepada kebinasaan. Selagi menikmati skydiving rasanya sangat bebas merdeka. Tapi sebentar lagi, semua kegembiraan dan kenikmatannya terbukti hanyalah ilusi. Dalam tiga puluh detik kamu akan mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya kamu benar-benar merdeka, Anak Allah harus membebaskanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;h4&amp;gt;Mati dan Bangkit Untuk Benar-Benar Memerdekakanmu&amp;lt;/h4&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Kita tidak punya parasut. Kita punya Juru Selamat. Karena Dia mati bagi kita, tidak ada penghukuman bagi kita. Dosa kita di perumpamakan seperti gaya gravitasi yang pasti menarik kita meluncur ke bawah dan ujungnya adalah kematian. Gaya gravitasi itu di patahkan dan Dia menangkap kita saat kita sedang meluncur ke bawah. Dia menjadi Harta yang paling berharga. Tujuan hidup dan keinginan kita di perbaharui. Tuhan Yesus menjadi sumber segalanya. Tuhan Yesus menjadi kepuasan mereka. Yesus berikan kita keinginan yang baru yaitu Dia sendiri. “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun akan benar-benar merdeka.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Jika demikian, bukankah bodoh orang kristen yang iri akan kebebasan mereka yang terjun bebas dari jendela dosa gedung tinggi dan menikmati kegembiraan dalam terjun bebas keserakahan atau terjun bebas narkoba, atau terjun bebas kemashyuran atau terjun bebas seks bebas atau terjun bebas kekuasaan atau terjun bebas kemewahan. Dan itu semua tanpa Yesus di dalamnya. Kebebasan jenis ini seperti uap. Tapi mereka yang percaya kepada Yesus dan mejadikanNya sebagai harta yang paling berharga akan terbang tinggi bagai rajawali dan bersukacita selama-lamanya. Mereka akan benar-benar merdeka. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Tuhan Yesus bukan hanya memberi pesan ini sebagai informasi saja. Yesus mengundang kamu sekalian. Percayalah kepadaNya. Muliakanlah Dia. Yesus mati dan bangkit untuk memerdekakanmu.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 17 Mar 2021 18:53:52 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kamu_Akan_Mengetahui_Kebenaran_dan_Kebenaran_Itu_Akan_Memerdekakan_Kamu</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kamu Akan Mengetahui Kebenaran dan Kebenaran Itu Akan Memerdekakan Kamu</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kamu_Akan_Mengetahui_Kebenaran_dan_Kebenaran_Itu_Akan_Memerdekakan_Kamu</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|You Will Know the Truth and the Truth Will Set You Free}}&amp;lt;br&amp;gt;  Tujuan khotbah ini adalah supaya kamu dapat mengalami Yesus. Yesus yang berdaulat, yang bangkit, Yes...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|You Will Know the Truth and the Truth Will Set You Free}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan khotbah ini adalah supaya kamu dapat mengalami Yesus. Yesus yang berdaulat, yang bangkit, Yesus yang adalah Tuhan penguasa alam semesta yang hidup. Yesus  yang adalah sumber dan kepuasan dari kemerdekaan sejati di dalam hidupmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mencapai itu kita butuh dua hal: Kita butuh firman Tuhan yang memerdekakan dan kita butuh anugrah Tuhan yang memerdekakan. Itu berarti saya perlu mengkhotbahkan firman Tuhan dan berdoa di beri kuat kuasa Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita baca ayat alkitab yang akan saya bahas dan kemudian saya akan berdoa. '''Yohanes 8:30-36''':&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: ”Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Jawab mereka: ”Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Tuhan, celikkan mata kami kepada kebenaranMu yg memerdekakan dan dengan kuat kuasaMu bebaskan kami dari perbudakan dosa. Dalam nama Yesus, amin.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kita Semua Mau Merdeka====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya yakin semua yang ada disini ingin merdeka. Jika saya katakan bahwa lawan dari merdeka adalah perbudakan pasti tidak ada yang mau di perbudak. Tapi bagaimana jika kamu di perbudak oleh kebiasaan yang menyenangkan mungkin kamu bilang tidak apa deh di perbudak. Saya mau kamu renungkan. Lebih baik bahagia dalam perbudakan atau bahagia  di dalam kebebasan tanpa di perbudak oleh kecanduan walaupun kecanduan itu menyenangkan. Semua orang pasti mau merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Yohanes 8:36 Yesus mengatakan, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” Itulah yang kita kejar. “Benar-benar merdeka”. Kemerdekaan sejati. Kemerdekaan ini yang Yesus tawarkan kepada kita pagi ini. Inilah arti Paskah. Perayaan kebangkitan Yesus dari kematian. Dia hidup. Dia bukan hanya sekedar memori. Bukan hanya sekedar tokoh sejarah seperti Julius Caesar atau Shakespeare atau John Kennedy. Dia bangkit dari kematian dengan tubuh kemuliaan yang baru. Dia bangkit dan memerintah sebagai Raja semesta ini dan Dia menawarkan kemerdekaan sejati ini kepada kita semua hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Yesus Tokoh Sejarah sebagai Yesus Fondasi Iman Kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita orang Kristen percaya apa yang di catat di 27 buku Perjanjian Baru adalah benar. 27 buku itu semuanya mengajarkan atau berasumsi bahwa Yesus hidup, mati menggantikan orang berdosa dan bangkit kembali pada hari ketiga, naik ke surga dan memerintah dunia sebagai Tuhan segala Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ke 27 buku ini di catat dengan teliti sampai kepada gambaran fisik Yesus setelah kebangkitanNya. Misalkan di Injil Yohanes (20:27-28), Yesus menampakkan diri kepada Tomas salah satu muridNya yang tidak percaya bahwa Yesus sudah bangkit dan Yesus berkata kepada Tomas: ”Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: ”Ya Tuhanku dan Allahku!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bukan Mitos====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita kehidupan Yesus sama sekali bukan mitos, bukan seperti mitos Yunani atau mitos Romawi yang tidak ada hubungannya dengan sejarah. Buku Perjanjian Baru berbicara tentang sejarah, suatu peristiwa/tokoh yang benar-benar ada. Pilatus Gubernur Romawi, Herodes Raja Galilea, Kayafas Imam Besar. Ini semua bukan figur mitos. Mereka adalah orang yang di kenal dari catatan sejarah di luar tulisan alkitab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semua 27 buku itu di tulis saat saksi matanya masih hidup. Surat-surat Paulus di tulis 15-30 tahun setelah kematian Yesus. Di salah satu suratnya, dia menyinggung fakta bahwa ada 500 orang sekaligus yang melihat kebangkitan Yesus dan kebanyakan dari mereka masih hidup (1 Korintus 15:6). Hampir semua buku itu di tulis sebelum tahun 70 masehi, empat puluh tahun setelah kematian Yesus. Walaupun injil Yohanes di tulis oleh Rasul Yohanes pada masa tuanya sekitar tahun 90 masehi, jarak waktunya tidak terlalu jauh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Sejarah yang di Ingat dan di Saksikan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya kita dapat bayangkan, saya beri ilustrasi. Seumpama kita adalah penulis Perjanjian Baru di tahun 2011, bagi sebagian penulis Yesus hidup di akhir tahun 1980, bagi penulis yang lain Yesus hidup di tahun 1970an atau 1950an. Jadi Yesus bukan mitos. Dia benar-benar ada dalam sejarah. Sejarah yang di ingat. Sejarah yang ada saksi matanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musuh kristen waktu itu tentu saja ingin bisa membawa tubuh Yesus yang mati itu ke Yerusalem untuk membuktikan bahwa kebangkitanNya adalah hoaks. Tapi mereka tidak bisa lakukan itu karena kuburNya kosong, tidak ada mayat Yesus di situ. Benarkah para murid mencuri mayatNya dan mengarang cerita tentang kebangkitanNya? Coba bayangkan, para murid  lari meninggalkan Yesus karena takut di bunuh, murid yang sebelumnya berharap Yesus menjadi juru selamat Israel (Lukas 24:21) –mereka tiba-tiba sepakat mengarang hoaks itu dan kemudian rela mati untuk Yesus. Menurut kalian menggelikan tidak? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bukan Orang Gila tapi Mereka adalah Saksi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para Rasul ini bukan orang gila, mereka adalah saksi hidup. 27 tulisan Perjanjian Baru bukanlah mitos tapi itu adalah tulisan tentang Yesus yang di saksikan dan di ingat oleh penulisnya. Richard Bauckham, mantan profesor universitas St.Andrew yang mempelajari sejarah Perjanjian Baru menulis di bukunya yang berjudul ''Yesus dan Para saksi Mata: injil Sesuai Kesaksian Para Saksi Mata''. Yesus yang di ceritakan di injil adalah Yesus seperti yang di gambarkan oleh para saksi mata (halaman 472). Inilah kesimpulan bukunya yang terdiri dari  hampir 500 halaman tentang studi historis Perjanjian Baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu saksi matanya adalah Yohanes. Bauckham juga menulis buku berjudul: ''Kesaksian Murid yang di Kasihi: Narasi, Sejarah, dan Teologi Injil Yohanes.'' Dan pokok utama buku ini adalah bahwa penulis injil Yohanes adalah saksi mata dan Yohanes berkomitmen menulis sesuai dengan fakta sejarah (halaman 27).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kebangkitan, Sesuai Fakta Sejarah====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud semua ini untuk mengatakan bahwa ketika kita orang Kristen berkata Yesus bangkit dari antara orang mati, kita bukan menceritakan suatu mitos dan kita bukan bicara tanpa fakta. Kita juga bukan bicara hanya berdasarkan perasaan dan kepercayaan buta. Kita berbicara berdasarkan fakta sejarah. Ujung-ujungnya Yesus mau kita percaya kepadaNya. Maksudku Yesus yang ada di sejarah itu bisa di jumpai, tidak sesusah yang kau bayangkan. Karena itu biarlah Dia berbicara kepadamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Perkataan Yang Keras: Semua Orang di Perbudak oleh Dosa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ijinkan Tuhan berbicara kepadamu tentang kemerdekaan. Di Yohanes 8:32, Yesus berkata, “ Kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Sama dengan kebanyakan dari kita, mereka berkata: ”Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: “Kamu akan merdeka?” Mereka fokus kepada salah satu aspek dari kemerdekaan tapi bukan kemerdekaan itu yang Yesus maksudkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu di ayat 34 Yesus menjelaskan kepada mereka: ”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.” Ini adalah perkataan yang keras. Kita semua berdosa. Karena itulah Yesus mengatakan setiap orang adalah hamba dosa. Artinya dosa bukan hanya perbuatan jahat tapi ada dorongan di hati kita yang membuat kita berbuat jahat. Kita berbuat dosa karena natur kita adalah pendosa. &lt;br /&gt;
‭‭‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬&lt;br /&gt;
Jadi kita di perhamba oleh dorongan yang ada dalam kita. Mungkin ada beberapa macam kemerdekaan yang bisa kita miliki tapi kemerdekaan dari dosa tidak mungkin bisa kita miliki. Inilah inti perkataan Yesus. Perhambaan ini terlalu dalam. Dan kita semua di perhamba oleh dosa. Hanya Yesus yang dapat memerdekakan kita dari dosa. Seperti yang Yesus katakan di ayat 36, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dosa Memperhamba Lewat 2 Cara====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena dosa memperhamba lewat dua cara maka kemerdekaan juga ada dua bentuk. Yang pertama dosa perhamba kita dengan menimbulkan keinginan yang menarik hati. Dengan menjadikan hal lain lebih mempesona di bandingkan Yesus. Inilah dosa yaitu menginginkan hal lain lebih dari menginginkan Yesus dan kemudian bertindak sesuai keinginan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang kedua adalah dosa memperhamba dengan membawa kita kepada kebinasaan. Membawa kita ke neraka, kecuali ada intervensi. Menurut saya ini artinya kita di perhamba. Ada yang katakan,” Apa salahnya menginginkan hal lain lebih dari menginginkan Yesus?” Kamu tidak akan seringan itu mengatakannya jika kamu bisa melihat ujungnya adalah kebinasaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Di Merdekakan dari Dominasi Dosa dan Kutukan Dosa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hanya Yesus saja yang dapat membebaskan kita dari dua macam perhambaan ini: di kuasai dan dibawa kepada kebinasaan oleh dosa.  “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Galatia‬ ‭3:13‬). Dia tebus kita dari kuasa dosa dengan merubah natur kita (manusia pendosa) melalui lahir baru. Esensi  lahir baru ini adalah beri kita mata rohani yang dapat melihat betapa Juru Selamat kita lebih mempesona di bandingkan semua yang ada di dunia ini.‬‬‬‬‬‬&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat dosa kita di ampuni  dan murka Allah sudah di angkat dan kita bisa lihat Yesus sebagai harta yang sangat berharga tiada bandingannya, kita sudah di bebaskan dari kutuk dan kuasa dosa. Kita benar-benar merdeka. Itulah tawaran Yesus kepadamu hari ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Apa Arti Kemerdekaan Utuh====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang saya bicarakan kemerdekaan yang bagaimana yang kita inginkan. Mungkin kamu sering dengar orang yang mengatakan,”Saya orang merdeka, kalian orang kristen yang terikat oleh peraturan moral. Saya bebas lakukan apa yang kuinginkan. Dan saya bersyukur tinggal di negara yang beri kebebasan itu. Kemerdekaan seperti itulah yang aku inginkan”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi mari kita perjelas apa arti kemerdekaan sejati itu? Yesus katakan,”Benar-benar merdeka”. Itu hanya Yesus yang bisa berikan. Jadi ada jenis kemerdekaan apa saja? Kemerdekaan apa yang “tidak benar-benar merdeka?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====4 Macam Kemerdekaan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paling tidak ada empat jenis kemerdekaan. Ijinkan saya gabungkan ke empat kemerdekaan ini  menjadi suatu definisi yang utuh: benar-benar merdeka, sungguh-sungguh merdeka jika kamu punya keinginan, kemampuan dan kesempatan melakukan apa yang membuat kamu bahagia dan tanpa penyesalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Jika kamu tidak punya keinginan melakukan sesuatu, kamu tidak benar-benar merdeka melakukannya. Mungkin saja kamu dapat memaksa diri melakukannya tapi itu artinya kamu tidak merdeka. Tidak ada orang yang mau hidup seperti itu, ada tekanan untuk lakukan apa yang tidak ingin dia lakukan.&lt;br /&gt;
*Jika kamu punya keinginan/kehendak tapi tidak punya kemampuan untuk melakukannya, artinya kamu tidak merdeka.&lt;br /&gt;
*Jika kamu punya keinginan, punya kemampuan melakukannnya tapi tidak ada kesempatan melakukannya, artinya kamu tidak merdeka.&lt;br /&gt;
*Jika kamu punya keinginan, punya kemampuan, punya kesempatan tapi mengakibatkan kehancuranmu. Artinya kamu tidak benar-benar merdeka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk benar-benar merdeka, kita harus punya keinginan, kemampuan dan kesempatan melakukan apa yang membuat kita bahagia selamanya. Tanpa penyesalan. Dan hanya Yesus, Anak Allah yang mati dan bangkit bagi kita, yang mampu berikan itu kepada kita. Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka. Untuk dapat bahagia selama-lamanya, dosa kita harus di ampuni, murka Allah di angkat dari kita dan Kristus harus menjadi Harta yang terutama. Hanya Yesus yang dapat lakukan itu. Sebenarnya Dia telah lakukan. Dia mati untuk dosa kita. Dia yang menanggung murka Allah. Dia bangkit dari antara orang mati dan hari ini Dia menjadi kemuliaan kita. Dan Yesus tawarkan itu kepada kita sebagai anugrah, hadiah tanpa syarat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya coba beri gambaran kemerdekaan ini, semoga saya dapat menjadikannya lebih jelas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Gambaran Kemerdekaan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ambil contoh skydiving. Kau ingin merasakan kebebasan menikmati pengalaman skydiving. Misalkan kamu sedang dalam perjalanan ke bandara untuk pertama kalinya skydiving tapi mobilmu mengalami kecelakaan lalulintas. Kamu tidak lagi bebas untuk skydiving, walaupun kamu punya ketrampilan skydiving tapi kesempatannya sudah lewat karena kamu harus menunggu mobil derek. Kamu tidak punya kebebasan karena kehilangan kesempatan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau kamu berhasil sampai ke bandara tapi kelas latihan skydving sudah selesai sehingga kamu tidak tahu cara skydiving. Kamu tidak punya pengetahuan praktis misalkan bagaimana cara membuka parasutnya. Kesempatan ada tapi kamu tidak punya kebebasan karena tidak punya ketrampilan skydiving. Mereka tidak akan mengijinkan kamu skydiving. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau kamu sampai ke bandara, kamu ikut semua kelas latihannya, kamu punya ketrampilan melakukannya. Kamu naik ke pesawat tapi begitu pintu di buka, kamu lihat keluar, kamu tidak berani lompat keluar pesawat. Ada kesempatan, ada kemampuan tapi kamu tidak punya kebebasan karena ketakutan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi ada satu syarat lagi untuk mendapatkan kemerdekaan yang utuh. Misalkan kamu ke bandara tanpa hambatan (kamu bebas karena ada kesempatan), kamu tahu cara skydiving (kamu bebas karena ada kemampuan), kemudian kamu juga punya keberanian melompat keluar dari pesawat (kamu bebas lakukan keinginanmu). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kamu terjun bebas, selagi menikmati semuanya, di luar pengetahuanmu ternyata parasutmu tidak bisa di buka. Coba pikirkan apakah kamu benar-benar merdeka? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak. Kamu tidak benar-benar merdeka. Apa yang sedang kau lakukan dengan penuh kegembiraan ini akan membunuhmu. Walaupun sekarang ini kamu belum menyadarinya bahwa sebenarnya kamu dalam perhambaan yang membawamu kepada kebinasaan. Selagi menikmati skydiving rasanya sangat bebas merdeka. Tapi sebentar lagi, semua kegembiraan dan kenikmatannya terbukti hanyalah ilusi. Dalam tiga puluh detik kamu akan mati.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Supaya kamu benar-benar merdeka, Anak Allah harus membebaskanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Mati dan Bangkit Untuk Benar-Benar Memerdekakanmu====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak punya parasut. Kita punya Juru Selamat. Karena Dia mati bagi kita, tidak ada penghukuman bagi kita. Dosa kita di perumpamakan seperti gaya gravitasi yang pasti menarik kita meluncur ke bawah dan ujungnya adalah kematian. Gaya gravitasi itu di patahkan dan Dia menangkap kita saat kita sedang meluncur ke bawah. Dia menjadi Harta yang paling berharga. Tujuan hidup dan keinginan kita di perbaharui. Tuhan Yesus menjadi sumber segalanya. Tuhan Yesus menjadi kepuasan mereka. Yesus berikan kita keinginan yang baru yaitu Dia sendiri. “Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun akan benar-benar merdeka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika demikian, bukankah bodoh orang kristen yang iri akan kebebasan mereka yang terjun bebas dari jendela dosa gedung tinggi dan menikmati kegembiraan dalam terjun bebas keserakahan atau terjun bebas narkoba, atau terjun bebas kemashyuran atau terjun bebas seks bebas atau terjun bebas kekuasaan atau terjun bebas kemewahan. Dan itu semua tanpa Yesus di dalamnya. Kebebasan jenis ini seperti uap. Tapi mereka yang percaya kepada Yesus dan mejadikanNya sebagai harta yang paling berharga akan terbang tinggi bagai rajawali dan bersukacita selama-lamanya. Mereka akan benar-benar merdeka. Tuhan Yesus bukan hanya memberi pesan ini sebagai informasi saja. Yesus mengundang kamu sekalian. Percayalah kepadaNya. Muliakanlah Dia. Yesus mati dan bangkit untuk memerdekakanmu.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 17 Mar 2021 18:52:22 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kamu_Akan_Mengetahui_Kebenaran_dan_Kebenaran_Itu_Akan_Memerdekakan_Kamu</comments>		</item>
		<item>
			<title>Pernikahan: Mengampuni dan Sabar Menanggung</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pernikahan:_Mengampuni_dan_Sabar_Menanggung</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Marriage: Forgiving and Forbearing}}&amp;lt;br&amp;gt;  &amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Kolose 3:12-19&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Ny...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Marriage: Forgiving and Forbearing}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Kolose 3:12-19&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.”&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin kalian masih ingat, istriku Noel pernah bilang, “Saya tidak akan bosan-bosannya mengatakan sekali lagi bahwa perkawinan adalah contoh hubungan Kristus dengan jemaat (lihat Efesus 5:31-32). Saya setuju dengan Noel dengan tiga alasan. Saya akan sebutkan dua. Alasan yang pertama adalah perkataan ini menempatkan perkawinan ke tempatnya yang semestinya yaitu untuk kemuliaan Tuhan. Yang kedua, menyatakan bahwa perkawinan adalah contoh hubungan Kristus dan jemaat menegaskan bahwa dasar pernikahan adalah kasih karunia. Karena dengan kasih karunialah Kristus menjadikan jemaat sebagai mempelaiNya, hanya dengan anugrah saja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pernikahan: Wadah Memperlihatkan Tuhan dan  PekerjaanNya ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya berusaha menunjukkan bahwa perkawinan adalah wadah untuk memperlihatkan Tuhan dan pekerjaanNya. Yaitu kemuliaanNya – perkawinan adalah dari Dia, melalui Dia dan untuk Dia. Tujuan perkawinan manusia adalah sementara, tapi mengarahkan kepada sesuatu yang kekal yaitu Kristus dan jemaat/gerejaNya. Dan saat dunia ini sudah berlalu, perkawinan akan berlalu juga,  lenyap menuju kepada realita yang lebih superior yaitu “perkawinan” antara Kristus sebagai mempelai pria dengan orang percaya (gereja) sebagai mempelai wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus katakan di Matius 22:30, “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.” Karena itulah ayahku, Bill Piper tidak akan menjadi pria yang punya dua istri di saat hari kebangkitan. Ibuku dan juga ibu tiriku sudah meninggal. Ayahku menjalani pernikahan selama tiga puluh enam tahun dengan ibuku dan setelah ibuku meninggal, dia menikah selama dua puluh lima tahun dengan ibu tiriku. Namun di hari kebangkitan nanti bayangan (perkawinan di dunia)  akan menjadi realita (persekutuan Yesus dengan gerejaNya). Perkawinan di hari kebangkitan mengarah kepada kemuliaan Kristus dan gerejaNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pernikahan: Tertanam di dalam Kasih Karunia====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poin minggu lalu adalah bahwa fondasi perkawinan adalah anugrah/kasih karunia. Secara vertikal kita terima kasih karunia  dari Kristus melalui kematianNya di atas kayu salib dan kemudian kasih karunia  itu kita bagikan secara horisontal dari suami kepada istri dan istri kepada suami. Kolose 2:13-14 dan kolose 3:13 menunjukkan struktur dari perkawinan kristiani  ( atau perkawinan dimana hanya salah satu pasangan adalah orang kristen ). Kolese 2:13b-14 menyatakan kepada kita bagaimana Tuhan menyediakan dasar dari pengampunan dosa kita: “……  sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita”. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib”. Poinnya adalah bukan paku dan kayu salib yang meniadakan dosa tapi luka paku yang di tancapkan di tangan dan kakiNya yang menghapus dosa (Yesaya 53:5-6). ‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Menerima Kasih Karunia Untuk di Teruskan kepada Sesama====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah di tunjukkan kepada kita dasar pengampunan Tuhan di atas kayu salib, Paulus katakan di Kolose 3:13b, “sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.” Dengan kata lain, terimalah anugrah dan pengampunan dosa dan pembenaran yang sudah kamu terima dari atas melalui pengorbanan Kristus dan teruskan anugrah itu kepada sesamamu. Terutama suami kepada istri dan istri kepada suami. Saya punya pertanyaan: Mengapa yang di tekankan adalah mengampuni dan sabar menanggung? Mengapa tidak menekankan kepada romantisme dan saling bermesraan? Ada tiga jawabannya:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Karena hidup di dalam dunia yang jatuh di dalam dosa maka pasti akan ada konflik sehingga kita perlu untuk mengampuni dan bersabar terhadap perselisihan dan seringkali tidak ada titik temunya;&lt;br /&gt;
#Karena sulit utk dapat mengampuni dan bersabar namun kesulitan inilah yang memungkinkan kasih seseorang tumbuh kepada pasangannya pada saat  kasih mereka sepertinya sudah mau mati;&lt;br /&gt;
#Karena Tuhan di muliakan ketika dua orang yang tidak sempurna berusaha hidup  setia  di dalam api penderitaan dengan bersandar kepada Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Perpisahan untuk Beri Ruang Bagi Pertobatan ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hari ini saya mau berbicara lebih dalam mengenai mengampuni dan sabar menanggung. Saya mau katakan bahwa saya paham ada dosa yang di lakukan oleh pasangan hidup yang mendorong pengampunan dan kesabaran melewati batas seakan- akan menjadi pembiaran dosa. Situasi semacam ini memerlukan perpisahan sementara untuk beri ruang bagi pasangan untuk pertobatan. Situasi seperti menyerang secara fisik, perzinahan, menyiksa anak, mabuk di sertai pemukulan, kecanduan judi atau mencuri atau berbohong yang menghancurkan keluarga. Tujuan saya hari ini bukan membicarakan hal ini, saya akan bahas itu ketika saya sampai ke topik perpisahan, cerai dan kawin lagi. Hari ini saya berusaha tunjukkan prinsip alkitabiah dari pengampunan dan kesabaran yang bisa cegah perpisahan dan mungkin bisa menarik beberapa perkawinan yang sudah di ambang jurang kehancuran atau bahkan bisa menyelamatkan pernikahan dari perceraian. Dan saya berdoa tulisan ini dapat menuai benih di hati anak-anak dan muda-mudi yang suatu hari nanti akan  menikah bahwa mereka akan membangun perkawinan mereka di atas batu karang anugrah/kasih karunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Fondasinya: Kristus dan KaryaNya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum  Paulus berbicara di kolose 3:12,  dia telah meletakkan suatu fondasi besar di dalam  Kristus dan karyaNya di atas kayu salib. Inilah fondasi pernikahan dan segala  yang hidup. Peperangan utama dalam hidup ini dan dalam perkawinan adalah perjuangan untuk percaya kepada Kristus dan karyaNya. Maksudku benar-benar percaya – sungguh yakin, menerimanya, menyimpan dalam hati, menghargainya, bersandar kepadanya maka hidupmu terbentuk oleh kepercayaan itu. Jadi di kolose 3:12, Rasul Paulus mendorong kita dengan kata-kata yang membangkitkan emosi kita menuju kepada realita yang berdiri di atas Kristus dan karya keselamatanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Orang pilihan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada tiga gambaran dirimu sebagai orang percaya: di pilih Tuhan, kudus dan di kasihi. Kita adalah pilihan Tuhan. Sebelum dunia di jadikan, Tuhan sudah memilih kita di dalam Kristus. Paulus gambarkan ini dengan  indahnya  di Roma 8:33: “Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah?”. Jawabannya tentu saja tidak seorangpun yang dapat menggugat orang pilihan Allah. Paulus ingin kita rasakan bagaimana indahnya sebagai orang pilihan dan orang yang di kasihi. Jika kamu menolak percaya bahwa kamu di pilih artinya kamu menolak di kasihi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kudus====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Tuhan katakan kita kudus, yaitu kita di khususkan untuk Tuhan. Kita di pilih untuk suatu tujuan yaitu menjadi kudus. Efesus 1:4, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” 1 Petrus 2:9, “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, …….. bangsa yang kudus.” Awalnya ini adalah posisi kita di hadapan Tuhan dan juga ketetapan Tuhan bagi kita yang kemudian menjadi sikap kita. Karena itulah Tuhan memberitahu kita untuk sikap apa yang harus kita “kenakan”. Tuhan tahu kita belum benar-benar mengenakan manusia baru kita. Dia memanggil kita untuk menjadi kudus di dunia ini karena kita kudus di dalam Kristus. Kenakanlah pakaian yang sesuai dengan jati dirimu. Pakailah kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Di Kasihi ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Dia memanggil kita untuk di kasihi. “''Pilihan Tuhan, kudus dan di kasihi.''” Allah pencipta langit dan bumi memilihmu,  mengkhususkan kamu untuk DiriNya, dan mengasihimu. Tuhan berdamai denganmu, bukan memusuhimu. “ Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, ketika kita masih berdosa, karena Kristus telah mati untuk kita” (Roma 5:8). Inilah awalnya cara suami dan istri saling mengampuni dan bersabar. Mereka terpesona oleh kebenaran ini. Para suami, coba untuk melihat dan menikmati kebenaran ini. Para istri, lihatlah dan kecaplah keindahan kebenaran ini. Hidupilah kebenaran ini. Bersukacitalah. Dapatkan pengharapan dari kebenaran ini – bahwa kamu adalah ''pilihan Tuhan, di khususkan dan di kasihi Tuhan''. Naikkan permohonan kepada Tuhan bahwa kebenaran ini menjadi detak jantung hidupmu dan juga detak jantung pernikahanmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kesadaran Identitas Baru di Dalam Jiwa Melahirkan Perilaku Yang Baru====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berdasarkan identitas yang baru, identitas yang berpusat kepada Tuhan, kita diperintahkan untuk “mengenakan.” Bagaimana orang yang di  pilih, kudus dan di kasihi mengenakan pakaiannya? Artinya sikap dan perilaku macam apa yang sesuai dan sikap yang bagaimana yang muncul karena kesadaran kita bahwa kita adalah orang pilihan, orang yang di khususkan untuk Tuhan, orang yang di kasihi di dalam Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada tiga kesadaran di dalam yang menghasilkan tiga sikap yang tampak di luar.  “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dari Belas Kasihan kepada Kemurahan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat 12: “Belas kasihan, kemurahan.” Belas kasihan adalah kondisi di dalam sedangkan kemurahan adalah perilaku yang tampak di luar. Belas kasihan yang ada  di dalam  akan berbuahkan kemurahan hati jika berada di tanah yang baik. Jadi para suami, tanamkan akar imanmu di dalam Kristus sampai menjadi orang yang lebih berbelas kasih. Demikian juga para istri, tanam akar imanmu di dalam Kristus sampai kamu menjadi orang yang lebih berbelas kasih. Kemudian perlakukanlah satu sama lain dengan kemurahan hati yang mengalir keluar dari belas kasih. Pergumulan kita adalah melawan manusia batin kita yang tidak berbelas kasih. Berjuanglah melawan itu dengan iman di dalam doa. Tidakkah kau terpukau, hancur hati, rindu membangun diri, bersukacita dan berbelas kasih karena kau sudah di pilih, di kuduskan dan di kasihi? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dari Kerendahan Hati kepada Kelemahlembutan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikutnya adalah “kerendahan hati, kelemahlembutan.” Sama dengan di atas, rendah hati adalah kondisi hati sedangkan lemah lembut adalah sikap luaran yang lahir dari kerendahan hati. Orang yang rendah hati  tidak akan bersikap angkuh, malah akan bersikap lemah lembut. Kelemahlembutan akan melayani dan mengutamakan orang lain terlebih dulu. Begitulah jika engkau rendah hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi para suami biarlah imanmu berakar di dalam Kristus sehingga kamu dari hari ke sehari semakin rendah hati. Demikian juga dengan para istri. Kemudian perlakukanlah satu sama lain dengan kelemahlembutan yang mengalir dari kerendahan hatimu. Perjuangannya adalah melawan kesombonganmu dan egomu. Perangilah dengan iman di dalam doa. Tidakkah kau terpukau, hancur hati, ingin membangun diri, bersukacita dan berbelas kasih karena kau sudah di pilih, di kuduskan dan di kasihi?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dari Kesabaran kepada Sabar Menanggung dan Mengampuni====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terakhir adalah kesabaran di dalam menghasilkan sikap yang mudah mengampuni dan sabar menanggung kelemahan orang lain.  Ayat 12:  “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terjemahan literal dari kesabaran adalah sabar menanggung (makrothumian). Artinya menjadi orang yang tidak bersumbu pendek namun punya sumbu yang sangat panjang. Menjadi orang sabar, lambat untuk marah ,cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata (Yakobus‬ ‭1:19). Ketiga kondisi hati tersebut diatas saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain.  Belas kasihan dan kerendahan hati memimpin kepada kesabaran (sabar menanggung). Jika engkau cepat marah, tidak sabar, akar permasalahannya mungkin karena kurang belas kasihan dan kurang kerendahan hati. Dengan kata lain, kesadaran bahwa kita di pilih, di kuduskan dan di kasihi belum ‬sampai meremukkan hati dan melepaskan kita dari ego dan kesombongan. ‬‬‬‬&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi para suami tancapkan akar imanmu di dalam Kristus sampai kamu menjadi lebih berbelas kasih dan lebih rendah hati dengan demikian kamu akan menjadi lebih sabar. Para istri tancapkan akar imanmu di dalam Kristus sampai kamu menjadi lebih berbelas kasih dan lebih rendah hati dengan demikian kamu akan menjadi lebih sabar. Setelah itu perlakukan satu sama lain dengan ….. apa? Hati yang berbelas kasih memimpin kepada murah hati; kerendahan hati memimpin kepada kelemah lembutan; dan sekarang kesabaran memimpin kepada apa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dua Hal: Sabar Menanggung dan Mengampuni====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ada dua hal, bukan satu. Yang pertama, “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain”  dan yang kedua,” ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain.” Sabar menanggung dan mengampuni. Apa artinya dan bagaimana aplikasinya di dalam pernikahan? Yang pertama kata “sabar”. Kata ini secara literal artinya dapat menanggung suatu kesusahan (situasi), kelemahan (orang) dengan sabar. Yesus gunakan kata ini di Lukas 9:41: ”Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Rasul Paulus gunakan juga di 1Korintus4:12: “kalau kami dianiaya, kami sabar.”  Karena itu jadilah orang yang sabar terhadap satu sama lain. Sabar menanggung. “Kasih  menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan.” ‭‭(1 Korintus‬ ‭13:7-8‬). ‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬‬&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata keduanya adalah mengampuni. Paling tidak ada dua kata mengampuni di Perjanjian Baru. Yang di pakai di sini adalah ''charizomenoi'' artinya tanpa syarat atau memberi karena  kemurahan hati. Jadi bukan memberi dengan perhitungan. Tapi perlakukanlah  orang lain lebih dari yang selayaknya mereka terima. Penjabarannya seperti ini, jika kamu mengampuni seseorang ketika dia menyalahi dirimu maka orang itu berhutang kepadamu. Menurut hitungan keadilan seharusnya kamu punya hak menyakiti dia seperti dia menyakitimu. Namun kamu tidak menuntut keadilan itu sebaliknya kamu engkau membalas dengan kebaikan sebagai ganti kejahatannya. Inilah arti kata ''charizomai''. Sikap kita adalah mengampuni. Kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tapi kita memberkati (1 Korintus 4:12; 1 Tesalonika 5:15; Matius 5:44; Lukas 6:27).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pengharapan kita Ada di Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasul Paulus mengatakan bahwa pengampunan dan kesabaran sangat penting untuk hidup bersama, baik di gereja maupun dalam perkawinan. Pengampunan mengatakan: Saya tidak membalas perbuatan jahatmu atau saya tidak marah karena kebiasaanmu yang menjengkelkan. Kesabaran mengakui bahwa perbuatanmu jahat dan kebiasaan jelekmu itu sangat menggangguku. Jika tidak ada yang menjengkelkan dari orang lain maka tidak perlu mengatakan “ sabarlah satu sama lain.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat menikah dengan seseorang, kita tidak bagaimana mereka berubah tiga puluh tahun kemudian. Nenek moyang kita membuat janji pernikahan dengan kesadaran akan realitas hidup ini bahwa seseorang pasti berubah. Janji pernikahan “untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya; Pada waktu ''susah'' maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun ''kekurangan'', pada waktu sehat maupun ''sakit'', untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Allah yang kudus, dan inilah janji setiaku yang tulus.” Kita tidak tahu bagaimana orang yg kita nikahi ini berubah di kemudian hari. Bisa berubah lebih baik atau lebih buruk. Pengharapan kita bersandarkan pada ini: Bahwa kita di pilih, kudus dan beroleh kasihNya. Allah bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagus mereka yangmengasihiNya.   &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tumpukan Kompos====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada apa dengan tumpukan kompos? Bayangkan perkawinanmu seperti padang berumput hijau. Kau memasuki perkawinan penuh dengan harapan dan sukacita. Kau melihat masa depan penuh dengan bunga yang indah, pepohonan dan bukit-bukit hijau. Dimata kalian itu yang kalian lihat. Hubungan kalian adalah padang rumput, bunga dan bukit indah. Namun tidak lama kemudian kamu mulai menginjak kotoran sapi. Ada dosa, kekurangan, keantikan, kelemahan dan kebiasaan pasangan kita yang menjengkelkan. Kamu coba untuk memaafkan dan bersabar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi mereka berusaha mendominasi hubungan kalian. Apa yang saya katakan mungkin berlebihan tapi rasanya dimana-mana ada kotoran sapi. Menurutku kombinasi dari kesabaran dan pengampunanlah yang menciptakan tumpukan kompos. Di sinilah anda mulai ambil sekop dan kumpulkan kotoran sapi itu. Kalian saling melihat dan mengakui bahwa ada banyak kotoran sapi. Tapi kalian saling berkata: pernikahan kita lebih berharga di banding semua kotoran sapi ini. Kita tidak dapat melihat betapa berharganya hubungan kita karena kita terlalu fokus kepada kotoran sapi ini.  Ayo kita buang semua kotoran ini jadi satu tumpukan  dan jadikan kompos. Ada saat dimana kita ke tumpukan kompos itu mencium bau busuknya dan merasa susah kemudian hadapi dan bereskan semampunya. Setelah itu kita tinggalkan tumpukan kompos itu dan arahkan mata kepada padang berumput hijau yang ada. Kita pilih jalan setapak  favorit kita dan bukit-bukit yang bersih dari kotoran sapi. Dan kita bersyukur atas bagian padang rumput yang manis itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin tangan kita kotor dan punggung kita sakit karena menyekop semua kotoran sapi itu. Namun satu hal yang pasti: kita tidak memasang kemah kita di sebelah tumpukan kompos itu. Kita hanya kesana jika di butuhkan. Ini adalah anugrah yang saling kita berikan terus dan terus dan terus- karena kita di pilih dan kudus dan beroleh anugrah kasihNya.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 27 Jan 2021 20:01:08 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Pernikahan:_Mengampuni_dan_Sabar_Menanggung</comments>		</item>
		<item>
			<title>Empat Kunci Memuaskan Jiwa yang Lapar</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Empat_Kunci_Memuaskan_Jiwa_yang_Lapar</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Four Keys to Satisfying Your Starving Soul}}&amp;lt;br&amp;gt;  &amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup y...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Four Keys to Satisfying Your Starving Soul}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia,  yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. – 2 Petrus 1:3-4&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika boleh jujur, kita semua dalam keadaan yang kelaparan. Lapar akan sesuatu yang menopang kita, yang memelihara harapan kita, yang menguatkan kita melalui pencobaan, yang membantu kita mengalahkan dosa. Kita lapar akan makanan yang mengenyangkan kita untuk pertarungan iman sehari-hari.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi seperti apa pertarungan itu? Dan bagaimana kita menemukan makanan yang kita butuhkan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tujuan Kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan kita adalah bersama dengan Tuhan dan menjadi seperti diriNya, untuk “mengambil bagian dalam kodrat ilahi,” (2 Petrus 1:4). Petrus ingin kita menikmati persekutuan dan keintiman yang lebih luar biasa lagi dengan Tuhan dengan menjadi seperti Dia, dengan bertumbuh dalam kesalehan. Kita lebih menikmati hidup dengan menjadi lebih seperti Tuhan, yang adalah Hidup.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika tidak berhati-hati, kita dengan mudah akan tergelincir pada tujuan lain yang akan merampas kehidupan kita, tujuan yang menjanjikan banyak namun pada akhirnya hasilnya sangat sedikit – pencapaian yang egois, pikiran yang bernafsu, obsesi yang jahat, konsumsi yang berlebihan, kemalasan yang menggelisahkan. Tujuan ini mungkin mudah dan menyenangkan untuk sementara, tetapi hanya membuat kita semakin lapar. Yang jiwa kita butuhkan adalah Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda percaya kepada Yesus, diampuni dan diselamatkan dari dosa Anda, Anda memang dan akan tetap tidak sempurna dan hancur. Tujuan baru kita dalam hidup baru ini bukanlah kesempurnaan, seolah itu bisa memberi kita tempat di surga. Tujuan kita adalah untuk menjalani kehidupan yang lebih dan lebih menyenangkan bagi Tuhan yang kita cintai, dan dengan melakukan itu, untuk dapat lebih hidup dan bersukacita di dalam Dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Musuh kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi jika itu tujuan kita, apa yang menghalangi kita? Untuk menjadi seperti Tuhan, kita harus menghindari “kerusakan keinginan yang berdosa” (1: 4). Rintangan terbesar kita untuk lebih menikmati Tuhan adalah keinginan-keinginan jahat kita sendiri. Mereka berusaha untuk membuat jiwa kita kelaparan dan akhirnya kita mengemis untuk sisa-sisa makanan di sepanjang jalan kekekalan. Tuhan tahu yang lebih baik, dan dia menawarkan kita yang lebih baik.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataannya adalah kita akan menderita dalam hidup ini, orang-orang akan berbuat jahat pada kita, dan iblis berbohong dalam rencana rahasianya untuk mencuri harapan dan iman kita. Namun musuh terbesar kita bukanlah penderitaan, orang berdosa, atau Setan. Diri kita sendiri –– dosa yang masih melekat di hati kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita ingin mengenal Tuhan, menjadi seperti Dia, bersama Dia, kita harus terus dilepaskan dari dosa kita dalam hidup ini. Bagi kita yang mengasihi Yesus, perang ini telah diputuskan, dan kita sekarang sedang mengerjakan kemenangan kita setiap hari sampai Yesus datang kembali dan mengakhiri peperangan ini untuk selamanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus melakukan pekerjaan yang mutlak untuk selamanya di kayu salib, tetapi ada peran yang harus kita kerjakan. Kita harus membuat keputusan nyata. Kita harus mengambil langkah untuk menghadapi musuh dalam diri kita ini dan mematikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kemampuan Kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian dosa kita tentu terdengar sangat manis, sampai kita berusaha mematikannya. Musuh terbesar kita, dosa, juga merupakan rintangan terbesar kita. Ditempatkan dengan sempurna untuk merusak tujuan besar dari kehidupan baru kita. Puji Tuhan, Dia tidak mempertaruhkan pertempuran ini pada kemampuan kita. &amp;quot;Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh…&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara untuk menikmati Tuhan lebih lagi adalah dengan hidup seperti Dia. Dan kekuatan untuk hidup seperti Dia bukanlah milik kita, tapi milik-Nya. Kita menemukan pertolongan yang pasti di tangan Tuhan, dalam kekuatan-Nya – kekuatan yang membentuk gunung, yang membuat sungai, yang menyalakan bintang-bintang, dan menghembuskan kehidupan pada beruang, hiu, dan elang botak; kekuatan yang membangun alam semesta, mengatur bangsa-bangsa, dan menghakimi semua orang. Ketika Anda hidup dengan kekuatan itu, Anda tidak kekurangan apa pun di jalan menuju kesalehan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Amunisi Kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan “telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi,” (2 Petrus 1:4). Amunisi bagi peperangan kita setiap hari adalah janji-Nya – lebih spesifik lagi, janji yang telah dibayar dengan darah-Nya. Ini yang menjadi jamuan bagi kita. Saat jiwa kita yang lapar meraung-raung, inilah yang jiwa kita inginkan. Janji-janji ini begitu spesifik.  Anda dapat menemukannya, memahaminya, mengingatnya, dan membagikannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kita lapar secara fisik, kita tidak hanya membicarakan tentang makanan. Kita mencari makanan – roti lapis kalkun dengan roti gandum, burger keju Wendy’s dengan saus cabai, salad ayam panggang, trail mix, atau Cliff bar. Memikirkan makanan tidak mengurangi rasa lapar kita jika kita tidak mengidentifikasi sesuatu yang spesifik dan dapat dimakan dan memasukkannya ke dalam mulut kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demikian juga dengan janji Tuhan. Kita tidak bisa memenangkan pertempuran atas dosa, penderitaan, dan Setan hanya dengan mengakui bahwa kita membutuhkan janji Tihan. Tidak! Apakah itu? Bagaimana janji Tuhan itu akan mencegah saya berdosa atau putus asa atau ragu? Jika ingin janji Tuhan memenuhi tujuan-Nya, kita harus mengetahuinya, melatihnya, dan menyuarakannya satu sama lain. Janji seperti ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. (2 Korintus 3:18)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. (Wahyu 21:4)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. (Efesus 1:6)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Makanlah====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setidaknya sesering perut Anda lapar, demikian pula hati dan jiwa Anda lapar. Carilah janji Tuhan ketika Anda membaca Alkitab, janji yang spesifik, dan beri makan jiwa Anda yang lapar. Makanlah janji Tuhan itu. Makanlah setiap hari dan sepanjang hari. Makanlah makanan lengkap. Makanlah camilan. Makanlah makanan rutin. Makanlah secara spontan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan saat Anda melakukannya, Anda akan menjadi makin seperti Tuhan. Dan saat Anda menjadi makin seperti Dia, Anda akan mengalami kehidupan yang lebih berkelimpahan yang telah Dia berikan kepada Anda, dengan lebih sedikit dari dosa yang darinya Dia telah menyelamatkan Anda.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 06 Jan 2021 18:52:48 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Empat_Kunci_Memuaskan_Jiwa_yang_Lapar</comments>		</item>
		<item>
			<title>Menyingkirkan Beban Ketidakpuasan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Menyingkirkan_Beban_Ketidakpuasan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;{{info|Lay Aside the Weight of Discontentment}}&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13)&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perlombaan iman, penting untuk diingat bahwa kepuasan atau perasaan cukup itu tidak ditentukan oleh keadaan kita. Kita sering kali ingin menyalahkan keadaan atas ketidakpuasan kita, tapi itu salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepuasan ditentukan oleh apa yang kita percaya. Dan kepercayaan kita itu didorong oleh apa yang kita lihat. Jadi, jika hari ini Anda ingin mengesampingkan beban (Ibrani 12: 1) ketidakpuasan — yang berdosa, yang berasal dari kekecewaan dan mengarah pada persungutan — mulailah dengan melihat apa yang Anda lihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;h4&amp;gt;Kepuasan Muncul Ketika Memandang Upahnya&amp;lt;/h4&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Saat Paulus menulis kata-kata di atas, dia sedang (lagi-lagi) berada di dalam penjara. Penjara adalah tempat yang buruk pada zaman Paulus dan dia tahu dia bisa saja mati. Kematian yang dia rasa tidak akan menyenangkan. Itulah sebabnya dia menulis,&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku,” (Filipi 1:20).&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Paulus bisa duduk di penjara, seringkali menderita kelaparan dan dipermalukan, mengetahui dia mungkin saja dibunuh, dan berkata, &amp;quot;dalam situasi apa pun saya... puas&amp;quot;? Karena dia melihat Upah itu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Filipi 3:8).&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Yesus adalah harta berharga bagi Paulus. Apa yang dilihat Paulus dalam diri Yesus adalah dengan yang dilihat pria dalam perumpamaan Yesus di ladang:&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu,” (Matius 13:44).&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Sebelum pria itu melihat harta karun, apakah dia akan puas jika menjual segalanya dan membeli ladang itu? Tidak akan. Namun setelah melihatnya, pria itu langsung pergi ke juru lelang. Apa bedanya? Dia melihat harta karun itu.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Rahasia kepuasan dalam &amp;quot;situasi apapun&amp;quot; adalah melihat Harta Karun yang mengalahkan segala hal lainnya.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;h4&amp;gt;Tiga Langkah untuk Mendapatkan Upah&amp;lt;/h4&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Ketidakpuasan yang berdosa adalah beban yang harus dikesampingkan. Tetapi Anda juga dapat menganggapnya sebagai tolak ukur di dalam hati Anda yang memberi tahu Anda ketika mata rohani Anda telah menyimpang dari Upah yang sebenarnya. Saat Anda mulai menyadari adanya ketidakpuasan, hentikan apa yang Anda lakukan, lihatlah apa yang Anda sedang pandang, dan arahkan pikiran Anda ke Harta yang sebenarnya itu.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;1.	Berhenti&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Saat Anda menyadari munculnya ketidakpuasan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan apa yang Anda lakukan. Berhentilah mengomel dan mengeluh. Berhentilah merajuk atau mencak-mencak di rumah. Berhentilah mengkritik orang lain, yang sering kali berasal dari ketidakpuasan yang melimpah di dalam hati. Berhentilah melihat katalog, Tweet, dan halaman Facebook yang menghasilkan ketamakan. Berhenti dan…&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;2.	Lihat&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Lihatlah apa yang Anda pandang. Anda tidak puas karena Anda melihat adanya halangan antara Anda dan Upah Anda. Sebutkan Upah yang Anda inginkan. Mungkin bukan Yesus karena Roma 8: 38–39 mengatakan kepada kita bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Yesus.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;3.	Berpikirlah&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Mengembalikan pandangan mata iman kita pada Upah yang benar hanya dapat dilakukan dengan berpikir. Apa yang kita pikirkan adalah apa yang kita rasakan. Kita tidak puas karena kita memikirkan hal-hal yang salah dan menjadi terbebani dengan frustrasi. Saatnya kita mengambil kuk yang enak (Matius 11:30) dari kegembiraan di dalam Yesus dengan melakukan apa yang Paulus perintahkan pada orang Filipi:&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4: 8).&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Jangan biarkan ketidakpuasan menguasai Anda hari ini. Singkirkan beban berat ini dengan memusatkan pandangan Anda pada Yesus (Ibrani 12: 2), yang melebihi segalanya, ketika Anda melihatnya, membuat keadaan terburuk dunia ini tidak dapat mengguncangkan Anda.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 06 Jan 2021 18:43:38 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Menyingkirkan_Beban_Ketidakpuasan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Menyingkirkan Beban Ketidakpuasan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Menyingkirkan_Beban_Ketidakpuasan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Lay Aside the Weight of Discontentment}}&amp;lt;br&amp;gt;  &amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaa...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Lay Aside the Weight of Discontentment}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:11-13)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam perlombaan iman, penting untuk diingat bahwa kepuasan atau perasaan cukup itu tidak ditentukan oleh keadaan kita. Kita sering kali ingin menyalahkan keadaan atas ketidakpuasan kita, tapi itu salah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepuasan ditentukan oleh apa yang kita percaya. Dan kepercayaan kita itu didorong oleh apa yang kita lihat. Jadi, jika hari ini Anda ingin mengesampingkan beban (Ibrani 12: 1) ketidakpuasan — yang berdosa, yang berasal dari kekecewaan dan mengarah pada persungutan — mulailah dengan melihat apa yang Anda lihat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kepuasan Muncul Ketika Memandang Upahnya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Paulus menulis kata-kata di atas, dia sedang (lagi-lagi) berada di dalam penjara. Penjara adalah tempat yang buruk pada zaman Paulus dan dia tahu dia bisa saja mati. Kematian yang dia rasa tidak akan menyenangkan. Itulah sebabnya dia menulis,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku,” (Filipi 1:20). &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Paulus bisa duduk di penjara, seringkali menderita kelaparan dan dipermalukan, mengetahui dia mungkin saja dibunuh, dan berkata, &amp;quot;dalam situasi apa pun saya... puas&amp;quot;? Karena dia melihat Upah itu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Filipi 3:8).&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus adalah harta berharga bagi Paulus. Apa yang dilihat Paulus dalam diri Yesus adalah dengan yang dilihat pria dalam perumpamaan Yesus di ladang:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu,” (Matius 13:44).&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum pria itu melihat harta karun, apakah dia akan puas jika menjual segalanya dan membeli ladang itu? Tidak akan. Namun setelah melihatnya, pria itu langsung pergi ke juru lelang. Apa bedanya? Dia melihat harta karun itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rahasia kepuasan dalam &amp;quot;situasi apapun&amp;quot; adalah melihat Harta Karun yang mengalahkan segala hal lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tiga Langkah untuk Mendapatkan Upah====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketidakpuasan yang berdosa adalah beban yang harus dikesampingkan. Tetapi Anda juga dapat menganggapnya sebagai tolak ukur di dalam hati Anda yang memberi tahu Anda ketika mata rohani Anda telah menyimpang dari Upah yang sebenarnya. Saat Anda mulai menyadari adanya ketidakpuasan, hentikan apa yang Anda lakukan, lihatlah apa yang Anda sedang pandang, dan arahkan pikiran Anda ke Harta yang sebenarnya itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;1.	Berhenti&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Anda menyadari munculnya ketidakpuasan, hal pertama yang harus dilakukan adalah menghentikan apa yang Anda lakukan. Berhentilah mengomel dan mengeluh. Berhentilah merajuk atau mencak-mencak di rumah. Berhentilah mengkritik orang lain, yang sering kali berasal dari ketidakpuasan yang melimpah di dalam hati. Berhentilah melihat katalog, Tweet, dan halaman Facebook yang menghasilkan ketamakan. Berhenti dan…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;2.	Lihat&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah apa yang Anda pandang. Anda tidak puas karena Anda melihat adanya halangan antara Anda dan Upah Anda. Sebutkan Upah yang Anda inginkan. Mungkin bukan Yesus karena Roma 8: 38–39 mengatakan kepada kita bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;i&amp;gt;3.	Berpikirlah&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengembalikan pandangan mata iman kita pada Upah yang benar hanya dapat dilakukan dengan berpikir. Apa yang kita pikirkan adalah apa yang kita rasakan. Kita tidak puas karena kita memikirkan hal-hal yang salah dan menjadi terbebani dengan frustrasi. Saatnya kita mengambil kuk yang enak (Matius 11:30) dari kegembiraan di dalam Yesus dengan melakukan apa yang Paulus perintahkan pada orang Filipi:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu (Filipi 4: 8).&amp;lt;/i&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan biarkan ketidakpuasan menguasai Anda hari ini. Singkirkan beban berat ini dengan memusatkan pandangan Anda pada Yesus (Ibrani 12: 2), yang melebihi segalanya, ketika Anda melihatnya, membuat keadaan terburuk dunia ini tidak dapat mengguncangkan Anda.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 06 Jan 2021 18:40:22 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Menyingkirkan_Beban_Ketidakpuasan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Yesus Selalu Menyelamatkan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Yesus_Selalu_Menyelamatkan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;{{info|Jesus Saves}}&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”&amp;lt;/i&amp;gt; (Lukas 19:10)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Jika kita diminta untuk menjelaskan inti Injil dalam satu kalimat, kekristenan dapat dirangkum dalam kata-kata ini: Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Tidak ada berita lain yang seperti ini. Semua agama lain mengatakan yang sebaliknya. Agama-agama lain menyuruh kita untuk mencari. Kita disarankan untuk memanjat pohon seperti Zakheus. Semua bergantung pada usaha kita sendiri agar kita bisa mendekat pada pribadi yang ilahi itu. Kita diperintahkan untuk menyeberang jurang dengan usaha kita. Kata mereka, “Jika Anda menginginkan keselamatan, maka carilah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Dalam arti tertentu, itulah dunia - kita hidup di planet yang penuh dengan para pencari. Kita, dengan satu atau lain cara, adalah pemanjat pohon, mengarahkan diri kita untuk mendapatkan keuntungan, mencapai suatu perspektif, menemukan kedamaian pribadi. Hingga kemudian Yesus datang.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Kita tersesat dalam pencarian kita sendiri sampai Yesus datang dan berkata kepada kita, “Segeralah turun” (Lukas 19:5). Hentikan pencarian Anda. Berhentilah mencoba menyelamatkan diri sendiri. AKU datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Pengerahan tenaga kita kemudian terhenti. Semua pencarian kita - usaha kita untuk mencapai Allah dengan usaha kita sendiri - dibungkam ketika kita mengetahui bahwa Allah telah menjangkau kita, dengan menjadi salah satu dari kita. Di sinilah kita, melakukan kesia-siaan dengan harapan mendapatkan Tuhan, dan kemudian Tuhan datang mendapatkan kita, meskipun usaha kita begitu remeh di mataNya. Jurang yang tidak bisa kita jembatani itu adalah beban yang Dia tanggung sendiri.&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Kita orang-orang terhilang, orang berdosa yang pantas menerima penghakiman Tuhan. Dan Yesus datang untuk mengambil penghakiman bagi kita. Dia menderita menggantikan kita di kayu salib, mati dan dikuburkan, dan kemudian dibangkitkan pada hari ketiga. Dia naik ke sebelah kanan Allah Bapa dari tempat Dia memerintah atas segalanya. Yesus mencari kita, dan dia telah menyelamatkan kita, jika kita percaya padanya. Apakah Anda percaya ini? Apakah Anda merasakan keajaiban keselamatan ini?&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;Yesus, kaulah yang menyelamatkan, bukan kami. Terima kasih atas menenangkan, meredakan angin kencang dari pekerjaan kami yang tanpa iman. Terima kasih telah menghentikan perjuangan jiwa kami. Kuasai kami lebih dan lebih lagi dengan kemuliaan kasih karunia-Mu, dan buat sikap kami terhadap orang lain menggemakan ringkasan InjilMu ini: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”&amp;lt;/i&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 05 Jan 2021 20:04:09 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Yesus_Selalu_Menyelamatkan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Yesus Selalu Menyelamatkan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Yesus_Selalu_Menyelamatkan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Jesus Saves}}&amp;lt;br&amp;gt;  &amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”&amp;lt;/i&amp;gt; (Lukas 19:10)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;  Jika kita diminta un...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Jesus Saves}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;i&amp;gt;“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”&amp;lt;/i&amp;gt; (Lukas 19:10)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita diminta untuk menjelaskan inti Injil dalam satu kalimat, kekristenan dapat dirangkum dalam kata-kata ini: Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada berita lain yang seperti ini. Semua agama lain mengatakan yang sebaliknya. Agama-agama lain menyuruh kita untuk mencari. Kita disarankan untuk memanjat pohon seperti Zakheus. Semua bergantung pada usaha kita sendiri agar kita bisa mendekat pada pribadi yang ilahi itu. Kita diperintahkan untuk menyeberang jurang dengan usaha kita. Kata mereka, “Jika Anda menginginkan keselamatan, maka carilah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam arti tertentu, itulah dunia - kita hidup di planet yang penuh dengan para pencari. Kita, dengan satu atau lain cara, adalah pemanjat pohon, mengarahkan diri kita untuk mendapatkan keuntungan, mencapai suatu perspektif, menemukan kedamaian pribadi. Hingga kemudian Yesus datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tersesat dalam pencarian kita sendiri sampai Yesus datang dan berkata kepada kita, “Segeralah turun” (Lukas 19:5). Hentikan pencarian Anda. Berhentilah mencoba menyelamatkan diri sendiri. AKU datang untuk mencari dan menyelamatkan yang terhilang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengerahan tenaga kita kemudian terhenti. Semua pencarian kita - usaha kita untuk mencapai Allah dengan usaha kita sendiri - dibungkam ketika kita mengetahui bahwa Allah telah menjangkau kita, dengan menjadi salah satu dari kita. Di sinilah kita, melakukan kesia-siaan dengan harapan mendapatkan Tuhan, dan kemudian Tuhan datang mendapatkan kita, meskipun usaha kita begitu remeh di mataNya. Jurang yang tidak bisa kita jembatani itu adalah beban yang Dia tanggung sendiri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita orang-orang terhilang, orang berdosa yang pantas menerima penghakiman Tuhan. Dan Yesus datang untuk mengambil penghakiman bagi kita. Dia menderita menggantikan kita di kayu salib, mati dan dikuburkan, dan kemudian dibangkitkan pada hari ketiga. Dia naik ke sebelah kanan Allah Bapa dari tempat Dia memerintah atas segalanya. Yesus mencari kita, dan dia telah menyelamatkan kita, jika kita percaya padanya. Apakah Anda percaya ini? Apakah Anda merasakan keajaiban keselamatan ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus, kaulah yang menyelamatkan, bukan kami. Terima kasih atas menenangkan, meredakan angin kencang dari pekerjaan kami yang tanpa iman. Terima kasih telah menghentikan perjuangan jiwa kami. Kuasai kami lebih dan lebih lagi dengan kemuliaan kasih karunia-Mu, dan buat sikap kami terhadap orang lain menggemakan ringkasan InjilMu ini: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 05 Jan 2021 20:03:37 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Yesus_Selalu_Menyelamatkan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Doa: Kuasa Hedonisme Kristen</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Doa:_Kuasa_Hedonisme_Kristen</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Prayer: The Power of Christian Hedonism}}&amp;lt;br&amp;gt;  &amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Yohanes 16:2'''&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;“Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Prayer: The Power of Christian Hedonism}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Yohanes 16:2'''&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;“Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.”&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kadang hedonis kristen di tanya, Apakah kamu mau di kutuk demi kemuliaan Tuhan? Maksudnya apakah kamu rela menyerahkan semua sukacitamu jika dengan demikian Tuhan akan semakin di muliakan? Pertanyaan ini seakan-akan menjadi dilema. Jika kita bilang tidak rela, maka kita sepertinya menempatkan kebahagiaan kita di atas kemuliaan Tuhan. Jika kita bilang rela, maka kita berhenti menjadi hedonis kristen karena kita tidak lagi mengejar sukacita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Asumsi Tidak Biblikal Mengenai Neraka dan Tuhan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Serangan terhadap hedonisme kristen ini gagal karena pertanyaan yang di ajukan mengandung dua asumsi yang tidak benar: satunya mengenai neraka, dan satunya lagi mengenai Tuhan. Ketika orang yang mengkritik bertanya,”apakah kamu bersedia masuk neraka demi kemuliaan Tuhan?”, sebenarnya dia gagal melihat bahwa jika kita jawab ya itu artinya keinginan kita yang terdalam adalah melihatTuhan di muliakan lewat hidup dan mati kita. Karena itu, jika kita harus masuk neraka agar Tuhan di muliakan, maka neraka menjadi sarana untuk memuaskan kerinduan kita. Jika demikian maka neraka tidak menjadi neraka lagi. Secara biblikal, neraka artinya penderitaan kekal, tidak ada kepuasan sama sekali disana. Jadi pertanyaan yang di ajukan oleh orang yang menyerang hedonisme kristen di bangun di atas asumsi yang tidak biblikal tentang neraka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Juga di bangun di atas asumsi yang tidak biblikal tentang Tuhan. Pertanyaan mereka berasumsi bahwa Tuhan dapat mengutuk seseorang yang bersedia menjadi terkutuk demi kemuliaan Tuhan. Namun ini adalah asumsi yang tidak biblikal. Komitmen Tuhan menegakkan kemuliaanNya artinya Tuhan juga akan menegakkan kemuliaan mereka yang menghargai kemuliaanNya di atas segalanya. Tuhan yang ada di alkitab tidak dapat mengutuk orang yang mengagumi kemuliaanNya. Karena itu pertanyaan,”Apakah kamu rela di kutuk Tuhan demi kemuliaanNya?”  melanggar keadilan Tuhan. Pertanyaan ini beri kita pandangan seakan-akan Tuhan itu tidak adil. Jadi dua pertanyaan ini berlawanan dengan prinsip alkitab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Keinginan Kita dan Kemuliaan Allah Adalah Satu Kesatuan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lagipula bukan hedonisme kekristenan yang di serang. Sasaran si musuh sebenarnya adalah orang yang menempatkan kehendaknya di atas kehendak Tuhan dan orang yang mengutamakan kebahagiaannya di atas kemuliaan Tuhan. Hedonisme kristiani tidak lakukan ini. Kita para hedonis kristen memang benar  mengejar kehendak dan kebahagiaan kita dengan seluruh jiwa raga, namun alkitab juga  katakan  Tuhan muliakan namaNya dengan cara mencurahkan kasih karuniaNya atas kita. Artinya dalam usaha kita  mencari  kehendak dan sukacita sejati tidak mungkin di atas kehendak Tuhan tapi selalu di dalam Tuhan. Satu kebenaran yang paling berharga di alkitab adalah bahwa cara Tuhan meninggikan kemuliaanNya adalah dengan menjadikan para pendosa beroleh sukacita di dalam Dia. Saat kita merendahkan diri seperti anak kecil dan tidak andalkan diri tapi dengan sukacita berlari  menghampiri Bapa maka kemuliaan Tuhan di tinggikan sekaligus keinginan jiwa kita terpuaskan. Di dalam bijaksana Tuhan dan oleh kasih karuniaNya, keinginan kita dan kemuliaan Tuhan adalah satu paket. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu contoh jelas bahwa usaha mencari sukacita kita dan mencari kemuliaan Tuhan adalah satu paket ada di pengajaran Yesus tentang doa di injil Yohanes yaitu Yohanes 14:13 dan 16:24. Ayat satunya menunjukkan doa adalah mencari kemuliaan Tuhan. Ayat lainnya menunjukkan doa adalah mencari sukacita kita. Di Yohanes 14:13  Tuhan Yesus berfirman “dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” Di Yohanes 16:24  Yesus berkata, “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Tujuan utama manusia adalah memuliakan Allah dan menikmati Tuhan selama-lamanya. Dua tujuan utama ini di persatukan di dalam doa. Seperti rusa haus yang berusaha minum dari sungai  demikian juga postur hedonis kristen adalah berlutut dalam doa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin kalian juga mengalami sama dengan apa yang saya alami,  perubahan musim panas yang santai berganti ke musim semi yang penuh dengan berbagai aktifitas, ini menganggu disiplin kehidupan doaku. Kita perlu seseorang yang bisa mengingatkan pentingnya kehidupan doa yg disiplin. Dengan begitu kita dapat kembali rutin bangun pagi untuk renungan dan doa atau meditasi firman di siang hari atau doa di malam hari. Kita perlu menetapkan dan mengatur ulang arah tujuan kita untuk setahun ini. Saya berharap hari ini adalah saatnya kamu memutuskan untuk mulai punya kehidupan doa yang disiplin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Doa sebagai Pencarian Kemuliaan Tuhan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita lihat bagaimana doa sebagai usaha mengejar kemuliaan Tuhan dan kemudian doa sebagai pencarian sukacita kita. Di Yohanes 14:13 Yesus mengatakan, “ Apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.” Misalkan kamu lumpuh total dan tidak dapat melakukan apapun, hanya bisa berbicara saja. Dan misalkan ada teman yang kuat dan dapat di andalkan mau tinggal menemani dan menolongmu. Bagaimana kamu memuji temanmu itu jika ada tamu yang datang mengunjungimu? Kamu dapat berkata,”Temanku dapatkah kamu mengendong aku ke posisi duduk dan sanggah pinggangku dengan bantal supaya aku dapat melihat tamuku. Dan bisa tolong pasangkan kacamataku? Jadi tamumu mengerti bahwa kamu tidak dapat berbuat apa-apa dan temanmu itu sangat kuat dan baik hati. Kamu memuji temanmu dengan cara menunjukkan betapa kamu butuh dia, meminta bantuannya dan bergantung kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di Yohanes 15:5 Yesus berkata,“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Jadi kita sebenarnya tidak dapat berbuat apa-apa.  Tanpa Kristus kita tidak mampu berbuat baik (Roma 7:18). Namun adalah kehendak Tuhan bahwa kita berbuah. Tuhan berjanji menolong kita (seperti teman yang kuat dan dapat di percaya itu) melakukan apa yang tidak dapat kita lakukan. Bagaimana kita meninggikan Tuhan? Yesus beri jawabannya di Yohanes 15:7, “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Kita berdoa. Kita minta kepada Bapa menolong kita melalui Kristus melakukan apa yang tidak mampu kita lakukan yaitu menghasilkan buah. Jadi bagaimana Tuhan di permuliakan dengan doa? Doa adalah pengakuan terbuka bahwa tanpa Kristus kita tidak dapat berbuat apa-apa. Dan doa adalah berpaling dari diri kepada Tuhan dengan kepercayaan yang kokoh bahwa Dia akan menyediakan pertolongan yang kita butuhkan. Doa merendahkan kita sebagai orang yang perlu pertolongan dan meninggikan Tuhan sebagai pihak yang menyediakan dan memberi pertolongan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat lain di Yohanes menunjukkan bagaimana memuliakan Tuhan, di Yohanes 4:9-10. Yesus minta minum kepada seorang wanita:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;“Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: ”Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Jawab Yesus kepadanya: ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu seorang pelaut yang punya penyakit kekurangan vitamin C, kemudian ada seorang yang sangat murah hati naik ke kapalmu, kantongnya penuh dengan vitamin C dan orang itu minta sepotong jeruk milikmu, kamu mungkin saja akan berikan kepadanya. Tapi jika kamu tahu dia sangat murah hati  dan dia membawa apa yang kau butuhkan untuk sembuh,  maka pasti situasi berubah menjadi kamulah yang meminta pertolongannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata kepada wanita itu, ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Aku, kamu akan berdoa kepadaKu.” Ada korelasi langsung antara tidak mengenal Yesus dengan benar dan tidak meminta banyak dari Dia. Gagalnya kehidupan doa kita biasanya karena kita gagal mengenal Yesus.  ”Jikalau engkau tahu  siapakah Aku yang berkata kepadamu, niscaya engkau akan meminta kepadaKu!” Orang kristen yang tidak berdoa adalah seperti sopir bis yang berusaha mati-matian dorong bisnya supaya  keluar dari lumpur karena dia tidak tahu ada Clark Kent di bis nya. “Jika kamu tahu, kamu akan minta.” Kristen yang tidak berdoa adalah seperti orang yang dinding kamarnya penuh dengan tempelan voucher hadiah dari toko Dayton tapi dia belanja di toko Rag Stock karena dia tidak dapat membaca. ”Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu, niscaya engkau akan meminta kepada-Nya – KAMU AKAN MEMINTA!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Implikasinya adalah mereka yang meminta – adalah orang kristen yang berdoa – mereka berdoa karena mereka melihat Tuhan adalah pemberi berkat dan bahwa Kristus adalah bijak, pemurah dan punya kuasa tanpa batas. Karena itu doa mereka meninggikan Kristus dan memuliakan BapaNya. Tujuan utama hidup manusia adalah untuk memuliakan Tuhan. Jadi jika kita mau menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki, kita harus menjadi orang yang suka berdoa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Doa sebagai Pencarian Sukacita Kita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tujuan utama manusia adalah juga menikmati Tuhan selamanya. Ini membawa kita kembali ke Yohanes 16:24,  “Yesus berkata, “Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Bukankah ini ada undangan utk kita mendapatkan hedonisme kristen? Kejarlah kepenuhan sukacitamu! BERDOA! Dari firman ini dan dari  pengalaman kita dapat tarik kesimpulan: di antara banyak orang yang mengaku kristen namun tidak punya kehidupan doa dipastikan hidup mereka tidak ada sukacita. Mengapa? Mengapa kehidupan doa yang dalam membawa kepada kepenuhan sukacita. Sedangkan kehidupan doa yang dangkal menghasilkan hidup yang tanpa sukacita. Yesus memberikan dua alasan. Yang pertama di Yohanes 16:20-21. Yesus memperingatkan murid-muridNya bahwa mereka berduka atas kematianNya tapi kemudian akan bersukacita atas kebangkitanNya. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” “Jadi  kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.” Apa sumber sukacita para murid? Jawabannya: hadirat Yesus. “Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira.” Tidak ada seorang kristenpun yang beroleh sukacita penuh tanpa ada persekutuan yang intim dengan Tuhan. Mengenal Dia saja tidak cukup, melayani Dia juga tidak cukup. Kita harus punya hubungan pribadi, persekutuan yang intim sebab jika tidak demikian maka kekristenan akan menjadi beban yang berat. Di suratnya yang pertama Yohanes menulis, “persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.” Persekutuan dengan Yesus apabila di bagikan kepada orang lain berikan sukacita penuh untuk kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan utama mengapa doa membawa kepada kepenuhan sukacita adalah bahwa doa merupakan pusat dari persekutuan kita dengan Yesus. Dia tidak dapat di lihat. Namun melalui doa kita berbicara kepadaNya seakan-akan dia hadir. Dan keteduhan saat itu ketika kita mendengarkan isi hatiNya dan kita mencurahkan kerinduan kita. Mungkin Yohanes 15:7 yang bisa menggambarkan hubungan dua arah ini: “Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” Saat firman Yesus tinggal di hati kita, kita mendengar isi hati Kristus yang hidup, karena Dia tidak berubah dulu, sekarang dan selamanya. Dan dari mendengar isi hati Tuhan itu menghasilkan doa yang begitu indah yang merupakan persembahan yang harum bagi Tuhan. Kehidupan doa membawa kepada kepenuhan sukacita karena doa adalah pusat dari persekutuan kita dengan Yesus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kedua adalah bahwa doa beri kita kuasa melakukan apa yang suka kita lakukan tapi tidak mampu kita lakukan tanpa bantuan Tuhan. Firman katakan, “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” Persekutuan dengan Tuhan sangat penting sehingga kita tergerak untuk membagikan Yesus dengan orang lain. Orang kristen tidak dapat bahagia dan pelit, karena lebih berbahagia memberi daripada menerima. Karena itu alasan kedua mengapa kehidupan doa membawa kepada kepenuhan sukacita adalah bahwa doa mampukan kita mengasihi sesama. Jika pompa kasih kering  berarti pipa doa kurang dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ringkasannya: Alkitab dengan jelas mengajarkan tujuan dari setiap yang  kita lakukan adalah mempermuliakan Tuhan. Tapi juga mengajarkan dalam setiap tindakan itu kita harus mengejar sukacita. Ada ahli teologi yang berusaha bedakan dua pengejaran ini dengan ajukan pertanyaan seperti, “Apakah kamu bersedia terkutuk demi kemuliaan Allah?” Namun alkitab tidak pernah memaksa kita memilih antara kemuliaan Allah atau sukacita kita. Alkitab malahan melarang kita memilih. Dan seperti yang kita lihat dari injil Yohanes di nyatakan bahwa doa menyatukan kedua pengejaran itu. Dengan berdoa kita mendapatkan sukacita dalam persekutuan dengan Yesus dan beroleh kuasa untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain. Lewat doa kita juga memuliakan Tuhan dengan jadikan Dia sebagai satu-satunya tempat pengharapan kita. Lewat doa, kita mengakui kemiskinan kita dan kelimpahanNya, ketidakmampuan kita dan kemurahanNya, kesengsaraan kita dan kasih karuniaNya. Karena itu doa sangat meninggikan dan memuliakan Tuhan saat kita mengejar apa yang kita inginkan di dalam Dia bukan di dalam diri kita. “Mintalah maka kamu akan menerima, supaya Bapa di muliakan di dalam Anak dan supaya penuhlah sukacitamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Doa Perlu di Rencanakan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tutup dengan satu permintaan. Salah satu alasan mengapa banyak anak Tuhan tidak punya kehidupan doa yang berdampak adalah bukan karena mereka tidak mau tapi karena tidak ada perencanaan. Jika kamu mau pergi berlibur, tidak mungkin kamu bangun tidur langsung bilang, “Ayo kita pergi berlibur hari ini!” Kamu pasti tidak siap. Kamu tidak tahu mau kemana. Belum ada rencana sama sekali. Begitulah perlakuan kita terhadap doa. Tiap pagi kita bangun tidur dan sadar bahwa seharusnya kita berdoa tapi tidak pernah terjadi. Kita tidak tahu apa yang harus di doakan. Tidak ada perencanaan jam, tempat, prosedurnya. Dan lawan kata dari perencanaan pasti bukanlah pengalaman doa yang dalam. Jika kamu tidak punya rencana untuk berlibur, pastinya kamu akan santai di rumah dan nonton TV. Kehidupan spiritual yang tidak ada perencanaannya adalah seperti ombak gairah yang dalam surutnya.  Ada perlombaan lari yang di wajibkan bagi kita dan pertandingan yang harus kita selesaikan. Mau pembaharuan di dalam kehidupan doamu, harus ada ''perencanaan'' jika kamu mau lihat ada perubahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu inilah permintaanku: ambil sepuluh menit sore ini, pikirkan apa prioritasmu dan bagaimana masukkan doa sebagai prioritasmu. Buat perubahan. Coba sesuatu yang baru dengan Tuhan. Tetapkan waktunya. Tetapkan tempatnya. Pilih ayat alkitab sebagai bahan doamu. Saya sendiri harus disiplin lakukan ini karena kesibukan sehari-hari akibatkan aku lengah. Jadikan hari ini titik balik kehidupan doamu – untuk kemuliaan Tuhan dan kepenuhan sukacitamu.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 20 Oct 2020 19:02:47 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Doa:_Kuasa_Hedonisme_Kristen</comments>		</item>
		<item>
			<title>Dia Akan Memegangku Erat-Erat</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Dia_Akan_Memegangku_Erat-Erat</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|He Will Hold Me Fast}}&amp;lt;br&amp;gt;  Pernahkah Anda merasa takut iman Anda akan jatuh? Pernahkah Anda khawatir tidak akan bisa bertahan dalam perjalanan hidup kekristenan y...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|He Will Hold Me Fast}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernahkah Anda merasa takut iman Anda akan jatuh? Pernahkah Anda khawatir tidak akan bisa bertahan dalam perjalanan hidup kekristenan yang panjang ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Robert Harkness (1880–1961) adalah seorang pianis berbakat yang berkeliling dunia pada usia dua puluh tahunan bersama penginjil terkenal R.A. Torrey. Suatu malam, pada saat ibadah penginjilan di Kanada, Harkness bertemu seorang pria muda yang baru bertobat yang merasa takut dia tidak akan bisa bertahan. Harkness merindukan agar pria muda itu, dan banyak orang lainnya yang terkena dampak dari kebaktian kebangunan rohani itu, untuk memiliki keyakinan yang mendalam di dalam jiwa mereka bahwa akhir pertandingan mereka, dan hal mempertahankan iman, tidak serta merta tergantung pada diri mereka sendiri. Dia ingin pemuda ini dan yang lainnya mengetahui bahwa Tuhan menyelesaikan apa yang Dia mulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yudas memuliakan kuasa penjagaan Tuhan dengan doksologinya: “Bagi Dia, yang berkuasa  menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya,” (Yudas 1:24). Inilah kebenaran yang sering dikatakan oleh Rasul Paulus, seperti kepada jemaat di Filipi, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus,” (Filipi 1:6). Dan dia juga mengatakan pada jemaat di Tesalonika, “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat,” (2 Tesalonika 3:3). Juga ketika dia bersaksi tentang kesabarannya sendiri, bahwa penyebab yang menentukan dari kegigihannya bukanlah pada pencapaian dan usaha sendiri tetapi “karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus,” (Filipi 3:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, Rasul Paulus tetap gigih. Dia tekun. Dia bekerja keras. Dia membuat dirinya berusaha lebih keras. Dia berusaha keras untuk bertahan dan semakin menjadikan Yesus miliknya. Tetapi dia tahu bahwa semua perjuangan dan ketekunannya dimampukan oleh kuasa Kristus, yang telah menjadikannya milik-Nya dan pasti akan memegangnya dengan erat.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kelemahan, Dosa, dan Setan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemuda yang baru percaya dari kanada itu tidak salah , meragukan kemampuannya sendiri untuk tetap bertahan. Memang, dia seharusnya meragukan dirinya kemampuannya sendiri, demikian juga kita seharusnya. Namun apa yang belum diketahui pemuda itu dalam hatinya adalah bahwa kegigihannya mempertahankan imannya bukan hanya diserahkan kepadanya. Ketika Tuhan memulai pekerjaan-Nya, Dia akan menyelesaikannya (Filipi 1:6). Jika Yesus menjadikan kita milik-Nya, Dia akan dengan setia menjaga kita sampai pada akhirnya (1 Tesalonika 5:24; Ibrani 10:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya dari dosa, kelemahan, dan kecenderungan kita untuk ikut dalam arus dunia, tapi juga dari serangan iblis. Dia akan “memelihara kamu terhadap yang jahat” (2 Tesalonika 3:3). Yesus berdoa bagi umatnya di malam sebelum Dia mati, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat,” (Yohanes 17:15) – dan Bapa tidak pernah gagal dalam menjawab doa ini bagi mereka yang benar-benar anak-anak-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tuhan Akan Melakukannya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah percakapan yang cukup meresahkan dengan orang Kanada yang baru bertobat itu, Harkness bertanya-tanya bagaimana dia dapat membantu orang Kristen lainnya memahami kuasa tangan Allah yang menopang kita dalam ketekunan kita dan agar kebenaran yang manis ini tertanam dalam jiwa kita. Jawabannya cukup jelas bagi seorang musisi seperti Harkness, yaitu sebuah lagu. Dia menulis surat kepada penulis lagu di London (teman dari Charles Spurgeon), Ada Habershon (1861–1918), mengenai apa yang dia butuhkan, yaitu sebuah lagu untuk memberikan dukungan mengenari “jaminan yang pasti akan kesuksesan dalam hidup Keristenan.” Lalu Harkness menulis nada orisinalnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu abad kemudian, di seberang lautan, seorang pemimpin pujian di Washington, D.C., Matt Merker, menyanyikan lagu Habershon, yang diberikan kepadanya oleh seorang jemaat pada masa pencobaan yang dialaminya. Dia menemukan ketenangan dan harapan yang baru dalam liriknya, memberikan musik yang baru pada nyanyian lama itu, dan menambahkan ayat ketiga. Dia membagikan lagu itu dengan istrinya dan kemudian pendeta senior, Mark Dever, yang mengusulkan agar jemaat harus mencoba menyanyikannya. &amp;quot;Jemaat dengan cepat menguasai lagu itu dan mulai menyanyikannya dengan sukacita (dan suara yang sangat keras!),&amp;quot; Kata Merker. Berita itu segera tersebar, dan gereja-gereja yang jauh sekarang menyanyikan himne lama Habershon dengan musik baru Merker. Kata Merker, &amp;quot;Itu membangkitkan kita kembali untuk mengetahui bahwa Allah memegang kendali dan dia akan menjaga kita sampai akhir.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dia Dengan Sukacita Menjaga Umat-Nya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan tidak hanya ''mampu menjaga'' umat-Nya, namun Dia dengan penuh sukacita menjaga umatnya (Yudas1:24). Nyanyian Habershon menggemakan kebenaran dan keindahan Mazmur 149: 4, “TUHAN berkenan kepada umat-Nya,” ketika Habershon menulis, “Mereka yang Dia selamatkan adalah kesenangan-Nya / Dia akan memegangku erat-erat.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan tidak hanya akan menjaga umat-Nya, tetapi Ia juga senang hati melakukannya. Dia tidak hanya memegang kita dengan erat-erat, tetapi Dia juga melakukannya dengan penuh sukacita. Dan tak ada tempat yang lebih aman di alam semesta ini selain tersembunyi bersama Yesus di dalam kesukaan Tuhan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 20 Aug 2020 12:18:53 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Dia_Akan_Memegangku_Erat-Erat</comments>		</item>
		<item>
			<title>Tiga Hal yang Perlu Kita Ketahui Tentang Allah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Tiga_Hal_yang_Perlu_Kita_Ketahui_Tentang_Allah</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Three Things We Should Know About God}}&amp;lt;br&amp;gt;  Ada kata-kata A.W. Tozer yang terkenal, yaitu: “Apa yang kita pikirkan ketika kita memikirkan tentang Allah, itulah ...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Three Things We Should Know About God}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kata-kata A.W. Tozer yang terkenal, yaitu: “Apa yang kita pikirkan ketika kita memikirkan tentang Allah, itulah hal yang terpenting mengenai diri kita.” Ketika Anda mendengar kata “Allah,” apa yang anda katakan? Apa yang Anda bayangkan dalam hati dan pikiran Anda ketika memikirkan siapakah Allah itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan ini penting karena kita semua memiliki jawaban yang berbada-beda. Tiap orang memiliki satu hal yang langsung terbanyang dalam pikirannya ketika mereka berpikir tentang Allah. Dan kita ingin gambaran itu benar, yaitu, dibentuk oleh apa yang Allah katakan tentang diri-Nya, bukan berdasarkan pengalaman kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah upaya untuk mendapatkan gambaran itu dengan benar, seperti yang ditegaskan Alkitab. Setidaknya ada tiga hal yang harus kita ketahui tentang Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====1. Allah Adalah Bapa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Hal yang paling mendasar mengenai Allah, bukanlah mengenai kualitas yang abstrak, melainkan fakta bahwa Tuhan ialah Bapa,” kata Michael Reeves. Di dalam bukunya ''Delighting in the Trinity'', Reeves memulai dengan fakta penting ini, yang terlalu sering dilupakan orang, bahwa Allah adalah Bapa kita, seperti yang dibuktikan oleh Alkitab dan tuntutan teologi Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebanyakan dari kita, ketika ditanya dengan tiba-tiba siapakah Allah itu, akan menjawab bahwa Allah adalah Sang Pencipta. Kita melihat-Nya sebagai pribadi yang kuat dang berkuasa dan karena Dia segala sesuatu ada. Ini benar. Namun itu bukanlah inti dari siapa Allah itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Reeves membuat poin ini dengan jelas dalam bab pertamanya yang berjudul, &amp;quot;Apa yang Allah Lakukan Sebelum Penciptaan?&amp;quot; Jika Allah pada dasarnya adalah Pencipta, itu berarti Dia membutuhkan ciptaan-Nya untuk menjadi seperti-Nya. Sama halnya dengan Allah sebagai Penguasa, atau Hakim. Masing-masing gelar ini adalah deskripsi akurat tentang Allah, tetapi gagal menunjukkan kepada kita siapa Allah sebenarnya. Masing-masing gelar tersebut bergantung pada konteks yang ada. Kita harus bertanya siapa Allah sebenarnya. Siapakah Allah terlepas dari semua itu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya adalah Bapa. Alkitab menjelaskan ini dalam Yesaya 63:16, Yesaya 64: 8 dan Ulangan 32: 6. Dari situ, wahyu Alkitab tentang Allah Tritunggal mulai menyingkapkan keajaibannya. Allah tidak membutuhkan apapun kecuali diri-Nya sendiri agar hal ini menjadi kenyataan. Sebelum segalanya ada, Allah ada – Bapa yang kekal yang secara kekal telah mengasihi Putra-Nya dalam persekutuan Roh Kudus yang tak henti-hentinya. Inilah Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====2.	Allah Besukacita====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
John Piper memulai bab pertama dari ''The Pleasures of God'' dengan mengutip frasa penting dalam 1 Timotius 1:11 - &amp;quot;yang berdasarkan Injil dari Allah yang mulia dan maha bahagia (Ing: blessed, Ind: diberkati).&amp;quot; Piper menyoroti kata Yunani di balik bahasa Inggris &amp;quot;diberkati&amp;quot;, yang merupakan kata yang sama untuk &amp;quot;bahagia” atau “sukacita.” Rasul Paulus menyebut Allah adalah “Allah yang bersukacita.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, tidak cukup kita berpikir Allah sebagai Bapa kita. Dia juga Bapa yang bersukacita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Anda berpikir tentang Allah, apakah Anda berpikir Dia bersukacita? Atau apakah Dia bersikap tegang? Sayangnya, adalah hal yang umum bagi kita untuk menganggap Allah sebagai karikatur negatif yang menjadi gambaran tentang-Nya. Apakah Anda memikirkan Dia cemberut? Apakah Dia mendidih karena amarah seperti seorang lalim yang plin plan? Atau apakah Anda melihat Dia yang bersukacita – bersukacita dalam kemuliaan Putranya dan persekutuan mereka? Apakah kita melihatnya sebagai Bapa yang berkata tentang Yesus, tanpa ragu-ragu, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Apakah kita melihatnya sebagai Bapa yang berkenan memberi kita kerajaan-Nya (Lukas 12:32)? Apakah kita melihatnya sebagai Allah yang bersukacita dengan sangat ketika orang berdosa bertobat (Lukas 15: 7)?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama dosa ada, Ia merasakan kegeraman setiap hari (Mazmur 7:11). Namun pada hakikatnya – siapa Dia yang sebenarnya – Allah bersukacita. Memahami kebenaran ini akan menghasilkan keajaiban dalam jiwa kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====3.	Allah mengasihi====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah adalah Bapa yang penuh sukacita yang mengasihi Putranya dalam persekutuan yang tiada akhir dengan Roh Kudus. Ini berarti bahwa pada hakikatnya, Allah adalah kasih. Bukan berarti Tuhan tidak pernah marah. Tentu saja Tuhan akan marah atau geram karena dosa dan kesalahkan kita yang mencemooh kasih-Nya. Murka Allah adalah respon terhadap sesuatu yang di luar diri-Nya. Pada hakikatnya, di dalam hati-Nya, Allah mengasihi. Sungguh, Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebelum segala hal yang ada,” Reeves menjelaskan, “untuk selama-lamanya, Allah mengasihi, memberi hidup dan bersuka di dalam Putra-Nya” (26). Dan karena itu, pada dasarnya Allah itu ramah. Seperti air mancur, seperti yang dikatakan Jonathan Edwards, atau seperti cahaya (1 Yohanes 1: 5). Tuhan, pada hakikatnya, bersinar. Dia pada hakikatnya meluap dengan kasih. Maka Dia menciptakan dunia, dalam perkenanan-Nya, dari cinta-Nya yang melimpah, karena itulah Dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin kita tidak menyembah Allah yang demikian ini? Bagaimana mungkin kita tidak sepenuh hati berlari pada Allah? Karena dosa merusak persekutuan yang telah ditentukan bagi kita. Kasih Bapa adalah kebenaran yang mungkin tidak kita sukai karena hal itu membuat permusuhan kita terhadap-Nya menjadi tidak rasional. Jika kita jujur, dalam kegelapan kita, kita jauh lebih nyaman dengan Tuhan yang penuh murka dan tidak memiliki kepribadian. Namun Allah yang adalah Bapa yang bersukacita yang selamanya mencintai dengan sukacita yang memberi hidup. Sulit untuk marah pada Allah yang demikian. Itu membuat pemberontakan kita terasa tidak masuk akal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pemberontakan yang bodoh adalah kisah yang kita miliki sampai kebenaran injil terungkap. Bapa Surgawi mengutus Putranya untuk hidup dan mati ganti kita, untuk menanggung murka yang kita pantas dapatkan, agar kita disambut dalam persekutuan kasih Allah. Namun injil ini bukanlah sebuah paksaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Injil bukanlah upaya Allah untuk menyeimbangkan kemarahan-Nya. Sebaliknya, Injil mengungkapkan hati Bapa yang sebenarnya. Bapa menunjukkan kasih-Nya kepada kita, kata Paulus, bukan setelah Yesus datang dan mati, tetapi dalam kedatangan dan kematian Yesus (Roma 5: 8), agar kita menjadi putra dan putri-Nya yang menikmati persekutuan kekal yang telah dia alami dengan Putra-Nya oleh Roh Kudus untuk selama-lamanya (Yohanes 17: 24–26).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan – Dia adalah Bapa yang bersukacita yang selalu mengasihi.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 20 Aug 2020 12:12:50 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Tiga_Hal_yang_Perlu_Kita_Ketahui_Tentang_Allah</comments>		</item>
		<item>
			<title>APA YANG DI LAKUKAN SAAT TUHAN TERASA JAUH</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/APA_YANG_DI_LAKUKAN_SAAT_TUHAN_TERASA_JAUH</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: memindahkan APA YANG DI LAKUKAN SAAT TUHAN TERASA JAUH ke Apa Yang Dilakukan Saat Tuhan Terasa Jauh&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#ALIH [[Apa Yang Dilakukan Saat Tuhan Terasa Jauh]]&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 11 Jun 2020 18:37:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:APA_YANG_DI_LAKUKAN_SAAT_TUHAN_TERASA_JAUH</comments>		</item>
		<item>
			<title>Apa Yang Dilakukan Saat Tuhan Terasa Jauh</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Apa_Yang_Dilakukan_Saat_Tuhan_Terasa_Jauh</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: memindahkan APA YANG DI LAKUKAN SAAT TUHAN TERASA JAUH ke Apa Yang Dilakukan Saat Tuhan Terasa Jauh&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|What to Do When God Feels Distant}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Brandon menanyakan pertanyaan yang sangat umum di tanyakan: “Apa yang kita lakukan saat Tuhan lama membisu? Saya tidak merasakan sukacita sama sekali. Saya berulang kali membaca Alkitab namun setelahnya tetap merasa tak berdaya dan tidak ada jawabannya. Saya terus menerus berdoa namun tak ada jawaban. Pastor John,  saya benar-benar putus asa. Apa yang harus saya lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kamu Tidak Sendiri====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Brandon, saya bisa mengerti perasaanmu yang merasa dalam kegelapan dan terasa jauh dari Tuhan. Situasimu sangat banyak di alami anak Tuhan karena itu sudah banyak buku yang menulis pengalaman serasa berjalan di dalam kegelapan dan jauh dari Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tahu buku itu tidak menjadikan situasimu lebih ringan tapi buku itu dapat menolongmu tidak meragukan statusmu di dalam Tuhan. Juga supaya kamu tahu bahwa ribuan orang mengalami apa yang kau alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pengharapan di Dalam Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sungguh berharap dapat mengenalmu lebih dekat supaya saya dapat pastikan seberapa dalam kau mengerti tentang injil Yesus. Bahwa Dia mati untuk orang berdosa seperti kita. Dia menanggung murka Allah atas orang berdosa. Dia menebus dosa kita dengan membayar harganya yaitu dengan menanggung penderitaan dan kematian yang seharusnya kita terima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bangkit dari kematian untuk memberikan kita pengharapan. Dia membayar suatu ikatan perjanjian baru, tidak membiarkan umatNya masuk ke dalam kebinasaan. Dan itu semua hanya dengan percaya kepadaNya. Hanya dengan kesadaran bahwa kita tak berdaya dan mau menerima seperti anak kecil, menerima semua yang sudah Tuhan sediakan bagi kita di dalam Kristus. MenerimaNya sebagai harta yang paling berharga. Itulah injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi saya mau pastikan kamu dapat tinggal tenang dengan iman itu walaupun sekarang Tuhan terasa jauh. Saya berharap kamu dapat diam tenang bersandar sepenuhnya dengan iman bahwa Tuhan lebih dulu mengasihimu. Saya tahu ada lembah kekelaman dalam hidup setiap orang. Karena itu saya coba menjawab pertanyaanmu. Kamu bertanya,”Apa yang harus saya lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Terus Mencari====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menjawab secara biblikal. Seakan-akan Alkitab mendengar pertanyaanmu dan menjawabnya. Jawabannya adalah: Carilah Dia tanpa lelah dan nantikanlah Dia. Carilah Dia dan nantikanlah Dia. Inilah bagian mencari dari Mazmur 27:8-9, “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa contoh mencari Tuhan? Mazmur banyak memberi contohnya. Mazmur 6:2-3“Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. Kasihanilah aku, Tuhan, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwaku pun sangat terkejut; tetapi Engkau, Tuhan, berapa lama lagi?” Atau contoh lain di Mazmur 13:2-3,“Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?” Atau Mazmur 90:13-14, “Kembalilah, ya Tuhan -- berapa lama lagi? -- dan sayangilah hamba-hamba-Mu! Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ada contoh orang yang tidak tahu sampai kapan Tuhan diam membisu. Tuhan terasa begitu jauh. Mereka tidak merasakan hadirat Tuhan. Karena itu mereka berteriak memohon. Jadi kita mencari Tuhan dengan terus menerus berteriak kepadaNya seperti di Mazmur sampai Dia muncul dengan kuasa dan menyatakan diriNya. Jadi jangan berhenti mencariNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Nantikanlah Tuhan Dengan Setia====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa banyak contoh di alkitab yang menyuruh kita menunggu. Banyak ayat. Mazmur 37:7, “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.” Akan ada orang yang berhasil dalam hidupnya sedangkan kamu tidak. Janganlah marah. Nantikanlah Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur 27:14 katakan, “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat yang paling menguatkan adalah Mazmur 40. Saya ingat pertama kali datang ke Bethlehem, saya ingin orang tahu bagaimana perasaanku tentang musim hidupku dimana Tuhan terasa jauh dan serasa berjalan dalam lembah kekelaman. Jadi waktu itu musim panas, mungkin musim panas tahun 1980 atau 1981, saya kotbah tentang Mazmur yang saya sebut Mazmur musim panas. Ayat pertama: “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan.” Tidak tahu sampai kapan. Pokoknya “saya menanti-nantikan.” “Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa.” (Ayat 2-3)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daud berada dalam suatu musim dalam hidupnya, tidak tahu sampai berapa lama, dalam lobang kebinasaan dari lumpur rawa. Dan kemudian akhirnya Tuhan datang dan ayat 3-4 katakan, “Ia  menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku. “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.” Dalam ayat terakhir ini kamu baca tujuan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu mungkin bertanya dalam hati, Mengapa dia lakukan semua ini kepadaku dan Daud? Mengapa Dia tinggalkan kita merana di lubang kebinasaan seperti ini? JawabanNya adalah: “Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.” (Ayat 4). Cara penginjilan yang aneh. Tapi jangan patah semangat. Mungkin itu yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidupmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud saya, dunia ini bukan hanya butuh orang yang gembira dan sukses. Dunia juga butuh orang yang berjalan melewati lembah kelam dan keluar di ujung satunya dengan kemenangan dan dapat berempati dengan apa yang orang lain alami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Menantikan Sampaikan Kapan? ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbicara dari pengalaman pribadi, semua penderitaanku, pergumulanku dan berada dalam situasi dimana  Tuhan terasa jauh, itu menjadikan aku pastor yang lebih baik, lebih efektif. Jadi saya mau meyakinkan saudara yang berpikir bahwa semua penderitaan itu bukannya tidak ada gunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kau bertanya: Sampai berapa lama saya bertahan? Saya tidak tahu, tapi satu hal yang pasti adalah jangan putus asa. Jangan hilang pengharapan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya punya teman yang depresi berat selama delapan tahun, nyaris lumpuh. Penderitaannya tidak bisa saya gambarkan. Kemudian suatu hari setelah bertahun-tahun menghafal firman, berpegang kpd firman, menanti dan mencari Tuhan, akhirnya sesuatu terjadi. Tuhan datang dan memulihkan depresi temanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tetap menjalin komunikasi dengan dia sampai ahir hidupnya dan dia tidak pernah jatuh depresi lagi. Dia selalu mengenang bagaimana dia tetap tekun dalam firman bahkan saat dia tidak ada keinginan dan tenaga karena hampir lumpuh. Dia tetap hidup berpegang kepada firman dan tetap berharap kepada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Menemukan Harapan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi membaca buku tidak terlalu bisa menolongmu keluar dari masalahmu.  Banyak yang bertanya apa yang harus saya lakukan jika saya merasa kosong, tidak ada sukacita, Tuhan terasa jauh. Jadi Brandon,  saya menulis buku berjudul Ketika Saya Tidak Mendambakan Tuhan. Saya akan kirimi kamu bukunya. Namun saya mau berdoa bagimu agar Tuhan bekerja di dalam ini semua dan menolongmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapa, saya mau menutup dengan doa untuk Brandon memohon agar Engkau bekerja di dalam hidupnya dan hadiratMu menyertainya senantiasa. Celikkan mata rohaninya. Biar dia melihatMu,  merasakan hadiratMu yang sungguh berharga dan merasakan kasihMu. Saya panjatkan doa ini di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 11 Jun 2020 18:37:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Apa_Yang_Dilakukan_Saat_Tuhan_Terasa_Jauh</comments>		</item>
		<item>
			<title>Apa Yang Dilakukan Saat Tuhan Terasa Jauh</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Apa_Yang_Dilakukan_Saat_Tuhan_Terasa_Jauh</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|What to Do When God Feels Distant}}&amp;lt;br&amp;gt;  '''Transkrip audio'''  Brandon menanyakan pertanyaan yang sangat umum di tanyakan: “Apa yang kita lakukan saat Tuhan lam...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|What to Do When God Feels Distant}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Brandon menanyakan pertanyaan yang sangat umum di tanyakan: “Apa yang kita lakukan saat Tuhan lama membisu? Saya tidak merasakan sukacita sama sekali. Saya berulang kali membaca Alkitab namun setelahnya tetap merasa tak berdaya dan tidak ada jawabannya. Saya terus menerus berdoa namun tak ada jawaban. Pastor John,  saya benar-benar putus asa. Apa yang harus saya lakukan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kamu Tidak Sendiri====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Brandon, saya bisa mengerti perasaanmu yang merasa dalam kegelapan dan terasa jauh dari Tuhan. Situasimu sangat banyak di alami anak Tuhan karena itu sudah banyak buku yang menulis pengalaman serasa berjalan di dalam kegelapan dan jauh dari Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tahu buku itu tidak menjadikan situasimu lebih ringan tapi buku itu dapat menolongmu tidak meragukan statusmu di dalam Tuhan. Juga supaya kamu tahu bahwa ribuan orang mengalami apa yang kau alami.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Pengharapan di Dalam Injil====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sungguh berharap dapat mengenalmu lebih dekat supaya saya dapat pastikan seberapa dalam kau mengerti tentang injil Yesus. Bahwa Dia mati untuk orang berdosa seperti kita. Dia menanggung murka Allah atas orang berdosa. Dia menebus dosa kita dengan membayar harganya yaitu dengan menanggung penderitaan dan kematian yang seharusnya kita terima.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia bangkit dari kematian untuk memberikan kita pengharapan. Dia membayar suatu ikatan perjanjian baru, tidak membiarkan umatNya masuk ke dalam kebinasaan. Dan itu semua hanya dengan percaya kepadaNya. Hanya dengan kesadaran bahwa kita tak berdaya dan mau menerima seperti anak kecil, menerima semua yang sudah Tuhan sediakan bagi kita di dalam Kristus. MenerimaNya sebagai harta yang paling berharga. Itulah injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi saya mau pastikan kamu dapat tinggal tenang dengan iman itu walaupun sekarang Tuhan terasa jauh. Saya berharap kamu dapat diam tenang bersandar sepenuhnya dengan iman bahwa Tuhan lebih dulu mengasihimu. Saya tahu ada lembah kekelaman dalam hidup setiap orang. Karena itu saya coba menjawab pertanyaanmu. Kamu bertanya,”Apa yang harus saya lakukan?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Terus Mencari====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan menjawab secara biblikal. Seakan-akan Alkitab mendengar pertanyaanmu dan menjawabnya. Jawabannya adalah: Carilah Dia tanpa lelah dan nantikanlah Dia. Carilah Dia dan nantikanlah Dia. Inilah bagian mencari dari Mazmur 27:8-9, “Carilah wajah-Ku”; maka wajah-Mu kucari, ya Tuhan. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa contoh mencari Tuhan? Mazmur banyak memberi contohnya. Mazmur 6:2-3“Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu. Kasihanilah aku, Tuhan, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwaku pun sangat terkejut; tetapi Engkau, Tuhan, berapa lama lagi?” Atau contoh lain di Mazmur 13:2-3,“Berapa lama lagi, Tuhan, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku? Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari?” Atau Mazmur 90:13-14, “Kembalilah, ya Tuhan -- berapa lama lagi? -- dan sayangilah hamba-hamba-Mu! Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ada contoh orang yang tidak tahu sampai kapan Tuhan diam membisu. Tuhan terasa begitu jauh. Mereka tidak merasakan hadirat Tuhan. Karena itu mereka berteriak memohon. Jadi kita mencari Tuhan dengan terus menerus berteriak kepadaNya seperti di Mazmur sampai Dia muncul dengan kuasa dan menyatakan diriNya. Jadi jangan berhenti mencariNya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Nantikanlah Tuhan Dengan Setia====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa banyak contoh di alkitab yang menyuruh kita menunggu. Banyak ayat. Mazmur 37:7, “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.” Akan ada orang yang berhasil dalam hidupnya sedangkan kamu tidak. Janganlah marah. Nantikanlah Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur 27:14 katakan, “Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat yang paling menguatkan adalah Mazmur 40. Saya ingat pertama kali datang ke Bethlehem, saya ingin orang tahu bagaimana perasaanku tentang musim hidupku dimana Tuhan terasa jauh dan serasa berjalan dalam lembah kekelaman. Jadi waktu itu musim panas, mungkin musim panas tahun 1980 atau 1981, saya kotbah tentang Mazmur yang saya sebut Mazmur musim panas. Ayat pertama: “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan.” Tidak tahu sampai kapan. Pokoknya “saya menanti-nantikan.” “Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa.” (Ayat 2-3)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daud berada dalam suatu musim dalam hidupnya, tidak tahu sampai berapa lama, dalam lobang kebinasaan dari lumpur rawa. Dan kemudian akhirnya Tuhan datang dan ayat 3-4 katakan, “Ia  menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku. “Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.” Dalam ayat terakhir ini kamu baca tujuan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu mungkin bertanya dalam hati, Mengapa dia lakukan semua ini kepadaku dan Daud? Mengapa Dia tinggalkan kita merana di lubang kebinasaan seperti ini? JawabanNya adalah: “Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut, lalu percaya kepada Tuhan.” (Ayat 4). Cara penginjilan yang aneh. Tapi jangan patah semangat. Mungkin itu yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidupmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud saya, dunia ini bukan hanya butuh orang yang gembira dan sukses. Dunia juga butuh orang yang berjalan melewati lembah kelam dan keluar di ujung satunya dengan kemenangan dan dapat berempati dengan apa yang orang lain alami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Menantikan Sampaikan Kapan? ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berbicara dari pengalaman pribadi, semua penderitaanku, pergumulanku dan berada dalam situasi dimana  Tuhan terasa jauh, itu menjadikan aku pastor yang lebih baik, lebih efektif. Jadi saya mau meyakinkan saudara yang berpikir bahwa semua penderitaan itu bukannya tidak ada gunanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kau bertanya: Sampai berapa lama saya bertahan? Saya tidak tahu, tapi satu hal yang pasti adalah jangan putus asa. Jangan hilang pengharapan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya punya teman yang depresi berat selama delapan tahun, nyaris lumpuh. Penderitaannya tidak bisa saya gambarkan. Kemudian suatu hari setelah bertahun-tahun menghafal firman, berpegang kpd firman, menanti dan mencari Tuhan, akhirnya sesuatu terjadi. Tuhan datang dan memulihkan depresi temanku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tetap menjalin komunikasi dengan dia sampai ahir hidupnya dan dia tidak pernah jatuh depresi lagi. Dia selalu mengenang bagaimana dia tetap tekun dalam firman bahkan saat dia tidak ada keinginan dan tenaga karena hampir lumpuh. Dia tetap hidup berpegang kepada firman dan tetap berharap kepada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Menemukan Harapan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi membaca buku tidak terlalu bisa menolongmu keluar dari masalahmu.  Banyak yang bertanya apa yang harus saya lakukan jika saya merasa kosong, tidak ada sukacita, Tuhan terasa jauh. Jadi Brandon,  saya menulis buku berjudul Ketika Saya Tidak Mendambakan Tuhan. Saya akan kirimi kamu bukunya. Namun saya mau berdoa bagimu agar Tuhan bekerja di dalam ini semua dan menolongmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapa, saya mau menutup dengan doa untuk Brandon memohon agar Engkau bekerja di dalam hidupnya dan hadiratMu menyertainya senantiasa. Celikkan mata rohaninya. Biar dia melihatMu,  merasakan hadiratMu yang sungguh berharga dan merasakan kasihMu. Saya panjatkan doa ini di dalam nama Tuhan Yesus, Amin.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 10 Jun 2020 12:07:57 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Apa_Yang_Dilakukan_Saat_Tuhan_Terasa_Jauh</comments>		</item>
		<item>
			<title>Apakah Saya Menikah dengan Orang yang Tepat?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Apakah_Saya_Menikah_dengan_Orang_yang_Tepat%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Did I Marry the Right Person?}}&amp;lt;br&amp;gt;  '''Transkrip audio'''  ''Bagaimana Anda tahu jika Anda menikah dengan orang yang tepat? Jawaban singkat: lihat nama pada akta ...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Did I Marry the Right Person?}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Bagaimana Anda tahu jika Anda menikah dengan orang yang tepat? Jawaban singkat: lihat nama pada akta nikah Anda.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kita menikah, kita berpikir tentang kualifikasi, dan beberapa orang memenuhi syarat untuk menjadi pasangan dan beberapa orang tidak. Setelah kami menikah, ada satu kualifikasi: Yang kami nikahi. Alasan kita tahu itu karena dalam Alkitab, dalam 1 Korintus 7:39, dikatakan, &amp;quot;Menikahlah hanya di dalam Tuhan.&amp;quot; Dengan kata lain, menikah hanya dengan seorang Kristen, jadi ada kualifikasi. Beberapa orang memenuhi syarat; sebagian tidak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kita menikah, menurut 1 Korintus 7:12, jika Anda menikah dengan orang yang tidak percaya, Anda tetap menikah, jadi kita tahu bahwa ada sesuatu yang berubah ketika kita menikah. Satu orang memenuhi syarat. Yang kita nikahi juga memiliki kulifikasi juga. Itu orang yang tepat, dan ada alasan untuk itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Kejadian 2:24, yang merupakan teks dasar untuk pernikahan, Tuhan berkata manusia meninggalkan ibu dan ayahnya, bersatu dengan istrinya. Keduanya menjadi satu daging. Dan Yesus mengutip itu dan kemudian berkata, &amp;quot;Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus mengutipnya dan berkata, “Ini adalah misteri besar. Saya berbicara tentang Kristus dan gereja. &amp;quot; Dengan kata lain, yang terjadi dalam pernikahan adalah bahwa Tuhan bertindak. Orang percaya atau tidak percaya - Tuhan bertindak dan menciptakan ikatan yang tidak boleh dipisahkan oleh manusia, karena itu adalah potret, drama, dari komitmen perjanjian antara Kristus dan gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa orang yang tepat untuk menikah? Jawab: orang yang Anda tanyai, “Lebih baik, lebih buruk. Untuk yang lebih kaya, untuk yang lebih miskin. &amp;quot;Biarlah maut memisahkan kami,&amp;quot; karena itu adalah satu-satunya orang yang dengannya Anda dapat menunjukkan kesetiaan perjanjian Kristus kepada gerejanya.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 04 Jun 2020 19:22:09 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Apakah_Saya_Menikah_dengan_Orang_yang_Tepat%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Mengembalikan KeIndahan dalam Pernikahan Anda</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Mengembalikan_KeIndahan_dalam_Pernikahan_Anda</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Restore the Sweetness to Your Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;  Kesibukan hidup, pelayanan, pekerjaan, dan keluarga akan selalu mengancam manisnya pernikahan.  Alih-alih menikmati t...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Restore the Sweetness to Your Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesibukan hidup, pelayanan, pekerjaan, dan keluarga akan selalu mengancam manisnya pernikahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alih-alih menikmati tatapan cinta, sentuhan, dan sedikit kebaikan dari pasangan Anda, Anda mulai melihatnya sebagai mitra produktivitas. Anda membagi dan menaklukkan daftar tugas yang tak ada habisnya, menugaskan siapa yang akan mengambil Jonny dari t-ball dan siapa yang akan membawa Katie ke balet, siapa yang akan memulai makan malam dan siapa yang akan membantu anak-anak mengerjakan pekerjaan rumah. Ketika waktu malam tiba dan Anda jatuh ke tempat tidur kelelahan dari hari, menikmati memikirkan tidur malam yang baik di atas romansa dan keintiman.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar dari kita akan dengan mudah mengakui bahwa kita mencintai pasangan kita. Lagipula, bukankah kita hanya mencuci pakaian dan membuat makan malam dan membayar tagihan? Kita sering dapat mengungkapkan cinta pengorbanan dalam merawat pasangan kita melalui menyelesaikan tugas-tugas yang diperlukan - bahkan ketika nyala api hasrat membara. Pengorbanan mungkin datang lebih alami daripada kelembutan, terutama sekali rumah Anda dipenuhi dengan buah cinta Anda yang menghabiskan energi (misalnya, anak-anak).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi mengapa penting untuk menjaga percikan tetap hidup dalam pernikahan Anda? Bukankah ini hal yang wajar dan umum untuk menempatkan kebutuhan anak-anak (dan semua hal lain yang harus Anda lakukan) di depan pasangan Anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Jagalah Api====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Efesus 5, kita melihat gambaran Injil yang dirancang untuk digambarkan oleh pernikahan. Pernikahan kami di bumi adalah bayangan dari pernikahan yang akan datang. Sama seperti Kristus yang berkenan di pengantin perempuannya, demikian pula kita harus bergembira dengan karunia pasangan kita. Sebagaimana gereja tunduk kepada Kristus, para istri dengan senang hati tunduk kepada suami mereka. Dan para suami dinasihati untuk mengasihi istri mereka dengan berkorban, sama seperti yang Kristus lakukan untuk gereja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan dimaksudkan sebagai perumpamaan yang hidup tentang kasih Kristus bagi gereja, dengan demikian memuliakan Tuhan dan menggambarkan kebenaran Injil kepada dunia yang menyaksikan. Melalui ketaatan kita yang penuh sukacita kepada perintah-perintah Tuhan, kegembiraan penuh kasih untuk mencintai pasangan kita meluap dalam kasih bagi orang-orang di sekitar kita. Investasi waktu dan perhatian dalam pernikahan kita sendiri menghasilkan kembalinya cinta yang lebih besar. Seperti yang dikatakan Christopher Ash dalam bukunya Married for God, &amp;quot;Jagalah api hati agar kehangatan cintamu bisa menyebar ke orang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Cara Menghargai Orang di Sisi Anda====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah beberapa cara kita dapat tumbuh dalam menghargai satu yang Tuhan telah tempatkan di sisi kita - untuk kesenangan kita sendiri, untuk kemuliaan Allah, dan untuk kebaikan orang-orang di sekitar kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====1. Perhatikan satu sama lain.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini mungkin tampak jelas, tetapi terlalu mudah untuk tetap menatap telepon Anda ketika pasangan kita berjalan di pintu. Luangkan waktu untuk mengakui kehadiran satu sama lain melalui salam hangat, pelukan, atau pertanyaan tentang hari mereka. Bersedialah untuk mengesampingkan apa pun yang sedang Anda kerjakan untuk menunjukkan minat yang tulus pada pasangan Anda (Filipi 2:20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====2. Sajikan satu sama lain.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Carilah cara untuk melayani dan memberkati pasangan Anda setiap hari. Lebih baik lagi, tanyakan kepada mereka bagaimana Anda bisa melayani mereka. Mungkin itu dengan mengambil dry cleaning, atau menempatkan anak-anak tidur lebih awal, atau hanya membuat makanan favorit untuk makan malam. Berhati-hatilah agar tidak jatuh dalam perangkap mengharapkan pasangan Anda memenuhi kebutuhan Anda. Banyak kekecewaan dan frustrasi dihasilkan dari menjaga skor. Sebaliknya, bergembiralah dalam mencari kebahagiaan pasangan Anda dengan menjalankan perintah Filipi 2: 3–4. Hitung pasangan Anda lebih penting daripada diri Anda sendiri dengan menghormati preferensi-Nya dan meniru kerendahan hati Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====3. Katakan, &amp;quot;Terima kasih.&amp;quot;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapan terakhir kali Anda berterima kasih kepada pasangan karena telah bekerja keras? Apakah dia menyediakan untuk keluargamu? Apakah dia mengesampingkan keinginannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan anak-anak Anda? Seringkali, kita dapat memikirkan pikiran bersyukur dan tidak pernah benar-benar mengungkapkannya. Tetapi Paulus mendesak kita untuk bersyukur tiga kali dalam Kolose 3: 15-17:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Biarlah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, yang untuknya kamu dipanggil dalam satu tubuh. Dan bersyukurlah. Biarlah firman Kristus tinggal di dalam kamu dengan kaya, mengajar dan menasihati satu sama lain dalam semua hikmat. . . dengan rasa terima kasih di hatimu kepada Tuhan. Dan apa pun yang Anda lakukan, dalam kata atau tindakan, lakukan segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus, bersyukur kepada Allah Bapa melalui dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harus berterima kasih kepada Tuhan dan membiarkan itu berkat meluap ke pasangan kita. Rajin menyuarakan terima kasih kepada pasangan Anda baik melalui kata-kata lisan atau tertulis. Cari alasan untuk bersyukur atas satu-satunya yang Tuhan tempatkan di sisi Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====4. Rencanakan waktu bersama - tanpa gangguan.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah ini malam kencan mingguan atau berjalan-jalan di taman, disengaja untuk memiliki waktu berduaan bersama adalah penting untuk berhubungan kembali dengan pasangan kita. Tanpa merencanakan waktu bersama, kegiatan anak-anak kita dan komitmen pelayanan kita akan berkuasa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam pernikahan kami, berjalan-jalan bersama adalah waktu untuk berbicara dan memproses kehidupan. Kami sudah maju dari memiliki anak-anak kami di kereta bayi untuk bisa meninggalkan mereka di rumah. Memiliki pasangan kencan malam di luar rumah setiap bulan membebaskan kita dari melihat pekerjaan yang belum selesai dan tugas-tugas yang sering dapat mengalihkan kita dari satu sama lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====5. Istirahat bersama.====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada yang lebih menyegarkan saya setiap minggu daripada hari istirahat yang disengaja. Menjaga hari ini dari daftar tugas yang tak ada habisnya dan bukannya melakukan sesuatu yang menyenangkan dengan suami saya telah membawa penyegaran yang sangat dibutuhkan bagi jiwa dan pernikahan kita. Dunia akan berlanjut tanpa kita menjawab email kita atau menyelesaikan setumpuk binatu berikutnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan menghemat energi satu sama lain. Saya pernah mendengar dikatakan bahwa kehidupan seks Anda adalah barometer yang baik dari pernikahan Anda. Jika Anda selalu terlalu lelah atau terlalu sibuk untuk keintiman, itu kemungkinan akan tercermin dalam ketegangan hubungan dalam pernikahan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Jangan Buta Terhadap Pasangan Anda====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesibukan hidup dan keinginan egois kita sendiri sering kali dapat membutakan kita dari melihat karunia pasangan kita. Berhentilah dan ingat apa yang membuat Anda menikahi mereka. Putuskan untuk memperlambat dan mencari cara untuk menambahkan rasa manis pada pernikahan Anda, berdoa agar cinta Anda satu sama lain akan melimpah demi kebaikan orang lain dan kemuliaan Tuhan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 04 Jun 2020 19:18:54 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Mengembalikan_KeIndahan_dalam_Pernikahan_Anda</comments>		</item>
		<item>
			<title>Mengapa Bila Seseorang Pergi Ke Gereja Tidak Berarti Seorang Kristen?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Mengapa_Bila_Seseorang_Pergi_Ke_Gereja_Tidak_Berarti_Seorang_Kristen%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Why Going to Church Does Not Make You a Christian}}&amp;lt;br&amp;gt;  '''Transkrip audio'''  ''Saya bukan seorang Kristen karena saya menghadiri gereja pada hari Minggu. Anda j...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Why Going to Church Does Not Make You a Christian}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Saya bukan seorang Kristen karena saya menghadiri gereja pada hari Minggu. Anda juga tidak. Dan John Piper juga tidak. Ini adalah pernyataan yang dibuat Piper di halaman pembuka sebuah buku oleh C.S. Lewis. Dalam pemeliharaan Tuhan, sebuah buku biru tipis dengan judul &amp;quot;The Weight of Glory&amp;quot; mengenai jalan hidup seorang Piper pada usia 23 (baru-baru ini difoto, di atas). Inilah cara beliau menceritakan kisah itu dalam khotbah tahun 2015.''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gelombang kedua yang melanda saya di tahun ke-23 saya adalah bahwa saya menemukan hasrat yang tidak terlalu kuat, tetapi terlalu lemah. Dan obat untuk kebingungan awal saya tidak terletak pada menyingkirkan keinginan saya, tetapi menyerahkan pada Tuhan. Bagi saya itu revolusioner.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah Anda, kerinduan, kesakitan, kerinduan, keinginan, John Piper, adalah bahwa Anda belum seperti Anda inginkan. Saya akan datang kepada Anda dan saya akan menyalakan api di bawah kobaran pengharapan. Saya akan menunjukkan kepada Anda apakah itu keinginan. Dan kemudian Dia menempatkan kemuliaan-Nya di depan Anda dan memenuhi Anda dengan Roh Kudus dan Anda menemukan apa Anda inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan C.S. Lewis adalah orang yang membuka kunci pintu. Saya berdiri di Toko Buku Vroman di Colorado Avenue (di Pasadena, CA) setelah membaca ''Mere Christianity'' di perguruan tinggi. Saya melihat ke sebuah meja. Saya pikir mereka sedang berjualan atau melakukan hal lainnya. Saya tidak yakin mengapa buku-buku itu berada di atas meja. Saya melihat sebuah buku biru kecil bernama The Weight of Glory oleh C.S. Lewis. Saya mengambilnya dan membuka halaman pertama dan membaca ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Perjanjian Baru banyak bicara tentang penyangkalan diri, tetapi penyangkalan diri bukanlah sebagai tujuan . Wow, itu menarik perhatianku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Kita diperintahkan untuk menyangkal diri kita sendiri dan memikul salib kita agar kita dapat mengikuti Kristus, dan hampir setiap uraian tentang apa yang pada akhirnya akan kita temukan jika kita benar-benar berhasrat. Jika ada di benak sebagian besar orang modern anggapan bahwa menginginkan kebaikan kita sendiri dan dengan sungguh-sungguh berharap untuk menikmatinya adalah hal yang buruk, saya serahkan gagasan ini yang berasal dari Immanuel Kant dan orang-orang yang dapat menahan hawa nafsu  tidak memiliki bagian dalam iman Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda bercanda? Saya pikir itu adalah bagiannya. Tidak, itu adalah “tidak memiliki bagian dalam iman Kristen.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Memang, jika kita mempertimbangkan janji-janji pahala yang tanpa malu-malu dan sifat mengejutkan dari pahala yang dijanjikan dalam Injil, tampaknya Tuhan kita menemukan keinginan kita tidak terlalu kuat, tetapi terlalu lemah. Kita adalah makhluk setengah hati yang bermain-main dengan minuman dan seks dan ambisi ketika kegembiraan yang tak terbatas ditawarkan kepada kita seperti anak bodoh yang ingin terus membuat pai lumpur di daerah kumuh karena dia tidak bisa membayangkan apa yang dimaksud dengan liburan di laut. Kita terlalu mudah senang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya telah menulis berkali-kali: Buku tidak mengubah orang, paragraf mengubah orang. Itu semua yang Anda ingat ketika Anda selesai dengan buku. Itu. Itu sudah cukup. Itu mengguncang dunia. Apa pun yang ada di buku itu, itu mengubah dunia. Dan kemudian saya melihatnya, tentu saja, seperti yang Anda miliki, di seluruh Alkitab. &amp;quot;Sebagai rusa “celana” untuk aliran sungai, jadi “celana” saya ...&amp;quot; - tidak, bukan celana saya! Mulai lagi. Edit atau tinggalkan - itu lucu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah. Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?&amp;quot; (Mazmur 42: 1-2).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.&amp;quot; (Mazmur 37: 4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita!&amp;quot; (Mazmur 100: 2). Adalah dosa untuk melayani Tuhan dengan cara lain.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!&amp;quot; (Filipi 4: 4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi perintah dari Tuhan untuk menikmati Tuhan bukanlah, yang membuatku terkagum-kagum, terlalu kecil. Ini adalah pusat. Ini lebih dalam dari itu. Dipuaskan dalam Tuhan bukan sekedar terlihat menarik di luarnya saja. Itu bukan sesuatu yang menjadi tujuan akhir. Saya tidak bermaksud menyinggung siapa pun - kecuali sedikit. Itu adalah sesuatu yang penting dan jantung kekristenan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekristenan - sekarang menurut orang-orang aliran konservative di daerah selatan, Presbiterian, Baptis, sebut saja yang lain – menurut mereka Kekristenan bukanlah agama ketekunan. Ini bukan agama keputusan untuk melakukan apa yang tidak ingin Anda lakukan. Ini adalah karya supernatural dari Tuhan yang dengannya Anda dilahirkan kembali sehingga Anda menginginkan Tuhan lebih dari yang Anda inginkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Anda tidak menginginkan Tuhan lebih dari yang Anda inginkan, Anda bukan seorang Kristen.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah kelahiran baru itu. Ia membutuhkan hati yang jatuh cinta dengan dunia dan menempatkan mereka dalam kasih dengan Kristus dan Bapa-Nya dan Injil dan kemuliaan diselamatkan dan berjanji untuk pergi ke surga sukacita yang kekal. Dan jika itu adalah hal yang membosankan, membosankan, tidak berarti bagi Anda dan segala sesuatu di dunia ini nyata bagi Anda, Anda bukan seorang Kristen. Saya tidak peduli berapa banyak keputusan yang telah Anda buat, berapa banyak jalan yang telah Anda lalui, berapa banyak kartu yang Anda tanda tangani. Saya tidak peduli apa yang Anda lakukan, ke gereja mana Anda pergi. Itu bukan agama Kristen. Itu adalah perubahan bagi saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini sangat mengancam. Ya, memang. Sangat menakutkan mengetahui bahwa hati saya harus diubah untuk menjadi seorang Kristen. Saya harus memiliki nilai-nilai yang baru, gairah yang baru, keinginan yang baru, kesenangan yang menyenangkan. itu baru. Hal-hal baru membuatku bahagia. Aku tidak hanya pergi ke gereja. Cuih. Siapa yang ingin menyebut itu kekristenan? Itu bukan. Itu adalah revolusi bagiku. Keinginanku tidak terlalu kuat. , karena untuk menjadi seorang Kristen harus diberi hati yang baru, yang berarti nafsu baru, keinginan baru, kerinduan baru. Yesus sekarang adalah harta tertinggi Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot; Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus (Filipi 3: 8).&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 04 Jun 2020 12:14:59 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Mengapa_Bila_Seseorang_Pergi_Ke_Gereja_Tidak_Berarti_Seorang_Kristen%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Pengampunan dan Ketakutan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pengampunan_dan_Ketakutan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;{{info|Forgiveness and Fear}}&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Mazmur 130: 3-4 sungguh menakjubkan.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;“Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. ”(Mzm. 130: 3-4). Pada bacaan pertama, sesuatu tampaknya sangat aneh. Tidakkah lebih masuk akal bagi pemazmur untuk mengatakan: &amp;quot;Tetapi padaMU ada keadilan, supaya Engkau ditakuti”? Bukankah tujuan Tuhan menuntut penggantian  untuk pelanggaran kita dengan membangkitkan rasa takut dalam jiwa manusia? Jika Tuhan memang harus &amp;quot;menandai kesalahan&amp;quot; maka rasa takut tampaknya merupakan satu-satunya jawaban yang tepat.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tetapi kabar baiknya adalah bahwa dengan Tuhan “ada pengampunan”! Karena itu, tidakkah semua “ketakutan” dihilangkan? Orang tentu akan berpikir begitu. Namun pemazmur menyatakan bahwa hasil dari pengampunan (mungkin bahkan tujuannya) adalah bahwa kita mungkin takut akan Tuhan dengan lebih mendalam.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Pikirkan secara mendalam tentang apa yang dikatakan. Dengan Tuhan ada pengampunan. Dari Dia menghasilkan kasih karunia yang menyediakan pendamaian bagi dosa-dosa kita. Dia telah mengambil setiap langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan penebusan kita melalui Putranya. Menurut Mazmur 103: 10, dia tidak lagi berurusan dengan kita berdasarkan dosa kita atau membayar kita sesuai dengan kesalahan kita. Memang, dosa-dosa kita telah dihapuskan dari kita sejauh timur dari barat (Mzm. 103: 12).&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Inilah sebabnya mengapa &amp;quot;takut&amp;quot; akan Tuhan yang disebutkan dalam ayat ini tidak berupa rasa takut menghadapi penghukuman atau rasa takut akan bertemu dan mengalami murka-Nya yang benar. Apakah Anda melihat logika pemazmur? Jika yang kita temukan bersama Tuhan adalah pengampunan atas dosa-dosa kita, alasan apa yang tersisa bagi kita untuk hidup dalam ketakutan akan penghakiman atau murka-Nya? Jika Tuhan telah menghapus dosa dan kesalahan kita, maka jelas dia telah memilih untuk tidak “menandai kejahatan” dan sama jelasnya semua alasan ketakutan hilang. Karena itu, jika “takut akan Tuhan” dalam perikop ini merujuk pada ketakutan akan kehancuran yang akan datang, pengampunan dikosongkan dari semua makna dan nilai.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tetapi menurut apa yang kita baca dalam ayat 4, pengampunan adalah dasar untuk rasa takut! Pengetahuan yang tak tergoyahkan bahwa Tuhan tidak akan pernah “menandai kejahatan” (ayat 3), yaitu, kepastian bahwa dosa-dosa kita telah diampuni selamanya, &amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;adalah alasan&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt; mengapa kita takut akan Allah. Tidak ada yang lepas dari kekuatan bahasa pemazmur: &amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;takut akan Tuhan adalah buah pengampunan yang diperlukan!&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt; Ini saja menuntut bahwa takut akan Tuhan melibatkan sesuatu selain dari takut akan penghakiman.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Pengampunan, seperti halnya tindakan Tuhan, mengungkapkan kebesaran dan keagungannya yang tidak dapat dipahami. Tuhan yang kekal dan yang tak terbatas yang bisa dipahami manusia, telah bertindak dalam kasih karunia atas nama orang-orang berdosa yang seharusnya masuk neraka. Begitu kenyataan ini sepenuhnya dipahami, satu-satunya respons yang masuk akal adalah kehancuran, kerendahan hati, dan kekaguman pada cinta yang begitu menakjubkan.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tentu saja ada sukacita dalam pengetahuan tentang pengampunan kita, serta rasa terima kasih dan pujian. Tetapi ini sangat konsisten dengan ketakutan suci, &amp;lt;i&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;kesadaran yang menghancurkan tulang bahwa hanya dengan rahmat ilahi saja kita tidak selamanya dikonsumsi oleh murka ilahi&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;/i&amp;gt;. Seseorang dapat secara serentak “mencicipi” kebaikan Tuhan (Mzm. 34: 8a) dan “takut” kepadaNya (Mzm. 34: 9a).&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Jadi, berdasarkan teks-teks seperti Mazmur 130 kita tahu bahwa takut akan Tuhan tidak sama dengan ketakutan akan Dia.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 04 Jun 2020 12:10:16 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Pengampunan_dan_Ketakutan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Aku Tidak Bisa, Tuhan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Aku_Tidak_Bisa,_Tuhan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|I Can’t Do This, God}}&amp;lt;br&amp;gt;  Lemah, hina, direndahkan, dan diremehkan adalah sifat-sifat penting yang Tuhan cari dari hambaNya, dan Tuhan memilih sifat-sifat ini ...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|I Can’t Do This, God}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lemah, hina, direndahkan, dan diremehkan adalah sifat-sifat penting yang Tuhan cari dari hambaNya, dan Tuhan memilih sifat-sifat ini dengan sengaja (1 Kor 1:27-29).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak percaya? Lihatlah daftar kualifikasi aneh yang diberikan Tuhan untuk posisi penting dalam sejarah:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Bapak (dan Ibu) Orang Beriman: haruslah pasangan suami istri; mandul dan tua (Kejadian 17:6, 8, 15-16)&lt;br /&gt;
*Raja terhebat di Israel: haruslah seorang penggembala remaja saat ditemukan (1 Sam 16:11-13); haruslah penyanyi dan penyair; harus hidup dalam pelarian yang terus menerus diancam untuk dibunuh selama beberapa tahun (1 Sam 20:3)&lt;br /&gt;
*Sang Mesias: haruslah memiliki latar belakang tukang kayu (Mar 6:3); dibesarkan di kota yang kecil dan diremehkan (Yoh 1:46); tidak punya pendidikan teologi formal (Yoh 7:15)&lt;br /&gt;
*Rasul Kepala: haruslah memiliki latar belakang di bidang perikanan dan tidak memiliki pendidikan teologi formal (Mat 4:18; Kis 4:13)&lt;br /&gt;
*Rasul Pimpinan dalam Teologi, Apologi, dan Misiologi: haruslah seorang penganiaya umat Kristen yang sangat giat (Kis 8:3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita mungkin tahu, secara abstrak, bahwa Tuhan suka memakai kelemahan dan kehancuran. Kita mungkin menganggapnya sebagai penyemangat dalam kisah Alkitab atau sejarah misionaris. Kita mungkin bahkan mengajarkan atau memberitakan hal ini pada orang lain. Namun jika menyangkut kualifikasi-kualifikasi kita sendiri, hampir selalu menjadi kejutan yang tidak menyenangkan dan membingungkan bahwa Tuhan ingin menyoroti kelemahan kita. Karena itulah kita terkadang meminta Tuhan untuk memilih orang lain untuk mengerjakan tugas kita, seperti Musa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Tuhan memiliki sebuah tujuan yang baik dalam kelemahan kita ini. Yaitu, jika kita menerimanya, membuat kelemahan kita menjadi sumber sukacita, bukan rasa malu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tuhan, Utuslah Orang Lain====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Musa adalah salah satu pilihan aneh dari Tuhan. Apa yang ada di daftar kualifikasi Tuhan untuk pemimpin eksodus bangsa Israel dan nabi Perjanjian Lama terbesar? Haruslah orang Yahudi dari keluarga kerajaan Mesir (Kel 2:10), harus melakukan pembunuhan yang fatal (Kel 2:12, 15), harus hidup tak dikenal orang sebagai gembala buronan selama 40 tahun (Kel 2:15; 7: 7) - oh, dan haruslah seorang pembicara publik yang buruk (Kel 4:10).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kisah Musa ini sangat menginspirasi, namun kita harus menempatkan diri kita di posisi Musa, di depan semak belukar yang menyala itu. Apakah Anda merasa pantas untuk menentang Firaun dan menuntut pembebasan total bagi para budaknya? Musa tentu saja merasa tidak pantas. Dia memiliki banyak keberatan mengenai pilihan Allah ini (Kel 3:13 – 4:12). Lalu ketika Tuhan tetap bersikukuh, akhirnya Musa mengatakan: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus” (Kel 4:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tolong utuslah orang lain. Inilah respon ketakutan dari seseorang yang tidak hanya merasa lemah, tapi juga tahu pasti bahwa dia terlalu lemah untuk mengerjakan apa yang Tuhan tugaskan. Ya, responnya kurang beriman, namun itulah penilaian yang akurat: dengan kekuatannya sendiri, Musa tidak akan bisa menuntaskan tugasnya. Menjadi gentar memang benar-benar pantas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernahkah Anda merasa seperti itu? Saya pernah. Nyatanya, saya memiliki kecenderungan untuk merasakan hal itu saat saya berusia paruh baya melebihi pada saat saya masih muda, karena saya lebih mengetahui kelemahan dan keterbatasan saya. Sekarang saya memiliki kegagalan dalam kepemimpinan di pelayanan dan keluarga dalam daftar riwayat hidup saya, yang sebagian besar adalah karena kepercayaan diri yang salah pada kebijaksanaan dan kapasitas saya. Saya mengenali kecenderungan ini sebagai kurangnya iman, namun saya dapat memahami preferensi Musa untuk berkelana dengan kawanan ternaknya melalui bukit-bukit yang tenang di Horeb daripada mengambil tugas dari Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan, saya yakin ada banyak orang yang lebih pantas dari saya untuk melakukan ini dan itu. Saya benar-benar lebih suka bersembunyi di zona aman dengan tidak dikenal orang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Mengkualifikasikan Kelemahan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Respon ini tidak tepat meskipun bisa dipahami secara manusiawi. Allah tidak pernah memanggil kita untuk sebuah tanggung jawab surgawi yang mampu kita lakukan sendiri. Tidak penting apakah seseorang dipanggil untuk menghadapi Firaun atau untuk mengasihi sesamanya untuk memberitakan injil, tidak ada yang bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan Tuhan: mengeraskan atau melunakkan hati seseorang (Rom 9:18). Segala kuasa milik Tuhan (Maz 62:11), dan kecuali Tuhan bekerja di dalam kita “baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya,” segala yang kita kerjakan tidak berguna (Fil 2:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita tidak merasakan ketidakmampuan kita untuk melakukan tugas yang diberikan Tuhan kepada kita, artinya kita tidak memahami kenyataannya. Karena ketika melakukan apa pun yang dimaksudkan untuk menunjukkan kemuliaan Allah, memajukan kerajaan Allah, menyatakan firman-Nya pada dunia yang menentangnya, memenangkan dan menyelamatkan jiwa yang terhilang, jiwa-jiwa gembala, bertempur melawan kuasa iblis, dan mempermalukan dosa yang menetap di dalam diri kita,“ siapa [di dunia] yang sanggup melakukan untuk hal-hal ini? &amp;quot; (2 Kor 2:16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelemahan adalah kualifikasi penting untuk hamba-hamba Tuhan, demi alasan ini: untuk menegaskan pada kita sendiri dan dunia yang melihat kita bahwa kita tidak cukup mampu. Tuhan menaruh “harta dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor 4:7). Kelemahan-kelemahan kita – yang membuat kita malu dan yang kita harapkan tidak perlu bergumul dengan itu, yang ingin kita sembunyikan dari dunia, yang membuat kita meminta Tuhan mengutus orang lain – adalah bagian penting dari misi yang Tuhan berikan. Itu salah satu strategi Tuhan untuk menyatakan dirinya pada dunia. Melalui kelemahan kita, lebih dari kekuatan kita, Tuhan mendemonstrasikan bahwa Dia ada dan memberi upah bagi orang yang percaya dan mencari Dia (Ibr 11:6)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bermegah dengan Sukacita Dalam Kelemahan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus, tokoh yang kita tahu memiliki banyak kelebihan yang mengagumkan, memahami kebenaran yang mendalam ini dan mengalaminya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat” (2 Kor 12:9-10). Jangan mendengar ayat ini seolah-olah dari seseorang yang sangat dikaruniai sehingga dia bahkan tidak tersentuh oleh kelemahan manusiawi yang dihadapi oleh normalnya seorang manusia. Kita mungkin hampir tidak tahu seberapa banyak berbagai kelemahan Paulus terungkap dan kehilangan-kehilangan, patah hati, dan kegagalan yang sebenarnya ia alami, yang tampaknya mustahil. Apa yang kita ketahui adalah bahwa Yesus berkata tepat setelah pertobatannya, “Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kis 9:16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penderitaan dan kelemahan Paulus yang terlihat bukanlah bersifat sebagai hukuman karena dia sebelumnya menganiaya orang-orang Kristen. Yesus sudah membayar lunas dosanya. Sebaliknya, itu adalah cara yang penting agar kekuasaan Tuhan dinyatakan pada dunia – itu benar, sehingga Paulis menjadi orang yang dengan sukacita memegahkan hal-hal yang membuatnya tampak lemah. Karena di dalam kelemahannya, orang melihat bahwa satu-satunya kekuatan yang dia punya datangnya dari Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Alasan Mengapa Anda Lemah====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah alasan mengapa kita memiliki kelemahan. Itulah yang melayakkan kita, mungkin melebihi segala kekuatan kita, untuk melayani Tuhan di mana kita ditempatkan dalam kerajaanNya. Juga tak ada yang mengajarkan kita ketergantungan dalam doa seperti keputusasaan yang datang karena ditugaskan untuk melakukan apa yang tidak dapat Anda lakukan tanpa Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manusia terkesan dengan segala macam kelebihan manusia. Namun Tuhan hanya terkesan pada satu kelebihan manusia, yaitu: iman yang kuat. Karena iman berarti bersandar pada kekuatan Tuhan. Karena itu, saat Tuhan memangggil kita untuk peran-peran yang berbeda dan bermacam-macam dalam kerajaanNya, Dia memastikan bahwa panggilan kita memberikan banyak kesempatan untuk memperlihatkan kelemahan kita. Makin kita mengerti alasannya, makin banyak kesempatan-kesempatan ini yang menjadi peluang untuk bersukacita, bukan merasa malu.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 21 Apr 2020 12:07:45 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Aku_Tidak_Bisa,_Tuhan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Tambahan 5 Tanda Lainnya Bahwa Kamu Memuliakan Dirimu</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Tambahan_5_Tanda_Lainnya_Bahwa_Kamu_Memuliakan_Dirimu</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|5 More Signs You Glorify Self}}&amp;lt;br&amp;gt;  Minggu lalu kita sudah bicarakan  bagaimana lima tindakan mencari kemuliaan diri dapat  membentuk pelayananmu. Sekarang saya t...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|5 More Signs You Glorify Self}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Minggu lalu kita sudah bicarakan  bagaimana lima tindakan mencari kemuliaan diri dapat  membentuk pelayananmu. Sekarang saya tambahkan lima tanda lagi untuk memperingatkan kamu dalam upayamu hidup dalam kebenaran dan kekudusan. Semoga Tuhan memakai lima tanda tambahan ini untuk menyelidiki hatimu dan memberi arah yang baru pada pelayananmu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mencari kemuliaan diri akan menyebabkan kamu akan:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====6. Tidak terlalu perduli apa pendapat orang terhadap dirimu====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika merasa diri  sudah sukses, kamu akan dengan percaya dirinya pikir orang lain tidak akan berani mengkritik/ menilai pemikiranmu, idemu, perkataanmu, rencana dan tujuanmu, sikapmu, inisiatifmu. Kamu juga merasa tidak butuh bantuan. Kau lakukan semua pekerjaan yang sebenarnya bisa di kerjakan bersama dalam suatu tim. Kalaupun bekerja sama dalam satu tim, kamu akan pilih orang- orang yang mengidolakan kamu, orang- orang yang sangat gembira kau libatkan, dan orang yang sulit berkata “tidak” terhadapmu. Kamu lupa siapa dirimu dan apa yang Juru Selamatmu katakan bahwa kau butuh Dia dari hari ke sehari. Hidup semacam ini berbahaya bagi  pelayanan dan kehidupan pribadimu.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====7.  Tidak mau menerima dan mengakui dosa, kelemahan dan kesalahanmu====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa ada orang yang marah atau jengkel ketika mereka di konfrontasi? Mengapa kita langsung membenarkan dan membela diri? Mengapa kita langsung membalik situasi ganti mengingatkan orang itu bahwa dia juga seorang pendosa? Mengapa kita membantah fakta atau menentang pendapat orang tentang kita? Kita semua lakukan hal ini karena kita percaya kita lebih baik dan benar di bandingkan orang itu. Orang sombong tidak bisa menerima peringatan, teguran, konfrontasi, kritik dan di minta pertanggung-jawabannya walau di lakukan dengan kasih. Jika mereka gagal dalam suatu urusan atau relasi dengan orang lain, mereka dengan pandainya membangun suatu alasan yang masuk akal bahwa bukan salahnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kamu cepat mengakui kelemahanmu? Apakah kamu siap mengakui kesalahanmu di hadapan Tuhan dan manusia? Apakah kamu siap mengakui kelemahanmu dengan rendah hati? Ingat, jika teman satu pelayanan mengemukakan dosamu, kelemahanmu atau kesalahanmu jangan menerimanya sebagai serangan, gangguan dan jangan pernah melihatnya sebagai penghinaan. Selalu melihatnya sebagai kasih karunia. Tuhan mengasihimu, Dia yang menempatkanmu di komunitas agama ini dan Tuhan akan menyingkapkan kebutuhan spiritualmu kepada orang yang ada di sekelilingmu supaya mereka dapat menjadi alatNya untuk meneguhkan imanmu, menolong dan mengubahmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====8. Tidak senang dengan berkat orang lain====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemuliaan diri adalah penyebab utama dari iri hati. Kamu iri dengan berkat orang lain karena merasa kamu yang lebih pantas menerima berkat itu daripada mereka. Karena merasa kamu yang layak maka wajarlah jika kamu marah mereka dapatkan apa yang sepantasnya hakmu dan juga wajarlah kau menginginkan berkat yang menurutmu tidak layak mereka nikmati. Di dalam kemuliaan dirimu yg penuh dengan rasa iri, sebenarnya kamu menuduh Tuhan tidak adil. Kemudian tanpa di sadari kamu terbiasa meragukan pengaturan, keadilan  dan kebaikan Tuhan. Kau pikir Tuhan tidak perlakukan kau sebagaimana layaknya. Dan mulailah kamu kehilangan motivasi melakukan apa yang benar karena berpikir tidak ada gunanya. Ingat, iri dan kepahitan beda tipis. Karena itu Asaf yang iri berseru di Mazmur 73:13, “ Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah”. Yang mau dia katakan, “ saya sudah taat dan hanya ini yang saya peroleh?” Kemudian dia menulis,” Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya,  aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu”. Kata- kata yang menggambarkan hewan yang penuh kepahitan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah bertemu dengan beberapa pendeta yang kepahitan, mereka merasa mereka mengalami penderitaan yang tidak  seharusnya  terjadi pada mereka. Saya juga pernah bertemu dengan pendeta yang kepahitan, yang iri kepada pelayanan pendeta lain,  mereka kehilangan motivasi dan sukacita. Saya berjumpa dengan banyak pendeta yang sampai meragukan kebaikan Tuhan. Dan tentu saja saat susah kamu tidak akan mencari Persona yang kau ragukan kebaikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====9. Lebih berorientasi kepada jabatan daripada kepada ketundukan kepada Tuhan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memuliakan diri selalu menjadikan kamu lebih berorientasi kepada kedudukan, kekuasaan dan jabatan daripada tunduk kepada kehendak Tuhan. Kamu lihat contoh ini di kehidupan para rasul. Yesus tidak memanggil mereka untuk mewujudkan  kerajaan kecil mereka tapi mereka di panggil untuk menerima dan menjadi alat kerajaan yang lebih baik. Namun keangkuhan membutakan mereka.  Mereka semua terlalu fokus kepada siapakah yang akan menjadi terbesar dalam kerajaaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu tidak akan bisa penuhi panggilan sebagai duta utusan jika ingin akan kekuasaan dan kedudukan raja. Berorientasi kepada jabatan akan mengakibatkan kamu menjadi politikal padahal seharusnya jadi pastoral. Jadinya kamu akan menuntut di layani bukannya melayani, menuntut orang melakukan apa yang kamu sendiri tidak mau lakukan, menuntut perlakuan istimewa padahal seharusnya kamu rela kehilangan hak. Kamu akan lebih memikirkan bagaimana itu menguntungkan dirimu daripada bagaimana itu dapat membawa kemuliaan bagi Yesus. Kamu akan lebih suka menyusun rencanamu sendiri daripada dengan sukacita tunduk kepada rencanaNya. Memuliakan diri mengubah orang yang seharusnya di pilih dan di panggil sebagai duta utusan kerajaan Allah menjadi orang yang mengangkat dirinya sendiri menjadi raja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====10. Lebih mengontrol daripada mendelegasikan dalam pelayanan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu sombong, terlalu percaya diri, kamu cenderung berpikir kaulah orang yang paling kapabel di dalam lingkup pelayananmu. Kamu sulit melihat dan menghargai talenta orang lain karena itu akan sulit menjadikan pelayananmu sebagai komunitas yang saling bekerja sama mencapai suatu hasil. Memandang diri lebih tinggi dari yang seharusnya membuat kamu memandang rendah orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sifat rendah hati dan membutuhkan bantuan dari orang lain menjadikan kamu orang yang selalu mencari dan menghargai talenta dan kontribusi orang lain. Pendeta yang merasa sudah sukses biasanya melihat pendelegasian tugas sebagai buang- buang waktu saja. Mereka berpikir dalam hati, Untuk apa tugaskan ke orang lain jika aku dapat kerjakan dengan lebih baik? Kesombongan semacam itu akan hancurkan pelayanan yang saling berbagi dan arti pelayanan sesungguhnya dari Tubuh Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kesedihan dan Pertobatanku====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting saya sampaikan bahwa saya menulis peringatan ini dengan kesedihan dan pertobatan.  Dalam pelayanan, saya pernah jatuh dalam semua jebakan  memuliakan diri ini. Saya mendominasi pembicaraan saat seharusnya saya mendengar. Saya pegang kontrol saat seharusnya saya percayakan kepada yang lain. Saya tidak mau di salahkan saat seharusnya saya sangat butuh teguran. Saya menolak bantuan saat saya seharusnya berteriak minta tolong. Saya pikir pendapatku yang paling benar dan menolak semua pandangan lainnya.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Aku sedih setiap teringat tahun- tahun pelayananku saat itu, tapi saya tidak depresi. Karena dalam kelemahanku, kasih karunia Tuhan menolongku dan memulihkanku terus menerus. Tuhan setahap demi setahap melepaskan aku dari keakuanku ( terus menerus). Dan dalam keadaan terkoyak di antara “kerajaanku” dan kerajaan Allah, Tuhan dengan mujizatNya memakaiku menjadi berkat bagi kehidupan orang banyak. Dalam kasihNya, Dia bekerja mempenyokkan dan mencoreng kemuliaanku supaya kemuliaanNya menjadi kesukaanku. Dia menjarah kerajaanku supaya kerajaanNya menjadi sukacitaku. Dia hancurkan mahkotaku di bawah kakiNya supaya aku pergi menjadi utusanNya dan tidak ingin menjadi raja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam belas kasihNya yang keras ini, ada harapan bagi semua orang. Tuhanmu bukan hanya mau kesuksesan pelayananmu tapi Dia juga mau turunkan kamu dari tahtamu. Hanya saat tahtaNya lebih penting dari tahtamu baru kamu akan bisa mendapatkan sukacita di dalam pelayanan penginjilan yang sulit dan “rendah”.  Dan kasih karuniaNya tidak akan berhenti menekan sampai kemuliaanNya benar- benar menawan hati kita. Kabar yang sungguh baik!&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 20 Mar 2020 19:15:40 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Tambahan_5_Tanda_Lainnya_Bahwa_Kamu_Memuliakan_Dirimu</comments>		</item>
		<item>
			<title>5 Tanda Kamu Memuliakan Diri</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/5_Tanda_Kamu_Memuliakan_Diri</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|5 Signs You Glorify Self}}&amp;lt;br&amp;gt;  Penting untuk mengenali jika ada sikap memuliakan diri dalam dirimu dan dalam pelayananmu. Semoga Tuhan memakai daftar di bawah ini...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|5 Signs You Glorify Self}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penting untuk mengenali jika ada sikap memuliakan diri dalam dirimu dan dalam pelayananmu. Semoga Tuhan memakai daftar di bawah ini untuk berikan hikmat untuk memeriksa diri. Dengan daftar ini, Tuhan bongkar hatimu dan beri arah baru kepada pelayananmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemuliaan diri akan menyebabkan kamu:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====1.Memamerkan  di depan umum apa yang seharusnya adalah hal pribadi. ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum farisi adalah contohnya. Karena merasa betapa mulia hidupnya maka mereka suka memamerkan kemuliaannya. Jika kau merasa diri hebat, kau akan melihat dirimu tidak  butuh kasih karunia Tuhan yang menyelamatkan itu dan kamu akan cenderung menonjolkan diri dan memuji diri sendiri. Karena yang utama adalah kemuliaan diri, kamu akan berusaha mendapatkan kemuliaan yang lebih lagi bahkan tanpa kamu sadari. Kamu cenderung menceritakan kisah yang menonjolkan kehebatanmu. Kamu akan berusaha di depan orang berbicara tentang tindakan iman yang kau lakukan. Karena kau pikir kau layak dapat pujian, kau akan mencari pujian dari orang lain dengan berbagai cara supaya mereka melihatmu sebagai orang yang beriman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tahu banyak pendeta yang baca ini akan berpikir mereka tidak mungkin lakukan itu. Namun saya percaya banyak pelayanan pastoral yang demikian. Inilah sebabnya aku sering merasa tidak nyaman saat menghadiri konferensi pendeta, rapat presbiteri, pertemuan majelis, dll. Setelah selesai acara, sekumpulan pendeta ini akan seperti ikut kontes siapa yang terhebat, berusaha tutupi apa yang sebenarnya terjadi di dalam hati dan pelayanan mereka. Setelah selesai memuji kemuliaan karunia injil, mereka mulai menonjolkan diri lebih dari yang sepantasnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====2. Terlalu merasa diri penting====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita semua tahu, pernah alami, pernah rasa tidak nyaman di situasi demikian, dan pernah lakukannya. Orang sombong suka menceritakan tentang dirinya. Mereka lebih pentingkan pendapatnya daripada pendapat orang lain. Mereka merasa ceritanya lebih menarik dan menyenangkan. Mereka pikir lebih tahu dan lebih mengerti. Juga mereka merasa harus di dengarkan/ di perhatikan. Mereka banyak menceritakan apa saja yang dia tahu dan apa yang sudah dia lakukan. Orang sombong tidak menunjukkan kelemahannya. Juga tidak bicara tentang kegagalan. Tidak mungkin mengaku dosanya. Mereka ahli mengarahkan perhatian ke dirinya daripada mengarahkan cerita dan opini mereka kepada kemuliaan Tuhan dan kasih karuniaNya yang sama sekali tidak layak kita terima. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====3. Berbicara saat seharusnya diam====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika merasa diri hebat, kamu akan merasa bangga dan penuh keyakinan akan opinimu. Kamu percaya opinimu yang terbaik sehingga tidak tertarik mendengar opini orang lain. Kamu ingin pemikiranmu, perspektifmu dan pandanganmu yang menang dalam setiap percakapan atau rapat. Artinya dalam pertemuan,  kamu merasa lebih nyaman saat kamu mendominasi percakapan. Kamu tidak bisa menerima “dalam banyak penasehat ada kebijaksanaan”. Kamu akan gagal melihat esensi pelayanan dalam tubuh Kristus di hidupmu. Kamu tidak sadar bahwa kamu buta rohani dan tidak obyektif. Akibatnya kamu hadir ke suatu rapat bukan dengan tujuan mencari kerjasama dengan orang lain tapi yang terjadi adalah kamu terlalu menguasai pembicaraan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====4. Diam disaat seharusnya bicara====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memuliakan diri bisa juga terjadi sebaliknya. Pemimpin yang terlalu percaya diri melihat rapat sebagai buang waktu saja, mereka tidak sadar bahwa kesanggupannya karena kasih karuniaNya. Karena merasa mampu lakukan sendiri semuanya maka mereka melihat rapat sebagai suatu kegiatan yang menjengkelkan dan menganggu jadwal pelayanan yang sudah sangat padat. Karena itu sikap mereka bisa acuh tak acuh di rapat itu atau bisa juga hadir di rapat tapi berusaha agar rapatnya secepatnya diselesaikan. Mereka tidak akan  membeberkan pemikirannya untuk di bicarakan bersama karena sejujurnya mereka tidak merasa perlu masukan dari orang lain. Dan saat usulan mereka di perdebatkan, mereka akan diam saja, tidak mau ikut berdebat karena merasa tidak ada yang perlu di perdebatkan, usulan mereka sudah sempurna. Memuliakan diri dapat membuat orang berbicara terlalu banyak saat seharusnya kamu mendengar atau merasa tidak perlu berbicara saat seharusnya kamu bicara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====5. Terlalu perduli apa kata orang tentang dirimu====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat kamu kira kamu adalah “sesuatu”, kamu mau orang melihat “sesuatu” itu. Sekali lagi, contohnya adalah orang farisi. Kaum farisi: karena melihat diri mulia menghasilkan sikap yang selalu mau mencari kemuliaan. Orang yang merasa hebat menjadi orang yang terlalu fokus apa pendapat orang tentang dia. Karena kau terlalu perhatikan reaksi orang terhadapmu, kau mungkin bahkan tidak menyadari sikapmu yang selalu mau di pandang orang dan mendapat pujian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sayangnya kita sering melayani injil Yesus Kristus untuk kemuliaan diri sendiri bukan untuk kemuliaan Kristus atau untuk keselamatan jemaat di bawah pimpinan kita. Saya pernah lakukan ini. Sewaktu siapkan khotbah, ada saatnya saya sempat memikirkan bagaimana dapat membuat orang tertentu memandang saya hebat dan saya juga perhatikan reaksi orang tertentu sewaktu sedang khotbah. Pada saat seperti itu, saat khotbah dan persiapannya, saya mengabaikan panggilanku sebagai duta kemuliaan kekal menggantinya dengan kemuliaan sementara yaitu pujian dari manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Minggu depan, kita akan bahas tambahan lima tanda kamu memuliakan diri dan bagaimana itu mempengaruhi pelayananmu.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 20 Mar 2020 19:05:38 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:5_Tanda_Kamu_Memuliakan_Diri</comments>		</item>
		<item>
			<title>Doa Yang Paling Senang Tuhan Jawab</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Doa_Yang_Paling_Senang_Tuhan_Jawab</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|The Prayer God Loves to Answer Most}}&amp;lt;br&amp;gt;  Tuhan suka menjawab doa &amp;quot;Tunjukkan kemuliaanMu.&amp;quot; Ketika jiwa Anda lapar, ketika tangki Anda terasa kosong, ketika Anda b...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|The Prayer God Loves to Answer Most}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan suka menjawab doa &amp;quot;Tunjukkan kemuliaanMu.&amp;quot; Ketika jiwa Anda lapar, ketika tangki Anda terasa kosong, ketika Anda berlari dengan asap, ketika Anda membuka Alkitab di pagi hari dan meminta bantuan Tuhan, permintaan yang masuk akal adalah permohonan sederhana, jujur, dan sederhana ini: “Bapa , tunjukkan kemuliaan Anda. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan menciptakan dunia untuk menunjukkan dan berbagi kemuliaan-Nya. Dia membuat kita menurut gambarNya untuk mencerminkanNya di dunia. Tetapi kita tidak akan sepenuhnya memantulkanMya jika kita belum mengagumiNya dan menikmati kecantikanNya di hati kita. Dan hati kita tidak dapat memandangNya dengan kagum jika kita belum melihatNya dengan mata jiwa kita. Kehidupan yang berubah (dan dunia yang berubah) mulai dengan melihat kemuliaan. “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangNya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” (2 Korintus 3:18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Ya Tuhan, tunjukkan kemuliaanMu padaku.&amp;quot; Sejarah menggantung padaNya menjawab permintaan itu. Dan satu bukti besar dari pekerjaanNya dalam jiwa manusia adalah merasakan, dan kemudian mengungkapkan, kerinduan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Dua Model Yang Berkesan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan hanya permintaan bijak untuk membuat untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Rasul Paulus berdoa untuk orang-orang Kristen agar “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,dan betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan kuasa-Nya, ”(Efesus 1: 18–19). Alih-alih memulai dengan kenyamanan istri Anda, bagaimana jika Anda berdoa, &amp;quot;Tunjukkan padanya kemuliaan Anda&amp;quot;? Seiring dengan kesehatan tetangga Anda, &amp;quot;Tuhan, tunjukkan kemuliaan Anda padanya.&amp;quot; Bahkan sebelum keselamatan anak-anak Anda, &amp;quot;Ayah, tunjukkan kemuliaan Anda kepada mereka.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi jangan lewatkan kesempatan untuk memulai dengan diri sendiri dan sering berdoa agar Tuhan menunjukkan kepada Anda keagungan-Nya. Ketika kita membuat permintaan yang sakral dan kuat ini hari ini, kita sebaiknya mempertimbangkan dua tokoh Alkitab yang paling banyak bertanya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. “ (Yohanes 14: 8-10)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Tuhan menghormati permintaan Musa, sementara Yesus bertemu dengan Filipus dengan teguran ringan? Karena sekarang kemuliaan Elohim berdiri sepenuhnya terwujud di hadapan Philip, menatap matanya ketika ia membuat permintaan sesatnya. Apakah dia belum menyadari bahwa dia telah melihat lebih dari Musa ketika dia melihat wajah Tuhan  sendiri dan meminta untuk melihat Bapa?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teguran Yesus yang ramah datang bukan karena Philip memiliki kerinduan yang penuh dosa. Adalah baik bahwa dia ingin melihat Bapa. Sangat mengagumkan bahwa, seperti Musa, ia meminta untuk melihat kemuliaan. Tetapi koreksi yang dia butuhkan, berdiri di hadirat Elohim sendiri dalam pribadi PutraNya, adalah bahwa pencariannya untuk melihat kemuliaan Elohim telah berakhir ketika dia datang kepada Yesus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kami Telah Melihat Kemuliaan-Nya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Elohim  telah berfirman kepada Musa, “Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku” (Keluaran 33:20). Tetapi sekarang Filipus melihat Tuhan. Dia melihat kemuliaan. Sebagaimana Yohanes 1: 14–18 mengungkapkan, betapa muliaNya Tuhan bersembunyi dari Musa, Ia sekarang menunjukkan kepada kita dalam pribadi Putranya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.. . . . Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya. (Yohanes 1:14, 16–18)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus telah membuat Bapa dikenal. Titik. Pribadi Kristus dengan sungguh-sungguh dan penuh mengungkapkan Tuhan sehingga penulis Injil dapat mengatakan - tanpa perlu situasi, syarat, atau kualifikasi - &amp;quot;Ia telah membuatNya dikenal.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kemuliaan Tuhan di Wajah Yesus====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus adalah &amp;quot;gambar [yang terlihat] dari Tuhan yang tidak kelihatan&amp;quot; (Kolose 1:15). Apakah Anda ingin melihat Tuhan? Apakah Anda ingin melihat wajahNya? Di mana kita akan melihat &amp;quot;cahaya pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan&amp;quot;? Jawab: “di hadapan Yesus Kristus” (2 Korintus 4: 6). Yang berarti, orang Kristen yang paling rendah telah melihat lebih banyak kemuliaan Tuhan daripada yang dilihat Musa di puncak gunung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus adalah &amp;quot;gambar [yang terlihat] dari Tuhan yang tidak kelihatan&amp;quot; (Kolose 1:15). Apakah Anda ingin melihat Tuhan? Apakah Anda ingin melihat wajahNya? Di mana kita akan melihat &amp;quot;cahaya pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan&amp;quot;? Jawab: “di hadapan Yesus Kristus” (2 Korintus 4: 6). Yang berarti, orang Kristen yang paling rendah telah melihat lebih banyak kemuliaan Tuhan daripada yang dilihat Musa di puncak gunung.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus bukan satu cahaya di antara banyak cahaya. Dia adalah sumber tunggal dari cahaya kemuliaan yang menerangi dunia yang akan datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Di mana Kita Belok Selanjutnya====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan senang menjawab doa &amp;quot;Tunjukkan kemuliaanMu,&amp;quot; dan Dia tidak meninggalkan kita dalam kegelapan ke mana kita harus mengalihkan pandangan jiwa kita agar doa kita dijawab. Setelah kami berdoa permohonan yang berani, bijaksana, dan perlu ini, kami tidak tahu harus fokus ke mana.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita meminta Tuhan hari ini untuk melihat kemuliaan-Nya, Dia dapat menjawab permintaan kita dengan banyak cara. Dia mungkin menunjukkan kepada kita beberapa atribut karakterNya yang telah kita lewatkan atau minimalkan. Dia mungkin membuka mata kita pada senyumNya di belakang pemeliharaan yang mengerutkan kening. Dia dapat memenuhi beberapa kebutuhan duniawi dengan cara yang menghangatkan jiwa kita dan memenuhi kita dengan rasa syukur. Dia mungkin memberikan terobosan relasional yang telah berlangsung lama sehingga rekonsiliasi tampak mustahil secara manusiawi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tanggapan penuh untuk permohonan kami &amp;quot;Tunjukkan kemuliaanMu&amp;quot; adalah untuk mengalihkan pandangan jiwa kita kepada Yesus. “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2: 9). Dan kita mengetahui kepenuhan jawabanNya bukan berarti kita seharusnya tidak bertanya. Sebaliknya, itu mengilhami kita untuk bertanya lebih banyak lagi.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 13 Mar 2020 19:03:47 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Doa_Yang_Paling_Senang_Tuhan_Jawab</comments>		</item>
		<item>
			<title>Jangan Takut Menghadapi pada Hal-Hal yang Sulit dalam Pernikahan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Jangan_Takut_Menghadapi_pada_Hal-Hal_yang_Sulit_dalam_Pernikahan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Do Not Fear the Hard Things of Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;  Gambar di kepalaku jelas, gambar seekor domba dipandu dari belakang oleh penggembalanya. Domba-domba itu tetap berad...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Do Not Fear the Hard Things of Marriage}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambar di kepalaku jelas, gambar seekor domba dipandu dari belakang oleh penggembalanya. Domba-domba itu tetap berada di jalur yang lurus dengan ketukan tongkat ke tanah. Aku mendengar Tuhan berkata: &amp;quot;Lakukan jangan takut, Aku akan membimbingmu dan melindungimu. &amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan berbicara dalam hati saya ketika saya menghadapi ketakutan pernikahan saya, saya berpacaran dengan suami saya pada saat itu dan ketakutan membuat saya mundur untuk tidak melanjutkan hubungan, saya takut menempatkan diri saya pada posisi yang rentan, karena itu mungkin dapat menyebabkan untuk menyakiti. Aku menginginkan kehidupan tanpa rasa sakit dan sakit hati pribadi. Aku ingin mengambil tanganku sendiri dan melindungi hatiku, alih-alih menempatkannya ke tangan Bapa-ku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Tuhan mengatakan kepada saya untuk tidak takut, saya dengan naif berpikir bahwa itu berarti semuanya akan baik-baik saja dan tidak ada hal buruk yang akan terjadi pada saya. Tentunya Dia akan melindungi saya dari patah hati. Melihat ke belakang sekarang, saya tidak benar-benar mempercayai Tuhan ketika saya berjalan maju menuju pernikahan, saya percaya pada perspektif optimis dan sentimentalitas romansa. Saya tahu sekarang, karena kenyataannya pernikahan akhirnya mengikis optimisme dan sentimental saya, sebaliknya, ketakutan saya menjadi kenyataan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Bimbingan Tuhan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah Tuhan berkata Dia akan melindungi saya? Mengapa Dia membimbing saya langsung ke rasa sakit dan sakit hati dalam pernikahan saya? Setiap jenis rasa sakit seperti menjadi seorang anak sendirian di kamar gelap, tanpa cahaya malam, menyadari monster di bawah. Kami hanya ingin seseorang menyalakan saklar lampu dan membuat monster itu lenyap. Ketika Tuhan berkata, &amp;quot;Jangan takut,&amp;quot; itu karena ada hal-hal yang perlu ditakuti di dunia terkutuk ini, tetapi Dia ingin agar kita tidak takut akan apa yang ditakuti.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan bisa menakutkan, karena itu mewakili hal yang tidak diketahui, bisa sulit, karena kita mengenal dan mengalami interaksi kekuatan dan kelemahan kita dengan pasangan kita, dan sebagai manusia yang egois, kita takut akan hal-hal yang sulit. Membawa hal-hal sulit ke dalam hidup kita untuk mengekspos kita dan mengupas lapisan-lapisan diri yang harus kita matikan. Ketakutan saya akan pernikahan pada dasarnya adalah rasa takut akan lembah bayangan kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Daud, seorang gembala sendiri, menulis kata-kata: &amp;quot;Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.&amp;quot; (Mazmur 23: 4) . Dia akan terbiasa dengan penggunaan tongkat dan gada dalam penggembalaan. Dia tahu tongkat digunakan untuk menghitung domba. Seorang gembala yang baik menghitung dan memelihara domba-dombanya - Dia tahu orang-orang yang menjadi miliknya. kita merasa nyaman ketika kita menjelajah ke dalam wilayah perkawinan yang belum dipetakan, karena kita tahu kita termasuk di antara kawanan domba yang dibeli Tuhan, kita dilindungi oleh kepemilikan Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tongkat dan gada juga merupakan alat untuk menuntun domba-domba. Meskipun Dia mungkin membimbing kita menuju lembah-lembah yang menyakitkan dalam pernikahan, kita masih bisa mempercayai hati Gembala Baik kita. Dalam pemeliharaan kasih-Nya rasa sakit menjadi hadiah, yang memiliki kekuatan untuk mengarahkan kita ke lutut kita dalam ketergantungan pada Tuhan. Seperti yang dikatakan Charles Spurgeon, &amp;quot;Sungguh bahagia ditindas ke surga! Senang dicoba dan karenanya sungguh-sungguh mencari rahmat ilahi yang lebih banyak.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Disiplin Tuhan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pukulan dari gada Gembala tidak hanya dimaksudkan untuk bimbingan, tetapi juga disiplin. Pukulan ini tidak dimaksudkan untuk menghukum kita, tetapi untuk mengajar dan membimbing kita. Mereka menunjukkan kepada kita cara untuk berjalan. Mereka mengajarkan kita untuk tidak takut pada hal yang tidak diketahui , tetapi untuk mempercayai hati Gembala Baik kita, yang perlindunganNya terlihat berbeda dari versi kita. Dia tidak menjanjikan kehidupan yang bebas dari rasa sakit dan kesulitan dalam pernikahan, tetapi berjanji bahwa Dia akan melindungi jiwa kekal kita. Untuk tongkatNya siap untuk menyerang para penyerang rohani kita, dan itu adalah kehadiranNya yang menghibur dan penuh kasih, yang melindungi hati dan pikiran kita ketika kita berjalan melalui lembah bayang-bayang. DisiplinNya adalah suatu bentuk perlindungan terhadap hati kita yang berdosa sendiri. Bagi saya, itu adalah dosa saya kecenderungan untuk takut dan tidak mempercayai Tuhan dengan pernikahan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Gembala Baik kita membimbing kita melalui lembah bayang-bayang dalam pernikahan, Dia menuntun kita langsung kepada diriNya sendiri, dan ini yang paling menghibur - untuk menjadi milik Kristus dan untuk menerima lebih banyak dariNya melalui pencobaan, karena Kristus sendiri yang berjalan dengan kita di lembah yang gelap. Inilah sebabnya Daud dapat berkata, &amp;quot;Aku tidak akan takut pada kejahatan.&amp;quot; Meskipun Tuhan mungkin membuat kita menderita dan sakit hati dalam pernikahan, Dia tidak melakukannya karena sukacita (meskipun, seperti Kristus, ada sukacita siapkan di hadapan kita). Karena Daud juga mengatakan hal ini tentang Tuhan: &amp;quot; Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?&amp;quot; (Mazmur 56: 8).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus, yang berjalan bersama kita, menanggung bekas luka sendiri bersaksi tentang rasa sakit pribadiNya, Dia berjalan di lembah gelapnya sendiri dan sekarang bersimpati dan menjadi perantara bagi kita. Kejahatan dan kutukan yang kekal. Dia membayar harga untuk menjadikan kita domba-domba kesayangannya dan Dia akan merawat orang-orang yang mengorbankan nyawanya sendiri. Seorang Gembala yang Baik menyerahkan nyawaNya untuk domba-dombaNya; kita memiliki seorang gembala dan dengannya kita akan tidak takut pada hal-hal sulit pernikahan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 10 Mar 2020 19:14:53 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Jangan_Takut_Menghadapi_pada_Hal-Hal_yang_Sulit_dalam_Pernikahan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 2)</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa%3F_(Bagian_2)</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|If God Is Sovereign, Why Pray? (pt. 2)}}&amp;lt;br&amp;gt;  ====Kemanjuran Doa====  Kita harus berhati-hati agar tidak mengambil pandangan yang fatal tentang masalah doa ini. Ki...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|If God Is Sovereign, Why Pray? (pt. 2)}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kemanjuran Doa====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harus berhati-hati agar tidak mengambil pandangan yang fatal tentang masalah doa ini. Kita tidak dapat membiarkan diri kita untuk mengabaikan doa dari kehidupan kita hanya karena hal tersebut tampaknya tidak memiliki nilai pragmatis. Berhasil atau tidaknya doa, kita seharusnya terlibat di dalamnya, hanya karena Allah sendiri yang memerintahkan kita untuk melakukannya. Bahkan pembacaan yang sepintas dari Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, mengungkapkan penekanan yang mendalam tentang doa, permohonan dan syafaat. Tidak dapat dihindari bahwa doa adalah kegiatan yang diharapkan bagi umat Allah. Selain itu, Tuhan kita sendiri adalah teladan utama bagi kita dalam segala hal, dan Ia dengan jelas menjadikan doa sebagai prioritas besar dalam hidup-Nya. Kita tidak bisa untuk kurang melakukannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi juga benar bahwa Alkitab mengajarkan kita bahwa doa memang “berhasil” dalam beberapa hal. Ijinkan saya mengutip tiga contoh.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita semua tahu bahwa rasul Petrus dengan berani menyatakan bahwa ia tidak akan mengkhianati Yesus, bahwa dia siap untuk masuk penjara dan bahkan mati untuk Tuhannya. Tetapi bukannya memuji Petrus atas sikapnya, Yesus menegurnya dan berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali” (Matius 26: 34). Injil Lukas menambahkan detil yang menarik pada pertukaran ini. Yesus berkata: “Simon, Simon! Lihat, Iblis telah menuntut, untuk menampi kamu seperti gandum. Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur; Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Lukas 22: 31-32). Yesus memperingatkan Petrus bahwa saat “penampian” akan datang dalam hidupnya, bahwa Iblis akan menyerangnya. Tetapi Yesus yakin bahwa Petrus akan berbalik dari dosanya dan kembali kepada Yesus. Bagaimana Yesus bisa yakin akan hal tersebut? Ya, Dia telah berdoa untuk Petrus, agar iman Petrus tidak goyah. Yesus benar — Petrus sungguh kembali kepada Yesus dan ia melakukan banyak hal untuk menguatkan saudara-saudaranya. Doa Yesus untuk Petrus sungguh efektif.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat bahwa tidak hanya doa-doa Yesus saja yang membawa perubahan di dunia ini, kita juga melihat bahwa doa-doa dari orang-orang kudus juga bekerja. Pada masa-masa gereja perdana, Petrus dijebloskan ke dalam penjara, tetapi orang-orang percaya berkumpul dalam suatu waktu untuk berdoa dengan intens atas namanya. Mereka mencurahkan isi hati mereka di hadapan Tuhan, memohon agar Allah mengatasi kesulitan akan situasi yang ada dan menjamin pembebasan Petrus. Tahukah anda apa yang terjadi: Ketika mereka sedang berdoa secara intens, ada yang mengetuk pintu. Mereka tidak mau terganggu dari waktu berdoa mereka, jadi mereka menyuruh pelayan mereka ke pintu. Ketika pelayan tersebut pergi ke pintu dan bertanya siapa yang mengetuk pintu, Petrus menjawab dan pelayan tersebut mengenali suara Petrus. Saking gembiranya, pelayan tersebut meninggalkan pintu dengan keadaan masih tertutup dan berlari untuk memberitahukan pada yang lainnya bahwa Petrus ada di luar. Para murid menolak untuk mempercayai hal itu sampai mereka membuka pintu dan melihat Petrus berdiri di sana. Tuhan menjawab doa-doa umat-Nya, mengirim Petrus keluar dari penjara dengan bantuan malaikat, tapi ketika Petrus muncul di rumah dimana mereka berkumpul, orang-orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh untuk pembebasan Petrus ini menjadi takut dan terkejut bahwa Tuhan sesungguhnya benar-benar menjawab doa mereka. Seringkali kita pun juga demikian; ketika Tuhan menjawab doa-doa kita, kita sulit untuk mempercayainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beralih ke bagian pengajaran, Yakobus dengan sungguh mendorong umat Allah untuk berdoa:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Apakah ada seorang di antara kamu yang menderita? Baiklah ia berdoa. Apakah ada seorang yang bergembira? Baiklah ia menyanyikan mazmur. Apakah ada seorang di antara kamu yang sakit? Baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia, mengurapinya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu, dan Tuhan akan membangunkan dia… . Berdoalah bagi satu sama lain, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya. (Yakobus 5: 13-18)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kata-kata yang menggugah ini, yang sangat menekankan keefektifan doa, Yakobus kemudian berbicara tentang nabi Elia. Ia menekankan bahwa Elia adalah seorang manusia biasa yang sama seperti kita — ¬ia bukan orang yang super suci atau pesulap. Namun, doanya sangat kuat. Ia berdoa agar Tuhan menghentikan hujan, dan hujan tidak turun sama sekali selama tiga setengah tahun lamanya. Kemudian ia berdoa agar Tuhan menurunkan hujan, dan hujan turun dengan derasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengingat ayat-ayat suci ini, dan masih banyak lagi yang dengan jelas menunjukkan bahwa doa benar-benar mencapai sesuatu, kita tidak bebas untuk mengatakan: “Ya, Allah yang memegang kendali, Ia berdaulat, kekal, dan mahatahu, jadi apapun yang terjadi akan terjadi. Tidak ada gunanya berdoa.“ Alkitab secara universal dan mutlak menolak kesimpulan itu. Sebaliknya, Alkitab menegaskan bahwa doa membawa perubahan. Allah, dalam kedaulatan-Nya, menanggapi doa-doa kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 22 Jan 2020 20:36:29 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa%3F_(Bagian_2)</comments>		</item>
		<item>
			<title>Cerita Tentang Pernikahan di 7 Ayat Alkitab</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Cerita_Tentang_Pernikahan_di_7_Ayat_Alkitab</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|The Story of Marriage in Seven Verses}}&amp;lt;br&amp;gt;  Baru-baru ini saya menikahkan pasangan yang sangat dewasa. Pengantin pria dan pengantin wanita berusia akhir tiga pulu...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|The Story of Marriage in Seven Verses}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baru-baru ini saya menikahkan pasangan yang sangat dewasa. Pengantin pria dan pengantin wanita berusia akhir tiga puluhan. Mereka menunggu dengan sabar. Keduanya hidup dalam iman, dan mereka tahu di mana mereka berdiri masing-masing: bersama-sama berdasarkan firman Tuhan. Beberapa pasangan yang saya nikahkan telah memperlihatkan pijakan yang jelas, solid, dan stabil bersama di atas batu karang yang teguh yang Tuhan katakan dalam Alkitab.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, tidak mengejutkan saya bahwa ketika saya meminta mereka untuk memilih satu atau dua bagian favorit untuk pernikahan, mereka menjauh dari memilih untuk diri mereka sendiri. Mereka mengatakan bahwa mereka menyukai firman Tuhan, setiap bagian, dari setiap judul ke judul lain, dan dengan senang hati menyerahkan hidup mereka untuk apa pun dan segala sesuatu yang Tuhan katakan - bahkan pada hari pernikahan mereka, mereka dengan sangat hati-hati memilih. Mereka benar-benar ingin mendengar dan memahami apa pun yang Tuhan katakan kepada mereka di depan teman dan keluarga mereka.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menjadi tergerak. Itu mungkin pertama kalinya ada pasangan yang menyatakan itu. Apa yang akan Anda pilih untuk mereka? Alih-alih hanya satu ayat atau perikop, saya mencoba untuk memilih apa yang saya pikir (tidak sempurna, tentu saja) mungkin tujuh ayat terpenting Alkitab tentang pernikahan. Inilah tujuh, masing-masing dengan pertanyaan “mengapa”.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1. Kejadian 1:27'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejak awal, Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan martabat yang sama sebagai manusia, dan perbedaan yang saling melengkapi di antara pria dan wanita. Tuhan tidak menjadikan pria dan wanita sebagai manusia yang pada dasarnya androgini (campuran karakter maskulin dan feminim), dengan tambahan pria atau wanita pada bagian akhir. Sebaliknya, kita semua adalah lelaki atau perempuan sepanjang hidup, di setiap sel dalam tubuh kita. Kita berbeda, sangat berbeda, dalam fisiologi (fisik) dan psikologi(kejiwaan) kita. Dan perbedaan-perbedaan ini tidak membuat pria lebih baik dari wanita, atau wanita lebih baik dari pria, tetapi mereka membuat pria dan wanita lebih baik bersama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Tuhan membentuk manusia, menempatkannya di taman (Eden), dan memberinya visi moral untuk hidup di dunia, Tuhan berkata kepadanya, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia. ”(Kejadian 2:18). Sepanjang kisah penciptaan, pada akhir setiap hari, Tuhan menyatakan pekerjaannya baik, baik, baik, baik, baik. Kemudian pada akhir hari ke enam, sangat bagus. Tapi seorang pria sendirian? Tidak baik. Setidaknya untuk manusia pertama, dan bagi sebagian besar dari kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2. Kejadian 2:24'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah Tuhan menciptakan wanita pertama dan mempercayakan hadiah luar biasa ini kepada pria itu, Tuhan melembagakan apa yang disebut pernikahan. Dua orang menjadi satu bentuk yang  baru. Satu pria dan satu wanita membentuk hubungan manusia yang paling mendasar di dunia ciptaanNya Tuhan - hubungan yang lebih daripada hubungan antara orang tua dan anak. Seorang pria akan meninggalkan ayah dan ibunya dan berpegangan erat pada istrinya. Di bawah Tuhan, wanita ini adalah komitmennya yang paling mendasar. Demikian juga, wanita itu meninggalkan rumah ayahnya (Mazmur 45:10) untuk mendirikan keluarga baru bersama suaminya. Di bawah Tuhan, pria tersebut adalah komitmennya yang paling mendasar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sama seperti yang dinyatakan di awal mula  dimulainya bumi, dosa memasuki dunia. Manusia gagal melindungi taman Eden. Dia menurunkan penjagaannya dan membiarkan telinga istrinya mendengar ular itu, dan wanita tersebut tertipu. Kemudian pria itu sendiri, setelah mendengar perintah Tuhan secara langsung, sebagai gantinya mendengarkan suara istrinya, dan berdosa terhadap Tuhan. Dan sekarang di dunia yang jatuh dalam dosa dan terkutuk ini, pernikahan, hubungan yang paling dasar, dijalani dengan  rasa sakit dan kesulitan yang parah (Kejadian 3:16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3. Matius 19: 6'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kita lewati ribuan tahun ke depan ke pada perkataan  Yesus. Meskipun dosa telah menguasai ciptaan Tuhan, dan seringkali suami dan istri secara tragis menemukan diri mereka saling berselisih satu sama lain, Yesus menguatkan visi Tuhan tentang perkawinan dalam ciptaan: “apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Dosa dapat menantang, tetapi jangan menjadi berbalik dari Rancangan Tuhan. Pernikahan, pada kenyataannya, dibuat untuk menanggung dosa. Tuhan menyatakan bagi keduanya untuk menjadi satu, dan bukan untuk dipecah menjadi dua.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan memanggil suami khususnya, sebagai laki-laki, untuk setia tetapi manusia pertama gagal. Tuhan memanggil setiap pria untuk menjaga dan melindungi istri dan pernikahannya dengan semangat suci - pertama dari dosanya sendiri, dan kemudian dari yang lain. Kegagalannya bukan suatu alasan. Dan bagi istri, kegagalan suaminya juga  bukan pula suatu alasan baginya. Perjanjian pria dan wanita satu sama lain adalah &amp;quot;hidup bersama selamanya.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak bisa dihindari, mereka akan berdosa satu sama lain. Mungkin sebelum hari pernikahan berakhir. Tentunya sebelum bulan madu selesai. Dosa akan menantang keharmonisan hubungan mereka dalam beberapa cara. Tetapi Tuhan merancang perjanjian pernikahan ini untuk menyatukan mereka di masa-masa sulit. Masa-masa sulit bukanlah kejutan bagi pernikahan. Pernikahan dibuat untuk masa-masa sulit. Perjanjian bukan untuk saat-saat yang mudah, tetapi untuk yang paling sulit.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4. Efesus 4:32'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini mungkin satu-satunya ayat terpenting untuk pernikahan saya sendiri selama dua belas tahun. Dan saya rasa bahwa kebaikan banyak diremehkan dalam banyak pernikahan lainnya juga.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena batas-batas yang indah dan batasan-batasan serta komitmen dari perjanjian pernikahan, suami dan istri dapat merasakan dorongan dan godaan untuk saling bersikap kasar, untuk menyerang pasangan yang keras kepala yang selalu ada dan tampaknya membuat hidup lebih sulit. Namun, dalam visi Tuhan untuk menikah, tidak ada tempat untuk kekejaman atau penghinaan antara suami dan istri. Ya, koreksi penuh kasih. Ya, percakapan yang sulit. Ya, pengampunan diminta dan diberikan secara teratur, bahkan setiap hari. Tapi tidak pernah kejam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para suami dan istri yang ada di dalam Kristus tahu bahwa mereka diperlakukan dengan baik oleh Tuhan di setiap kesempatan. Itu tidak berarti hidup bersama tidak akan sulit, tetapi semua kesulitan yang ditunjuk Tuhan yang berdaulat dalam kehidupan anak-anak-Nya adalah kebaikan, sepertinya aneh. Dengan demikian , di dalam Kristus, selalu berusahalah untuk “bersikap baik satu sama lain.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5. Kolose 3:19'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panggilan khusus Tuhan kepada suami adalah untuk mencintai istrinya. Cinta bukan hanya kasih sayang spontan. Itu adalah kasih sayang, dan tidak pernah kurang, tetapi lebih. Itu juga kesetiaan perjanjian dan tindakan pengorbanan. Di saat-saat terburuk seorang suami, dia akan tergoda untuk bersikap pasif atau keras. Apa yang istrinya butuhkan darinya, dan apa yang Tuhan panggil sebagai pria, adalah kelembutan, bukan kekerasan - dan aktivitas, bukan kepasifan. Aktivitas lembut. Kelembutan bukanlah kelemahan. Kelemahlembutan adalah kekuatan di bawah kendali untuk mencapai tujuan kehidupan. Kelembutan adalah kekuatan yang luar biasa yang ditumbuhkan oleh Roh Kudus ke dalam kedewasaan yang bahkan lebih mengagumkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernikahan tidak dimaksudkan untuk membuat hidup kita lebih mudah (dan lebih buruk), tetapi untuk membuat mereka lebih menantang (dan lebih baik). Istri adalah seorang pewaris dari suaminya dengan rahmat kehidupan, dan Tuhan memanggilnya untuk hidup bersamanya dengan cara yang penuh pengertian, menunjukkan kehormatan dan kepedulian khusus sebagai istrinya (1 Petrus 3: 7).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6. Kolose 3:18'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Panggilan Tuhan kepada seorang istri adalah untuk menegaskan, menerima, dan memelihara kepemimpinan suaminya yang penuh kasih dalam pernikahan. Suaminya adalah manusia yang unik untuknya. Tuhan tidak memanggil seorang istri untuk tunduk kepada semua pria - tidak mungkin. Hanya untuk suaminya sendiri (Efesus 5:22; Titus 2: 5; 1 Petrus 3: 1, 5). Dan penyerahannya kepadanya tidak mutlak. Kolose 3:18 mengatakan &amp;quot;sebagaimana sepatutnya dalam Tuhan.&amp;quot; Yesus Kristus adalah kesetiaan dan otoritas utamanya, seperti halnya bagi suaminya. Dan ketika suaminya patuh pada Kristus, dan pengorbanan diri seperti Kristus, dia dan dia akan berkembang bersama dalam lika-liku pernikahan saat dia menegaskan dan menguatkan dia - dan menjadikannya pria yang lebih baik daripada yang bisa tanpa dia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tunduk yang saleh, namun tidak pasif atau lemah. Ini adalah salah satu hal tersulit yang bisa dilakukan oleh orang modern yang sombong. Dan itulah tepatnya yang kita semua lakukan ketika kita mengatakan Yesus adalah Tuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''7. Efesus 5:32'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami telah menyimpan yang terbaik untuk yang terakhir. Ketika Tuhan mengatakan bahwa pernikahan adalah sebuah misteri, dia tidak mengatakan bahwa pernikahan itu membingungkan dan penuh teka-teki - bahwa kita tidak dapat benar-benar memahami kedalaman maknanya. Dia mengatakan itu adalah misteri selama ribuan tahun, tetapi sekarang, dengan kehidupan dan kematian dan kebangkitan Yesus dari Nazaret, pernikahan bukan lagi sebuah misteri. Misteri telah terungkap.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misterinya adalah ini: Mengapa satu pria dan satu wanita, berjanji satu sama lain selama mereka berdua akan hidup? Mengapa Tuhan melakukannya dengan cara ini? Mengapa membangun masyarakat manusia dengan cara ini? Jawabannya adalah bahwa ribuan tahun sebelum Dia mengutus Putranya, Tuhan menanamkan petunjuk kepada Yesus dalam dasar-dasar kehidupan manusia. Sejak awal, Tuhan tahu dia akan mengutus Putranya untuk menyelamatkan kita dari dosa kita, dan dia merancang pernikahan untuk mengantisipasi itu - untuk mempersiapkan dunia bagi Injil Yesus Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Makna pernikahan adalah bahwa Yesus telah memberikan nyawanya bagi umat-Nya, mempelai-Nya. Panggilan seorang suami adalah untuk memimpin dengan memberi, dan tidak menerima, ini  menunjukkan kepada kita bahwa Yesus  tidak melindungi diriNya sendiri dan kenyamananNya, tetapi mengorbankan diriNya untuk kita. Yesus adalah suami yang tidak mengklaim hak istimewa khusus, tetapi memikul tanggung jawab yang lebih besar untuk mencintai pengantinnya dengan kasih sayang, kesetiaan, dan tindakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kasih Yesus bagi gerejaNya adalah makna tertinggi pernikahan. Ini adalah pesan dan drama yang orang-orang Kristen cari untuk hidup dan menunjukkan kepada dunia ketika kita bersumpah, dan mengantisipasi perjamuan kawin Anak Domba yang akan datang (Wahyu 19: 9). Ini adalah kisah pernikahan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 16 Jan 2020 20:52:20 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Cerita_Tentang_Pernikahan_di_7_Ayat_Alkitab</comments>		</item>
		<item>
			<title>4 Ketakutan yang Melemahkan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/4_Ketakutan_yang_Melemahkan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;{{info|4 Debilitating Fears}}&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Empat ketakutan yang menghantui setiap pendeta, yaitu:&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;strong&amp;gt;1.Ketakutan pada diri sendiri&amp;lt;/strong&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Banyak hal dapat menyingkapkan dosa, kekanak-kanakan, kelemahan, dan kegagalan dibandingkan dengan pelayanan. Beberapa hal akan mengungkapkan kelemahan Anda secara konsisten. Beberapa upaya akan menempatkan Anda dalam situasi menyesuaikan dengan pengharapan orang-orang &amp;amp;nbsp;dan terus mengamati. Beberapa akan sangat merendahkan secara pribadi. Beberapa upaya memiliki kekuatan untuk menghasilkan dalam diri Anda perasaan tidak mampu yang mendalam. Hal kecil bisa membuat keraguan yang besar. Ada godaan besar bagi pelayanan Anda untuk dialihkan dan dirugikan oleh rasa takut pada diri sendiri.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tuhan menemukan Gideon mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur, karena dia takut pada orang Midian, dan menyapa pria yang ketakutan ini dengan salah satu salam yang paling ironis dalam Alkitab: &amp;quot;TUHAN menyertai engkau,&amp;amp;nbsp;&amp;amp;nbsp; ya pahlawan yang gagah berani.&amp;quot;. &amp;amp;nbsp;Gideon berkata, &amp;quot; Ah, tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami? &amp;amp;ldquo; Tuhan menjawab, &amp;quot; Pergilah dengan kekuatanmu&amp;amp;nbsp;&amp;amp;nbsp; ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku mengutus engkau!.&amp;quot; Gideon berkata, &amp;quot; Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku.&amp;quot; Dan Tuhan berkata, &amp;quot; Tetapi Akulah yang menyertai engkau.&amp;quot;&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Respons Tuhan menambah ketakutan Gideon sangatlah membantu. Tuhan tidak bekerja untuk meningkatkan kepercayaan dirinya. Tuhan tidak bekerja untuk membantu Gideon melihat bahwa Dia membawa lebih banyak masalah daripada yang dia pikirkan. Masalah Gideon bukanlah pertama-tama karena ia takut akan kekurangannya. Masalahnya terkesima. Gideon gagal untuk takut akan Tuhan dalam artian &amp;quot;Tuhan menyertai saya, dan dia mampu.&amp;quot; Jadi Gideon takut membayangkan untuk memimpin Israel.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Pendeta saya di Scranton, Pennsylvania, mengungkap berbagai sifat kekanak-kanakan dan kelemahan saya, dan dengan cara yang sangat menyakitkan, ini sering dipajang di depan umum. Saya pikir saya sudah sangat siap. Saya telah berhasil dengan sangat baik di seminari, dan saya siap untuk menghadapi dunia. Tetapi Tuhan memanggil saya ke tempat yang sangat hancur, sangat sulit, dan menggunakan tempat ini untuk menarik saya keluar dari kesombongan dan kebenaran diri sendiri ke tempat di mana saya akan menemukan harapan saya di dalam dia. Saya terluka, kecewa, lelah, kewalahan, marah, dan agak pahit. Saya merasa Tuhan telah mengatur saya, dan orang-orang memperlakukan saya dengan tidak baik. Yang ingin saya lakukan hanyalah lari. Saya memiliki gelar pendidikan dan berpikir saya akan pindah ke suatu tempat yang jauh dan menjalankan sekolah Kristen. Saya telah mengumumkan kepada dewan saya rencana saya untuk mengundurkan diri. Mereka memohon agar saya tidak pergi, tetapi saya sudah bertekad. Jadi hari Minggu berikutnya saya membuat pengumuman dan merasa lega sesaat. Jemaat kecil saya tidak merasa lega, jadi saya memiliki banyak percakapan setelah kebaktian. Jauh lebih lambat dari biasanya saya meninggalkan gereja, saya berjalan keluar pintu hanya untuk disambut oleh pria tertua di gereja kami.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Dia mendekati saya dan bertanya apakah kami bisa berbicara. &amp;quot;Paul,&amp;quot; katanya, &amp;quot;kami tahu bahwa Anda sedikit tidak dewasa dan perlu tumbuh dewasa. Kami tahu Anda adalah pria dengan kelemahan, tetapi di mana gereja akan mendapatkan pendeta yang matang jika pendeta yang belum dewasa pergi?&amp;quot; Saya merasa seolah-olah Tuhan baru saja memakukan sepatu saya di teras. Saya tahu dia benar, dan saya tahu saya tidak bisa pergi. Dalam beberapa bulan berikutnya saya mulai belajar apa artinya melayani dalam kelemahan tetapi dengan rasa kagum kepada Tuhan yang memberi keamanan, yang menghasilkan keberanian. Saya masih belajar apa artinya kagum kepadaNya sehingga saya tidak lagi takut pada saya.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;strong&amp;gt;2. Ketakutanku terhadap orang lain.&amp;lt;/strong&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Sebagian besar orang yang Anda layani akan mencintai dan menghargai Anda dan akan mendorong Anda semampu mereka. Tapi tidak semuanya demikian. Beberapa orang akan mencintaimu dan memiliki rencana hebat untuk hidupmu. Beberapa orang akan menugaskan diri mereka sendiri untuk menjadi pengkritik khotbah dan kepemimpinan Anda. Beberapa akan setia dan mendukung, dan beberapa akan melakukan hal-hal yang merusak kepemimpinan pastoral Anda. Beberapa akan menyerahkan diri mereka kepada pelayanan sepenuh waktu, dan beberapa akan mengeluh tentang cara mereka dilayani. Beberapa akan mendekati Anda dengan keterusterangan yang penuh cinta, dan beberapa akan memberikan pencobaan dengan berbicara di belakang Anda. Beberapa akan terjun dan terlibat, sementara yang lain akan selalu berhubungan dengan gereja dengan mental konsumen. Hubungan Anda dengan beberapa orang akan mudah, dan dengan yang lain akan menemukan hubungan yang jauh lebih sulit.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Karena pelayanan Anda akan selalu dilakukan dengan orang-orang dan untuk orang-orang, sangatlah penting bagi Anda untuk menempatkan orang-orang yang tepat di hati Anda. Anda tidak dapat membiarkan diri Anda takut pada mereka sehingga menutup diri terhadap perspektif mereka atau tidak mau mendelegasikan pelayanan kepada mereka. Pada saat yang sama Anda tidak bisa takut pada mereka sehingga Anda membiarkan mereka mengatur agenda dan salah mengendalikan arah pelayanan yang Tuhan nyatakan. Anda tidak dapat membiarkan pelayanan dengan pintu tertutup, dan tidak bisa begitu sensitif terhadap pendapat orang lain sehingga Anda tidak dapat memimpin.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Karena semua orang yang Anda layani masih berurusan dengan dosa yang tinggal di dalam diri mereka, hubungan dan pelayanan terhadap mereka akan berantakan. Orang-orang akan melukai Anda dan merusak pelayanan Anda. Orang-orang akan menuntut Anda tentang apa yang tidak seharusnya mereka tuntut dan merespons Anda dengan cara yang tidak seharusnya mereka tanggapi. Di tengah-tengah semua ini, orang-orang tertentu --- yang berpengaruh dan vokal --- akan tampak lebih berkuasa dari yang seharusnya di dalam pikiran Anda. Mereka akan diberi terlalu banyak kuasa untuk memengaruhi Anda dan cara pelayanan Anda. Daripada bekerja untuk kemuliaan Tuhan, Anda justru tergoda untuk bekerja sesuai persetujuan mereka. Atau, daripada bekerja untuk kemuliaan Tuhan, Anda akan bekerja untuk melucuti atau mengekspos mereka. Dalam kedua kasus ini, pelayanan Anda sedang dirusak oleh ketakutan manusia kuno: ketakutan manusia.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Kuasa ketakutan manusia untuk mengalihkan atau menipu pelayanan digambarkan dengan jelas dalam Galatia 2: 11-14. Petrus tidak hanya berkompromi, tetapi ia benar-benar meninggalkan pelayanan yang&amp;amp;nbsp; Tuhan nyatakan kepadanya untuk melayani orang-orang bukan Yahudi (Kisah Para Rasul 10) karena ia takut akan &amp;quot;pesta sunat&amp;quot; Paulus mengamati tingkah laku Petrus &amp;quot;tidak sejalan dengan kebenaran Injil,&amp;quot; maka ia berhadapan dengan Petrus. Berapa banyak pelayanan yang dialihkan oleh tindakan, reaksi, dan tanggapan yang tidak berakar pada rasa takut akan Tuhan tetapi rasa takut akan manusia? Seberapa seringkah berkompromi dengan pekerjaan Injil? Seberapa sering hal ini menyebabkan orang tersandung? Seberapa sering kita tergoda untuk bertindak dengan cara yang tidak sesuai dengan apa yang kita katakan atau kita yakini? Seberapa takut manusia mengatur agenda di gereja-gereja kita? Dengan keterbukaan dan kerendahan hati kita perlu terus menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Saya berharap bisa mengatakan bebas dari rasa takut ini, tetapi ternyata saya tidak. Ada saat-saat ketika saya menemukan diri saya berpikir, ketika saya sedang mempersiapkan sebuah khotbah, bahwa suatu titik tertentu pada akhirnya akan memenangkan salah satu dari para pencela saya. Pada saat itu, khotbah saya akan dibentuk bukan oleh semangat saya untuk kemuliaan Tuhan, tetapi dengan harapan bahwa apa yang saya katakan akan menyebabkan seseorang akhirnya melihat kemuliaan saya. Saya mengerti bahwa ini adalah perang yang berkelanjutan untuk kekuasaan hati saya yang karenanya saya telah diberikan anugerah yang kuat dan selalu ada.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;strong&amp;gt;3. Ketakutanku terhadap keadaan.&amp;lt;/strong&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Karena Anda tidak menulis kisah Anda sendiri, dan karena Anda belum menulis naskah pelayanan Anda sendiri, kehidupan dan pelayanan terus-menerus tidak dapat diprediksi. Di dunia yang tidak terduga ini, Anda selalu hidup dalam ketegangan antara siapa Tuhan dan apa yang dijanjikanNya dan hal-hal tak terduga di depan Anda. Di persimpangan antara janji dan kenyataan, Anda harus menjaga lingkungan Anda. Anda harus sangat disiplin dalam hal apa yang Anda lakukan dengan pikiran Anda. Izinkan saya menjelaskan.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Abraham telah diberitahu oleh Tuhan bahwa keturunannya akan seperti pasir di pantai, dan dia mempertaruhkan hidupnya untuk janji ini. Seharusnya istrinya, Sarah, akan melahirkan lebih awal dan beberapa kali. Tetapi hal tersebut tidak terjadi. Selama bertahun-tahun Sarah mengandung anak, dia tidak bisa hamil. Sekarang dia dan Abraham sudah tua &amp;amp;mdash; terlalu tua untuk berpikir bahwa mereka akan diberkati dengan putra yang dijanjikan. Abraham yang lama hidup dalam ketegangan antara janji Tuhan dan keadaannya. Ketika Anda berada di persimpangan antara janji-janji Tuhan dan perincian situasi Anda, apa yang Anda lakukan dengan pikiran Anda sangat penting. Di persimpangan ini, Tuhan tidak akan pernah meminta Anda untuk menyangkal kenyataan. Abraham tidak menyangkal kenyataan. Roma 4 mengatakan bahwa dia &amp;quot;mempertimbangkan tertutupnya rahim Sarah.&amp;quot; Iman tidak menyangkal kenyataan. Ini adalah cara yang berfokus pada Tuhan untuk mempertimbangkan kenyataan.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tetapi bagian ini memberi tahu Anda lebih banyak. Ini memberi tahu Anda apa yang dilakukan Abraham dengan renungannya. Dia tidak menginvestasikan dirinya dalam mengubah keadaannya keluar-masuk. Dia mempertimbangkan keadaannya, tetapi dia bergumul dengan Tuhan. Dan ketika dia merenungkan Tuhan, dia benar-benar tumbuh lebih kuat dalam iman, meskipun belum ada yang berubah dalam keadaannya. Bagi banyak orang dalam pelayanan, menunggu menjadi kronik iman yang terus melemah. Memikirkan &amp;amp;nbsp;tentang keadaan akan membuat Anda hanyut terkesima dengan keadaan. Mereka akan tampak tumbuh lebih besar, Anda akan merasa lebih kecil, dan visi Anda tentang Tuhan akan kabur. Tetapi jika Anda merenungkan Tuhan, Anda akan lebih kagum akan kehadiran, kekuatan, kesetiaan, dan rahmat-Nya. Situasi akan tampak lebih kecil, dan Anda akan hidup dengan kepercayaan diri yang lebih besar meskipun tidak ada yang berubah.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Sudahkah keadaan menangkap renungan Anda? Apakah ada cara di mana Anda menjadi semakin lemah dalam iman? Atau apakah mata hatimu fokus pada Tuhan yang jauh lebih besar daripada apa pun yang pernah kau hadapi?&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;strong&amp;gt;4. Ketakutanku terhadap masa depan.&amp;lt;/strong&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Anda selalu hidup dan melayani di dalam kesulitan karena tidak tahu menahu. Baik dalam kehidupan maupun pelayanan Anda dipanggil untuk percaya, patuh, dan percaya bahwa Tuhan akan membimbing dan menyediakan. Anda dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada momen selanjutnya, apalagi bulan atau tahun berikutnya. Keamanan tidak pernah ditemukan dalam upaya kami mencari tahu semuanya atau dalam mencoba untuk tahu rahasia kehendak Tuhan . Rahasia kehendak rahasiaNya adalah keinginanNya yang adalah rahasia! Namun kita masih ingin tahu, untuk mencari tahu terlebih dahulu. Semakin Anda berkonsentrasi pada masa depan, semakin Anda akan menyerah pada ketakutan akan masa depan, dan semakin Anda akan bingung dan kehilangan motivasi sekarang.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tidak mengetahui itu sulit. Akan menyenangkan untuk mengetahui apakah penatua itu akan menyerah pada godaan untuk memecah belah. Akan menyenangkan untuk mengetahui apakah keuangan gereja akan pulih kembali. Alangkah baiknya mengetahui bagaimana seri khotbah baru itu akan diterima, jika para misionaris muda akan membuat semua penyesuaian yang perlu dilakukan, atau jika Anda akan mendapatkan izin untuk membangun ruang ibadah yang dibutuhkan. Kita menemukan pertanyaan tentang masa depan yang sulit untuk dihadapi karena kita merasa sulit untuk mempercayai Tuhan. Seseorang yang kita berjanji untuk mempercayai , yang tahu segalanya tentang masa depan, karena Dia mengendalikan setiap aspeknya. Ketakutan kita akan masa depan menyingkapkan perjuangan kita untuk memercayainya, dan memercayainya, untuk beristirahat dalam bimbingan dan perhatianNya, meskipun kita tidak benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Kekaguman Tuhan adalah satu-satunya cara untuk bebas dari rasa takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketika kepercayaan diri kepada Tuhan lebih besar daripada ketakutan pribadi &amp;amp;nbsp;terhadap hal yang tidak diketahui, saya akan dapat beristirahat, meskipun saya tidak tahu apa yang akan menyapa saya di tikungan.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Apakah Anda memuat masa depan di atas bahu Anda, dengan semua pertanyaan dan kekhawatirannya? Atau apakah Anda menyerahkan diri pada pekerjaan masa kini, meninggalkan masa depan di tangan Tuhan yang cakap? Berapa banyak Anda dihantui oleh &amp;quot;bagaimana jika&amp;quot;? Apakah Anda menyapa yang tidak dikenal dengan harapan atau ketakutan? Apakah kehadiran dan janji Tuhan menenangkan pertanyaan Anda yang tidak dapat dijawab tentang masa depan?&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Renungkan pertanyaan yang diajukan pada artikel ini, jawablah dengan jujur satu demi satu, kemudian dengan rendah hati berseru untuk anugerah yang dapat membebaskan Anda dari ketakutan yang belum dilepaskan. Kemudian rayakan Raja yang Anda layani yang sabar, yang mengangkat beban rasa takut Anda dan bukan mengutuk karenanya.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 16 Jan 2020 20:48:03 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:4_Ketakutan_yang_Melemahkan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: memindahkan Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa ke Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 1)&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;#ALIH [[Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 1)]]&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 16 Jan 2020 20:41:51 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa</comments>		</item>
		<item>
			<title>Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 1)</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa%3F_(Bagian_1)</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: memindahkan Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa ke Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 1)&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|If God Is Sovereign, Why Pray? (pt. 1)}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana kedaulatan Allah berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari? Kita mengerti dari Alkitab bahwa Tuhan berdaulat, Bahwa Ia memerintah dan berkuasa atas segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan umat-Nya. Kita juga memahami, bahwa setelah kita mempelajari Doa Bapa Kami di seluruh  buku ini, bahwa Allah mengundang kita untuk datang kepada-Nya dalam doa, membawa petisi kita di hadapan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah kita menetapkan dua gagasan ini — kedaulatan Allah dan doa umat-Nya — berdampingan, kita mengalami pertanyaan teologis yang sangat melekat. Keberatan muncul dari setiap pihak. Orang-orang berkata: “Tunggu sebentar. Jika Allah berdaulat, yaitu, jika Ia telah menetapkan setiap detil dari apa yang terjadi di dalam hidup kita, tidak hanya di masa kini tetapi di masa depan, mengapa kita harus bersusah payah dengan doa? Lagipula, karena Alkitab memberitahu kepada kita bahwa ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia’ (Roma 8: 28), bukankah seharusnya kita puas akan apa yang Allah tetapkan itu adalah yang terbaik? Bukankah itu adalah latihan yang sia-sia, dan bahkan kesombongan, bagi kita untuk berani memberi tahu Allah apa yang kita butuhkan atau apa yang kita inginkan untuk terjadi? Jika Ia menetapkan semua hal, dan apa yang Ia tetapkan adalah yang terbaik, apa gunanya kita berdoa kepada-Nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
John Calvin membahas secara singkat pertanyaan tentang kegunaan dari doa dalam terang kedaulatan Allah ini di dalam bukunya yang berjudul “Institut Agama Kristen (Institutes of The Christian Religion)”:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Tetapi beberapa akan mengatakan, “Apakah tanpa monitor Ia tidak tahu, baik kesulitan kita maupun apa saja yang sesuai dengan minat kita, sehingga dalam beberapa hal tampaknya berlebihan bagi kita untuk meminta-Nya dengan doa-doa kita, seolah-olah Ia mengejapkan mata-Nya atau bahkan tidur sampai Ia terbangun oleh karena suara-suara kita.” Mereka yang berdebat dengan cara ini tidak mengikuti sampai akhir atau memahami tujuan yang Tuhan ajarkan kepada kita untuk berdoa. Hal itu bukan untuk kebaikan Tuhan, sebagaimana itu adalah untuk kebaikan kita sendiri. (Buku III, Bab 20)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Calvin berpendapat bahwa doa menguntungkan kita lebih daripada menguntungkan Tuhan. Kita dapat melihat hal ini dengan cukup mudah, setidaknya untuk beberapa unsur doa tertentu. Pertimbangkan, misalnya, unsur dari pemujaan dan pengakuan. Eksistensi Tuhan tidak tergantung kepada puji-pujian kita. Dia bisa saja terus hidup tanpa hal tersebut. Tetapi kita tidak. Pemujaan diperlukan untuk pertumbuhan rohani kita. Jika kita ingin mengembangkan hubungan yang intim dengan Bapa surgawi kita, adalah penting bagi kita untuk datang kepada-Nya dengan kata-kata yang mengungkapkan penghormatan, pemujaan dan cinta. Pada saat yang sama, penting bagi kita untuk mengakui dosa-dosa kita di hadapan takhta-Nya. Ia tahu apa saja. Faktanya, Ia mengetahuinya lebih jelas dan lebih menyeluruh daripada kita. Ia tidak memperoleh apa-apa dari pembacaan akan dosa-dosa kita, tetapi kita membutuhkan tindakan penyesalan tersebut untuk kebaikan jiwa kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah yang rumit dari hubungan antara Allah yang berdaulat dengan doa manusia datang bukan pada saat pemujaan dan pengakuan, tetapi di titik dimana syafaat dan permohonan dinaikkan. Ketika saya melihat seseorang yang sedang membutuhkan dan mulai untuk berdoa bagi orang tersebut, saya menjadi perantara baginya. Saya menawarkan permintaan saya kepada Tuhan mewakili orang tersebut, memohon agar Tuhan bertindak seturut dengan belas kasihan-Nya, untuk melakukan sesuatu untuk mengubah situasi orang tersebut. Lebih lanjut, saya melakukan hal yang sama untuk kebutuhan saya sendiri, seperti yang saya ketahui. Namun, Allah yang mahatahu telah mengetahui situasi semua orang, setelah menetapkannya. Oleh karena itu, apakah doa-doa ini bernilai? Lebih mendasar, apakah doa-doa ini berhasil? Apakah pada akhirnya doa-doa tersebut berdampak pada kehidupan saya dan kehidupan orang lain?&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 16 Jan 2020 20:41:51 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa%3F_(Bagian_1)</comments>		</item>
		<item>
			<title>Jika Allah Berdaulat, Mengapa Berdoa? (Bagian 1)</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa%3F_(Bagian_1)</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|If God Is Sovereign, Why Pray? (pt. 1)}}&amp;lt;br&amp;gt;  Bagaimana kedaulatan Allah berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari? Kita mengerti dari Alkitab bahwa Tuhan berd...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|If God Is Sovereign, Why Pray? (pt. 1)}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana kedaulatan Allah berhubungan dengan kehidupan kita sehari-hari? Kita mengerti dari Alkitab bahwa Tuhan berdaulat, Bahwa Ia memerintah dan berkuasa atas segala sesuatu untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan umat-Nya. Kita juga memahami, bahwa setelah kita mempelajari Doa Bapa Kami di seluruh  buku ini, bahwa Allah mengundang kita untuk datang kepada-Nya dalam doa, membawa petisi kita di hadapan-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Segera setelah kita menetapkan dua gagasan ini — kedaulatan Allah dan doa umat-Nya — berdampingan, kita mengalami pertanyaan teologis yang sangat melekat. Keberatan muncul dari setiap pihak. Orang-orang berkata: “Tunggu sebentar. Jika Allah berdaulat, yaitu, jika Ia telah menetapkan setiap detil dari apa yang terjadi di dalam hidup kita, tidak hanya di masa kini tetapi di masa depan, mengapa kita harus bersusah payah dengan doa? Lagipula, karena Alkitab memberitahu kepada kita bahwa ‘Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia’ (Roma 8: 28), bukankah seharusnya kita puas akan apa yang Allah tetapkan itu adalah yang terbaik? Bukankah itu adalah latihan yang sia-sia, dan bahkan kesombongan, bagi kita untuk berani memberi tahu Allah apa yang kita butuhkan atau apa yang kita inginkan untuk terjadi? Jika Ia menetapkan semua hal, dan apa yang Ia tetapkan adalah yang terbaik, apa gunanya kita berdoa kepada-Nya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
John Calvin membahas secara singkat pertanyaan tentang kegunaan dari doa dalam terang kedaulatan Allah ini di dalam bukunya yang berjudul “Institut Agama Kristen (Institutes of The Christian Religion)”:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Tetapi beberapa akan mengatakan, “Apakah tanpa monitor Ia tidak tahu, baik kesulitan kita maupun apa saja yang sesuai dengan minat kita, sehingga dalam beberapa hal tampaknya berlebihan bagi kita untuk meminta-Nya dengan doa-doa kita, seolah-olah Ia mengejapkan mata-Nya atau bahkan tidur sampai Ia terbangun oleh karena suara-suara kita.” Mereka yang berdebat dengan cara ini tidak mengikuti sampai akhir atau memahami tujuan yang Tuhan ajarkan kepada kita untuk berdoa. Hal itu bukan untuk kebaikan Tuhan, sebagaimana itu adalah untuk kebaikan kita sendiri. (Buku III, Bab 20)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Calvin berpendapat bahwa doa menguntungkan kita lebih daripada menguntungkan Tuhan. Kita dapat melihat hal ini dengan cukup mudah, setidaknya untuk beberapa unsur doa tertentu. Pertimbangkan, misalnya, unsur dari pemujaan dan pengakuan. Eksistensi Tuhan tidak tergantung kepada puji-pujian kita. Dia bisa saja terus hidup tanpa hal tersebut. Tetapi kita tidak. Pemujaan diperlukan untuk pertumbuhan rohani kita. Jika kita ingin mengembangkan hubungan yang intim dengan Bapa surgawi kita, adalah penting bagi kita untuk datang kepada-Nya dengan kata-kata yang mengungkapkan penghormatan, pemujaan dan cinta. Pada saat yang sama, penting bagi kita untuk mengakui dosa-dosa kita di hadapan takhta-Nya. Ia tahu apa saja. Faktanya, Ia mengetahuinya lebih jelas dan lebih menyeluruh daripada kita. Ia tidak memperoleh apa-apa dari pembacaan akan dosa-dosa kita, tetapi kita membutuhkan tindakan penyesalan tersebut untuk kebaikan jiwa kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Masalah yang rumit dari hubungan antara Allah yang berdaulat dengan doa manusia datang bukan pada saat pemujaan dan pengakuan, tetapi di titik dimana syafaat dan permohonan dinaikkan. Ketika saya melihat seseorang yang sedang membutuhkan dan mulai untuk berdoa bagi orang tersebut, saya menjadi perantara baginya. Saya menawarkan permintaan saya kepada Tuhan mewakili orang tersebut, memohon agar Tuhan bertindak seturut dengan belas kasihan-Nya, untuk melakukan sesuatu untuk mengubah situasi orang tersebut. Lebih lanjut, saya melakukan hal yang sama untuk kebutuhan saya sendiri, seperti yang saya ketahui. Namun, Allah yang mahatahu telah mengetahui situasi semua orang, setelah menetapkannya. Oleh karena itu, apakah doa-doa ini bernilai? Lebih mendasar, apakah doa-doa ini berhasil? Apakah pada akhirnya doa-doa tersebut berdampak pada kehidupan saya dan kehidupan orang lain?&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 16 Jan 2020 20:40:52 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Jika_Allah_Berdaulat,_Mengapa_Berdoa%3F_(Bagian_1)</comments>		</item>
		<item>
			<title>Pengampunan dan Ketakutan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pengampunan_dan_Ketakutan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span class=&amp;quot;fck_mw_template&amp;quot;&amp;gt;{{info|Forgiveness and Fear}}&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;p&amp;gt;Mazmur 130: 3-4 sungguh menakjubkan.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;&amp;amp;ldquo;Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Mzm 130:4&amp;amp;nbsp; Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang. &amp;amp;rdquo;(Mzm. 130: 3-4). Pada bacaan pertama, sesuatu tampaknya sangat aneh. Tidakkah lebih masuk akal bagi pemazmur untuk mengatakan: &amp;quot;Tetapi padaMU ada keadilan, supaya Engkau ditakuti&amp;quot;? Bukankah tujuan Tuhan menuntut penggantian&amp;amp;nbsp; untuk pelanggaran kita dengan membangkitkan rasa takut dalam jiwa manusia? Jika Tuhan memang harus &amp;quot;menandai kesalahan&amp;quot; maka rasa takut tampaknya merupakan satu-satunya jawaban yang tepat.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tetapi kabar baiknya adalah bahwa dengan Tuhan &amp;amp;ldquo;ada pengampunan&amp;amp;rdquo;! Karena itu, tidakkah semua &amp;amp;ldquo;ketakutan&amp;amp;rdquo; dihilangkan? Orang tentu akan berpikir begitu. Namun pemazmur menyatakan bahwa hasil dari pengampunan (mungkin bahkan tujuannya) adalah bahwa kita mungkin takut akan Tuhan dengan lebih mendalam.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Pikirkan secara mendalam tentang apa yang dikatakan. Dengan Tuhan ada pengampunan. Dari Dia menghasilkan kasih karunia yang menyediakan pendamaian bagi dosa-dosa kita. Dia telah mengambil setiap langkah yang diperlukan untuk menyelesaikan penebusan kita melalui Putranya. Menurut Mazmur 103: 10, dia tidak lagi berurusan dengan kita berdasarkan dosa kita atau membayar kita sesuai dengan kesalahan kita. Memang, dosa-dosa kita telah dihapuskan dari kita sejauh timur dari barat (Mzm. 103: 12).&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Inilah sebabnya mengapa &amp;quot;takut&amp;quot; akan Tuhan yang disebutkan dalam ayat ini tidak berupa rasa takut menghadapi penghukuman atau rasa takut akan bertemu dan mengalami murka-Nya yang benar. Apakah Anda melihat logika pemazmur? Jika yang kita temukan bersama Tuhan adalah pengampunan atas dosa-dosa kita, alasan apa yang tersisa bagi kita untuk hidup dalam ketakutan akan penghakiman atau murka-Nya? Jika Tuhan telah menghapus dosa dan kesalahan kita, maka jelas dia telah memilih untuk tidak &amp;amp;ldquo;menandai kejahatan&amp;amp;rdquo; dan sama jelasnya semua alasan ketakutan hilang. Karena itu, jika &amp;amp;ldquo;takut akan Tuhan&amp;amp;rdquo; dalam perikop ini merujuk pada ketakutan akan kehancuran yang akan datang, pengampunan dikosongkan dari semua makna dan nilai.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tetapi menurut apa yang kita baca dalam ayat 4, pengampunan adalah dasar untuk rasa takut! Pengetahuan yang tak tergoyahkan bahwa Tuhan tidak akan pernah &amp;amp;ldquo;menandai kejahatan&amp;amp;rdquo; (ayat 3), yaitu, kepastian bahwa dosa-dosa kita telah diampuni selamanya, adalah &amp;lt;strong&amp;gt;&amp;lt;em&amp;gt;alasan mengapa&amp;lt;/em&amp;gt;&amp;lt;/strong&amp;gt; kita takut akan Allah. Tidak ada yang lepas dari kekuatan bahasa pemazmur: &amp;lt;em&amp;gt;&amp;lt;strong&amp;gt;takut akan Tuhan adalah buah pengampunan yang diperlukan!&amp;lt;/strong&amp;gt;&amp;lt;/em&amp;gt; Ini saja menuntut bahwa takut akan Tuhan melibatkan sesuatu selain dari takut akan penghakiman.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Pengampunan, seperti halnya tindakan Tuhan, mengungkapkan kebesaran dan keagungannya yang tidak dapat dipahami. Tuhan yang kekal dan yan yang tak terbatas yang bisa dipahami manusia, telah bertindak dalam kasih karunia atas nama orang-orang berdosa yang seharusnya masuk neraka. Begitu kenyataan ini sepenuhnya dipahami, satu-satunya respons yang masuk akal adalah kehancuran, kerendahan hati, dan kekaguman pada cinta yang begitu menakjubkan.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Tentu saja ada sukacita dalam pengetahuan tentang pengampunan kita, serta rasa terima kasih dan pujian. Tetapi ini sangat konsisten dengan ketakutan suci, &amp;lt;strong&amp;gt;&amp;lt;em&amp;gt;kesadaran yang menghancurkan tulang bahwa hanya dengan rahmat ilahi saja kita tidak selamanya dikonsumsi oleh murka ilahi&amp;lt;/em&amp;gt;&amp;lt;/strong&amp;gt;. Seseorang dapat secara serentak &amp;amp;ldquo;mencicipi&amp;amp;rdquo; kebaikan Tuhan (Mzm. 34: 8a) dan &amp;amp;ldquo;takut&amp;amp;rdquo; kepadaNya (Mzm. 34: 9a).&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;p&amp;gt;Jadi, berdasarkan teks-teks seperti Mazmur 130 kita tahu bahwa takut akan Tuhan tidak sama dengan ketakutan akan Dia.&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 03 Jan 2020 20:46:03 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Pengampunan_dan_Ketakutan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Sukacita di Dalam Penderitaan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Sukacita_di_Dalam_Penderitaan</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|The Joy We Know Only in Suffering}}&amp;lt;br&amp;gt;  Semakin lama saya berjalan bersama Yesus, semakin saya melihat bahwa para penderita seringkali memiliki akses rahasia menu...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|The Joy We Know Only in Suffering}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semakin lama saya berjalan bersama Yesus, semakin saya melihat bahwa para penderita seringkali memiliki akses rahasia menuju kebahagiaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dulu saya berpikir bahwa Setan mencintai penderitaan, yang mana hal tersebut menjadi senjata pilihannya untuk melawan iman kita. Tetapi sementara Setan secara pasti (dan dengan kejam) mencoba untuk memanfaatkan sebagian besar dari penderitaan, sekarang saya curiga bahwa Setan secara diam-diam membenci penderitaan. Dia melihat bahwa penderitaan membawa terlalu banyak orang mendekat kepada Tuhan. Dia telah menyaksikan selama ribuan tahun, sementara Tuhan telah mengambil semua yang dia maksudkan untuk kejahatan yang mengerikan dan bekerja di dalam penderitaan untuk kebaikan yang tidak terbantahkan (Kejadian 50: 20).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasul Paulus, contohnya, dipenjara berulang kali, didera, difitnah oleh musuh-musuhnya, dicambuk lima kali, dirajam hingga hampir mati, seringkali kekurangan makanan, air, tempat berlindung, dan tidur — “diancam bahaya banjir, bahaya dari penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi, bahaya dari pihak orang-orang bukan Yahudi, bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, bahaya dari pihak saudara-saudara palsu” (2 Korintus 11: 26) — namun senantiasa bersukacita (2 Korintus 6: 10). Kepala tahanan ini dapat menulis dari kesepian, ketidakadilan, dan kesusahannya di dalam penjara, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!” (Filipi 4: 4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus terlihat tidak normal dan luar biasa bahkan spektakuler. Saya kira dia aneh. Sampai saya mulai menyaksikan begitu banyaknya pria dan wanita seperti ia saat ini, berani menghadapi pencobaan yang tak terbayangkan — konflik dan kanker, pengkhianatan dan pengabaian, penganiayaan dan kehilangan — dengan sukacita yang mengejutkan di dalam Tuhan. Mereka membuktikan apa yang kita alami dalam satu dan berbagai macam cara. Jika kita melihat pada-Nya ketika kita sedang berada dalam padang gurun penderitaan, Ia akan menuntun kita ke tempat kudus-Nya di mana ada damai, kekuatan, harapan, bahkan sukacita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Jiwaku akan dipuaskan====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Raja Daud terusir dari tempat tinggalnya karena pengkhianatan dan pemberontakan, berada dalam pelarian di padang gurun demi hidupnya, namun ia masih bisa menulis,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan,&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji,&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku,&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
merenungkan Engkau sepanjang kawal malam. (Mazmur 63: 5-6)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur tidak menjelaskan apakah Daud melarikan diri dari Saul sebelum ia menjadi raja atau dari Absalom, anaknya. Yang kita tahu adalah seseorang menginginkan ia mati: “Tetapi orang-orang yang berusaha mencabut nyawaku, akan masuk ke bagian-bagian bumi paling bawah” (Mazmur 63:9). Sekalipun hidupnya terancam oleh sepasukan musuh yang tidak terlihat, jiwanya akan menjadi puas oleh apa yang mata hatinya masih bisa lihat: Tuhannya. Bahkan ketika Daud diburu di luar gerbang kota, permenungan akan Tuhan yang dicintainya membawanya ke perjamuan kerajaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Daud berpesta sedemikian rupa sehingga kita pun masih menikmati pesta dari mejanya di padang gurun. Tidak ada penulis dalam Alkitab yang berbicara tentang sukacita melebihi Daud. Ia menciptakan sebagian besar dari bahasa yang kita gunakan untuk mengungkapkan kebahagiaan kita di dalam Tuhan, walaupun sebagian besar dari kehidupannya dihabiskan untuk melarikan diri dari orang-orang yang ingin membunuhnya. Jika kita memperhatikan dengan seksama penderitaan dan harapannya, kesedihan dan kegembiraannya, kita akan menemukan penghiburan bagi padang gurun kita — berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun Tuhan menggendong kita untuk melalui rasa sakit, kelemahan, kehilangan, atau penderitaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Kenyang di Padang Gurun====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daud menikmati apa yang dilihatnya. Kegembiraannya dimulai dalam pikiran dan dicerna di dalam hati. Makanan dan minuman ini tersedia baginya dalam segala keadaan. Tetapi apa yang Daud lihat?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia belum bertemu dengan Mesias, tetapi ia telah merasakan apa yang Yesus lakukan bagi kita. Sedih, namun selalu bersukacita, Daud bernyanyi dari lembah penderitaan, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup, bibirku akan memuliakan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan mengangkat tanganku demi nama-Mu” (Mazmur 63: 3-4).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur Daud mengajarkan kita bahwa sukacita sejati di dalam Tuhan dapat didengar di padang gurun dari bibir orang yang memandang kepada kasih setia Allah. Musuh-musuh Daud telah mengusirnya dari kota suci. Setan mencoba untuk memisahkan Daud dari Tuhan — alih-alih demikian, sebaliknya setan malah membawa Daud ke dalam tangan Tuhan. Daud berada bermil-mil jauhnya dari Bait Allah, tetapi Allah menjadikan bagi dia tempat kudus-Nya di padang gurun — tempat perlindungan dengan tembok keamanan yang lebih tinggi dan sumur kepuasan yang lebih dalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kehidupan Daud yang dulu nyaman dan aman telah koyak, tetapi sukacita-nya tetap tinggal. Dan diperdalam. Bahkan di padang gurun pembelotan dan penipuan dan pemberontakan yang dialaminya, jiwanya dikenyangkan ketika dia memandang kepada Tuhan-nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Tempat Perlindungan Anda di Padang Gurun====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi sukacita sejati di dalam Tuhan tidak selalu terlihat atau terasa penuh. Di beberapa ayat sebelumnya, ketika hati Daud kesakitan oleh karena kesedihan dan kegelisahan, mengakui kekeringan yang dialaminya lewat api kesengsaraan, ia berseru dengan sukacita dalam kesedihannya,&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair (Mazmur 63: 1).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah Daud kelaparan atau berpesta dalam Mazmur 63? Ambiguitas memanggil dengan harapan bagi pengikut Kristus yang lelah dan penakut. Sukacita sejati tidak harus dikenakan dengan wajah yang tersenyum — tidak di dalam Paulus, tidak di dalam Daud, tidak di dalam anda ataupun saya. Hal itu sama seringnya seperti kita berlinangan air mata dan menjadi usang, merangkak mengikuti Allah dengan sekuat tenaga yang bisa kita kerahkan. Sukacita kita akan terbukti kuat dan tabah, bahkan tak terkalahkan, karena Tuhan yang menjaga kita, meskipun itu akan terasa kurang dan rapuh di sepanjang jalan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan Tuhan tidak terlihat kurang memuaskan ketika kita lemah, atau rapuh, atau lapar secara rohani, jika di dalam kelemahan kita berseru kepada-Nya, jika di dalam kerapuhan kita bersandar kepada-Nya, jika di dalam kelaparan dan kehausan kita tahu bahwa hanya Dia saja yang akan memuaskan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan terlihat sama megahnya saat di padang gurun pada ayat pertama, sama seperti hal yang dilakukanNya saat di meja perjamuan pada ayat kelima — “Seperti lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan.” Keputusasaan kita akan Dia di hari-hari yang paling sulit, memuliakan Dia, dan bahkan lebih daripada kegembiraan kita ketika segala sesuatunya baik-baik saja. Kita dapat berharap untuk melihat lebih dari pada-Nya, ketika kita memiliki lebih sedikit hal untuk dapat bertahan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====Penderitaan yang Setan Benci====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setan mungkin memandang hina penderitaan kita karena ia tahu betapa seringnya hal itu menjadi bumerang bagi dirinya — ketika kita menghadapi kelaparan dan kebutuhan dan yang lebih buruk lagi dengan kepuasan (Filipi 4: 11-12); ketika kita menghargai apa yang bisa penderitaan hasilkan di dalam diri kita (Roma 5: 3-4; Yakobus 1: 2-4), dan untuk kita (2 Korintus 4: 17); ketika kita bersukacita dalam ujian akan kemurnian iman kita, dimurnikan melalui api, menjadi lebih berharga daripada emas yang terbaik (1 Petrus 1: 6-7). Ketika penderitaan mulai melayani sukacita kita dan tidak menggagalkannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan dapat membangun tempat kudus yang dahsyat dan menyegarkan di padang gurun. Ia mengubah padang gurun kita menjadi tempat bagi kita untuk menjelajah dan mengungkapkan sukacita yang lebih besar di dalam-Nya. Alih-alih menjadi ancaman bagi sukacita sejati, Ia seringkali menjadikan penderitaan kita sebagai sarana bahkan untuk lebih lagi.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 19 Dec 2019 13:11:06 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Sukacita_di_Dalam_Penderitaan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kristus Menderita dan Mati demi Membebaskan Kita dari Yang Jahat Ini</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kristus_Menderita_dan_Mati_demi_Membebaskan_Kita_dari_Yang_Jahat_Ini</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|Christ Suffered and Died to Deliver Us from the Present Evil}}&amp;lt;br&amp;gt;  &amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Galatia 1:4'''&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; [Dia] yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa ki...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Christ Suffered and Died to Deliver Us from the Present Evil}}&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Galatia 1:4'''&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; [Dia] yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita supaya kita dilepaskan dari zaman yang jahat ini, sesuai dengan kehendak Allah, Sang Bapa kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita hidup dalam “zaman yang jahat ini” sampai kita mati , atau sampai kedatangan kembali Kristus untuk menetapkan kerajaannya. Oleh karena itu, ketika Alkitab mengatakan Kristus menyerahkan hidupnya “untuk membebaskan kita dari zaman yang  jahat ini,” bukan berarti dia akan membawa kita keluar dari dunia ini, sebaliknya bahwa dia akan membebaskan kita dari kuasa si jahat dalam dunia. Yesus berdoa untuk kita seperti ini:  “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat” (Yoh 17:15). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan Yesus berdoa bagi kelepasan dari “yang  jahat” karena “zaman yang  jahat ini” adalah zaman ketika Iblis diberikan keleluasaan untuk menipu dan menghancurkan. Alkitab berkata,  “seluruh dunia berada dalam kuasa si Jahat” (1 Yoh 5:19). “Si jahat” ini disebut sebagai “ilah  dunia ini” dan tujuan utamanya adalah untuk membutakan manusia dari kebenaran. “yang di antaranya, ilah dunia ini telah membutakan pikiran mereka yang tidak percaya sehingga mereka tidak dapat melihat terang kemuliaan Injil Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Korintus 4:4). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita terus hidup menyatu dengan “zaman yang jahat ini” dan penguasanya jika kita tidak bangkit dari keadaan kerohanian yang mati suri. “Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini, karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang bekerja di antara orang-orang durhaka” (Efesus 2:2). Tanpa menyadarinya, kita adalah budak iblis. Terasa kebebasan yang terbelenggu. Alkitab berbicara langsung tentang gaya, kesenangan, dan hawa nafsu abad 21 ketika Alkitab berkata, “Mereka menjanjikan kebebasan, sedangkan mereka sendiri hamba kebinasaan – kerana seseorang yang dikalahkan itu menjadi hamba kepada yang mengalahkannya” (2 Petrus 2:19). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seruan kebebasan yang berkumandang di Alkitab adalah: “Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan akal budimu” (Roma 12:2). Dengan kata lain, bebaskanlah dirimu! Jangan tertipu oleh penguasa zaman. Sekarang mereka ada tetapi lenyap di kemudian hari. Satu gaya memperbudak mengikuti yang lainnya. Tiga puluh tahun dari sekarang, tato tidak akan lagi dianggap sebagai tanda kebebasan, tetapi pengingat hukuman yang tak terlupakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hikmat zaman ini adalah kebodohan menurut pandangan kekekalan. “Jangan ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada orang di antaramu mengira bahwa ia bijaksana pada zaman ini, biarlah ia menjadi bodoh supaya ia dapat menjadi bijaksana. Sebab, hikmat dunia ini adalah kebodohan di hadapan Allah… Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa” (1 Korintus 3:18-19; 1:18). Lalu apakah hikmat Tuhan pada zaman ini?  Hikmat itu adalah kematian Yesus Kristus yang sangat membebaskan. Para pengikut Yesus mula-mula berkata, “Akan tetapi, kami memberitakan Kristus yang disalibkan......kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Korintus 1:23).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Kristus disalibkan, dia juga membebaskan jutaan mereka yang terbelenggu. Dia menyingkapkan kecurangan iblis dan mematahkan kuasanya. Itulah yang dia maksudkan di malam penyalibannya ketika dia berkata, “Sekarang penghulu dunia ini akan diusir ke luar” (Yoh 12:31). Janganlah ikuti musuh yang kalah. Ikutilah Kristus. Bayarlah harga. Meskipun kau akan dikucilkan di zaman ini, namun kau akan menerima kebebasan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 15 Oct 2019 19:36:05 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kristus_Menderita_dan_Mati_demi_Membebaskan_Kita_dari_Yang_Jahat_Ini</comments>		</item>
		<item>
			<title>Raja di atas segala raja</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Raja_di_atas_segala_raja</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: ←Membuat halaman berisi '{{info|The King of Kings}}&amp;lt;br&amp;gt;   Injil Lukas ditutup dengan pernyataan yang sangat menggelegar: “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia...'&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|The King of Kings}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Injil Lukas ditutup dengan pernyataan yang sangat menggelegar: “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat sukacita. Mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah&amp;quot; (24: 50-53). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang mengejutkan mengenai perikop ini, seperti Lukas menuliskan mengenai kepergian Yesus dari dunia ini, adalah reaksi murid-murid-Nya untuk kembali ke Yerusalem dengan “sukacita besar.” Bagaimana mungkin kepergian Yesus dapat menanamkan emosi kegembiraan pada murid-muridNya? Pertanyaan ini akan semakin membingungkan ketika kita mengingat emosi yang ditunjukkan para murid ketika Yesus memberitahu merekan mengenai kepergian-Nya yang semakin dekat. Pada waktu itu, gambaran bahwa Tuhan akan meninggalkan mereka menimbulkan rasa kesedihan yang mendalam. Sepertinya tidak ada yang lebih menyedihkan daripada mengetahui akan adanya perpisahan dengan Yesus. Namun, dalam waktu yang sangat singkat, kesedihan tersebut berubah menjadi sukacita yang terkatakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harus mempertanyakan hal yang dapat membangkitkan perubahan emosi secara radikal di dalam hati para murid Yesus. Jawaban atas pertanyaan itu terdapat di Perjanjian Baru. Di antara waktu Yesus memberitahukan mengenai kepergian-Nya dan saat kepergian-Nya, para murid menyadari dua hal. Pertama, mereka menyadari alasan Yesus pergi. Kedua, mereka mengetahui kemana Yesus pergi. Yesus pergi bukan untuk meninggalkan mereka sendiri dan tanpa penghiburan, tapi Ia pergi ke surga. Maksud Perjanjian Baru mengenai kenaikan Yesus memiliki suatu arti yang jauh lebih berbobot daripada hanya naik ke langit atau ke rumah surgawi saja. Dalam kenaikan-Nya, Yesus pergi ke suatu tempat khusus untuk alasan tertentu. Ia naik ke surga untuk pentahbisan dan penobatan-Nya sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan diatas segala tuhan. Perjanjian Baru memberikan gelar yang digunakan untuk menggambarkan Yesus dalam peran-Nya sebagai raja yaitu “Raja di atas segala raja” dan juga gelar “Tuhan di atas segala tuhan.” Struktur penulisan yang khusus ini memilki arti yang lebih daripada penetapan Yesus dalam posisi otoritas, yang dengannya Ia akan memerintah raja yang lebih rendah. Sebaliknya, ini adalah struktur yang menunjukkan supremasi Yesus dalam keagungan kerajaanNya. Dia adalah Raja dalam kedudukan raja tertingi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam istilah Alkitab, tidak mungkin memiliki raja tanpa kerajaan. Karena Yesus naik ke pentahbisan-Nya sebagai raja, dengan penobatan tersebut maka datanglah penunjukan oleh Bapa dari kerjaan yang diperintahNya. Kerajaan tersebut adalah semua ciptaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada teknologi modern, terdapat dua kesalahan mengenai konsep alkitabiah Kerajaan Allah. Yang pertama adalah bahwa kerajaan telah disempurnakan dan tidak ada lagi yang tersisa bagi pemerintahan Kristus untuk dimanifestasikan. Pandangan seperti itu digambarkan sebagai eskatologi terealisasi (hal-hal terakhir). Dengan kesadaran mengenai kepenuhan kerajaan, tidak akan ada lagi yang dinantikan dengan kemenangan Kristus. Kesalahan lainnya adalah banyaknya orang Kristen percaya bahwa kerajaan Allah adalah sesuatu yang futurisik yang artinya kerajaan Tuhan tidak benar-benar telah ada. Pandangan ini sangat kuat merujuk terhadap dimensi masa depan dari kerajaan Allah yang bahkan bagian Perjanjian Baru seperti Ucapan Bahagia dari Matius 5–7, tidak memiliki aplikasi untuk gereja hari ini karena mereka termasuk masa depan kerajaan yang belum dimulai &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua pandangan tersebut menyimpang dari pengajaran Perjanjian Baru yang jelas menyatakan bahwa kerajaan Alah memang telah dimulai. Raja sudah berada di tempat-Nya. Ia telah menerima semua otoritas atas surga dan bumi. Ini berarti bahwa pada saat ini otoritas tertinggi atas kerajaan di dunia dan seluruh alam semesta ada di tangan Raja Yesus. Tidak ada sejengkal pun dari dunia ini dan tidak ada kekuasaan di dunia ini yang tidak berada di bawah kepemilikan dan pemerintahan-Nya. Dalam surat Paulus kepada jemaat di Filipi pasal 2, yang disebut mazmur Kenosis, dikatakan bahwa Yesus diberi nama di atas segala nama. Nama yang diberikan pada Dia yang melampaui semua nama yang bisa diterima siapapun, merupakan nama yang disediakan untuk Tuhan. Gelar Allah, Adonai, berarti &amp;quot; Yang benar-benar berdaulat&amp;quot;. Sekali lagi, gelar ini adalah satu dari kedaulatan tertinggi bagi Dia yang adalah Raja seluruh bumi Terjemahan Perjanjian Baru terhadap nama Adonai pada Perjanjian Lama adalah Tuhan. Ketika Paul mengatakan bahwa pada nama Yesus semua lutut harus bersujud dan semua lidah mengaku, alasan bersujud dengan hormat dan untuk mengaku adalah bahwa mereka mengaku dengan bibir mereka sendiri bahwa Yesus adalah Tuhan, Dia adalah penguasa yang berdaulat. Itu adalah pengakuan iman pertama dari gereja mula-mula. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian Roma, dalam kesesatannya, berusaha untuk menegakkan sumpah kesetiaan kepada kultus-kultus agama, di mana semua orang diminta untuk mengucapkan kalimat ''kaisar kurios'' - &amp;quot;Kaisar adalah tuhan.&amp;quot; Orang-orang Kristen menanggapinya dengan menunjukkan setiap bentuk ketaatan sipil, dengan membayar pajak, dengan menghormati raja, dengan menjadi warga teladan; tetapi mereka tidak bisa dalam hati nurani mematuhi mandat kaisar untuk menyatakan dia tuhan. Tanggapan mereka terhadap sumpah kesetiaan, ''kaisar kurios'', sangat dalam dan sederhana, ''Jesus Ho Kurios'', Yesus adalah Tuhan. Ketuhanan Yesus bukan sekadar harapan orang Kristen bahwa suatu hari kelak mungkin terwujud; itu adalah kebenaran yang telah terjadi. Ini adalah tugas gereja untuk memberi kesaksian tentang kerajaan yang tidak terlihat itu, atau seperti yang dikatakan Calvin, adalah tugas gereja untuk membuat kerajaan Kristus yang tidak terlihat menjadi nyata. Meskipun tidak terlihat, itu nyata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 04 Sep 2018 02:07:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Raja_di_atas_segala_raja</comments>		</item>
		<item>
			<title>Selamat Datang di Surga</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Selamat_Datang_di_Surga</link>
			<description>&lt;p&gt;Pcain: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{info|Welcome to Paradise}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Transkrip Audio'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah fakta yang berkebalikan: Allah ada di pihak kita, bukan lawan kita — Dia 100% ada di pihak kita. Dia sepenuhnya ada di pihak kita. Siapa yang bisa menuduh kita? ''Tidak ada''. Siapa yang bisa menghukum kita? ''Tidak ada''. Siapa yang bisa memisahkan kita dari Allah? ''Tidak ada yang bisa''. Karena Allahlah yang membenarkan kita, Kristuslah yang telah mati, dan kasih-Nya tetap bertahan. Karena Allah ada di pihak kita, tidak ada lagi tuduhan, hukuman, dan pemisahan dari Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan sewaktu Martin Luther menyadari hal ini, semuanya berubah. Ia mengatakan, &amp;quot;Jika aku dapat percaya bahwa Allah tidak marah kepadaku, aku akan jungkir balik dengan suka cita.” Dan ketika ia menyadari hal itu, ia berkata, &amp;quot;Aku merasa aku dilahirkan kembali sepenuhnya dan telah masuk ke dalam surga melalui gerbangnya yang terbuka.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya memandang Anda dan berpikir, ''Apakah Anda hidup di dalam surga ini? Apakah Anda belajar di dalam surga ini? Apakah Anda tidur di malam hari di dalam surga ini?'' Kita ini sudah masuk ke dalam surga. Allah itu ada di pihak kita, bukan lawan kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Fri, 31 Aug 2018 20:41:38 GMT</pubDate>			<dc:creator>Pcain</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Selamat_Datang_di_Surga</comments>		</item>
	</channel>
</rss>