<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://id.gospeltranslations.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title>Gospel Translations Indonesian - Kontribusi pengguna [id]</title>
		<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Istimewa:Kontribusi_pengguna/PagePush</link>
		<description>Dari Gospel Translations Indonesian</description>
		<language>id</language>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>
		<lastBuildDate>Mon, 22 Jun 2026 22:41:24 GMT</lastBuildDate>
		<item>
			<title>Mengapa Harus Menghafalkan Ayat Alkitab?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Mengapa_Harus_Menghafalkan_Ayat_Alkitab%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Why Memorize Scripture?}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, beberapa kesaksian: Saya mendapatkan kesaksian itu sebagai orang ketiga, bahwa Dr. Howard Hendricks dari Seminari Dallas (Dallas Theological Seminary) pernah membuat pernyataan (dan saya merumuskannya dengan kata-kata saya) bahwa kalau saja segala sesuatu tergantung padanya, setiap siswa yang lulus dari Seminari Teologi Dallas harus mampu menghafalkan seribu ayat Alkitab denagn sempurna sebelum mereka dinyatakan lulus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dallas Willard, seorang profesor Filsafat di Universitas Southern California menulis, “Menghafalkan ayat Alkitab sangatlah penting untuk membentuk segi spiritual seseorang. Jika saya harus memilih satu di antara banyak bidang ilmu mengenai kehidupan spiritual, saya akan memilih menghafalkan ayat Alkitab, karena hal itu adalah hal mendasar ang diperlukan untuk memenuhi pikiran kita dengan apa yang dibutuhkan olehnya. Kitab ini tidak boleh menjauh dari mulutmu. Di sanalah kamu membutuhkannya! bagaimana hal itu bisa sampai ke mulut kita? Dengan menghafalkannya” (“Spiritual Formation in Christ for the Whole Life and Whole Person” dalam Vocatio, Volume 12, no. 2, Spring (edisi musim semi), 2001, h. 7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Chuck Swindoll menulis, “Saya tidak mengetahui hal apapun dalam kehidupan Kristen yang lebih memuaskan, dibandingkan dengan menghafalkan ayat Alkitab... tidak ada hal lain yang memberikan keuntungan spiritual terbesar! Kehidupan doamu akan semakin diperkuat. Kesaksian hidupmu akan semakin tajam dan efektif. Sikap hidup dan penampilan lahiriahmu akan mulai diubahkan. Pikiranmu akan semakin dipertajam dan waspada. Kepercayaan dan keyakinanmu akan semakin bertambah. Imanmu akan dimantapkan” (Growing Strong in the Seasons of Life [Grand Rapids: Zondervan, 1994], h. 61). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu alasan Martin Luther mendapatkan pencerahan terbesar dari dalam Alkitab bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman, adalah karena pada tahun-tahun awal hidupnya saat dia belajar di biara Augustinian, Johann Staupitz mempengaruhinya untuk mencintai Alkitab. Luther mendalami Alkitab saat banyak orang mendapat gelar doktor teologi tanpa pernah membaca Alkitab sama sekali. Luther menyatakan bahwa rekan sesama profesornya, Andreas Karlstadt, bahkan tidak memiliki Alkitab sama sekali saat dia mendapatkan gelar teologianya, bahkan sampai setelah beberapa tahun kemudian (Bucher, Richard. &amp;quot;Martin Luther's Love for the Bible&amp;quot;). Luther sangat mengetahui isi Alkitab dari ingatannya, sampai saat Tuhan membuka matanya mengenai pembenaran yang ada dalam Roma 1:17, dia berkata, “Saat itu saya kembali mengkaji ayat-ayat Alkitab dari dalam ingatan saya,“ untuk memperoleh konfirmasi dari hal yang dia temukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, inilah beberapa alasan mengapa beberapa orang meyakini pentingnya menghafalkan ayat Alkitab bagi kehidupan Kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1. Diubahkan Menjadi Seperti Kristus''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menuliskan bahwa “kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan , .. maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2 Korintus 3:18). Kalau kita mau diubahkan menjadi serupa gambaran Kristus, kira harus setia mencari Dia. Ini hanya mungkin ditemukan dalam FirmanNya. “Dan TUHAN selanjutnya menampakkan diri di Silo, sebab Ia menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-Nya.” (1 Samuel 3:21). Menghafalkan ayat Alkitab mampu membuat gambaran kita tentang Yesus semakin kokoh dan jelas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Dosa''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu ... Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau” (Mazmur 119: 9, 11). Paulus menyatakan bahwa kita harus “oleh Roh ... mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu” (Roma 8:13). Satu perlengkapan senjata yang digunakan untuk memusnahkan adalah “pedang Roh” yaitu Firman Allah (Efesus 6:17). Saat dosa menggoda tubuh kita untuk melakukan suatu perilaku dosa, kita mulai mengingat apa yang dikatakan oleh Firman Allah, dan menghancurkan godaan yang ada dengan kebenaran akan Kristus yang lebih indah dan lebih berharga daripada apa yang ditawarkan oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3. Kemenangan Dari Hari ke Hari atas Setan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat Yesus dicobai oleh Setan di padang gurun, Ia menggunakan Firman Allah yang ada di ingatanNya dan membuat Setan enyah dari hadapanNya (Matius 4: 1-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4. Menghibur Orang yang Anda Kasihi''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat-saat di mana orang membutuhkan kita biasanya terjadi waktu kita tidak sedang memegang Alkitab kita, atau waktu Alkitab ada di sekitar kita. Bukan hanya itu, ketika kita menyampaikan Firman Allah dengan spontan dari dalam hati kita, terdapat kuasa yang khusus di dalamnya. Amsal 25:11 mengatakan. “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” Itu adalah cara terbaik untuk mengatakan, ''Ketika hati kita dipenuhi dengan kasih Allah dan FirmanNya, berkat mengalir dari perkataan kita.'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5. Menyampaikan Kabar Injil Bagi Orang yang Belum Diselamatkan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesempatan untuk mewartakan Injil biasanya datang saat kita tidak sedang memegang Alkitab. Ayat-ayat di Alkitab mempunyai kuasa yang besar. Dan saat hal itu keluar dari hati kita, juga dari Alkitab itu sendiri, kita sedang memberi kesaksian betapa Alkitab itu sangat spesial dan berharga untuk dipelajari. Kita semua harus mampu untuk menyimpulkan Firman Allah ke dalam 4 kerangka utama (1) Kekudusan/ Perintah/ Kemuliaan Allah; 2) Dosa/ Pemberontakan/ Ketidaktaatan manusia; 3) Kematian Kristus untuk orang berdosa; 4) Anugerah kehidupan kekal lewat iman kepada Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelajari satu atau dua ayat dan cobalah kaitkan dengan masing-masing kerangka utama ini, dan bersiaplah untuk menyampaikan Firman Allah, tepat atau tidak tepat waktunya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6. Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara kita bersekutu dengan Allah adalah dengan merenungkan hal-hal tentang Allah dan mengekspresikan rasa syukur, pengagguman, dan kasih kita kepadaNya, serta meminta pertolonganNya agar kita mampu menampilkan hal-hal tersebut di atas di dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh sebab itu, menyimpan Firman Allah di dalam pikiran kita, mampu menolong kita untuk berhubungan dengan Allah sebagaimana Dia adanya. Misalnya, bayangkan kalau anda mampu mengingat hal ini sepanjang hari: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. (Mazmur 103:8-14) &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Saya sengaja menggunakan kata “menikmati” ketika saya menyebutkan, “Menikmati Persekutuan dengan Allah sebagai Pribadi dan dengan Jalan-JalanNya.” Kita cenderung lumpuh secara emosional—sebenarnya, kita semua. Kita tidak mengalami Allah dengan seluruh kapasitas emosional yang kita miliki. Bagaimana untuk mengubah semua itu? Salah satunya adalah dengan menghafalkan ekspresi emosional yang tertulis di dalam Alkitab, dan menyampaikan hal itu kepada Allah juga kepada orang lain sampai hal itu menjadi bagian dari diri kita sendiri. Misalnya, Mazmur 103:1, kita menyatakan, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” Ini bukanlah suatu ekspresi perasaan yang alami untuk beberapa orang. Namun, kalau kita mengingat hal ini dan ekspresi emosional lainnya yang ada di dalam Alkitab terus menerus, serta menyerukan hal itu sesering mungkin, sambil memohon kepada Allah agar emosi itu dapat menjadi nyata di dalam hati kita, kita pada akhirnya akan mampu bertumbuh dalam ekspresi dan perasaan tersebut. Itu akan menjadi bagian dari siapa diri kita. Kita akan menjadi semakin lengkap secara emosional, dan lebih mampu untuk menyampaikan pujian dan syukur kepada Allah dengan layak.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada beberapa alasan lain untuk mengingat Ayat Alkitab. Saya berharap agar dalam prakteknya, anda akan menemukan cara lain tersebut.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:48:14 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Mengapa_Harus_Menghafalkan_Ayat_Alkitab%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Apa Yang Perlu Didoakan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Apa_Yang_Perlu_Didoakan</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | What to Pray For}}{{InProcess|user=Liutoyo|date=}}&amp;amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Anda seperti saya, Anda menemukan bahwa dari waktu ke waktu kehidupan doa Anda memerlukan suatu sentakan dari kerutinan yang telah diciptakannya. Kita cenderung untuk memakai ungkapan-ungkapan yang sama berulang-ulang. Kita cenderung untuk kembali pada ungkapan-ungkapan usang (seperti kata ''default ''– asal). Kita terjebak dalam pola pengulangan tanpa berpikir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Iblis membenci doa. Tubuh jasmani kita sendiri secara alamiah tidak menyukainya. Oleh karenanya, doa tidak terlahir secara utuh dan sempurna dan penuh hasrat dari rahim hati kita. Doa selalu membutuhkan disiplin yang terus-menerus diperbarui. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bertahun-tahun yang lalu, ketika saya menulis ''Let the Nations Be Glad ''(Biarkan Bangsa-bangsa Bergembira), saya mendebat bahwa doa merupakan walkie-talkie (alat komunikasi jarak jauh) dalam masa peperangan, bukan sebuah interkom domestik. Allah lebih menyerupai seorang jenderal dari Pusat Komando, dan bukannya seperti bujang laki-laki yang menanti untuk membawakan Anda bantal lain di kamar tidur. Tentu saja, Ia adalah juga Bapa, Kekasih, Sahabat, Tabib, Gembala, Penolong, Raja, Penyelamat, Tuhan, Penasihat. Tetapi dalam dunia yang penuh dengan iblis, dunia yang sudah jatuh ini, doa akan berfungsi paling baik bila kita menjaga agar frekuensinya selalu tertuju kepada Pusat Komando dalam perjuangan iman.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi ketika saya menulis buku itu, saya mengumpulkan di satu tempat semua hal yang didoakan oleh gereja mula-mula. Saya mencetaknya untuk diri saya sendiri, dan ternyata hal ini terbukti menjadi salah satu dari sekian banyak ”sentakan” yang saya perlukan. Saya pikir Anda akan merasakan kegunaan hal ini. Anda mungkin ingin mencetaknya dan menyimpannya sementara waktu dalam Alkitab Anda untuk menjadi panduan Anda dalam berdoa. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam berdoa, menjadi suatu pembangun-keyakinan yang besar bila Anda mengetahui bahwa Anda tidak sedang mengikuti suatu kebiasaan khusus. Mendoakan hal-hal yang didoakan dalam Perjanjian Baru merupakan cara yang aman dan penuh kuasa untuk berdoa.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doa tetap merupakan salah satu misteri besar dan agung dalam alam semesta ini-bahwa Allah yang Mahatahu, Mahabijak, Mahakuasa itu menakdirkan untuk menggerakkan dunia ciptaan-Nya sebagai tanggapan terhadap doa-doa kita, hal ini merupakan fakta yang menakjubkan. Namun seperti itulah kesaksian yang seragam dari Kitab Suci. Allah mendengar dan menjawab doa umat-Nya. Oh, jangan abaikan cara menakjubkan ini untuk mempengaruhi bangsa-bangsa dan berbagai pergerakan, lembaga dan gereja serta hati orang-orang, terutama hati Anda sendiri.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Anda ingin mendoakan apa yang didoakan oleh gereja yang mula-mula… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Allah meninggikan nama-Nya di dunia ini.&amp;lt;br&amp;gt;'''Jadi, berdoalah demikian: “Bapa kami yang di surga, dimuliakanlah nama-Mu.” (Mat. 6:9)&amp;lt;br&amp;gt;Berdoalah agar Allah memperluas kerajaan-Nya di dunia ini.&amp;lt;br&amp;gt;Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di sorga. (Mat. 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Firman Tuhan terus mendapat kemajuan dan dimuliakan.&amp;lt;br&amp;gt;'''Selanjutnya, saudara-saudara, berdoalah untuk kami, supaya firman Tuhan beroleh kemajuan dan dimuliakan, sama seperti yang telah terjadi di antara kamu. (2 Tesalonikan 3:1) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah untuk kepenuhan Roh Kudus. &amp;lt;br&amp;gt;'''Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya&amp;amp;nbsp;! (Lukas 11:13; cf Efesus 3:19) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Allah akan membenarkan umat-Nya dalam alasan mereka. &amp;lt;br&amp;gt;'''Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya, yang siang malam berseru kepada-Nya? (Lukas 18:7)&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Allah menyelamatkan mereka yang belum percaya.&amp;lt;br&amp;gt;'''Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. (Roma 10:1) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Allah mengarahkan penggunaan pedang Roh.&amp;lt;br&amp;gt;'''Terimalah…pedang Roh, yaitu Firman Allah; dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu. (Efesus 6:17,18)&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar diberi keberanian dalam pemberitaan Injil&amp;lt;br&amp;gt;'''Berdoalah setiap waktu…dan juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil (Efesus 6:18-19) &amp;lt;br&amp;gt;Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami, dan berilah kepada kami keberanian untuk memberitakan Firman-Mu (Kisah Para Rasul 4:29) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;'''Berdoalah meminta tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat&amp;lt;br&amp;gt;'''Dan sekarang, ya Tuhan, ..... berilah kepada kami keberanian untuk memberitakan Firman-Mu....Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang; dan adakanlah tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat oleh nama Yesus, hamba-Mu yang kudus (Kisah Para Rasul 4:29-30)&amp;lt;br&amp;gt;Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujan pun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumi pun mengeluarkan buahnya. (Yakobus 5:17-18) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah untuk kesembuhan rekan-rekan yang terluka&amp;lt;br&amp;gt;'''Supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa, maka dosanya itu akan diampuni (Yakobus 5:14-15)&amp;lt;br&amp;gt;Berdoalah untuk kesembuhan orang-orang yang belum percaya&amp;lt;br&amp;gt;Ketika itu ayah Publius terbaring karena sakit demam dan disentri. Paulus masuk ke kamarnya, ia berdoa serta menumpangkan tangan ke atasnya dan menyembuhkan dia. (Kisah Para Rasul 28:8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah untuk pengusiran setan-setan. &amp;lt;br&amp;gt;'''Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.” (Markus 9:29)&amp;lt;br&amp;gt;Berdoalah untuk kelepasan secara ajaib &amp;lt;br&amp;gt;Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah....Dan setelah berpikir sebentar (ia telah dibebaskan), ia pergi ke rumah Maria, ibu Yohanes yang disebut juga Markus. Di situ banyak orang berkumpul dan berdoa. (Kisah Para Rasul 12:5;12)&amp;lt;br&amp;gt;Kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat. (Kisah Para Rasul 16:25-26) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah untuk kebangkitan orang mati&amp;lt;br&amp;gt;'''Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika ia melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. (Kisah Para Rasul 9:40) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah bahwa Tuhan akan mencukupkan pasukan-Nya dengan segala kebutuhan mereka.&amp;lt;br&amp;gt;'''Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;'''Berdoalah meminta hikmat yang berstrategi&amp;lt;br&amp;gt;'''Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah,-yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit-, maka hal itu akan diberikan kepadanya. (Yakobus 1:5) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;'''Berdoalah agar Allah memantapkan kepemimpinan di pos-pos penginjilan &amp;lt;br&amp;gt;'''Di tiap tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang adalah sumber kepercayaan mereka. (Kisah Para Rasul 14:23)&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Allah mengirimkan pasukan penguat.&amp;lt;br&amp;gt;'''Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. (Matius 9:38)&amp;lt;br&amp;gt;Ketika mereka beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.” Maka berpuasa dan berdoalah mereka, dan setelah meletakkan tangan ke atas kedua orang itu, mereka membiarkan keduanya pergi (Kisah Para Rasul 13:2-3) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah untuk keberhasilan para misionaris lainnya.&amp;lt;br&amp;gt;'''Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, supaya aku terpelihara dari orang-orang yang tidak taat di Yudea, dan supaya pelayananku untuk Yerusalem disambut dengan baik oleh orang-orang kudus di sana (Roma 15:30-31) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah untuk kesatuan dan kesehatian dalam barisan laskar Allah.&amp;lt;br&amp;gt;'''Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. (Yohanes 17:20-21)&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;'''Berdoalah agar ada dorongan untuk kebersamaan.&amp;lt;br&amp;gt;'''Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. (1 Tesalonika 3:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah meminta pikiran yang dapat membedakan&amp;lt;br&amp;gt;'''Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian, sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus. (Filipi 1:9-10)&amp;lt;br&amp;gt;Berdoalah meminta pengertian akan kehendak-Nya&amp;lt;br&amp;gt;[Kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu]. Kami meminta supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna (Kolose 1:9) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah supaya dapat lebih mengenal Allah.&amp;lt;br&amp;gt;'''[Kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu agar] bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah. [Kolose 1:10; . Efesus 1:17] &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah memohon kuasa untuk memahami kasih Kristus&amp;lt;br&amp;gt;'''Aku sujud kepada Bapa…[supaya kamu] bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. (Efesus 3:14,18-19) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah memohon agar dapat lebih menyelami jaminan pasti itu. &amp;lt;br&amp;gt;'''Aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku...agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus. (Efesus 1:16,18) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah memohon kekuatan dan ketekunan.&amp;lt;br&amp;gt;'''[Kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu ...supaya kamu] dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (Kolose 1:11; bd. Efesus 3:16) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah memohon pemahaman lebih dalam akan kuasa-Nya dalam diri mereka&amp;lt;br&amp;gt;'''Aku pun tidak berhenti mengucap syukur karena kamu. Dan aku selalu mengingat kamu dalam doaku...agar kamu mengerti...betapa hebatnya kuasa-Nya bagi kita yang percaya. (Efesus 1:16, 18-19) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;'''Berdoalah agar iman&amp;amp;nbsp;Anda&amp;amp;nbsp;tidak gugur.&amp;lt;br&amp;gt;'''Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanumu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu. (Lukas 22:32)&amp;lt;br&amp;gt;Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. (Lukas 21:36) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah memohon iman lebih besar.&amp;lt;br&amp;gt;'''Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini.!” (Markus 9:24; bd. Efesus 3:17) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Anda tidak jatuh ke dalam pencobaan. &amp;lt;br&amp;gt;'''Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan (Matius 6:13)&amp;lt;br&amp;gt;Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah. (Matius 26:41) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah agar Allah menyempurnakan ketetapan hati Anda. &amp;lt;br&amp;gt;'''Karenia itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu. (2 Tesalonika 1:11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah supaya Anda akan melakukan pekerjaan baik. &amp;lt;br&amp;gt;'''[Kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu…supaya] hidupmu layak di hadapan-Nya, serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik. (Kolose 1:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah memohon pengampunan atas dosa-dosa Anda&amp;lt;br&amp;gt;'''Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami. (Matius 6:12) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Berdoalah memohon perlindungan dari si jahat.&amp;lt;br&amp;gt;'''Lepaskanlah kami daripada yang jahat. (Matius 6:13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:48:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Apa_Yang_Perlu_Didoakan</comments>		</item>
		<item>
			<title>&quot;Itu Bukan Urusanmu. Tetapi Engkau: Ikutlah Aku&quot;</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/%22Itu_Bukan_Urusanmu._Tetapi_Engkau:_Ikutlah_Aku%22</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | What is That to You? You Follow Me!}}''Dibebaskan dari Membanding-bandingkan dengan Kalimat yang Blak-blakan''&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yohanes 21:18-22''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setelah kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus bertanya kepada Petrus tiga kali apakah ia mengasihi-Nya. Ia menjawab ''ya'' tiga kali. Kemudian Yesus memberi tahu Petrus bagaimana ia akan mati—nampaknya dengan penyaliban. Petrus ingin tahu bagaimana dengan Yohanes. Jadi ia bertanya kepada Yesus, &amp;quot;apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Yesus mengacuhkan pertanyaan tersebut dan berkata, &amp;quot;itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Ini percakapannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:''&amp;quot;Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.&amp;quot; Dan hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus: &amp;quot;Ikutlah Aku.&amp;quot; Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: &amp;quot;Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?&amp;quot; Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: &amp;quot;Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?&amp;quot; Jawab Yesus: &amp;quot;Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot;'' (Yohanes 21:18-22)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kalimat Yesus yang blak-blakan—&amp;quot;Bukan urusanmu. Ikutlah Aku&amp;quot;—manis di telinga saya. Kalimat tersebut membebaskan dari belenggu membanding-bandingkan yang menyedihkan dan fatal. Kadang-kadang ketika saya melihat iklan-iklan di ''Christianity Today'' (semuanya puluhan ribu), saya putus asa. Tidak sebanyak dua puluh lima tahun lalu. Tapi tetap saja saya merasa gunung es tawaran-tawaran pelayanan ini menekan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buku demi buku, konferensi demi konferensi, DVD demi DVD—memberi tahu bagaimana sukses dalam pelayanan. Dan semuanya dengan diam-diam menyampaikan pesan bahwa saya tidak mencapainya. Ibadah bisa lebih baik. Khotbah bisa lebih baik. Penginjilan bisa lebih baik. Penggembalaan bisa lebih baik. Pelayanan pemuda bisa lebih baik. Misi bisa lebih baik. Dan ini yang bisa berhasil. Beli ini. Kemarilah. Ke sanalah. Lakukanlah dengan cara ini. Dan menambahi buku-buku dan konferensi yang membebani ini adalah ''milikku''! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi saya disegarkan oleh kalimat Yesus yang blak-blakan kepada saya (dan Anda): &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; Petrus baru mendengar kalimat yang sangat keras. Engkau akan mati—secara menyakitkan. Pikiran pertamanya yaitu perbandingan. Bagaimana dengan Yohanes? Jika aku harus menderita, akankah dia harus menderita? Jika pelayananku berakhir demikian, akankah pelayanannya berakhir seperti itu? Jika aku tidak mendapat hidup pelayanan yang berbuah dan lama, akankah ia mendapatkannya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitulah kita orang-orang berdosa. Membandingkan. Membandingkan. Membandingkan. Kita ingin tahu bagaimana posisi kita dalam perbandingan dengan orang lain. Ada perasaan hebat jika kita sekedar dapat menemukan seseorang yang kurang efektif daripada kita. Aduh. Sampai hari ini, saya mengingat catatan kecil yang ditempelkan oleh Asisten Residen saya di Elliot Hall pada tahun senior saya di Wheaton: &amp;quot;Mengasihi adalah berhenti membandingkan.&amp;quot; Itu bukan urusanmu, Piper. Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Apa urusanmu kalau David Wells punya pengertian yang komprehensif akan efek posmodernisme yang merambah? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
*Apa urusanmu kalau Voddie Baucham mengabarkan Injil dengan begitu berkuasa ''tanpa catatan''? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
*Apa urusanmu kalau Tim Keller melihat koneksi Injil dengan kehidupan profesional begitu jelas? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
*Apa urusanmu kalau Mark Driscoll bisa memanfaatkan bahasa dan kebodohan budaya pop dengan begitu ahli? Ikutlah Aku. &lt;br /&gt;
*Apa urusanmu kalau Don Carson membaca lima ratus buku setahun dan menggabungkan pencerahan penggembalaan dengan kedalaman dan keluasan seorang sarjana? Ikutlah aku.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata itu mendarat pada saya dengan sukacita yang besar. Yesus tidak akan menghakimi saya menurut superioritas atau inferioritas saya terhadap siapapun. Tidak ada pengkhotbah. Tidak ada gereja. Tidak ada pelayanan. Ini semua bukan standar. Yesus punya pekerjaan untuk ''saya'' kerjakan (dan yang lain untuk Anda). Ini bukan apa yang diberikan-Nya kepada orang lain untuk dikerjakan. Ada kasih karunia untuk melakukannya. Akankah saya percaya kepada-Nya untuk kasih karunia itu dan mengerjakan apa yang Ia telah berikan kepada saya untuk kerjakan? Itulah pertanyaannya. O betapa suatu kebebasan yang datang ketika Yesus blak-blakan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harap Anda menemukan penguatan dan kebebasan hari ini ketika Anda mendengar Yesus berkata kepada semua perbandinganmu yang tak henti-henti: &amp;quot;Itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar berjalan dalam kebebasan bersama Anda, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:48:07 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:%22Itu_Bukan_Urusanmu._Tetapi_Engkau:_Ikutlah_Aku%22</comments>		</item>
		<item>
			<title>Dibasuh Oleh Anugerah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Dibasuh_Oleh_Anugerah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Washed by Grace}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebutuhan akan hidup kudus berdasarkan Alkitab tidak meniadakan anugerah. Agaknya, kebutuhan ini tepatnya didasari pada anugerah pengampunan dan mendemonstrasikan kuasa anugerah. Dalam 1 Korintus 15:10, Paulus berkata, “Tetapi karena kasih karunia Allah, aku adalah sebagaimana aku ada, dan kasih karunia yang dianugerahkanNya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua, tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” Kasih karunia atau anugerah bukanlah hanya pengampunan yang diberikan atas ketidakbaikan kita; juga bukan merupakan kuasa yang membuahkan kebaikan kita. Jika Allah bersabda bahwa penting bagi anugerah untuk melakukan itu, maka bukanlah meniadakan rahmat ketika kita setuju dengan Nya. Agak bertentangan, sebenarnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perintah hidup suci yang berasal dari Alkitab bukanlah merupakan pembenaran yang bertentangan oleh keyakinan saja. Semua dosa yang dimiliki oleh umat Allah, dahulu kini, dan kelak diampuni oleh karena kematian Yesus. Pembenaran yang didasari oleh kematian Yesus bagi kita ini merupakan dasar dari penyucian. Bukan sebaliknya. Satu-satunya dosa yang dapat kita perjuangkan dengan penuh keberhasilan adalah dosa yang telah diampuni. Tanpa pembenaran yang sekali namun untuk semua melalui Yesus, satu-satunya hal yang dibuahkan oleh perjuangan kita adalah kebenaran pribadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karya Allah di dalam pembenaran tidak membuat karya Allah dalam pilihan penyucian (?). Alkitab tidak berkata bahwa pengampunan membuahkan pilihan kesucian. Agaknya, pengampunanlah yang memungkinkan kesucian. Allah yang membenarkan juga menyucikan. Keyakinan yang membenarkan juga menyucikan. Keyakinan memuaskan hati manusia di hadirat Allah dan membebaskannya dari kepuasan palsu yang berasal dari dosa. Inilah sebabnya pembenaran dan proses penyucian selalu berjalan bersamaan. Keduanya datang dari keyakinan yang sama. Anggapan datang pada akhir kehidupan ketika kita mati atau ketika Yesus kembali tetapi pencarian hidup suci dimulai dengan benih keyakinan yang pertama. Itulah hakekat dari menyelamatkan keyakinan. Keyakinan menemukan kepuasan di hadirat Yesus dan dijauhkan dari kepuasan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam 1 Tesalonika 5:23-24, Paulus berkata, “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia. Ia juga akan menggenapinya” Ingatlah 3 hal ini: 10 perintah, Doa, dan Janji.&amp;lt;br&amp;gt; 10 perintah. Paulus baru saja usai memberikan serentetan perintah dalam ayat 14-22. Perintah tersebut berakhir dengan ayat 22: “Menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan.” Jadi kita tahu bahwa Allah menggunakan 10 perintah dan upah sebagai cara Ia menyucikan kita. Ia tidak berfirman, “ Akulah yang menyucikan engkau, sehingga Aku tidak memberitahukan apapun untuk engkau lakukan.” Cara Ia menyucikan tidak hanya di luar kesadaran. Ia membentuk pikiran dan tujuan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
DOA. Dalam ayat 23, Paulus beralih dari tindakan mendesak dan memerintahkan kita untuk menjadi suci kepada tindakan meminta Allah menjadikan kita suci: ““Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita” Jadi Allah tidak hanya menggunakan perintah dan upah sebagai cara Ia membuat kita suci, Ia juga menggunakan doa umat-Nya. Sebagai cara Ia membuat engkau suci, Ia tidak hanya menangani pikiran dan tujuan kita, tetapi Ia juga menangani pikiran dan tujuan orang lain agar mereka mendoakan anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
JANJI. Setelah memerintahkan kita untuk menjalani hidup suci seperti yang tertera pada ayat 14-22 dan berdoa agar Allah menyucikan kita seperti yang tertera pada ayat 23, Paulus membuahkan keputusan seperti yang tertera pada ayat 24: “ Ia yang memanggil kamu adalah setia. Ia juga akan menggenapinya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janji merupakan perubahan pemikiran manusia yang mengatakan: “Baiklah, Ia memerintahkan kita untuk menjauhkan diri dari yang jahat jadi semestinya terserah kita untuk menjadi suci,” atau “ Baiklah, ia berdoa agar Allah menyucikan saya, jadi tergantung pada doa Paulus yang akan dijawab atau tidak oleh Allah.” Semuanya itu pemikiran yang salah dan bukanlah yang dikatakan oleh bacaan tersebut. Pemikiran yang benar berlanjut pada ayat 24 dan mengatakan bahwa kesetiaan Allah dipadukan dengan panggilan-Nya membuktikan bahwa Ia akan melakukannya! “Ia yang memanggil kamu adalah setia. Ia juga akan menggenapinya.” Apa yang dimaksud dengan menggenapinya? Menggenapinya berarti apa yang Paulus perintahkan dan apa yang ia doakan adalah penyucian diri. Allah akan melakukannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah kita percaya Allah bukan hanya karena rahmat-Nya yang mengampuni dosa kita tetapi juga karena rahmat-Nya yang membuat kemajuan dalam mengalahkan dosa kita? Pertimbangkanlah pertanyaan ini sejenak karena kita akan melihat konsep ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila anda melihat ayat 23 dengan penuh kehati-hatian, mungkin anda memiliki pertanyaan yang sama dengan yang saya miliki: Ketika Paulus berdoa agar Allah menyucikan kita dan membuat kita tanpa kesalahan “pada saat kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus,” apakah yang ia maksudkan adalah bahwa Allah akan mengubah kita dalam sekejap mata di saat Yesus datang, atau apakah yang ia maksudkan adalah bahwa Ia akan berkarya di dalam kita sekarang sehingga kita akan menjadi suci di saat Yesus datang? Apakah ayat 23 dan 24 merupakan sebuah doa dan merupakan sebuah janji atas segala sesuatu yang akan segera Allah lakukan di saat Yesus datang? Atau apakah ayat-ayat tersebut merupakan sebuah doa dan merupakan sebuah janji atas apa yang akan Allah lakukan sekarang dalam kehidupan umat beriman untuk mempersiapkan umat beriman bagi hari itu dengan penuh kekudusan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ayat-ayat ini merupakan sebuah doa dan sebuah janji bahwa Allah akan melakukan apa yang perlu dilakukan sekarang. Saya menyatakan ini karena ,biasanya, penyucian merujuk pada proses menjadi suci sekarang dan karena persamaan yang terdapat pada 1 Tesalonika 3:12-13 menunjukkan bahwa inilah yang Paulus maksudkan: “Semoga Allah membuat engkau bertumbuh dan berkelimpahan dalam kasih seorang akan yang lainnya dan pada semuanya, sama seperti yang kami lakukan kepadamu, sehingga Ia membentuk hatimu tanpa kesalahan di dalam kekudusan (apa yang Paulus doakan pada 5:23) sebelum Allah Bapa kita saat kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus (frasa yang sama dengan yang terdapat pada 5:23) beserta seluruh para kudus-Nya.” Paulus berdoa agar Allah melakukan sesuatu untuk membuat kita segera bertumbuh dan berkelimpahan di dalam kasih. Dan tujuan dari karya yang berkelanjutan ini di dalam diri kita adalah bahwa di saat hari akhir tiba, kita terbentuk di hadapan Allah dalam kekudusan karena kasih adalah inti dari kekudusan manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
I Tesalonika 5:23-24 sungguh mengajarkan bahwa Allah adalah pribadi yang menyucikan masa sekarang. Ia melakukannya melalui 10 perintah dan upah yang menarik bagi pikiran dan tujuan kita. Ia melakukannya melalui doa. Tetapi, walaupun bagaimanapun Ia melakukannya, walau bagaimanapun lambatnya, dan walau walau bagaimanapun tidak sempurna yang kita rasakan, hal yang utama adalah bahwa Allah melakukannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi mengapa keyakinan akan Allah membuat Ia bertekad menyucikan kita? Kuncinya adalah hubungan antara bagian-bagian lain dari keselamatan dan karya Allah yang menyucikan. Anda dapat melihat hal ini dengan jelas pada 5:24. Paulus berkata, “ Ia yang memanggil kamu adalah setia. Ia juga akan menggenapinya” Seolah-olah Paulus berkata. “Ia memanggil engkau! Tidakkah engkau melihat? Ia memanggil engkau! Dan apabila Ia memanggil engkau, maka Ia akan menyucikan engau. Itulah yang dimaksud dengan kesetiaan-Nya. Tidakkah engkau menangkap maksudnya?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan anda menggaruk-garuk kepala dan berkata, “ Mengapa fakta bahwa Ia memanggil kita berarti bahawa Ia telah menyucikan kita?” Dan Paulus berkata, “Ia memanggil dan menyucikan engkau karena niat Allah dalam memanggil engkau adalah bahwa engkau dapat menjadi suci. Kekudusan merupakan niat yang tidak kelihatan dari diri Allah dalam panggilanmu. Apabila Ia hanya memanggil tetapi tidak menyucikan, maka Ia tidaklah setia. Itulah apa yang saya katakan kembali dalam 1 Tesalonika 4:7, “ Karena Allah memanggil kita bukan untuk ketidakbersihan, tetapi untuk kekudusan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap langkah keberhasilan dalam penyelamatan berakar pada kepastian dalam seluruh langkah yang telah ditempuh sebelumnya. Penyucian diri anda berakar pada kematian Kristus untuk orang-orang yang berdosa. Kematian Kristus berakar pada takdir. Dan takdir berakar pada pilihan. Sekali anda merasa diri anda berada dalam keselamatan yang dipersiapkan, dan penuh rahmat dari Allah, anda sendiri akan tahu bahwa anda dikasihi dengan kasih yang kuat kuasa, dan kekal yang telah memilih, mentakdirkan, menebus, memanggil, menyucikan, dan menyelamatkan. Dan anda bernyanyi, “Allah itu setia. Ia akan menggenapinya!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi tidak hanya itu, tujuan Allah di dalam pemilihan anda adalah kekudusan anda. Efesus 1:4: “(Allah) memilih kita di dalam diri-Nya sebelum dunia dijadikan, bahwa kita seharusnya kudus atau suci dan tanpa kesalahan di hadapan-Nya” (cf. 2 Tesalonika 2:13). Kekudusan anda adalah sepasti pilihan anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya itu, tujuan Allah di dalam pentakdiran diri anda adalah kekudusan anda. Roma 8:29a: “ Bagi siapa Ia telah tahu, Ia juga mentakdirkan untuk menyerupai gambaran Putra-Nya.” Menjadi lebih menyerupai Yesus berarti menjadi sama pastinya dengan maksud Allah dalam pentakdiran atau penentuan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya itu, maksud Allah dalam kematian Putra-Nya adalah kekudusan anda. Efesus 5:25b-26a: “Kristus mengasihi gereja dan menyerahkan kepadanya agar Ia dapat menguduskannya” (rsv). Anda menjadi kudus atau suci sama pastinya dengan maksud yang tidak kelihatan dari dalam diri Allah di dalam wafat Putra-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam memilih anda, dalam penentuan atau pentakdiran, dalam kematiannya bagi anda, dan dalam panggilan-Nya bagi anda, maksud-Nya adalah kekudusan anda. Dan kita dapat berkata pada Paulus dalam 1 Tesalonika 5:24 tidak hanya, “Ia yang memanggil kamu adalah setia, dan Ia juga akan menggenapinya,” tetapi juga, “Ia yang memilih anda adalah setia, dan yang juga melakukannya. Ia yang menentukan hidup anda setia, yang juga melakukannya. Ia yang mengutus Puta-Nya untuk wafat bagi anda adalah setia, yang juga melakukannya.” Untuk tujuan apakah puncaknya?” Untuk memuji kemuliaan rahmat-Nya” (Efesus 1:6)&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:48:04 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Dibasuh_Oleh_Anugerah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kesatuan, Tuhan, dan Anda</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kesatuan,_Tuhan,_dan_Anda</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Unity, God, and You}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku (Yoh. 17:20-23).'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Yesus telah berdoa bagi kesatuan gereja-Nya – dan syukurlah, Ia masih berdoa! Salah satu dari doa-doa dan kerinduan-Nya bagi gereja lokal manapun yaitu supaya ia menjadi satu. Tentu, kita semua setuju bahwa kita ingin menjadi satu. Tapi ''mengapa'' Yesus menginginkan kita menjadi satu? Apa ''motif'' Yesus dalam mencari kesatuan gereja lokal? Apakah hanya untuk kepentingan kita? Menurut Yohanes 17, Yesus berdoa bagi kesatuan kita karena kesatuan gereja lokal kita dirancang untuk merefleksikan kesatuan yang dinikmati Tuhan di antara pribadi-pribadi yang berbeda dalam Tritunggal. Ia mau kita, satu tubuh orang-orang percaya yang bermacam-macam, untuk menjadi satu, seperti Dia, Tri-unitas yang beragam, satu. Yesus adalah kepala gereja, dan Ia menghendaki kita untuk memancarkan dan menikmati semacam kesatuan yang menyampaikan hal-hal yang benar dan indah tentang kesatuan Allah yang tiga-dalam-satu. Inilah sebagian besar bagaimana Yesus ingin gereja-gereja lokal kita mewakili Tuhan - dan kita tidak dapat tidak mewakili Dia. Jika kita adalah bagian sebuah gereja, maka kita adalah bagian tubuh Kristus. Gereja kita entah menyampaikan hal-hal yang benar tentang kesatuan Allah, atau kita salah mewakili Tuhan sebagai terpecah-pecah dalam diri-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kita semua berbagian atas entah semangat kesatuan atau perpecahan. Perilaku, kata-kata, prioritas, sikap, respon emosional, bahkan pikiran dan motivasi kita, semuanya berbagian atas bagaimana gereja kita mewakili kesatuan Tuhan. Betapa seriusnya hal ini! Setiap kali saya bereaksi dalam kemarahan atau frustrasi yang berdosa, setiap kali saya berespon dengan sarkasme dalam kata-kata saya atau memendam kepahitan dalam hati saya, setiap kali saya menggosip, setiap kali saya termotivasi oleh keegoisan atau kesombongan, saya bukan hanya mempengaruhi kesaksian saya. Saya mempengaruhi kesatuan dan kesaksian gereja, yang secara langsung mempengaruhi kesaksian Tuhan sendiri. Sama halnya dengan pernikahan. Pernikahan merupakan lukisan relasi Kristus dan gereja-Nya (Ef. 5:22-29). Kasih saya bagi istri saya dirancang untuk mencerminkan kasih Kristus yang memberi kekuatan, memelihara, dan mengorbankan diri bagi gereja-Nya. Jadi apakah saya mau mengakuinya atau tidak, semua perilaku, pikiran, sikap, afeksi, kata-kata, motif, dan reaksi saya terhadap istri saya mengatakan sesuatu tentang relasi Kristus dengan gereja. Saya entah mengatakan sesuatu yang benar atau sesuatu yang salah. Dan setiap kali saya berdosa terhadap istri saya dalam salah satu dari hal-hal tersebut, saya telah menyampaikan sesuatu yang salah tentang bagaimana Kristus mengasihi dan memperlakukan pengantin-Nya yang berharga. Ketika kita disatukan sebagai suatu gereja lokal, kita menyampaikan hal-hal benar mengenai relasi antara Bapa, Anak, dan Roh. Ketika kita berpikir, merasakan, bertindak, dan bereaksi dengan cara-cara yang mendukung kesatuan, kita menyampaikan hal-hal yang benar mengenai kesatuan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Dan menurut Yesus, kesatuan gereja-gereja kita juga merupakan alat penginjilan terbaik yang kita miliki. Ia ingin kita &amp;quot;sempurna [atau dewasa] menjadi satu, ''agar dunia tahu'', bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.&amp;quot; Allah telah merancang kesatuan dalam gereja lokal untuk berfungsi seperti magnet yang menarik baik orang percaya maupun yang tidak percaya. Saat kita bersatu sebagai gereja lokal, relasi kita dengan satu sama lain mulai berbicara banyak kepada dunia yang menyaksikan. Kasih dan pengorbanan dan kerendahan hati dan kesabaran yang menjadi ciri relasi yang besatu mulai memberi tahu dunia bahwa Allah mengirim Yesus, dan bahwa Allah mengasihi kita, Mempelai-Nya. Sebaliknya, ketika kita mulai membiarkan perpecahan di antara kita, kita tidak lagi efektif dalam penginjilian karena kesaksian gereja secara bersama mengatakan kebohongan mengenai Allah. Kesatuan gereja lokal merupakan program penginjilan Allah. Jika kita ingin melihat Roh Kudus memakai gereja-gereja lokal kita menghasilkan petobat-petobat, kita harus bekerja keras dan bersama-sama untuk mendorong dan memelihara kesatuan dalam gereja kita. &amp;amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Yesus menunjukkan kita melalui contoh dalam Yohanes 17 bahwa kesatuan memerlukan doa. Kita tentu tidak dapat berharap menikmati kesatuan jika kita tidak berdoa untuk itu? Jika Yesus harus berdoa untuk itu, tentu kita harus melakukan hal yang sama. Sahabat, kapankah terakhir kali Anda berdoa untuk kesatuan gereja Anda? Saya menantang Anda untuk membuat permohonan tersebut setiap hari. Berdoalah agar gereja Anda bersatu, dan berdoalah agar Allah menyatakan kepada Anda bagaimana Anda dapat lebih baik mendorong kesatuan dalam gereja lokal Anda melalui bagaimana Anda berpikir, berbicara, merasa, dan beraksi. Kita semua dapat bertemu dalam area ini. Semua kita bergumul dengan perasaan pahit terhadap sesama kita kadang-kadang, atau reaksi dengan kata-kata tajam, atau terlalu kritikal, atau keluhan, atau kesulitan mengakui kita salah. Kita semua orang berdosa yang perlu kasih karunia, belas kasihan, dan pengampunan - baik dari Allah dan dari satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Akan tetapi kita tidak sendirian. Kita tidak hanya mewakili diri kita, atau opini dan keinginan kita. Yesus telah membeli kita dengan harga darah-Nya sendiri. Kita milik-Nya. Ia memiliki kita. Ia telah menciptakan kita bagi kemuliaan-Nya, dan Ia telah membeli kita dengan darah-Nya sehingga kita dapat mewakili-Nya dengan baik dalam dunia. Mari kita berketetapan bersama untuk memuliakan Allah dalam gereja lokal kita dengan berkata-kata, merasa, berpikir, dan bertindak dalam cara-cara yang mendorong kesatuan gereja; dan mari kita berdoa supaya ketika kita mengusahakan hal-hal ini, Allah berkenan menjadikan kesatuan kita alat yang efektif bagi pertobatan orang-orang yang belum percaya.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:47:59 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kesatuan,_Tuhan,_dan_Anda</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation}}&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:47:56 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar/Keselamatan yang Terbesar</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar/Keselamatan_yang_Terbesar</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation/This Great Salvation}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seminggu sebelum saya di jadwalkan untuk berbicara dalam sebuah retret pernikahan, Carolyn – istriku mengungkit sebuah kekurangan yang sangat kursus dalam relasi kami. Hal tersebut adalah keegoisan diriku. Aku semakin menyibukan diriku dengan pelajaranku sehingga aku gagal untuk meluangkan waktu bersama dengannya dalam suatu komunikasi yang lebih berarti. Tetapi saya masih saja merasa terbeban untuk menyelesaikan persiapan retret dan juga kotbah untuk kebaktian minggu, dan karenanya saya tidak memberikan suatu tanggapan dan perubahan atas keluh kesahnya saat itu. Pada saat itu, saya pikir saya memiliki suatu alasan yang tepat atas keputusan (tindakan) saya selama ini.{{LeftInsert|'''Coba baca dan pikrkan Ibrani 10:19-24.''' Apa yang dapat memberikan kita keyakinan penuh bagi kita ketika kita berhadapan dengan akan kehadiran Allah yang kudus?}}Tetapi, di tengah persiapanku, aku sedang mengembangkan suatu pokok pemikiran bahwa ke egoisan umumnya merupakan permasalahan utama dari dalam banyak pernikahan. Aku merasa bahwa Roh Kudus lagi menanpar diriku dengan sangat kuat seperti nubuatan diberikan Nathan untuk Raja Daud: “Kamulah orang tersebut!” Perasaan bersalahku menjadi semakin nyata. Lalu saya memanggil Carolyn dan dengan segera meminta maaf dari kepadanya. Seperti yang saya perkirakan, Ia langsung memaafkanku tampa ada perasaan ragu. (Mungkin pernikahaan-nya denganku selama ini telah memberikannya suatu pengalaman dimana ia lebih dapat bisa memaafkan.) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya kembali belajar, saya mengalami suatu penuduhan diri yang sangat nyata dan menyakitkanku. Suatu pemikiran terus menerus terlintas dan mengganggu belajarku: Apakah kualifikasi kamu untuk mengajar tentang kehidupan pernikahan yang intim bilamana kamu sendiri tidak melakukan apapun yang akan kamu ajarkan? Justru kamu menyangkalinya ketika kamu mempersiapkan bahan tersebut!”{{LeftInsert|“Orang yang bijaksanan mengatakan bahwa kehidupan Kristen sama seperti meja yang berkaki tiga. Kaki tersebut adalah doktrin, pengalaman dan latihan. Di beberapa tahun yang lampau banyak orang Kristen tidak melakukan ketiga hal tersebut secara berkesinambungan.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. ix.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}Saya tidak memiliki masalah untuk mengenali sumber dari perasaan bersalah yang bisa menjadi ancaman yang menghambatku untuk bertindak dengan benar. Tetapi, tantangan yang aku hadapi adalah cara untuk merubah hal tersebut? Aku mengalami permasalahan yang lain seminggu atau dua minggu sebelumnya. Beberapa perabotan rumah tanggaku rusak pada saat yang bersamaan. ( Dapatkah anda melihat bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa barang-barang tersebut tidak rusak pada waktu yang berbeda agar kita bisa mengurusnya dalam suatu urutan yang dapat kita terima?) Mesin penyedot debuku rusak. Microwave juga rusak ---ini merupakan permasalahan yang paling utama di dalam rumahku. Saya merupakan jenis orang yang tidak sabaran untuk hanya menunggu 15 detik ketika memanaskan makanan ku dalam microwave. Kalau saya disuruh menunggu 15 minutes dengan menggunakan Oven, saya rasa saya tidak akan mampu! Dan lagi, kami menyadari bahwa pemanas kami rusak ketika kami menerima bil listrik yang jumlahnya dua kali lipat dari jumlah biasanya. {{RightInsert|'''Untuk pelajaran yang lebih lanjut:''' Kalaupun ada orang yang memliki hak untuk bersungut akan kesusahan dan masalah dalam hidup, orang tersebut adalah Ayub. Coba bandingkan sifat dan tindakannya sebelum (Ayub 19:1-21) dan sesudah (Ayub 42:1-6) wahyu akan kedaulatan Tuhan.}} Sebelum akhir minggu, aku berhadapan dengan masalah terakhir yang mengejutkanku. Saat itu Carolyn bangun lebih awal untuk berlari pagi. Ketika ia melangkah keluar dari rumah ia dengan segera kembali ke dalam dan bertanya dengan tenang, “Kemanakah mobil kita?” Aku kemudian memandang dia dan aku tidak jelas akan apa yang harus aku jawab. Kemanakah mobil kita? Aku berfikir pada diriku. Tentunya ada di tempat parkir, Disana biasanya kita taruh mobil kita. Tetapi mobil tersebut tidak ada di tempat parkir. Kemudian saya menunggu selama 45 menit sebelum saya putuskan untuk menghubungi polisi, aku sungguh mengharapkan temanku unutk menelponku dan menyampaikan bahwa ini semua adalah senda gurau dari mereka. Tetapi telepon tidak berbunyi. Kemudian pada hari yang sama polisi menemukan mobilku ditinggalkan sejauh beberapa mil dari rumahku, segalanya masih utuh kecuali rodanya. Di curi dari tempat parkir rumahku! {{LeftInsert|Untuk beberapa pertanyaan di bawah, tandailah “X” pada hal yang dengan tepat menggambarkan situasimu saat ini. &lt;br /&gt;
*Apakah kamu merasa aman--bukan hanya sekedar menyadarinya, tetapi merasakannya secara konsistan--didalam cinta Tuhan kepadamu? Apakah kamu merasa takjud akan kasih karunia Tuhan?&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;-Tidak------Kurang Lebih------Iya-&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
*Apakah kamu pada umumnya mampu mengatasi rasa ragu dan depresi ketika anada menghadapi masa cobaan?&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;-Tidak------Kurang Lebih------Iya-&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;}}Bagaimanakah caranya agar kita dapat menanggapi perasaan bersalah (penuduhan), dan pada saat yang bersamaan kita mengalami hal yang susah dan membingungkan (kesengsaraan)? Mungkin kamu mengalami hal yang sama, bila tidak, mungkin hal yang jauh lebih serius. Seringkali kita lebih menyadari perasaan bersalah lebih dari kasih karunia dari Tuhan; kita bingung, mungkin juga kita merasakan kepahitan pada masa sengsara ini lebih dari kepastian kita akan kekuasaan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba kita luangkan waktu kita untuk membaca kitap roma 8: 28-39, sebelum kamu lanjutkan lebih jauh bab ini. Hal yang akan kita baca merupakan hal yang luar biasa, dimana penanggapan akan kebenaran yang kuat dalam ke dua belas ayat tersebut akan memampukan anda untuk mebanggapi dengan kata “Iya!” yang sangat pasti untuk setiap pertanyaan yang ada pada kotak di sebelah kiri. Tidak ada tanggapan yang lebih efektif lagi atas penuduhan dan kesengsaraan selain dari bagian ayat alkitab tersebut.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apakah Anda tahu?&amp;lt;br&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua ayat dari Kitap Roma tersebut merupakan salah satu bagian dari alkitab yang “paling banyak dikutip”:&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (ayat 28) Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah dipihak kita, siapakah yang akan melawan kita? (ayat 31)&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Saya akan berikan sesuatu untuk pertimbanganmu. Saya merasa bahwa kita terlalu banyak menggunakan ayat ini untuk menguatkan satu sama lain tampa mengetahui latar belakang yang ada pada ayat 29 dan 30, olah karena itu kita tidak bisa secara utuh untuk menghargai janji-janji yang ada dalam ayat-ayat 28,31, dan bagian berikutnya. Mari kita lihat dua hal yang utama tersebut:&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula unuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung diantara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Ayat 29-30)&amp;lt;/blockquote&amp;gt;{{LeftInsert|&amp;quot;Mungkin kamu pernah mendengar sebuah pepatah,‘Penyangkalan merupakan sumber dari tahkyul.’Sangat disayangkan, banyak teologi yang dipegang oleh orang banyak merupakan kristalisasi dari penyangkalan akan usaha untuk men-sistemasi-kan wahyu-wahyu dari Allah. Mereka tersesat di dalam kegelapan teologi yang umumnya dimiliki oleh dukun-dukun (I’m find his part weird, needed to be revised) Oleh karena itu kita harus berkata lebih dari asumsi bahwa setiap orang memiliki theology ketika mereka bertanya: “Mengapa teologi? Kita harus mengariskan perbedaan antara teologi yang benar dan teologi yang salah. Karena teologi sama seperti sebuah tulang punggung. Teologi yang benar memampukan anda berjalan dengan lurus dan sehat. Teologi yang salah akan membuat anda bungkuk dan tak berdaya.&amp;lt;ref&amp;gt;James Cantelon, ''Theology for Non-Theologians'' (New York: Macmillan Publishing, 1988), p. 6.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -James Cantelon}} &lt;br /&gt;
Jika anda muncul di depan rumahku ketika mobilku dicuri dan microwave-ku rusak, mungkin kamu akan dengan iklas memberikan ku kaunselling bahwa segalanya turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan.” Aku berharap aku dapat memberikan suatu tanggapan atas kebenaran yang alkitabiah ini. Juga, jika anda berusaha untuk menghiburku dari perasaan bersalah yang masih melekat padaku setelah saya meminta maaf ke Carolyn, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Siapakah yang akan mendakwa orang yang dipilih Allah? Hanya Tuhanlah yang membenarkan.” Kembali lagi, aku tidak bisa membantah ketepatan akan kebenaran ini. Tetapi, bila hal ini tidak dimengerti sesuai dengan latar belakangnya, hal tersebut hanyalah dapat memberikan perubahan dan ketenangan yang sesaat. Keefektifannya akan terbatas sebelum kita memahami doktrin yang terselubung di ayat 29 dan 30. &lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Untuk bacaan tambahan:''' Bagaimanakaj orang-orang yang hidup dengan mengalami peengalaman yang tertulis di 2 Korintus 11:23-33 menulis Roma 15:13?&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Ketika kita membaca Roma 8:28-39, sangat jelas bahwa Paulus yakin akan apa yang ia tulis. Dia tahu bahwa segalanya dapat mendatangkan kebaikan bagi hidupnya, walaupun pencobaan dan kesengsaraan yang mugkin tidak pernah kita hadapi. ( Paulus mengartikan kata “baik” bukan dalam penekanan akan kesenangan pribadi dan kekayaan, tetapi menjadi semakin serupa dengan gambaran dari Kristus.) Dia tahu bahwa Tuhan membenarkan dia walaupun ia mengalami penuduhan. Dia tahu bahwa tidak ada --- kesengsaraan, penganiayaan, penuduhan, gangguan iblis, ataupun kematian sekalipun----mampu memisahkan dia dari kasih Kristus (v.35). Apakah yang memberikan ia rasa percaya diri dan kepastian yang demikian? Ini adalah pengertiannya akan 5 doctrin yang utama: Pemahaman akan situasi yang mendatang, predestinasi, panggilan, pembenaran dan penyempurnaan. &lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;Apakah diantara hal-hal dibawah ini yang mungkin dapat mengoyahkan rasa percaya diri atas pemeliharaan dan karakter dari Tuhan? &lt;br /&gt;
*Masalah keuangan yang utama &lt;br /&gt;
*Diaknosa penyakit kanker &lt;br /&gt;
*Kematian yang mendadak dari teman dekan ataupun keluarga &lt;br /&gt;
*Pengangguran yang berkepanjangan &lt;br /&gt;
*Pemikiran akan neraka &lt;br /&gt;
*Hal-hal yang lain_______&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
Perasaan yakin dan iman pada tingkatan yang sama akan memenuhi kita ketika kita mempelajari isi dari ayat 29 dan 30. Kamu akan memberikan tanggapan dengan yakin bahwa, “Hanya Tuhan yang membenarkan,” ketika penuduhan terjadi. Anda akan mampu berkata dengan pasti, “Segalanya berkerja unutk mendatangkan kebaikan dalam hidupku”, walaupun kamu mengalami suatu peristiwa yang kelihatannya membingungkan, mengejutkan dan mungkin sangat bertentangan dengan apa yang anda inginkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menggariskan rasa percaya dirinya atas 5 doktrin yang di cantumkan dalam Roma 8: 29-30: Pemahaman akan situasi masa mendatang, predestinasi (atau pemilihan), panggilan, pembenaran, dan penyempurnaan. Dalam kata-kata ini kita memiliki suatu gambaran akan kedaulatan Allah, rencana penebusan-Nya.{{LeftInsert|“Keyakinan akan doktrin Kristen untuk kehidupan Kristen adalah salah satu penyebab terbesar dari pertumbuhan hidup Kristen.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 2.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Bila anda membaca dengan hati-hati, kamu akan menyadari kalau Paulus menggunakan tenses lampau (past tense) ketika mengurutkan setiap doktrin tersebut (sebagai contoh. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka juga dipanggil-Nya --- “And those he predestined, he also called” --- -ed yang ada pada called merupakan tensis yang digunakan untuk mengungkapkan masa lampau). Tidak ada hal yang perlu diragukan ataupun tidak jelas dalam pernyataan tersebut. Setiap bagian dari rencana penembusan dari Allah dinyatakan seolah-olah itu sudah tergenapi di dalam hidup kita. Ini semua merupakan pandangan dari mata yang kekal, seperti yang dinyatakan oleh pelajar Alkitab yang bernama F.F. Bruce: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Pemahaman akan situasi yang akan terjadi dan predestinasi itu merupakan kebijaksanaan yang kekal dari Allah; tetapi penyempurnaan, Dimana ini ada hubungannya dengan pengalaman, akan terjadi dimasa yang akan datang. Tetapi mengapa Tuhan memakai tenses lampau yang sama untuk hal ini, seperti yang Dia lakukan atas tindakan dari Tuhan yang lainnya? Mungkin dia meniru pengunaan kata dari orang ibrani atas “Nubuatan lampau” (prhophetic past), dimana ini merupakan nubuatan atas suatu kejadian yang dipercaya dengan pasti seolah-olah nubuatan ini telah terjadi. Dalam hal sejarah, umat Tuhan belum disempurnakan. Tetapi berhubungan dengan ini merupakan Keputusan Tuhan, maka penyempurnaan telah ditetapkan dari kekekalan. &amp;lt;ref&amp;gt;F.F. Bruce, ''Tyndale New Testament Commentaries—Romans'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1983), pp. 177–78.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Coba baca dan pikirkan Ibrani 11:1.''' Apakah kamu menyimpulkan pembenaran anda (justification berdasarkan emosi pribadi atau berdasarkan janji Tuhan?&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
Aku memiliki pengalaman, beberapa tahun yang lalu, yang mungkin dapat membantu untuk memperjelas hal ini. Sebagai pribumi dari daerah Washington, D.C. dan juga penggemar olah raga yang sangat antusias, saya memiliki sedikit ketertarikan akan pertandingan Superbowl pada tahun 1988 antara Washington Redskins dan the Denver Broncos. Saya kurang yakin akan kemampuan Redskins untuk bertanding di dalam suatu tekanan —terutama setelah melihat John Elway, “quarterback” – nya Broncos, melempar 80-yard “touchdown” pada permainan awal. Saya meluangkan seperempat waktu pertama dengan perasaan yang tertekan, tubuhku terasa menciut seolah-olah saya sangat gugup, tampa diduga ketegangan ini merubah prestasi Redskins. Pada waktu seperempat yang ke dua, Redskins merubah suasana pertandingan ketika Doug Williams melempar empat touchdown ‘pass’ yang tidak terduga. Keraguanku mulai hilang secara bertahap dan tim tersebut menang dengan multak.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert|“Kedaulatannya tidak akan pernah dengan berhasil ditantang oleh orang lain. Dia berkuasa. Ini sangat menakutkan tetapi juga dapat memberikan suatu perasaan yang tentram. Karena kita dijaga oleh-Nya. &amp;lt;ref&amp;gt;James Cantelon, ''Theology for Non-Theologians,'' p. 101.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - James Cantelon}}Yang menarik adalah ketika saya membandingkan melihat pertandingan tersebut secara langsung dan melihat melalui rekaman video. Pada saat saya melihatnya untuk kedua kali, pengalamannya sangat berbeda. Saya dapat menikmati makananku. Saya tahu hasil dari pertandingan sebelum saya mulai nonton video tersebut. Seramai apapun sorak sorai penggemar Brancos atas “touchdown” kilatnya Elway, saya telah tahu dalam beberapa minutes, kemenangan akan berada di tangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah inti dari hal ini? Tuhan sangat yakin akan masa depan kita sama seperti kita sangat yakin akan masa lalu kita. Dia ingin memberikan keyakinan dan rasa aman tersebut kepada kita pada masa ini. Dia mau kita mengetahui bahwa kita telah dibenarkan (justified), untuk mengetahui bahwa segala sesuatu berkerja untuk kebaikan, dan untuk mengetahui bahwa tidak ada yang dapat memisahkan kita dari cinta juru selamat kita.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda mengetahui hal ini? Apakah anda memiliki kepastian yang dimiliki oleh Paulus? Atau anda masih memiliki rasa ragu atas rencana ataupun profidensi Allah?&amp;lt;br&amp;gt;Tuhan bermaksud agar kita merangkul dan menikmati rencana keselamatan-nya sebagai suatu fakta dalam hidup kita. Memang benar kalau penyempurnaan (glorification) kita belum terjadi — dan ini tidak akan terjadi sebelum Yesus kembali dan kita menerima tubuh yang baru. Tetapi kita harus hidup dalam dalam kebaikan rencana ini, sesuai dengan apa yang telah dipaparkan bagi kita, bermula dari kekekalan dimasa lampau dan menuju ke kekekalan dimasa yang akan datang. &lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Coba baca dan pikirkan Yesaya 6:1-7.''' Apakah yang menyebabkan Yesaya berteriak, “Celakalah aku!” apakah anda pernah melihat hal yang sama dalam dirimu?&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Pengaruhnya pada kita pada masa sekarang adalah kita dapat hidup dengan pasti dan aman bahwa Ia akan memulai pekerjaan yang baik dalam diri kita dan akan menyempurnakannya pada saat Yesus kristus kembali. Ketika kamu mengerti akan Pemahaman akan situasi masa mendatang ( foreknowledge) (dalam tahapan yang kecil sekalipun), ketika kamu mengerti akan pemilihan (election), ketika kamu menghargai panggilan (call), Ketika anda diuntungkan oleh pembenaran (justification), ketika anda menunggu penyempurnaan (glorification), anda akan sadar Tuhan secara nyata, juga jelas bahwa ini semua untuk anda. Tidak ada lagi yang dapat memisahkan anda dengan cinta dari Yesus Kristus! Walau pun microwave anda besok meledak dengan sendirinya ataupun mobil anda hilang anda akan tahu bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selama hidup kita dan sepanjang kekekalan kita akan terus kagum akan segala sudut dari karakter Tuhan dan rencana-Nya. Kita tidak sepantasnya memiliki pengetahuan/pemahaman kedepan ini (foreknowledge), predestinasi, panggilan, pembenaran (justification), dan penyempurnaan (glorification)! Walaupun segalanya akan lebih mudah dimengerti ketika kita di muliakan bersama dengan dia, kita sekarang tidak akan luput dari perasaan kagum kita akan keselamatan yang terbesar yang Ia berikan.&amp;lt;br&amp;gt;Mari kita tidak menunggu hingga akhir jaman. Dengan menelusuri keselamatan terbesar yang telah kita miliki sekarang kita akan melihat perbedaan yang besar dalam cara kita memberikan tanggapan pada penuduhan dan cobaan ketika kita melayani rencana Tuhan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kekuatan dari Teologi  ===&lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Pelajaran tambahan:''' Kristen sejati akan selalu berposisi kritis dan menolak apa yang ada pada masyarakat umumnya. Kuatkan dirimu dengan membaca Yohanes 15:20-21 dan 2 Timoti 3:12.&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Perubahan yang penting berlangsung di Roma 8:31. Paulus bertanya: “Sebab itu apakah yang akan kita katakana tentang semuanya itu??” Seperti biasanya, Paulus selalu saja memiliki tanggapan atas ke-sembilan ayat berikutnya. Ketika kita jelas akan pengetahuan mendatang (foreknowledge), predestinasi, panggilan, pembenaran, dan penyempurnaan/ pemuliaan, kita akan mampu menanggapan keselamatan yang terbesar ini dengan keyakinan yang kuat seperti yang di contohkan oleh Paulus. Coba lihat hal yang berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Jika Allah dipihak kita (ayat 31).''' Apakah ini benar? Kalau kita memulai bagian ini tampa keyakinan akan posisi Allah, janganlah lagi ragu. Dia adalah untuk anda. Ia telah dengan jelas menunjukkan hal itu, seperti yang telah kita lihat di beberapa paragraph nanti. Tolak ukur untuk memahami apakah Tuhan dipihak kita bukan berdasarkan subjektifitas. Posisi emosi kita tidaklah penting. Objektifnya adalah bukti kekal dimana Tuhan adalah dipihak kita.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Siapakah yang akan melawan kita (ayat 31)?''' Janji ini dapat dengan mudah disalah artikan. Paulus bukan berkata bahwa tidak ada orang yang akan menentang kita. Intinya, dia dan Yesus menjanjikan hal yang sebaliknya! Tetapi tidak ada orang yang menentang kita akan berhasil karena Allah dipihak kita. Tidak ada musuh yang mampu dengan berhasil menentang kedaulatan-Nya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert|“Tuhan kadang-kadang mengijinkan orang lain untuk memperlakukan kita dengan tidak adil. Kadang-kadang Ia membiarkan tindakan mereka mempengaruhi karir kita ataupun masa depan kita yang kita lihat dari sudut pandang kita. Tetapi Tuhan tidak akan membiarkan manusia untuk membuat suatu keputusan yang berhubungan dengan diri kita dimana keputusan tersebut menantang rencana-Nya akan diri kita. Tuhan berpihak pada kita, kita adalah anak-anak-Nya, dia puas akan diri kita (Zep 3:17)… Kita bisa menaruh hal ini sebagai suatu fondasi kebenaran: Tuhan tidak akan mengijinkan segala tindakan yang menentang anda dimana tindakan tersebut merupakan tindakan yang tidak sejalan dengan keinginan-Nya atas diri anda. Dan keinginan-Nya selalu saja ditujukan untuk kebaikan kita. &amp;lt;ref&amp;gt;Jerry Bridges, ''Trusting God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1988), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jerry Bridges}}Pertimbangkan dampak dari pernyataan ini. Mungkin anda dalam situasi kerja dimana pimpinan anda sepertinya memiliki suatu perasaan pertentangan terhadap anda. Mungkin dia mempromosi orang lain walaupun kamu merupakan orang yang paling memiliki kualifikasi. Ini bisa menjadi suatu pencobaan yang sangat sukar. Jadi apakah yang akan anda lakukan dalam situasi ini? Mungkin anda akan mulai mencari pekerjaan yang baru, atau pulang ke rumah dan meringankan stress anda dengan melihat ikan-ikan tropical anda. Tetapi, ada satu jalan keluar yang lebih baik lagi: selalu ingatkan diri anda bahwa Tuhan yang berdaulat ada dalam pihak kita. Apapun yang dilakukan oleh atasan anda, Tuhan yang Maha Kuasa ada di pihak kita dan rencana-Nya dalam hidup anda tidak akan diganggu gugat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu mengerti hal ini, aku berani menjamin kalau kamu akan memasuki ruang kerja anda pada hari berikutnya dengan suatu sikap yang berbeda. Daripada membenci atasan anda, anda akan lebih termotivasi untuk melayaninya! Perubahan yang mencolok ini hanya bisa terjadi bila anda menangkap makna dari pemahaman akan masa yang mendatang (foreknowledge), predestinasi, panggilan, pembenaran, dan penyempurnaan/ pemuliaan.Pemahaman yang benar akan doktrin kasih karunia akan selamanya merubah pola pandang kita dan tanggapan kita terhadap perubahan situasi. Daripada menuntut balas kepada musuh mu, kamu akan mampu untuk mencintai, mendoakan dan melanyani mereka.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setan juga tidak akan berhasil menentang kita. Kekuatan dan kekuasaannya kadang kala terlalu dilebih-lebihkan. Kita juga harus berhati-hati kepadanya dan selalu berjaga-jaga atas sarana-sarana yang ia gunakan, tetapi ingat dia juga merupakan makhluk ciptaan. Dia tidak dapat melakukan apapun tampa seizin Allah. Dan dengarkanlah —Allah bukannya tidak memperdulikan situasi anda. Dia telah memilih anda. Dia memanggil anda dengan nama (ini menunjukkan kedekatan-Nya pada kita). Dia selalu dipihak kita.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Pelajaran Tambahan:''' Bagaimanakah cara kita menanggapi perasaan dan pikiran (termasuk penuduhan) yang bertolak belakang dengan Firman Allah? (lihatlah 2 Korintus 10:4-5)&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Ia, yang tidak menyayangi anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita (v.32). Jika anda memerlukan bukti bahwa Tuhan memihak anda, anda hanya perlu melihat salib. Saya tidak bisa membayangkan kesakitan apa Allah Bapa alami ketika Yesus berteriak, “ Tuhanku, Tuhanku, kenapa engkau meninggalkan diriku?” Dia mengingkari anak-Nya agar kita bisa mengetahui-Nya sebagai Bapa dan Ia tidak akan meninggalkan kita. Apakah bukti lain yang kita perlukan? Tubuh yang hancur, yang tergantung disalib telah memberikan suatu proklamasi: “ Saya ini untuk kamu!”&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert|Dengan memakai terjemahan alkitab NIV, isilah bagian yang kosong pada wahyu 12:10: “Sekarang telah tiba ____________ dan _____________ dan ____________ Allah kita, dan kekuasaan Dia yang ______________. Karena telah _____________ _____________saudara-saudara kita, yang ____________ mereka _______ dan _______dihadapan Allah kita.”}}'''Siapakah yang akan mengugat orang-orang pilihan Allah (v.33).''' Anda mungkin merupakan salah satu dari orang yang pernah mengalami perasaan yang tersiksa karena penuduhan yang ada dalam diri anda. Dosa yang lama dan kegagalan selalu saja datang ke dalam pikiran anda. Walaupun telah banyak anda telah mengakui dosa anda , Ingatan akan apa yang telah anda lakukan sebelumnya akan terus kembali. Tetapi ayat 33 merupakan suatu pernyataan yang mengikat: “Siapakah yang akan mengugat orang-orang pilihan Allah? Tuhanlah yang telah membenarkan kita.” Hakim yang suci dan adillah yang memutuskan segala keputusan yang tidak dapat Ditarik kembali. Ia menyatakan hal tersebut karena korban pengganti yaitu anak-Nya, anda sekarang dibenarkan oleh-Nya. Setiap kali anda mendengarkan menuduhan, yakinlah dan katakanlah bahwa anda telah dibenarkan oleh pekerjaan yang telah terselesaikan oleh Kristus. &lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Coba baca dan pikirkan 1 Korintus 15:3.''' Apakah unsur terpenting dari tidakan Paulus yang menghubungkan penyaliban ketika ia memperkenalkan Injil?&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Siapakah yang akan menghukum mereka (v.33)?'''Memang sangat melegakan kalau kita dapat melepaskan diri dari tuduhan setan, tetapi hal yang terpenting adalah kenyataan bahwa Tuhan sendiri tidak akan menyalahkan kita. Ketika setiap orang berlutut dan bersujud di depan kursi penghakiman Kristus, akan banyak orang (dalam jumlah ynag tidak terhitung) yang akan mendengar kata-kata yang menyayat yang tidak dapat ditarik kembali, “Aku tidak pernah mengenal engkau. Enyah dari hadapan-Ku, kamu yang terkutuk, ke api yang kekal yang telah disediakan bagi setan dan malaikat-malaikatnya.” Tuhan tidak ingin mengatakan hal ini ke setiap orang. Dia telah menaruh Salib dijalan yang kita lalui sehingga kita dapat menghindari kata-kata yang menyayat ini. Tetapi untuk mereka yang dengan keras kepala menyangkalnya, dan menolak untuk takhluk, maka bagi mereka akan diberikan hukuman yang kekal. {{LeftInsert|Pembenaran memiliki implikasi akan eskatologi. Artinya keputusan yang akan Tuhan nyatakan kepada kita pada hari penghakiman telah dibawa dan paparkan pada saat ini. Maka kita tidak perlu takut akan hari penghakiman, kita yang percaya bahwa Kristus telah menyeberangi kematian menuju ke kehidupan.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved By Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1989) p. 177.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Anthony Hoekema}}&amp;lt;br&amp;gt;Karena anda telah menerima korban pengganti yang diberikan oleh Kristus, tidak ada seorang pun yang akan berhasil membawa tuduhan kepada anda—tidak hanya pada hidup ini tetapi juga pada saat kritis dimana anda berdiri didepan kursi penghakiman Tuhan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak akan ada lagi jalan yang paling tepat untuk menghadapi penuduhan selain menumpu perhatian kita terhadap Salib. Jikalau anda kurang memiliki keyakinan dan kemampuan untuk menerima hal ini, isilah pikiran anda, hati anda, dan penyembahan anda dengan salib dari Yesus Kristus.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert|Tulislah satu masalah ataupun situasi yang memusingkan anda sekarang.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Bukankah ini mampu menguatkan anda juka anda tahu bahwa Yesus sendiri berdoa unruk kebutuhan anda pada saat ini juga?}}&amp;lt;br&amp;gt;'''Kristus Yesus yang telah mati (v.34).''' Sebagai tambahan atas keheranan (sesuatu yang dapat memberikan rasa takjud dalam diri kita) atas kesediaan-Nya untuk mati bagi kita, Tuhan kita berdoa untuk kita dari posisi otoritas-Nya di sebelah kanan Allah Bapa. Dia tidak secara pasif menunggu datangnya akhir jaman, dengan melihat berjalannya waktu. Dia juga tidak dengan santai dan menerima korban sembahan kita dan pelayanan kita. Tetapi dia meluangkan waktu sepanjang hidup kita untuk berdoa bagi anda—nama demi nama.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah hal ini dapat menguatkan anda dimana anda tahu bahwa Yesus sendiri berdoa untuk kebutuhan anda hingga saat ini?&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Siapakah yang dapat memisahkan kita dari dari kasih Kristus (vv.35-39).'''Ketika Paulus menyatakan bahwa tidak ada.., maka ia menyatakan tidak ada sama sekali. Masalah. Kesusahan. Penganiayaan. Kelaparan. Bahaya. Kematian. Tidak ada satupun diantara hal-hal ini yang datang menghalangi kita dan cinta Tuhan kita.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang diatas, maupun yang dibawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus Tuhan kita (Roma 8:38-39).&amp;lt;/blockquote&amp;gt;{{LeftInsert|“Tidak ada segala sesutatu yang di dalam ruang (ketinggian maupun kedalaman) atau pun waktu (tidak dimasa ini maupun di masa yang akan datang), Tidak ada di alam semesta yang diciptakan Alllah (maupun pada makhluk lain) mampu memisahkan anak-anak Tuhan dari cinta Allah Bapa, yang telah ditanamkan kedalam mereka dalam Kristus. &amp;lt;ref&amp;gt;F.F. Bruce, ''Tyndale New Testament Commentaries—Romans'', p. 181.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - F.F. Bruce}} &lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Ketika kita di dera oleh tuduhan dan dikejar oleh musuh kita, kita merasakan diri kita terpisah dari cinta Tuhan, seolah-olah Ia meninggalkan kita. Dengan memahami pemahaman akan masa yang akan datang ( foreknowledge), predestinasi, panggilan, pembenaran dan penyempurnaan (pemuliaan) dapat memampukan kita untuk menghindari hal-hal yang tidak Alkitabiah dan hal-hal yang tidak dapat membantu kita sama sekali seperti ketergantungan kita akan emosi kita yang selalu berubah-rubah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mengenal seseorang di England dimana ia selalu memberikan reaksi terhadap apa yang dia alami dengan menghubungkanya dengan Tuhan. Saya berjumpa dengan Henry setahun yang lalu di sebuah konferensi. Dia merupakan seorang guru Alkitab yang sangat dihormati dan juga seorang pengarang di England dan merupakan seorang yang memiliki sebuah karakter yang telah teruji. Dalam interaksi kami selama beberapa tahun saya sangat takjud atas kebaikan dan perhatian yang ia perlihatkan secara konsisten.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Coba baca dan pikirkan Filipi 1:21.''' Bagaimanakah pandangan tentang kematian in dibandingkan dengan pandangan dunia?&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
Dalam kunjungan saya ke England saya ketahui bahwa istri Henry mengalami suatu penyakit yang sangat serius dan dia dinyatakan hanya dapat hidup kurang dari 6 bulan. Saya sangat terkejut melihat mereka menghadiri konferensi. Dan saya semakin terkejut ketika melihat bahwa rasa puas dan senang sangat nyata terungkapkan didalam expressi wajah mereka. Yang sangat mengejutkan adalah cara mereka menjangkau orang lain. Mereka tidak menunjukkan sikap yang dapat membuat orang mengasihani mereka, justru mereka terus melayani secara normal. Saya sangat dipengaruhi oleh mereka.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disatu pagi di saat konferensi, Henry dan saya berjumpa untuk menikmati sarapan pagi. “C.J.,” Dia berkata, “Aku percaya bahwa anda telah mengetahui apa yang telah terjadi pada istri saya. Aku telah mencari Tuhan, Aku melihat Ia menyembuhkan banyak orang, tetapi aku tidak mendapatkan satupun kepastian bahwa istriku akan Ia sembuhkan.” Aku tidak dapat berkata apa-apa pada saat itu. Aku terus berfikir dalam diriku, Bagaimanakah caraku untuk memberikan tanggapan? Dilain waktu, pada saat aku bertemu dengan dia kembali, aku rasa istrinya tidak akan ada lagi bersama dengan dia. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akhirnya aku tidak menyampaikan satu kata pun, karena dalam waktu 15 minit yang berikutnya Henry membagikan kepadaku sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam ayat Alkitab dan juga dalam sejarah gereja dalam subjek kematian. Dia mengutip kata-kata dari Charles Spurgeon, yang pernah mengatakan bahwa kita akan menyadari kemulian Tuhan yang tertinggi ketika berada disamping seorang iman Kristus yang sejati yang akan meninggal. Dia juga mengutip pernyataan yang dibuat oleh John Wesley dari generasi yang mula-mula:” pengikutku akan mati dengan baik”.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesedihan Henry sangat nyata. Dia tidak berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya. Tetapi ia sangat yakin bahwa kematian tidak akan memisahkan ia dari istrinya dan dari cinta Tuhan Yesus Kristus. {{LeftInsert|Bagaimanakah caranya seorang Kristen melihat kematian? Ia mempelajarinya dengan sudut pandang yang benar. Ia tidak secara gampang dan sederhana mengabaikannya. Ia juga tidak membiarkan dirinya terkejut oleh ketakutan akan kematian. Ia mengenal kematian sebagai musuh, tetapi bergembira di dalam keyakinan bahwa kematian pun tidak dapat memisahkan dia dari cinta Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 187.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}&amp;lt;br&amp;gt; Setelah berpuluh-puluh tahun mempelajari dan mengajar kebenaran besar seperti pemahaman akan masa mendatang (foreknowledge), predestinasi, panggilan, pembenaran, dan penyampurnaan mampu menyakinkan mereka akan kedaulatan Allah dan cinta Allah. Mereka tidak takut. Mereka merasa aman. Henry tampil dan kemudian membiarakanku memberikan komentar terhadap seorang teman,” Inilah kekuatan atas pemahaman doktrin akan kasih karunia yang mampu mengubah hidup seseorang dan menguatkan mereka di tengah serangan musuh.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di posisi lain di dalam konferensi Saya berdiri di belakangan Henry ketika ia sedang menyembah. Dia berbalik ke saya dan berkata:” Aku akan kembali ke perpustakaan aku dan akan memilih buku untuk beberapa orang, aku ingin menyampaikan hal ini untuk generasi berikutnya. Aku akan mengirimkan kamu sebuah buku.” Henry tidak hanya mempersiapkan diri untuk kematian istrinya, tetapi ia juga bekerja untuk mempersiapkan generasi pemimpin-pemimpin yang berikutnya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janganlah mengasiahani dia. Karena sayalah orang yang harus merasakan sakit didalam diriku. Yang ia lakukan disana adalah menyembah dengan senyuman yang lemput pada wajahnya. Kenapakah ia tidak merasakan kepahitan, kesedihan, bersungut-sungut ataupun mengasingkan diri? Bagaimana mungkin ia dapat melayani denngan rasa gembira ke setiap orang di tengah-tangah kesedihan pribadi yang mendalam? Ini karena Roma 8:38-39 telah terpahat didalam hatinya: karena ia tahu bahwa tidak ada yang dapat memisahkannya dengan cinta Kristus.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kebenaran akan keselamatan yang terbesar ini menembus hati kita semua, hasilnya akan merupakan suatu kemampuan untuk memberikan tanggapan akan penuduhan dan serangan musuh dengan mengetahui dan menyatakan bahwa Tuhan di pihak kita dan tidak ada satu orangpun yang akan dengan mampu menyerang anda, Dia membenarkan anda, dan tidak akan ada yang mampu memisahkan anda dari cinta-Nya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jikalau buku ini merupakan suatu usaha untuk menelusuri kelima doktrin yang digaris besarkan pada bagian yang pertama—Pemahaman akan hal yang mendatang (foreknowledge), predestinasi, panggilan, pembenaran, dan penyempurnaan—maka kita harus membahasnya dalam beberapa ratus halaman. (sebenarnya, kita masih dalam suatu process menulis hal tersebut!) Kita harus dapat memggunakan enam bagian berikutnya untuk menekankan pada satu hal saja: yaitu tentang keindahan doktrin akan pembenaran melalui iman.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika anda menelusuri halaman-halaman berikut ini, tolong jangan merasa terintimidasi oleh teologi dan doktrin yang akan anda pelajari. Karena hal-hal ini penuh dengan hidup…..dan ini akan dapat merubah hidup anda. Anda akan dipenuhi oleh rasa kagum dari hadiah akan pembenaran yang Yesus berikan untuk kita di atas salib. Anda akan semakin percaya kalau Tuhan selalu ada untuk anda, dan segalanya bekerja dengan baik dalam hidup anda, dan tidak ada seorangpun yang mampu secara penuh menentang anda dengan berhasil. Bukankah ini sengat mengagumkan! Dan bukankah kita juga sepenuhnya tidak layak unutk mendapatkan hal ini. Ini memang merupakan kasih karunia yang luar biasa.&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi berkelompok&amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Apakah ketakutan terbesar anda satu-satunya? &lt;br /&gt;
#Pemahaman akan keselamatan terbesar kita merupakan suatu penawar yang sempurna kepada dua macam penyakit yang umum. Apakah dia? (halaman4) &lt;br /&gt;
#Apakah anda menyalahkan Tuhan bila segala sesuatu terjadi pada anda? &lt;br /&gt;
#Bagaimanakah caranya untuk menangani rasa tidak tenang dan stress? &lt;br /&gt;
#Adakah bagian dari hidup anda dimana Setan secara konsisten menyerang anda? &lt;br /&gt;
#Coba lihat kembali cerita tentang Superbowl pada halaman 5. Bagaimanakah ini dapat mempengaruhi pemahaman anda akan Roma 8: 29-30? &lt;br /&gt;
#Bagaimanakah caranya anda meresponi pertanyaan #4 pada halamn 9? &lt;br /&gt;
#Apakah itu mudah untuk membiarkan teologi hanya desimpan di dalam pikiran kita dibandingkan dengan membiarkan nya mempengaruhi kebiasaan hidup kita. &lt;br /&gt;
#Apakah pengaruh bagian ini dalam kehidupan sehari-hari anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Saran untuk Bacaan yang Lebih Lanjut&amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''God’s Words: Studies of Key Bible Themes''by J.I. Packer (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1981) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Pilgrim’s Progress'' by John Bunyan (various editions available, including an inexpensive Penguin Classic) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Romans'' by John Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1995) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Still Sovereign'' by Thomas R. Schreiner and Bruce A. Ware, eds. (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 2000) &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:47:52 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar/Keselamatan_yang_Terbesar</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar/Murka Allah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar/Murka_Allah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation/The Wrath of God}}&amp;lt;center&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| width=&amp;quot;75%&amp;quot; style=&amp;quot;border: 1px solid rgb(170, 170, 170); margin: 0pt 1px; padding: 0.2em; clear: both; border-collapse: collapse; font-size: 13px; font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|- valign=&amp;quot;top&amp;quot; style=&amp;quot;background-color: rgb(248, 248, 248);&amp;quot;&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;padding: 5px; background-color: rgb(89, 90, 44); text-align: center; width: 10px;&amp;quot; | &amp;amp;nbsp; &lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;padding: 10px; text-align: center; width: 50px;&amp;quot; | [[Image:Broom.png|A broom]] &lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;middle&amp;quot; style=&amp;quot;padding-left: 10px; text-align: left;&amp;quot; | &lt;br /&gt;
This page may need clean-up to meet our quality standards. Please consider helping by '''[[GospelTranslations:Reviewing|reviewing the translation quality]]''' and editing the page to meet our '''[[GospelTranslations:Formatting|formatting standards]]'''. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/center&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;includeonly&amp;gt;[[Category:Incomplete]] [[Category:Needs Attention]]&amp;lt;/includeonly&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Literatur Kristen yang paling popuplar pada saat ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan “self-esteem” (Rasa harga diri). Tetapi subyek yang berhubungan dengan dosa sering sekali terlupakan bahkan terkadang ditentang habis-habisan. Seorang penulis Kristen Mengatakan “Jika kita menganggap dosa sebagai pemberontakan terhadap Tuhan maka tindakan kita merupakan tindakan yang sangat rendah dan juga penghinaan atas derajat manusia.” Walaupun saya menghargai kejujuran orang ini, tetapi saya sangat khawatir akan pandangannya dan orang-orang yang mendukung pandangan tersebut. Karena pandangan ini sangat tidaklah Alkitabiah. Hal ini akan menghalangi kita untuk memahami keseriusan dari dosa, realita dari murka dan pentingnya salib.{{LeftInsert|'''Pelajaran Tambahan:'''&amp;lt;br&amp;gt;Mari kita tingkatkan pandangan yang tepat akan diri kita self-image (dan menghancurkan rasa harga diri) dengan membahas ulang 1 Raja-raja 8:46, Yeremia 17:9, Roma 3:10-18, 23, dan 1 Yohanes 1:8}}Yesus tidak menempuh salib untuk melepaskan kita dari harga diri kita yang rendah (low self esteem), tetapi dari sesuatu yang jauh lebih serius: yaitu murka Allah dan kenyataan akan dosa, kuasa dan hukuman dari dosa (dimana in berhubungan dengan kecongkakan, atau rasa harga diri yang berlebihan, yang sungguh memiliki peranan yang besar dalam hidup kita). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memahami bagaimana kasih karunia yang sangat besar tersebut maka kita juga harus memahami bahwa dampak dari dosa merupakan &amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;hal yang serius. Untuk menghargai cinta Tuhan, maka kita harus memahami dahulu kemurkaan-Nya. Segala sesuatu yang kita lakukan untuk mengevaluasi dosa kita secara nyata— dan akibat dari dosa yang sangat mengerikan tersebut — merupakan langkah yang penting di saat kita menelusuri doktrin tentang pembenaran (justification). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Menoleh ke Kaca Spion  ===&lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;Kalau anda adalah seorang pengurus/koordinator dari KKR yang dibawa oleh Yesus, yaitu: “Mesias A.D. ‘32”, Manakah diantara kotbah – Nya yang akan anda edit? &lt;br /&gt;
*&amp;quot;Jikalau seseorang datang kepada-Ku ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.&amp;quot; (Lukas 14:16) &lt;br /&gt;
*Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah.” (Lukas9:62) &lt;br /&gt;
*&amp;quot;Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.&amp;quot; (Matius 5:11) &lt;br /&gt;
*Tetapi Yesus berkata kepadanya: &amp;quot;biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah kerajaan Allah di mana-mana.&amp;quot; (Lukas 9:60) &lt;br /&gt;
*&amp;quot;Sekali lagi aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”. (Matius 19:24) &lt;br /&gt;
*&amp;quot;Jangan kamu menyangka, bahawa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.&amp;quot; (Matius 10:34) &lt;br /&gt;
*Tetapi aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu , berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Matius 5:39,41)(Tidakkah kamu merasa gembira kalau Yesus bkan seorang politikus?)&lt;br /&gt;
&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
“Jadi siapa yang ada didalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Memikirkan keajaiban akan process pembaruan (regeneration) sesungguhnya memberikan kita alasan untuk bergembira. Jika kita tidak sering melihat kebelakang, mengingat siapa kita sebelum belas-kasihan (mercy) Tuhan yang memperbaharui (regenerate) kita, maka sorak sorai kita akanlah terkesan sangat palsu. Seperti yang sering diutarakasn oleh Martin Luther, “ Seseorang harus berhadapan dan melawan segala keberdosaannya habis-habisan sebelum ia bisa menikmati kenyamanan dari keselamatan (salvation) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam satu ayat singkat Paulus memaparkan persengketaan yang ada diantara kita dan Tuhan sebelum kita menjadi Kristen: “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat” (Kolose 1:21). Rasa perlu yang multak dan keuntungan yang sangat jelas yang didapatkan dari pembenaran (Justification) haruslah menjadi focus kita ketika kita mencerna ayat yang sangat menyedihkan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hidup Jauh dari Allah.''' Paulus memaparkan hal ini lebih jauh dalam suratnya ke gereja Ephesus city: “bahwa waktu itu kamu Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, pengharapan dan Allah di dunia.” Kita dijauhkan dari Tuhan memiliki sensitivitas akan kenyataan dosa. Seperti yang disampaikan oleh Peter T. O Brien, kita biasanya terus menerus dan selalu bersikeras untuk tidak berada didalam satu keselarasan (harmony) dengan Tuhan”&amp;lt;ref&amp;gt;Peter T. O’Brien, ‘‘Word Biblical Commentary—Colossians, Philemon(Waco, TX: Word Publishing Co., 1982), p. 66.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat ini, aku meragukan bahwa anda yang sekarang sadar bahwa anda dahulu &amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;terus menerus dan selalu&lt;br /&gt;
bersikeras. Sebelum saya menjadi Kristen saya secara total tidak sadar akan hidup&lt;br /&gt;
saya yang terpisahkan dari Tuhan. Saya dahulu sepenuhnya memiliki komitmen&lt;br /&gt;
terhadap gaya&lt;br /&gt;
hidup berpesta pora, saya dahulu sangat menikmati kenikmatan yang sesaat dari&lt;br /&gt;
dosa. Pengetahuan saya akan Tuhan dan ketertarikan saya akan-Nya sangatlah&lt;br /&gt;
kecil.&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adapun kita merasakan keterpisahan kita ataupun tidak merasakannya pada waktu tersebut, kitab menyatakan bahwa setiap orang memiliki kebutuhan yang mendalam untuk dapat berdamai dengan Tuhan. Keterasingan kita sangatlah multak. Kalau bukan karena interupsi dari belaskasihan Allah, maka kita akan terpisahkan dari-Nya untuk kekekalan. Tidak ada yang dapat kita lakukan lagi untuk merubah status “diasingkan/terpisah” kita. &lt;br /&gt;
&amp;lt;div class=&amp;quot;rcall&amp;quot;&amp;gt;'''Renungkan Roma 1:28-32''' Kalimat ini tidak menunjukan sekelompok orang yang paling berdosa di dunia --- Kalimat tersebut menjelaskan kondisi natural dari setiap orang yang tidak pernah mengalami pembaruan(regeneration). Coba lihat juga Ephesus 2:1-3.&amp;lt;/div&amp;gt; &lt;br /&gt;
Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Alah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikira-pikiran terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal tidak setia, tidak penyayang tidak mengenal belas kasian. Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hokum Allah, yaitu setiap orang yang melakukan hal-hal yang demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan apa yang mereka lakukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran. '''Desas desus yang terus ada dan yang sangat popular yaitu “manusia pada dasarnya adalah baik (man is essentially good). Memang kita membuat kesalahan, tetapi secara keseluruhan kita adalah orang-orang yang cukup baik. Setiap orang yang mempercayai mitos tersebut merupakan orang-orang yang tidak pernah memberikan perhatian mereka secara penuh dalam hal tersebut. Seperti yang telah diutarakan oleh Paulus secara jelas ke umat di Kolose, kita bukanlah rekan dari Tuhan (God’s Allies) dan juga bukan merupakan orang yang berada di posisi yang netral. R.C. Lucas mengatakan bahwa kita selalu bersikap menentang (antagonistic), bukan hanya tidak perduli (apathetic).”&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-1 [2]] &amp;lt;/sup&amp;gt;Teologian Anthony Hoekema memberikan suatu pendapat yang bagus dalam pernyataannya: “Dosa secara mendasar (fundamentally) merupakan perlawanan (opposition) kepada Tuhan, pemberontakan terhadap Tuhan, yang berakar dari rasa benci terhadap Tuhan.”&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-2 [3]]&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Kita memiliki illusi bahwa waktu akan membatalkan/ menghilangkan dosa. Saya telah mendengar banyak dari orang lain dan saya juga melihatnya dalam diri saya ketika saya menghitung kekejaman dan kesalahan yang telah saya lakukan ketika saya masih muda, seolah-olah hal tersebut tidak ada hubungannya dengan saat ini, Tetapi waktu tidak dapat melakukan apa-apa terhadap kenyataan ataupun perasaan bersalah&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;yang muncul dari dosa. &amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-3 [4]]&amp;lt;/sup&amp;gt;” - C.S. Lewis&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum anda menjadi Kristen anda membenci Tuhan. Saya juga begitu. Jangan kamu merasa bangga dan menipu dirimu akan pemikiran yang berbeda dengan pernyataan tadi. Anda tidak akan menghargai bahwa anda mencintai Dia sekarang jikakalau anda tidak menyadari bahwa anda membenci-Nya dahulu. Kejahatan ada didalam kebiasaanmu. Kita selalu mengasosiasikan kata “kejahatan (evil)” dengan kekejian yang dilakukan oleh Saddam Hussein ataupun Adolf Hitler. Namun segala sesuatu yang menentang maupun menolak otoritas dari Tuhan merupakan suatu bentuk kejahatan (Evil). Berdosa berarti menentang dan tidak menghiraukan hukum moral dari Tuhan. Ini bisa saja berhubungan dengan tujuan (motive), kelakuan ataupun tindakan. Dalam pandangan Tuhan, bahkan kelakuan kita yang “terbaik” berada pada suatu tingkat kekejian (evil). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada saat kita melakukan dosa kita akan terjerat kedalam masa lalu yang tidak mungkin lagi dapat diubah. Apapun yang di catat/ diketahui tentang diri kita selamanya penuh dengan cacat. Yang pada akhirnya Tuhan yang Maha Kuasa membuka dan melihat kembali catatan-catatan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Untuk pelajaran yang lebih lanjut: &amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Bacalah Roma 1:18-21.''' '''Bisakah&lt;br /&gt;
orang yang tidak pernah mendengarkan injil ataupun membaca Alkitab dapat&lt;br /&gt;
dituduh sebagai musuh Tuhan? Paparkan satu ataupun dua hal yang anda lakukan&lt;br /&gt;
sebelum kamu menjadi seorang Kristen yang anda rasa dapat dikategorikan sebagai&lt;br /&gt;
suatu yang baik. Lalu, bacalah Mazmur 14:2-3 dan Yesaya 64:6, dan simpulkan&lt;br /&gt;
secara singkat pandangan Tuhan atas perbuatan “baikmu” tersebut.&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Pada suatu saat”, Kata R.C. Sproul, “kita semua terbelengu dalam satu pemikiran yang memprihatinkan, dimana kita semua akan berdiri dihadapan Tuhan yang akan menghakimi kita.&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;Rasa takut yang muncul tersebut datang dari kesadaran kita bahwa kita tidak akan dapat mendengar kata: “Tidak bersalah’”&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-4 [5]] &amp;lt;/sup&amp;gt;Masa lalu kita akan terus menghantui kita dan disebabkan dari tindakan kita yang terus membantah otoritas Tuhan dari waktu ke waktu. Kita tidak lagi memiliki dalih. Walau pun Tuhan adalah Tuhan yang berbelas kasian (mercy), Tuhan dalam keadilannya tidak akan mengacuhkan dan membiarkan pemberontakan kita. Dia akan meminta pertanggung jawaban kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda terbuai dalam status anda sebagai ciptaan yang baru (new creation) hingga anda telah melupakan bahwa anda telah terpisahkan dari Kristus? Apakah anda menyadari arti dari pengampunan atas murka Tuhan? Merenungi dosa kita dan murka Tuhan tidak akan membawa kita ke penghukuman, akan tetapi ia akan membawa kita ke penghargaan yang mendalam atas apa yang telah dicapai oleh Yesus ketika Ia disalib. Bila engkau tidak pernah merasa terpukul oleh ketidak bergunaan (unworthiness) anda, saya akan ragu bahwa anda menyadari ataupun menghargai kasih karunia dari Tuhan. Saya mempertanyakan hal ini kepada anda dengan sikap hormat, apakah sebenarnya anda sama sekali tidak mengenal dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[|]]&amp;lt;span class=&amp;quot;editsection&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;[[http://gospeltranslations.org/index.php?title=This_Great_Salvation/Chapter_4&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=3 edit]]&amp;lt;/span&amp;gt; Terjebak di Jaman Batu  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;span class=&amp;quot;mw-headline&amp;quot;&amp;gt;Stuck in the Stone Age &amp;lt;/span&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span class=&amp;quot;apple-style-span&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7.5pt; color: black;&amp;quot;&amp;gt;&amp;quot;Pelanggaran&lt;br /&gt;
- pelanggaran hukum moral dalam bentuk apapun sama artinya dengan&lt;br /&gt;
terang-terangan melawan Tuhan secara langsung.&amp;amp;nbsp; Pada saat kita tetap&lt;br /&gt;
melakukan pelanggaran hukum moral tersebut,tindakan itu akan menjadi bagian&lt;br /&gt;
yang integral dari keseluruhan gerakan resistansi (?), yaitu, dalam meyakinkan&lt;br /&gt;
natur ke-Allaha-an nya yang abstrak dan sangat krusial, dia diharuskan untuk&lt;br /&gt;
ambil bagian dan sekaligus untuk melawan.&amp;quot;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;sup&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt; color: red;&amp;quot;&amp;gt; &amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;sup&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7.5pt; color: black;&amp;quot;&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-5 [6]]&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/sup&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7.5pt; color: black;&amp;quot;&amp;gt;” -&lt;br /&gt;
Bruce Milne&amp;lt;span class=&amp;quot;apple-style-span&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murka Tuhan bukanlah merupakan topik pembicaraan yang popular bagi generasi “baby boomer” yang selalu terobsesi oleh pengembangan diri sendiri. Saya hingga saat ini tidak pernah mendengar Oprah Winfrey meluangkan waktu siarnya membahas tentang Murka Allah. Kebudayaan kita tidak akan pernah menganggapnya dengan serius. Ini seolah-olah dianggap sebagai satu pemikiran purba kala. Yang lebih menakutkan adalah kenyataan bahwa gereja juga melakukan hal yang sama terhadap subjek ini.&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;Banyak gereja tidak pernah mnyampaikan kotbah tentang murka Allah. Banyak para teolog mengabaikannya. Mereka merasa malu terhadap pemikiran jaman batu yang menekankan neraka dan kesengsaraan, kebanyakan diantara kita melunakan hal ini ataupun tidak mau percaya akan wujudnya hal tersebut. Hal yang sangat umum yang dapat kita lihat adalah penekanan cinta Tuhan yang berlebihan tanpa menghubungkannya dengan kekudusan-Nya dan murka-Nya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Renungkan Roma 11:22. &amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Bisakah anda menerima bahwa&lt;br /&gt;
Tuhan memiliki suatu kekontrasan&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;dari sifatnya? Bagaimanakah caranya untuk mendemonstrasikan karakter- karakter tersebut?&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika kita semua mencoba menyembunyikan suatu segi dari Tuhan yang “memalukan” ini (yaitu murka Tuhan), kita mengirimkan tanda kepada kebudayaan kita bahwa: Tuhan tentunya mengerti, simpati, sabar, dan sentimental. Tuhan itu baik! Tuhan adalah “Cosmic Mr. Roger”, yang selalu siap untuk menyambut anda dengan senyuman yang hangat dan kata-kata yang menyamankan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Setiap ayat referensi di bawah ini memberikan diskripsi&lt;br /&gt;
khusus tentang kesengsaraan di neraka. Pada bagian kosong disamping setiap&lt;br /&gt;
ayat, namakanlah kondisi yang terungkap.&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Misalkan:&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Ayub 18:17-19 &amp;lt;u&amp;gt;Ketidak&lt;br /&gt;
&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;&amp;lt;/u&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;&amp;lt;/u&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;u&amp;gt;berhargaan yang penuh&amp;lt;/u&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Yudas 13&lt;br /&gt;
&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
____________________________&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Wahyu&lt;br /&gt;
&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
21____________________________&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Lukas &amp;amp;lt;st1:time minute=&amp;quot;24&amp;quot; hour=&amp;quot;16&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;16:24&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
____________________________&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Matius &amp;amp;lt;st1:time minute=&amp;quot;13&amp;quot; hour=&amp;quot;22&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;22:13&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt;&lt;br /&gt;
&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
____________________________&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Wahyu &amp;amp;lt;st1:time minute=&amp;quot;11&amp;quot; hour=&amp;quot;14&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;14:11&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt; ____________________________&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
*&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Daniel 12:2&lt;br /&gt;
&amp;lt;/span&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
____________________________&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;(Jawabannya ada pada Footnote.&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-6 [7]]&amp;lt;/sup&amp;gt;)&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kita memiliki kesukaran untuk menghubungkan (mendamaikan) Murka dengan persepsi kita akan Tuhan yang penuh cinta, maka gereja dan kebudanyaan mencoba untuk menciptakan Tuhan dengan gambaran mereka sendiri. Tetapi ayat dari alkitab tidak pernah memungkiri Murka Tuhan. Nyatanya, A.W. Pink menitik beratkan bahwa referensi mengenai murka Tuhan dalam Alkitab lebih banyak dari pada kasih-Nya. Mungkin kita tidak banyak mengaris bawahi kalimat-kalimat tersebut, tetapi kita harus mulai untuk melakukannya. Kita harus memulai untuk mempelajari murka Allah dengan sungguh-sungguh lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Mitos yang paling merusak dari agama pada abad ke dua puluh di amerika adalah……Tidak ada murka pada Allah. Tidak ada lagi yang dapat mendorong &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;gaya&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; &amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;hidup &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Tuhan selain daripada mitos tersebut.&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-7 [8]]&amp;lt;/sup&amp;gt;” – R.C. Sproul&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus dan penulis Alkitab yang lain tidak pernah merasa berat untuk mengekpresikan murka Allah. Kenapa? Karena mereka tahu kalau untuk memahami perubahan dari pembenaran (Justification) harus dimulai dengan realita dari murka Allah. &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; memahami kepastian dari murka Allah maka kita tidak dapat memahami perlunya pembenaran (Justification). &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; murka Allah, kita tidak akan memiliki kabar baik (Gospel). &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; murka Allah, kita tidak akan pernah merasa&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;perlu untuk dibenarkan (oleh Allah) di hadapan Allah Yang Maha Kuasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Untuk pelajaran yang lebih lanjut:&amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt; Untuk melihat apa yang&lt;br /&gt;
dikatakan oleh Alkitab mengenai neraka, coba lihat Matius 3:12, 5:22 dan Markus&lt;br /&gt;
9:47-49, Lukas 3:17, dan 2 Petrus 2:4.&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt;''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat sukar untuk menyampaikan murka Tuhan secara efektif. Beberapa orang yang mencoba untuk menjelaskannya seolah-olah sangat menikmati horror yang akan datang menimpa orang-orang berdosa. Ini bukanlah menjadi satu sikap dari Tuhan maka kita juga tidak boleh bersikap demikian. Mungkin &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;surat&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; kabar lokal anda tidak akan mau untuk menyelidiki subjek dari kemurkaan Tuhan —Setidaknya tidak didalam cara yang Alkitabiah— jadi marilah kita bersama-sama menyelami apa yang disampaikan oleh Alkitab mengenai topik ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[|]]&amp;lt;span class=&amp;quot;editsection&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;[[http://gospeltranslations.org/index.php?title=This_Great_Salvation/Chapter_4&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=4 edit]]&amp;lt;/span&amp;gt; Ketika Dosa dan Kekudusan Bertubrukan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jack Kevorkian dinyatakan sebagai “Doctor Death” (doctor maut) &amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;oleh media ketika ia menggunakan alat khusus untuk membantu orang untuk bunuh diri. Saya tidak pernah melupakan waktu saya melihat cuplikan video dari Kerovian dan dua wanita, yang mereka buat sebelum nyawa mereka diambil. Wanita tersebut kelihatan sangat tenang ketika mereka menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri nyawa mereka. Saya merasa sedih dan juga merasakan ke-ngerian. Mereka benar-benar tidak memiliki gambaran akan apa yang akan terjadi setelah kematian. Karena mereka tidak ingin untuk berhadapan dengan penyakit yang mengerogoti tubuh mereka. &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; mereka sadar mereka memojokkan jiwa mereka ke murka Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murka Allah sangat nyata. Dan sangat menakutkan. Ketika kekudusan-Nya dan dosa kita saling bertubrukan, maka hasil yang tidak dapat dihindari adalah Murka, Dimana J.I. Parker menyebutnya sebagai&amp;amp;nbsp;: “ Tindakan Tuhan yang tidak akan berubah dalam hukuman-Nya akan dosa”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan tidak akan men-tolerir, ataupun dia hanya sekedar terganggu atas dosa kita. Novel horornya Stefen King seolah-olah hanya berupa puisi anak-anak bila dibandingkan dengan murka-Nya. Semakin banyak yang anda ketahui tentang Dia, semakin meningkat pula rasa takut anda kepada-Nya. Dan ini merupakan hal yang baik. Bila setiap orang yang ada pada generasi ini memiliki rasa takut akan Allah yang mendalam, maka pandangan akan dosa kita yang dangkal itu pun akan menjadi lebih dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Ini sebagian disebabkan karena dosa tidak menimbulkan rmurka pada kita maka kita juga percaya bahwa dosa tidak akan menimbulkan murka Allah.&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-8 [9]]&amp;lt;/sup&amp;gt;” - R.W. Dale&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi yang bernama Habakuk menyampaikan sesuatu tentang Tuhan: “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan engkau tidak dapat memandang kelaliman.” (Hab 1:13). Dalam mengungkapkan penghakiman yang akan datang dari Tuhan kepada orang Niniveh, Nahum bernubuat, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan itu Allah yang cemburu dan pembalas, Tuhan itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. Tuhan itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya Tuhan itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. Siapakah yang tahan berdiri menghadapi geram-Nya? Dan siapakah yang&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;tahan tegak menghadap murka-Nya yang menyala-nyala? Kehangatan amara-Nya tercurah seperti api, dan gunung-gunung batu menjadi roboh dihadapan-Nya. Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap. (Nahum 1:2-3,6-8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;color: rgb(51, 102, 255);&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Renungkan Keluaran 20:18-20. &amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Musa memaparkan “takut akan&lt;br /&gt;
Tuhan”, sebagai hal yang baik, dan juga meminta agar semua orang untuk tidak&lt;br /&gt;
merasa takut kepada Tuhan. Bisakah anda melihat perbedaannya disini?&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murka Tuhan bukan hanya terbatas pada orang-orang di Niniveh. Walaupun ia menunjukkan kesabaran-Nya, dan ia “lambat menunjukkan amarah-Nya”, dosa kita telah memancing kemarahan-Nya. Jikalau kita menolak kebaikan Allah yang telah diberikan melalui Yesus dan dari akhir penebusan Yesus Kristus, suatu hari nanti kita akan mengalami kerasnya Allah, dan kita tidak akan memiliki siapapun untuk dipersalahkan selain diri kita sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;color: rgb(51, 102, 255);&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Renungkan Mazmur 78:38-39 &amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Apa yang akan mengejutkan&lt;br /&gt;
kita tentang Tuhan bukanlah amarah-Nya, tetapi tindakannya yang sering manahan&lt;br /&gt;
diri untuk melepaskan murka-Nya.&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan bukan hanya&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;menyampaikan murka-Nya melalui nabi-nabi kecil dalam perjanjian lama. Paulus menulis pasal pertama dari suratnya ke orang-orang Roma, “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman” ” (v.18). Murka Allah hadir secara nyata pada jamannya Paulus, dan kehadiran murka-Nya jugalah sama nyatanya pada jaman ini. Anda janganlah heran dikemudian hari Amerika akan dihakimi. Amerika telah mengalami murka Tuhan. Ketika satu individu menyebut hal yang benar sebagai hal yang salah dan hal yang salah sebagai hal yang benar, ketika hidup &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; moral dan perzinahan menjadi suatu norma, maka ini adalah suatu perwujudan dari murka Tuhan. Satu hal yang paling efektif dan paling menakutkan dari bentuk penghakiman Tuhan adalah bila Tuhan berhenti untuk campur tangan demi kebaikan kita. Ia hanya akan menarik diri-Nya dari kita dan berkata,” Saya akan membiarkan engkau sendirian dan membiarkan engkau mengalami akibat dari pemberontakan engkau.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan tidak perlu menghancurkan kita secara langsung; apa yang perlu Ia lakukan adalah membiarkan kita dan kita akan terus menghancurkan diri kita sendiri. Kemarahan Tuhan bukanlah sama seperti kemarahan manusia. Ia tidak memiliki watak yang buruk. Kemarahan-Nya tidak sama dengan kemarahan seorang pelatih bola basket yang tidak disiplin yang melotarkan amarahnya disamping lapangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarahan Tuhan adalah keadilan. Kemarahan-Nya bukanlah tidak jelas dan tidak dapat di prediksi. Tetapi sesuatu yang telah dipertimbangkan dan diukur dari respon terhadap hidup yang &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; Tuhan dan kelaliman kita.Hal tersebut membuat Tuhan marah. Dan Ia akan mengungkapkannya! Siapapun yang mendapatkan murka Allah patut mendapatkannya! Mereka tidak bisa menyalahkan siapa pun selain dari pada dirinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda mungkin berfikir dalam diri anda,” Yang engkau sampaikan bukanlah Tuhanku,” tetapi kita perlu mengetahui bahwa ini adalah Allah yang terungkap di Alkitab, walaupun sangat jarang didiskusikan diantara banyak orang Kristen masa kini, murka dan keadilan Tuhan adalah merupakan bagian dari karakter-Nya. Kemarahan-Nya sangat patut, karena bila Ia tidak marah terhadap dosa, maka Ia bukanlah Tuhan yang memiliki nilai moral yang sempurna. Murka Allah sama nyatanya dengan kasih-Nya, dan hal in menaruh orang yang tidak diperbaharui (ungenerated) dalam suatu kondisi yang sangat serius dan penuh dengan keputus-asaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum saya menutup bagian ini, biarlah saya memasuki satu lagi pandangan yang terakhir. Apakah tujuan utama dari Salib? Hanyalah demikian: Hanya disanalah Yesus memuaskan murka Tuhan yang dasyat dan kudus dimana ini patut jatuh ke diri kita. Kemarahan Tuhan yang benar telah diungkapkan dan terus bertambah, kemarahan yang keras dan penuh dengan &amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;kuasa, jatuh bukan pada diri kita yang patut mendapatkannya tetapi pada Anak-Nya. Yesus bukan hanya menyelamatkan kita dari dosa tetapi juga dari Allah sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Bukan saya orang yang berdosa yang menentang Allah dengan kekejian, tetapi Allah juga akan menentang orang yang berdosa dengan kekudusannya. “ – Charles Hodge&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai“, tulis Paulus (Efesus 2:3). Tuhan mampu dan patut menghakimi kita atas pemberontakan kita akan hukum-hukum-Nya. &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tetapi&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; &amp;amp;lt;st1:state w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Ia&amp;amp;lt;/st1:state&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; justru menunjukan kasih karunia-Nya. Didalam salib Ia menemukan satu cara untuk mendamaikan keadilan-Nya yang sempurna dan belas kasihan-Nya yang sempurna. Tuhan adalah satu-satunya yang menentang kita ketika kita berdosa tetapi ia mati untuk kita sehingga kita, musuh-Nya, bisa di angkat menjadi bagian dari keluarga-Nya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jonathan Edwards merupakan tokoh dalam kebangkitan besar Amerika yang pertama pada masa pertengahan abad ke 18. Mugkin ia sangat dikenal dari kotbahnya yang berjudul, “orang berdosa ditangan Amarah Tuhan.” (Sinners in the Hands of An Angry God). Berdasarkan para saksi, banyak dari jemaat Edward dipengaruhi oleh kotbahnya secara dramatis dimana ketika mereka mendengar kotbah tersebut mereka mencengkram kursi mereka, jatuh berlutut, menangis dengan perasaan sedih yang mendalam akan potensi kehancuran diri mereka sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia melakukannya bukan dengan semburan kata-kata yang penuh amarah yang menggunakan kata “api dan batu api” (fire and brimstone). Dari yang aku ketahui, pendengar tidak dipengarui oleh tindakannya yang memukul meja di mimbar ataupun teriakan dengan mata yang terbuka lebar, tidak ada satupun hal tersebut dilakukan oleh Edward —Edward justru hanya membaca kotbahnya dengan kata-kata yang cukup monoton. Tetapi ia dengan jelas menyampaikan kemarahan Illahi, dan ia menaruh penekanan atas keramahan sentuhan Tuhan, ini karena Edward menyadari secara penuh, dimana ketika kita bertemu dengan realita dari murka Tuhan, kita akan mendapatkan satu keinginan baru dan penghargaan akan kasih karunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Murka Allah sangat nyata, mengenaskan, dan tidak dapat dihindar. Tetapi tangan-Nya yang berlubang terbuka dan penuh dengan belas kasihan. Siapapun yang merendahkan dirinya akan rasa kagum terhadap salib maka ia akan dilepaskan dari murka yang akan datang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[|]]&amp;lt;span class=&amp;quot;editsection&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;[[http://gospeltranslations.org/index.php?title=This_Great_Salvation/Chapter_4&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=5 edit]]&amp;lt;/span&amp;gt; Keperluan yang Tidak Terasakan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa saat yang lalu penyelidikan pendapat umum se-nusantara menunjukan semakin banyak rakyat Amerika yang menyatakan dirinya “lahir baru”. Rasanya sangat awal bagi kita untuk merayakan hal ini karena pengaruh gereja terhadap kebudayaan tidaklah sejalan dengan statistik. Jika rakyat Amerika yang terungkap dari persentasi tersebut memanggil dirinya sebagai seorang Kristen yang merupakan pengikut Kristus yang sejati, maka seharusnya masyarakat Amerika mengalami perubahan yang sangat pesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai tambahan terhadap masalah ini, kenyataannya, mereka menjadi Kristen &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; kesadaran akan dosa. Penginjilan seolah-olah menjadi suatu sarana marketing dari pada menyadarkan orang akan realitas dari murka Allah. Injil yang seharusnya menjadi media untuk menunjukan kondisi berdosa manusia dan keperluan yang mendalam akan Kristus telah diubah fungsinya sebagai suatu keuntungan yang men-sasarankan “keperluan dalam diri “ pribadi yang khusus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;”Penekanan kita semua terhadap penebusan dalam&lt;br /&gt;
penginjilan akan menjadi suatu hal yang berbahaya bila kita datang kepadanya&lt;br /&gt;
terlalu cepat. Kita akan belajar untuk menghargai jalur ke Tuhan yang telah&lt;br /&gt;
dimenangkan oleh Kristus bagi kita bila kita terlebih dahulu melihat&lt;br /&gt;
ketidak-terjangkauan Tuhan oleh orang-orang yang berdosa. Kita akan meneriakan&lt;br /&gt;
“puji Tuhan” secara jujur hanya bila kita terlebih dahulu meneriakan “ terkutuklah&lt;br /&gt;
aku, karena aku telah tersesat” &amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-9 [10]]&amp;lt;/sup&amp;gt;” – John Stott&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, ketika kita membawa orang ke Kristus &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; terlebih dahulu memaparkan segala dosa mereka dan Murka Tuhan, maka kita telah melakukan suatu pelayanan yang sia-sia. Banyak orang yang menjadi Kristen datang kepada solusi &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; mengerti apa sebenarnya yang menjadi pokok permasalahan dirinya sendiri. Mereka tidak menyadari bagaimana mereka telah mencemarkan hukum Tuhan yang sungguh sempurna dan tidak merasakan murka Tuhan yang patut jatuh kedalam hidup mereka. Karena mereka tidak bisa membayangkan kasih karunia yang tak terungkapkan tersebut maka hasilnya mereka berakhir dengan suatu perasaan yang tidak pasti akan kasih Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Untuk Pelajaran lebih lanjut: &amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Bacalah bagian dari kotbah&lt;br /&gt;
Pantecostanya Petrus yang menyebabkan 3,000 orang di Kristenkan (Kis 2:14-41).&lt;br /&gt;
Coba dilihat ayat 23,36, dan 40 secara teliti. Apakah caranya Petrus bisa&lt;br /&gt;
disimpulkan sebagai “&amp;lt;span style=&amp;quot;color: rgb(51, 102, 255);&amp;quot;&amp;gt;seeker sensitive&amp;lt;/span&amp;gt;”?&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt; color: rgb(51, 102, 255);&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda tidak akan pernah menikmatinya saat anda menjelaskan murka Allah kepada orang lain, dan mereka juga tidak akan menikmatinya. Siapakah yang suka mendengar bahwa Ia merupakan Tuhan yang membenci orang berdosa? Lebih mudah untuk menfokuskan diri secara khusus untuk menjelaskan kasih Tuhan. Tetapi Injil (gospel) tidak akan sempurna &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; penekanan akan murka Allah, dan inilah yang membuat kasih Allah menjadi lebih jelas terlihat. Kita telah jauh dari-Nya, Dia musuh dalam pikiran kita, hidup kita dipenuhi dengan kebiasaan-kebiasaan yang jahat, dan kita menolak murka Allah. Allah memiliki hak penuh untuk memusnahkan kita &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; alasan ataupun permintaan maaf. &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tetapi&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;, &amp;amp;lt;st1:state w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Ia&amp;amp;lt;/st1:state&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; justru memberikan anak yang dicintai-Nya untuk jatuh sengsara mengantikan kita. Kalau bukan karena wahyu akan murka Allah, kita tidak akan pernah menghargai perlunya pembenaran ( justification). Kita haruslah kembali ke penyampaian dan respon terhadap injil (gospel) yang Alkitabiah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Pada jaman ini, penekanan akan doktrin dosa yang Alkitabiah sangatlah sedikit sekali. Tetapi orang yang yang kurang peka akan dosa dan murka Tuhan terhadap dosa tidak akan merasakan perlu untuk memahami Doktrin Alkitab yang menyangkut pembenaran (justification) .&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-10 [11]]&amp;lt;/sup&amp;gt;” – Anthony Hoekema&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harus membuat orang sadar akan hal yang paling penting dan serius bagi mereka, Sesuatu yang mungkin tidak mereka rasakan: yaitu pelepasan dari murka Allah yang benar. Kita harus mengingatkan mereka (dan juga mengingatkan diri kita sendiri) bahwa kemarahan Tuhan tidak akan terjadi dengan cepat, ini merupakan suatu kepastian. Kita harus menjelaskan bahwa, Alkitab telah membuat hal ini menjadi jelas, “Ngeri benar kalau jatuh ke tangan Allah yang hidup” &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; dibenarkan oleh Yesus Kristus (Ibrani &amp;amp;lt;st1:time hour=&amp;quot;10&amp;quot; minute=&amp;quot;31&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;10:31&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt;). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Renungkan 2 Teselonika 1:5-9. &amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Apakah yang paling menarik&lt;br /&gt;
perhatian anda dari deskripsi tentang penghakiman yang sangat jelas tersebut?&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya membaca kotbahnya Jonathan Edward, saya berfikir dalam diri saya, ''Pantas saja kebangkitan terjadi pada saat tersebut! Pantas saja kuasa Allah bekerja pada pengajarannya. Pantas saja perasaan bersalah yang dialami mereka pada jaman tersebut tidak dapat di paralelkan. ''&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; harus mengurangi kuasa dari kerja Roh Kudus yang membuat kebangkitan besar tersebut mungkin untuk terjadi, saya harus menekankan bahwa isi dari kotbah juga&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;memiliki peranan yang penting. Ketika gereja memberikan porsi yang sama terhadap murka (Warth) dan belas kasihan (Mercy) dalam penyampaian injil (gospel), maka semua orang akan dipengaruhi dengan rasa syukur yang mendalam akan kasih karunia. Dari pada harus tenggelam dalam kebudayaan yang ada, mereka haruslah berdiri tegak secara frontal dan berbeda dengan yang lain. Mungkin banyak yang tidak akan mengerti hal ini, tetapi sejalan dengan waktu mereka setidaknya akan memikirkan hal ini. Dengan adanya peng-Kristenan yang benar (authentic conversion), maka mereka akan semakin mencerminkan karakter dari Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== [[|]]&amp;lt;span class=&amp;quot;editsection&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;[[http://gospeltranslations.org/index.php?title=This_Great_Salvation/Chapter_4&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=6 edit]]&amp;lt;/span&amp;gt; Jangan Pernah Kehilangan Kontrol  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== &amp;lt;span class=&amp;quot;mw-headline&amp;quot;&amp;gt;Never Lose Touch &amp;lt;/span&amp;gt;  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang teolog yang bernama R.C. Sproul menceritakan suatu pertemuan yang menarik dengan seorang Kristen yang sangat setia tetapi tidak taktis. Tiba-tiba orang tersebut menghentikan dia ketika dia sedang berjalan di kampus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Apakah anda telah diselamatkan?” tanya orang tersebut terlebih dahulu &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; memperkenalkan dirinya. Sproul tertegun sejenak dan merasa sedikit terganggu dari cari penyampaian orang tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Selamat dari apa?” jawab dia kepada orang tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang penginjil tersebut yang menjadi heran dan tertegun. Dia menjadi bingung dan tidak dapat memberikan jawaban yang tepat. Mungkin dalam dirinya ia merasa memerlukan pendalaman Alkitab yang lebih lagi….. dan juga perlu memilih orang yang akan diinjilinya dengan penuh kehati-hatian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Diselamatkan” merupakan kosa kata yang sangat awam di kalangan Kristen, tetapi kita perlu mempertimbangkan pertanyaan yang diberikan Sproul: Diselamatkan dari apa? Pada bagian ini mungkin kamu telah dapat memberikan jawabannya. Kita tidak diselamatkan dari sikap rendah diri (Low self-esteem) Kita diselamatkan dari “murka yang akan datang” (1 Teselonika &amp;amp;lt;st1:time hour=&amp;quot;1&amp;quot; minute=&amp;quot;10&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;1:10&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt;). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Cinta Illahi menang akan murka Illahi melalui pengorbanan diri.&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-11 [12]]&amp;lt;/sup&amp;gt;” – John Stott&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketidak perdulian kita akan murka bukanlah suatu hal yang kebetulan. Aku merasa sering kali kita menghindari topik tersebut karena kita merasa takut dan disalahkan. Hal ini ada kebenarannya—kita mustinya takut karena kita pantas dipersalahkan. Tetapi pelajaran akan Murka Allah akan membawa kita ke pengertian terhadap kasih karunia dan melepaskan kita dari penghukuman. Kita yang seharusnya patut menerima kehancuran yang abadi, tapi Tuhan menyelamatkan kita dari murka-Nya dan mendamaikan kita ke dalam diri-Nya! Memikirkan dan melihat masa lalu akan membuat anda jatuh kedalam lembah introspeksi yang suram. Tetapi, itu akan membawa anda&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;ke pengertian terhadap Tuhan dan belas kasihan-Nya ke satu level yang lebih tinggi. Anda akan memahami kebesaran cinta Tuhan di dalam satu dimensi yang tidak pernah anda miliki sebelumnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Renungkan Mazmur 103: 1-18. &amp;lt;/span&amp;gt;'''&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;Tidak ada yang dapat&lt;br /&gt;
mendorong penyembahan dalam diri kita selain dari pada pengertian bahwa Tuhan”&lt;br /&gt;
tidak &amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;(akan) dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita.”&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam komentarinya atas bagian Alkitab dari Kolose, Peter T. O’Brien menyampaikan sesuatu tentang&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;gereja di Kolose, “ Derajat dari kondisi mereka yang sebelumnya&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;mengerakkan mereka untuk membesarkan belas kasihan (Mercy) dari Tuhan. Hal yang ada dimasa lalu dicerminkan kembali bukan untuk menekankan hal tersebut, tetapi adalah untuk menumpukan perhatian terhadap kerja Tuhan yang besar…demi para pembacanya. .”&amp;lt;sup&amp;gt;[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_note-12 [13]]&amp;lt;/sup&amp;gt; Kita tidak mencerminkan kembali masa lalu kita untuk tetap diam di dalamnya—kita melihat kembali agar segala yang dilakukan Tuhan demi diri kita, melalui kerja yang baik yang dilakukan oleh anak-Nya, dapat merubah hidup kita secara dramatik sesuai dengan apa yang Ia inginkan. Hal yang sama terjadi didalam diri Paulus. Dia tidak pernah lepas dari masa lalunya. Nyatanya, lihatlah keuntungan yang ia dapatkan dari&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp; &amp;lt;/span&amp;gt;tindakannya untuk mengenang masa lalu: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;lt;/span&amp;gt;“Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,”dan diantara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasiani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya, Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang Esa!Amin. (1Timotius &amp;amp;lt;st1:time minute=&amp;quot;15&amp;quot; hour=&amp;quot;1&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;1:15&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt;-17) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;color: rgb(51, 102, 255);&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;“Kemuliaan Injil adalah demikian: Orang yang akan&lt;br /&gt;
menghukum kita adalah orang yang menyelamatkan kita.” – R.C. Sproul&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;span style=&amp;quot;font-size: 7pt;&amp;quot;&amp;gt;&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&amp;lt;/span&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah melihat kebelakang membuat Paulus menjadi depresi? Tidak — Justru itu memunculkan penyembahan secara spontan yang muncul karena keheranan kasih karunia Tuhan.” Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah”, tulis Paulus, “ dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat” Lalu ia memakai satu kalimat yang sederhana tetapi juga merupakan yang paling indah di dalam Alkitab: “sekarang diperdamaikan-Nya, didalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat dihadapan-Nya. (Kolose 1:21-22). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Daripada meninggalkan kita di dalam ketidak ada harapanan, keputusasaan, dan posisi yang terjepit, Tuhan mendamaikan kita melalui Yesus supaya kita dapat berdiri di hadapannya &amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; ada cela dan bebas dari penuduhan—bila diungkapkan dalam satu kata: dibenarkan (justified). Kita patut mendapatkan siksaan yang abadi di neraka. &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Tetapi&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt; &amp;amp;lt;st1:state w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Ia&amp;amp;lt;/st1:state&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; justru memberikan kehidupan yang kekal melalui anak-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah ini merupakan kabar baik? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== [[|]]&amp;lt;span class=&amp;quot;editsection&amp;quot;&amp;gt;[[http://gospeltranslations.org/index.php?title=This_Great_Salvation/Chapter_4&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=7 edit]]&amp;lt;/span&amp;gt; Diskusi Grup  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Apakah bab ini mempengaruhi “self-esteem” (harga diri) anda? Selfimage (gambaran diri) anda? &lt;br /&gt;
*“Sebelum kamu diselamatkan kamu membenci Tuhan,” kata pengarang (Halaman 39). Apakah kamu setuju atau tidak setuju? &lt;br /&gt;
*Atheis abad ke sembilan belas Colonel Robert Ingersoll pernah mengatakan, “Pemikiran dari neraka itu lahir dari pembalasan dendam dan kebrutalan dari satu sisi, dan kepenakutan disisi yang lain….Saya tidak memiliki rasa hormat kepada setiap orang yang mempercayai hal tersebut….saya tidak menyukai doktrin ini, saya membencinya, merendahkannya, saya membantah doktrin ini.” Jika anda diberi satu kesempatan bagaimana caranya anda dapat menjawab Colonel Ingersoll? &lt;br /&gt;
*Berdasarkan sang pengarang, apakah hal yang penting yang telah hilang dari penginjilan masa kini? (Halaman 44) &lt;br /&gt;
*Apakah mungkin untuk gentar akan Tuhan &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; rasa takut akan Dia? Coba jelaskan alasanmu. &lt;br /&gt;
*Apakah bedanya amarah Tuhan dengan amarah kita? &lt;br /&gt;
*Pada halaman 44 penulis menulis, “banyak orang yang menjadi Kristen terlalu cepat , mereka datang kepada jalan keluar &amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;tampa&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt; mengerti permasalahannya di dalam diri mereka.” Apakah maksudnya? &lt;br /&gt;
*Kenapa Tuhan menaruh orang berdosa ke neraka dimana Ia dapat mengampuni mereka dengan menunjukan belas kasihan-Nya (mercy) kepada mereka? &lt;br /&gt;
*Bagaimanakah caranya kepekaan kita terhadap murka Allah dapat memperdalam dan memberikan kepastian kita akan kasih-Nya? Apakah bab ini merupakan pengalamanmu juga?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== [[|]]&amp;lt;span class=&amp;quot;editsection&amp;quot;&amp;gt;[[http://gospeltranslations.org/index.php?title=This_Great_Salvation/Chapter_4&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=8 edit]]&amp;lt;/span&amp;gt; Bacaan yang Direkomendasi  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Knowing God'' by J.I. Packer (Downers Grove, IL: Inter- Varsity Press, 1973) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== [[|]]&amp;lt;span class=&amp;quot;editsection&amp;quot;&amp;gt;[[http://gospeltranslations.org/index.php?title=This_Great_Salvation/Chapter_4&amp;amp;action=edit&amp;amp;section=9 edit]]&amp;lt;/span&amp;gt; Catatan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-1 ↑] R.C. Lucas, ''The Message of Colossians and Philemon'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1980), p. 61. &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-2 ↑] Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p.47 &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-3 ↑] Bruce Milne, ''Know the Truth'' (Leicester, England: InterVarsity Press, 1982), p. 154. &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-4 ↑] From a tape by R.C. Sproul titled “Saved from the Wrath to Come” (Lake Mary, FL: Ligonier Ministries, 1991). &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-5 ↑] Bruce Milne, ''Know the Truth'', p. 154. &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-6 ↑] Answer Key: Judas 13 (absolute darkness-kegelapan yang total); Rev 21:8 (fire and burning – api dan terbakar); Lk &amp;amp;lt;st1:time hour=&amp;quot;16&amp;quot; minute=&amp;quot;24&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;16:24&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt; (thirst - kehausan); Mt &amp;amp;lt;st1:time hour=&amp;quot;22&amp;quot; minute=&amp;quot;13&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;22:13&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt; (weeping/gnashing of teeth –tangis dan gertakan gigi); &amp;amp;lt;st1:time hour=&amp;quot;14&amp;quot; minute=&amp;quot;11&amp;quot; w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Rev 14:11&amp;amp;lt;/st1:time&amp;amp;gt; (sleeplessness – tidak bisa tidur); Da 12:2 (shame and contempt – malu dan jijik). &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-7 ↑] From a tape by R.C. Sproul titled “The Innocent Native in Africa,” from the series ''Objections Answered'' (&amp;amp;lt;st1:place w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;st1:city w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;Lake Mary&amp;amp;lt;/st1:city&amp;amp;gt;, &amp;amp;lt;st1:state w:st=&amp;quot;on&amp;quot;&amp;amp;gt;FL&amp;amp;lt;/st1:state&amp;amp;gt;&amp;amp;lt;/st1:place&amp;amp;gt;: Ligonier Ministries). &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-8 ↑] John R.W. Stott, ''The Cross of Christ'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986), p. 109. &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-9 ↑] Ibid. &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-10 ↑] Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans, 1989), p. 153. &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-11 ↑] John R.W. Stott, ''The Cross of Christ'', p. 159. &lt;br /&gt;
#[http://gospeltranslations.org/wiki/This_Great_Salvation/Chapter_4#_ref-12 ↑] Peter T. O’Brien, ''Word Commentary—Colossians, Philemon'', p. 66.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;o:p&amp;amp;gt;&amp;amp;nbsp;&amp;amp;lt;/o:p&amp;amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:39:56 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar/Murka_Allah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar/Kekudusan Allah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar/Kekudusan_Allah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation/The Holiness of God}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasa cukup antusias ketika menghadiri pertemuan malam itu. Waktu seorang teman baik muncul, saya berteriak kepadanya dari seberang ruangan, “Ayo kemari, dalam nama Yesus!” Tak lama kemudian seorang pemuda lain secara diam-diam menghampiri saya dan mengungkapkan rasa prihatinnya bahwa saya telah menggunakan nama Yesus dengan cara yang tidak serius. Dengan wajah merah karena malu, saya bergumam, “Terima kasih kamu telah menunjukkan hal itu.” Jelas bahwa pemuda itu merasa prihatin terhadap saya secara pribadi. Saya juga tahu bahwa ia telah berkata benar dan bahwa ia telah menunjukkan rasa hormat yang lebih atas kemuliaan Tuhan daripada saya sendiri. Walaupun sesungguhnya saya tidak pernah bermaksud buruk, peristiwa tadi membuat saya sadar kalau saya telah menjadi terlalu terbiasa dengan nama Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak begitu pada mulanya. Pada saat pertobatan saya tiga tahun lalu, saya dicengangkan oleh kuasa Tuhan yang mengubah hidup saya. Pertemuan-pertemuan yang disertai kehadiran-Nya dan jawaban-jawaban doa yang luar biasa telah meyakinkan saya akan realitas Roh Kudus dan kasih Yesus Kristus. Siapa lagi yang dapat secara total menyembuhkan rasa depresi dan tanpa harapan yang telah menguasai saya? Namun ketika intensitas bulan-bulan pertama itu berangsur-angsur mereda menjadi iman yang lebih konsisten, sesuatu yang lain meresap masuk. Keagungan kemuliaan Allah telah terkikis oleh rasa familiar yang bertumbuh. Sudah saatnya untuk memikirkan ulang kekudusan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Tawarikh 16:23-36.''' Apakah anda menangkap adanya usaha keras rohani di dalam sikap Daud terhadap kekudusan Allah?}}Kukudusan. Kata itu sendiri membuat kita membayangkan pendeta-pendeta yang tidak tahu humor di dalam sebuah kuil tak berwarna yang sedang makan makanan tanpa rasa dan menjalani hidup tanpa sukacita. Atau mungkin wajah sedih, gaun panjang, dan daftar panjang berjudul “dilarang.” Tetapi bagaimana dengan keindahan? Apakah kata ‘kekudusan’ membangkitkan ide-ide tentang keindahan? Mungkin tidak. Namun keindahan adalah sebuah kualitas yang sering dihubungkan dengan kekudusan Allah. Di dalam kitab Mazmur kita didorong untuk menyembah Allah “dalam keindahan kekudusan” (Mzm 29:2; 96:9). Kukudusan dikatakan selamanya memperluas penampilan bait suci Allah: “Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya Tuhan, untuk sepanjang masa” (Mzm 93:5). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Alkitab menunjukkan penghargaan yang jelas dan positif terhadap kekudusan, kebanyakan dari kita tetap menyamakan kekudusan dengan kerja keras. Hanya dengan menyebut kata ‘kekudusan’ pikiran kita akan langsung tertuju pada hal-hal yang kita anggap sebagai tanggung jawab orang Kristen. Tetapi pengertian yang tepat akan kekudusan harus ditelusuri kembali ke sumber dari segala kekudusan – Allah sendiri. Dan saat kita memandang kekudusan Allah, kita tidak sedang berurusan dengan tanggung jawab manusia sama sekali melainkan dengan atribut Allah yang paling menarik dan mengagumkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ahli teologi Stephen Charnock menekankan bahwa di antara berbagai kualitas Allah, ada beberapa yang lebih kita sukai karena berkat-berkat yang bisa langsung kita dapatkan darinya. Misalnya, kita lebih memilih menyanyikan kemurahan Tuhan daripada memikirkan akan keadilan dan murka-Nya. Kita lebih cenderung untuk merenungkan Juru Selamat yang penyayang daripada memikirkan Tuhan yang pencemburu. Tapi ada beberapa sifat ilahi yang Tuhan sendiri nikmati karena sifat-sifat itu mengekspresikan kebesaran-Nya secara sempurna. Kekudusan adalah sifat itu.&amp;lt;ref&amp;gt;Stephen Charnock, ''The Existence and Attributes of God, Vol. II'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1979 reprint), p. 112.&amp;lt;/ref&amp;gt; Makhluk-makhluk surgawi yang misterius itu, serafim dan keempat mahluk hidup, mengetahui bahwa kekudusan Allah harus digaris bawahi. Coba pikirkan. Mereka tinggal di dalam hadirat-Nya dan memiliki penglihatan yang tanpa halangan akan realitas (sementara kita melihat melalui kaca gelas yang gelap). Kalau ada makhluk yang pernah “tahu,” merekalah makhluk itu. Dan oleh karena itu, berulang-ulang, siang dan malam, mereka tidak pernah berhenti bersorak, “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, yang Mahakuasa” (Yesaya 6:3, Wahyu 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan berbeda dari kesempurnaan Allah yang lain, karena kekudusan meluas ke seluruh sifat Allah lainnya. Karena itu kasih-Nya adalah kasih yang ''kudus'', keadilan-Nya adalah keadilan yang ''kudus'', dan seterusnya. Jika sifat-sifat Allah dapat dianggap sebagai bermacam sisi dari sebuah permata, maka kekudusan adalah cahaya gabungan dari sisi-sisi itu yang bersinar keluar dalam sinar kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Superstisi Keagamaan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Matius 5:17-20.''' Menurut anda dapatkah hal ini menjelaskan mengapa Perjanjian Baru mengandung 90 acuan pada kitab Imamat?}}Firman Tuhan berbicara banyak tentang kekudusan. Kitab pertama, Kejadian, memaparkan kejatuhan manusia. Lalu Keluaran, dengan figur utama lembu Paskah, menunjukkan pemulihannya. Selanjutnya adalah kitab Imamat. Ah, Imamat – kitab yang telah membuat banyak murid Alkitab yang penuh harapan menjadi tersendat dalam usaha tahunan mereka untuk membaca seluruh Alkitab. Namun buku ini sangat penting bagi pengertian kita akan kekudusan. Imamat juga memberikan penerangan penting mengenai korban penebusan Tuhan Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Adalah sesuatu yang selalu penting untuk mengingatkan diri kita sendiri akan keagungan kesempurnaan moral yang absolut, yang mengelilingi Pribadi Ilahi. Tanpanya, penyembahan sejati akan mengecil dan manusia akan menjadi arogan.&amp;lt;ref&amp;gt;T.C. Hammond, ''In Understanding Be Men'' (London, England: InterVarsity Fellowship, 1938).&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - T.C. Hammond}}Di dalam kitab Imamat Tuhan menunjukkan manusia bagaimana kita harus menghampiri-Nya dalam penyembahan. Kitab ini secara khusus fokus pada beberapa kurban yang berbeda yang Tuhan pinta agar umat-Nya dapat ''berdamai'' dengan-Nya, dan beberapa persiapan makanan yang Tuhan perintahkan agar mereka dapat ''terus berdamai'' dengan-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;Henrietta Mears, ''What the Bible Is All About'' (Ventura, CA: Regal Books, 1983), p. 51.&amp;lt;/ref&amp;gt; Betapapun membingungkan dan tidak relevannya sistem kurban yang rinci ini bagi kita sekarang, Tuhan mengadakan semua itu untuk mengajarkan umat-Nya sebuah kebenaran yang mendalam yaitu bahwa ''Ia kudus''. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata kekudusan menyiratkan keterpisahan dari segala sesuatu yang tidak murni.&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dia adalah ''sesuatu yang lain'' dari kita. Walaupun hal ini kelihatannya sederhana, tapi tetap harus dinyatakan karena adanya pemikiran-pemikiran masa kini tentang kekuatan “Era Baru” (“New Age”) dalam diri kita dan sifat keilahian yang dipercaya tertanam dalam diri manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Firman Tuhan, hal-hal yang biasa yang Tuhan sentuh menjadi luar biasa. Contohnya, area di sekeliling semak duri menyala ditandai sebagai tanah yang kudus karena merupakan tempat pewahyuan Allah dan karena itu adalah tindakan yang tepat bila Musa menanggalkan sandalnya karena rasa hormat kepada Allah. Atau pertimbangkan peralatan yang digunakan di dalam upacara di tabernakel dan bait suci. Peralatan itu tidak biasa pula. Peralatan itu kudus. Begitu pula persekutuan kudus, altar kudus, minyak urapan kudus, dan hari-hari kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang membuat semua itu kudus? Allah yang kudus. Tuhan memilih hal-hal yang biasa dan membuatnya menjadi spesial dengan memisahkannya untuk tujuan yang kudus, terutama untuk mengkomunikasikan kepada umat-Nya bahwa ''Ia'' kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Orang-orang Farisi menjalan superstisi keagamaan secara ekstrim, seperti dapat dilihat di Matius 23:16-22. Apakah Yesus memuji perbuatan mereka?}}Sayangnya, banyak orang yang tidak melihat point ini dan berakhir dengan superstisi bersifat religius. Satu kali, saya menerima telepon pada larut malam dari seorang wanita lanjut usia yang meminta saya untuk bertemu dengannya untuk berdoa. Wanita ini bersikeras ada hal yang tidak bisa ditunda dan kami harus bertemu malam itu di “rumah Tuhan.” Saya mengusulkan, mengingat waktu saat itu, tempat umum mungkin lebih pantas daripada gedung gereja yang kosong, tetapi ia tetap bersikeras agar kami bertemu di “rumah Tuhan.” Wanita ini telah salah dalam memberikan kualitas khusus yang hanya dimiliki oleh Tuhan kepada sebuah tempat. Ia tidak menyadari bahwa di jaman Perjanjian Baru ini, tidak ada satu tempatpun yang dengan sendirinya kudus – tidak juga “Tanah Suci” (the “Holy Land”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nabi Yeremia yang menyadari akan sikap yang sama di antara sesamanya menulis, “Janganlah percaya kepada perkataan dusta yang berbunyi: Ini bait Tuhan, bait Tuhan, bait Tuhan!” (Yer 7:4). Walaupun mereka memiliki rasa takut dan hormat pada struktur fisik bait suci, bangsa Israel yang terus mengulang “bait Tuhan” memiliki hati yang telah berpindah jauh dari Tuhan yang adalah Tuhan dari bait suci. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Perikop Alkitab di bawah ini mendemonstrasikan tiga kasus dimana rasa hormat untuk perkakas, acara ritual ataupun gedung keagamaan merusak hubungan antara manusia dengan Allah.  Di tempat di bawah setiap referensi, rangkum secara singkat masalah yang ada. &lt;br /&gt;
* Bilangan 21:6-9; 2 Raja-Raja 18:1-4&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Lukas 13:10-16&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
* Markus 13:1-2; Matius 26:59-62; Matius 12:3-6&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Saya melihat hal yang sama terjadi ketika satu pasangan muda-mudi yang belum diselamatkan dan tidak tertarik untuk mengikuti Yesus Kristus tapi menganggap adalah hal yang mutlak penting mereka menikah di gedung gereja. Apalagi sebabnya kalau bukan karena perasaan superstisius bahwa seolah-olah pernikahan akan diberkati apabila dilaksanakan di sebuah gedung “suci”? Meletakkan arti penting yang tidak sepantasnya pada gedung atau upacara atau perkakas keagamaan sama dengan tidak berbuat apa-apa untuk menunjukkan rasa hormat kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah, di dalam Firman Tuhan, memisahkan beberapa benda untuk penggunaan khusus, tetapi Ia memiliki maksud tertentu mengapa melakukannya – untuk mengajarkan kita bahwa ''Ia'' adalah kudus dan harus dihormati. Dengan alasan ini, maka, menggunakan benda-benda suci dengan cara yang biasa atau tidak hormat adalah perbuatan yang menghina Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 1 Samuel 6:19-20.''' Apakah rasa kagum campur heran anda terhadap Tuhan menyamai rasa kagum dan heran yang dialami orang-orang Bet-Semes?}}Bab kelima dari kitab Daniel menceritakan sebuah cerita yang tidak asing lagi tentang tulisan di dinding, ketika Tuhan menuliskan penghakiman ilahi-Nya terhadap raja Babel. Apa yang membangkitkan murka-Nya? Beltsazar telah mengotori apa yang Tuhan nyatakan kudus, seperti dikatakan Daniel, “Kemudian dibawalah perkakas dari emas dan perak itu, yang diambil dari dalam Bait Suci, Rumah Allah di Yerusalem, lalu raja dan para pembesarnya, para isteri dan para gundik mereka minum dari perkakas itu; mereka minum anggur dan memuji-muji dewa-dewa dari emas dan perak, tembaga, besi, kayu dan batu” (Dan 5:3-4). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Daniel dipanggil untuk menterjemahkan tulisan misterius itu, ia mengambil kesempatan untuk menegur keras sang raja. Perkataan terakhirnya menyimpulkan dosa Beltzasar: “tuanku tidak muliakan Allah yang menggenggam nafas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:23). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kegagalan Beltzasar untuk memuliakan benda-benda milik Tuhan sama dengan kegagalan untuk memuliakan Tuhan; hujatannya harus dibayar dengan hidupnya. Peristiwa seperti ini tersebar di seluruh Alkitab untuk mengingatkan apa yang bisa terjadi ketika seseorang memutuskan untuk bermain-main dengan perabot milik Tuhan. Apakah segera ataupun di penghujung jaman, penghakiman akan dilaksanakan bagi dosa terhadap kekudusan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== “Factor Pemecah”  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan sangatlah berbeda dengan kita. Meskipun kita diciptakan serupa peta dan teladan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya begitu sangat melampaui pikiran dan jalan kita sehingga Yesaya menyamakan keduanya seperti jarak antara langit dan bumi (Yes 55:8, 9). Mungkin di sinilah perbedaan itu menjadi begitu jelas sehubungan dengan kesempurnaan moral-Nya. Seperti Habakuk mengekspresikannya, “Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman” (Hab 1:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Betapa lamban kita untuk percaya pada Tuhan sebagai Tuhan, berdaulat, melihat segalanya dan berkuasa! Betapa kecil kita jadikan kemuliaan Tuhan dan Juru Selamat kita Yesus Kristus! Kita perlu ‘menantikan Tuhan’ dalam meditasi akan kemuliaan-Nya, sampai kita menemukan kekuatan kita diperbaharui dengan mengukir semua itu di dalam hati kita.&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''Knowing God'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1973), p. 79.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - J.I. Packer}}Kukudusan mutlak Allah jauh melampaui sekedar ketidakberdosaan. Kekudusan ini adalah ekspresi positif dari kebaikan-Nya, bukan hanya ketidakberadaan dosa. Kita semua pernah bertemu orang-orang yang karakternya bersinar jauh lebih terang daripada kita sendiri sehingga kita merasa kecil dan hina bila dibandingkan dengan mereka. Saya memiliki seorang teman yang, sebelum ia mencukur jambangnya, terlihat seperti gabungan antara Abraham Lincoln dan Yesus (seperti digambarkan di ilustrasi kontemporer). Kemiripan ini bukan hanya dalam soal penampilan fisik. Kebaikan hatinya dan hikmatnya yang lembut sungguh luar biasa. Meskipun ia sedih mengetahui hal ini, berada bersamanya mengingatkan saya akan sifat mementingkan diri saya sendiri. Bila perbandingan dengan sesama manusia saja bisa membuat kita merasa begitu rendah, bayangkan perasaan tidak nyaman yang akan kita rasakan di dalam kehadiran Allah yang kudus! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Bila anda menginginkan wahyu baru dari kekudusan dan kekuatan kedaulatan Allah, cobalah pelajari kata pendek ini: “bergetar” - Keluaran 15:13-16; Ayub 9:4-6; Mazmur 99:1-3; Yesaya 64:1-4; Yeremia 23:9; Yehezkiel 38:20-23; Yoel 3:16; Habakuk 3:6..}}Hal inilah yang terjadi pada Petrus. Yesus mencengangkan Petrus di suatu hari dengan mujizat penangkapan ikan. Tapi bukannya bersukacita di atas kapal, yang dapat Petrus lihat hanyalah keadaan dirinya sendiri yang penuh dosa. Saat berhadapan dengan kekudusan Yesus, Petrus melihat dirinya sendiri seperti apa adanya, dan kenyataan itu sangat menghancurkan. “Simon Petrus…tersungkur di depan Yesus dan berkata, ‘Tuhan, pergilah daripadaku, karena aku ini seorang berdosa!’” (Luk 5:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak dibutuhkan waktu lama bagi Petrus untuk melupakan kekudusan Tuhan, seperti kita lihat di pasal selanjutnya di gunung transfigurasi. Peristiwa agung ini mencatat kunjungan dua tokoh terkemuka dari masa lalu Israel, Musa dan Elia. Tambah lagi, Yesus yang bertransfigur menjadi terang berkilauan seperti kilat. Tapi Petrus, bukannya tersungkur di hadapan Tuhan seperti yang ia lakukan sebelumnya, nampak tidak sadar akan apa yang sedang terjadi. {{RightInsert|Bacalah deskripsi Yohanes tentang Yesus Kristus di kitab Wahyu 1:10-16. Detail apa yang menarik perhatian anda paling jelas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Ia menjadi banyak bicara dan mengusulkan mungkin mereka dapat membuat kemah sementara untuk setiap orang. Saat itulah Allah Bapa turun tangan secara pribadi. “Sementara [Petrus] berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, ‘Inilah anak-Ku yang Kupilih; dengarkanlah Dia.’” (Luk 9:34-35). Hal ini sepertinya membuat Petrus dan yang lainnya tersadar, seperti Matius tekankan, “Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan” (Mat 17:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Ketika penghakiman (Tuhan) jatuh pada Nadab atau Uzzah, respon kita adalah keterkejutan dan amarah. Kita telah mengharapkan Tuhan untuk bermurah hati. Dari sana, langkah selanjutnya adalah mudah: kita menuntutnya. Saat hal itu tidak muncul, respon pertama kita adalah marah terhadap Tuhan, ditambah dengan protes: “Ini tidak adil.” Kita cepat melupakan bahwa dengan dosa pertama kita, kita telah menyerahkan segala hak atas anugerah kehidupan. Bahwa saya bernafas pagi ini adalah sebuah kemurahan ilahi. Tuhan tidak berhutang apapun pada saya. Saya berhutang segala-galanya pada-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 164.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; -R.C. Sproul}}Nabi Yesaya memiliki pengalaman dramatis yang membekas dalam dirinya selamanya. Ia melihat visi Tuhan “duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubahnya memenuhi Bait Suci” (Yes 6:1). Di dalam penglihatan ini makhluk-makhluk malaikat mendeklarasikan kekudusan Allah yang begitu besar. “Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu penuhlah dengan asap” (ayat 4). Sepenuhnya dibuat tak berdaya oleh penglihatan luar biasa itu, Yesaya memberi satu-satunya respon yang layak, “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (ayat 5). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perikop-perikop berikut ini menceritakan pertemuan dengan malaikat - Bilangan 22:21-31; Hakim-Hakim 6:20-23; Matius 28:2-4; Lukas 2:8-10.}}Beberapa orang menamakan pengalaman Yesaya “faktor pemecah.” R.C. Sproul menulis, “Untuk pertama kali dalam hidupnya Yesaya mengerti siapa Tuhan itu. Pada saat yang sama, untuk pertama kalinya Yesaya mengerti siapa Yesaya itu.” Jika kata “intergritas” berarti keseluruhan (integer adalah angka penuh), disintegrasi berarti pecah menjadi butiran-butiran. Kebanyakan dari kita mencoba keras menjadikan hidup kita “utuh.” Dan kalaupun kita luluh berantakan, setidaknya kita kelihatan seolah “utuh.” Betapa menyedihkannya, lalu, untuk berada di hadirat Allah dan luluh berantakan sepenuhnya saat kita menemukan betapa dalamnya keberdosaan kita sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Menghampiri Allah yang Kudus  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengenalan akan keberdosaan pada mulanya menghasilkan perasaan benci terhadap Tuhan. Hampir dalam setiap peristiwa Alkitab tentang kunjungan malaikat, individu-individu yang bersangkutan jatuh tersungkur karena ketakutan. {{LeftInsert|&amp;quot;Tuhan adalah satu-satunya penghiburan, Ia juga adalah teror terbesar: sesuatu yang kita paling butuhkan dan sesuatu yang darinya kita paling ingin sembunyi…Sebagian orang berbicara seolah bertemu pandang dengan kebajikan mutlak adalah menyenangkan. Mereka perlu berpikir ulang. Mereka masih bermain-main dengan agama.&amp;lt;Ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''Mere Christianity'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1943), p. 38.&amp;lt;/Ref&amp;gt;&amp;quot; - C.S. Lewis}}Betapa lebih lagi mereka yang melihat Allah di dalam keagungan kekudusan-Nya. Bangsa Israel yang berdiri di Gunung Sinai saat gunung itu bergetar dengan kehadiran kudus Allah memohon kepada Musa untuk menjadi perantara mereka, penengah mereka. Musa memperingatkan mereka akan hal ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ketika kamu mendengar suara itu dari tengah-tengah gelap gulita, sementara gunung itu menyala, maka kamu, yakni semua kepala sukumu dan para tua-tuamu mendekati aku dan berkata, “Sesungguhnya Tuhan, Allah kita telah memperlihatkan kepada kita kebesaran dan kemuliaan-Nya, dan suara-Nya telah kita dengar dari tengah-tengah api. Pada hari ini telah kami lihat, bahwa Allah berbicara dengan manusia dan manusia itu tetap hidup. Tetapi sekarang, mengapa kami harus mati? Sebab api yang besar ini akan menghanguskan kami. Apabila kami lebih lama lagi mendengar suara Tuhan, Allah kita, kami akan mati. Sebab makhluk manakah yang telah mendengar suara dari Allah yang hidup yang berbicara dari tengah-tengah api seperti kami dan tetap hidup? Mendekatlah engkau dan dengarkanlah segala yang difirmankan Tuhan, Allah kita, dan engkaulah yang mengatakan kepada kami segala yang difirmankan kepadamu oleh Tuhan, Allah kita, maka kami akan mendengar dan melakukannya” (Ul 5:23-24).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Di dalam The Chronicles of Narnia, pengarang C.S. Lewis menggunakan singa yang mulia Aslan untuk menggambarkan Yesus. Pada satu saat, sebuah karakter berbicara tentang Aslan, “Sepertinya ia bukan singa yang jinak.”&amp;lt;ref&amp;gt;C.S. Lewis, ''The Voyage of the “Dawn Treader”'' (New York: Macmillan Publishing Co., Inc., 1952), p. 138.&amp;lt;/ref&amp;gt; Dapatkah anda memikirkan contoh-contoh dari Alkitab atau interaksi anda sendiri dengan Tuhan yang menunjukkan bahwa Ia tidaklah “jinak”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}Satu kali saya mendengar John Wimber berbicara tentang orang-orang yang tidak menginginkan hubungan dengan Tuhan karena mereka menganggapnya terlalu berbahaya. Mereka lebih memilih hubungan dengan Kekristenan atau dengan gereja. Sementara hal ini tak diragukan memang benar bagi sebagian orang, seorang Kristen sejati memiliki kerinduan untuk menjadi kudus. Ia mengetahui bahwa hanya orang yang suci hatinya akan melihat Allah (Mat 5:8), dan ia memiliki kerinduan akan kesucian itu yang akan memampukannya untuk memandang Allahnya. Bagi orang Kristen dewasa, pengenalan akan kekudusan Allah meyakinkannya akan kasih Allah. Ia menyadari, meskipun adanya kekudusan Allah dan keberdosaannya sendiri, Tuhan bersabar terhadap dirinya. Ia layak menerima penghakiman tetapi malah menerima kemurahan yang baru setiap pagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dapat menganggap bahwa usaha kita untuk menjalani hidup Kekristenan memang lemah adanya, tetapi bila kita memiliki kerinduan untuk kekudusan kita bisa terhibur. Allah-lah yang telah meletakkan kerinduan itu di sana dan Ia pasti akan menggenapinya. Namun bagaimana? Bagaimana kita bisa memenuhi perintah Allah yang sepertinya tidak mungkin, “Kuduslah, sebab Aku kudus” (1 Ptr 1:16)? Bagaimana kita bisa menghampiri “Penguasa yang satu-satunya dan yang penuh bahagia, Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan. Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, ''bersemayam dalam terang yang tak terhampiri''. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia” (1 Tim 6:15-16, penekanan ditambah)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Ibrani 10:19-23.''' Bagaimana Imam Agung kita telah menulis ulang tentang peraturan untuk memasuki tempat maha kudus?}}Kita harus menghampiri dengan rasa gentar, seperti digambarkan jelas melalui pelayanan imam di Perjanjian Lama. Agar imam dapat menghampiri Allah, terdapat peraturan-peraturan yang telah ditetapkan secara ketat. Seseorang tidak dapat memasuki tempat maha kudus kapan saja ia mau. Imam akan memasuki tempat maha kudus hanya sekali setahun yaitu pada Hari Penebusan. Pertama ia harus mempersembahkan kurban bagi dirinya sendiri, darah kurban itu menjadi peringatan atas dosanya dan atas kekudusan Allah. Kemudian ia harus berpakaian khusus. Di salah satu ujung jubahnya, terdapat selang seling lonceng dan buah delima yang akan menimbulkan bunyi untuk membuktikan bahwa ia masih hidup, bahwa ia belum binasa karena kekudusan Allah. Menurut tradisi, sebuah tali yang panjang diikatkan pada si imam supaya bila ia mati di hadirat Tuhan imam-imam lainnya dapat menariknya keluar tanpa harus masuk ke dalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Oh orang berdosa, dapatkah engkau memberi alasan mengapa, sejak engkau bangkit dari tempat tidurmu pagi ini, Tuhan tidak menghantammu mati?&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, “Sinners In the Hands of An Angry God.”&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Jonathan Edwards}}Peraturan rumit dan detail ini adalah sebuah peringatan yang jelas: Jangan bermain-main dengan kekudusan Allah. Kedua putra Harun Nadab dan Abihu mendapatkan pelajaran ini secara keras. Ketika mereka mencoba cara baru untuk membakar dupa di hadapan Tuhan, “maka keluarlah api dari hadapan Tuhan lalu menghanguskan keduanya sehingga mereka mati di hadapan Tuhan” (Im 10:2). (Tak perlu dikatakan lagi, itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan sesuatu yang baru). Pada momen yang membuat mereka tersadar itu, Musa mengingatkan Harun akan firman Tuhan: “Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku” (Im 10:3). Tidak ada bagian Alkitab yang lebih baik merefleksikan pusat pewahyuan Perjanjian Lama, seperti yang disimpulkan oleh Salomo: “Takut akan Tuhan adalah permulaan hikmat” (Ams 1:7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rasa gentar adalah esensial, tapi kita tidak akan pernah dapat mendekati hadirat Allah yang kudus apabila bukan karena Perantara kita, Yesus Kristus sendiri. Perantara adalah seorang yang menjembatani jurang antara dua pihak yang berseteru. Dosa kita telah mengasingkan dan membuat murka Allah. Namun hal itu tidak membuat-Nya berhenti mengasihi kita. Kekudusan-Nya sama sekali tidak menyiratkan keengganan-Nya untuk menerima kita. Sebaliknya, Ia mengambil inisiatif mengutus Anak-Nya untuk menjauhkan dosa-dosa kita sehingga di dalam Kristus kita boleh menghampiri hadirat-Nya dan menikmati-Nya selamanya. Seperti dijelaskan oleh Paulus kepada umat di Korintus, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus” (2 Cor 5:19). Yesus Kristus, sebagai perantara kita, menderita penghukuman atas ketidaktaatan kita sehingga memungkinkan perdamaian kembali. Tetapi keselamatan adalah keinginan gabungan dan usaha bersama antara Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kekudusan Allah mengajarkan kita bahwa hanya ada satu cara untuk berhadapan dengan dosa – secara radikal, serius, menyakitkan, konstan. Bila engkau tidak hidup demikian, engkau tidak hidup di hadirat Dia yang Kudus dari Israel.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1985), p. 130.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Biarkan saya menawarkan satu masukan terakhir dari imam Perjanjian Lama. Merupakan tanggung jawab seorang imam untuk menjadi penghubung antara Allah dan manusia. Di bagian bahu dari jubah imam terdapat permata krisopras yang berukir enam nama suku Israel. Di bagian tutup dada jubah terdapat duabelas batu permata yang berbeda, masing-masing untuk keduabelas suku Israel. Ketika ia memasuki tempat maha kudus, imam secara simbolik membawa umat Tuhan di atas bahunya dan di dalam hatinya. Dalam jaman Perjanjian Baru, tentu saja Yesus adalah Imam Besar Agung kita. Begitu besar kasih-Nya buat kita sehingga Ia juga menggendong kita di atas bahu-Nya, menanggung beban kita, dan sebagai teman yang berbelas kasihan, menyimpan kita dekat dengan hati-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Yesaya 57:15.''' Mengapa Allah kita yang kudus memilih tempat bersemayam kedua di ayat ini?}}Mengenal Yesus sebagai mediator kita memampukan kita untuk melihat Allah bukan hanya sebagai api yang menghanguskan tetapi sebagai Bapa yang kepada-Nya kita telah didamaikan.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Expository Thoughts on the Gospels: Luke'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1985), p. 71.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kita harus berusaha untuk mengenal dan menghargai pelayanan vital Tuhan kita Yesus. Memahami pentingnya peran Yesus sebagai Imam akan menimbulkan rasa terima kasih yang tulus serta rasa sadar yang lebih besar akan semua yang Tuhan telah lakukan untuk kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Kita Beroleh Bagian  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu dari janji Firman Tuhan yang paling mengagumkan adalah jaminan bahwa kita akan berbagi dalam kekudusan Allah: “Sebab ayah kita mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya” (Ibr 12:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan 2 Korintus 7:1.''' Apakah motif kita mengejar kekudusan? Apa metode kita?}}Bila kita berpikir secara serius tentang kekudusan Tuhan kita, sepertinya tidak dapat dipercaya kita dapat mengalami hal seperti itu. Tapi itulah apa yang ayat dari Ibrani ini nyatakan dengan jelas. Sepasti Tuhan mendisiplin anak-anak-Nya (dan ayat tadi sangat pasti tentang itu), kita akan menikmati sebagian dari kekudusan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Kekudusan bukanlah sebuah pengalaman; kekudusan adalah penyatuan kembali karakter kita, pendirian lagi akan sebuah kehancuran. Kekudusan adalah usaha keras yang trampil, proyek jangka panjang, menuntut segala sesuatu yang Tuhan telah berikan pada kita untuk hidup dan kesalehan.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''A Heart for God'', p. 129.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; - Sinclair Ferguson}}Bahwa janji ini melibatkan disiplin seharusnya tidak membuat kita marah atau jengkel. Disiplin adalah metode Tuhan yang telah terbukti dalam menyempurnakan anak-anak-Nya, dan jenis displin Tuhan membutuhkan partisipasi aktif kita. Pasal keduabelas dari Ibrani ini menuntut usaha keras dari pihak kita. Perhatikan bahasa mengenai usaha yang dipakai penulis: “menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita” (ayat 1)…”berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita” (ayat 1)…”Dalam pergumulan kamu melawan dosa” (ayat 4)…”menanggung kesusahan” (ayat 7)…”kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah” (ayat 12)…”Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan; sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan” (ayat 14, penekanan ditambahkan). Disiplin Bapa kita mungkin akan terasa menyakitkan untuk sementara waktu, tapi hal itu memperlengkapi kita untuk menjalani keabadian bersama Allah yang kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Semua disiplin rohani yang terdaftar di bawah dapat membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan pribadi. Beri tanda satu disiplin dimana anda merasa paling kurang.&lt;br /&gt;
* Pemahaman Alkitab&lt;br /&gt;
* Doa&lt;br /&gt;
* Pengakuan dosa/akuntabilitas&lt;br /&gt;
* Penyembahan&lt;br /&gt;
* Puasa&lt;br /&gt;
}}Yakub adalah seorang yang tentunya telah mengalami kesulitan hidupnya sendiri, banyak di antaranya disebabkan oleh dirinya sendiri. Tetapi di penghujung hidupnya dia bukan lagi Yakub. Namanya adalah Israel. Selama perjalanan terjadi perubahan nama dan juga perubahan karakter. Ia berjalan timpang, bertumpu pada tongkatnya, dan menyembah Allah sebagai Yang Kudus (Ibr 11:21). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia mengatakan, “Karena kemurahan Tuhan kita tidak binasa” (Rat 3:22). Kita layak mendapat perlakuan yang tidak lebih baik dari yang Nadab dan Abihu terima. Tetapi jauh daripada dihanguskan, kita menemukan diri kita sebagai objek kasih ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin situasi ini paling jelas diilustrasikan pada keadaan sekitar pertobatan Saul dari Tarsus. Ia adalah seorang yang dengan bersemangat menganiaya gereja awal, bertanggung jawan atas kematian banyak pria dan wanita pengikut Yesus Kristus. Ketika Saul dalam perjalanan dinasnya ke Damaskus untuk menemukan dan menghukum orang-orang Kristen, Tuhan sendiri secara dramatis turun tangan dan menghentikan aktivitasnya. Dalam menceritakan peristiwa ini kepada Raja Agripa bertahun-tahun kemudian, Paulus berkata: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:“tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani, ‘Saulus, Saulus mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang ke galah rangsang.’ Tetapi aku menjawab, ‘Siapa Engkau Tuhan?' Kata Tuhan, ‘Akulah Yesus, yang kauaniaya itu. Tetapi sekarang bangunlah dan berdirilah. Aku menampakan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kau lihat daripada-Ku dan tenang apa yang akan Aku perlihatkan kepadamu nanti’” (Kis 26:13-16).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk studi lebih lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Bacalah bagaimana Harun memimpin bangsa Israel dalam penyembahan berhala sementara Musa sedang bertemu Tuhan (Kel 32:1-10, 19-28). Bandingkan hal ini dengan penyucian Harun sebagai imam yang akhirnya dilakukan oleh Tuhan (Kel 39:27-31, 40:12-16). Apakah Harun mendapatkan yang pantas ia terima?}}Adalah menarik bahwa Saul keluar dari peristiwa ini hidup-hidup. Tuhan bisa saja sepenuhnya dibenarkan bila Ia menghancurkan Saul saat itu juga di tengah jalan Damaskus. Namun bukannya menerima keadilan di tangan Yang Kudus yang ia aniaya, Saul mengalami kasih Tuhan yang agung dan penerimaan. Ia bahkan menerima amanat untuk melayani sebagai duta bagi Dia yang telah ia tentang dengan keras. Betapa anugerah yang mengagumkan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kekudusan Allah memang memisahkan Dia dari kita, sejauh langit dari bumi. Tapi puji Tuhan, hal ini tidak menghalangi-Nya untuk menggapai dan mengubah Yakub-Yakub menjadi Israel-Israel dan Saul-Saul menjadi Paul-Paul. Nama kita mungkin tidak akan pernah berubah, tapi transformasi di dalam diri kita adalah pasti, dijamin, saat kita berhadapan dengan kekudusan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Bagaimana anda mendefinisikan penghujatan? Beri contoh-contoh bagaimana orang Kristen maupun bukan Kristen menghujat Allah? &lt;br /&gt;
#Menurut si pengarang, mengapa Tuhan menguduskan banyak peralatan di dalam Perjanjian Lama? &lt;br /&gt;
#Dari semua murid, Yohanes adalah yang terdekat dengan Yesus. Mengetahui ini, apakah yang signifikan dari reaksi Yohanes atas penglihatannya akan Yesus di Wahyu 1:10-17? &lt;br /&gt;
#Apakah kekudusan Allah sudah menyebabkan anda mengalami “faktor pemecah” secara pribadi? &lt;br /&gt;
#Atribut Allah yang manakah yang bagi anda paling menarik? Paling mengintimidasi? &lt;br /&gt;
#Jenis-jenis perbuatan yang seperti apakah yang mungkin mengindikasikan bahwa seorang Kristen telah menjadi terlalu biasa dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
#Apakah menurut anda adil bagi Tuhan untuk menghukum mati seseorang? &lt;br /&gt;
#Disiplin rohani yang manakah yang anda pilih di Pertanyaan 4 di halaman ini? Bagaimana anda dapat mengembangkan disiplin ini? &lt;br /&gt;
#Tingkat kekudusan yang seperti apa yang dapat kita harapkan dalam hidup ini? &lt;br /&gt;
#Apakah pembahasan bab tentang kekudusan ini membuat anda takut pada Allah atau aman di dalam-Nya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Holiness'' by J.C. Ryle (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1979. Originally published in 1879.) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Holiness of God'' by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Knowledge of the Holy'' by A.W. Tozer (Camp Hill, PA: Christian Publications, Inc., 1978) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;&lt;br /&gt;
[[Category:Sovereign Grace Ministries]]&lt;br /&gt;
[[Category:C.J. Mahaney]]&lt;br /&gt;
[[Category:Robin Boisvert]]&lt;br /&gt;
[[Category:The Gospel]]&lt;br /&gt;
[[Category:Bahasa Indonesia]]&lt;br /&gt;
&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:39:41 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar/Kekudusan_Allah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar/Buah-buah dari Kebenaran (II)</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar/Buah-buah_dari_Kebenaran_(II)</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation/The Fruits of Justification (II)}}&amp;lt;center&amp;gt;&lt;br /&gt;
{| width=&amp;quot;75%&amp;quot; style=&amp;quot;border: 1px solid rgb(170, 170, 170); margin: 0pt 1px; padding: 0.2em; clear: both; border-collapse: collapse; font-size: 13px; font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif;&amp;quot;&lt;br /&gt;
|- valign=&amp;quot;top&amp;quot; style=&amp;quot;background-color: rgb(248, 248, 248);&amp;quot;&lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;padding: 5px; background-color: rgb(89, 90, 44); text-align: center; width: 10px;&amp;quot; | &amp;amp;nbsp; &lt;br /&gt;
| style=&amp;quot;padding: 10px; text-align: center; width: 50px;&amp;quot; | [[Image:Broom.png|A broom]] &lt;br /&gt;
| valign=&amp;quot;middle&amp;quot; style=&amp;quot;padding-left: 10px; text-align: left;&amp;quot; | &lt;br /&gt;
This page may need clean-up to meet our quality standards. Please consider helping by '''[[GospelTranslations:Reviewing|reviewing the translation quality]]''' and editing the page to meet our '''[[GospelTranslations:Formatting|formatting standards]]'''. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&amp;lt;/center&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;includeonly&amp;gt;[[Category:Incomplete]] [[Category:Needs Attention]]&amp;lt;/includeonly&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bab terakhir kita membahas secara singkat hubungan unik yang kita nikmati sekarang. Saya membicarakan fakta tentang Tuhan telah menjadi Bapa kami. Apakah kamu ingat teman kita yang melihat dengan sedih dari kamar penjara yang tidak dikunci? Jika dia mau hanya menoleh kebelakang, dia akan melihat lebih dari pintu yang terbuka. Dia akan melihat seorang Bapa menunggu untuk menerima dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya dengan jelas mengingat suatu Sabtu pagi dengan bapa saya. Kita berdua sedang duduk di dapur meja ketika telepon berbunyi. Saya masih seorang anak muda saat itu dan jauh dari Tuhan. Saat saya menjawab telepon, hati saya ciut. Si penelepon mengidentifikasikan diri dia sebagai seorang ditektif dengan Montgomery Country Police Department, Glenmont Station. Dengan memakai terminologi polisi, dia memberitahukan kepada saya bahwa saya lagi dipantau karena pemakaian obat terlarang (marijuana) di suatu rumah di malam sebelumnya (hal ini benar). Saya di tangkap dan diperintahkan untuk menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapa saya tahu dari ekspresi saya kalau ada sesuatu yang tidak beres. “Ada apa?” dia bertanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya cuma bisa menjawab dengan singkat, “Saya tertangkap.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terjadi selanjutnya adalah suara tawa dari ujung telepon. Saya dikerjai oleh beberapa teman saya. Si perusak undang-undang juga adalah seorang yang bodoh. Baru saya sadari kalau polisi tidak menangkap orang lewat telepon. Sebagai tanda hormat, mereka lakukan itu secara langsung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak akan melupakan lelucon itu, apa yang memberi kesan lebih mendalam adalah jawaban bapa saya. Dia bisa memarahi saya karena membuat malu. Tapi, tindakan pertama dia adalah menyatakan kasih dan dukungan untuk saya. Itu sangat mempengaruhi saya. Saya tidak ragu kalau bapa akan mengambil tempat saya dan hukuman jika mungkin. Kesetiaan dia adalah kebalikan dari apa yang saya layak terima. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|“Engkau telah menciptakan kita untuk diri sendiri, O Tuhan, dan hati kita gelisah sampai kita menemukan peristirahatan di dalam Engkau.” - Augustine}}Yesus bercerita tentang seorang anak yang bodoh, setelah dengan egois dan tidak dewasa menuntut bagian dia dari harta warisan keluarga, yang kemudian dipakai habis. Setelah dia akhirnya menghabiskan semuanya, anak yang hilang ini memutuskan untuk pulang ke bapanya dan meminta kesempatan, bukan untuk menjadi seorang anak, tetapi menjadi seorang pembantu. ‘Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa. Aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.’ (Lukas 15:18-19). Bapanya berhak untuk mengejek dan menolak anaknya, walaupun diterima sebagai pekerja saja adalah tanda dari suatu kemurahan. Tetapi, dia menunggu kepulangannya dengan semangat dan menyambut dia dengan hadiah dan pesta. Kemurahan Tuhan digambarkan di cerita ini dimana sang bapa memberikan kasih, pengampunan dan penerimaan kepada anaknya- tidak diharapkan dan layak diterima oleh anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai sekarang pelajaran kita tentang kebenaran menghasilkan bukti yang tidak bisa ditolak bahwa ini adalah keselamatan yang luar biasa. Kita telah belajar bagaimana berperang dengan pengaruh tuduhan dan kesusahan. Kita telah diarahkan ke pokok bahasan dosa kita, kekudusan dan kemurkaan Tuhan. Kita telah melihat secara dekat kepada Kayu Salib, dimana Penyelamat kita menderita kutukan yang layak kita terima supaya kita dibenarkan dihadapan Tuhan. Disana Dia mendapatkan damai buat kita dengan Dia yang telah menjadi obyek permusuhan kita; pengampuan dari Dia yang telah kita berdosa kepada dan penyatuan dengan Dia yang memberi kekuatan kepada kita saat kita melawan kejahatan. Sekarang kita menyimpulkan dengan melihat dua aspek terakhir dari warisan didalam didalam Yesus Kristus: adopsi dan harapan kemuliaan yang akan datang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Menampakan Bapa  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teologi alkitabiah mengajarkan kita untuk mengharapkan pengwujudan wahyu di dalam alkitab. Sebagai contoh, kisah yang misteri di Kejadian 3 tentang keturunan seorang perempuan yang meremukkan kepala ular menjadi terbuka dan nyata di Perjanjian Baru dengan deklarasi penyaliban Yesus Kristus dan kemudian kebangkitan. Sama dengan ini, Perjanjian Lama memberi kita gambaran yang luas apa yang menjadi pusat wahyu dari Perjanjian Baru: kebapaan dari Tuhan. Secara pasti, ada ayat-ayat yang membicarakan Israel sebagai anak pertama Tuhan dan juga bagian lain dari kebenaran ini. Tapi walau demikian ide ini biasanya dimaksudkan sebagai pengertian kebangsaan. Dia adalah Bapa dari bangsa Israel bukan individu-individu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|insert John the Apostle text here}}Sebagian besar, Perjanjian Lama mengambarkan Tuhan bukan sebagai Bapa kita, tetapi sebagai Raja yang mengagumkan dan kudus. Tentu saja, Tuhan adalah selalu Bapa dan Yesus adalah selalu Tuhan, anakNya. Tetapi itu penting untuk Yesus datang dan memperlihatkan Tuhan sebagai Bapa untuk kita karena, seperti Yohanes menjelaskan di dalam injil dia, Yesus adalah satu-satunya berkualitas melakukanNya. “Tidak ada yang pernah melihat Tuhan, tetapi Tuhan satu-satunya yang ada di sisi Bapa, telah memperlihatkan dia.” (Yohanes 1:18) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Meditasi Yohanes 6:1-11.'''Hukuman apa yang layak diterima perempuan ini akan dosa dia? Apa yang dia terima?}}Di ayat ini, “made him known” (membuat dia diketahui) di dalam bahasa Yunani adalah kata dimana kita dapatkan ‘exegesis’ (penafsiran). ‘Exegesis’ artinya untuk menjelaskan atau mengulangi fakta-fakta mengenai sesuatu. Seperti contoh, menjelaskan bagian dari Alkitab adalah mengajarkan nya sedemikan rupa dengan membuka arti satu persatu. Yesus, duduk di sisi Bapa, suatu tempat yang sangat intim dan lemah lembut, adalah tempat yang paling tepat untuk mengenal Bapa dengan sempurna. Dan bagian penting dari ministri Yesus adalah membuat Dia dikenal oleh kita. Dia telah memberikan kebenaran ini secara efektif kepada murid-muridnya dan injil-injil terus memberikan itu kepada kita hari ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Gereja kamu merasa diarahkan untuk mendekati pulau terpencil di Pasifik Selatan. Karena engkau adalah satu-satunya yang berbahasa dialek Polinesia, engkau mendapatkan diri anda terjun ke tengah-tengah orang desa. Lima atribut Tuhan apa yang pertama-tama akan kamu “exegete” (jelaskan) kepada suku ini?&lt;br /&gt;
•____________________________________&lt;br /&gt;
•____________________________________&lt;br /&gt;
•____________________________________&lt;br /&gt;
•____________________________________&lt;br /&gt;
•____________________________________}}Setiap kali Yesus mereferensikan Tuhan sebagai BapaNya, Dia membuat apa yang pada saat itu adalah tuntutan yang revolusional. Tidak semua orang menghargai itu. Farisi terlebih-lebih membenci Yesus karena dengan mengatakan Tuhan itu BapaNya, Dia telah memberi suatu kesan bahwa Dia itu sama dengan Tuhan. Tetapi ayat diatas telah membuat jelas bahwa Yesus punya hak untuk ‘exegete’ (menjelaskan) Tuhan. Tentu saja, itu tidak mungkin untuk tidak Dia lakukan. Karena Dia adalah dari essence (pokok/pribadi) yang sama dengan Bapa dan Roh Kudus, Yesus menerangkan identitas Tuhan saat Dia mengungkapkan diri Dia sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Point yang terakhir ini memerlukan perhatian singkat. Apakah hubungan antara Tuhan Bapa dan Tuhan Anak? Augustine, seorang teologi yang paling mempengaruhi gereja awal, mengkategorikan ajaran alkitab pada hubungan ini ke dalam tiga kelompok: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Ayat-ayat yang memperlihatkan Yesus lebih rendah dari Bapa Dia karena inkarnasi Dia. Dia dengan rela menyampingkan kemuliaan Dia (Filipian 2:5-8) dan dilahirkan sebagai bayi. Sebagai akibat Dia mengalami kelaparan, kehausan, kelelahan dan kelemahan yang lain yang Bapa Dia tidak pernah tahu. Di dalam kondisi manusia ini, Yesus tahu Bapa Dia adalah lebih besar, dan dia rela mencari dan menunduk pada pengarahan Bapa Dia. Kita menemukan contoh yang jelas di dalam taman Getsemani. Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: &amp;quot;Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.&amp;quot; (Matius 26:39). &lt;br /&gt;
*Ayat-ayat itu mengajarkan kita Yesus, sebelum pondasi dunia, adalah bersama Bapa tapi berbeda dari Dia. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah “(Yohanes 1:1)” ‘Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:2) &lt;br /&gt;
*Ayat-ayat itu yang memperlihatkan Bapa dan Anak bukan Tuhan yang terpisah, tetapi adalah dari satu essence (pokok/pribadi). “Saya dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk pembahasan selanjutnya:'''Baca Ulangan 6:4 dan kamu akan mengerti kenapa Farisi menuduh Yesus mengfitnah ketika dia mengakui Tuhan adalah Bapa Dia. Ayat-ayat apakah kamu temukan di Perjanjian Baru yang membahas tentang Tritunggal?}}Apakah kamu mau mengenal tentang Bapa? Lihatlah kepada Yesus. Di malam hari saat perjamuan kudus, Filipus bertanya &amp;quot;Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.&amp;quot; Yesus menjawab “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohannes 14:8-9). Apakah kamu mau tahu jalan Bapa? Lihatlah kepada Yesus. &amp;quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.“ (Yohannes 5:19). Apakah kamu mau menambah pengetahuan tentang Bapa? Lihatlah kepada Yesus. “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah“ (Hebrew 1:3) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberi definisi baru hubungan kita dengan Tuhan. Di dalam waktu pribadi&amp;lt;br&amp;gt;dengan murid-murid Dia setelah kematianNya, Yesus berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.“ (Yohannes 15:15). Melalui pengajaran hukum Taurat orang Yahudi belajar untuk takut akan Tuan yang keras dan tidak ramah. Melalui hidup dan kematiaan Yesus kita akan dibenarkan kepada Bapa yang Maha Kasih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Adopsi: Obat penawar kita dari kerisauan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hubungan yang unik antara Tuhan dan semua yang telah dibenarkan dijelaskan di doktrin adopsi, juga selalu disebut ‘sonship’ Ini menunjukan status kita sebagai anak-anak Tuhan dan sebagai perantara dimana kita menjadi anak Dia. Adopsi ke dalam keluarga Tuhan berlangsung tidak dengan kelahiran, tetapi dengan kelahiran kembali (lahir baru). Itu tidak terjadi karena kedewasaan seseorang tetapi melalui regenerasi (pembaharuan jiwa). Itu tidak alami tapi ajaib. Adopsi adalah hadiah dari anugerah yang mana menjadi milik kita saat kita menerima Yesus Kristus. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;” (Yohannes 1:12) Perlu diperhatikan kondisi disini. Tuhan bukanlah bapa universal dari segala ras manusia. Ini adalah sebuah gagasan yang congkak dan humanis (manusiawi). Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, tetapi Dia adalah bapa hanya dari mereka yang menerima Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah itu seorang Kristen? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan beberapa cara, tetapi jawaban yang paling bermutu yang saya tahu adalah seorang Kristen adalah seorang yang mempunyai Tuhan sebagai Bapa dia. - JI Packer}}Terminologi ‘adopsi’ dipakai didalam alkitab secara eksklusif oleh Paulus. Hidup seperti dia di Tarsus, dia mungkin mengenal tradisi yang ada di kerajaan Roma. Adopsi di masa itu berbeda dengan gambaran sekarang paling tidak dalam dua hal. Pertama, orang Yunani dan Roma mengadopsi orang-orang dewasa, bukan bayi-bayi. Daripada disisikan untuk adopsi, seorang bayi yang tidak diinginkan (lebih sering bukan seorang perempuan) sering dibuang dan dibiarkan mati. Tulisan-tulisan zaman itu memberitahukan praktek yang sadis ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kedua, karena ini adalah pengaturan yang sah, adopsi di dunia orang kafir (bukan orang Yahudi) tidaklah disertai dengan kasih yang hangat dan penuh pengorbanan dimana kita hubungkan dengan adopsi hari ini. Itu adalah pragmatis – sebuah bisnis tranksasi Jika seorang tidak mempunyai keturunan, dia akan mengadopsi seorang laki-laki untuk membawa nama keluarga dan harta warisan. Adopsi dilayakan seperti semacam jaminan sosial. Menurut seorang komentator, ‘anak yang diadopsi masuk langsung dalam pengambilan hak-hak orang tuanya dan mengambil penghasilan tetap untuk kelangsungan hidup pewaris dan keluarga dia sampai akhir hidup mereka. Maka adopsi adalah suatu cara untuk menjamin masa tua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Meditasi Yohannes 14:1-4.'''Jauh dari pembuangan kamu ke keberadaan yang tidak bermakna, Tuhan telah menyusun akomodasi yang kekal hanya untuk kamu – dan akomodasi yang mewah juga.}}Walaupun Paulus secara pasti tahu adopsi gaya Romawi, tetapi lebih memungkinkan pengetahuan dia tentang Perjanjian Lama dan sejarah Yahudi yang membentuk pendapat dia tentang adopsi. Walaupun kata ‘adopsi’ tidak pernah muncul di dalam Perjanjian Lama, tapi konsep itu ada. Dan disinilah kebaikan, suka cita dan kasih pengorbanan dimana kita (bersama Paulus) melekatkan pada adopsi diketemukan. William Hendriksen menulis, ‘ Bagaimana berbeda sesungguhnya (dari model Romawi) natur adopsi yang dipraktekan di Perjanjian Lama…Bukankah anak perempuan Firaun mengadopsi Moses (Keluaran 2:10), walaupun dia hanya, dalam pengertian manusia, seorang bayi yang tidak berdaya? Bukankah Mordekhai mengasuh keponakan perempuan bernama Ester (Ester 2:7)?’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan Paulus sering memakai istilah bahasa sehari-hari dan menginvestasikan mereka ke dalam makna rohani yang lebih mendalam. Hendriksen memberi pendapat kalau referansi dia ke adopsi mengikuti pola itu: “Ketika di Roma 8:15 dan Galatia 4:5 Paulus memakai istilah ‘adopsi’, kata dan kedudukan hukum dipinjam dari praktek Romawi, tetapi intisari berasal dari wahyu ilahi di Perjanjian Lama.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi mencakup kebutuhan penting dari manusia, ketidak amanan universal. Perjanjian Baru membicarakan “mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut” (Ibrani 2:15) Tentu saja, banyak tuntutan yang tidak ditakutkan. Tetapi semua ras manusia bergumul apa yang dinamakan Filosof German abad 20 ‘angst’, suatu perasaan risau yang muncul di dalam roh kita. Ini bukanlah risau yang bisa diterusuri pada sebab tertentu. Ini adalah kabur dan bayang-bayang tetapi sangat nyata. Beberapa orang menjelaskan risau ini sebagai perasaan dimana seorang dipaksa ke dalam keberadaan sadis dan tidak masuk akal, atau dibuang oleh orang tuanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;[Adopsi] menanugerahkan pada penerima nya bukan hanya nama baru, status baru dan hubungan keluarga yang baru tetapi juga gambaran baru, gambaran dari Kristus (Roma 8:29). Orang tua duniawi mungkin sangat mengasihi anak yang diadopsi itu. Tetapi, mereka, pada bagian tertentu, tidak mampu memberikan roh mereka kepada anak itu; tetapi ketika Tuhan mengadopsi kita Dia memberikan kita Roh Kudus dari Anak Nya.&amp;quot; - William Hendriksen}}Keselamatan melalui Yesus Kristus adalah satu-satunya jawaban untuk ketakutan itu. “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah [adopsi]. Oleh Roh itu kita berseru: &amp;quot;ya Abba, ya Bapa!”(Roma 8:15) Mungkin satu cara untuk mengungkapkan ayat ini dengan jelas adalah lewat cerita nyata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mempunyai seorang teman yang mengadopsi seorang anak dari Seoul, Korea. Dia menjelaskan bagaimana sulitnya untuk berdiri di hadapan kerumunan anak-anak yang serba kekurangan dan tidak diinginkan di panti asuhan. Mereka semua lapar akan perhatian dan memeluk dia dengan harapan untuk menerima sentuhan atau senyum. Melihat wajah-wajah mereka yang sangat menyedihkan membuat dia ingin membawa mereka semua. Tetapi sesakit apapun untuk berpaling ke arah lain, dia ingat betapa suka cita nya saat dia memilih calon anak perempunan dia Renee dan membawa dia ke dalam pelukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Dibawah kolom ini, dengan singkat jelaskan tiga hal dalam kehidupan anak yang berubah dengan adopsi manusia, kemudian perhatikan perubahan yang sama yang terjadi pada adopsi ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi Manusia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi Ilahi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;}}Sekarang, kapan saja Renee bergumul dengan perasaan tidak aman, yang perlu dilakukan hanya bertanya, ‘Papa, apakah kamu benar-benar sayang saya?” Karena dia telah diadopsi, bapa dia bisa menjawab dengan cara yang unik. “Renee”, dia bisa bilang. ‘kamu tidak dipaksakan kepada saya. Saya tidak harus membawa kamu kedalam keluarga saya. Saya tidak dalam keadaan paksa. Tetapi saya ingin, Renee. Saya ingin sekali kamu maka saya pergi mengelilingi setengah bumi untuk mencari kamu supaya saya bisa membuat kamu anak perempuan saya. Saya dengan sengaja memilih kamu, Renee, dan saya akan selalu, selalu mengasihi kamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus tidak perlu meninggalkan surga dan datang ke bumi. Dia tidak dalam keadaan paksa. Mengapa dia datang? Supaya dia bisa melihat ke mata kamu dan berkata “Engkau, saya akan membawa kamu! Tidak perlu lagi kamu dikucilkan, tidak lagi kamu menjadi musuh ku. Saya akan merubah kamu. Saya akan rekonsiliasi (berdamai) dengan kamu. Kamu akan menjadi anak saya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk secara pasti kita mengerti keseluruhan makna adopsi, Paulus memakai kata Aramaic “Abba’. Ini adalah istilah yang tidak formal di dalam kamus anak-anak kecil – kita mengartikan nya sebagai ‘Daddy’ (papa). Ini adalah cara Yesus memanggil Tuhan saat dia berkeringat darah di kebun Getsemani. Dia tidak datang kepada Bapa dengan canggung, tonasi sopan santun seperti seorang pelajar Inggris. Di dalam ketekunan Dia berdoa, ‘ Abba! Daddy!” Paulus berkata adopsi membangkitkan tangis dari hati kita, kata yang keras. Dan dengarlah komentar Martin Luther dari abad 16 tentang ungkapan ini: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Ini adalah kata yang kecil, tetapi sekalipun itu mencakup semua pengertian. Mulut berkata tidak, tetapi perasaan hati mengatakan setelah sikap ini. Walaupun saya ditekan oleh kesedihan mendalam dan kengerian di segala sisi, dan sepertinya ditinggalkan dan sepenuhnya dibuang dari hadiratMu, tetapi saya adalah anakMu, dan Engkau adalah Bapa saya demi Kristus: Saya dikasihi karena Sipengasih. Mengapa kata yang kecil, Bapa, mengandung dengan tepat di dalam hati, melampaui kepandaian bicara Demosthenes, Cicero dan retorik yang paling fasih yang pernah di dunia ini. Masalah ini tidak diungkapkan dengan kata-kata, tetapi dengan rintihan, dimana rintihan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata apapun, karena tidak ada lidah yang bisa mengutarakan mereka.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;{{LeftInsert|'''Untuk pembahasan selanjutnya:'''Menurut Galatia 4:1-7, walaupun kita adalah pewaris dari harta warisan yang kaya, sesuatu harus terjadi sebelum kita mendapatkan warisan itu. Apakah itu?}} &lt;br /&gt;
Kata ‘Abba’ menunjukkan kebebasan, kepercayaan, pengakuan yang sukacita, jawaban manis, syukur yang berlimpah, dan kepercayaan yang filial. Di dalam kata ini kita mendapatkan penawar untuk ‘angst’ (kerisauan). Roh yang telah kita terima, jauh dari ketakutan dan keterikataan, telah membebaskan kita untuk memanggil Tuhan dengan cara yang paling intim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian hari yang saya paling senang terjadi ketika saya tiba di rumah setelah bekerja menemukan keempat anak-anak saya memanggil dengan berulang-ulang ‘ Daddy! Daddy!’ dan memberikan pelukan dan ciuman. Ungkapan yang sederhana dan tidak formal ini sangat menakjubkan dan puas buat saya. Saya tidak meragukan kalau tangis kita mempengaruhi Bapa kita yang di surga sama seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Merasakan pemeliharaan Bapa  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah lebih sekali di dalam buku ini kita melihat kalau kebenaran adalah kenyataan obyektif yang tidak dipengaruhi keadaan emosi kita. Perasaan menjadikan dasar yang buruk untuk persekutuan kita dengan Tuhan, dan emotionalism sering tidak produktif. Tetapi untuk berdebat melawan perasaan dan mendefinisikan kepercayaan hanya dengan kelakuan dan kenyataan adalah mengeluarkan hati dari kasih Tuhan. Jika emosi sangat gampang dikenali dan dihargai dalam hubungan manusia, mengapa kita menghilangkan itu dari hubungan kita dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada elemen subyektif dari pengenalan Tuhan dan ini adalah apa yang Paulus referansi di Roma 8:16 “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Pengertian batin akan keberadaan Tuhan, kesadaran emosional tentang Roh Dia yang maha kasih adalah buah yang penting (walaupun itu bukan akar) dari kebenaran. Mempercayai sebaliknya adalah sub-kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu fungsi penting dari Roh Kudus adalah untuk memberkati kita dengan kepastian bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan. Filosofer Blaise Pascal pernah berkata, &amp;quot;Hati mempunyai alasan tersendiri, alasan itu tidak mengetahui apapun.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak bermaksud seorang itu perlu menjadi rohaniwan untuk menikmati perasaan kasih Tuhan. Malahan, semakin banyak pengetahuan yang kita dapat tentang tuntutan alkitab mengenai kebapaan Tuhan, semakin kita menyadari keberadaan Dia sepanjang saat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Pohon apa saja yang menyalahkan buahnya untuk akarnya akan mempunyai kesulitan untuk bertumbuh. Ini juga benar dengan orang Kristen. Dengan bantuan dari diagram berikut ini, menunjukan lima akar-akar (dari Roma 8:29:30, lihat halaman 3-4 sebagai peringatan) dan sembilan buah (dari Galatia 5:22) dari kehidupan orang Kristen.}}Kenyataan dimana kita dimasukkan ke dalam keluarga Tuhan adalah sesuatu yang menakjubkan, walaupun dari pandangan pertama ini tidaklah kelihatan. Kebanyakan dari kita tumbuh di dalam keluarga dan tidak menghargai mereka. Kita mungkin gagal mensyukuri secukupnya pengorbanan kasih ibu dan pemeliharaan ayah. Perasaan syukur itu tidak datang dengan otomatis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Meditasi Mazmur 145:15-16. &amp;lt;br&amp;gt;Ambil beberapa saat untuk berterima kasih pada Tuhan untuk cara Dia telah membuka tangan Dia untuk engkau.}}Disini kita anak yatim piatu yang dicangkokkan dari jalan yang paling kotor ke tempat tinggal Raja sendiri, dan kecenderungan kita adalah mengerutu dan mengomel. Betapa beruntungnya kita telah memiliki Bapa dimana kasihNya cuma dilebihkan oleh kesabaranNya. Peninjauan singkat ke beberapa cara Bapa kita memperhatikan kita akan membantu kita menghargai kasih Dia lebih sempurna. Sebagai permulaan, mari kita tidak melupakan providensial pemeliharaan Dia. Kita semua tahu kalau Dia membuat hujan untuk turun pada yang tidak adil dan yang adil, tetapi itu tidak membuatnya kurang menarik. Berhentilah dan pikirkan semua hal-hal biasa yang sering tidak kita syukuri seperti makanan, tempat perlindungan, keluarga dan teman-teman. Ini bukanlah hadiah-hadiah yang kurang beranugerah dari Bapa yang Maha Kasih dibanding nubuat dan pengetahuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasanya ada sedikit kuno, tetapi Sir Robert Grant menangkap ketakjuban providensial Bapa kita di dalam Hymn dia ‘O Worship the King’ &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Betapa banyaknya permeliharaan Engkau, lidah mana yang bisa mengulangnya?&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dibenarkan dengan Tuhan penghakim adalah sesuatu yang baik, tetapi dikasihi dan dipelihara oleh Tuhan Bapa adalah lebih baik lagi.&amp;quot; -J.I. Packer}}Manisfestasi dari Bapa kita yang penuh pertimbangan wajarlah dijadikan sanjak. Dan berpikir tentang keuntungan ini telah menambah keuntungan kita tinggal di dalam tempat kita. Tidak ada ruangan buat kesombongan ketika kita melihat betapa tergantungnya kita kepada pemeliharaan providensial Bapa kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Inggris adalah orang yang banyak titel. Panggilan ‘Lord’, ‘Lady’, ‘Duke’, dan ‘Earl’. Satu titel yang paling menarik adalah ‘Lord Protector’ (Tuan pelindung). Raja Edward masih seorang anak saat dia mewarisi kerajaan dari ayah dia, Henry VIII, maka itu jatuh kepada ‘Lord Protector’ untuk menjaga raja muda ini dan kegiatan-kegiatan kerajaan. Tuhan adalah Tuan Pelindung kita. Dia berdaulat dalam kegiatan-kegiatan kita untuk kebaikan kita dan secara efektif melindungi kita dari kesulitan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya adalah seorang yang bersifat tenang, tidak gampang marah biasanya (kecuali di lapangan golf). Tetapi saya melihat keberanian atau kemarahan yang mulia muncul di diri saya ketika sesuatu mencelakakan istri dan anak-anak saya. Itu seperti alami saja. Saya percaya Tuhan beri itu dan saya rasa itu bisa diexpresikan secara berdosa, itu tidaklah perlu – itu adalah buat perlindungan keluarga saya. Dengan mempunyai Bapa Surgawi yang pelindung membuat kita relaks di dalam kepercayaan seperti seorang anak, sama seperti bapa lahiriah saya adalah pelindung saya di dalam pengalaman sulit beberapa tahun yang lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hamil pertama dari istri saya diakhiri dengan keguguran. Itu adalah waktu yang sangat menyedihkan. Tetapi tidak seorangpun dari kita dipersiapkan untuk kesulitan yang akan terjadi. Karena kita kehilangan bayi di tengah malam, dokter memerintahkan kita untuk datang ke rumah sakit pertama-tama pada pagi hari. Clara berdarah kebanyakan, tetapi kita menganggap itu adalah normal … sampai jam 6 pagi, saat dia pingsan dan masuk dalam keadaan shock. Saya bergumul untuk memanggil ambulan dan menjaga dia pada saat yang bersamaan. Walaupun itu adalah pegang sana sini beberapa saat, kita akhirnya membawa dia ke rumah sakit dimana kondisi dia di stabilin. Betapa melegakan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Pembahasan Selanjutnya:'''&amp;lt;br&amp;gt;Untuk pembahasan yang intim pada pemeliharan Tuhan Bapa akan orang yang tidak layak, lihat Hosea 11:1-4 (juga Ulangan 33:27)}}Salah satu kerjaan seorang pastor adalah mengatur dengan tanggung jawab di saat krisis, jadi saat saya menanggulangi form penerima dan perincian lain selama pagi hari saya memastikan emosi saya dicek. Kemudian datanglah saat harus menelepon yang lain untuk memberitahu tentang apa yang terjadi Semuanya berjalan dengan lancar sampai saya menelepon orang tua saya dan ayah saya yang menjawab telepon. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|4 Baca Mazmur 18:1-19 dan jawab pertanyaan berikut ini:&lt;br /&gt;
*Titel apa yang dipakai David untuk Tuhan? (ayat 1-2)&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
*Siapa yang David panggil ketika berada di dalam bahaya? (ayat 3,6)&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
*Mengapa Tuhan menyelamatkan kita? (ayat 19)&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;}}“Papa, kita kehilangan bayi. Clara mengalami keguguran kemarin malam” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gee, Rob, saya turut berduka cita mendengar hal ini” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengucapkan beberapa kata itu, sederhana dan tulus, sesuatu pecah dan saya menangis. Saya sangat terkejut dengan isak tangis saya dan bagaimana itu datang dengan cepat. Kemudian saya sadar di hadapan papa saya, saya tidak harus berkuasa. Saya dengan bebas memberikan emosi yang tersimpan di dalam saya. Saya bisa menjadi anak dia. Dibawah payung perlindungan Bapa Surgawi kita, kita bebas untuk menjadi lemah dan mengekspresikan emosi kita yang paling dalam. (Tentu saja, kalau tangis itu berkepanjangan, papa juga bisa menyuruh kamu untuk menghentikan itu dan berlanjut dengan kegiatan yang lain) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada batas akan biji rohani yang dapat digali di dalam pengwahyuan Tuhan sebagai Bapa Dan walau bagaimana banyaknya bapak lahiriah kita menggambarkan kualitas ilahi, mereka jauh ketinggalan dari Bapa kita yang di Surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Melihat ke masa depan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Mereka yang lahir sekali, mati dua kali. Mereka mati sesaat dan mereka mati di dalam kematiaan kekal. Tetapi mereka yang lahir dua kali, mati sekali saja; karena kematian kedua tidaklah mempunyai kuasa.&amp;lt;br&amp;gt;William S. Plumer}}Apa yang membuat Tuhan memberikan kita hak-hak keanggotaan di dalam keluarga dia yang tidak bisa dibandingkan? Paulus mengali itu sampai kekekalan untuk memberikan kita jawaban: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” (Efesus 1:4-5) Ini adalah kasih Tuhan yang membawa keselamatan. Yakinlah bahwa kekuatan ataupun kekurangan mu tidaklah menjadi faktor. Tuhan, di dalam ketakjuban kasihNya, telah memutuskan untuk mengadopsi kita sebelum penciptaan dunia ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa melegakan mengetahui pilihan Tuhan akan kita tidak ada hubungannya dengan betapa menarik, pintar atau baiknya kita. Jika itu halnya, dia akan lebih terbuai untuk menukar kita dengan model yang lebih bagus! Kita tidak menghasilkan adopsi dengan pekerjaan dan kita tidak bisa menahannya dengan pekerjaan. Adopsi adalah sebuah hadiah anugrah yang telah ada di hati Tuhan sejak awal waktu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat ke dalam kekekalan masa lampau menghasilkan rasa syukur yang berkelimpahan, tetapi hal yang sama menggembirakan juga melihat ke dalam kekalan masa depan. Kita harus melihat kesempurnaan yang dibawa oleh adopsi. Paulus berkata untuk setiap Kristen didalam mengekspresikan antisipasi masa depan. “Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil &amp;lt;br&amp;gt;menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (Roma 8:23). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Yang mana dari berikut ini akan memberikan tanda kembalinya Allah? (Tandai yang benar)&lt;br /&gt;
*Terompet berbunyi dan berkumandang?&lt;br /&gt;
*Kegembiraan yang unik atas bekas tanah pemakaman &lt;br /&gt;
*Kebangkitan dari tubuh-tubuh orang mati &lt;br /&gt;
*Tertinggalnya rumah-rumah, mobil-mobil dan sepatu-sepatu olah raga &lt;br /&gt;
*Reuni di awan &lt;br /&gt;
*Edisi ke 77 dari &amp;quot;Why The Rapture Will Take Place In…&amp;quot;}}Diluar status kita sekarang sebagai anak laki-laki dan perempuan Tuhan, adopsi kita tidaklah disempurnakan sampai hari Tuhan menyelamatkan atau membangkitkan badan-badan kita. Tidak banyak topik lain yang mendapat spekulasi dan suka cita di dalam gereja seperti ini. Kita semua mempunyai minat untuk mengerti apa yang kita tunggu pada saat hari kiamat. Walaupun buat pikiran biasa hal-hal ini disisikan sebagai misteri. Alkitab memberikan kita gambaran yang luas apa yang kita bisa harapkan untuk terjadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab memperlihatkan ada 3 tahap dari keberadaan manusia. Yang pertama, the natural state (tahap alami), termasuk saat kita dikandung sampai kita mati fisik. Tubuh dan roh dipersatukan bersama. Ini adalah kehidupan yang kita kenal di saat ini. Walaupun state ini mencakup pemeliharaan dan kesengsaraan yang banyak, sedikit dari kita mempercepat untuk masuk periode kedua – the intermediate state (tahap kelanjutan). Periode ini berlangsung dari saat kita meninggal sampai kembalinya Yesus Kristus dan dikarakterkan dengan pemisahan badan dari roh. Bagian fisik kita kembali ke debu ketika bagian lainnya “kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”(Pengkotbah 12:7). Roh-roh dari semua yang meninggal di dalam Kristus bersama Kristus sekarang. Kamu tidak akan mendapatkan hal yang lebih bagus dari ini. Paulus, mengetahui dia menghadapi kemungkinan mati, membuat lebih jelas dia mendapatkan intermediate state lebih penting dari natural. “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik “ (Filipian 1:23) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bergantung di kayu salib, Yesus menjanjikan penjahat mereka akan bersama di surga hari itu juga (Lukas 23:43). Perbandingan ini dengan 2 Korintius 12:1-4 memperlihatkan “heaven”, “paradise” (surga) dan “being with Jesus” (bersama dengan Yesus) adalah tempat yang sama. Ketika di intermediate state kita tidak akan tidak sadar (“roh tidur”) atau menjalani tugas di dalam api penyucian , keduanya ini tidaklah berdasarkan doktrin alkitab. Kita akan segera menjadi seperti Yesus, kekudusan kita disempurnakan. Kita tidak akan lagi disulitkan oleh kehadiran dosa. Lebih baik dari itu, kita akan menikmati persekutuan yang tak berhenti dengan Allah. Ini adalah satu-satunya kekuatiran saya. Selama saya bersama Dia, saya tidak akan risau tentang detail yang tidak dipecahkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagus apapun intermediate state, ini bukanlah final state (tahap terakhir) dari keberadaan kita. Waktu akan datang dimana “trumpet dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. (1 Kor 15:52) Ini juga dikenal sebagai ‘the glorified state’ (tahap kemuliaan) dan akan terjadi disaat kedatangan Tuhan. Pada hari itu orang-orang mati akan bangkit dan dikembalikan ke tubuh mereka yang dimuliakan. Sekali lagi ini adalah Paulus yang memceritakan apa yang akan terjadi pada hari itu “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, (Filipi 3:20,21) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Meditasi Pengkotbah 3:11.'''Dimana minat kita tentang masa depan itu datang?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert|Kenyataan bahwa kita akan hidup lagi tidaklah lebih menakjubkan atau misterius daripada kita hidup sekarang. Tetapi keajaiban yang nyata adalah setelah kita tidak hadir di dalam kekekalan masa lalu, sekarang kita ada disini…Tentu saja ini lebih menakjubkan bahwa dari bukanlah kita, kita berwujud menjadi. -Loraine Boettner}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab terpanjang dari surat-surat Paulus, 1 Korintius 15, mengfokuskan secara ekslusif tentang kebangkitan kita yang akan datang. Dia menulis bab itu untuk menjawab anggota-anggota tertentu gereja Korintus yang mempertimbangkan kebangkitan itu tidak bisa dipercaya dan tidak perlu. Kalau kebetulan kita menpunyai sifat orang Korintus, mari kita lihat poin penting dari intruksi Paulus di bab ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Kebangkitan itu perlu untuk kekristenan. Jika kamu menghilangkan kebangkitan Yesus, kamu menghilangkan dasar dari pengampunan (ayat 12-19). &lt;br /&gt;
*Yesus Kristus adalah buah pertama dari mereka yang bangkit; kebangkitan Dia menjamin kebangkitan dari semua orang yang ada di dalam Kristus (ayat 20-22). &lt;br /&gt;
*Kematian, musuh terakhir dan terbesar kita, akan ditaklukkan melalui kebangkitan. Karena Yesus mati dan bangkit kembali, Dia tidak lagi menjadi maut kematian. Realitas yang sama menunggu semua orang milik Dia. Walaupun kita mempunyai suatu kebencian alami terhadap kematian, Firman Tuhan, teladan Yesus dan kehadiran Roh Kudus cukup untuk mengembalakan kita melalui jurang gelap dan yang tidak jelas. Jauh dari ketaatan orang Kristen, kematian telah ditelan oleh kemenangan – kemenangan Yesus Kristus (ayat 26, 54-56)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Ini adalah inventori singkat apa yang harus kita tinggalkan ketika kita berada di tahap kemuliaan. Tandai hal apa yang kamu ingin bawa ke dalam kekekalan &lt;br /&gt;
*Stress&lt;br /&gt;
*Pajak&lt;br /&gt;
*Berat badan yang kelebihan&lt;br /&gt;
*Jerawat&lt;br /&gt;
*Depresi&lt;br /&gt;
*Takut&lt;br /&gt;
*Sedih dan&lt;br /&gt;
*Sakit&lt;br /&gt;
*Kerusakan komputer&lt;br /&gt;
*Kebingungan tentang kehendak Tuhan}}*Apakah rupa dari badan-badan yang dimuliakan dan dibangkitkan? Paulus berkata mereka akan membawa kesamaan dari badan kita sekarang tetapi juga akan beda besar. Hubungan antara pohon acorn dan oak mungkin menjadi metafor untuk melukiskan perbedaan itu. Kita akan menambah pengetahuan dari pembahasan tentang kemunculan Yesus setelah kebangkitan. Badan baru kita tidak akan rusak, kuat, mulia, dan lebih utama nya rohani (ayat 35-44). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Selesai dengan sampah dan kotoran  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Usaha untuk membawa bab terakhir ini ke penutupan memberi saya simpati baru untuk Paulus, yang mana hormat akan anugerah dan kemurahan hati Tuhan dijadikan suatu bentuk seni berupa kalimat yang panjang. Dimana itu akan berakhir? Doktrin kebenaran adalah tidak parallel di dalam jangkauan dan keindahan. Tidaklah kebetulan kalau keempat mahkluk hidup itu memuji kekudusan Tuhan tanpa berhenti, dan dengan setiap pernyataan dua puluh empat penua menunduk di dalam pujian yang tidak berhenti di hadapan domba Tuhan yang dimuliakan (Wahyu 4:8-11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Pembahasan selanjutnya:'''Pertimbangkan kata-kata ini dari hymn lama: “Dunia ini bukanlah rumah saya, saya hanya lewat.” Dengan petualangan pikiran, baca 2 Korintus 5:1-5. Dimana kebangsaan Paulus? Dimana kamu punya?}}Parabel Yesus tentang pesta kawin memberikan kita percampuran yang pas tentang perayaan dan ketenangan (Matius 22:2-14). Kamu mungkin sudah pernah mendengar cerita ini. Seorang raja memberikan pesta perkawinan untuk anaknya, dan membagi undangan-undangan ke seluruh kerajaannya. Ketika tamu-tamu dia menolak undangan, raja menolak untuk mengganti rencananya. “Pergilah ke sudut-sudut jalan dan undanglah siapa yang kamu jumpa”, dia berkata. Segera ruangan itu penuh dengan orang. Tamu undangan dari kelas bawah ini tidak biasa dengan etika agung, jadi kemungkinan besar raja akan memberikan baju yang cocok untuk pesta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah perayaan raja masuk ke dalam ruang pesta melihat tamu-tamu dia, dan di sini kita mendapatkan parable inti persoalan. &amp;quot;Tetapi ketika raja masuk dia memperhatikan seorang pria tidak memakai pakaian pesta. &amp;quot;Teman&amp;quot;, dia bertanya, &amp;quot;bagaimana kamu masuk tanpa pakaian pesta?&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bagian yang paling dipilih oleh setiap keberadaan orang Kristen adalah di hadapanNya. -William S. Plumer}}Untuk mengerti kemarahan raja, beberapa orang menduga bahwa itu adalah tradisi di zaman Yesus dimana si pengundang menyediakan pakaian pesta untuk tamu-tamunya, terlebih buat tamu yang tidak mampu. Tamu yang tidak berpakaian layak bukanlah korban dari kemiskinan, dia dengan sengaja menolak kemurahan penyediaan dari pengundangnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa ragu raja memerintahkan dia untuk ditangkap tangan dan kaki dan dibuang ke dalam kegelapan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan Maha Kuasa telah mengumpulkan kita dari sudut-sudut jalan dan memberikan kita tempat di pesta pernikahan Anak Dia. Dia memberikan kita jubah kebenaran untuk menggantikan kain kotor kita. Perayaan yang meriah dan kekal akan terjadi. Tetapi mari perhatikan cara pakaian kita. Pakaian dijahit tangan, walau bagaimana susah atau bagus, akan meremehkan Tuan dari pesta itu. Hanya hadiah gratis dari keadilan, pengorbanan Tuhan Yesus Kristus dapat membawa kita ke dalam hadirat Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya saya mempunyai iman dari bapa-bapa sebelum saya,’ orang kudus abad sembilan belas berkata, ‘ semua semagat dari nabi-nabi, semua perbuatan baik dari rasul-rasul, semua kesengsaraan kudus dari orang-orang martir, dan semua pengabdian dari seraph; saya akan menyangkal semuanya dan menghitung semua tetapi sampah dan kotoran ketika dibanding dengan kematian yang mulia,dan jasa yang tidak ada batasnya dari Tuhan Yesus Kristus. Dikeluarkan dari amarah Tuhan dan diadilkan oleh anugerahnya, kita hanya mulai untuk mengerti betapa besarnya keselamatan ini. Tetapi kita masih mempunyai sedikit waktu. Kekekalan, walaupun ini tidak akan cukup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== =  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.&amp;lt;br&amp;gt;Rasul Paulus &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Lebih kasihan lagi jika kita tidak belajar berterima kasih akan berkat-berkat ini, kita akan tumbuh mengharapkan mereka sebagai hak kita. Dalam hal yang sama kita bisa menganggap kebaikan Tuhan secara cuma-cuma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Yang bernapas di udara, yang berkilau di cahaya. Yang mengalir dari bukit, yang turun ke tanah daratan, dan berada di dalam embun dan hujan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; 87&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi Kelompok&amp;lt;br&amp;gt;1. Memori yang terbaik apa yang kamu punya bersama bapa kamu?&amp;lt;br&amp;gt;2. Diskusikan ‘angst’ yang dijelaskan oleh pengarang di halaman 78. Bagaimana ini diekspresikan di dalam mereka yang belum diadilkan di dalam Kristus?&amp;lt;br&amp;gt;3. Diskusikan reaksi kamu tentang cerita adopsi Renee di halaman 78-79.&amp;lt;br&amp;gt;4. Tuliskan tiga kata sifat yang kamu pikirkan ketika mendengar kata ‘hakim’. Bagaimana dengan kata ‘Bapa’?&amp;lt;br&amp;gt;5. Apakah kamu ada pengalaman jelek dengan bapa duniawi kamu yang membuat kamu sulit untuk datang dekat kepada bapa surgawi kamu?&amp;lt;br&amp;gt;6. “Betapa melegakan mengetahui pilihan Tuhan akan kita tidak ada hubungannya dengan betapa menarik, pintar atau baiknya kita. “ tulis pengarang (halaman 83). Apakah motivasi Dia untuk mengadopsi kita?&amp;lt;br&amp;gt;7. Apakah ada sesuatu yang membuat kamu aneh ketika di dalam doa menyatakan Tuhan sebagai ‘Daddy’ (papa)?&amp;lt;br&amp;gt;8. Bagaimana Tuhan sorgawi kamu menyediakan untuk kamu minggu lalu?&amp;lt;br&amp;gt;9. Mana dari berikut ini mengungkapkan harapan kamu tentang kemuliaan yang akan datang? A. Tidak bisa ditunggu! B. Terdengar baik C. Saya belum siap D. Satu arah perjalanan kemana?&amp;lt;br&amp;gt;10. Baca Ibrani 11:13-16 dengan suara keras. Apa yang menjadi karakter orang-orang yang disebutkan? Bagaimana kita mengembangkan minat yang serupa??? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Rekomendasi Buku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Immortality by Loraine Boettner (Phillipsburg, NJ:&amp;lt;br&amp;gt;Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1984)&amp;lt;br&amp;gt;The Bible on the Life Hereafter by William Hendriksen&amp;lt;br&amp;gt;(Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1987)&amp;lt;br&amp;gt;The Atonement by Leon Morris (Downwers Grove, IL:&amp;lt;br&amp;gt;InterVarsity Press, 1984)&amp;lt;br&amp;gt;The Glory of Christ by Peter Lewis (Chicago, IL: Moody&amp;lt;br&amp;gt;Press, 1997) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
88&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NOTA&amp;lt;br&amp;gt;1. Edmund P. Clowney, Preaching and Biblical Theology (Phillipsburg,&amp;lt;br&amp;gt;NJ: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1961), p. 15.&amp;lt;br&amp;gt;2. Gordon R. Lewis, Confronting the Cults (Grand Rapids, MI: Baker&amp;lt;br&amp;gt;Book House, 1966), p. 25.&amp;lt;br&amp;gt;3. J.I. Packer, Knowing God (Downers Grove, IL: InterVarsity Press,&amp;lt;br&amp;gt;1973), p. 181.&amp;lt;br&amp;gt;4. Ibid.&amp;lt;br&amp;gt;5. W. v. Martitz, Theological Dictionary of the New Testament, Vol.&amp;lt;br&amp;gt;VIII, G. Kittle and G. Friedrich, Eds. (Grand Rapids, MI: Wm. B.&amp;lt;br&amp;gt;Eerdmans Publishing Co., 1972), p. 398.&amp;lt;br&amp;gt;6. William Hendrikson, New Testament Commentary, Romans—&amp;lt;br&amp;gt;Chapters 1–8 (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1980), p. 259.&amp;lt;br&amp;gt;7. Ibid.&amp;lt;br&amp;gt;8. Ibid.&amp;lt;br&amp;gt;9. F.F. Bruce, Tyndale New Testament Commentary, Romans (Grand&amp;lt;br&amp;gt;Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1963), pp. 166–67.&amp;lt;br&amp;gt;10.William Hendrikson, Romans Commentary, p. 258.&amp;lt;br&amp;gt;11.D. Martyn Lloyd-Jones, Romans: An Exposition of Chapter 8:5-17&amp;lt;br&amp;gt;(Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1974), p. 243.&amp;lt;br&amp;gt;12.J.I. Packer, Knowing God, p. 188.&amp;lt;br&amp;gt;13.William S. Plumer, The Grace of Christ (Philadelphia, PA:&amp;lt;br&amp;gt;Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 266.&amp;lt;br&amp;gt;14.Loraine Boettner, Immortality (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and&amp;lt;br&amp;gt;Reformed Publishing House, 1956, 1984), p. 59.&amp;lt;br&amp;gt;15.William Plumer, The Grace of Christ, p. 404.&amp;lt;br&amp;gt;16.Ibid., p. 236–37. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab 7&amp;lt;br&amp;gt;Buah-buah dari Kebenaran &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di bab terakhir kita membahas secara singkat hubungan unik yang kita nikmati sekarang. Saya membicarakan fakta tentang Tuhan telah menjadi Bapa kami. Apakah kamu ingat teman kita yang melihat dengan sedih dari kamar penjara yang tidak dikunci? Jika dia mau hanya menoleh kebelakang, dia akan melihat lebih dari pintu yang terbuka. Dia akan melihat seorang Bapa menunggu untuk menerima dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya dengan jelas mengingat suatu Sabtu pagi dengan bapa saya. Kita berdua sedang duduk di dapur meja ketika telepon berbunyi. Saya masih seorang anak muda saat itu dan jauh dari Tuhan. Saat saya menjawab telepon, hati saya ciut. Si penelepon mengidentifikasikan diri dia sebagai seorang ditektif dengan Montgomery Country Police Department, Glenmont Station. Dengan memakai terminologi polisi, dia memberitahukan kepada saya bahwa saya lagi dipantau karena pemakaian obat terlarang (marijuana) di suatu rumah di malam sebelumnya (hal ini benar). Saya di tangkap dan diperintahkan untuk menyerah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bapa saya tahu dari ekspresi saya kalau ada sesuatu yang tidak beres. “Ada apa?” dia bertanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya cuma bisa menjawab dengan singkat, “Saya tertangkap.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang terjadi selanjutnya adalah suara tawa dari ujung telepon. Saya dikerjai oleh beberapa teman saya. Si perusak undang-undang juga adalah seorang yang bodoh. Baru saya sadari kalau polisi tidak menangkap orang lewat telepon. Sebagai tanda hormat, mereka lakukan itu secara langsung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak akan melupakan lelucon itu, apa yang memberi kesan lebih mendalam adalah jawaban bapa saya. Dia bisa memarahi saya karena membuat malu. Tapi, tindakan pertama dia adalah menyatakan kasih dan dukungan untuk saya. Itu sangat mempengaruhi saya. Saya tidak ragu kalau bapa akan mengambil tempat saya dan hukuman jika mungkin. Kesetiaan dia adalah kebalikan dari apa yang saya layak terima. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus bercerita tentang seorang anak yang bodoh, setelah dengan egois dan tidak dewasa &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
73 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== =========================================================  ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
menuntut bagian dia dari harta warisan keluarga, yang kemudian dipakai habis. Setelah dia akhirnya menghabiskan semuanya, anak yang hilang ini memutuskan untuk pulang ke bapanya dan meminta kesempatan, bukan untuk menjadi seorang anak, tetapi menjadi seorang pembantu. ‘Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa. Aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.’ (Lukas 15:18-19). Bapanya berhak untuk mengejek dan menolak anaknya, walaupun diterima sebagai pekerja saja adalah tanda dari suatu kemurahan. Tetapi, dia menunggu kepulangannya dengan semangat dan menyambut dia dengan hadiah dan pesta. Kemurahan Tuhan digambarkan di cerita ini dimana sang bapa memberikan kasih, pengampunan dan penerimaan kepada anaknya- tidak diharapkan dan layak diterima oleh anaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sampai sekarang pelajaran kita tentang kebenaran menghasilkan bukti yang tidak bisa ditolak bahwa ini adalah keselamatan yang luar biasa. Kita telah belajar bagaimana berperang dengan pengaruh tuduhan dan kesusahan. Kita telah diarahkan ke pokok bahasan dosa kita, kekudusan dan kemurkaan Tuhan. Kita telah melihat secara dekat kepada Kayu Salib, dimana Penyelamat kita menderita kutukan yang layak kita terima supaya kita dibenarkan dihadapan Tuhan. Disana Dia mendapatkan damai buat kita dengan Dia yang telah menjadi obyek permusuhan kita; pengampuan dari Dia yang telah kita berdosa kepada dan penyatuan dengan Dia yang memberi kekuatan kepada kita saat kita melawan kejahatan. Sekarang kita menyimpulkan dengan melihat dua aspek terakhir dari warisan didalam didalam Yesus Kristus: adopsi dan harapan kemuliaan yang akan datang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Menampakan Bapa&amp;lt;br&amp;gt;Teologi alkitabiah mengajarkan kita untuk mengharapkan pengwujudan wahyu di dalam alkitab. Sebagai contoh, kisah yang misteri di Kejadian 3 tentang keturunan seorang perempuan yang meremukkan kepala ular menjadi terbuka dan nyata di Perjanjian Baru dengan deklarasi penyaliban Yesus Kristus dan kemudian kebangkitan. Sama dengan ini, Perjanjian Lama memberi kita gambaran yang luas apa yang menjadi pusat wahyu dari Perjanjian Baru: kebapaan dari Tuhan. Secara pasti, ada ayat-ayat yang membicarakan Israel sebagai anak pertama Tuhan dan juga bagian lain dari kebenaran ini. Tapi walau demikian ide ini biasanya dimaksudkan sebagai pengertian kebangsaan. Dia adalah Bapa dari bangsa Israel bukan individu-individu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Meditasi Yohanes 6:1-11&amp;lt;br&amp;gt;Hukuman apa yang layak diterima perempuan ini akan dosa dia? Apa yang dia terima? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Engkau telah menciptakan kita untuk diri sendiri, O Tuhan, dan hati kita gelisah sampai kita menemukan peristirahatan di dalam Engkau.” Augustine. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
74&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian besar, Perjanjian Lama mengambarkan Tuhan bukan sebagai Bapa kita, tetapi sebagai Raja yang mengagumkan dan kudus. Tentu saja, Tuhan adalah selalu Bapa dan Yesus adalah selalu Tuhan, anakNya. Tetapi itu penting untuk Yesus datang dan memperlihatkan Tuhan sebagai Bapa untuk kita karena, seperti Yohanes menjelaskan di dalam injil dia, Yesus adalah satu-satunya berkualitas melakukanNya. “Tidak ada yang pernah melihat Tuhan, tetapi Tuhan satu-satunya yang ada di sisi Bapa, telah memperlihatkan dia.” (Yohanes 1:18) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di ayat ini, “made him known” (membuat dia diketahui) di dalam bahasa Yunani adalah kata dimana kita dapatkan ‘exegesis’ (penafsiran). ‘Exegesis’ artinya untuk menjelaskan atau mengulangi fakta-fakta mengenai sesuatu. Seperti contoh, menjelaskan bagian dari Alkitab adalah mengajarkan nya sedemikan rupa dengan membuka arti satu persatu. Yesus, duduk di sisi Bapa, suatu tempat yang sangat intim dan lemah lembut, adalah tempat yang paling tepat untuk mengenal Bapa dengan sempurna. Dan bagian penting dari ministri Yesus adalah membuat Dia dikenal oleh kita. Dia telah memberikan kebenaran ini secara efektif kepada murid-muridnya dan injil-injil terus memberikan itu kepada kita hari ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Setiap kali Yesus mereferensikan Tuhan sebagai BapaNya, Dia membuat apa yang pada saat itu adalah tuntutan yang revolusional. Tidak semua orang menghargai itu. Farisi terlebih-lebih membenci Yesus karena dengan mengatakan Tuhan itu BapaNya, Dia telah memberi suatu kesan bahwa Dia itu sama dengan Tuhan. Tetapi ayat diatas telah membuat jelas bahwa Yesus punya hak untuk ‘exegete’ (menjelaskan) Tuhan. Tentu saja, itu tidak mungkin untuk tidak Dia lakukan. Karena Dia adalah dari essence (pokok/pribadi) yang sama dengan Bapa dan Roh Kudus, Yesus menerangkan identitas Tuhan saat Dia mengungkapkan diri Dia sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Point yang terakhir ini memerlukan perhatian singkat. Apakah hubungan antara Tuhan Bapa dan Tuhan Anak? Augustine, seorang teologi yang paling mempengaruhi gereja awal, mengkategorikan ajaran alkitab pada hubungan ini ke dalam tiga kelompok: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Ayat-ayat yang memperlihatkan Yesus lebih rendah dari Bapa Dia karena &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.&amp;lt;br&amp;gt;Rasul Paulus &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja kamu merasa diarahkan untuk mendekati pulau terpencil di Pasifik Selatan. Karena engkau adalah satu-satunya yang berbahasa dialek Polinesia, engkau mendapatkan diri anda terjun ke tengah-tengah orang desa. Lima atribut Tuhan apa yang pertama-tama akan kamu “exegete” (jelaskan) kepada suku ini?&amp;lt;br&amp;gt;•____________________________________&amp;lt;br&amp;gt;•____________________________________&amp;lt;br&amp;gt;•____________________________________&amp;lt;br&amp;gt;•____________________________________&amp;lt;br&amp;gt;•____________________________________ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;75&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
inkarnasi Dia. Dia dengan rela menyampingkan kemuliaan Dia (Filipian 2:5-8) dan dilahirkan sebagai bayi. Sebagai akibat Dia mengalami kelaparan, kehausan, kelelahan dan kelemahan yang lain yang Bapa Dia tidak pernah tahu. Di dalam kondisi manusia ini, Yesus tahu Bapa Dia adalah lebih besar, dan dia rela mencari dan menunduk pada pengarahan Bapa Dia. Kita menemukan contoh yang jelas di dalam taman Getsemani. Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: &amp;quot;Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.&amp;quot; (Matius 26:39). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Ayat-ayat itu mengajarkan kita Yesus, sebelum pondasi dunia, adalah bersama Bapa tapi berbeda dari Dia. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah “(Yohanes 1:1)” ‘Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” (Mikha 5:2) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Ayat-ayat itu yang memperlihatkan Bapa dan Anak bukan Tuhan yang terpisah, tetapi adalah dari satu essence (pokok/pribadi). “Saya dan Bapa adalah satu” (Yohanes 10:30) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Apakah kamu mau mengenal tentang Bapa? Lihatlah kepada Yesus. Di malam hari saat perjamuan kudus, Filipus bertanya &amp;quot;Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.&amp;quot; Yesus menjawab “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yohannes 14:8-9). Apakah kamu mau tahu jalan Bapa? Lihatlah kepada Yesus. &amp;quot;Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak.“ (Yohannes 5:19). Apakah kamu mau menambah pengetahuan tentang Bapa? Lihatlah kepada Yesus. “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah“ (Hebrew 1:3) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberi definisi baru hubungan kita dengan Tuhan. Di dalam waktu pribadi&amp;lt;br&amp;gt;dengan murid-murid Dia setelah kematianNya, Yesus berkata, “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.“ (Yohannes 15:15). Melalui pengajaran hukum Taurat orang Yahudi belajar untuk takut akan Tuan yang keras dan tidak ramah. Melalui hidup dan kematiaan Yesus kita akan dibenarkan kepada Bapa yang Maha Kasih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pembahasan selanjutnya:&amp;lt;br&amp;gt;Baca Ulangan 6:4 dan kamu akan mengerti kenapa Farisi menuduh Yesus mengfitnah ketika dia mengakui Tuhan adalah Bapa Dia. Ayat-ayat apakah kamu temukan di Perjanjian Baru yang membahas tentang Tritunggal? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
76&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi: Obat penawar kita dari kerisauan&amp;lt;br&amp;gt;Hubungan yang unik antara Tuhan dan semua yang telah dibenarkan dijelaskan di doktrin adopsi, juga selalu disebut ‘sonship’ Ini menunjukan status kita sebagai anak-anak Tuhan dan sebagai perantara dimana kita menjadi anak Dia. Adopsi ke dalam keluarga Tuhan berlangsung tidak dengan kelahiran, tetapi dengan kelahiran kembali (lahir baru). Itu tidak terjadi karena kedewasaan seseorang tetapi melalui regenerasi (pembaharuan jiwa). Itu tidak alami tapi ajaib. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi adalah hadiah dari anugerah yang mana menjadi milik kita saat kita menerima Yesus Kristus. “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;” (Yohannes 1:12) Perlu diperhatikan kondisi disini. Tuhan bukanlah bapa universal dari segala ras manusia. Ini adalah sebuah gagasan yang congkak dan humanis (manusiawi). Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, tetapi Dia adalah bapa hanya dari mereka yang menerima Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terminologi ‘adopsi’ dipakai didalam alkitab secara eksklusif oleh Paulus. Hidup seperti dia di Tarsus, dia mungkin mengenal tradisi yang ada di kerajaan Roma. Adopsi di masa itu berbeda dengan gambaran sekarang paling tidak dalam dua hal. Pertama, orang Yunani dan Roma mengadopsi orang-orang dewasa, bukan bayi-bayi. Daripada disisikan untuk adopsi, seorang bayi yang tidak diinginkan (lebih sering bukan seorang perempuan) sering dibuang dan dibiarkan mati. Tulisan-tulisan zaman itu memberitahukan praktek yang sadis ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, karena ini adalah pengaturan yang sah, adopsi di dunia orang kafir (bukan orang Yahudi) tidaklah disertai dengan kasih yang hangat dan penuh pengorbanan dimana kita hubungkan dengan adopsi hari ini. Itu adalah pragmatis – sebuah bisnis tranksasi Jika seorang tidak mempunyai keturunan, dia akan mengadopsi seorang laki-laki untuk membawa nama keluarga dan harta warisan. Adopsi dilayakan seperti semacam jaminan sosial. Menurut seorang komentator, ‘anak yang diadopsi masuk langsung dalam pengambilan hak-hak orang tuanya dan mengambil penghasilan tetap untuk kelangsungan hidup pewaris dan keluarga dia sampai akhir hidup mereka. Maka adopsi adalah suatu cara untuk menjamin masa tua. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun Paulus secara pasti tahu adopsi gaya Romawi, tetapi lebih memungkinkan pengetahuan dia tentang Perjanjian Lama dan sejarah Yahudi yang membentuk pendapat dia tentang adopsi. Walaupun kata ‘adopsi’ tidak pernah muncul &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah itu seorang Kristen? Pertanyaan ini dapat dijawab dengan beberapa cara, tetapi jawaban yang paling bermutu yang saya tahu adalah seorang Kristen adalah seorang yang mempunyai Tuhan sebagai Bapa dia.&amp;lt;br&amp;gt;JI Packer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
77&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
di dalam Perjanjian Lama, tapi konsep itu ada. Dan disinilah kebaikan, suka cita dan kasih pengorbanan dimana kita (bersama Paulus) melekatkan pada adopsi diketemukan. William Hendriksen menulis, ‘ Bagaimana berbeda sesungguhnya (dari model Romawi) natur adopsi yang dipraktekan di Perjanjian Lama…Bukankah anak perempuan Firaun mengadopsi Moses (Keluaran 2:10), walaupun dia hanya, dalam pengertian manusia, seorang bayi yang tidak berdaya? Bukankah Mordekhai mengasuh keponakan perempuan bernama Ester (Ester 2:7)?’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tulisan Paulus sering memakai istilah bahasa sehari-hari dan menginvestasikan mereka ke dalam makna rohani yang lebih mendalam. Hendriksen memberi pendapat kalau referansi dia ke adopsi mengikuti pola itu: “Ketika di Roma 8:15 dan Galatia 4:5 Paulus memakai istilah ‘adopsi’, kata dan kedudukan hukum dipinjam dari praktek Romawi, tetapi intisari berasal dari wahyu ilahi di Perjanjian Lama.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi mencakup kebutuhan penting dari manusia, ketidak amanan universal. Perjanjian Baru membicarakan “mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut” (Ibrani 2:15) Tentu saja, banyak tuntutan yang tidak ditakutkan. Tetapi semua ras manusia bergumul apa yang dinamakan Filosof German abad 20 ‘angst’, suatu perasaan risau yang muncul di dalam roh kita. Ini bukanlah risau yang bisa diterusuri pada sebab tertentu. Ini adalah kabur dan bayang-bayang tetapi sangat nyata. Beberapa orang menjelaskan risau ini sebagai perasaan dimana seorang dipaksa ke dalam keberadaan sadis dan tidak masuk akal,atau dibuang oleh orang tuanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keselamatan melalui Yesus Kristus adalah satu-satunya jawaban untuk ketakutan itu. “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah [adopsi]. Oleh Roh itu kita berseru: &amp;quot;ya Abba, ya Bapa!”(Roma 8:15) Mungkin satu cara untuk mengungkapkan ayat ini dengan jelas adalah lewat cerita nyata. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mempunyai seorang teman yang mengadopsi seorang anak dari Seoul, Korea. Dia menjelaskan bagaimana sulitnya untuk berdiri di hadapan kerumunan anak-anak yang serba kekurangan dan tidak diinginkan di panti asuhan. Mereka semua lapar akan perhatian dan memeluk dia dengan harapan untuk menerima sentuhan atau senyum. Melihat wajah-wajah mereka yang sangat menyedihkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meditasi Yohannes 14:1-4. &amp;lt;br&amp;gt;Jauh dari pembuangan kamu ke keberadaan yang tidak bermakna, Tuhan telah menyusun akomodasi yang kekal hanya untuk kamu – dan akomodasi yang mewah juga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi menanugerahkan pada penerima nya bukan hanya nama baru, status baru dan hubungan keluarga yang baru tetapi juga gambaran baru, gambaran dari Kristus (Roma 8:29). Orang tua duniawi mungkin sangat mengasihi anak yang diadopsi itu. Tetapi, mereka, pada bagian tertentu, tidak mampu memberikan roh mereka kepada anak itu; tetapi ketika Tuhan mengadopsi kita Dia memberikan kita Roh Kudus dari Anak Nya.&amp;lt;br&amp;gt;William Hendriksen &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;78&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
membuat dia ingin membawa mereka semua. Tetapi sesakit apapun untuk berpaling ke arah lain, dia ingat betapa suka cita nya saat dia memilih calon anak perempunan dia Renee dan membawa dia ke dalam pelukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, kapan saja Renee bergumul dengan perasaan tidak aman, yang perlu dilakukan hanya bertanya, ‘Papa, apakah kamu benar-benar sayang saya?” Karena dia telah diadopsi, bapa dia bisa menjawab dengan cara yang unik. “Renee”, dia bisa bilang. ‘kamu tidak dipaksakan kepada saya. Saya tidak harus membawa kamu kedalam keluarga saya. Saya tidak dalam keadaan paksa. Tetapi saya ingin, Renee. Saya ingin sekali kamu maka saya pergi mengelilingi setengah bumi untuk mencari kamu supaya saya bisa membuat kamu anak perempuan saya. Saya dengan sengaja memilih kamu, Renee, dan saya akan selalu, selalu mengasihi kamu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus tidak perlu meninggalkan surga dan datang ke bumi. Dia tidak dalam keadaan paksa. Mengapa dia datang? Supaya dia bisa melihat ke mata kamu dan berkata “Engkau, saya akan membawa kamu! Tidak perlu lagi kamu dikucilkan, tidak lagi kamu menjadi musuh ku. Saya akan merubah kamu. Saya akan rekonsiliasi (berdamai) dengan kamu. Kamu akan menjadi anak saya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk secara pasti kita mengerti keseluruhan makna adopsi, Paulus memakai kata Aramaic “Abba’. Ini adalah istilah yang tidak formal di dalam kamus anak-anak kecil – kita mengartikan nya sebagai ‘Daddy’ (papa). Ini adalah cara Yesus memanggil Tuhan saat dia berkeringat darah di kebun Getsemani. Dia tidak datang kepada Bapa dengan canggung, tonasi sopan santun seperti seorang pelajar Inggris. Di dalam ketekunan Dia berdoa, ‘ Abba! Daddy!” Paulus berkata adopsi membangkitkan tangis dari hati kita, kata yang keras. Dan dengarlah komentar Martin Luther dari abad 16 tentang ungkapan ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah kata yang kecil, tetapi sekalipun itu mencakup semua pengertian. Mulut berkata tidak, tetapi perasaan hati mengatakan setelah sikap ini. Walaupun saya ditekan oleh kesedihan mendalam dan kengerian di segala sisi, dan sepertinya ditinggalkan dan sepenuhnya dibuang dari hadiratMu, tetapi saya adalah anakMu, dan Engkau adalah Bapa saya demi Kristus: Saya dikasihi karena Sipengasih. Mengapa &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 Dibawah kolom ini, dengan singkat jelaskan tiga hal dalam kehidupan anak yang berubah dengan adopsi manusia, kemudian perhatikan perubahan yang sama yang terjadi pada adopsi ilahi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi Manusia &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adopsi Ilahi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;79&amp;lt;br&amp;gt;================================================================================== &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kata yang kecil, Bapa, mengandung dengan tepat di dalam hati, melampaui kepandaian bicara Demosthenes, Cicero dan retorik yang paling fasih yang pernah di dunia ini. Masalah ini tidak diungkapkan dengan kata-kata, tetapi dengan rintihan, dimana rintihan ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata apapun, karena tidak ada lidah yang bisa mengutarakan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata ‘Abba’ menunjukkan kebebasan, kepercayaan, pengakuan yang sukacita, jawaban manis, syukur yang berlimpah, dan kepercayaan yang filial. Di dalam kata ini kita mendapatkan penawar untuk ‘angst’ (kerisauan). Roh yang telah kita terima, jauh dari ketakutan dan keterikataan, telah membebaskan kita untuk memanggil Tuhan dengan cara yang paling intim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian hari yang saya paling senang terjadi ketika saya tiba di rumah setelah bekerja menemukan keempat anak-anak saya memanggil dengan berulang-ulang ‘ Daddy! Daddy!’ dan memberikan pelukan dan ciuman. Ungkapan yang sederhana dan tidak formal ini sangat menakjubkan dan puas buat saya. Saya tidak meragukan kalau tangis kita mempengaruhi Bapa kita yang di surga sama seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Merasakan pemeliharaan Bapa&amp;lt;br&amp;gt;Telah lebih sekali di dalam buku ini kita melihat kalau kebenaran adalah kenyataan obyektif yang tidak dipengaruhi keadaan emosi kita. Perasaan menjadikan dasar yang buruk untuk persekutuan kita dengan Tuhan, dan emotionalism sering tidak produktif. Tetapi untuk berdebat melawan perasaan dan mendefinisikan kepercayaan hanya dengan kelakuan dan kenyataan adalah mengeluarkan hati dari kasih Tuhan. Jika emosi sangat gampang dikenali dan dihargai dalam hubungan manusia, mengapa kita menghilangkan itu dari hubungan kita dengan Tuhan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada elemen subyektif dari pengenalan Tuhan dan ini adalah apa yang Paulus referansi di Roma 8:16 “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Pengertian batin akan keberadaan Tuhan, kesadaran emosional tentang Roh Dia yang maha kasih adalah buah yang penting (walaupun itu bukan akar) dari kebenaran. Mempercayai sebaliknya adalah sub-kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu fungsi penting dari Roh Kudus adalah untuk memberkati kita dengan kepastian bahwa kita ini adalah anak-anak Tuhan. Filosofer Blaise Pascal pernah berkata, ‘Hati mempunyai alasan tersendiri, alasan itu tidak mengetahui apapun.” Saya tidak bermaksud seorang itu perlu menjadi rohaniwan untuk menikmati perasaan kasih Tuhan. Malahan, semakin banyak pengetahuan yang kita dapat tentang tuntutan alkitab &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk pembahasan selanjutnya:&amp;lt;br&amp;gt;Menurut Galatia 4:1-7, walaupun kita adalah pewaris dari harta warisan yang kaya, sesuatu harus terjadi sebelum kita mendapatkan warisan itu. Apakah itu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
80&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
mengenai kebapaan Tuhan, semakin kita menyadari keberadaan Dia sepanjang saat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan dimana kita dimasukkan ke dalam keluarga Tuhan adalah sesuatu yang menakjubkan, walaupun dari pandangan pertama ini tidaklah kelihatan. Kebanyakan dari kita tumbuh di dalam keluarga dan tidak menghargai mereka. Kita mungkin gagal mensyukuri secukupnya pengorbanan kasih ibu dan pemeliharaan ayah. Perasaan syukur itu tidak datang dengan otomatis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Lebih kasihan lagi jika kita tidak belajar berterima kasih akan berkat-berkat ini, kita akan tumbuh mengharapkan mereka sebagai hak kita. Dalam hal yang sama kita bisa menganggap kebaikan Tuhan secara cuma-cuma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Disini kita anak yatim piatu yang dicangkokkan dari jalan yang paling kotor ke tempat tinggal Raja sendiri, dan kecenderungan kita adalah mengerutu dan mengomel. Betapa beruntungnya kita telah memiliki Bapa dimana kasihNya cuma dilebihkan oleh kesabaranNya.&amp;lt;br&amp;gt; &amp;lt;br&amp;gt;Peninjauan singkat ke beberapa cara Bapa kita memperhatikan kita akan membantu kita menghargai kasih Dia lebih sempurna. Sebagai permulaan, mari kita tidak melupakan providensial pemeliharaan Dia. Kita semua tahu kalau Dia membuat hujan untuk turun pada yang tidak adil dan yang adil, tetapi itu tidak membuatnya kurang menarik. Berhentilah dan pikirkan semua hal-hal biasa yang sering tidak kita syukuri seperti makanan, tempat perlindungan, keluarga dan teman-teman. Ini bukanlah hadiah-hadiah yang kurang beranugerah dari Bapa yang Maha Kasih dibanding nubuat dan pengetahuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahasanya ada sedikit kuno, tetapi Sir Robert Grant menangkap ketakjuban providensial Bapa kita di dalam Hymn dia ‘O Worship the King’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa banyaknya permeliharaan Engkau, lidah mana yang bisa mengulangnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;3. Pohon apa saja yang menyalahkan buahnya untuk akarnya akan mempunyai kesulitan untuk bertumbuh. Ini juga benar dengan orang Kristen. Dengan bantuan dari diagram berikut ini, menunjukan lima akar-akar (dari Roma 8:29:30, lihat halaman 3-4 sebagai peringatan) dan sembilan buah (dari Galatia 5:22) dari kehidupan orang Kristen. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meditasi Mazmur 145:15-16. &amp;lt;br&amp;gt;Ambil beberapa saat untuk berterima kasih pada Tuhan untuk cara Dia telah membuka tangan Dia untuk engkau. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
81&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang bernapas di udara, yang berkilau di cahaya. Yang mengalir dari bukit, yang turun ke tanah daratan, dan berada di dalam embun dan hujan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Manisfestasi dari Bapa kita yang penuh pertimbangan wajarlah dijadikan sanjak. Dan berpikir tentang keuntungan ini telah menambah keuntungan kita tinggal di dalam tempat kita. Tidak ada ruangan buat kesombongan ketika kita melihat betapa tergantungnya kita kepada pemeliharaan providensial Bapa kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Orang Inggris adalah orang yang banyak titel. Panggilan ‘Lord’, ‘Lady’, ‘Duke’, dan ‘Earl’. Satu titel yang paling menarik adalah ‘Lord Protector’ (Tuan pelindung). Raja Edward masih seorang anak saat dia mewarisi kerajaan dari ayah dia, Henry VIII, maka itu jatuh kepada ‘Lord Protector’ untuk menjaga raja muda ini dan kegiatan-kegiatan kerajaan. Tuhan adalah Tuan Pelindung kita. Dia berdaulat dalam kegiatan-kegiatan kita untuk kebaikan kita dan secara efektif melindungi kita dari kesulitan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya adalah seorang yang bersifat tenang, tidak gampang marah biasanya (kecuali di lapangan golf). Tetapi saya melihat keberanian atau kemarahan yang mulia muncul di diri saya ketika sesuatu mencelakakan istri dan anak-anak saya. Itu seperti alami saja. Saya percaya Tuhan beri itu dan saya rasa itu bisa diexpresikan secara berdosa, itu tidaklah perlu – itu adalah buat perlindungan keluarga saya. Dengan mempunyai Bapa Surgawi yang pelindung membuat kita relaks di dalam kepercayaan seperti seorang anak, sama seperti bapa lahiriah saya adalah pelindung saya di dalam pengalaman sulit beberapa tahun yang lalu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hamil pertama dari istri saya diakhiri dengan keguguran. Itu adalah waktu yang sangat menyedihkan. Tetapi tidak seorangpun dari kita dipersiapkan untuk kesulitan yang akan terjadi. Karena kita kehilangan bayi di tengah malam, dokter memerintahkan kita untuk datang ke rumah sakit pertama-tama pada pagi hari. Clara berdarah kebanyakan, tetapi kita menganggap itu adalah normal … sampai jam 6 pagi, saat dia pingsan dan masuk dalam keadaan shock. Saya bergumul untuk memanggil ambulan dan menjaga dia pada saat yang bersamaan. Walaupun itu adalah pegang sana sini beberapa saat, kita akhirnya membawa dia ke rumah sakit dimana kondisi dia di stabilin. Betapa melegakan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu kerjaan seorang pastor adalah mengatur dengan tanggung jawab di saat krisis, jadi saat saya menanggulangi form penerima dan perincian lain selama pagi hari saya memastikan emosi saya dicek. Kemudian datanglah saat harus menelepon yang lain untuk memberitahu tentang apa yang terjadi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Dibenarkan dengan Tuhan penghakim adalah sesuatu yang baik, tetapi dikasihi dan dipelihara oleh Tuhan Bapa adalah lebih baik lagi.&amp;lt;br&amp;gt;J.I. Packer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembahasan Selanjutnya:&amp;lt;br&amp;gt;Untuk pembahasan yang intim pada pemeliharan Tuhan Bapa akan orang yang tidak layak, lihat Hosea 11:1-4 (juga Ulangan 33:27) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
82 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== =============================================================  ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Semuanya berjalan dengan lancar sampai saya menelepon orang tua saya dan ayah saya yang menjawab telepon. “ Papa, kita kehilangan bayi. Clara mengalami keguguran kemarin malam” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Gee, Rob, saya turut berduka cita mendengar hal ini” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dia mengucapkan beberapa kata itu, sederhana dan tulus, sesuatu pecah dan saya menangis. Saya sangat terkejut dengan isak tangis saya dan bagaimana itu datang dengan cepat. Kemudian saya sadar di hadapan papa saya, saya tidak harus berkuasa. Saya dengan bebas memberikan emosi yang tersimpan di dalam saya. Saya bisa menjadi anak dia. Dibawah payung perlindungan Bapa Surgawi kita, kita bebas untuk menjadi lemah dan mengekspresikan emosi kita yang paling dalam. (Tentu saja, kalau tangis itu berkepanjangan, papa juga bisa menyuruh kamu untuk menghentikan itu dan berlanjut dengan kegiatan yang lain) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak ada batas akan biji rohani yang dapat digali di dalam pengwahyuan Tuhan sebagai Bapa Dan walau bagaimana banyaknya bapak lahiriah kita menggambarkan kualitas ilahi, mereka jauh ketinggalan dari Bapa kita yang di Surga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Melihat ke masa depan&amp;lt;br&amp;gt;Apa yang membuat Tuhan memberikan kita hak-hak keanggotaan di dalam keluarga dia yang tidak bisa dibandingkan? Paulus mengali itu sampai kekekalan untuk memberikan kita jawaban: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,” (Efesus 1:4-5) Ini adalah kasih Tuhan yang membawa keselamatan. Yakinlah bahwa kekuatan ataupun kekurangan mu tidaklah menjadi faktor. Tuhan, di dalam ketakjuban kasihNya, telah memutuskan untuk mengadopsi kita sebelum penciptaan dunia ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4 Baca Mazmur 18:1-19 dan jawab pertanyaan berikut ini:&amp;lt;br&amp;gt; Titel apa yang dipakai David untuk Tuhan? (ayat 1-2)&amp;lt;br&amp;gt; Siapa yang David panggil ketika berada di dalam bahaya? (ayat 3,6)&amp;lt;br&amp;gt; Mengapa Tuhan menyelamatkan kita? (ayat 19) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang lahir sekali, mati dua kali. Mereka mati sesaat dan mereka mati di dalam kematiaan kekal. Tetapi mereka yang lahir dua kali, mati sekali saja; karena kematian kedua tidaklah mempunyai kuasa.&amp;lt;br&amp;gt;William S. Plumer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;83&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa melegakan mengetahui pilihan Tuhan akan kita tidak ada hubungannya dengan betapa menarik, pintar atau baiknya kita. Jika itu halnya, dia akan lebih terbuai untuk menukar kita dengan model yang lebih bagus! Kita tidak menghasilkan adopsi dengan pekerjaan dan kita tidak bisa menahannya dengan pekerjaan. Adopsi adalah sebuah hadiah anugrah yang telah ada di hati Tuhan sejak awal waktu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melihat ke dalam kekekalan masa lampau menghasilkan rasa syukur yang berkelimpahan, tetapi hal yang sama menggembirakan juga melihat ke dalam kekalan masa depan. Kita harus melihat kesempurnaan yang dibawa oleh adopsi. Paulus berkata untuk setiap Kristen didalam mengekspresikan antisipasi masa depan. “Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil &amp;lt;br&amp;gt;menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.” (Roma 8:23). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diluar status kita sekarang sebagai anak laki-laki dan perempuan Tuhan, adopsi kita tidaklah disempurnakan sampai hari Tuhan menyelamatkan atau membangkitkan badan-badan kita. Tidak banyak topik lain yang mendapat spekulasi dan suka cita di dalam gereja seperti ini. Kita semua mempunyai minat untuk mengerti apa yang kita tunggu pada saat hari kiamat. Walaupun buat pikiran biasa hal-hal ini disisikan sebagai misteri. Alkitab memberikan kita gambaran yang luas apa yang kita bisa harapkan untuk terjadi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab memperlihatkan ada 3 tahap dari keberadaan manusia. Yang pertama, the natural state (tahap alami), termasuk saat kita dikandung sampai kita mati fisik. Tubuh dan roh dipersatukan bersama. Ini adalah kehidupan yang kita kenal di saat ini. Walaupun state ini mencakup pemeliharaan dan kesengsaraan yang banyak, sedikit dari kita mempercepat untuk masuk periode kedua – the intermediate state (tahap kelanjutan). Periode ini berlangsung dari saat kita meninggal sampai kembalinya Yesus Kristus dan dikarakterkan dengan pemisahan badan dari roh. Bagian fisik kita kembali ke debu ketika bagian lainnya “kembali kepada Allah yang mengaruniakannya”(Pengkotbah 12:7). Roh-roh dari semua yang meninggal di dalam Kristus bersama Kristus sekarang. Kamu tidak akan mendapatkan hal yang lebih bagus dari ini. Paulus, mengetahui dia menghadapi kemungkinan mati, membuat lebih jelas dia mendapatkan intermediate state lebih penting dari natural. “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik “ (Filipian 1:23) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;5 Yang mana dari berikut ini akan memberikan tanda kembalinya Allah? (Tandai yang benar)&amp;lt;br&amp;gt; Terompet berbunyi dan berkumandang&amp;lt;br&amp;gt; Kegembiraan yang unik atas bekas tanah pemakaman&amp;lt;br&amp;gt; Kebangkitan dari tubuh-tubuh orang mati&amp;lt;br&amp;gt; Tertinggalnya rumah-rumah, mobil-mobil dan sepatu-sepatu olah raga&amp;lt;br&amp;gt; Reuni di awan&amp;lt;br&amp;gt; Edisi ke 77 dari ‘Why The Rapture Will Take Place In… &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
84 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== =============================================================  ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat bergantung di kayu salib, Yesus menjanjikan penjahat mereka akan bersama di surga hari itu juga (Lukas 23:43). Perbandingan ini dengan 2 Korintius 12:1-4 memperlihatkan “heaven”, “paradise” (surga) dan “being with Jesus” (bersama dengan Yesus) adalah tempat yang sama. Ketika di intermediate state kita tidak akan tidak sadar (“roh tidur”) atau menjalani tugas di dalam api penyucian , keduanya ini tidaklah berdasarkan doktrin alkitab. Kita akan segera menjadi seperti Yesus, kekudusan kita disempurnakan. Kita tidak akan lagi disulitkan oleh kehadiran dosa. Lebih baik dari itu, kita akan menikmati persekutuan yang tak berhenti dengan Allah. Ini adalah satu-satunya kekuatiran saya. Selama saya bersama Dia, saya tidak akan risau tentang detail yang tidak dipecahkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagus apapun intermediate state, ini bukanlah final state (tahap terakhir) dari keberadaan kita. Waktu akan datang dimana “trumpet dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah. (1 Kor 15:52) Ini juga dikenal sebagai ‘the glorified state’ (tahap kemuliaan) dan akan terjadi disaat kedatangan Tuhan. Pada hari itu orang-orang mati akan bangkit dan dikembalikan ke tubuh mereka yang dimuliakan. Sekali lagi ini adalah Paulus yang memceritakan apa yang akan terjadi pada hari itu “Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, (Filipi 3:20,21) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab terpanjang dari surat-surat Paulus, 1 Korintius 15, mengfokuskan secara ekslusif tentang kebangkitan kita yang akan datang. Dia menulis bab itu untuk menjawab anggota-anggota tertentu gereja Korintus yang mempertimbangkan kebangkitan itu tidak bisa dipercaya dan tidak perlu. Kalau kebetulan kita menpunyai sifat orang Korintus, mari kita lihat poin penting dari intruksi Paulus di bab ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Kebangkitan itu perlu untuk kekristenan. Jika kamu menghilangkan kebangkitan Yesus, kamu menghilangkan dasar dari pengampunan (ayat 12-19).&amp;lt;br&amp;gt; Yesus Kristus adalah buah pertama dari mereka yang bangkit; kebangkitan Dia menjamin kebangkitan dari semua orang yang ada di dalam Kristus (ayat 20-22).&amp;lt;br&amp;gt; Kematian, musuh terakhir dan terbesar kita, akan ditaklukkan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Meditasi Pengkotbah 3:11&amp;lt;br&amp;gt;Dimana minat kita tentang masa depan itu datang? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan bahwa kita akan hidup lagi tidaklah lebih menakjubkan atau misterius daripada kita hidup sekarang. Tetapi keajaiban yang nyata adalah setelah kita tidak hadir di dalam kekekalan masa lalu, sekarang kita ada disini…Tentu saja ini lebih menakjubkan bahwa dari bukanlah kita, kita berwujud menjadi.&amp;lt;br&amp;gt;Loraine Boettner &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
85 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====== =============================================================  ======&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
melalui kebangkitan. Karena Yesus mati dan bangkit kembali, Dia tidak lagi menjadi maut kematian. Realitas yang sama menunggu semua orang milik Dia. Walaupun kita mempunyai suatu kebencian alami terhadap kematian, Firman Tuhan, teladan Yesus dan kehadiran Roh Kudus cukup untuk mengembalakan kita melalui jurang gelap dan yang tidak jelas. Jauh dari ketaatan orang Kristen, kematian telah ditelan oleh kemenangan – kemenangan Yesus Kristus (ayat 26, 54-56) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Apakah rupa dari badan-badan yang dimuliakan dan dibangkitkan? Paulus berkata mereka akan membawa kesamaan dari badan kita sekarang tetapi juga akan beda besar. Hubungan antara pohon acorn dan oak mungkin menjadi metafor untuk melukiskan perbedaan itu. Kita akan menambah pengetahuan dari pembahasan tentang kemunculan Yesus setelah kebangkitan. Badan baru kita tidak akan rusak, kuat, mulia, dan lebih utama nya rohani (ayat 35-44). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Selesai dengan sampah dan kotoran&amp;lt;br&amp;gt;Usaha untuk membawa bab terakhir ini ke penutupan memberi saya simpati baru untuk Paulus, yang mana hormat akan anugerah dan kemurahan hati Tuhan dijadikan suatu bentuk seni berupa kalimat yang panjang. Dimana itu akan berakhir? Doktrin kebenaran adalah tidak parallel di dalam jangkauan dan keindahan. Tidaklah kebetulan kalau keempat mahkluk hidup itu memuji kekudusan Tuhan tanpa berhenti, dan dengan setiap pernyataan dua puluh empat penua menunduk di dalam pujian yang tidak berhenti di hadapan domba Tuhan yang dimuliakan (Wahyu 4:8-11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Parabel Yesus tentang pesta kawin memberikan kita percampuran yang pas tentang perayaan dan ketenangan (Matius 22:2-14). Kamu mungkin sudah pernah mendengar cerita ini. Seorang raja memberikan pesta perkawinan untuk anaknya, dan membagi undangan-undangan ke seluruh kerajaannya. Ketika tamu-tamu dia menolak undangan, raja menolak untuk mengganti rencananya. “Pergilah ke sudut-sudut jalan dan undanglah siapa yang kamu jumpa”, dia berkata. Segera ruangan itu penuh dengan orang. Tamu undangan dari kelas bawah ini tidak biasa dengan etika agung, jadi kemungkinan besar raja akan memberikan baju yang cocok untuk pesta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di tengah perayaan raja masuk ke dalam &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6 Ini adalah inventori singkat apa yang harus kita tinggalkan ketika kita berada di tahap kemuliaan. Tandai hal apa yang kamu ingin bawa ke dalam kekekalan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 Stress&amp;lt;br&amp;gt; Pajak&amp;lt;br&amp;gt; Berat badan yang kelebihan&amp;lt;br&amp;gt; Jerawat&amp;lt;br&amp;gt; Depresi&amp;lt;br&amp;gt; Takut&amp;lt;br&amp;gt; Sedih dan&amp;lt;br&amp;gt; Sakit&amp;lt;br&amp;gt; Kerusakan komputer&amp;lt;br&amp;gt; Kebingungan tentang kehendak Tuhan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pembahasan selanjutnya:&amp;lt;br&amp;gt;Pertimbangkan kata-kata ini dari hymn lama: “Dunia ini bukanlah rumah saya, saya hanya lewat.” Dengan petualangan pikiran, baca 2 Korintus 5:1-5. Dimana kebangsaan Paulus? Dimana kamu punya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;86&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
ruang pesta melihat tamu-tamu dia, dan di sini kita mendapatkan parable inti persoalan. “Tetapi ketika raja masuk dia memperhatikan seorang pria tidak memakai pakaian pesta. ‘ Teman’, dia bertanya, ‘bagaimana kamu masuk tanpa pakaian pesta?’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk mengerti kemarahan raja, beberapa orang menduga bahwa itu adalah tradisi di zaman Yesus dimana si pengundang menyediakan pakaian pesta untuk tamu-tamunya, terlebih buat tamu yang tidak mampu. Tamu yang tidak berpakaian layak bukanlah korban dari kemiskinan, dia dengan sengaja menolak kemurahan penyediaan dari pengundangnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tanpa ragu raja memerintahkan dia untuk ditangkap tangan dan kaki dan dibuang ke dalam kegelapan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan Maha Kuasa telah mengumpulkan kita dari sudut-sudut jalan dan memberikan kita tempat di pesta pernikahan Anak Dia. Dia memberikan kita jubah kebenaran untuk menggantikan kain kotor kita. Perayaan yang meriah dan kekal akan terjadi. Tetapi mari perhatikan cara pakaian kita. Pakaian dijahit tangan, walau bagaimana susah atau bagus, akan meremehkan Tuan dari pesta itu. Hanya hadiah gratis dari keadilan, pengorbanan Tuhan Yesus Kristus dapat membawa kita ke dalam hadirat Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Seandainya saya mempunyai iman dari bapa-bapa sebelum saya,’ orang kudus abad sembilan belas berkata, ‘ semua semagat dari nabi-nabi, semua perbuatan baik dari rasul-rasul, semua kesengsaraan kudus dari orang-orang martir, dan semua pengabdian dari seraph; saya akan menyangkal semuanya dan menghitung semua tetapi sampah dan kotoran ketika dibanding dengan kematian yang mulia,dan jasa yang tidak ada batasnya dari Tuhan Yesus Kristus. Dikeluarkan dari amarah Tuhan dan diadilkan oleh anugerahnya, kita hanya mulai untuk mengerti betapa besarnya keselamatan ini. Tetapi kita masih mempunyai sedikit waktu. Kekekalan, walaupun ini tidak akan cukup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagian yang paling dipilih oleh setiap keberadaan orang Kristen adalah di hadapanNya.&amp;lt;br&amp;gt;William S. Plumer &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
87&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diskusi Kelompok&amp;lt;br&amp;gt;1. Memori yang terbaik apa yang kamu punya bersama bapa kamu?&amp;lt;br&amp;gt;2. Diskusikan ‘angst’ yang dijelaskan oleh pengarang di halaman 78. Bagaimana ini diekspresikan di dalam mereka yang belum diadilkan di dalam Kristus?&amp;lt;br&amp;gt;3. Diskusikan reaksi kamu tentang cerita adopsi Renee di halaman 78-79.&amp;lt;br&amp;gt;4. Tuliskan tiga kata sifat yang kamu pikirkan ketika mendengar kata ‘hakim’. Bagaimana dengan kata ‘Bapa’?&amp;lt;br&amp;gt;5. Apakah kamu ada pengalaman jelek dengan bapa duniawi kamu yang membuat kamu sulit untuk datang dekat kepada bapa surgawi kamu?&amp;lt;br&amp;gt;6. “Betapa melegakan mengetahui pilihan Tuhan akan kita tidak ada hubungannya dengan betapa menarik, pintar atau baiknya kita. “ tulis pengarang (halaman 83). Apakah motivasi Dia untuk mengadopsi kita?&amp;lt;br&amp;gt;7. Apakah ada sesuatu yang membuat kamu aneh ketika di dalam doa menyatakan Tuhan sebagai ‘Daddy’ (papa)?&amp;lt;br&amp;gt;8. Bagaimana Tuhan sorgawi kamu menyediakan untuk kamu minggu lalu?&amp;lt;br&amp;gt;9. Mana dari berikut ini mengungkapkan harapan kamu tentang kemuliaan yang akan datang? A. Tidak bisa ditunggu! B. Terdengar baik C. Saya belum siap D. Satu arah perjalanan kemana?&amp;lt;br&amp;gt;10. Baca Ibrani 11:13-16 dengan suara keras. Apa yang menjadi karakter orang-orang yang disebutkan? Bagaimana kita mengembangkan minat yang serupa??? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Rekomendasi Buku &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Immortality by Loraine Boettner (Phillipsburg, NJ:&amp;lt;br&amp;gt;Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1984)&amp;lt;br&amp;gt;The Bible on the Life Hereafter by William Hendriksen&amp;lt;br&amp;gt;(Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1987)&amp;lt;br&amp;gt;The Atonement by Leon Morris (Downwers Grove, IL:&amp;lt;br&amp;gt;InterVarsity Press, 1984)&amp;lt;br&amp;gt;The Glory of Christ by Peter Lewis (Chicago, IL: Moody&amp;lt;br&amp;gt;Press, 1997) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
88&amp;lt;br&amp;gt;========================================================================= &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
NOTA&amp;lt;br&amp;gt;1. Edmund P. Clowney, Preaching and Biblical Theology (Phillipsburg,&amp;lt;br&amp;gt;NJ: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1961), p. 15.&amp;lt;br&amp;gt;2. Gordon R. Lewis, Confronting the Cults (Grand Rapids, MI: Baker&amp;lt;br&amp;gt;Book House, 1966), p. 25.&amp;lt;br&amp;gt;3. J.I. Packer, Knowing God (Downers Grove, IL: InterVarsity Press,&amp;lt;br&amp;gt;1973), p. 181.&amp;lt;br&amp;gt;4. Ibid.&amp;lt;br&amp;gt;5. W. v. Martitz, Theological Dictionary of the New Testament, Vol.&amp;lt;br&amp;gt;VIII, G. Kittle and G. Friedrich, Eds. (Grand Rapids, MI: Wm. B.&amp;lt;br&amp;gt;Eerdmans Publishing Co., 1972), p. 398.&amp;lt;br&amp;gt;6. William Hendrikson, New Testament Commentary, Romans—&amp;lt;br&amp;gt;Chapters 1–8 (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1980), p. 259.&amp;lt;br&amp;gt;7. Ibid.&amp;lt;br&amp;gt;8. Ibid.&amp;lt;br&amp;gt;9. F.F. Bruce, Tyndale New Testament Commentary, Romans (Grand&amp;lt;br&amp;gt;Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1963), pp. 166–67.&amp;lt;br&amp;gt;10.William Hendrikson, Romans Commentary, p. 258.&amp;lt;br&amp;gt;11.D. Martyn Lloyd-Jones, Romans: An Exposition of Chapter 8:5-17&amp;lt;br&amp;gt;(Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1974), p. 243.&amp;lt;br&amp;gt;12.J.I. Packer, Knowing God, p. 188.&amp;lt;br&amp;gt;13.William S. Plumer, The Grace of Christ (Philadelphia, PA:&amp;lt;br&amp;gt;Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 266.&amp;lt;br&amp;gt;14.Loraine Boettner, Immortality (Phillipsburg, NJ: Presbyterian and&amp;lt;br&amp;gt;Reformed Publishing House, 1956, 1984), p. 59.&amp;lt;br&amp;gt;15.William Plumer, The Grace of Christ, p. 404.&amp;lt;br&amp;gt;16.Ibid., p. 236–37. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;/blockquote&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Incomplete]] [[Category:Needs_Attention]]&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:39:22 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar/Buah-buah_dari_Kebenaran_(II)</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar/Buah-Buah Pembenaran (I)</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar/Buah-Buah_Pembenaran_(I)</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation/The Fruits of Justification (I)}}Apakah Anda pernah memperhatikan betapa sedikitnya buku-buku Kristen yang memiliki cover menarik? Oh, ada beberapa, tentu – seperti buku Franky Schaeffer ''A Time for Anger'', dengan lukisan dari Pieter Brueghel “Orang Buta Menuntun Orang Buta.” Lukisan itu begitu menggugah saya sehingga saya mencari kopinya dan membingkainya untuk kantor saya. Dan ada juga gambar-gambar mengagumkan di sampul ''Chronicles of Narnia'' milik C.S. Lewis yang ''siap membawa Anda ke sana''. Salah satu sampul buku yang paling menarik yang pernah saya lihat tampak di sebuah seri pamflet. Illustrasinya menunjukkan seorang pria sedih dan kesepian yang sedang memandang kosong keluar jendela sebuah sel penjara. Saat Anda melihat, Anda menjadi sadar bahwa pintu selnya terbuka di belakangnya. Tetapi ia tidak memperhatikannya. Kalau saja ia menoleh ia akan melihat bahwa ia dapat berjalan keluar seperti orang bebas. Tetapi ia tetap terpenjara karena ketidaktahuannya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Lukas 4:18-19.''' Apakah Anda menyadari “Proklamasi Emansipasi” ini diberikan kepada Anda?}}Intinya cukup jelas. Banyak orang Kristen – bukan, kebanyakan orang Kristen – adalah seperti pria ini. Secara tragis mereka tidak menyadari kebebasan dan hak-hak lebih yang adalah milik mereka melalui injil Yesus Kristus. Mereka adalah orang-orang kudus yang tidak perlu terpenjara. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika Allah mengampuni, Ia mengampuni semua dosa, dosa asal dan dosa sekarang, dosa karena kita melakukan dan dosa karena kita tidak melakukan, dosa rahasia dan dosa terbuka, dosa dalam pikiran, perkataan dan perbuatan… Pengampunan penuh, atau tidak sama sekali, adalah yang Allah ciptakan untuk berikan. Hal ini sesuai dengan kebutuhan manusia. Pemberian ini tidak pernah diambil kembali oleh Allah. Ketika Ia mengampuni, Ia mengampuni selamanya&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), pp. 201–02.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — William S. Plumer &amp;quot;Saya harus memperhatikan apa yang saya katakan: tetapi rasul itu berkata, “Allah membuat Dia yang tidak mengenal dosa, menjadi berdosa karena kita, sehingga kita dapat dibenarkan oleh Allah di dalam Dia.” Begitulah kita di mata Allah Bapa, sama seperti Anak Allah sendiri. Biarlah hal itu dianggap bodoh atau emosi, atau luapan perasaan, apa pun, itu adalah penghiburan kita dan hikmad kita; kita tidak peduli pengetahuan lain di dunia selain ini, bahwa manusia telah berdosa dan Allah telah menderita; bahwa Allah telah membuat dirinya sendiri Anak manusia, dan bahwa manusia dibuat kebenaran Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Ibid., p. 230. &lt;br /&gt;
&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Richard Hooker}}Merubah gambaran ini sedikit saja, sejumlah budak terus hidup seperti sebelumnya bahkan setelah Proklamasi Emansipasi. Sebagian mereka tetap berada di kegelapan tentang dimana mereka sekarang berdiri. Sebagian lain, walaupun menyadari kebebasan mereka, tidak pernah berjalan keluar tempat perbudakan karena takut. Kebebasan menuntut keberanian dan membawa bersamanya tanggung jawab yang besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelihatannya injil hanya membuat perbedaan kecil dalam hidup orang Kristen yang tak terhitung jumlahnya. Meskipun mereka telah sungguh dibenarkan dan penghukuman telah dibatalkan, masalah yang sama sepertinya mengganggu mereka. Ketakutan, kebiasaan, dan keraguan yang sama yang mengkarakterisasi hidup mereka sebelum mereka percaya Kristus masih tetap memegang kendali. Mengapa? Menurut saya satu alasan terbesar adalah ketidaktahuan. Bagi tidak sedikit orang Kristen, Alkitab masih menjadi buku tertutup. Fakta bahwa warisan besar telah disediakan bagi mereka yang dibenarkan oleh Allah seperti belum menjadi jelas buat mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan akan Firman Tuhan yang terus bertumbuh adalah sangat vital. Di saat Anda membaca, menghafal dan merenungkan Firman Tuhan, Anda akan mulai merasakan penyediaan yang mengagumkan yang diberikan Allah. Dua bab terakhir dari buku ini akan mengekplorasi buah-buah dari pembenaran kita, warisan kita di dalam Kristus. Sisa keraguan yang masih ada di pikiran kita mengenai tujuan dan takdir Tuhan harus dijelaskan saat kita menginventori keuntungan-keuntungan dari keselamatan yang agung ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Turun dari Kursi Kayu  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gambaran sekitar doktrin pembenaran datang langsung dari pengadilan hukum, seperti yang kita pelajari di bab sebelumnya. Allah, Pemberi hukum dan Hakim dari seluruh bumi, telah mengeluarkan sebuah deklarasi yang membebaskan orang berdosa yang terhukum dari semua kesalahan. Pembenaran memberi kita status baru di hadapan Allah dan mengampuni kita dari semua dosa dan hukumannya. Walaupun kita adalah orang-orang kriminal tertuduh yang sedang menunggu dalam barisan Hukuman Mati yang tidak bisa dihindari, Sang Hakim mengampuni kita dan menghancurkan catatan-catatan kriminal kita. Betapapun mengagumkannya hal ini, ada aspek pembenaran yang bahkan lebih mengagumkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya pernah berada di ruang sidang, dan itu bukanlah tempat yang penuh keceriaan. Anda tidak dapat menjadi diri Anda sendiri. Adalah tidak pantas untuk tertawa keras atau mengangkat kaki Anda. Tidak seorang pun berpikir untuk bertemu hakim setelah sidang untuk makan es krim ataupun menonton pertandingan bola basket. Ada peraturan perilaku tertentu yang harus dipertahankan, formal dan mengintimidasi – dan memang dimaksudkan begitu. Hal ini tidak kurang benar di hadirat Hakim yang berdaulat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Buka hampir di bagian mana saja dari Alkitab Anda dan Anda akan menemukan janji-janji menakjubkan dari Tuhan. Tandai satu dari yang di bahwa ini yang paling berarti buat Anda saat ini. &lt;br /&gt;
* “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr 13:5). &lt;br /&gt;
* “Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu” (1Kor 10:13) &lt;br /&gt;
* “Barangsiapa percaya kepada-Ku akan melakukan pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa” (Yoh 14:12) &lt;br /&gt;
* “Ia yang memulai pekerjaan yang baik diantara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Flp 1:6) &lt;br /&gt;
* “Kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris” (Gal 4:7).}}Tetapi ada perbedaan yang sangat besar antara pengadilan di surga dan di bumi. Setelah menyatakan kita bebas dari segala tuduhan dan penghakiman, Tuhan memilih untuk ''tidak'' pergi ke ruangan-Nya, seperti yang dikira. Tetapi, Ia mendobrak semua standard dengan turun dari bangku kayu, mengumpulkan kita di tangan-Nya, dan lalu menggendong kita dari ruang sidang ke ruang keluarga. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memiliki Allah sebagai Bapa kita adalah sungguh mengagumkan. Firman Tuhan telah menjelaskan bahwa kita berhubungan dengan Tuhan dengan intim dan secara legal. Bukan itu saja, tetapi untuk menjadi anak-anak-Nya mendatangkan hak-hak khusus. Paulus mendeskripsikannya seperti ini: “Roh itu bersaksi bersam-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris – orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus” (Rom 8:17). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sementara pembenaran bagi kita adalah pemberian gratis, pembenaran itu dibayar Allah dengan Anak-Nya. Pembenaran itu dibayar oleh nyawa Anak-Nya. Dan pembenaran itu dibayar oleh keangkuhan kita, karena satu-satunya cara untuk menerima pemberian ini adalah dengan datang kepada Tuhan dalam kerendahan hati dan pertobatatan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Semua Ini  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' “Kekayaan” apakah yang Paulus deskripsikan di Kolose 2:2-3? Dimanakah “harta“ itu berada? Apakah Anda telah sepenuhnya mengambil keuntungan dari warisan ini?}}Anak Allah, Ahli Waris Allah, Ahli Waris bersama Kristus. Apa arti semua itu? Mari kita bangun satu fakta penting. Yesus Kristus, Anak tunggal Allah, adalah ahli waris Bapa yang sah dan sebenarnya. Kalau ada warisan yang kita miliki itu hanya karena kita berada di “dalam Kristus” (Ef 2:7). Apalagi, Kristus sendiri adalah warisan ini. Dia adalah damai kita, Dia adalah kebenaran kita, pengharapan kita, penyucian dan penebusan kita. Di dalam Dia tersembunyi semua harta hikmad dan pengetahuan. Dialah kebangkitan dan hidup. Hal terbesar yang kita akan pernah terima dari Allah adalah Yesus sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah juga penting untuk memahami bahwa keselamatan datang bukan melalui sebuah doktrin melainkan melalui sebuah Individu. Kita tidak diselamatkan oleh pembenaran, tetapi oleh Yesus. Waktu kita mengambil waktu untuk mempelajari Firman Tuhan kita menghadapi resiko menjadi seorang ahli doktrin tetapi tidak kompeten dalam pengetahuan sejati akan Tuhan kita. Dan mengenal Tuhan adalah segalanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Bagaimana seseorang yang hidup melalui pengalaman tercatat di 2 Korintus 11:23-33 bisa menulis Roma 15:13??}}Seorang kawan saya mengatakan pada saya cerita berikut ini tentang Scott McGregor, orang Kristen berdedikasi dan seorang pelempar bola baseball kidal yang terkenal untuk Baltimore Orioles di tahun 70 dan 80an. Suatu ketika, di satu momen genting di dalam permainan, Scott menemukan dirinya berhadapan dengan seorang pemukul bola berbahaya dengan orang-orang pencetak angka. Ia mengambil waktu cukup untuk mempelajari situasi ketika seorang wanita tidak sabar di kotak tempat duduk di belakang kandang pemain Orioles berteriak, “Yesus Kristus! Lempar bolanya!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Baca Matius 7:21-23 dan jawab pertanyaan-pertanyaan berikut: &lt;br /&gt;
* Hal-hal terpuji apakah yang orang-orang ini capai? &lt;br /&gt;
* Apakah empat kata penilaian Tuhan terhadap mereka? &lt;br /&gt;
* Dalam satu kalimat, bagaimana Anda akan merangkum kesalahan fatal mereka?}}Bukan tidak umum untuk mendengar nama Tuhan digunakan sembarangan di permainan bola. Tetapi dalam peristiwa ini McGregor begitu tersentak sehingga ia hampir kehilangan konsentrasi. Setelah mengembalikan dirinya sendiri, ia dapat melempar dengan benar dan pemukulan bola berakhir. Lalu ia melakukan sesuatu yang sangat berbeda, sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pemain. Ketika ia berjalan kembali ke kandang pemain ia menatap langsung ke wanita tadi dan bicara dengannya. Dalam nada yang terganggu namun lembut, penuh keprihatinan terhadap wanita itu dan Tuhannya, ia berkata, “Ibu, kalau kamu sungguh mengenal Dia, kamu tidak akan pernah menyebut nama-Nya seperti itu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
McGregor mendemonstrasikan bahwa Kekristenan adalah lebih dari sekedar sebuah kebenaran untuk dipercayai. Kekristenan adalah sebuah kehidupan untuk dijalani dan, di atas segalanya, satu Tuhan untuk dicintai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu memikirkan sesuatu seluas, seajaib warisan yang kita miliki di dalam Kristus, digambarkan Paulus sebagai “kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah” (Ef 2:7), sangat sulit untuk mengetahui dimana harus mulai. Menariknya, Paulus juga memiliki masalah yang sama. Di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, ia begitu terbawa oleh implikasi pembenaran yang begitu besar. Saat ia berusaha menghubungkan semua yang Tuhan telah lakukan dan sedang lakukan di pasal pertama, ia mulai dengan kalimat di ayat tiga yang berakhir sampai sebelas ayat kemudian. Secara tata bahasa memang tidak cantik, namun hatinya yang penuh mengalir memberi kesaksian akan anugerah Tuhan yang tidak terselami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perikop berikut dari surat Paulus kepada jemaat di Roma menyediakan titik mula yang sangat bagus “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah” (Rom 5:1-2). John Stott menjelaskan pentingnya perikop ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pasal-pasal awal dari [kitab Roma] didedikasikan untuk kebutuhan dan jalan pembenaran. Semua itu bertujuan menjelaskan bahwa semua manusia adalah berdosa di bawah penghakiman Allah yang adil, dan dapat dibenarkan hanya melalui penebusan yang di dalam Yesus Kristus – melalui anugerah semata, melalui iman saja. Di poin ini, setelah membeberkan kebutuhan dan penjelasan jalan pembenaran, Paulus meneruskan dengan menggambarkan buah-buahnya, hasil dari pembenaran dalam hidup sebagai anak dan ketaatan di dunia dan kehidupan lanjut yang penuh kemuliaan di surga (penekanan ditambahkan).&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966, 1991), pp. 9–10.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bab ini akan melihat tiga buah dari pembenaran: damai dengan Allah, pengampunan dosa, dan proses penyucian. Di bab terakhir buku ini kita akan mengkaji pengadopsian kita di dalam Kristus serta pengharapan kita akan kemuliaan di masa depan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Damai dengan Allah  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perdamaian dengan Allah menggarisbawahi semua yang lain yang kita terima dalam Kristus. Perdamaian ini adalah hadiah yang menaruh berkat-berkat lain dalam perspektif. “Urusan utama dari injil Kristen adalah bukan untuk memberi kita berkat,” tulis D. Martyn Lloyd-Jones. “Tujuan utamanya adalah untuk mendamaikan kita dengan Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1971), p. 10.&amp;lt;/ref&amp;gt; Berdamai dengan Allah berarti kita berada di posisi perujukan dengan-Nya. Pernyataan pembenaran telah menjauhkan semua halangan antara Allah dan manusia. Walau tentu saja ada yang namanya damai ''dari'' Allah yang subyektif (yang bisa dirasakan), apa yang ada di benak Paulus dalam Roma 5:1 adalah fakta ''obyektif'' bahwa injil telah menghapuskan segala sesuatu yang memisahkan kita dari Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Efesus 2:11-20.''' Apa yang Yesus lakukan terhadap penghalang permusuhan yang berdiri diantara diri-Nya dan kita?}}Untuk mendamaikan berarti menyatukan apa yang telah terpisah karena pemusuhan. Contoh utama dari arti ini ditemukan di kotbah Stefen kepada Sanhedrin ketika ia menceritakan kembali peristiwa kehidupan Musa: “Pada keesokan harinya ia muncul pula ketika dua orang Israel sedang berkelahi, lalu ia berusaha ''mendamaikan'' mereka, katanya: Saudara-saudara! Bukankah kamu ini bersaudara? Mengapakah kamu saling menganiaya?” (Kis 7:26). Versi Alkitab King James menerjemahkan “mendamaikan” di konteks ini menjadi “membuat mereka satu kembali.” Kata Yunani yang dipakai adalah bentuk kata kerja dari kata yang biasa diterjemahkan “damai.” Apa yang penting bagi kita untuk diingat adalah bahwa sekarang, dari titik pandang Allah, tidak ada lagi permusuhan antara Allah dan mereka yang telah dibenarkan. Amarah dan murka-Nya terhadap dosa telah diekspresikan dengan adil dan dipuaskan penuh di Salib. Perseteruan telah berakhir. Perdamaian telah dibuat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak hanya konflik telah diselesaikan, tetapi semua masalah hukum yang berasal dari permusuhan sebelumnya telah dihapuskan, tidak pernah muncul lagi: “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi merkea yang ada di dalam Kristus Yesus…Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka?” (Rom 8:1,33). Kalau pengadilan tertinggi di jagad raya ini telah menyatakan kita benar, tidak ada gugatan yang bisa menempel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika perang suci kita dengan Allah berakhir, ketika kita seperti Luther berjalan melalui pintu-pintu Surga, ketika kita dibenarkan oleh iman, perang itu berakhir untuk selamanya. Dengan pembersihan dari dosa dan pernyataan pengampunan ilahi kita memasuki perjanjian damai dengan Allah yang kekal. Buah sulung dari pembenaran kita adalah damai dengan Allah. Damai ini adalah damai yang kudus, damai yang tidak bercacat dan agung. Damai ini adalah damai yang tidak bisa dihancurkan.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, ''The Holiness of God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1985), p. 193.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — R.C. Sproul}}Berhati-hatilah bahwa frase “tidak ada penghukuman” ''tidak'' berarti “tidak ada tuduhan.” Kita telah menyinggungnya di bab pertama. Musuh jiwa kita meneruskan pekerjaan kotornya menyebarkan kata-kata yang melecehkan dan menembakan anak panah api, dan sering terjadi kita salah mengira pembetulan dan teguran Tuhan sebagai suara tuduhan iblis. Tetapi kenyataan bahwa Yesus telah mengambil tempat kita berarti kita tidak akan pernah harus berhadapan dengan penghukuman di penghakiman akhir. “Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?” (Rom 8:34). Dia yang satu-satunya memiliki otoritas untuk menghukum untuk selamanya telah memihak pada kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Bayangkan Anda sendiri memerintah sebuah bangsa berjumlah lima milyar orang. Sebuah berita mengatakan bahwa ada seorang warga yang mengadakan pemberontakan dan sedang membuat kekacauan di istana. Bukannya mengirim divisi tank bersenjata untuk menghentikan orang gila itu, Anda mengirim Pangeran. Dalam usaha menggapai si pemberontak, sang Pangeran terbunuh. Bagaimana Anda akan memperlakukan warga ini setelah ia ditangkap? * Musnahkan ia selamanya dari kerajaan * Membakar ia perlahan-lahan di atas api menyala * Menggantungnya dari pohon tertinggi di kota * Hukum dia dengan hidup dalam isolasi * Menjadikannya makanan bagi ular piton kerajaan * Mengampuninya, menerimanya, dan mengadopsinya menjadi anak Anda.}}Mengetahui kita telah didamaikan dengan Allah membawa ketenangan bagi pikiran kita. Ini memampukan kita untuk mengalahkan rasa kuatir dan takut. Bahkan bila seluruh dunia melawan kita, kita tetap aman dalam Kristus. “Janganlah kamu takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh dan kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi,” Yesus menjelaskan kepada murid-murid-Nya, yang telah ditetapkan untuk menghadapi perlawanan hebat. “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka” (Luk 12:4, 5). Allah, satu-satunya yang berharga untuk kita takuti, telah berinisiatif mengadakan perjanjian damai kekal dengan kita. Untuk orang Kristen yang dibangun di dalam kebenaran ini, bahkan ketakutan akan maut dikalahkan karena ancaman penghukuman tidak lagi eksis. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Pengampunan Dosa-Dosa  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Keluaran 34:5-7.''' Dalam kesadaran akan semua kualitas karakter Allah, apakah Anda menganggap penting bahwa Ia memilih untuk menekankan sifat-sifat ini ketika Ia menyatakan diri kepada Musa?}}Berhubungan erat dengan perujukan dan damai dengan Allah adalah pengampunan dosa. Saya mungkin berlebihan, tetapi kelihatannya bagi saya kebenaran berharga ini berada dalam bahaya untuk dibenci. Ketika orang meratap. “Saya tahu saya telah diampuni, tetapi…,” saya tidak tahan untuk berpikir, ''Kamu tidak tahu bahwa kamu telah diampuni! Kalau kamu sungguh mengerti pengampunan masalahmu tidak akan terlihat seburuk itu.'' Seperti Lloyd-Jones implikasikan di dalam pernyatannya di halaman 63, kebutuhan terbesar manusia adalah pengampunan. Dan kalau Tuhan sudah mengampuni kita, masalah lain apapun yang kita punya pasti menjadi lebih kecil kalau dibandingkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang ini jarang terdengar orang-orang Kristen bersukacita karena diampuni Allah. Hal ini dapat dipahami di kultur yang memandang nilai diri yang rendah sebagai masalah yang lebih besar daripada diasingkan dari Allah. Namun kepekaan kita akan pengampunan secara langsung mempengaruhi kasih kita terhadap Allah. Itulah inti dari respon Tuhan terhadap Simon orang Farisi yang merasa diri benar. “Orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih,” kata Yesus padanya (Luk 7:47). Sebaliknya, mereka yang telah diampuni banyak – atau setidaknya menyadari betapa banyak mereka telah diampuni – banyak berbuat kasih. Setiap dari kita harus berada di kategori itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah keraguan-keraguan ini menyebabkan Anda mempertanyakan pengampunan Allah? (tandai semua yang cocok) &lt;br /&gt;
* Tuhan tidak dapat terus menerus mengampuni saya untuk dosa yang sama. &lt;br /&gt;
* Saya mungkin telah diampuni, tetapi Tuhan belum melupakan. &lt;br /&gt;
* Tidak ada yang gratis di dalam hidup – Tuhan pasti mengharapkan sesuatu bentuk pembayaran. &lt;br /&gt;
* Saya bersalah atas dosa yang tidak dapat diampuni. &lt;br /&gt;
* Setelah dosa nomor 491 Tuhan akan menolak saya (lihat Mat 18:22).}}Pertimbangkan berikut ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Pengampunan dosa datang kepada kita hanya atas dasar darah Yesus Kristus yang tercurah. “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Ef 1:7). &lt;br /&gt;
*Motif Tuhan mengampuni kita adalah kasih-Nya yang besar. Pengampunan-Nya adalah pekerjaan belas kasih dan cuma-cuma. “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa” (Kis 5:31)—dan orang bukan Israel juga. &lt;br /&gt;
*Pengampunan dosa membawa kepada pengetahuan keselamatan. Yesus datang “untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka” (Luk 1:77). &lt;br /&gt;
*Memahami pengampunan membawa kepada rasa takut yang benar akan Allah. “Jika Engkau, ya Tuhan, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang” (Mzm 130:3-4). &lt;br /&gt;
*Pengampunan Tuhan adalah menyeluruh. “Aku, Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu” (Yes 43:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita berikut ini, diceritakan oleh Becky Pippert di dalam bukunya Hope Has Its Reasons, menunjukkan kekuatan pengampunan di dalam hidup seorang wanita. Berharga untuk dikutip secara panjang: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Beberapa tahun yang lalu setelah saya selesai berbicara di sebuah konferensi, seorang wanita cantik datang ke podium. Ia tentu saja ingin bicara pada saya dan di saat saya berbalik menghadapnya, air mata keluar dari matanya. Kami pindah ke ruang dimana kami bisa bicara secara pribadi. Sangat jelas dari melihatnya bahwa ia sensitif tapi menderita. Ia menangis selagi ia mengatakan pada saya cerita berikut ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam hubungan terhadap dosa dan terhadap Tuhan, faktor penentu dari eksistansi saya bukanlah lagi masa lalu saya. Melainkan masa lalu Kristus.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality (Reformed View)'', Donald Alexander, ed. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1988), p. 57.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — Sinclair Ferguson}}“Bertahun-tahun sebelumnya, ia dan tunangannya (yang sekarang ia nikahi) merupakan pekerja remaja di sebuah gereja konservatif besar. Mereka adalah pasangan yang cukup dikenal dan memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap anak-anak muda. Semua orang menghormati mereka dan sangat mengagumi mereka. Beberapa bulan sebelum mereka menikah mereka mulai melakukan hubungan seks. Hal itu membebankan mereka dengan rasa bersalah dan kemunafikan. Tapi lalu ia menemukan dirinya hamil. ‘Anda tidak dapat membayangkan apa implikasi dari mengakui hal ini kepada gereja,’ katanya. ‘Mengaku bahwa kami mengajarkan satu hal dan menjalani hal yang lain adalah tidak bisa ditoleransi. Jemaat ini sangat konservatif dan tidak pernah disentuh oleh skandal apapun. Kami merasa mereka tidak akan dapat menangani keadaan bila mengetahui situasi kami. Kamipun tidak akan dapat menanggung rasa malu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Baca Yesaya 59. Bagaimana Tuhan berespon terhadap kekurangan kita akan kekudusan yang begitu besar? (lihat ayat 16 dan 20)}}‘Lalu kami membuat keputusan yang paling mengerikan yang saya pernah buat. Saya menggugurkan kandungan. Hari pernikahan saya adalah hari terburuk dalam seluruh hidup saya. Setiap orang di gereja tersenyum pada saya, berpikir saya adalah pengantin perempuan bersinar dalam kepolosan. Tetapi tahukah Anda apa yang berada di kepala saya di saat saya berjalan di menuju altar? Yang dapat saya katakan pada diri saya adalah, ‘Kamu adalah seorang pembunuh. Kamu terlalu sombong sehingga tidak dapat menanggung rasa malu dan penghinaan bila kamu membuka siapa dirimu. Tetapi saya tahu siapa kamu dan Tuhan juga. Kamu telah membunuh bayi yang tidak bersalah.’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia menangis begitu dalam sehingga ia tidak dapat berbicara. Saat saya memeluknya sebuah pemikiran datang pada saya dengan sangat kuat. Tapi saya merasa takut untuk mengatakannya. Saya tahu kalau ini bukan dari Tuhan bahwa ini dapat sangat menghancurkan. Maka saya berdoa dalam hati untuk hikmad untuk menolongnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Ia melanjutkan. ‘Saya tidak percaya bahwa saya melakukan sesuatu yang begitu mengerikan. Bagaimana bisa saya membunuh nyawa yang tidak bersalah? Bagaimana mungkin saya bisa melakukan hal seperti itu? Saya mencintai suami saya, kami memiliki empat anak yang manis. Saya tahu Alkitab mengatakan bahwa Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita. Tapi saya tidak dapat mengampuni diri saya sendiri! Saya telah mengaku dosa ini beribu kali dan saya masih merasakan rasa malu dan menderita itu. Pikiran yang paling menghantui saya adalah ''bagaimana'' saya dapat membunuh nyawa yang tidak bersalah?’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya mengambil nafas dalam dan mengatakan apa yang telah saya pikirkan. ‘Saya tidak tahu mengapa kamu begitu terkejut. Ini bukan pertama kali dosamu membawa kematian, ini adalah yang kedua.’ Ia melihat saya dengan penuh kebingungan. ‘Temanku sayang,’ saya melanjutkan, ‘ketika kamu melihat Salib, semua dari kita datang sebagai penyalib. Beragama atau tidak beragama, baik atau buruk, penggugur kandungan atau bukan penggugur kandungan – semua dari kita bertanggung jawab atas kematian dari satu-satunya orang tak bersalah yang pernah hidup. Yesus mati untuk dosa-dosa kita – masa lalu, sekarang, dan masa depan. Kamu pikir ada dosa-dosamu yang Yesus tidak perlu mati untuknya? Dosa kesombongan itu yang menyebabkan kamu menghancurkan anakmu adalah yang membunuh Kristus juga. Tidak peduli kamu tidak berada di sana dua ribu tahun yang lalu. Kita semua mengirim-Nya ke sana. Luther berkata bahwa kita membawa paku-paku-Nya itu di saku kita. Jadi kalau kamu telah melakukannya sebelumnya, lalu mengapa kamu tidak bisa melakukannya lagi?’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Mazmur 32:1-5.''' Apa yang terjadi waktu kita menyimpan dosa-dosa kita? Apa yang terjadi waktu kita mengakuinya?}}“Ia berhenti menangis. Ia melihat saya tepat di mata dan berkata, ‘Kamu sangat benar. Saya telah melakukan yang lebih buruk daripada membunuh bayi saya sendiri. Dosa sayalah yang telah membawa Yesus ke kayu Salib. Tidak peduli saya tidak berada di sana menancapkan paku, saya tetap bertanggung jawab atas kematian-Nya. Sadarkah Anda pentingnya ucapan yang Anda katakan pada saya, Becky? Saya datang pada Anda mengatakan saya telah melakukan hal terburuk yang bisa dibayangkan. Dan Anda mengatakan pada saya bahwa saya telah melakukan lebih buruk dari itu.’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Apakah Anda menemukan diri Anda dibebani oleh rasa bersalah ketika Anda mengingat sebuah dosa (atau dosa-dosa) spesifik dari masa lalu? Kalau begitu, carilah seorang Kristen yang dewasa yang kepadanya Anda dapat mengaku dan yang darinya Anda dapat menerima penguatan tentang besarnya pengampunan Tuhan. Tulislah keinginan Anda itu: “Percaya bahwa Tuhan ingin saya untuk melepaskan saya dari rasa bersalah, saya akan berbicara kepada __________________ tentang area dosa ini tidak lebih dari ______ ___________.”}}“Saya menyeringai karena saya tahu itu adalah benar. (Saya tidak yakin bahwa pendekatan saya akan menjadi salah satu teknik konseling yang hebat!) Lalu ia berkata, ‘Tapi Becky, kalau Salib menunjukkan saya bahwa saya adalah lebih buruk daripada yang saya pernah bayangkan, Salib itu juga menunjukkan bahwa kejahatan saya telah diserap dan diampuni. Kalau hal terburuk yang manusia dapat lakukan adalah membunuh Anak Allah, dan itu dapat diampuni, lalu bagaimana bisa hal lain – bahkan aborsi – tidak diampuni?’ &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Saya tidak akan pernah lupa rupa di matanya ketika ia duduk kembali dalam kekaguman dan dengan tenang berkata, ‘Bicara tentang anugerah yang besar.’ Kali ini ia menangis bukan karena penderitaan tapi karena rasa lega dan syukur. Saya melihat wanita yang sepenuhnya telah ditransform oleh pengertian yang benar akan Salib.”&amp;lt;ref&amp;gt;Rebecca Pippert, ''Hope Has Its Reasons'' (New York: HarperCollins Publishers, Inc., 1989), pp. 102–104.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengampunan dosa adalah isu yang sangat penting. Ahli teologi English Puritan, John Owen, menulis sebuah essay tentang topik yang masih dianggap sebuah klasik. Eksposisi dari Mazmur 130 ini panjangnya lebih dari tiga ratus halaman, meskipun mazmur itu sendiri hanya terdiri dari delapan ayat. Pendahuluan dari editor memberikan beberapa masukan mengenai keadaan sekitar penulisan eksposisi itu. Sepertinya sebagai seorang pemuda Owen hanya memiliki pemahaman yang dangkal akan pengampunan Tuhan, “sampai Tuhan berkenan menengok saya dengan kesulitan yang menyakitkan, dimana saya dibawa ke mulut kubur, dan dimana jiwa saya tertekan oleh rasa ketakutan dan kegelapan; tapi Tuhan dengan murah hati membebaskan roh saya oleh aplikasi penuh kuasa dari Mazmur 130:4 yang darinya saya peroleh ajaran khusus, kedamaian dan penghiburan, dalam mendekat kepada Tuhan melalui Mediator, dan mengkotbahkannya langsung setelah saya sembuh.”&amp;lt;ref&amp;gt;John Owen, ''Works, Vol. VI'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1967), p. 324.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Ketika kamu menyadari semua yang dibayar Tuhan untuk mengampunimu, kamu akan dipegang seperti seorang sahabat, dibatasi oleh kasih Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;Oswald Chambers, My Utmost for His Highest (New York: Dodd, Mead &amp;amp; Company, 1963), p. 325.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot;}}Mazmur 130:4, seperti kita lihat di atas, menunjukkan bahwa takut akan Tuhan adalah pertumbuhan natural dari penerimaan akan pengampunan-Nya. Pada saat kita muda dan sehat masalah lain dapat terlihat begitu lebih penting. Tapi saat mata kita terbuka pada hal-hal yang bersifat kekal, mengetahui apakah kita sungguh diampuni akan membuat masalah-masalah lain menjadi tidak penting. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Penyucian melalui Kristus  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran memulai proses yang disebut penyucian, dimana kita makin menjadi serupa dengan Yesus. Sementara pembenaran membuat kita diampuni dan dikasihi, pembenaran tidak berbuat apa-apa terhadap karakter kita. Kita tetap orang pemberontak yang sama sebelum Tuhan menyelamatkan kita. Akan tragis jadinya jika Tuhan membiarkan kita sendiri. Kita tidak akan pernah bertumbuh, tidak pernah berubah, tidak pernah meningkat. Untungnya, meskipun Tuhan mengasihi kita apa adanya, Ia terlalu mengasihi kita untuk meninggalkan kita di sana. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pusat doktrin penyucian adalah kebenaran bahwa kita disatukan dengan Yesus Kristus. Di dalam bukunya ''Men Made New'', John Stott membuat pengamatan berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:“Tema besar Roma 6, dan khususnya ayat 1-11, adalah bahwa kematian dan kebangkitan Yesus Kristus bukanlah hanya fakta sejarah dan doktrin penting, melainkan pengalaman pribadi orang Kristen yang percaya. Pengalaman-pengalaman tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang kita sendiri alami. Semua orang Kristen telah disatukan dengan Kristus di dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, kalau ini benar, jika kita telah mati dengan Kristus dan dibangkitkan dengan Kristus, adalah tidak terbayangkan bahwa kita terus hidup dalam dosa.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Men Made New'', p. 30.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin Anda berpikir ulang saat Anda melihat kata “tidak terbayangkan.” Kebanyakan kita menemukan tidak terbayangkan kalau kita dapat mungkin terus hidup ''diluar'' dosa! Apakah kemenangan atas dosa sebenarnnya mungkin? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut: Baca 1 Korintus 15:51-58.''' Meskipun perikop ini mengacu pada masa yang akan datang, bagaimana kebenaran ini dapat menguatkan Anda dalam pergumulan Anda melawan dosa?}}Inilah dua jawaban yang umum. Sebagian mengatakan orang Kristen dapat mengharapkan hidup kemenangan di dunia akan datang, tetapi harus memasang penglihatan lebih rendah di dunia ini sekarang. Sebagian lagi telah mengalami pelepasan secara dramatis dari dosa yang menjijikan sehingga mereka merasa diri mereka imun terhadapnya. Kedua ekstrim ini berada di luar target. Walau aplikasi pelajaran membutuhkan usaha rohani, kita memiliki di bab enam kitab Roma semua ajaran yang kita butuhkan untuk meluruskan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Jika demikian apa yang hendak kita katakan?” tanya Paulus (ay.1). “Bolehkan kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Ia mengantisipasi pertanyaan ini karena beberapa ayat sebelumnya ia berkata, “Dimana dosa bertambah banyak, disana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” (Rom 5:20). Ia tahu bahwa pernyataan itu akan membawa sebagian orang untuk berpikir: “Kalau Tuhan dimuliakan dalam mengampuni dosa dan kalau kasih karunia bertambah dalam proporsi terhadap dosa, mengapa tidak membuat dosa lebih banyak lagi? Dengan begitu akan ada kasih karunia lebih dan Tuhan akan menerima lebih banyak kemuliaan!” Betapa kesimpulan yang bengkok dan melayani diri sendiri. Bahwa Paulus bahkan menyatakan masalah ini dengan cara ini mengindikasikan bahwa injilnya telah menjadi subyek penyelewengan. Namun berharga untuk dicatat, bahwa Paulus tidak mengambil kembali atau menulis ulang doktrin itu. Bila injil diberitakan dengan benar ia akan selalu menjadi rawan terhadap penafsiran salah ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Dalam pembenaran pekerjaan kita sendiri tidak memiliki tempat sama sekali dan iman yang sederhana dalam Kristus adalah satu-satunya yang diperlukan. Dalam penyucian pekerjaan kita sendiri adalah sangat penting, dan Tuhan meminta kita bertarung dan berjaga-jaga dan berdoa dan bertahan dan menanggung sakit dan bekerja keras.&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, Holiness (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 29.&amp;lt;/ref&amp;gt;&amp;quot; — J.C. Ryle}}Paulus dengan keras membantah idenya sendiri bahwa kasih karunia memimpin pada dosa yang lebih jauh: “Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?” (Rom 6:2). Kematian kita terhadap dosa, seperti Paulus jelaskan di ayat-ayat selanjutnya, terbungkus dalam kesatuan kita dengan Kristus yang tersalib. Waktu kita percaya pada Yesus, kita disatukan dengan-Nya. Transaksi iman terjadi dimana kita selamanya dianggap berada di “dalam Kristus,” yaitu, secara spiritual disatukan dengan-Nya. Kesatuan ini dilambangkan dengan baptisan. Seperti Yesus mati, dimakamkan dan bangkit dalam hidup teguh, baru, begitu pula kita mati bersama-Nya, dimakamkan bersama-Nya oleh baptisan, dan dibangkitkan untuk menjalani hidup baru di jalan yang baru. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Setelah membaca bab ini, seorang Kristen muda tapi tulus datang kepada Anda untuk meminta tolong. “Paulus mengatakan diri saya yang lama telah mati dan dikuburkan bersama Kristus,” katanya. “Jadi mengapa saya mereka begitu hidup setiap kali bekas pacar saya mampir?” Bagaimana Anda menjawab? &lt;br /&gt;
* “Kamu pasti mempunyai iblis—mari mengusirnya keluar!” &lt;br /&gt;
* “Saya rasa kamu belum benar-benar diselamatkan.” &lt;br /&gt;
* “Dimana imanmu, saudariku?” &lt;br /&gt;
* “Mungkin diri lamamu sedang berada dalam koma sementara.” &lt;br /&gt;
* “Mari kita lihat pasal enam dan tujuh dari kitab Roma…”}}Analogi alami terdekat dari kesatuan ini adalah pernikahan. Istri saya Clara dan saya memiliki identitas bersama (kami berdua memiliki nama belakang yang sama) dan kami disatukan dalam hati, pikiran, dan tubuh. Kami berbagi sumber-sumber – semua yang saya miliki adalah miliknya, dan sebaliknya. Sebagai hasilnya kami berdua diperkaya (meskipun disinilah analogi ini lemah – kita mendapatkan keuntungan satu sisi dari kesatuan kita dengan Kristus). Clara dan saya memakai cincin yang melambangkan kebenaran yang lebih dalam dari kesatuan kami. Tapi seperti cincin saya tidak membuat saya menikah, begitu juga baptisan tidak membuat saya seorang Kristen. Hal ini datang setelah fakta transaksi iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 6:17-18.''' Kita bukan lagi hamba dosa, tetapi kita adalah masih hamba. Kepada apakah tuan baru Anda memanggil Anda?}}Apa tepatnya arti dari mati terhadap dosa? Saya mati terhadap dosa dalam pengertian bahwa rasa bersalah dan penghukuman yang menyatu dengan dosa (maut) tidak lagi bergelantungan pada saya. Tetapi lebih dari itu, hubungan saya terhadap dosa telah dirubah secara radikal. Sebelum saya dibenarkan, saya tidak tahan tidak berbuat dosa. Sekarang saya tidak lagi di bawah kuasa dosa. ''Hubungan tuan-hamba'' yang sebelumnya ada telah diakhiri selamanya. ''Perhatikan'' bahasa yang dipakai di Roma 6:12-14: “Hendaklah dosa jangan berkuasa lagi…Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa…Kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa.” Ini adalah bahasa perbudakan dan Paulus berkata hal ini tidak lagi berlaku. Kewajiban kita terhadap dosa telah diakhiri – oleh kematian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kematian kita terhadap dosa melalui penyatuan kita dengan Kristus memiliki implikasi yang jauh. Masalah atau kebiasaan atau ingatan atau rahasia apa pun yang sekarang mempengaruhi pikiran dan perilaku Anda tidak perlu lagi melakukan itu. Mereka dapat berhasil ditolak. Orang yang sebelumnya dikuasai semua itu – diri Anda yang lama – telah mati. Dorongan berbuat dosa ini sekarang bukan lagi majikan Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Bukan saya tidak dapat berdosa, tetapi saya dapat tidak berdosa.&amp;quot; — Arthur Wallis}}Lama sebelum ada orang yang mempopulerkan klaim bahwa hanya ada dua jenis orang di dunia ini (contohnya mereka yang tinggal di Oshkosh, Wisconsin dan mereka yang ''berharap'' mereka tinggal di sana), John Owen membuat kasifikasinya sendiri. Ia membedakan antara mereka yang di bawah kuasa dosa dan mereka yang ''mengira'' mereka berada di bawah kuasa dosa. Karena itu seorang pastor mempunyai dua tanggung jawab utama, seperti Owen ungkapkan dalam bahasa di jamannya: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Untuk meyakinkan mereka yang di dalamnya dosa secara nyata menguasai bahwa sungguh itulah posisi dan keadaan mereka. &lt;br /&gt;
#Untuk memuaskan sebagian bahwa dosa tidak memiliki kuasa atas mereka, walaupun dosa itu terus gelisah di dalam mereka dan berperang melawan jiwa mereka; tapi kalau ini tidak bisa dilakukan, adalah tidak mungkin mereka dapat menikmati damai yang solid dan kenyamanan dalam hidup ini.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Christian Spirituality ''(Reformed View), p. 58.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Telah menjadi kehormatan bagi saya untuk melihat lebih dari sekali orang-orang mengatasi masalah kebiasaan-kebiasaan buruk dan berkepanjangan melalui pelajaran yang tekun serta aplikasi dari Roma 6. Kita tidak perlu terus menjadi orang-orang kudus yang terpenjara lagi. Sekali kita menyadari bahwa kita telah disatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita akan melihat Ia telah membuka pintu pelepasan kita lebar-lebar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Pikirkan kembali ke ilustrasi pembuka tentang orang kudus yang terpenjara. Melambangkan apakah penjara itu? Apakah kuncinya? &lt;br /&gt;
#Konflik batin apa yang mungkin menahan seorang budak untuk berespon pada Proklamasi Emansipasi dicetuskan oleh Lincoln itu? Apa yang dapat menahan orang Kristen dari mengambil kebebasan dalam Kristus? &lt;br /&gt;
#Hal terbesar apakah yang akan kita terima dari Tuhan? (Halaman 61) &lt;br /&gt;
#Perasaan apakah yang Anda pikir orang Amerika alami saat perdamaian diumumkan di akhir Perang Dunia kedua? Apakah perdamaian Anda dengan Allah menimbukan perasaan yang sama di dalam Anda? &lt;br /&gt;
#Menurut si penulis, apakah kebutuhan terbesar manusia? &lt;br /&gt;
#Bacalah cerita Simon orang Farisi dan perempuan berdosa di Lukas 7:36-50. Apakah perbedaan utama dari keduanya? Dengan yang mana Anda mengidentifikasikan sikap Anda terhadap Kristus? &lt;br /&gt;
#Apakah Anda tersentuh oleh cerita wanita yang melakukan aborsi? Bagaimana? &lt;br /&gt;
#Apakah sikap dan perbuatan dapat menunjukkan seseorang memiliki kesadaran yang dangkal akan pengampunan? &lt;br /&gt;
#Apa maskudnya disatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya? Apakah implikasinya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Men Made New'' by John R.W. Stott (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1966) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Glory of Christ'' by Peter Lewis (Chicago, IL: Moody Press, 1997) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:39:05 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar/Buah-Buah_Pembenaran_(I)</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar/Dibenarkan Oleh Yesus</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar/Dibenarkan_Oleh_Yesus</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation/Justified by Christ}}Sebelum Martin Luther menjadi terkenal karena peran pentingnya dalam Reformasi, ia dikenal seluruh Eropa sebagai seorang pelajar hukum yang brilian. Yang paling banyak mempengaruhi pendeta pengikut Agustinus ini adalah pembelajarannya akan hukum Allah di dalam Firman Tuhan. Saat ia merenungkan perintah-perintah Allah, ia menjadi sangat menyadari murka Allah. Setiap kali ia mempelajari pribadi dan pekerjaan Yesus Kristus ia mengenal inilah Yang benar yang pada akhirnya akan menghakiminya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesadaran yang terus menerus itu merongrong Luther dengan perasaan bersalah yang tak terbendung. Sementara rekan-rekannya menghabiskan beberapa menit untuk mengaku dosa, ia menghabiskan berjam-jam. Sebagian orang mengira bahwa mentalnya tidak stabil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Teolog Anthony Hoekema menggambarkan kesedihan mental itu membawa pada penemuan teologi besar Luther: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Martin Luther telah mencoba segalanya: tidur di atas lantai yang keras, tidak makan, bahkan menaiki sebuah tangga di Roma dengan tangan dan lututnya – tapi tidak berhasil. Para gurunya di biara memberitahunya bahwa ia telah melakukan cukup untuk mendapatkan kedamaian jiwa. Tapi ia tidak memiliki damai. Kesadarannya akan dosa terlalu dalam. &lt;br /&gt;
:Ia telah mempelajari kitab Mazmur. Kitab ini sering menyebut “kebenaran Tuhan.” Tapi istilah ini mengganggunya. Ia mengira itu berarti kebenaran Tuhan yang menghukum, dimana Ia menghukum orang berdosa. Dan Luther mengetahui ia adalah orang berdosa. Jadi manakala ia melihat kata kebenaran di dalam Alkitab, ia melihat merah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah memang jawaban Allah bagi semua pertanyaan manusia yang paling penting: Bagaimana seorang pria atau wanita dibenarkan dengan Tuhan? Kita tidak dibenarkan dengan Tuhan dengan sendirinya. Kita berada di bahwa murka Allah. Pembenaran adalah sangat penting, karena kita harus dibenarkan dengan Allah atau kita binasa selamanya… Kesulitannya adalah mayoritas orang saat ini tidak merasakan kebutuhan di area ini. Martin Luther telah merasakannya; hal itu menghantuinya. Ia tahu bahwa ia tidak benar dengan Allah, dan ia mengantisipasi konfrontasi dengan Allah yang murka di penghakiman terakhir. Allah menunjukkan kepadanya bahwa ia bisa mengalami hubungan yang benar dengan Allah melalui pekerjaan Yesus Kristus. Tetapi di jaman ini siapa yang merasakan intensitas kepedihan Luther?&amp;lt;ref&amp;gt;James Montgomery Boice, ''Romans, Vol. I'' (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1991), p. 380, 447&amp;lt;/ref&amp;gt;}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pada suatu hari ia membuka kitab Roma. Di sana ia membaca tentang injil Kristus yang adalah kekuatan Allah untuk keselamatan (1:16). Ini adalah sebuah kabar baik! Tetapi ayat selanjutnya berkata, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah“- ada kata buruk ''kebenaran'' itu lagi! Dan depresi Luther kembali lagi. Hal itu menjadi lebih buruk ketika ia meneruskan membaca tentang murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia (ayat 18).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka Luther kembali ke ayat 17 lagi. Bagaimana bisa Paulus menuliskan kata-kata mengerikan seperti itu?...Tiba-tiba pencerahan datang padanya. “Kebenaran Tuhan” yang Paulus maksud di sini bukanlah keadilan Tuhan yang bersifat menghukum yang membuatNya menghukum orang berdosa, melainkan kebenaran yang Tuhan ''berikan'' kepada orang berdosa yang membutuhkan, dan yang orang berdosa itu terima dengan ''iman''. Ini adalah kebenaran yang sempurna dan tidak bercacat, didapatkan oleh Kristus, yang dengan kemurahan Tuhan berikan pada semua yang percaya. Luther tidak perlu lagi mencari dasar untuk kedamaian jiwa di dalam dirinya, di dalam perbuatan baiknya sendiri. Sekarang ia dapat melihat lepas dari dirinya sendiri dan melihat kepada Kristus, hidup dengan iman daripada bersembunyi dalam ketakutan. Pada saat itulah Reformasi Protestan lahir.&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'' (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Co., 1989), p. 152. &amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 1:17.''' Frase kunci apa di ayat ini yang merevolusi pengertian Martin Luther tentang keselamatan? Bagaimana pengaruhnya bagi Anda?}}Luther melanjutkan dengan berkata bahwa doktrin pembenaran adalah doktrin yang olehnya Gereja berdiri atau jatuh. “Doktrin ini merupakan kepala dan batu penjuru Gereja yang melahirkan, memelihara, membangun dan melindungi Gereja. Tanpanya gereja Tuhan tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life: A Doctrinal Introduction'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 80. &amp;lt;/ref&amp;gt;Di poin yang lain ia menambahkan, “Bila doktrin pembenaran ini hilang, maka semua doktrin kekristenan yang benar hilang.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way: The Message of Galatians'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1968), p. 60. &amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketakutan Luther akan murka Allah telah dibenarkan, seperti kita pelajari di bab sebelumnya. Semua orang Kristen harus mengingat siapa dan apa mereka sebelumnya: jahat dalam perilaku mereka, musuh Allah, sepenuhnya terasing dari-Nya, dan sasaran kemarahan-Nya. Tetapi mengenali masa lalu hanya memiliki nilai sejauh hal itu membuat kita menyadari dan mengagumi akan posisi kita sekarang di dalam Kristus. Kita harus mengenali siapa ''kita sekarang'' karena hadiah kemurahan Tuhan akan pembenaran. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang telah menerima pekerjaan pembenaran Kristus mengalami sebuah perubahan yang dramatis dan luar biasa. Kita telah dibenarkan karena iman melalui anugerah yang besar dari Allah yang Maha Kuasa. Tanpa pengetahuan yang akurat dan pengetahuan yang datang dari pengalaman tentang pembenaran Gereja “tidak dapat bertahan hidup untuk satu jam”…sedikitnya tidak dengan keotentikan. Kita pun juga tidak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Posisi atau Proses?  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Pada saat Yesus mati di kayu salib, tirai bait suci yang memisahkan tempat suci dengan tempat paling suci secara supernatural robek menjadi dua. Untuk mengerti pentingnya peristiwa itu, bacalah Ibrani 9:1-14.}}Pembenaran adalah istilah resmi yang berarti “mendeklarasikan benar.” Hoekema mendefinisikan pembenaran sebagai “perubahan permanen dalam hubungan yuridis kita dengan Tuhan dimana kita diampuni dari tuduhan bersalah, dan dimana Tuhan mengampuni semua dosa-dosa kita di atas dasar pekerjaan Yesus Kristus yang telah tergenapi.”&amp;lt;ref&amp;gt;Anthony Hoekema, ''Saved by Grace'', p. 178. &amp;lt;/ref&amp;gt;Walaupun kita bersalah di hadapan Hakim semesta yang kudus, setelah melanggar hukum-Nya dan layak menerima murka-Nya, Ia telah mendeklarasikan kita sebagai benar. Bagaimana? Atas dasar apa yang Yesus Kristus telah capai di Kayu Salib. Hanya Salib dapat membuat kita dapat diterima di hadapan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pembenaran adalah sebuah hadiah yang kita terima dari Tuhan, bukan sesuatu yang kita peroleh atau capai. Kita tidak bertanggung jawan ataupun mampu untuk menyumbang bagi pembenaran kita di hadapan Tuhan. Status benar ini tidak bisa dicapai atau dilayakan, hanya diterima dan dihargai. Kita menerima apa yang Kristus dan Kristus sendiri capai untuk kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk dapat sepenuhnya mengerti akan kebenaran yang ajaib ini, adalah esensial kita membedakan pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification). Walaupun kedua doktrin ini tidak dapat dipisahkan, kita harus membedakan antara perannya masing-masing di dalam kehidupan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|&amp;quot;Tiada seorangpun yang mengerti kekristenan yang tidak memahami kata ini. Yaitu kata ''dibenarkan.''&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — John Stott}}Pembenaran berarti kita ''dinyatakan'' benar. Penyucian berarti kita sedang ''dibuat'' benar. (Pahami perbedaan itu saja dan hidup Anda tidak akan pernah sama lagi!) Pembenaran adalah ''hadiah'' kekudusan; penyucian adalah ''pelatihan'' kekudusan. Mungkin yang paling kritikal, pembenaran adalah sebuah ''posisi'' – yang dibuat segera dan secara komplit setelah pertobatan – sedangkan penyucian adalah sebuah proses dari perubahan internal dan pengembangan karakter yang dimulai pada saat regenerasi dan terus berlanjut selama kita hidup. “Di dalam Firman Ruhan,” tulis Sinclair Ferguson, “membenarkan bukan berarti membuat benar seperti merubah karakter seseorang. Membenarkan artinya menjadikan benar dengan cara mendeklarasikan.”&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 72. &amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Pembenaran adalah sebuah PERBUATAN. Pembenaran bukanlah pekerjaan, atau satu seri perbuatan. Pembenaran tidak progresif. Orang percaya yang paling lemah dan orang kudus yang paling kuat adalah serupa dan dibenarkan secara sama. Pembenaran tidak mengakui adanya tingkatan. Seseorang, hanya bisa seluruhnya dibenarkan atau seluruhnya dikutuk di hadapan Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 195.&amp;lt;/ref&amp;gt; — William S. Plumer}}Pembenaran bukanlah sebuah proses. Pembenaran adalah sebuah deklarasi, sebuah pernyataan ilahi yang tidak dapat ditantang, dirubah ataupun dinaikbanding. Paulus secara empati berkata, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom 5:1). Transformasi mulia ini tidak terjadi sedikit demi sedikit, dan juga tidak berubah-ubah. Anda tidak lebih dibenarkan selama jangka waktu tertentu daripada jangka waktu lainnya. Hal ini perlu ditegaskan kembali: ''Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada keadaan Anda saat ini.'' Di atas itu semua, tidak seorangpun dalam sejarah pernah lebih dibenarkan daripada Anda sekarang. Martin Luther tidak, Paulus tidak – seorang pun tidak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Apakah Anda pernah dirampas dari buah-buah keselamatan Anda yang agung? Jawablah kuis Benar/Salah berikut ini untuk memastikan Anda mengerti perbedaan antara pembenaran dan penyucian. (Jawaban ada di catatan kaki.&amp;lt;ref&amp;gt;S, B, S, B, S, B&amp;lt;/ref&amp;gt;) &lt;br /&gt;
*Pembenaran adalah hasil dari penyucian. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Penyucian adalah proses sepanjang hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Kasih Allah untuk kita bertumbuh sesuai dengan kedewasaan kita. '''B S''' * Pembenaran mengacu kepada posisi kita di dalam Kristus, penyucian mengacu pada proses. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Merubah kebiasaan-kebiasaan berdosa membuat kita lebih benar. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Pertumbuhan rohani adalah bukti yang baik bahwa kita telah dibenarkan. '''B S'''}}Banyak orang Kristen yang bingung tentang doktrin pembenaran dan penyucian dan oleh karenanya tidak bisa merasakan sepenuhnya berkat-berkat yang keselamatan agung ini hasilkan. Adalah sangat penting kita mengerti perbedaan antara posisi kita (pembenaran) dan pelatihan kita (penyucian). Sementara penyucian adalah bukti dan tujuan dari pembenaran, penyucian tidak boleh dipandang sebagai dasar dari pembenaran di hadapan Tuhan, tidak peduli betapa menjadi dewasanya kita. Kita tidak mampu menambahkan apa yang Kristus telah raih. Seperti Alister McGrath katakan, “Satu-satunya hal yang bisa dibilang kita kontribusikan dalam pembenaran kita adalah dosa yang telah Tuhan ampuni dengan kemurahan.” Kita dibenarkan hanya karena anugerah semata.&amp;lt;ref&amp;gt;Alister McGrath, ''Justification by Faith'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1988), p. 132. &amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Membuat Frustrasi dan Sia-Sia  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Doktrin pembenaran perlu dijalankan dan ditengok secara terus menerus, seperti yang Martin Luther sadari betul. Nasihat Martin Luther yang biasa terus terang? “Tempelkan itu ke kepala mereka terus menerus.”&amp;lt;ref&amp;gt;John R.W. Stott, ''Only One Way'', p. 59. &amp;lt;/ref&amp;gt;Sebagai tambahan bagi pengulangan ulet dari para pemimpin kita, kita perlu mempraktekan dan menghargai kebenaran dari pembenaran di dalam hidup kita sehari-hari. Kalau tidak, kita akan menemukan diri kita mudah jatuh dalam salah satu musuh Gereja yang paling serius dan tidak kentara: legalisme. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kemuliaan Injil adalah bahwa Allah menyatakan orang Kristen memiliki hubungan yang benar dengan-Nya meskipun adanya dosa-dosa mereka. Tetapi pencobaan dan kesalahan terbesar kita adalah berusaha menyusupkan karakter ke dalam pekerjaan kasih karunia-Nya. Betapa mudahnya kita jatuh ke dalam jebakan anggapan bahwa kita hanya tetap dibenarkan selama ada dasarnya pada karakter kita untuk pembenaran itu. Tetapi ajaran Paulus adalah tidak ada yang dapat kita perbuat untuk menyumbang bagi pembenaran kita.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''The Christian Life'', p. 82–83.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Sinclair Ferguson}}Legalisme melibatkan usaha untuk memperoleh penerimaan dari Tuhan melalui ketaatan kita sendiri. Kita hanya memiliki dua pilihan: menerima kekudusan sebagai pemberian Tuhan atau mencoba untuk melahirkan kekudusan kita sendiri. Legalisme adalah usaha untuk dibenarkan melalui sumber yang lain daripada Yesus Kristus dan pekerjaan-Nya yang telah genap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berpegang pada legalisme berarti percaya bahwa Salib itu tidak perlu atau tidak cukup (Gal 2:21, 5:2). Itu merupakan penafsiran yang tepat akan motif dan perbuatan Anda, walaupun Anda masih secara mental mengakui kebutuhan akan pengorbanan Kristus. Dalam usaha kita mengejar ketaatan dan kedewasaan, legalisme secara perlahan dan samar menguasai kita dan kita mulai mengganti pekerjaan kita untuk pekerjaan genap Kristus. Hasilnya adalah keangkuhan atau penghakiman. Bukannya bertumbuh dalam kasih karunia kita meninggalkan kasih karunia. Itulah penilaian Paulus terhadap gereja di Galatia ketika ia menulis, “Kamu lepas dari Kristus jikalau kamumengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.” (Gal 5:4). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Untuk menghargai besarnya keprihatinan Paulus tentang legalisme, bacalah Galatia 1:6-9, 2:21, 3:1-4, 3:10, 4:8-11, 4:19-20, 5:2-4, dan 5:7-12.}}Kalau Anda telah berusaha menjalani hidup seperti ini, Anda mungkin sekarang telah belajar bahwa bahwa legalisme itu adalah sia-sia dan membuat frustrasi. Setiap usaha legalisme untuk memperoleh kekudusan akhirnya akan mengalami kegagalan. Selama bertahun-tahun saya telah belajar mengenali beberapa tanda yang sangat jelas dari adanya legalisme. Ini adalah beberapa diantaranya: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Anda lebih menyadari akan dosa-dosa masa lalu Anda daripada pribadi dan pekerjaan genap Kristus. &lt;br /&gt;
*Anda hidup berpikir, percaya, dan merasa bahwa Tuhan kecewa terhadap Anda daripada bersukacita dalam Anda. Anda menganggap penerimaan Tuhan bergantung pada ketaatan Anda. &lt;br /&gt;
*Anda kurang sukacita. Ini sering menjadi indikasi pertama dari adanya legalisme. Penghakiman adalah hasil dari merenungkan ketidakcukupan kita; sukacita adalah hasil hari memikirkan kecukupan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pernahkan Anda dijerat oleh kehadiran legalisme yang samar? Kalau ya, sadarlah. Legalisme cenderung menyebar daripada tetap terbatasi (Gal 5:9). Legalisme harus dihilangkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Masalah dengan gereja Galatia bukanlah ketaatan pada hukum moral Allah; melainkan, ketergantungan pada hukum moral…untuk keselamatan.&amp;lt;ref&amp;gt;Jerry Bridges, ''Transforming Grace'' (Colorado Springs, CO: NavPress, 1991), p. 98.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Jerry Bridges}}Satu-satunya cara efektif untuk mencabut legalisme adalah dengan doktrin pembenaran. Kalau Anda telah menelantarkan atau mengabaikan doktrin ini, maka buatlah tindakan sedramatis apapun yang dibutuhkan untuk berubah. Sediakan waktu setiap hari untuk mengulang, melatih, dan bersukacita atas kebenaran yang agung, objektif dan bersifat posisi ini. Batasi konsumsi spiritual Anda pada pembelajaran tentang pembenaran sampai Anda yakin akan penerimaan Tuhan, merasa aman di dalam kasih-Nya dan bebas dari legalisme dan penghakiman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penyaliban Yesus Kristus merupakan satu peristiwa sejarah yang paling menentukan. Dengan akurat Sinclair Ferguson menyatakan hal berikut: {{RightInsert|'''Renungkan Roma 7:14-25.''' Pada saat kita mengerti betul kebejatan kita sendiri kita akan lebih sulit untuk dicobai oleh legalisme.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Waktu kita berpikir Kristus mati di kayu salib kita diperlihatkan seberapa panjangnya kasih Tuhan dengan tujuan memenangkan kita kembali kepada-Nya…Ia berkata kepada kita: Aku mengasihi Engkau sebesar ini… Salib adalah jantung Injil. Salib membuat Injil menjadi kabar baik: Kristus mati untuk kira. Ia telah berdiri di tempat kita di hadapan kursi penghakiman Allah. Ia menanggung dosa-dosa kita. Tuhan telah melakukan sesuatu di atas kayu salib yang tidak mungkin kita sendiri pernah dapat lakukan… Alasan kita kurang yakin akan kasih karunia-Nya adalah karena kita gagal untuk fokus kepada tempat itu dimana Ia menyatakannya.&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, ''Grow in Grace'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 56, 58–59.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kemana Anda akan memfokuskan perhatian Anda? Apakah pada dosa-dosa masa lalu Anda, keadaan emosi Anda saat ini, atau area karakter dimana Anda masih perlu bertumbuh? Ataukah Anda akan fokus pada pekerjaan Kristus yang genap? Legalisme tidak perlu memotivasi Anda. Penghakiman tidak perlu menyiksa Anda. Allah telah membenarkan Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:''' Dua kategori orang seperti apa yang digambarkan di Yakobus 1:22-25? Kelompok yang mana yang Tuhan janji akan berkati?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Jangan Berargumentasi dengan Hakim  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengerti doktrin pembenaran secara intelektual dengan sendirinya tidaklah cukup. Tuhan menginginkan kita untuk mengalami transformasi – secara total, murni, dan permanen ditransform oleh kotrin penting ini. J.I. Packer telah menyatakan, “Masalahnya bukan, apakah seseorang dapat menyebutkan doktrin ini dengan keakuratan Firman yang penuh (hal itu, telah kita lihat, adalah pekerjaan yang membutuhlan ketelitian), tetapi, apakah seseorang tahu realitasnya dalam pengalaman.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, ''God’s Words: Studies of Key Bible Themes'' (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 147. &amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|Kolose 2:13-15 menyatakan hutang kita yang sangat besar kepada Tuhan. Apa yang Yesus lakukan dengan surat tagihan hutang? }}Tujuan kami menulis buku ini bukan pada dasarnya Anda belajar bagaimana mengartikulasi doktrin agung ini tetapi Anda dirubah olehnya, bahwa pengertian Anda akan berbuah pada kebebasan pribadi dari legalisme dan penghakiman serta kasih dan semangat yang bertambah-tambah kepada Yesus Kristus. Adalah mungkin menyadari pembenaran oleh kasih karunia tanpa terpengaruh secara pribadi. Kita perlu menghargai dan mempraktekan kebenaran besar ini setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita yang akan saya bagikan merupakan sebuah pelajaran penuh kuasa bagi saya setelah saya mempejalari benar doktrin pembenaran. Selama hari-hari sebelum pertobatan saya sebagai mahasiswa tahun pertama, saya ditangkap karena kepemilikan mariyuana. Detail peristiwa tersebut masih sangat jelas di benak saya. Saat saya duduk di ruang sidang menghadapi hakin, saya mencoba sebisa saya untuk terlihat tulus dan tersiksa, tetapi saya hanya bisa ketakutan. Saya tahu ada kesempatan besar saya akan dijatuhi hukuman dan dituduh dengan pelanggaran tambahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Adalah tidak cukup untuk hanya mengetahui bahwa Yesus telah mati, atau bahkan mengapa Ia mati. Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari “iman yang hanya bersifat sejarah” yang tidak dapat menyelamatkan… Hanya pada waktu kita menyadari bahwa Kristus diberi pro me, pro nobis (“untuk aku,” “untuk kita”) kita telah membedakan pentingnya pencapaian Kristus. &amp;lt;ref&amp;gt;Timothy George, ''Theology of the Reformers'' (Nashville, TN: Broadman Press, 1988), p. 59.&amp;lt;/ref&amp;gt; — Timothy George}}Ternyata, kasus saya tidak pernah mengalami kemajuan setelah saksi pertama. Karena polisi menggeledah kamar saya tanpa surat resmi yang dibutuhkan, bantah pengacaran saya, pengadilan harus mencabut gugatan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hakim duduk mendengarkan dengan sabar saat jaksa mengajukan keberatan dan mengulang kembali bukti-bukti yang memberatkan saya. Akhirnya, ia melihat ke arah saya. Pria itu jelas terlihat frustasi. Tidak berkuasa untuk memberi lebih dari teguran, ia menguliahi saya dengan kata-kata yang sekeras-kerasnya. Saya mencoba untuk kelihatan menyesal. Saya menganggukan kepada saya atas setiap penyataan. Tapi saya tidak ingat apapun yang ia katakan – saya terlalu gembira karena kenyataan bahwa ia akan melepas saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya disidang saya tahu bahwa saya bersalah. Saya kira semua orang mengetahui itu. Tetapi pada waktu hakim membebaskan saya, saya tidak berargumentasi dengannya. Saya tidak meminta dan memohon kepada hakim untuk melanjutkan kasus itu. Saya tidak memintanya untuk mengabaikan teknis legalitas dan mengijinkan jaksa untuk terus maju. Hanya kali ini saya dengan gembira tunduk kepada seseorang yang memiliki otoritas lebih besar. Bila sang hakim ingin melepaskan pelanggaran itu, saya akan dengan senang hati menerima keputusannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Ulangan 31:8.''' Daripada melanggar janji-Nya yang indah kepada kita (meskipun kita tidak pernah layak diberi janji seperti itu), Tuhan meninggalkan Putra-Nya sendiri.}}Setiap dari kita berdiri bersalah di hadapan Hakim dari segalanya. Tetapi kejahatan kita menentang-Nya berada di tingkat yang secara total berbeda dengan kesalahan saya. Dan walaupun saya diloloskan karena hal teknis, kita telah dinyatakan benar atas dasar pengorbanan Kristus yang telah direncanakan dan bersifat menggantikan kita itu. Yesus Kristus secara suka rela dan sengaja memberikan hidup-Nya sepaya Allah dapat tetap adil saat membenarkan yang bersalah – Anda dan saya. Allah telah menyatakan kita benar. Yang tertinggal hanyalah masalah apakah kita akan menerima pernyataan ini. Pilihan untuk menerima atau tidak berada di hadapan kita setiap hari, sering berkali-kali dalam satu hari: Akankah kita menerima pembenaran karena iman karena pernyataan oleh Tuhan, atau akankah kita mengijinkan penghakiman dan legalisme untu menguasai kita saat kita bergantung pada perasaan dan ketaatan kita? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|&amp;quot;Kehidupan Kristen melibatkan bukan saja percaya sesuatu tentang Kristus tetapi juga percaya sesuatu tentang diri kita sendiri… Iman kita di dalam Kristus harus mencakup percaya bahwa kita adalah apa yang Alkitab katakan tentang kita.&amp;quot; — Anthony Hoekema}}Tentukanlah bahwa emosi Anda yang tidak stabil dan tidak terprediksi tidak akan medikte atau menipu Anda. Jangan ijinkan emosi-emosi itu untuk menjadi otoritas terakhir di dalam hidup Anda. Percayalah apa yang Tuhan katakan tentang Anda. Kalau Anda bijaksana Anda akan mengikuti teladan saya: Jangan berargumentasi dengan Hakim. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ditinggalkan Demi Pengampunan Kita  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Allah yang menciptakan Anda menerima Anda. Anak-Nya secara suka rela menghadapi kengerian Salib yang tidak terbayangkan, ditinggalkan Allah Bapa dan manusia, demi untuk membenarkan Anda. Ia dibuang supaya kita bisa diampuni. Ia mengalami perpisahan supaya kita dapat selamanya aman dalam kasih Allah. Ia menanggung murka Allah sehingga kita tidak pernah perlu melakukannya. “Yesus yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitakan karena pembenaran kita” (Rom 4:25). Anda telah dibenarkan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah mengherankan Reformasi merubah sejarah Gereja? Tidak ada cara apapun untuk mengekang doktrin ini. Sekali doktrin ini dilepas ia akan merubah hidup setiap orang yang disentuhnya – termasuk Anda sendiri. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Di halaman 52 pengarang menulis, “Anda tidak akan pernah lebih dibenarkan daripada Anda saat ini.” Bagaimana kalimat ini mempengaruhi usaha-usaha Anda untuk menjalani hidup yang menyenangkan Tuhan? &lt;br /&gt;
#Renungkan dengan tenang untuk satu atau dua menit tentang Salib. Menurut Anda apakah yang Yesus rasakan waktu ia menyaradari Allah telah meninggalkan-Nya? &lt;br /&gt;
#Apakah mungkin untuk terlalu fokus pada menjadi serupa dengan teladan Kristus? &lt;br /&gt;
#Apa yang membuat legalisme menjadi sebuah penyimpangan sesat yang tak disadari? &lt;br /&gt;
#Bagaimana kita mengimbangi doktrin pembenaran dan penyucian tanpa oleng kepada legalisme ataupun ijin? &lt;br /&gt;
#Satu hal apa yang dapat kontribusi bagi pembenaran kita?(Petunjuk: Tidak ada yang perlu disombongkan!)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Cross of Christ'' by John R. W. Stott (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1986) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Discipline of Grace'' by Jerry Bridges (Colorado Springs, CO: NavPress, 1994) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''The Atonement'' by Leon Morris (Downwers Grove, IL: InterVarsity Press, 1984) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:38:49 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar/Dibenarkan_Oleh_Yesus</comments>		</item>
		<item>
			<title>Keselamatan yang Terbesar/Apakah Ada yang Percaya pada Dosa?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Keselamatan_yang_Terbesar/Apakah_Ada_yang_Percaya_pada_Dosa%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | This Great Salvation/Does Anyone Believe in Sin?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu Sabtu sore beberapa tahun yang lalu saya sedang bekerja keras membersihkan garasi. Putra sulung saya, berusia sekitar empat tahun saat itu, bersiap membantu…boleh dikatakan. Saya memperhatikannya saat ia menatap berbagai benda-benda berbahaya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini, Pa?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu pisau pemotong kayu milik Papa. Jangan menyentuhnya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa ini, Pa?” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Itu kaleng bensin. Menjauhlah dari sana. Hei, jangan mengambil gergaji itu, Nak.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Percakapan seperti itu berlangsung untuk beberapa saat sampai, akhirnya merasa lelah, putra saya berseru, “Papa! Semua yang Papa katakan untuk tidak aku lakukan adalah yang ingin aku lakukan!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Mungkin itulah yang Adam katakan,'' pikir saya pada diri sendiri. Saya sekarang dapat merasa yakin mengetahui bahwa anak lelaki saya adalah anggota asli umat manusia. Dan begitu juga semua dari kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Apa Masalahnya?  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba adakan pemungutan suara non-formal dari tetangga, teman dan rekan kerja, dan tanyakan pada mereka apakah yang mereka anggap sebagai masalah manusia yang paling mendasar. Jawaban yang paling mungkin adalah kebodohan atau kurangnya pendidikan. “Kalau orang berpendidikan baik, mereka dapat melihat gambaran yang lebih besar, lalu tidak akan ada kesulitan-kesulitan,” mereka mungkin katakan. “Pendidikan seks yang lebih akan mencegah AIDS dan kehamilan yang tidak diinginkan. Pendidikan lebih akan menghapus rasisme dan kesalahpahaman yang memecah manusia. Pendidikan yang lebih baik akan memampukan orang miskin untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan menghindari obat-obatan terlarang serta kejahatan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Thomas Greer, dalam textbook kontemporer Western Civilization, mengatakan bahwa selama masa Enlightenment di abad ke 18, ilmu pengetahuan dan pendidikan oleh pemikir-pemikir penting dianggap sebagai jawaban bagi dilema manusia. Greer berkata, “Dunia tidak akan pernah sama lagi; kepercayaan pada ilmu pengetahuan dan pendidikan menjadi ciri dunia modern. Di Amerika Serikat, berdasar dari puncak Enlightenment, ''kepercayaan itu tetap menjadi sebuah artikel dari kepercayaan bangsa walaupun hal itu sekarang dipertanyakan lebih dari sebelumnya''” (penekanan ditambahkan). &amp;lt;ref&amp;gt; Thomas Greer, ''A Brief History of the Western World, 5th Ed.'' (San Diego, CA: Harcourt Brace Jovanovich Publishers, 1987), p. 378.&amp;lt;/ref&amp;gt; Walaupun sesungguhnya benar bahwa kebodohan mengklaim sejumlah korban, ada masalah yang lebih mendasar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Roma 1:22.'''. Apakah satu kata evaluasi dari Tuhan terhadap ide-ide “penerangan”?}}Salah satu dari mereka yang mempertanyakan “artikel dari kepercayaan bangsa” itu adalah psikiater terkemuka Karl Menninger. Di awal tahun 1970 ia menulis sebuh buku kecil dengan judul provokatif, “Apa yang Terjadi dengan Dosa?” Di dalamnya ia mengamati kata “dosa” dan konsep yang diwakili kata itu mulai menghilang dari budaya kita sekitar pertengahan abad duapuluh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Di dalam semua ratapan dan peringatan yang dibuat oleh para pembimbing dan nabi kita, kata “dosa” tidak pernah disebut, kata yang digunakan sebagai kata peringatan yang absolut dari para nabi. Kata itu adalah kata yang suatu waktu berada di pikiran semua orang, tapi sekarang terdengarpun jarang. Apakah itu berarti tidak ada dosa yang terlibat dalam segala permasalahan kita – (dalam bahasa Inggris dosa adalah “sin” dengan huruf I yang berarti aku berada di tengah)? Apakah tidak ada lagi orang yang merasa bersalah akan sesuatu? Perasaan bersalah mungkin akan dosa yang bisa dipertobatkan atau diperbaiki atau ditebus? Ataukah orang hanya bodoh atau sakit atau kriminal – atau tertidur? Hal-hal yang salah dilakukan, kita tahu; ilalang disebarkan di padang gandum di malam hari. Tapi apakah ada orang yang bertanggung jawab; apakah tidak ada orang yang dapat memberi pertanggungan jawab atas perbuatan-perbuatan ini? Kegelisahan dan depresi kita semua tahu, dan bahkan perasaan bersalah yang samar-samar; tapi apakah tidak ada orang yang telah berbuat dosa?...Kata ‘dosa,’ yang sepertinya telah raib, adalah sebuah kata angkuh. Pada mulanya kata itu adalah kata yang kuat, sebuah kata yang memperingatkan dan serius. Kata itu menggambarkan titik pusat dalam setiap rencana dan gaya hidup dari manusia yang beradab. Tapi kata itu telah pergi jauh. Ia hampir saja punah – kata itu, bersama dengan konsepnya. Mengapa? Apakah tidak ada orang yang berbuat dosa lagi? Apakah tidak ada orang yang percaya pada dosa? &amp;lt;ref&amp;gt; Karl Menninger, ''Whatever Became of Sin?'' (New York: Bantam Books, Inc., 1973), pp. 15–16.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dr. Menninger harus diberi pujian yang besar karena mendalami bidangnya jauh melebih dari yang lain. Dan ia memang benar dalam observasinya. Sebuah model moral dari pengertian akan tanggung jawab dan permasalahan manusia semua telah digantikan oleh model kedokteran, sehingga individu-individu yang melakukan kejahatan mengerikan jarang disebut sebagai “jahat” atau ”bersifat iblis” atau “berdosa,” tetapi sebagai “sakit” atau “sakit jiwa” atau “sinting.” {{RightInsert|”Persiapan terbaik untuk studi [pembenaran] bukanlah kemampuan intelektual yang hebat ataupun banyak belajar tetapi hati nurani yang menyadari keadaan kita yang sebenarnya sebagai orang berdosa di mata Allah.&amp;lt;ref&amp;gt;James Buchanan, The Doctrine of Justification (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1867, 1955), p. 222. &amp;lt;/ref&amp;gt;” – James Buchanan}}Namun mempelajari buku Dr. Menninger lebih dekat menunjukkan bahwa walaupun ia telah meminta pada masyarakat untuk mempertimbangkan kembali dosa sebagai alat untuk memahami sifat alami manusia, ia sendiri memiliki kekurang pahaman yang serius akan topik ini. Ia memandang dosa seluruhnya dari sisi horizontal, dosa satu orang terhadap orang yang lain atau mungkin terhadap diri sendiri. Untuk sepenuhnya memahami natur dari dosa, kita harus mengenal dimensi vertikalnya: dosa sesungguhnya adalah ''pelanggaran terhadap Allah. '' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mazmur 51 memberikan kita sebuah contoh konkret akan kebenaran ini. Di dalam Mazmur ini Daud menuangkan isi hatinya kepada Tuhan dalam pertobatan. Ia telah ditegur secara terbuka oleh nabi Natan dan didalam dirinya telah ditegur oleh Roh Kudus atas perselingkuhan-nya dengan Batsyeba dan atas pengaturan kematian suami Batsyeba untuk menutupi perbuatannya. Tapi meskipun apa yang telah ia perbuat, Daud berseru kepada Tuhan, “Terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat” (Mzm 51:4). Daud tidak menyangkal dosanya kepada Batsyeba dan Uriah, tetapi ia mengakui karakeristik terburuk dari dosa manapun, apapun jenisnya: ia melawan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Tiga hal apakah yang dibukakan mengenai diri kita oleh pandangan yang tidak akurat tentang dosa? (Lihat 1 Yohanes 1:8-10)}}Dosa – betapa pokok bahasan yang ''tidak menyenangkan''! Dan juga yang sulit. Tapi adalah yang sangat esensial bagi kita untuk memikirkan pokok ini, karena bila persepsi kita terhadap dosa tidak benar, begitu pula pengetahuan kita akan Allah, Yesus Kristus, Roh Kudus, hukum Allah, Injil, dan jalan keselamatan. Pengertian yang akurat akan dosa adalah kancing dasar dari kemeja teologi Kristen. Kalau letaknya salah, seluruh baju akan menjadi sepenuhnya berantakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keseriusan Dosa  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengecilkan dosa sama maraknya dengan dosa itu sendiri. Bukan hal yang tidak lazim untuk mendengar orang mengatakan dosanya sendiri sebagai “kelemahan” atau “kekurangan.” “Tidak ada orang yang sempurna,” kata mereka. Mereka bahkan cukup berani untuk mengakui, “Saya telah salah menilai.” Tapi dosa bukanlah sesuatu yang sepele. Kalau tidak ada dosa maka tidak ada keselamatan. Kalau kita bukanlah orang-orang berdosa besar, lalu Kristus bukanlah Juru Selamat yang besar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Dosa adalah penodaan keadilan Allah, pemerkosaan atas kemurahan-Nya, pengolok-olokan atas kesabaran-Nya, pengecilan akan kuasa-Nya dan kebencian terhadap kasih-Nya.&amp;lt;ref&amp;gt; John Bunyan from Gathered Gold (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), p. 291. &amp;lt;/ref&amp;gt;” – John Bunyan}}Fakta bahwa kita semua telah dipengaruhi oleh dosa meletakkan kita pada posisi yang tidak menguntungkan dalam usaha kita untuk memahami dosa. Sendirian, kita tidak bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang dosa. Puji syukur, Tuhan telah membekali kita dengan Firman-Nya yang tidak bercacat mengenai subyek ini. Pasal-pasal awal kitab Kejadian menyebutkan dilema dosa manusia, dan selebihnya dari Firman Tuhan dapat dibaca sebagai solusi Allah terhadap permasalahan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Renungkan Yohanes 1:29.''' Apakah signifikansi dari titel yang diberikan Yohanes Pembaptis kepada Yesus? (Lihat Keluaran 12:21-23)}}Dalam jarak lima ayat singkat Alkitab mendeskripsikan kita sebagai tak berpengharapan, tak saleh, orang berdosa, dan musuh dari Allah (Rom 5:6-10). Firman Tuhan mengatakan bahwa dosa adalah universal. Dosa bersifat menipu. Dosa juga kukuh dan memiliki kekuatan. Dosa juga begitu membuat tak berdaya sehingga hanya satu kekuatan di alam semesta dapat mengalahkannya. Hanya satu kekuatan, tinggal di dalam satu Orang, dapat mengalahkan dosa karena hanya satu Orang yang pernah tanpa dosa. Seperti malaikat katakan pada Maria, “Engkau akan memberi-Nya nama Yesus, karena Ia akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa” (Mat 1:21). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian dari para pria dan wanita saleh sepanjang sejarah Gereja yang menyadari akan keberdosaan mereka seimbang dengan kedekatan mereka kepada Tuhan mendukung pengajaran Firman. Dengarkan saja bagaimana orang-orang kudus Alkitab ini mengevaluasi diri mereka: Daud: “Aku telah berdosa kepada Allah” (2 Sam 12:13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesaya: “Aku ini seorang yang najis bibir” (Yes 6:5) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Petrus: “Pergilah daripadaku, Tuhan; aku orang berdosa!” (Luk 5:8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| Klaim Paulus sebagai manusia paling berdosa pasti ditantang banyak kali karena ia menulis kata-kata itu. Bukti apa yang dapat Anda berikan dari 24 jam terakhir untuk berargumentasi bahwa Anda adalah sebenarnya manusia paling berdosa sepanjang sejarah? (Pikirkan dengan cukup lama supaya dapat setulusnya bertobat, lalu lanjutkan.)}}Paulus: “Yesus Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa - di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1Tim 1:15). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa adalah pelanggaran hukum (1 Yoh 3:4). Tuhan memberikan hukum dan berdiri di belakangnya. Waktu kita melanggar hukum Tuhan, Tuhan menganggapnya personal. Bila kita dapat melihat Tuhan berdiri di belakang setiap situasi dimana hukum-Nya dilanggar dan merasakan kemarahan-Nya yang benar, kita akan dapat memahami keseriusan dosa dengan lebih baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt;Perhatikan pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak Eli (1 Samuel 2:12-25) dan respons Tuhan&lt;br /&gt;
(1 Samuel 2:27-34).}}Imam Israel Eli menegur putra-putranya yang bodoh dan tidak bermoral dengan kata-kata ini: “Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seseorang berdosa terhadap Tuhan, siapakah yang akan menjadi perantara baginya?”(1 Sam 2:25). Sayangnya, kata-katanya terlalu kecil dan terlalu terlambat untuk membuat putra-putranya berbalik. Mereka tidak cukup menyadari keseriusan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Selamat Datang di Kandang Babi  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Esensi dosa telah digambarkan sebagai pemusatan pada diri sendiri. Pemikiran ini ditangkap jelas dalam Yesaya 53:6: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri.” Mari kita melihat lebih dekat implikasi dari ayat ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Seperti domba.'' Di antara semua binatang ternak yang berintelijensi rendah, domba biasanya tidak sadar akan bahaya sampai akhirnya terlalu terlambat untuk bertindak. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Sesat.'' Kecenderungan alami dari domba adalah berkeliaran. Kalau sang gembala tidak menjaga mereka tetap dalam satu kelompok, mereka akan cepat tersesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Perluas pemahaman Anda atas keseriusan dosa dengan membaca Roma 8:6-7, Kolose 1:21, dan Efesus 2:1-2.}}''Masing-masing kita. '' Dosa adalah masalah universal, mempengaruhi kita semua. ''Jalannya sendiri. '' Ini adalah inti permasalahannya. Kita ingin menjalani kehidupan kita sendiri tanpa mempedulikan Tuhan yang telah menciptakan kita dan menopang kita, dan kepada siapa kita berhutang untuk nafas kita selanjutnya. Dengar kata-kata dari William Ernest Henley ini, seekor “domba tersesat” yang kelihatannya telah bersikeras dengan jalannya sendiri: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Tidak peduli bagaimana lurusnya pintu pagar, Bagaimana dipenuhi hukumannya gulungan kitab; Aku adalah tuan dari takdirku, Aku adalah kapten dari jiwaku. &amp;lt;ref&amp;gt; William Ernest Henley from ''Bartlett’s Familiar Quotations'' (New York: Little, Brown, and Company, 1919), p. 829.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ruang lingkup dosa begitu besar sehingga Alkitab menggunakan banyak kata untuk menyampaikan sifat mengerikannya serta akibatnya yang bersifat membawa bencana. Terbungkus di dalam satu kata kecil itu adalah ide-ide seperti pemberontakan, kekejian, kebingungan, rasa malu, tidak mencapai target, ketidaksetiaan, ketiadaan hukum, kebodohan, ketidaktaatan, penyimpangan, dan lebih lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seseorang yang membaca tiga pasal pertama surat Paulus kepada orang Kristen di Roma dikejutkan oleh penghakimannya yang sarkastis terhadap umat manusia. Orang Yahudi dan non-Yahudi terkunci dalam ikatan dosa. Kata-kata Paulus begitu berkekuatan dan jelas sehingga kecenderungan pembaca adalah menganggap pemikiran Paulus sebagai ekstrim. “Hei, dia pasti sedang membicarakan tentang Jack the Ripper atau Adolf Hitler!” Bukan. Paulus sedang membicarakan Anda dan saya. “Tidak ada yang benar, seorangpun tidak… Tidak ada yang berbuat baik... semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:10, 12, 23). Ayat ini melukiskan potret umat manusia yang sangat tidak terpuji. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagian dari masalah kita adalah kita cenderung mengevaluasi keberdosaan kita dalam hubungannya dengan orang lain. Dibandingkan dengan Attila the Hun, aku jauh lebih baik. Dibandingkan dengan Ibu Teresa, aku tidak. Kalau Tuhan tidak membukakan kepada kita seberapa luasnya dosa kita, kita tidak dapat membedakan kerusakan kita sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|”Ia yang memiliki sedikit saja pemikiran akan dosa, tidak pernah memiliki pemikiran besar akan Allah. &amp;lt;ref&amp;gt; William S. Plumer, ''The Grace of Christ'' (Philadelphia, PA: Presbyterian Board of Publication, 1853), p. 24.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – John Owen}}Selama tahun 1980an saya tinggal di daerah pertanian yang indah di Lancaster, Pennsylvania. Hidup di sana sangat menyenangkan dalam segala hal kecuali satu: Saya tidak pernah tahan terhadap bau kotoran. Babi-babi adalah yang paling bau. Tapi menariknya, walaupun bagi saya baunya menjijikan, babi-babi itu tidak tampak terganggu sedikitpun. Seperti J.C. Ryle katakan, “Hewan yang baunya sangat menyerang kita tidak mengetahui sama sekali bahwa mereka menyerang dan tidak menyerang satu sama lain.” &amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Holiness'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1879, 1979), p. 65.&amp;lt;/ref&amp;gt; Manusia berdosa, tampaknya, tidak dapat memiliki cukup pemikiran betapa keji dosa di mata Allah yang kudus dan sempurna. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana kita sampai jatuh ke dalam keadaan yang menyedihkan ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang telah terjadi dengan umat manusia? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Dapatkah Seekor Macan Tutul Mengganti Belangnya?  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pasal kelima kitab Roma (ayat 12-21), Paulus menjelaskan sumber dari dosa dan sumber dari pengampunan kita yang paling penting. Harus dicatat di awal bahwa diskusi kita tentang keberdosaan manusia berhubungan dengan keadaan alaminya yang terpisah dari kasih karunia. Melalui pekerjaan penebusan Kristus, hubungan manusia dengan dosa telah berubah secara radikal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Seumpama Tuhan berkata kepada manusia, “Aku ingin engkau untuk menggunting semak-semak ini sebelum pukul tiga sore ini. Tetapi hati-hati. Ada sebuah lubang besar di ujung taman. Kalau engkau jatuh ke dalam lubang itu, engkau tidak akan dapat mengeluarkan dirimu sendiri. Jadi apapun yang kamu lakukan, menjauhlah dari lubang itu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seumpama segera setelah Tuhan meninggalkan taman, manusia itu berlari dan melompat ke dalam lubang itu. Pada pukul tiga Tuhan kembali dan menemukan semak-semak belum digunting. Ia memanggil si tukang kebun dan mendengar suara tangis lemah dari ujung taman. Ia berjalan ke ujung lubang dan melihat si tukang kebun tanpa daya menggapai-gapai di dasar lubang. Ia berkata kepada si tukang kebun, “Mengapa engkau belum menggunting semak-semak yang Aku perintahkan padamu?” Si tukang kebun menjawab dengan marah, “Bagaimana Engkau menginginkan aku untuk menggunting semak-semak ini saat aku terjebak di dalam lubang ini? Kalau saja Engkau tidak meninggalkan lubang kosong di sini, aku tidak akan berada di situasi sulit ini.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adam melompat ke dalam lubang. Di dalam Adam kita semua melompat ke dalam lubang. Tuhan tidak melemparkan kita ke dalam lubang. Adam telah diperingatkan dengan jelas akan lubang itu. Tuhan menyuruhnya untuk menjauh. Konsekuensi yang Adam alami dengan berada di dalam lubang adalah hukuman langsung dari melompat ke dalamnya…&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita dilahirkan sebagai orang berdosa karena di dalam Adam kita semua telah jatuh. Bahkan kata “jatuh” adalah sedikit eufemisme (mengganti kata yang bermakna kuat dengan yang lebih lemah). Ini adalah pandangan berwarna mawar terhadap masalah. Kata “jatuh” mengimplikasikan sebuah kecelakaan. Dosa Adam bukanlah sebuah kecelakaan. Ia bukanlah Humpty-Dumpty. Adam tidak hanya tergelincir ke dalam dosa; ia melompat kedalamnya dengan dua kaki. Kita melompat bersamanya dengan kepala dahulu.&amp;lt;ref&amp;gt; R.C. Sproul, ''Chosen By God'' (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1986), pp. 97–98.&amp;lt;/ref&amp;gt; – R.C. Sproul}}Dosa memasuki seluruh manusia karena dosa satu orang manusia – Adam. Hal ini dibuktikan dari fakta bahwa semua manusia mati, kematian jasmani sebagai hukuman dari dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Waktu saya masih di tahun ketiga sekolah menengah, kami mempelajari masa Puritan di Amerika. Saya ingat melihat ilustrasi dari sebuah interpretasi bacaan yang berisi seperti ini: “Di dalam kejatuhan Adam, kita semua berdosa.” Saya masih bisa mengingat betapa kata-kata tersebut membuat saya marah. Pada saat itu saya berpikir, ''Adalah salah mencuci otak anak-anak seperti itu!'' Kemudian, memikirkan kaitannya dengan diri saya sendiri, saya menjadi sangat kesal. ''Saya tidak bisa melihat mengapa saya harus diseret jatuh bersama Adam. Bagaimanapun saya tidak mengetahuinya dari Adam!'' Mengatakan bahwa saya menemukan doktrin ini bersifat menyerang hanyalah sebuah pernyataan remeh. Doktrin ini menyerang rasa keadilan kita. Manusia natural menemukan doktrin ini sangat tidak dapat diterima. (Yang merupakan salah satu alasan utama mengapa saya sekarang percaya bahwa doktrin itu adalah benar). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inti Paulus menggambarkan keberdosaan yang menyatu dalam diri kita adalah bukan untuk mengusik kita tetapi untuk menginformasikan. Pengertian akan hubungan kita dengan Adam memberikan kita sebuah rasa menghargai yang baru untuk hubungan kita dengan Yesus Kristus. Pastor terkenal D. Martyn Lloyd-Jones menulis, “Kalau Anda berkata pada saya, ‘Apakah adil bila dosa Adam diimputasi kepada saya?’ Saya akan menjawab dengan bertanya, ‘Apakah adil kekudusan Kristus harus diimputasi kepada Anda?’”&amp;lt;ref&amp;gt; D. Martyn Lloyd-Jones, ''Romans: Assurance, Chapter Five'' (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1972), p. 219.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa adalah warisan universal diturunkan dari bapak kita semua, Adam. Secara natural, kita semua bersalah dan melawan Allah. Ajaran ini dikenal sebagai dosa asal dan hal itu menggambarkan kondisi manusia yang telah jatuh. Ajaran ini secara langsung berkontradiksi dengan pemikiran bahwa kita semua memasuki dunia dengan bersih, tak berdosa dan tak bersalah. Walaupun manusia terus menyandang peta dan teladan Allah, peta dan teladan itu telah menjadi rusak. Ia sekarang menjadi seperti puing-puing bait suci kuno. Tanda-tanda kebesaran masih terlihat, tetapi kemuliaan telah menjauh. Seperti sebuah kaca retak, bayangan masih terlihat namun sangat menyimpang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa asal meliputi dua aspek lebih lanjut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kerusakan total.'' Ini adalah istilah yang secara umum disalah mengerti sehingga jadi bermakna rendah. Istilah ini tidak berarti bahwa manusia adalah seburuk yang ia bisa. Ini disebut kerusakan ''menyeluruh''. Kerusakan total mengindikasikan bahwa korupsi dosa mempengaruhi manusia di setiap bagian dari dirinya: pikirannya, emosinya, kehendaknya, dan tubuhnya. Tidak ada dari diri manusia yang tidak dipengaruhi oleh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Ketidakmampuan total.'' Ini tidak berarti bahwa manusia tidak dapat melakukan sesuatu yang baik menurut standar ''manusia''. Ia masih bisa melakukan perbuatan baik secara luar dan mungkin memiliki banyak kualitas baik. Tetapi dalam hal-hal ''spiritual'', ia lemah. Bahkan hal yang “baik” yang ia lakukan dicemari oleh dosa. Mengubah kalimat dari Westminster Confession tentang subyek ini, “setelah jatuh dalam dosa, manusia sepenuhnya kehilangan kemampuannya untuk melakukan apapun untuk menyumbang bagi keselamatannya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| Yang mana yang menunjukkan bahwa bahkan anak-anak telah dicemari dosa asal? &lt;br /&gt;
* Mudahnya anak-anak belajar mengatakan “Tidak!” &lt;br /&gt;
* Mudahnya mereka dapat melupakan berbuat seperti yang telah diberitahukan. &lt;br /&gt;
* Menakjubkannya bagaimana dua orang anak dapat menginginkan mainan yang sama – mainan yang mereka tidak pernah pedulikan selama enam minggu – pada saat yang bersamaan, tidak mempedulikan mainan lainnya yang tersedia. &lt;br /&gt;
* Keuniversalan marah-marah dan mengambek.}}Donald MacLeod mengatakan, “[Ketidakmampuan total] berarti pertobatan itu melebihi kapasitas manusia biasa.”&amp;lt;ref&amp;gt;Donald MacLeod from ''Gathered Gold'' (Hertfordshire, England: Evangelical Press, 1984), p. 65.&amp;lt;/ref&amp;gt; Lepas dari Kristus, tidak ada yang manusia lakukan yang dapat menyenangkan Tuhan karena ia tidak dimotivasi oleh anugerah Tuhan ataupun merasa peduli akan kemuliaan Tuhan. Dan Tuhan sepenuhnya memperhatikan motivasi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yeremia memberikan ekspresi tentang ketidakmampuan total ketika ia bertanya, “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yer 13:23). Ketika Paulus mengatakan kepada orang-orang Efesus bahwa mereka telah ''mati'' karena pelanggaran mereka, ia menolong mereka untuk mengerti tidak hanya anugerah Tuhan yang begitu agung dalam menyelamatkan mereka, tetapi juga kebutuhan absolut mereka akan anugerah itu. Orang yang telah mati tidak akan dapat berpartisipasi untuk menyelamatkan dirinya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu apa yang terjadi setelah pertobatan? Apakah dosa tidak lagi ada? Oh, seandainya saja itu yang terjadi! {{LeftInsert|'''Untuk Studi Lebih Lanjut:'''&amp;lt;br&amp;gt; Peran apa yang dimainkan air batisan dalam pergumulan kita melawan dosa? (Lihat Rom 6:1-11)}}Kekuatan dosa terhadap seseorang yang telah lahir kembali secara pasti telah dipatahkan. Roma 6 menjelaskan bahwa sementara kehadiran dosa masih menjadi sebuah faktor, hubungan kita dengan dosa telah diubahkan secara radikal. Roh Kudus sekarang tinggal di dalam kita, menunjukkan kita jalan untuk berjalan dalam Tuhan. Kita tidak lagi diperhamba oleh dosa. Dosa tidak mendominasi atau menguasai kita; kita tidak berkewajiban mematuhi bujukan dosa. {{RightInsert|” Ia yang melihat dosa hanya sebagai sebuah fiksi, sebagai sebuah kemalangan, atau sebagai sebuah tetes, melihat tidak adanya kebutuhan baik untuk pertobatan yang mendalam maupun penebusan yang besar. Ia yang melihat tidak ada dosa dalam dirinya sendiri akan merasa ia tidak membutuhkan seorang Juru Selamat. Ia yang tidak menyadari iblis bekerja di dalam hatinya, tidak akan menginginkan perubahan sifat. Ia yang menganggap dosa sebagai masalah sepele akan berpikir beberapa tetes air mata atau reformasi luar cukup memuaskan. Kebenarannya adalah tidak ada orang yang yang pernah menganggap dirinya orang yang lebih berdosa di hadapan Tuhan daripada keadaannya sesungguhnya. Tidak ada juga orang yang pernah lebih merasa menderita akan dosanya daripada yang telah ia sebabkan.&amp;lt;ref&amp;gt;William Plumer, ''The Grace of Christ,'' p. 20.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – William S. Plumer}}Ancaman penghakiman tidak lagi menggantung di kepala kita. Namun kita terus merakan pengaruh dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| Satu atau dua kata apa yang dapat Anda kaitkan dengan hukuman dosa? Kekuatan dosa? Kehadiran dosa? Tulis jawaban Anda di bawah judul masing-masing di bawah. &amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
‘''Hukuman -- Kekuatan -- Kehadiran'''}}Satu cara yang membantu kita untuk mengerti pembebasan kita dari dosa memiliki tiga kata keterangan waktu yang berbeda: ''kita telah'' dibebaskan dari hukuman dosa; kita ''sedang'' dibebaskan dari kekuatan dosa; kita ''akan'' dibebaskan dari kehadiran dosa. Tetapi, seironis kedengarannya, semakin dekat seseorang berjalan bersama Tuhan, semakin besar pengetahuan dan kesadarannya akan dosa. Saya ingat ketika masih kecil dikagumkan oleh partikel debu yang menari di dalam cahaya yang bersinar melalui jendela. Debu itu ada di mana-mana, tetapi hanya dapat dilihat dengan cahaya. Begitu juga dengan dosa. Dosa dimanifestasi oleh cahaya Firman Tuhan dan Roh Kudus. Semakin kuat cahaya itu, semakin terlihat debu itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Ilalang Buruk dengan Akar yang Dalam  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai pencinta buku-buku lama, terutama tulisan-tulisan dari Puritan, saya seringkali menemukan diri saya bergumul dengan penekanan terhadap dosa yang diberikan oleh generasi terdahulu, bahkan di dalam kehidupan orang-orang yang telah bertobat. ''Di manakah kemenangan dalam hidup mereka?'' Saya merasa heran pada saat saya pertama membaca tulisan-tulisan itu. Sejak itu saya menjadi mengerti bahwa kesadaran mereka akan dosa, seberapa tajamnya itu, tidak melebihi kesadaran mereka akan anugerah dan kemurahan Tuhan dalam pengampunan dosa itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Roma 5:20-21.'''. Bagaimana kesadaran akan dosa memperdalam rasa syukur kita akan anugerah Tuhan?}}Pertimbangkan Jonathan Edwards, contohnya, dikenal karena kehidupannya yang kudus serta ajarannya yang hebat. Edwards mengatakan memiliki “rasa akan kebejatan diri saya sendiri dan keburukan hati saya sendiri yang sangat lebih besar daripada yang saya rasakan sebelum pertobatan” – sebuah tanda kesehatan rohani, menurut pendapatnya! &amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, ''The Works of Jonathan Edwards, Vol. 1'' (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1974), p. xlvii.&amp;lt;/ref&amp;gt; Penerus dan penulis biografinya, Serano Dwight, merasakan kebutuhan untuk menjelaskan pemikiran kakeknya. Bukannya Edwards ''memiliki'' kejahatan lebih, tulis Dwight, melainkan ia memiliki ''kesadaran'' yang lebih akan kebejatannya. Ia lalu menerangkan observasinya dengan sebuah analogi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Seumpama seorang buta memiliki sebuah taman penuh dengan ilalang buruk dan beracun. Ilalang-ilalang itu berada di taman tetapi ia tidak menyadarinya. Seumpama taman itu, sebagian besarnya, dibersihkan dari ilalang, dan banyak tumbuhan dan bunga-bunga indah dan berharga menggantikan ilalang-ilalang tadi. Orang buta itu lalu memperoleh kembali penglihatannya. Ada ''lebih sedikit'' ilalang, tetapi ia lebih menyadarinya. Jadi, semakin terang penglihatan spiritual kita, semakin besar kesadaran kita akan dosa. &amp;lt;ref&amp;gt;Ibid.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert|Saya tidak memiliki toleransi bagi mereka yang menjunjung psikologi di atas Firman, doa syafaat, dan pengcukupan Allah yang sempurna. Dan saya tidak memiliki kata-kata penguatan bagi orang-orang yang mengharapkan untuk mencampur psikologi dengan sumber-sumber ilahi dan menjual campuran ini sebagai akses spiritual. Metodologi mereka membuat pernyataan bisu bahwa apa yang Tuhan telah berikan di dalam Kristus tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan terdalam kita dan menenangkan kehidupan kita yang bermasalah.&amp;lt;ref&amp;gt;John MacArthur, Jr., ''Our Sufficiency in Christ'' (Dallas, TX: Word Publishing, 1991), p. 70.&amp;lt;/ref&amp;gt;” – John MacArthur, Jr.}}Kata-kata berikut dari J.C. Ryle memberikan rangkuman yang baik atas bab doktrin dosa kita: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Dosa – infeksi secara natural tetap ada, ya bahkan di dalam mereka yang telah diperbaharui. Begitu dalamnya akar kejahatan manusia, sehingga bahkan setelah kita dilahirkan kembali, diperbaharui, dibasuh, disucikan, dibenarkan, dan dibuat anggota hidup dari Kristus, akar ini tetap hidup di dasar hati kita dan, seperti kusta di dinding rumah, kita tidak pernah meninggalkannya sampai rumah duniawi di tabernakel ini dihancurkan. Dosa, tidak diragukan lagi, di dalam hati orang percaya, tidak lagi memiliki kuasa. Dosa itu diperiksa, dikontrol, direndahkan, disalibkan oleh kuasa ekspulsif dari prinsip baru anugerah. Hidup orang percaya adalah hidup kemenangan dan bukan kegagalan. Tetapi pergumulan yang terjadi dalam batinnya, peperangan yang ia temukan perlu diperangi setiap hari, kecemburuan yang mengawasi yang harus dipraktekannya terhadap kehidupan batinnya, perseteruan antara daging dan roh, rintihan di dalam ''yang tak seorangpun tahu kecuali dia yang mengalaminya'' – semua membuktikan satu kebenaran besar: kuasa dan kekuatan dosa yang besar….Berbahagialah orang percaya yang mengertinya, dan sementara ia bersukacita di dalam Yesus Kristus, tidak bergantung pada daging, dan sementaraa ia mengucap syukur pada Tuhan yang memberikan kita kemenangan, tidak pernah lupa untuk berjaga-jaga dan berdoa kalau tidak ia jatuh dalam pencobaan.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.C. Ryle, ''Holiness'', p. 5.&amp;lt;/ref&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Bagi kelompok menjadi dua tim, sisi “Ilmu Alam/Pendidikan” dan sisi “Keselamatan.” Biarkan setiap kelompok bergantian memberikan masukan penyakit sosial yang dapat mereka sembuhkan. Tim yang manakah yang melakukan paling banyak kebaikan bagi kemanusiaan? &lt;br /&gt;
#“Model moral dari pengertian akan tanggung jawab dan permasalahan manusia semua telah digantikan oleh model kedokteran,” kata penulis (Halaman 14). Bukti apa yang Anda lihat di tubuh Kristus berkenaan dengan perubahan tersebut? &lt;br /&gt;
#Bukankah Tuhan sudah cukup dewasa untuk tidak diusik oleh dosa kecil kita yang tidak penting? &lt;br /&gt;
#Dalam skala satu sampai sepuluh, beri nilai apa yang gaya hidup Anda katakan tentang keseriusan dosa. (1 = sama sekali tidak serius, 10 = sangat serius) &lt;br /&gt;
#Bagaimana esensi dosa didefinisikan? (Halaman 17) Apakah Anda setuju? &lt;br /&gt;
#Baca Roma 3:10-18 dengan bersuara. Cobalah sepenuhnya jujur: Apakah Anda bergumul dengan kenyataan bahwa hal ini menggambarkan ''Anda'', lepas dari anugerah penebusan Tuhan? &lt;br /&gt;
#Apa yang kita warisi dari Adam? Dari Yesus? &lt;br /&gt;
#Bagaimana Anda menjelaskan “ketidakmampuan total” (Halaman 19-20) kepada orang non-Kristen? &lt;br /&gt;
#Bahas lagi ketiga kata keterangan waktu akan pembebasan kita dari dosa (Halaman 20-21). Bagaimana penjelasan ini mengajarkan Anda? &lt;br /&gt;
#Diskusikan kalimat terakhir di kutipan rangkuman dari J.C. Ryle (Halaman 22).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Chosen by God by R.C. Sproul (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:38:28 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Keselamatan_yang_Terbesar/Apakah_Ada_yang_Percaya_pada_Dosa%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Nilai Pengajaran Sejarah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Nilai_Pengajaran_Sejarah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | The Value of Learning History}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat yang singkat, Yudas (Jude) mengajar kita sedikit sebanyak tentang pentingnya menimba ikhtibar daripada sejarah. Ini bukan isi utama surat tersebut. Akan tetapi, beberapa pemerhatian yang seterusnya agak luar biasa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam surat kedua terakhir dalam Al-Kitab, Yudas menulis untuk mendorong para pengikut Kristus untuk &amp;quot;mempertahankan dengan bersemangat, iman yang telah diwahyukan Tuhan kepada mereka&amp;quot; (ayat 3). Surat ini adalah amaran supaya berwaspada akan orang tertentu yang telah masuk menyelusup... orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus.&amp;quot; (ayat 4). Yudas menyifatkan orang-orang tersebut dengan jelas. Mereka &amp;quot;mengutuk segala yang mereka tidak fahami&amp;quot; (ayat 10). Mereka &amp;quot;mengadu tentang nasib mereka, mencari salah orang lain, hidup menuruti hawa nafsu mereka, membodek orang untuk enangguk di air keruh&amp;quot; (ayat 16). Mereka &amp;quot;menyebabkan pecah-belah dan berfikiran duniawi, dan hidup tanpa Roh Kudus&amp;quot; (ayat 19). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penilaian yang dahsyat ini bukanlah ditujukan kepada orang-orang di luar gereja, tetapi kepada orang telah menyelusup tanpa disedari. Yudas mahu umat mengecam mereka supaya gereja tidak ditipu dan dihancurkan oleh ajaran sesat dan perbuatan tidak bermoral mereka. Salah satu strategi Yudas adalah dengan membandingkan mereka dengan watak dan peristiwa lain alam sejarah. Contohnya, dia berkata bahawa &amp;quot;Sodom dan Gomorrah... yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang.&amp;quot; (ayat 7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi Yudas membandingkan pengajar-pengajar sesat tersebut dengan Sodom and Gomora. Tujuan beliau menjadikan Sodom dan Gomora sebagai &amp;quot;peringatan&amp;quot; kepada apa yang bakal menimpa mereka. Dalam minda Yudas, mengetahui sejarah Sodom dan Gomora itu penting bagi mengecam ajaran sesat dan melindungi umat daripadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti ayat 11, Yudas memberikan 3 rujukan lain kepada peristiwa lampau sebagai perbandingan dengan apa yang sedang berlaku di kalangan orang Kristian. Beliau berkata &amp;quot;Celakalah mereka, kerana mereka mengikuti jejak Kain dan kerana mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Balaam, dan mereka binasa kerana kederhakaan seperti Korah.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menarik sekali. Kenapa Yudas melihat kembali tiga insiden sejarah yang berlaku beribu-ribu tahun dahulu - Kejadian 19 (Sodom), Kejadian 3 (Kain), Bilangan 22-24 (Balaam), Bilangan 16 (Korah)? Apakah tujuan Yudas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berikut adalah tiga sebabnya: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Yudas menganggap bahawa pembaca sudah mengetahui kisah-kisah sejarah tersebut! Adakah ini tidak menakjubkan? Zaman Yudas adalah abad pertama! Tiada buku-buku cetakan. Tiada Al-Kitab. Tiada kaset atau video. Hanya hafalan dan cerita yang diwarisi. Dan Yudas menganggap mereka akan jelas tentang &amp;quot;jejak Kain&amp;quot;, &amp;quot;kesesatan Balaam&amp;quot; dan &amp;quot;kederhakaan Korah&amp;quot;? Tahukah anda tentang kisah tersebut? Bukankah ini menarik? Ini menyebabkan saya merasakan bahawa tahap pengetahuan Al-Kitab dalam gereja kita hari ini adalah terlalu rendah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Yudas menganggap bahawa dengan mengetahui sejarah, masalah situasi semasa dapat dimudahkan. Orang Kristian akan lebih bersedia menghadapi ajaran sesat pada hari ini jika mereka mengetahui situasi yang sama semalam. Dengan kata lain, sejarah adalah penting untuk kehidupan Kristian. Untuk mengetahui bahawa Kain iri hati dan membenci abangnya dan merosakkan hubungannya dengan Tuhan akan memberi amaran kepada kita agar berjaga-jaga sekiranya perkara yang sama berlaku hari ini. Kesedaran bahawa Balaam menyalahgunakan Firman Tuhan untuk kepentingan diri membolehkan anda kenalpasti perbuatan yang sama hari ini. Mengetahui bahawa Korah memberontak terhadap kepimpinan sah Nabi Musa akan memperlengkapi anda agar berwaspada dengan orang-orang tidak suka dipimpin. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3) Tidakkah ianya jelas bahawa Tuhan menentukan arus sejarah dan pastikan ianya direkodkan supaya kita memperoleh ikhtibar dan lebih bijaksana dan berpengetahuan dalam menangani situasi semasa demi Kristus dan gereja-Nya? Janganlah berhenti belajar sejarah. Tambahlah ilmu pengetahuan setiap hari. Dan berilah anak-anak kita salah satu perlindungan bagi cabaran masa depan, iaitu, pengajaran kisah-kisah lampau. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Belajar dengan anda, demi Kristus dan kerajaan-Nya &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
John Piper&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:38:13 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Nilai_Pengajaran_Sejarah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kuasa Teladan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kuasa_Teladan</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | The Power of Example}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Teladan bukan hanya hal yang penting dalam hidup - tetapi satu-satunya hal yang penting.&amp;quot; Melalui pernyataan itu, penginjil pengobatan terkenal dan pengarang, Albert Schweitzer, mengemukakan dengan jelas betapa penting dan kuatnya suatu teladan. Berapa banyak dari kita yang sedang membaca artikel ini, telah terpengaruh oleh hidup berhikmah dari beberapa orang pendeta, penatua atau orang kristen lain yang kita jumpai dalam hidup kita. Jika saya menyebutkan &amp;quot;seorang pendeta yang setia dan jujur,&amp;quot; gambaran siapa yang muncul dalam pikiran anda? Jika saya menyebutkan &amp;quot;seorang kristen yang setia dan jujur,&amp;quot; siapa yang anda pikirkan? &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan Scweitzer tersebut adalah suatu pernyataan yang berlebihan, tentunya. Banyak hal lain yang terlibat dalam hidup berhikmah, namun semua itu dipadukan dalam teladan yang diberikan seseorang.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Nasihat&amp;quot; dan &amp;quot;pembentukan&amp;quot; kedengarannya seperti konsep yang baru, tapi tidak. Kelihatannya dari cara Allah menciptakan kita, hal ini telah ada dalam pikiranNya. Allah menciptakan manusia menurut rupa dan gambarNya. Kita haruslah mengikuti teladanNya, dan meniru tingkah lakuNya. Pada inkarnasi Kristus, Allah hadir sebagai manusia sedemikian rupa sehingga kita dapat mengerti dan berhubungan denganNya, dan, sebagaimana yang dikatakan Petrus, &amp;quot;meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejakNya,&amp;quot; (I Petrus 2:21).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita juga harus turut mengambil bagian dalam pelayanan untuk memberikan dan mengikuti teladan. Allah telah menciptakan manusia untuk dilahirkan dan tumbuh dewasa dengan didampingi oleh manusia lainnya dalam keluarga. Kita tidak ada dengan sendirinya, juga tidak langsung muncul sebagai orang dewasa. Allah telah menyediakan orang tua terkasih untuk menjadi bagian dalam pertumbuhan manusia.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga merupakan cara Allah untuk dikenal dalam dunia yang telah hancur ini. Dalam kitab Perjanjian Lama Allah memanggil langsung Abraham dan keturunannya untuk menjadi orang yang kudus, istimewa, dan berbeda dalam dunia. Mereka harus menjadi istimewa sehingga dunia mempunyai gambaran akan masyarakat yang mencerminkan karakter yang mewujudkan kepentingan dan nilai-nilai Allah. Pada waktu Allah menyuruh umatnya dalam kitab Imamat 19 agar mereka &amp;quot;Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, kudus,&amp;quot; Ia tidak berbicara hanya kepada satu orang, kepada Musa atau Abraham atau Harun atau Joshua saja. Ia memang berbicara kepada mereka, namun dapat kita lihat dalam Imamat 19:1 Allah secara khusus memerintahkan Musa untuk menyampaikan hal ini kepada seluruh umat Israel. Hukum Taurat yang kemudian diberikanNya kepada mereka banyak berkaitan dengan hubungan, keadilan, dan interaksi sosial. Ia menunjukkan bahwa sebagaimana mereka peduli terhadap sesama - terhadap yang kehilangan dan yang berkekurangan, terhadap orang asing dan orang muda - mereka pun akan menunjukkan karakter dari Pencipta mereka yang adil dan penuh belas kasih.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
kegagalan Israel dalam bentuk pelayanan ini bagi yang lain merupakan salah satu tuntutan utama Allah terhadap bangsa ini dalam kitab Perjanjian Lama. Maka dalam Yehezkiel 5, peranan Israel menjadi salah satu contoh buruk bagi bangsa-bangsa lain. Allah berfirman kepada Israel, &amp;quot;Inilah Yerusalem! Ditengah-tengah bangsa-bangsa Kutempatkan dia dan sekelilingnya ada negeri-negeri mereka....Aku akan membuat engkau menjadi reruntuhan dan buah celaan diantara bangsa-bangsa yang di sekitarmu di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. Engkau akan menjadi buah celaan dan cercaan, menjadi peringatan dan kengerian bagi bangsa-bangsa yang di sekitarmu, tatkala Aku menjatuhkan hukuman kepadamu di dalam kemurkaan dan kemarahan dan di dalam penghajaran-penghajaran kemarahan - Aku, Tuhan, yang mengatakannya -&amp;quot; (5:5, 14-15). Berulangkali dalam Yehezkiel, Allah berfirman bahwa Ia melakukan apa yang dilakukanNya kepada bangsa Israel demi namaNya, yaitu, bagi kebenaran akan Ia untuk diketahui setiap orang di dunia.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian terpadu terhadap diriNya adalah juga apa yang diinginkan Allah melalui gereja dalam kitab Perjanjian Baru. Dalam Yohanes 13, Yesus mengatakan bahwa dunia akan mengetahui bahwa kita adalah murid-muridNya melalui kasih kristus yang kita miliki terhadap satu sama lain. Paulus menulis kepada gereja di Efesus, &amp;quot;Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,&amp;quot; (Efesus 5:8).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam hidup kita sebagai orang Kristen, secara individu, dan dalam skala yang lebih besar dalam hidup kita sebagai gereja, kita membawa cahaya pengharapan Allah dalam dunia yang kelam dan putus harapan ini. Melalui hidup kita sebagai orang Kristen kita saling mengajarkan satu sama lain, dan sekeliling kita tentang Allah. Jika kita saling mengasihi, kita menunjukkan bagaimana rasanya mengasihi Allah. Dan, selain itu &amp;quot;barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya,&amp;quot; (I Yohanes 4:20). Dalam kekudusan kita, kita menunjukkan kekudusan Allah. Kita dipanggil untuk memberikan harapan kepada orang-orang bahwa ada cara hidup lain, selain kehidupan penuh kekecewaan dan pementingan diri sendiri dimana sifat-sifat buruk dan dunia sekeliling kita bersekongkol mendorong kita untuk mengikutinya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rekan-rekan pendeta dan penatua, apa yang diajarkan gereja kita kepada dunia tentang Allah? Apakah kita mengajarkan mereka bahwa Allah hanya diperuntukkan bagi kaum kita? Apakah kita mengajarkan mereka bahwa Ia menolerir dosa dan ketidaktaatan, kehidupan mementingkan diri sendiri yang picik dan penuh pertengkaran? Seberapa serius kita memimpin jemaat kita untuk memikul tugas besar dan hak istimewa yang kita miliki sebagai pameran publik, jendela toko, iklan, halaman web dari karakter Allah bagi ciptaanNya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Betapa hak yang sangat istimewa yang Ia berikan kepada kita, dan betapa sedikitnya penghargaan kita. Kita pikir jika kita dapat mengajak lebih banyak orang ke gereja, maka entah bagaimana menghilangkan tanggung jawab kita terhadap mereka yang telah menjadi anggota gereja. Namun kesaksian apa yang diberikan oleh masing-masing mereka sekarang? Berapa banyak dari kesaksian-kesaksian buruk mereka yang dengan susah payah harus engkau atasi agar orang-orang dapat melihat kesaksian-kesaksian indah yang disediakan Allah melalui mereka yang sungguh-sungguh bertobat, dan hidup di jalan Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keseluruhan praktek dari pendisiplinan gereja pada akhirnya bukanlah tentang usaha mempertahankan atau balas dendam. Itu adalah hal-hal bagi Allah, bukan orang-orang berdosa yang diampuni seperti kita (Ulangan 32:35, Roma 12:19)! Tetapi kita pun memiliki kepedulian untuk menyajikan kesaksian yang baik bagi yang lain tentang bagaimana Allah itu. Kita patutlah menjadi teladan dalam hidup dan perbuatan kita. Apakah anda menyadari bahwa dalam surat-suratnya, Paulus sepertinya secara khusus menaruh perhatian pada reputasi yang dimiliki seorang penatua diluar lingkungan gereja? Walau banyak kemungkinan yang menyebabkan hal ini, salah satu penyebabnya pastilah peran gereja yang diwakili oleh penatua kepada dunia. Inilah, kemudian, juga yang menggambarkan gereja sebagai suatu kesatuan. Itulah sebabnya mengapa Paulus sangat marah dalam I Korintus 5. Dan apakah anda memperhatikan kepada siapa Paulus berteriak? Ia tidak menghardik orang yang cabul; namun Ia dengan tajam mengkritik gereja yang menolerir dosa seperti itu dalam jemaatnya! Kita menyadari kenyataan pahit bahwa beberapa dari kita terlibat dalam dosa, meskipun awalnya mereka mempunyai profesi yang baik. Kita percaya bahwa setidaknya beberapa dari mereka akan bertobat dan kembali ke jalan Allah. Namun kita tidak pernah mengharapkan gereja secara terpadu kembali pada tanggung jawabnya untuk mewakili Allah dengan baik dengan mengusung kekudusan dan menentang dosa. Isu inilah - sebagaimana dosa penyembahan berhala Israel dalam kitab Perjanjian Lama - yang menjadi inti kritikan tajam Paulus terhadap gereja di Korintus. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sahabat, apa yang akan dikatakan rasul Paulus mengenai gerejaku dan gereja anda? Berapa banyak kealpaan yang kita tolerir atas nama kasih? Berapa banyak hubungan perselingkuhan atau perceraian yang tidak sesuai ajaran alkitab yang akan kita biarkan begitu saja dalam gereja kita, kendati hal tersebut seakan-akan berseru ke dunia, mengatakan &amp;quot;kita tidaklah berbeda dengan dunia&amp;quot;? Berapa orang pemecah belah yang akan kita biarkan memecah belah gereja dengan isu-isu remeh, atau berapa banyak injil palsu yang kita biarkan diajarkan? &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saudara-saudara terkasih, jika anda membaca artikel ini sebagai seorang pendeta, penatua, pemimpin, guru atau jemaat gereja, pikirkanlah tanggung jawab besar yang kita pikul. Pertimbangkan bagaimana kita dapat bersaksi bagi kebaikan Allah - apakah dengan mengabaikan dosa yang ada disekeliling kita, atau dengan berusaha secara lembut menyadarkan mereka yang terperangkap dalam dosa, sebagaimana yang diajarkan Paulus dalam Galatia 6:1? Manakah yang lebih baik mencerminkan Allah yang kita sembah? Apakah belas kasih Allah pernah menngurangi kekudusanNya dalam duniaNya? Bagaimana halnya dalam gerejaNya? Apakah peran kita dalam hal ini?&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beri perhatian pada teladan apa yang kau berikan bagi dunia disekitarmu. Allah mempunyai rencana besar bagi umatNya dan bagi duniaNya; Ia memanggil kita untuk menunjukkan hal itu lewat perkataan dan hidup kita. Apakah anda melakukannya? Semoga Allah menolong kita semua untuk tetap setia dan jujur menjawab panggilanNya.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:38:02 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kuasa_Teladan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kejadian Terbesar dalam Sejarah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kejadian_Terbesar_dalam_Sejarah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | The Greatest Event in History}}''Dua Paradoks dalam Kematian Kristus''&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah mengherankan kejadian terbesar dalam sejarah dunia begitu rumit.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Sebagai contoh, karena Yesus Kristus adalah manusia sekaligus Allah dalam diri satu orang, apakah kematiannya adalah kematian Allah? Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengulas dua kodrat Kristus, yang satu ilahi dan yang lainnya manusiawi. Sejak tahun 451 sesudah masehi definisi Chalcedonian akan dua kodrat Kristus dalam diri satu orang telah dikukuhkan sebagai ajaran ortodoks dari injil. Dewan Chalcedon mengatakan,&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kami, kemudian, .... mengajarkan orang untuk mengakui .... satu-satunya Kristus, Anak, Tuhan, Tunggal, untuk diakui dalam dua kodrat, tidak membingungkan, tidak dapat diubah, tidak terbagi, tidak terpisahkan; perbedaan dari kodrat tersebut telah ditiadakan oleh penyatuan, tetapi lebih dari itu properti dari masing-masing kodrat tetap dipelihara, dan ada bersama-sama dalam satu Orang dan Satu Penghidupan, tidak terpisahkan atau terbagi dalam dua orang, tetapi satu-satunya Anak, Tunggal, Allah, Firman, Tuhan Yesus Kristus.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
 &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Kodrat ilahi adalah kekal (Roma 1:23; 1 Timotius 1:17). Ia tidak dapat mati. Itulah bagian dari apa artinya sebagai Allah. Karena itu, ketika Kristus mati, kodratnya sebagai manusialah yang menderita kematian. Misteri dari penyatuan kodrat ilahi dan manusiawi, dalam pengalaman kematian tersebut, tidak disingkapkan kepada kita. Yang kita tahu adalah bahwa Kristus telah mati dan bahwa pada hari yang sama ia telah berada dalam Firdaus (&amp;quot;''Hari ini juga'' engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus,&amp;quot; Lukas 23:43). Itulah sebabnya kelihatannya terdapat kesadaran dalam kematian, sehingga penyatuan yang kekal antara kodrat ilahi dan manusiawi tidak perlu diinterupsi, meskipun Kristus, hanya dalam kodrat manusianya, telah mati.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Contoh lain dari kerumitan akan kejadian kematian Kristus adalah bagaimana Allah Bapa mengalaminya. Ajaran injili yang paling umum adalah bahwa kematian Kristus adalah pengalaman Kristus dari kutuk Bapa. &amp;quot;Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: 'Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!'&amp;quot; (Galatia 3:13). Kutuk siapa? Kita dapat memperhalusnya dengan mengatakan, &amp;quot;kutuk hukum Taurat.&amp;quot; Tetapi hukum Taurat bukanlah orang yang dapat mengutuk orang lain. Suatu kutuk adalah kutuk jika ada orang yang mengutuk. Orang yang mengutuk melalui hukum Taurat adalah Allah, yang menulis hukum Taurat. Oleh sebab itu kematian Kristus bagi dosa dan pelanggaran kita terhadap hukum Taurat adalah pengalaman dari kutuk Bapa.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah alasan mengapa Yesus mengatakan, &amp;quot;Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?&amp;quot; (Matius 27:46). Dengan kematian Kristus, Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian (Yesaya 53:6) yang ia benci. Dan dalam kebencian karena dosa itu, Allah memalingkan diri dari Anak-Nya yang menanggung dosa dan menyerahkannya untuk menderita oleh kengerian kematian dan kutuk. Murka Bapa telah dilimpahkan dari kita kepada Kristus sehingga murka-Nya terhadap kita telah &amp;quot;diperdamaikan&amp;quot; (Roma 3:25) dan dihapuskan.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun inilah yang menjadi paradoks. Allah dengan sungguh-sungguh dan penuh kegembiraan menyetujui apa yang telah dilakukan sang Anak pada waktu pengorbanan. Pada kenyataannya, Ia telah merencanakan semuanya bersama sang Anak. Dan kasih-Nya kepada sang Allah-Manusia, Yesus Kristus, dalam dunia memperlihatkan ketaatan yang sama yang membawa Yesus ke Kayu Salib. Kayu salib adalah tindakan Yesus yang sempurna akan ketaatan dan kasih. Dan ketaatan dan kasih inilah yang sangat disetujui dan disukai oleh Bapa. Oleh sebab itulah Paulus mengatakan hal yang mengagumkan ini: &amp;quot;Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita ''sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah''&amp;quot; (Efesus 5:2). Kematian Yesus adalah pengharum bagi Allah.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi disini kita mempunyai satu lagi kerumitan yang pelik. Kematian Kristus adalah kutuk Allah dan murka Allah; namun demikian, pada saat yang sama, hal tersebut menyenangkan Allah dan suatu pengharum yang manis. Seraya berpaling dari Anak-Nya dan menyerahkan-Nya untuk mati menanggung dosa manusia, Ia bergembira akan ketaatan, kasih dan kesempurnaan dari sang Anak.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu, marilah kita berdiri dengan kagum dan memandang dengan sukacita akan kematian Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada kejadian yang lebih besar dari ini dalam sejarah. Tidak ada hal yang lebih besar bagi pikiran kita untuk direnungkan atau bagi hati kita untuk dikagumi. Berpeganglah pada hal ini. Semua yang penting dan baik ada disini. Ini adalah tempat yang bijaksana, penting dan membahagiakan untuk hadir.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:37:48 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kejadian_Terbesar_dalam_Sejarah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kitab_Ayub:_Mengapa_Orang_Benar_Menderita%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | The Book of Job: Why Do the Righteous Suffer?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam area studi Alkitab, ada lima kitab yang secara umum dimasukkan ke dalam kategori &amp;quot;Literatur Hikmat&amp;quot; atau &amp;quot;Kitab Puitis di dalam Perjanjian Lama&amp;quot;. Kelima kitab itu adalah Amsal, Mazmur, Pengkotbah, Kidung Agung, dan Ayub. Dari kelima kitab ini, hanya ada satu yang menonjol dan terkesan berbeda dari keempat kitab lainnya. Kitab itu adalah Ayub. Hikmat yang diperoleh dari Kitab Ayub tidak disampaikan dalam bentuk amsal. Melainkan, Kitab Ayub berkaitan dengan pertanyaan-pertayaan hikmat dalam konteks naratif yang bersentuhan dengan penderitaan besar yang dialami oleh Ayub. Latar belakang naratif ini ada dalam konteks masa patriarki. Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan penulis kitab ini, apakah sebagai sejarah naratif dari seorang individu nyata atau apakah berkaitan dengan struktur mendasar kitab ini yaitu sebagai sebuah drama dengan kalimat pembuka, termasuk adegan pembukaan di Surga, yang melibatkan Allah dan Iblis, dan bergerak secara klimatikal ke bagian penutub kitab, dimana hal-hal yang terhilang dari Ayub pada masa-masa pencobaan digantikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Dalam segala aspek, pesan mendasar dari kitab Ayub adalah hikmat yang berkaitan dengan pertayaan seperti bagaimana keterlibatan Allah di dalam penderitaan yang dialami manusia. Di dalam setiap generasi, protes bermunculan, yang menyatakan bahwa jika Allah itu baik, lalu seharusnya tidak ada penderitaan, penyakit, dan kematian di dalam dunia ini. Bersamaan dengan protes yang menentang hal-hal buruk untuk terjadi di dalam kehidupan orang baik, ada juga beberapa usaha untuk menciptakan rumusan dari penderitaan, dengan mengasumsikan bahwa porsi penderitaan seseorang terkait dengan rasa bersalah yang mereka miliki, juga dosa yang sudah mereka lakukan. Respon yang cepat mengenai hal ini dapat ditemukan dalam Pasal 9 Kitab Yohanes, ketika Yesus memberikan tanggapan pada pertanyaan para pengikutNya, berkaitan dengan penyebab penderitaan dari seorang laki-laki yang terlahir buta. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Di dalam Kitab Ayub, karakter utama digambarkan sebagai orang yang benar, bahkan orang yang paling benar hidupnya yang bisa ditemukan di seluruh bumi, namun adalah orang yang menurut Iblis bersikap benar hanya untuk menerima berkat dari tangan Allah. Allah telah membentengi hidupnya dan memberkati dia di antara segala manusia, dan sebagai hasilnya, Iblis menuduh bawa Ayub melayani Allah hanya karena berkat-berkat yang diberikan oleh Penciptanya. Tantangannya adalah ketika Iblis menantang Allah untuk mengangkat semua perlindunganNya dari dalam hidup Ayub, untuk melihat apakah Ayub akan mulai mengutuki Allah. Seiring dengan berjalannya cerita, penderitaan Ayub bergerak cepat dari buruk, menjadi lebih buruk. Penderitaannya begitu besar sehingga ia sampai duduk di atas abu, mengutuki hari ketika ia dilahirkan, dan menangis keras dalam penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaannya begitu besar, sehingga istrinya sendiri menyarankan dia untuk mengutuki Allah, dan bahwa pada akhirnya ia bisa meninggal dan terlepas dari penderitaannya. Hal yang dinyatakan lebih lanjut di dalam kitab Ayub adalah ketika ketiga sahabat Ayub, Elifas, Bildad, dan Zofar memberikan pendapat mereka. Pernyataan mereka menyatakan betapa rendah kesetiaan mereka pada Ayub, dan betapa pikiran mereka begitu cepat menilai Ayub (tanpa didasari pengetahuan yang benar), sehingga mereka berpikir bahwa penderitaan Ayub pastilah dikarenakan masalah dalam karakter Ayub sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Penghiburan dan nasehat yang diterima Ayub mencapai tingkat yang lebih tinggi berkat pemahaman-pemahaman mendalam yang disampaikan oleh Elihu. Elihu memberikan beberapa pernyataan yang mengandung muatan hikmat Alkitabiah, namun hikmat yang terakhir diperoleh dalam kitab yang hebat ini, tidak datang dari teman-teman Ayub, bahkan Elihu, melainkan dari Allah sendiri. Ketika Ayub meminta jawaban dari Allah, Allah menjawab dengan jawaban keras berikut, &amp;quot;Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberitahu Aku.&amp;quot; (Ayub 38:1-3). Ini adalah interogasi intens yang pernah dilakukan terhadap manusia oleh PenciptaNya. Kesan pertama yang ditangkap adalah Allah sedang mengolok-olok Ayub, ketika Ia bertanya, &amp;quot;Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!&amp;quot; (Ayat 4). Allah kemudian mengajukan pertanyaan demi pertanyaan seperti, &amp;quot;Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?&amp;quot; (Ayat 31-32). Sangat jelas, bahwa jawaban yang bisa disampaikan terkait dengan pertanyaan retoris ini selalu, &amp;quot;Tidak, tidak, tidak&amp;quot;. Allah seakan-akan memukul kalah Ayub, dan melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai kemampuan Ayub untuk melakukan suatu hal yang tidak mampu ia lakukan, namun sangat jelas dapat dilakukan oleh Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Pada ayat 39, Allah akhirnya berkata kepada Ayub, &amp;quot;Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!&amp;quot; (ayat 35). Sekarang, Ayub merespon pertanyaan ini bukan dengan cara yang menyimpang, namun sebaliknya ia mengatakan, &amp;quot;Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan.&amp;quot; (ayat 37-38). Dan Allah kemudian kembali menginterograsi Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan yang jelas mengambarkan kekontrasan antara kuasa Allah, Siapakah Dia yang dikenal Ayub dengan nama El Shaddai, dan ketidakberartian Ayub. Akhirnya Ayub mengakui bahwa hal-hal itu terlalu mustahil dan hebat untuk dilakukan olehnya. Dia menyatakan, &amp;quot; Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.&amp;quot; (42:5-6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang berharga dari pelajaran ini adalah bahwa Allah tidak pernah secara langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayub. Allah tidak mengatakan, &amp;quot;Ayub, alasan kamu mengalami penderitaan adalah ini dan itu.&amp;quot; Sebaliknya, yang Allah lakukan di tengah misteri penderitaan hebat itu, adalah dengan menjawab Ayub dengan DiriNya sendiri. Ini adalah hikmat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan penderitaan manusia-- bukan jawaban mengenai kenapa saya harus menderita dengan cara, situasi, dan waktu tertentu, namun dimanakah (kepada Siapa kah) pengharapan saya berlabuh di tengah penderitaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban terhadap pertanyaan itu dapat dengan jelas ditemukan dalam kitab Ayub, yang selaras dengan kitab-kitab hikmat lainnya: takut akan Allah adalah permulaan hikmat. Dan saat kita begitu disibukkan dan dibuat pusing oleh hal-hal yang tidak bisa kita pahami di dalam dunia ini, kita tidak selalu mencari jawaban spesifik atas pertanyaan spesifik yang kita ajukan, namun kita mencari pengenalan akan Allah dalam kekudusanNya, kebenaranNya, keadilanNya, dan dalam anugerahNya. Itulah hikmat yang bisa ditemukan dalam kitab Ayub&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:37:39 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kitab_Ayub:_Mengapa_Orang_Benar_Menderita%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Penulis Surat Teragung Yang Pernah Ditulis</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Penulis_Surat_Teragung_Yang_Pernah_Ditulis</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | The Author of the Greatest Letter Ever Written}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''Roma 1:1'''&amp;lt;br&amp;gt;Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Waktunya Telah Tiba'''&amp;lt;br&amp;gt;Selama hampir 18 tahun berkhotbah di sini di [gereja] Bethlehem saya telah menunggu dan menunggu waktu yang kelihatannya paling tepat untuk mengkhotbahkan keseluruhan surat Paulus kepada jemaat di Roma. Saya telah mempertimbangkannya berulang kali, dan mengurungkan niat itu – ibarat seorang pendaki gunung yang melihat ke arah awan yang mengelilingi puncak Himalaya lalu mengalihkan pandangan ke puncak yang lebih rendah. Rasanya sangat melemahkan semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi di dalam kesabaran dan anugerah dari Allah, beberapa bulan terakhir ini saya merasa sekaranglah waktunya. Kita telah tiba di penghujung milenium. Dan saya telah memasuki paruh kedua dari tiga puluh tahun penggembalaan saya di gereja ini, jika Tuhan menghendakinya. Derap waktu sekarang rasanya lebih cepat pada usia 52 dibandingkan dengan ketika saya memasuki usia 34. Dan injil tentang kemuliaan Kristus, yang merupakan gambar Allah (2 Kor 4:4), kelihatannya bagi saya lebih mulia sekarang daripada sebelumnya. Dan tidak ada eksposisi Injil Allah yang lebih agung daripada surat Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Sejarah Saya Bersama Surat Roma'''&amp;lt;br&amp;gt;Saya mempunyai sejarah pribadi dengan surat Roma yang mungkin akan membangkitkan beberapa dari antara Anda untuk bergabung dengan saya di dalam usaha untuk bertemu dengan Allah dan mengenal Dia dan menikmati Dia dan menaati Dia saat Dia bertemu kita di dalam surat Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pertobatan&amp;lt;br&amp;gt;'''Saya tidak ingat bahwa saya bertobat pada usia 6 tahun di sisi ibu saya di Fort Lauderdale, Florida (sebagaimana diingatkan oleh ayah saya). Saya hanya ingat bahwa saya percaya. Tetapi saya ingat bahwa saya mempelajari arti dari pertobatan saya – dan saya mempelajarinya dari surat Roma: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (3:23); dan “Upah dosa ialah maut” (6:23); dan “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (5:8); dan “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (10:9). Siapa di antara kita, yang telah merasakan kebaikan dan kemuliaan Allah di dalam Injil yang agung ini, yang tidak menganggap surat Roma ini berharga tiada taranya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Panggilan untuk Pelayanan Firman'''&amp;lt;br&amp;gt;Saya memasuki perguruan tinggi dengan pemikiran mungkin saya akan menjadi dokter atau dokter hewan. Lalu di musim panas tahun 1966, antara tahun kedua dan ketiga saya, seluruh arah kehidupan saya berubah, di dalam pemeliharaan Allah yang menyakitkan dan berharga. Dia memanggil saya untuk pelayanan firman. Musim gugur tahun itu saya telah berjanji akan tinggal bersama dengan tiga orang teman di sebuah kamar asrama untuk empat orang. Tetapi di pertengahan tahun saya tahu saya memerlukan lebih banyak waktu seorang diri untuk belajar dan berdoa sebagaimana saya merasa terdorong untuk belajar. Selama satu setengah tahun kemudian saya tinggal seorang diri di sebuah kamar asrama yang lain. Dan saya ingat di sana – saya dapat melihatnya dan hampir menciumnya – saya membaca buku kuning kecil tulisan John Stott tentang Roma 5-8 yang berjudul Manusia Ciptaan Baru. Efeknya terhadap saya adalah pemateraian panggilan untuk menjadi pelayan Firman Tuhan yang setia. Jadi Roma mengukuhkan pertobatan saya, dan Roma mengukuhkan panggilan saya untuk menjadi pelayan firman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pembentukan Teologia'''&amp;lt;br&amp;gt;Lalu dimulailah seminari pada tahun 1968-1971, dengan semua penemuan yang menakjubkan tentang kedaulatan Allah. Dan di bawah Allah, sumber dari mana semua cahaya baru itu memancar adalah surat Roma – pertama-tama sebuah mata kuliah tentang Roma 1-8, kemudian sebuah mata kuliah klimaks tentang Keutuhan Alkitab yang dibangun di atas Roma 9-11. Ini adalah hari-hari pembentukan teologia yang menentukan di dalam hidup saya. Segala pemikiran saya sejak saat itu berakar dari sana. Jadi pertobatan saya, panggilan saya untuk pelayanan firman, dan pembentukan yang menentukan dari visi saya tentang Allah dimateraikan oleh surat Roma. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Panggilan Penggembalaan'''&amp;lt;br&amp;gt;Lalu, setelah tiga tahun belajar di Jerman dan enam tahun mengajar di Bethel, surat Roma kembali menjadi alat Tuhan yang menentukan ketika saya meninggalkan pengajaran untuk menjadi gembala di gereja ini pada tahun 1980. Saya telah mempelajari Roma 9 selama bertahun-tahun untuk memahami lukisan Allah yang luar biasa di pasal itu. Pada musim gugur tahun 1979, saya diberikan tahun sabat dan bertekad untuk menyelesaikan masalah ini sedapat mungkin, dan menulis sebuah buku tentang Roma 9. Ketika saya menenggelamkan diri di Roma 9 hari demi hari, sesuatu yang sama sekali tidak terduga terjadi. Perkataan yang terus menerus saya dengar secara pribadi adalah, “Saya, Allah dari Roma 9, harus diberitakan, dan bukan hanya dianalisis atau dijelaskan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada tanggal 14 Oktober 1979 larut malam setelah Noel tidur, Allah melakukan karya yang menentukan dalam memanggil saya dari mengajar di perguruan tinggi kepada pemberitaan firman di gereja. Ini adalah di tengah-tengah penulisan “Pembenaran Allah: Sebuah Eksposisi Roma 9.” Catatan harian itu berbunyi, “Malam ini saya lebih dekat daripada sebelumnya kepada sungguh-sungguh memutuskan untuk mengundurkan diri dari Bethel dan mengambil tugas penggembalaan…Desakan itu hampir tidak terbendung. Ia mengambil bentuk ini: Saya tercengang oleh kesungguhan Allah dan kuasa firman-Nya untuk menciptakan manusia yang otentik.” Dalam beberapa minggu suatu panggilan datang dari [gereja] Bethlehem yang memulai kejadian yang membawa saya kepada gereja ini dan mimbar ini. Jadi sekali lagi surat Roma yang kelihatannya merupakan engser dari pintu kehidupan saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Menjalankan Pelayanan'''&amp;lt;br&amp;gt;Walaupun saya belum pernah mengkhotbahkan surat Roma sampai habis, kebenaran agung dari Roma 8:28 dan 8:32 yang telah menjalankan pelayanan di sini selama 18 tahun. Saya dapat mengatakan bersama John Stott bahwa saya telah memberitakan ayat-ayat akhir yang penuh kemenangan dari Roma 8 pada sejumlah pemakaman dan “tidak pernah tidak tersentuh olehnya” (Romans: God’s Good News for the World [Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1994], hlm. 10). “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 8:38-39). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian saya mempunyai sejarah pribadi dengan surat ini. Demikian juga halnya dengan banyak orang lain. Saya akan menceritakan kepada Anda sebagian kisah mereka dalam minggu-minggu – dan tahun-tahun – mendatang (misalnya, Agustinus, Martin Luther, John Wesley, Karl Barth dan beberapa dari Anda di jemaat ini). Untuk sekarang cukup hanya dengan mengatakan bahwa Samuel Coleridge, berbicara bagi banyak orang ketika dia mengatakan, “Saya kira bahwa surat kepada jemaat di Roma merupakan karya paling dalam yang pernah ada” (Table Talk [Oxford: Oxford University Press, n.d.], hlm. 232). Dan John Knox (bukan yang dari Skotlandia) mengatakan bahwa surat Roma “tidak diragukan lagi adalah karya teologis paling penting yang pernah ditulis” (The Interpreter’s Bible, Vol. 9 [Nashville: Abingdon Press, 1954], hlm. 355). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana ini terjadi? Bagaimana kisahnya bahwa karya teologis Kristen yang paling penting yang pernah ditulis datang dari seorang Yahudi Farisi yang membenci kekristenan (Kisah 9:1), dan ikut membunuh martir Kristen pertama (Kisah 7:58; 8:1), dan menganiaya gereja mula-mula dengan penuh semangat (1 Tim 1:13)? Bagaimana terjadinya sehingga orang ini menulis sepucuk surat 22 halaman, 7100 perkataan yang “abad demi abad…telah merupakan api dari mana satu demi satu pemimpin Kristen yang agung…menyalakan obornya sendiri demi kebangkitan gereja dan memperkaya kekristenan” (A. M. Hunter, Introducing the New Testament [Gateshead: SCM Press Ltd., 1972], hlm. 94)? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya dimulai dari Roma 1:1, dalam 3 frasa pertama dari surat ini – “Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Lihatlah satu demi satu dan renungkan apa artinya ini bagi orang ini dan bagi suratnya dan Allahnya. Dalam ketiga frasa ini, hal yang paling penting bukan siapa Paulus, tetapi milik siapakah Paulus. Dan ini pada akhirnya akan menjadi apa yang membuat hidup Anda bermakna atau tidak – bukan siapakah Anda, tetapi milik siapakah Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hamba Kristus Yesus'''&amp;lt;br&amp;gt;Pertama-tama, Paulus, penulis surat ini, mengatakan bahwa dia adalah “hamba Kristus Yesus.” Kita segera berhadapan dengan satu pilihan: apakah ini adalah orang gila yang tertipu? Yesus, yang disebut Kristus, telah dibunuh pada kira-kira tahun 30 Masehi oleh seorang wali negeri Romawi yang bernama Pilatus. Ada beberapa saksi sejarah sekuler yang membuktikan fakta ini. Dia sudah mati. Sekarang Paulus mengatakan bahwa orang ini, Yesus Kristus, tidak mati melainkan adalah tuannya, dan bahwa dia adalah hamba orang itu. Apakah ke-16 pasal ini merupakan cercaan orang yang tertipu? Anda harus memutuskan sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kesaksian Paulus sendiri bukanlah bahwa dia tertipu tetapi bahwa dia dibeli dan dimiliki dan dikuasai orang yang sezaman dengan dia, yang mati dan bangkit dari kematian – Yesus Kristus. Saya katakan, “dibeli dan dimiliki,” karena itulah makna seorang hamba. Dalam 1 Kor 7:23, Paulus mengatakan, “Kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia.” Dengan kata lain, orang Kristen adalah hamba Kristus karena dia membeli kita dengan mati bagi kita, dan oleh karena itu dia memiliki kita. “Kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Kor 6:19-20). Paulus adalah hamba Yesus Kristus karena Kristus membeli dia dan memiliki dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini juga berarti bahwa Kristus yang hidup ini menguasai dia. Dalam Galatia 1:10, Paulus berkata, “Adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.” Dengan kata lain, menjadi hamba Yesus Kristus berarti ketaatan mutlak terhadap yang berkenan bagi dia, bukan yang berkenan bagi orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian pemahaman diri Paulus adalah bahwa dia dibeli dan dimiliki dan dikuasai oleh Yesus Kristus – seseorang yang dibunuh sebagai penjahat mungkin 25 tahun sebelum surat ini ditulis, dan yang, selanjutnya dikatakan Paulus di ayat 4, dibangkitkan dari antara orang mati dan mutlak merupakan Anak Allah yang berkuasa. Dengan kata lain, dalam surat yang bersejarah ini kita tidak berhadapan dengan seseorang dan kejeniusannya. Kita berhadapan dengan seseorang dan Pemiliknya dan Penguasanya dan Allahnya. Ini mulai menjelaskan mengapa surat ini bukan surat biasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dipanggil Menjadi Rasul'''&amp;lt;br&amp;gt;Kedua, Paulus mengatakan bahwa dia adalah “[bukan hanya] seorang hamba Yesus Kristus, [tetapi juga] dipanggil menjadi rasul.” Dia bukan hanya dibeli dan dimiliki dan dikuasai; dia juga dipanggil. Signifikansi Paulus bukan terutama karena apa yang dia lakukan, tetapi apa yang dilakukan terhadap dia – dia telah dibeli dan dimiliki; dia telah dipanggil dan dikuduskan. Seseorang yang lain merupakan Aktor Utama di sini, bukan Paulus. Di dalam surat ini kita tidak berurusan hanya dengan pekerjaan seorang manusia, tetapi dengan pekerjaan Allah pada diri seseorang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam pikiran Paulus, menjadi seorang rasul adalah menjadi seseorang yang telah melihat Yesus Kristus bangkit dari kematian sehingga dia dapat memberikan kesaksian langsung, dan yang telah ditugaskan serta diberi kuasa oleh Kristus untuk mewakili dia dan berbicara bagi dia dan memberikan fondasi bagi gerejanya melalui pengajaran yang benar dan berkuasa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus melihat Yesus dalam perjalanan menuju Damsyik. Dan di sana Yesus memanggil dia ke dalam pelayanan kerasulan. Dia mengatakan di 1 Kor 15:7-8, “ Ia [Yesus] menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya.” Di sana Yesus berkata kepada dia, “Aku menampakkan diri kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu nanti” (Kis 26:16). Dengan penugasan ini dia menjadi salah satu pendiri kekristenan, sebagaimana dikatakan di Efesus 2:20, gereja “dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kita bertanya di zaman ini di mana dasar dari para rasul bagi gereja dan kehidupan dan pelayanannya, jawabannya adalah: di dalam tulisan-tulisan yang ditinggalkan mereka. Dan di antara semua tulisan para rasul tidak ada yang menyerupai surat kepada jemaat di Roma ini. Surat ini benar-benar merupakan ringkasan Alkitabiah yang luar biasa tentang injil yang luar biasa, oleh sebab itu merupakan fondasi gereja yang terutama, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Paulus mengatakan bahwa dia “dipanggil sebagai rasul” sehingga gereja – sehingga kita – menerima surat Roma sebagai pesan bukan hanya dari manusia, tetapi dari Kristus. Kehebatan surat Roma bukan karena dia adalah perkataan orang jenius, melainkan karena ia adalah perkataan Allah (lihat 1 Tes 2:13; 1 Kor 2:13). Itulah signifikansi dari panggilan menjadi rasul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dikuduskan Untuk Memberitakan Injil Allah'''&amp;lt;br&amp;gt;Terakhir, Paulus mengatakan bahwa dia bukan hanya “seorang hamba Yesus Kristus, [dan bukan hanya] dipanggil menjadi rasul, [tetapi dia juga] dikuduskan untuk memberitakan injil Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kapan terjadinya – dikuduskan untuk memberitakan injil Allah? Galatia 1:15 mengatakan, “Ia…telah memilih aku sejak kandungan ibuku.” Ini artinya sebelum Paulus dibeli sebagai hamba, dan sebelum dipanggil dalam perjalanan menuju Damsyik, dan sebelum dia lahir, Allah menguduskan dia untuk memberitakan injil Allah. Ini artinya Allah tidak mencari-cari orang untuk mengisi peran kerasulan; dia mempersiapkan Paulus sejak kandungan ibunya untuk melayani injil – yang merupakan sesuatu yang luar biasa kalau kita menyadari jalur dari kandungan ke perjalanan menuju Damsyik, yaitu ketidakpercayaan Paulus dan penganiayaannya terhadap gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya dalam ayat pertama dari surat yang luar biasa ini kita mencicipi sebagian dari keagungan hikmat Allah yang sulit dimengerti, yang dipuji Paulus dalam 11:33-36 (“O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!”). Allah tidak membiarkan apapun untuk terjadi secara kebetulan dalam membangun gerejanya melalui penulisan rasulnya: Dia menguduskan dia sejak sebelum lahir; dia membeli dia dengan kematian AnakNya; dia memanggil dia secara efektif dalam perjalanan menuju Damsyik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Surat Roma adalah tentang Allah'''&amp;lt;br&amp;gt;Dengan demikian ayat 1 mungkin kelihatannya seperti membicarakan tentang penulis surat ini; tetapi di balik setiap perkataan adalah Seseorang yang jauh lebih agung. Allah membeli dia dengan kematian AnakNya, Allah memanggil dia untuk menjadi rasul (Galatia 1:15; 1 Kor 1:1), Allah menguduskan dia sejak sebelum dia dilahirkan. Dan dia melakukan semuanya, “untuk memberitakan injil Allah” – yang akan kita lihat minggu depan. Dengan kata lain, dalam ayat pertama saja kita telah mendengar Roma 11:36, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Leon Morris sungguh benar ketika dia mengatakan, “Allah adalah kata terpenting di dalam surat ini. Surat Roma adalah surat tentang Allah. Tidak ada topik yang dibahas dengan frekuensi sebagaimana membahas tentang Allah. Segala sesuatu yang dibahas Paulus dalam surat ini dia hubungkan dengan Allah. Dalam kepedulian kita untuk memahami apa yang dikatakan rasul ini tentang kebenaran, pembenaran, dan sejenisnya, kita tidak boleh melewatkan pemusatan perhatiannya yang luar biasa tentang Allah. Tidak ada yang menyerupai ini di tempat lain” (The Epistle to the Romans [Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1988], hlm. 40). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tidak ada. Itu sebabnya surat ini mempunyai efek yang dimilikinya. Ia berasal dari Allah dan oleh Allah dan bagi Allah. Allah memilih penulisnya sebelum dia dilahirkan. Allah membeli kemerdekaannya dengan kematian AnakNya. Allah memanggil dia menjadi rasul. Kemudian Allah memberikan dia sebuah injil – injil tentang Allah sendiri. Dengan demikian Allah berada di dasar dan Allah berada di puncak dan Allah berada di tengah-tengah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berhubung kita sebagai gereja telah mengabdikan diri untuk menyebarkan semangat bagi supremasi Allah dalam segala sesuatu untuk sukacita semua bangsa, saya percaya ini adalah saatnya untuk bertemu Allah di dalam surat Roma. Saya percaya Allah telah memilih kita, memanggil kita, dan menguduskan kita untuk hal ini. Mari kita doakan agar firmanNya akan berlari sampai menang dalam keselamatan banyak orang dan dalam membangun gerejanya bagi kemuliaan namanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:37:28 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Penulis_Surat_Teragung_Yang_Pernah_Ditulis</comments>		</item>
		<item>
			<title>Berbicara kepada Orang-Orang Daripada Bergosip Tentang Mereka</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Berbicara_kepada_Orang-Orang_Daripada_Bergosip_Tentang_Mereka</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Talking to People Rather than About Them}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Apa yang saya tinggalkan saat khotbah tanggal 6 Agustus'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada khotbah pertama saya setelah pergi selama lima bulan, saya meninggalkan sesuatu. Hal itu ada dalam catatan saya, namun sepertinya tidak sesuai dengan topik utama khotbah saya. Jadi saya melewatkannya. Namum saya sungguh ingin mengatakannya. Jadi inilah dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda dapat mengingat-ingat dalam Lukas 18:9, Lukas memulai perumpamaan tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai sebagai berikut: &amp;quot;''Yesus juga mengatakan perumpamaan ini kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain.''&amp;quot; Pada awalnya hal tersebut kelihatan remeh, tapi perhatikanlah bahwa Yesus mengatakan perumpamaan ini ''KEPADA'' beberapa orang yang menganggap dirinya benar. Ia tidak mengatakan perumpamaan ini ''TENTANG'' mereka. Yesus memandang orang Farisi dan mengatakan kepada mereka sebuah perumpamaan yang mengimplikasikan bahwa mereka menganggap diri sendiri benar. Ia tidak berbicara ''tentang'' mereka namun kepada mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun sepertinya remeh, hal ini mengandung pelajaran penting yang besar artinya bagi kepulihan gereja kita. Marilah kita melakukan hal ini. Marilah berhenti bergosip ''kepada yang lain'' tentang kesalahan orang. Marilah berbicara ''kepada mereka'' tentang kesalahan-kesalahan mereka. Betapa mudah - dan jauh lebih lezat buat lidah dari jiwa kita yang penuh dosa - untuk bergosip tentang orang-orang. Namun sangatlah sulit - dan bahkan terasa getir - untuk berbicara kepada mereka. Saat anda berbicara ''mengenai'' ''mereka'', mereka tidak dapat mengoreksi ucapan anda atau membalikkan percakapan dan menjadikan anda inti pembicaraan. Namun jika anda berbicara kepada mereka tentang suatu masalah, hal tersebut dapat menjadi sangat menyakitkan. Sehingga rasanya lebih aman untuk bergosip tentang orang-orang daripada berbicara kepada mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Yesus tidak memanggil kita untuk membuat pilihan-pilihan yang aman. Ia memanggil kita untuk membuat pilihan-pilihan yang penuh kasih. Dalam jangka pendek, kasih seringkali lebih menyakitkan daripada menghindari konflik untuk melindungi diri sendiri. Namun dalam jangka panjang, hati nurani kita menyalahkan kita untuk mengambil jalan mudah ini dan kita hanya melakukan sedikit kebaikan untuk orang lain. Jadi dalam hal ini marilah menjadi seperti Yesus untuk tidak bergosip tentang orang-orang, namun berbicara kepada mereka, baik dalam kata-kata pemberi semangat, karena bukti-bukti anugerah yang kita lihat dalam hidup mereka, dan dengan kata-kata peringatan atau teguran atau koreksi atau bahkan dampratan. Paulus mendorong kita untuk menggunakan kata-kata dengan jangkauan lengkap untuk maksud dengan jangkauan yang lengkap pula: &amp;quot;Tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang&amp;quot; (1 Tesalonika 5:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak bermaksud anda tidak dapat mengkritik Presiden Bush tanpa meneleponnya terlebih dahulu. Dan saya tidak bermaksud anda tidak dapat mendiskusikan khotbah saya, baik secara negatif maupun positif, tanpa menghubungi saya terlebih dulu. Orang terkenal menempatkan diri mereka pada posisi terbuka dan memahami bahwa setiap orang akan mempunyai pendapat tentang apa yang mereka katakan. Hal itu tidak apa-apa. Maksud saya adalah jika anda mengenal seorang saudara laki-laki atau perempuan berada dalam cengkeraman sikap atau tingkah laku yang penuh dosa, keluarkan balok dari mata anda, pergi kepada mereka dan cobalah untuk membantu mereka dengan nasihat rendah hati yang berdasar pada injil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin ceritakan pada mereka suatu perumpamaan. Itulah yang dilakukan Yesus dalam Lukas 18:9-14. Dan itulah yang dilakukan Natan bagi Daud, setelah dosanya dengan Batsyeba dan terhadap Uria (2 Samuel 12:1-14). Namun anda tidak harus menjadi begitu kreatif. Peduli terhadap orang yang anda hadapi lebih penting daripada sekedar kreatifitas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerinduan saya bagi gereja kita adalah agar kita terbebas dari gosip. Marilah berterus terang dan jujur dan berani dan rendah diri. Yesus begitu blak-blakan pada saat-saat tertentu. Kasih kadang kala seperti itu. Ia dapat dengan mudah dituduh tidak berperasaan atau tidak mengasihi. Namun kita tahu Ia adalah orang yang paling penuh kasih yang pernah hidup. Jadi marilah kita mengikutinya dalam hal ini. Ia mati untuk kita sehingga semua balok dan selumbar di mata kita dapat diampuni. Hal tersebut haruslah memberikan kepada kita keberanian dan kepedulian terhadap sesama. Khususnya saat kita menyadari bahwa kesalahan saudara kita laki-laki dan perempuan juga telah diampuni oleh Yesus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sungguh suatu patokan mengagumkan yang kita miliki dalam membina hubungan. Suatu komunitas orang-orang yang pemaaf, benar, penuh roh kudus yang senang untuk bertumbuh dalam anugerah. Terima kasih telah dengan penuh kasih percaya dan mengikuti Yesus dengan cara saling berbicara satu terhadap yang lain daripada saling menggosipkan satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Senang telah kembali, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:37:17 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Berbicara_kepada_Orang-Orang_Daripada_Bergosip_Tentang_Mereka</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bersuka cita dengan kegentaran</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bersuka_cita_dengan_kegentaran</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Rejoice with Trembling}}''Perenungan&amp;amp;nbsp;: Mazmur 2:11-12'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''“Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut &amp;lt;br&amp;gt;Dan ciumlah kakiNya dengan gemetar,&amp;lt;br&amp;gt;Supaya Ia jangan murka dan kamu binasa dijalan,&amp;lt;br&amp;gt;Sebab mudah sekali murkaNya menyala.&amp;lt;br&amp;gt;Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya”'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''“Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut…..''''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perintah ini bukan berarti membatalkan Mazmur 100:2&amp;amp;nbsp;: “Beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita.” Beribadah kepada Tuhan dengan takut dan beribadah kepada Tuhan dengan sukacita bukan merupakan hal yang bertentangan. Frase berikut akan membuatnya lebih jelas(“bersukacita cita dengan kegentaran”). Ada kegentaran/rasa takut yang sesungguhnya dan ada pula sukacita yang sesungguhnya. Ada alasan mengapa ketakutan sesungguhnya itu ada. Ketakutan ada karena adanya bahaya yang sesungguhnya. Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan (Ibrani 12:29). Ya, orang yang terpilih akan selamat dalam Kristus. Tetapi ujilah dirimu, kata Rasul Paulus.”ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak didalam iman. Selidikilah dirimu!Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada didalam diri kamu? Sebab jika tidak, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5). “Sebab itu siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, behati-hatilah supaya ia jangan jatuh (1 Korintus 10:12). Bermegah didalam Kristus bukan berarti tidak hati-hati. Rasa aman yang kita miliki berakar pada pemeliharaan Tuhan dari hari ke hari, bukannya pada keputusan-keputusan yang kita ambil masa lampau. “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan dihadapan kemuliaanNya.” (Yudas 1:24). Sebagian cara yang Dia gunakan untuk menjaga kita adalah dengan cara membangkitkan kewaspadaan untuk berserah tiap hari kepada Kristus dan bukan pada diri sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''“….dan bersukacita dengan gemetar.''''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada 2 alasan mengapa kegentaran tidak merenggut kita dari sukacita yang kita alami. Pertama, kegentaran itulah yang mendorong kita lebih dekat ke Kristus dimana keselamatan itu ada. Kedua, bahkan pada saat kita ikut merasakan kegentaran itulah Kristus memberikan bagian yang disebut pengharapan. Tetapi Dia meninggalkan bagian yang lainnya-yaitu bagian yang ingin kita rasakan selamanya. Ada terdapat keindahan atau pesona atau kegentaran di hadirat yang agung yang ingin kita rasakan selama kita yakin hal-hal itu tidak menghancurkan kita. Kegentaran dan sukacita itu tidak saling menghancurkan&amp;amp;nbsp;; tetapi kegentaran itu adalah bagian dari sukacita itu sendiri. Orang akan pergi menonton film horror karena mereka tahu bahwa monsternya tidak akan bisa masuk ke gedung bioskop (hanya ada di layar). Mereka bersedia ketakutan selama mereka aman. Untuk alasan-alasan tertentu, keadaan seperti itu kadang terasa enak juga. Hal ini merupakan tiruan kebenaran (echo) yang mereka buat untuk Tuhan. Jelas-jelas ada hal yang sungguh memuaskan saat kita merasa “takut”, yaitu pada saat takut tetapi saat kita tidak bisa disakiti. Hal yang terbaik ialah saat kegentaran berasal dari agungnya kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''Dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, supaya Ia jangan murka dan kamu binasa dijalan….''''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan adalah Allah yang cemburu. “ Sebab janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena Tuhan yang namaNya Cemburuan adalah Allah yang cemburu. (Keluaran 34:14). Murkanya menyala apabila cinta yang seharusnya ditujukan kepadaNya diberikan kepada orang lain. Tentu saja hal ini serupa dengan ‘ciuman Yudas’. Maksudnya bukan ini yang dimaksud. Ciuman disini merupakan bentuk suatu kekaguman dan kepasrahan- mungkin ciuman pada kaki ketika kita tersungkur dihadapanNya. Tidak ada yang namanya main-main dengan Tuhan. Apabila kita lebih mencitai yang lain, kita akan binasa. Dia akan menjadi harta kekayaan kita yang utama, atau Dia akan menjadi musuh kita. Tempat paling aman di dunia ini adalah pada kaki Tuhan dan JuruSelamat kita, Yesus Kristus. Apabila kita memilih mundur atau berbalik daripadaNya untuk hal yang lain, MurkaNya akan tertumpah pada kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''….karena mudah sekali murkaNya menyala.''''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mungkin kata mudah/cepat kurang tepat dipakai disini. Kata tersebut bisa berarti berkesan mendadak. Secara berulang-ulang dalam Alkitab Tuhan dikatakan sebagai yang “murah dan penuh rahmat, ''tidak cepat marah'', sangat besar kuasanya, kasihNya dan kesetiaanNya tak terhenti. (Keluaran 34:6). Bukan “cepat marah” tetapi “ tidak mudah marah”. Maka dari itu saya langsung terpikir Mazmur 2:12 yang berarti “KemarahanNya bisa meledak dengan tiba-tiba.” Dengan kata lain jangan berkata sembrono denganNya pada saat Dia sedang sabar karena mungkin kesabaranNya akan habis dan sebaliknya kemarahanNya bisa tertumpah kepada anda. Pada saat anda lebih mencintai ciptaanNya dibanding Dia, anda akan segera menemukan taring ular di bibir anda. Dengan demikian, jangan meremehkan kesabaran Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''''Berbahagialah semua orang yang berlindung kepadaNya''''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya tempat yang aman dari Murka Tuhan adalah berada di dalam Tuhan. Dimanapun tempat diluar kasihNya adalah tempat yang berbahaya. Apabila anda melihatnya sebagai sesuatu yang menakutkan dan berusaha untuk lari dan sembunyi, anda tidak akan pernah menemukan tempat sembunyi . Tidak akan ada tempat sembunyi. Diluar kasih Tuhan hanyalah murkaNya. Tetapi ada sebuah tempat pengungsian dari murka Allah, tempat itulah yang bernama Allah. Tempat paling aman dari murka Allah-satu-satunya tempat yang aman- adalah Allah sendiri. Datanglah padaNya. Mengungsilah padaNya. Sembunyilah pada bayangan sayapNya. Disinilah kita hidup dan beribadah dan melayaniNya dengan sukacita dan gentar. Memang menggentarkan dan sekaligus sungguh indah. Seperti mata angin topan- meneror kemana-mana, dan akhirnya indah dan tenang. Disinilah arti persekutuan yang indah. Disinilah terdapat ketenangan dan hubungan yang penuh kasih. Disinilah kita berbicara padaNya seperti teman. Disinilah Dia mengenali kebutuhan kita yang terdalam. Saya mengundang anda untuk datang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selamat dalam Tuhan dengan anda,&amp;lt;br&amp;gt;Pendeta John.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:37:06 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bersuka_cita_dengan_kegentaran</comments>		</item>
		<item>
			<title>Pencarian Sukacita</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pencarian_Sukacita</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Quest for Joy}}{{InProcess|user=|date=}}&amp;amp;nbsp; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Enam kebenaran Alkitabiah'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''&amp;lt;br&amp;gt;'''''Apakah Anda mengetahui bahwa Allah memerintahkan kita untuk bergembira?''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;br&amp;gt;'''''“Bergembiralah karena Tuhan; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.”'' (Mazmur 37:4) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1) Allah menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;br&amp;gt;'''“''Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi…yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku” ''(Yesaya 43:6-7) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Allah menciptakan kita untuk memperbesar kebesaran-Nya- seperti cara sebuah teleskop memperbesar (citra) bintang-bintang. Ia menciptakan kita untuk menampilkan kebaikan dan kebenaran dan keindahan dan hikmat dan keadilan-Nya. Tampilan kemuliaan Allah yang terbesar datang dari kegembiraan mendalam karena siapa Dia secara menyeluruh. Ini berarti bahwa Allah mendapatkan pujiannya dan kita mendapatkan kesenangannya. Allah menciptakan kita sehingga Ia paling dimuliakan dalam diri kita ketika kita merasa paling puas di dalam Dia.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2) Setiap manusia harus hidup untuk kemuliaan Allah.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;br&amp;gt;'''''“Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”'' (1 Korintus 10:31) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Bila Allah menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya, jelaslah bahwa kita harus hidup untuk kemuliaan-Nya. Tugas kita ada karena rancangan-Nya. Jadi kewajiban kita yang pertama ialah menunjukkan nilai Allah dengan merasa puas dengan seluruh keberadaan-Nya untuk kita. Inilah intisari dari mengasihi Allah (Matius 22:37) dan mempercayai Dia (1 Yohanes 5:3-4) dan bersyukur kepada Dia (Mazmur 100:2-4). Hal tersebut merupakan akar dari semua ketaatan yang sejati, terutama mengasihi sesama (Kolose 1:4-5).&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3) Kita semua telah gagal untuk memuliakan Allah sebagaimana mestinya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;br&amp;gt;'''“''Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”'' (Roma 3:23)&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah artinya “kehilangan kemuliaan Allah”? Artinya ialah bahwa tidak seorang pun dari kita telah mempercayai dan menghargai Allah sebagaimana yang seharusnya. Kita tidak puas dengan kebesaran-Nya dan tidak berjalan dalam cara-cara Allah. Kita telah mencari kepuasan kita dalam hal-hal lain, dan memperlakukan hal-hal tersebut seakan-akan lebih berharga daripada Allah, yang merupakan inti dari penyembahan berhala (Roma 1:21-23). Sejak dosa masuk ke dalam dunia kita semua telah menolak mentah-mentah untuk memiliki Allah sebagai harta yang paling memuaskan kita (Efesus 2:3). Hal ini merupakan pemberontakan yang mengerikan terhadap kebesaran Allah (Yeremia 2:12-13)&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4) Kita semua akan menghadapi penghakiman Allah yang adil''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;br&amp;gt;'''''“Upah dosa ialah maut…”'' (Roma 6:23) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Kita semua telah menganggap ringan kemuliaan Allah. Bagaimana caranya? Dengan lebih memilih hal-hal lain di atas Dia. Jadi Allah bersikap adil dengan memisahkan kita dari kenikmatan kemuliaan-Nya selama-lamanya. ”Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selam-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatan-Nya” (2 Tesalonika 1:9)&amp;lt;br&amp;gt;Kata “neraka” dipergunakan dalam Perjanjian Baru sebanyak dua belas kali- sebelas kali oleh Yesus sendiri. Neraka bukanlah mitos yang diciptakan oleh para pengkhotbah yang muram dan marah. Neraka merupakan peringatan serius dari Anak Allah yang mati untuk menebus orang-orang berdosa dari kutuknya. Kita mengabaikannya dengan risiko besar. &amp;lt;br&amp;gt;Bila Alkitab berhenti di sini dalam analisisnya mengenai keadaan manusia, kita pastilah dihukum dengan masa depan tanpa harapan. Namun, Alkitab tidak berhenti di sini…&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5) Allah mengutus anak-Nya yang tunggal Yesus untuk memberikan hidup kekal dan sukacita''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;br&amp;gt;'''''“Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ”Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa...” ''(1 Timotius 1:15) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Berita baiknya ialah bahwa Kristus mati untuk orang-orang berdosa seperti kita. Dan Ia bangkit secara fisik dari antara orang mati untuk meneguhkan kuasa penyelamatan dari kematian-Nya dan untuk membuka pintu-pintu kehidupan kekal dan sukacita (1 Korintus 15:20). Hal ini berarti bahwa Allah dapat membebaskan orang-orang berdosa yang bersalah dan tetap bersikap adil (Roma 3:25-26). “Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah” (1 Petrus 3:18). Pulang kepada Allah merupakan tempat di mana semua kepuasan mendalam dan abadi dapat ditemukan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;'''6) Kebaikan-kebaikan yang telah dibeli oleh kematian Kristus merupakan milik dari mereka yang bertobat dan percaya kepada-Nya &amp;lt;br&amp;gt;'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''“Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan” ''(Kisah Para Rasul 3:19). ''”Percayalah kepada Tuhan Yesus dan engkau akan selamat”'' (Kisah Para Rasul 16:31) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;“Bertobat” artinya berpaling dari semua janji-janji dosa yang menipu. ”Iman” artinya puas dengan semua yang Tuhan janjikan untuk kita dalam Yesus. “Barang siapa percaya kepada-Ku,” Yesus berkata, “ ia tidak akan haus lagi” (Yohanes 6:35) Kita tidak bekerja untuk memperoleh keselamatan kita. Kita tidak dapat menganggap keselamatan sebagai suatu kebaikan yang kita kerjakan (Roma 4:4-5). Oleh kasih karunia karena imanlah kita selamat. Keselamatan adalah pemberian cuma-cuma (Roma 3:24). Kita akan memilikinya bila kita menghargainya melebihi apa pun juga (Matius 13:44). Ketika kita melakukan hal itu, sasaran Allah dalam penciptaan telah tercapai. Ia dimuliakan di dalam kita dan kita puas di dalam Dia-selamanya.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Apakah ini masuk akal bagi Anda?''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''&amp;lt;br&amp;gt;'''Apakah Anda menginginkan bentuk kegembiraan yang datang dari kepuasan atas segala keberadaan Allah bagi Anda di dalam Yesus? Bila ya, berarti Allah sedang bekerja dalam hidup Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;'''Apa yang harus Anda lakukan?&amp;lt;br&amp;gt;'''Berpalinglah dari janji-janji dosa yang menipu. Berserulah kepada Yesus untuk menyelamatkan Anda dari kesalahan dan penghukuman dan perhambaan. ”Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Roma 10:13). Mulailah menaruh pengharapan Anda pada seluruh keberadaan Allah bagi Anda dalam Yesus. Patahkan kuasa janji-janji dosa dengan iman dalam kepuasan paling tinggi dari janji-janji Allah. Mulailah membaca Alkitab untuk menemukan janji-janji-Nya yang berharga dan sangat besar, yang dapat membebaskan Anda (1 Petrus 1:3-4). Carilah gereja yang percaya pada Alkitab dan mulailah berbakti dan bertumbuh bersama dengan orang lain yang menghargai Kristus lebih dari apa pun juga (Filipi 3:7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Berita terbaik di dunia ialah bahwa tidak ada konflik yang perlu terjadi&amp;amp;nbsp;di antara kebahagiaan kita dan kekudusan Allah. Merasa puas dengan seluruh keberadaan Allah bagi kita dalam Yesus melipatgandakan Dia sebagai Harta yang terbesar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;''&amp;quot;Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”'' (Mazmur 16:11).&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:36:57 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Pencarian_Sukacita</comments>		</item>
		<item>
			<title>Ajaran Tentang Kemakmuran: Mengelabui dan Mematikan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Ajaran_Tentang_Kemakmuran:_Mengelabui_dan_Mematikan</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Prosperity Preaching: Deceitful and Deadly}}__NOTOC__Ketika saya membaca tentang gereja yang mengajarkan tentang kemakmuran, respon saya adalah: Seandainya saya bukan orang Kristen, saya tidak akan ingin masuk Kristen. Dengan kata lain, seandainya ini adalah pesan Yesus, mohon maaf saya tidak mau. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memikat orang untuk mengikut Kristus supaya kaya adalah bohong dan mematikan. Ini adalah bohong karena pada waktu Yesus sendiri memanggil kita, Ia mengatakan hal-hal seperti: “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu” (Lukas 14:33). Dan ini mematikan karena hasrat untuk menjadi kaya menjerumuskan “orang ke dalam keruntuhan dan kebinasaan” (1 Timotius 6:9). Jadi inilah permohonanku kepada para pemberita injil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 1. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat manusia lebih sulit lagi untuk masuk surga.  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berkata, “Betapa sulitnya bagi orang kaya untuk masuk ke dalam kerajaan Allah!” Murid-muridnya tercengang, sebagaimana banyak orang dalam gerakan “kemakmuran” seharusnya bereaksi. Yesus kemudian meneruskan yang membuat mereka bahkan lebih heran lagi dengan berkata, “lebih mudah seekor unta masuk ke lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam kerajaan Allah.” Mereka merespon dalam ketidak-percayaan: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah” (Markus 10:23-27). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan saya bagi para pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: Mengapa anda ingin mengembangkan fokus gereja yang membuat sulit bagi manusia untuk masuk surga? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 2. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengobarkan keinginan manusia untuk bunuh diri.  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus berkata, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar, sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Tetapi kemudian ia memperingatkan akan keinginan untuk menjadi kaya. Dan secara implisit, ia memperingatkan para pendeta yang menimbulkan keinginan untuk menjadi kaya ketimbang menolong manusia untuk menjauhkan diri darinya. Ia memperingatkan, “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat, dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:6-10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi pertanyaan saya kepada pendeta yang mengajarkan tentang kemakmuran adalah: mengapa anda mau mengembangkan gereja yang mendorong manusia untuk menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka dan menenggelamkan dirinya ke dalam keruntuhan dan kebinasaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 3. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mendorong kerentanan terhadap ngengat dan karat.  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memberi peringatan terhadap upaya untuk mengumpulkan harta di dunia. Yaitu, ia menyuruh kita untuk menjadi pemberi, bukan penyimpan. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya, tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga, di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (Matius 6:19). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang, kita semua menyimpan sesuatu. Namun karena adanya kecenderungan untuk serakah dalam diri kita semua, mengapa kita menanggalkan fokus dari Yesus dan memutar-balikkannya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 4. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang menjadikan kerja keras sebagai jalan untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah.  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus berkata kita tidak boleh mencuri. Pilihannya adalah kerja keras dengan tangan kita sendiri. Tetapi tujuan utamanya bukan semata-mata untuk menimbun atau bahkan untuk memiliki. Tujuannya adalah “memiliki untuk memberi.” “tetapi baiklah ia bekerja keras, dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan” (Efesus 4:28). Ini bukanlah suatu pembenaran untuk menjadi kaya supaya dapat memberi lebih banyak lagi. Tidak ada alasan mengapa seseorang yang berpenghasilan $ 200.000 harus hidup secara berbeda daripada cara hidup orang yang berpenghasilan $ 80.000. Carilah pola hidup seperti dalam masa perang; ketatkan pengeluaran anda; dan bagikanlah sisanya kepada orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa anda harus mendorong orang untuk berpikir bahwa mereka harus memiliki kekayaan supaya bisa menjadi pemberi yang boros? Mengapa tidak mendorong mereka untuk hidup lebih sederhana dan menjadi pemberi yang lebih boros lagi? Bukankah itu akan menambah kemurahan mereka menjadi suatu kesaksian yang baik bahwa Kristuslah harta mereka, bukan benda yang mereka miliki? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 5. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan berkurangnya iman terhadap janji-janji Tuhan kepada kita yang tidak dapat dibeli dengan uang.  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan penulis kepada bangsa Ibrani mengajarkan kepada kita untuk merasa cukup dengan apa yang ada pada kita adalah karena jika tidak maka iman kita terhadap janji Tuhan akan berkurang. Ia berkata, “Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata, “Tuhan adalah Penolongku, aku tidak akan takut, apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Ibrani 13:5-6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bila Alkitab mengajarkan kepada kita untuk merasa puas dengan apa yang ada pada kita meyakini akan janji-janji Tuhan yang tidak akan pernah meninggalkan kita, mengapa kita mau mengajarkan kepada manusia untuk ingin menjadi kaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 6. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang mengakibatkan umat anda merasa terhimpit.  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus mengingatkan bahwa firman Tuhan, yang ditujukan untuk memberi kita kehidupan, dapat kehilangan efektifitasnya oleh kekayaan. FirmanNya berkata bahwa ini bagaikan benih yang tumbuh di antara semak duri yang menghimpitnya sampai mati: “Orang yang telah mendengarkan firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimput dengan ….kekayaan…hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang” (Lukas 8:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mangapa kita mau mendorong manusia untuk mengejar sesuatu yang Yesus katakan akan menghimpit kita? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== 7. Jangan mengembangkan filsafat gereja yang membuat garam menjadi tawar dan meletakkan lampu di bawah gantang.  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal apakah yang membuat orang Kristen menjadi garam dunia dan terang dunia? Bukanlah kekayaan. Hasrat akan kekayaan dan pengejaran akan kekayaan terasa dan kelihatan seperti dunia. Ini tidak memberi dunia sesuatu yang berbeda daripada apa yang telah diyakininya. Tragedi besar dari pengajaran tentang kemakmuran adalah bahwa seseorang tidak perlu dibangkitkan secara spiritual untuk memeluknya; cukuplah dengan serakah. Menjadi kaya dalam nama Yesus bukanlah garam dunia atau terang dunia. Dalam hal demikian, dunia hanya melihat suatu refleksi tentang dirinya sendiri. Dan kalau berhasil, orang akan mau. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konteks dari perkataan Yesus menunjukkan kepada kita apa yang dimaksud dengan garam dan terang. Ini adalah kemauan secara sukacita untuk berkorban bagi Kristus. Beginilah sabda Yesus, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu. Kamu adalah garam dunia….Kamu adalah terang dunia” (Matius 5:11-14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang akan membuat dunia merasakan (garam) dan melihat (terang) Kristus dalam diri kita bukanlah bahwa kita mencintai kekayaan sama seperti mereka. Akan tetapi suatu kemauan dan kemampuan orang-orang Kristen untuk mengasihi sesama dalam penderitaan, sambil bersukacita karena upahnya adalah di surga bersama Yesus. Hal ini tidak dapat dimengerti oleh manusia. Ini adalah hal supernatural. Namun menarik manusia dengan janji-janji kemakmuran itu adalah hal yang natural. Ini bukanlah pesan Yesus, Ini bukan tujuan dari kematianNya.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:36:48 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Ajaran_Tentang_Kemakmuran:_Mengelabui_dan_Mematikan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Mengkhotbahkan Anugerah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Mengkhotbahkan_Anugerah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Preaching Grace}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi itu cerah dan indah. Saya dan istri saya sedang duduk di serambi muka, menikmati waktu tanpa gangguan yang sangat jarang terjadi, ketika sebuah mobil sedan masuk ke jalan setapak rumah kami dan berhenti beberapa meter dari kami. Supir yang berdandan rapi keluar, sementara seorang wanita muda tetap tinggal di dalam mobil. Saya bisa melihatnya dengan segera. Saya menengok kepada istri saya Nancy dan berbisik: “Saksi Yehovah. Saya akan mengatasinya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu datang kepada saya dan berkata,”Selamat pagi.” Sebelum ia mengucapkan sepatah kata, saya sudah menyerang, “Ya, dan dunia ini semakin buruk dan buruk, bukan?” “Oh, ya..” ia membalas,”tapi….” Sebelum ia bisa berkata apapun, saya menerjang masuk seperti Jet Li di film “Fearless.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Masalahnya,“ kata saya, “Adalah bukan bagaimana saya akan mengatasi masalah dunia ini. Saya tahu kita berdua yakin kita memiliki jawabannya. Pertanyaan saya kepada anda adalah: ke mana jawaban anda menuntun anda.” Ia membuka mulutnya untuk menjawab, hanya saja Jet Li lebih cepat. Saya membuat ia diam sekali lagi, berganti subjek dan bertanya, “Bisakah kamu katakan bahwa kamu ‘lahir baru’?” “Tidak, tetapi…., “ ia dengan lemah tergagap. Saya memotong,” Tidak ada tetapi, teman. Alkitab bertentangan dengan apa yang kelompok kamu ajarkan. “Kamu HARUS lahir baru kembali!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bisa merasakan pria itu menciut menghadapi serangan saya yang bertubi-tubi. Saya tidak bisa berhenti. Saya seperti masuk untuk membunuh, saya ingat adegan di mana Jet Li membasmi lawan dengan sebuah rentetan tendangan memutar yang memusingkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Yesus, teman saya, adalah ALLAH!” Saya berteriak tepat di mukanya. Saya bahkan tidak membutuhkan Alkitab untuk hal ini, karena saya dengan berani dan cepat menyebutkan ayat demi ayat. “Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan FIRMAN itu adalah Allah.” Yoh 1:1. Perhatikan itu bukan ‘sesuatu allah’ sebagaimana terjemahan baru alkitabmu usulkan. Saya melihat ke dalam mobil dan berkata kepada wanita muda itu bahwa ia seharusnya memberitahu temannya untuk menggunakan terjemahan yang benar.  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya belum selesai, bahkan jauh lebih lagi. Saya mulai melangkah kembali. Pendengar saya yang satu dan mobil yang parkir seakan menatap saya dengan aneh. Sebagaimana pria ini berusaha untuk memotong, saya melanjutkan lagi: “Ia adalah Allah di atas segala sesuatu.” Roma 9:5. Kalau hal itu tidak menjawab saudara bagaimana dengan Kolose 2:9? Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Saya kemudian mengulang lagi dengan penekanan, “Kepenuhan ke-Allahan!”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pria itu nampaknya sangat terganggu pada titik ini. Tetapi kemudian datang lagi tendangan putaran saya, “Satu hal yang terakhir”, kata saya,”dan kemudian anda bisa mengatakan apa saja yang ingin anda katakan. Di dalam Wahyu 1:17-18 tertulis, ‘Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, aku hidup sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerjaan maut.’ Siapa yang kamu bisa katakan tentang hal ini?” “Tidak perlu menjawab,” saya menjawab pertanyaan saya sendiri. “Kita berdua tahu itu adalah Yesus. Mati dan hidup. Awal dan Akhir. Menarik bukan? Siapa yang dikatakan oleh Perjanjian Lama tentang, “Yang Awal dan Yang Akhir?” Sampai saat ini saya perhatikan bahwa ia tidak lagi mencoba untuk menyela. Ia hanya berkata, “ Bagaimana kalau kamu jelaskan saja pada saya?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertambah semangat dengan kesempatan yang diberikan, saya melihat ke kaca jendela mobil, dan hampir tidak mempercayai ekspresi yang tercermin di wajah wanita itu dan berkata padanya bahwa lain kali ia harus meminta seseorang yang memahami Alkitab untuk menemaninya. Kemudian saya membalikkan badan dan berkata kepada pria itu, “Yesaya 44:6 itu berkata, “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: “Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.” Saya kagum dengan diri saya sendiri, dan semua itu hanya berlangsung kurang dari sepuluh menit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya kemudian melihat kepada pria itu dan berkata, “Saya sudah selesai. Apa yang ingin anda katakan?” Ia memandang saya kembali dan berkata,”Baik, saya bisa katakan pada anda. Saya berjanji saya tidak akan menjadi anggota Saksi Yehovah, tetapi tahukah anda di mana Monaghan tinggal?” Bagaimanapun juga (saya tidak yakin bagaimana, tetapi bagaimanapun), ketika saya menyadari bahwa ia hanya berhenti untuk menanyakan arah, saya akhirnya memberi ia petunjuk ke rumah tetangga saya. Saya juga setidaknya berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melambai ketika mereka pergi meninggalkan pekarangan kami. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang baik dari hal ini ada 2 sisi. Pertama, saya sudah memberitakan beberapa ayat alkitab dan saya setidaknya bisa menenangkan diri saya, mengetahui bahwa “Firman Allah tidak akan kembali kepada Allah tanpa mencapai tujuan yang Allah maksudkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kedua, hal ini membuat saya berpikir. Saya bertanya-tanya: “Bukankah sangat mungkin begitu pula saya bersikap ketika saya berkhotbah?” Saya menyadari betapa mudahnya bagi saya untuk menghadapi orang-orang yang ‘terhilang’ dengan sikap yang sombong, dengan cara yang dominan yang malah akan membuat mereka lebih terhilang, sementara, pada saat yang bersamaan, saya berpikir betapa hebatnya saya. Saya menyadari bahwa jika Kabar Baik saya begitu pula sikap saya tidak dipenuhi dengan anugerah dan kasih, saya bukanlah seorang pengkhotbah yang mahir atau orang Kristen yang berbicara dengan baik, melainkan hanya “gong yang berkumandang dan canang yang bergemerincing.” (I Kor 13:1). Orang lain membutuhkan lebih dan lebih lagi dari Yesus yang murah hati yang mengundang mereka kepada diriNya (“Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Mat 11: 28). Mereka perlu melihat dan mendengar Yesus yang “penuh dengan kasih karunia dan kebenaran.” (Yoh 1:14). Hidup mereka sudah cukup dikikis habis. Mereka tidak perlu hal itu lagi dari mimbar. Mereka membutuhkan Yesus, bukan Jet Li.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:36:38 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Mengkhotbahkan_Anugerah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kerinduan akan Kemahakuasaan Tuhan, Bagian 2</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kerinduan_akan_Kemahakuasaan_Tuhan,_Bagian_2</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Passion for the Supremacy of God, Part 2}}''Kerinduan 97'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Mengulang Kerinduan akan Kemahakuasaan Tuhan, Bagian 1 ''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Tuhan adalah Tuhan yang berpusat pada diriNya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarin, dalam sebuah keinginan untuk menyentuh gunung es dengan Obor(baca Bagian 1) dan menyebarkan sebuah kerinduan akan kemahakuasaan Tuhan dalam segala hal untuk sukacita bagi semua orang, saya mencoba membuat sebuah pernyataan bahwa Tuhan melakukan segala sesuatu yang Dia lakukan untuk kemuliaan namaNya. Hati yang paling penuh dengan kerinduan akan Tuhan di dunia ini adalah hati Tuhan sendiri. Itu adalah poin utamanya. Kerinduan 97, seperti yang saya ketahui, adalah tentang kerinduan Tuhan untuk menyatakan diriNya. Segala sesuatu yang Dia lakukan, dari penciptaan sampai pemenuhan janji akan kedatangan Yesus yang kedua kalinya, Dia melakukan semuanya itu dengan sebuah visi untuk menunjukkan dan meninggikan kemuliaan namaNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pemusatan Tuhan terhadap diriNya bukan hal yang tidak menunjukkan kasih''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Poin kedua dari bahasan kemarin adalah bahwa kalau Tuhan memusatkan diri pada keTuhan-anNya bukan berarti Tuhan tidak kasih. Alasannya adalah bahwa bukanlah suatu hal yang tidak menunjukkan kasih bila Tuhan meninggikan diriNya dengan cara ini, karena dengan mengenal Tuhan dan terhanyut dalam pujian kepada Tuhan akan memuaskan jiwa manusia. ”Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; dihadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, ditangan kananMu ada nikmat senantiasa”(Mazmur 16:11) Sehingga jika Tuhan meninggikan diriNya—sampai batas dimana kita bisa melihatnya dengan benar tentang siapa Dia—hal itu akan memuaskan jiwa kita, sehingga Tuhan itu adalah satu-satunya yang ada di alam raya ini yang penuh dengan kuasa mahatinggi yang penuh kasih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Anda tidak bisa meniruNya dalam hal ini. Bila anda meninggikan diri lebih dari orang lain, maka anda mempunyai rasa benci—artinya anda tidak mengasihi—karena anda memisahkan mereka dari orang yang bisa memuaskan jiwa mereka. Sehingga, kita tidak bisa meniru Tuhan dalam hal ke-Tuhan-anNya. Tuhan adalah satu-satunya yang unik diseluruh alam raya ini, dimana peninggian diriNya adalah inti dan dasar kasih yang dimilikiNya. Jadi, memang harus seperti ini, jika Dia adalah Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita mungkin menginginkanNya untuk mengasihi seperti halnya manusia, dengan cara membuat orang lain sebagai pusat; tetapi Dia tidak bisa melakukannya, dan Dia adalah tetap Tuhan. Dia sangat berharga dalam diriNya. Tidak ada yang lain selain Tuhan. Sehingga Dia—dengan kata lain—memang ada dengan segala keindahan, keagungan dan kemuliaan dan Dialah kepenuhan untuk semua orang dan juga kepenuhan untuk diriNya sendiri, dengan atau tanpa anda. Inilah dasar kasih karunia itu. Jika anda mencoba menjadi pusat karunia itu, karunia itu akan berkurang. Karunia yang berpusatkan pada Tuhan adalah karunia yang alkitabiah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sukacita saya bukanlah bila Tuhan menempatkan saya sebagai pusat alam raya. Sukacita saya adalah apabila Tuhan menjadi pusat alam raya, selamanya dan akhirnya Dia mendekatkan saya dengan persekutuan denganNya, melihat Dia, menikmati Dia, mengagungkan Dia, dipuaskan dalam Dia sepenuh hari-hari saya sampai pada kekekalan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah topik yang kita bicarakan kemarin &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Implikasi Pemusatan Tuhan terhadap diriNya untuk Manusia''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, hari ini..... jika yang selama ini saya katakan adalah benar, jika yang saya katakan tersebut alkitabiah, maka akan anda temukan implikasi mengejutkan bagi hidup anda. Yaitu&amp;amp;nbsp;: saat anda meninggalkan tempat ini, dan anda kembali ke gereja anda atau ke kampus anda, yang harus anda lakukan adalah dalam liburan anda, anda harus membuatnya seindah mungkin sehingga anda bisa berbahagia, sebahagia mungkin.....di dalam Tuhan. Sehingga panggilan saya untuk anda sekarang, dalam nama Tuhan yang berkuasa, bahwa anda akan membuat liburan anda sebahagia mungkin untuk menekankan kesenangan anda yang telah dikaruniakan Tuhan di dalam anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Permasalahan saya dalam hidup, dan permasalahan anda, bukanlah masalah mengejar kesenangan hidup saat anda seharusnya menjalankan tugas anda. Masalah tersebut bukanlah yang menjadi penilaian saya atau Tuhan ataupun penilaian Alkitab tentang masalah anda. C.S. Lewis menyatakannya dengan sangat tepat dalam kotbahnya yang berjudul ” Ukuran Kemuliaan” (The Weight of Glory). Beliau mengatakan bahwa masalah kita adalah kita terlalu gampang sekali merasa senang, sehingga kita tidak mengejar nya dengan sungguh-sungguh. Beliau menambahkan bahwa kita itu seumpama anak-anak kecil yang bermain-main dengan kue-kue yang terbuat dari lumpur dan bersenang-senang dengan keadaan seadanya, karena untuk membayangkan indahnya lautanpun kita tidak bisa. Dengan kata lain, bermain-main dengan lumpurpun sudah membuat kita senang dan kita tidak ingin membayangkan liburan di pantai. Sehingga, yang menjadi permasalahan kita adalah bahwa kita memegang berhala kaleng ditangan kita pada saat kenyataan emas menunggu di depan kita. Kita benar-benar gampang dipuaskan. Masalah dengan dunia bukanlah masalah hedonisme; tetapi kegagalan hedonisme mendapatkan kepuasan lebih jauh lagi. Inilah poin penting dari saya pagi ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan implikasinya, apabila itu benar, adalah bahwa anda harus bangun pagi, dan seperti yang George Mueller katakan, sebelum beliau keluar dan melakukan sesuatu, ” Saya harus mempunyai hati yang gembira dalam Tuhan atau, saya tidak akan diperlukan oleh siapapun. Saya akan memakainya untuk memuaskan kekosongan dan keinginan-keinginan saya.” Apabila anda ingin menjadi seseorang yang penuh kasih, bila anda ingin hidup anda berguna bagi orang lain, haruslah hal itu menjadi tujuan anda untuk mendapatkan sukacita dalam Tuhan. Inilah pesan untuk hari ini: Kita mudah sekali merasa puas dan senang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita telah berada dalam situasi kehidupan yang kecil, singkat, tidak berkecukupan, dengan kesenangan-kesenangan yang tidak memuaskan dimana kapasitas kita untuk sukacita semakin lama semakin mengecil dan akhirnya hilang sampai kepada titik dimana hal-hal yang tidak membawa sukacita menjadi inti dari hal yang kita lakukan dan menutup hati kita yang sudah diubahkan sehingga tidak bisa dipindahkan oleh Tuhan. Anda lihat sendiri? Betapa serupa dengan pelarian? Pagi ini saya berkampanye melawan Stoics dan Imannuel Kant, filsuf-filsuf Pencerahan yang berkata bahwa sampai batas mana anda mencari keuntungan tindakan moral anda, anda menghilangkan kebenaran/kebaikan. Hal ini tidak anda temukan dalam Alkitab..... dan hal ini menghancurkan pujian, kebenaran, keberanian, dan keterpusatan pada Tuhan di manapun. Hal ini melambungkan manusia satu-satunya yang baik dan benar yang melaksanakan tugasnya tanpa ada pandangan tentang Tuhan untuk memuaskan jiwanya. Mustahil!Semoga hal-hal tersebut tidak ada dalam hati kita selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya sedang berkampanye melawan hal-hal yang menggantung dalam perkabaran Injil. Saya mendapatkan slogan ini 25 tahun yang lalu, sejak saat itu saya menjadi salah satu anggotanya, saya membesarkan keluarga saya dengan berdasar slogan tersebut, mendasarkannya untuk membangun gereja, menulis buku tentangnya dan mencoba hidup di dalamnya. Sedikit demi sedikit keberatan bermunculan. Itulah caranya anda bisa tumbuh. Beberapa dari anda mengatakan bahwa seakan-akan dunia anda berbalik karena konferensi ini. Paradigma yang ada benar-benar diacak-acak. Revolusi Copernicus sedang terhenti, dan itulah caranya permulaan perubahan anda. Mungkin akan memerlukan waktu selama 15 tahun.....penolakan demi penolakan. Pada tahun 1968 saya mulai melihat hal-hal ini dengan bantuan Dan Fuller dan C.S. Lewis, dan Jonathan Edward, dan Raja Daud, dan Rasul Paulus, dan Yesus Kristus. Dan cara kerja pikiran saya dimulai setelah adanya penolakan demi penolakan dan saya menciut ketakutan, dan kemudian saya buka Alkitab dan saya menangis terisak-isak dan saya berjuang dan bertanya dan berdoa dan berbicara. Akhirnya, sedikit demi sedikit penolakan itu memurnikan visi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Penolakan-Penolakan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
#Apakah Alkitab benar-benar mengajarkan agar kita mengejar sukacita dengan segenap hati dan jiwa dan pikiran dan kekuatan. Atau itu hanyalah kepandaian ilmu kotbahnya John Piper agar mendapat perhatian? &lt;br /&gt;
#Bagaimana dengan penyangkalan diri? bukankah Yesus berkata, ”Apabila hendak mengikut aku, dia harus menyangkal dirinya?” &lt;br /&gt;
#Bukankah hal ini menekankan emosi? Bukankan Kekristenan berkisar tentang permasalahan kehendak, dimana kita membuat komitmen dan keputusan? &lt;br /&gt;
#Apakah yang menjadi konsep kehormatan tentang melayani Tuhan sebagai tugas saat hal itu terasa berat dan anda seakan-akan belum ingin melakukannya? &lt;br /&gt;
#Bukankah hal ini hanya membuat ’saya’ –dan bukannya Tuhan – sebagai pusat dari segala sesuatu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Menjawab Berbagai Penolakan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1. Apakah Alkitab benar-benar mengajarkan untuk mengejar sukacita anda?'''&amp;lt;br&amp;gt;Jawaban saya adalah ’ya’, dan hal ini berlaku untuk 4 hal dibawah ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''a) Dengan perintah'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan Mazmur 37:4 – ”Bersukacitalah di dalam Tuhan.” Ini bukanlah saran, ini adalah perintah. Jika anda percaya, ”Janganlah berzinah” adalah sesuatu yang harus anda taati, jadi anda juga harus mentaati perintah, ”Bersukacitalah di dalam Tuhan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau Mazmur 32:11, ”Bersukacitalah di dalam Tuhan dan bersorak-soraklah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah, hai orang-orang jujur!” atau Mazmur 100, ”Layanilah Tuhan dengan sukacita.” Itu adalah perintah: ”Layanilah Tuhan dengan sukacita!” Pada saat anda tidak merasakan apapun (tidak peduli) apakah anda merasa sukacita atau tidak saat anda melayani /beribadah kepada Tuhan, berarti anda tidak peduli terhadap Tuhan. Tuhan memerintahkan untuk beribadah dengan sukacita. Atau Filipi 4:4, ”Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata bersukacitalah dapat ditemukan dimana-mana dalam Alkitab. Kita membicarakan tentang perintah. Itulah cara pertama Alkitab mengajarkan hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''b) Dengan ancaman'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jeremy Taylor suatu ketika mengatakan, ”Tuhan mengancam kita dengan hal-hal yang mengerikan jika kita tidak mau bersukacita.” Pertama kali waktu saya mendengar, saya pikir, itu adalah cara yang bagus. Ah, itu bukanlah cara yang bagus ... itu adalah kutipan dari Ulangan 28:47, dan situasinya digambarkan dengan mengerikan. ”Karena engkau tidak mau menjadi hamba TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya. Maka dengan menanggung lapar dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba musuh yang akan disuruh Tuhan melawan engkau. Tuhan mengancam dengan hal-hal yang mengerikan apabila kita tidak bersukacita dalam Dia. Apakah ini merupakan pengakuan hedonisme atau apa? Apakah ini merupakan pengakuan yang akan membuat hidup anda mengejar sukacita dalam Tuhan dengan segala kekuatan anda? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''c) Dengan memberikan iman yang menyelamatkan. Hal yang sama dan sangat penting adalah dipuaskan dengan apa yang Tuhan lakukan dalam diri anda.'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya, Ibrani 11:6, ”Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari dia.” Jika anda ingin berkenan di hadapan Tuhan atau dengan istilah lain, anda ingin menyenangkan Tuhan, anda harus mempunyai iman. Apakah yang dimaksud dengan iman? Datang kepada seseorang yang dengan jelas dan keyakinan yang dalam meyakinkan saya bahwa ada imbalan/hadiah saat saya datang kepadanya. Jika anda tidak percaya hal itu, atau bila anda datang kepada Tuhan dengan alasan lain, anda tidak akan membuatnya senang/berkenan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Atau, baca Yohanes 6:35, Yesus berkata,”Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak lapar lagi , dan barang siapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi.” Perhatikan baik-baik: barangsiapa percaya kepadaKu tidak akan haus lagi. Apa artinya hal ini sehubungan dengan iman?Apa itu iman? Iman, dalam theologi Yohanes, adalah penyerahan diri pada Yesus untuk kepuasan jiwa yang tidak bisa dipuaskan oleh apapun dan siapapun. Itulah iman. Iman bukanlah suatu hal yang berbeda dari apa yang saya katakan. Saat ini saya sedang membuka Kekristenan dalam bahasa yang tidak biasa anda gunakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''d) Dengan mendefinisikan dosa sebagai kebodohan saat kita menolak untuk mengejar sukacita dalam Tuhan'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa sebagai kebodohan saat kita menolak untuk mengejar sukacita dalam Tuhan. Inilah ayat pendukungnya: Yeremia 2:12-13: ”Tertegunlah atas hal itu, hai langit, menggigil dan gemetarlah dengan sangat, demikianlah firman Tuhan. Sebab dua kali umatku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Sekarang , dalam hal tersebut, apakah yang dimaksud dengan kejahatan? Definisi kejahatan yang mengejutkan alam semesta, yang menyebabkan malaikat Tuhan berkata, ”Tidak mungkin!” ...apakah itu? Dosa disini adalah dengan memandang kepada Tuhan, yang sebagai sumber air hidup, dan saat Dia memberikannya kepada kita, dengan singkat kita bilang, ” Tidak. Terima kasih.”, kemudian kita malah berbalik meninggalkan Tuhan dan melihat TV, melakukan sex, pesta, mabuk, menghamba diri kepada uang, mengejar kehormatan, mengejar rumah di pinggiran kota, liburan, program komputer baru, dan berkata, ”Ya!” kepada semua kejahatan itu. Itu semua merupakan kebodohan! Dan itu semua menyebabkan seluruh warga kerajaan surga tertegun, seperti yang ditulis dalam Yeremia 2:12. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan 4 cara diatas, paling tidak, Alkitab berkata bahwa, pagi ini, John Piper sedang mengajarkan kebenaran saat dia menghimbau kita sekalian untuk menyerahkan hidup kita untuk mengejar sukacita dalam Tuhan. Sehingga keberatan nomer 1 tumbang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2. Bagaimana dengan penyangkalan diri?''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah Yesus berfirman dalam Markus 8:35, ”Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut aku.” Salib adalah tempat dimana anda mati, tempat eksekusi. Salib tidak bisa diartikan dengan mertua yang cerewet, teman sekamar yang menyebalkan, atau penyakit yang ada di tulang anda. Itu adalah kematian diri anda sendiri. Makanya, Piper, anda terlalu heretis dalam hal menghimbau kita untuk mengejar kepuasan jiwa sebagai selingan hidup. Yah, saya juga sudah merasakannya .... dan kemudian saya membaca kelanjutan ayat tersebut (yang membantu melihat konteks dengan tepat): ”Karena barang siapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barang siapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.” Bagaimana logikanya? Bagaimana pemikiran Yesus secara logis dalam ayat tersebut? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logikanya seperti ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:- ”Wahai murid-murid Ku, janganlah engakau kehilangan nyawamu. Janganlah kehilangan nyawamu. Selamatkanlah nyawamu!” &lt;br /&gt;
:- Bagaimana, Yesus? ...bagaimana caranya? &lt;br /&gt;
:- ”Lepaskanlah.” – ”Apa?Saya tidak mengerti.... Saya tidak mengerti. Yesus.” &lt;br /&gt;
:- ”Maksudku, begini, --murid-muridKu yang Ku kasihi—lepaskanlah nyawamu, maksudnya lepaskan segala hal di dunia, tetapi jangan lepaskan Aku. ”Apabila biji gandum tidak jatuh di tanah dan mati, ia tidak akan bertambah banyak. Tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan buah.” Mati bagi dunia. Mati bagi kehormatan, bagi kekayaan, bagi dosa-dosa sex, bagi tindakan curang untuk menang, bagi pengakuan orang akan diri kita. Mati bagi semuanya itu, dan tetap milikilah Aku.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya percaya pada penyangkalan diri. Sangkalilah diri anda yang tidak berharga dan lemah, ibaratnya sangkalilah diri anda yang seumpama kaleng untuk mendapatkan emas. Sangkalilah diri anda yang seumpama pasir untuk mendapatkan batu karang. Atau, sangkalilah diri anda yang seumpama air yang hambar untuk mendapatkan anggur yang lezat. Tidak ada penyangkalan diri yang tidak fundamental, dan juga Yesus tidak pernah bermaksud demikian. Saya percaya pada penyangkalan diri. Saya percaya tentang Yesus dalam firman ini dari Yesus: Mateus 13:44. ”Hal kerajaan surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. ''Oleh sebab sukacitanya'' pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.” Apakah anda menyebutnya sebagai penyangkalan diri? Ya! Dia sudah menjual semuanya. Dia menganggap segala sesuatu sebagai penolakan dan tidak berharga karena dia mengutamakan Kristus. Jadi, ya, itu adalah bentuk penyangkalan diri; Tetapi juga bisa berarti Tidak, bukan penyangkalan diri. Harus ada pribadi yang dikorbankan: pribadi yang mengasihi dunia. Tetapi pribadi baru – pribadi yang mengasihi Kristus di atas segala sesuatu dan menemukan kepuasan dalam Dia—janganlah membunuh/menghilangkan pribadi itu. Itulah ciptaan baru. Limpahkan pribadi seperti itu pada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
O, saya percaya pada penolakan diri. Saya percaya pada penolakan diri yang tidak bisa dipahami oleh seorang pemimpin muda tetapi yang saat itu Yesus ajarkan: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Pergilah, jual semua milikmu dan ikutlah Aku, dan engkau akan beroleh hartamu di surga.” Dan dia tidak bersedia melakukannya. Dan Yesus berkata kepada para muridNya, “Alangkah sukarnya orang kaya masuk dalam kerajaan surga. Lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum daripada orang kaya masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kemudian para murid tersebut tercengang, dan mereka berkata,”Jika demikian, siapakah yang bisa diselamatkan?” Dan Yesus berkata, “Memang hal itu mustahil bagi manusia. Tidak seorang pun yang mempunyai hati yang terpanggil. Tetapi bagi Tuhan,” Dia melanjutkan, “segala sesuatu mungkin bagi Tuhan.” Kemudian Petrus menyambung, ”Kami telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Engkau. Bagaimana dengan kami? Kita telah mengorbankan milik kami.” Dan Yesus menjawab—saya berharap mendengar intonasi nada bicaraNya – dan berkata, ”Petrus, sesungguhnya seseorang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki, atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang—sekalipun disertai dengan penganiayaan—dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Engkau tidak bisa mengorbankan segala sesuatu yang tidak akan dibayarkan kembali seribu kali. Janganlah membodohi dirimu sendiri apabila engkau harus di hukum pancung.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ya, saya percaya pada penyangkalan diri. Saya percaya bahwa saat saya menyangkali diri saya, saya akan merasakan kepuasan penuh dari Tuhan, dan karena itulah saya memahami apa yang dimaksudkan oleh Alkitab dengan penyangkalan diri. Saya percaya bahwa David Livingstones dan Hudson Taylor – misionaris yang hebat—menyatakan hal yang sangat benar, mereka telah sampai pada akhir hidupnya, kehilangan istrinya, kesehatannya yang sangat menurun, dan semuanya, kecuali satu hal, yaitu dengan berkata kepada civitas akademika Universitas Cambridge dan orang-orang di manapun berada dengan mengungkapkan hal ini, ” Saya tidak pernah berkorban.” Dan memang hal itu benar adanya. Saya tahu maksudnya dan andapun tahu apa yang dimaksudkan mereka. Dan saya percaya bahwa Jim Elliot yang menyerahkan hidupnya sejak masih muda juga sangat benar saat berkata, ”Bukanlah hal yang bodoh saat dia memberikan apa yang tidak bisa disimpan untuk mencapai apa yang tidak dapat hilang.” Itulah yang saya percayai tentang penyangkalan diri. Sehingga keberatan nomor 2 tumbang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3. Bukankah anda terlalu membesar-besarkan emosi?''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankah Kekristenan itu merupakan keputusan yang sangat penting? Komitment akan kehendak kita? Bukankah emosi itu adalah sebagai hal yang mengikuti saja, sebagai suatu opsi/alternatif pilihan, ibarat lapisan mentega yang menghiasi kue, bukan hal inti. Piper, saya kira cara anda berbicara tentang Kekristenan akan menggeser emosi ke arah hal-hal yang tidak alkitabiah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi kemudian saya membaca Alkitab—kadang kala saat kita berada pada sebuah argumen, hal itu membuat kita ingin membaca Alkitab – dan saya melihat bahwa&amp;amp;nbsp;: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Kita diperintahkan untuk bersukacita: Filipi 4:4, ”Bersukacitalah senantiasa di dalam Tuhan”. Kita diperintahkan untuk memiliki harapan: Mazmur 42:5, ”Berharaplah kepada Tuhan”. Kita diperintahkan untuk takut dan gentar: Lukas 12:5, ”Takutilah Dia, yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka.” Kita diperintahkan untuk berkobar dengan semangat: Roma 12:11, ”...biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.” Kita diperintahkan untuk menangis: Roma 12:15, ” ... dan menangislah dengan dengan orang yang menangis.” Kita diperintahkan untuk memiliki hasrat: 1 Petrus 2:2, ”Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir yang selalu ingin susu yang murni dan yang rohani.”Ini bukan pilihan. Anda tidak bisa berkata, ”Ok, saya tidak bisa berubah untuk tiba-tiba menjadi begitu berhasrat, jadi bagaimana saya harus mentaatinya? Itu bukan perintah yang sungguh-sungguh. ”Salah! Ya, memang anda tidak bisa mengubah perasaan-perasaan ini menjadi ada atau tidak ada sesuka hati. Tidak, perintah-perintah tersebut tetap merupakan perintah. Di sanalah terletak keputusasaan kita yang telah kita bahas semalam.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Apapun yang saya katakan kepada anda tentang perintah-perintah yang harus anda lakukan saat ini, anda tidak akan bisa melakukannya saat ini, baik dengan kehendak, keputusan ataupun komitmen. Anda hanya bisa melakukannya dengan mujizat. Tidakkah anda merana dan putus asa melihat kenyataan ini? Bukankah suatu hal yang membuat kita merana dan putus asa saat kita diperintahkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk melakukan hal-hal yang tidak mungkin kita lakukan? Apabila hati anda benar, anda akan melakukannya. Kita adalah umat yang bobrok dan kita diperintahkan untuk memiliki hati yang lembut: ”Berbaik hatilah kamu diantara sesamamu, dan milikilah hati yang lembut.” Anda tidak bisa cukup berkata bahwa pengampunan berarti berkata, ”Maaf.” anda harus benar-benar merasakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Kita diperintahkan untuk bersyukur. Ambillah contoh, pada pagi hari di hari Natal, seorang anak kecil mendapatkan hadiah dari neneknya ... dan hadiahnya berisi kaos kaki hitam! Sungguh menjijikkan. Tak seorang anakpun menginginkan hadiah kaos kaki berwarna hitam, apalagi pada hari natal. Dan anda berkata kepada anak tersebut,” Ayo, bilang terima kasih kepada nenek.” Dan kemudian anak tersebut bilang ,”Terima kasih atas hadiah kaos kakinya.” Contoh seperti ini bukanlah seperti apa yang dimaksudkan alkitab. Anak tersebut mau berterima kasih karena anda menyuruhnya. Tetapi dia tidak akan bisa merasakan ’terima kasih’ yang sesungguhnya karena andalah yang menyuruh berterima kasih. Begitupun anda, anda tidak akan bisa merasakan rasa terima kasih anda kepada Tuhan dengan kehendak anda sendiri, seperti yang tertulis dalam Efesus 5:20 untuk ”mengucap syukur senantiasa atas segala sesuatu.” Jadi, kita tidak akan mampu, jika Tuhan tidak bekerja.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keberatan nomor 3? Saya tidak membelinya. Saya tidak percaya bahwa saya memindahkan kasih sayang dan perasaan dan emosi menjadi lebih tinggi dari apa yang dilakukan Alkitab. Saya kira, saya akan balik lagi terhadap hal-hal diatas dimana keputusan dan kapasitas manusia lah yang diandalkan, penindasan komitmen dan kehendak kaum Amerika dengan falsafahnya yang menunjukkan bahwa mereka mampu melakukannya sendiri sudah tumbang karena hal-hal tersebut berada di luar kontrol kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4. Bagaimana dengan visi terhormat untuk melayani Tuhan?''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukankan melayani Tuhan itu adalah tugas kita? Piper, tidak ada kesan melayani bila cara bicara anda tentang Kekristenan bernada begitu. Kedengarannya tidak sama dengan arti melayani – penuh dengan tugas, bangkit terhadap tantangan untuk menjalankan kehendak Tuhan bila terasa berat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin merespon berdasarkan apa yang telah saya pelajari. ”Mari kita lihat beberapa teks yang membentuk perumpamaan sifat kepelayanan.” Semua perumpamaan tentang hubungan anda dengan Tuhan, baik itu hubungan sebagai pelayan, atau anak, atau teman, semuanya memiliki elemen-elemen yang apabila anda tekankan, hal itu akan kelihatan salah/palsu. Di lain pihak, hubungan-hubungan itu juga memiliki elemen-elemen yang apabila anda tekankan akan kelihatan asli/benar. Jadi apakah yang benar dan apakah yang salah dalam analogi sifat kepelayanan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bacaan yang akan membantu anda memisahkan keduanya sehingga anda tidak sembrono saat anda melayani adalah bacaan seperti Kisah Rasul 17:25, ”Tuhan tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang”. Tuhan bukan dilayani. Berhati-hatilah. Dia tidak dilayani seolah-olah Dia memerlukan anda atau pelayanan anda. Tidak. Bacalah dari bacaan seperti Markus 10:45: ”Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” Dia datang tidak untuk dilayani. Hati-hati! Bila anda berpikir anda bisa melayaniNya anda melanggar tujuanNya! Membingungkan bukan? Dalam hampir setiap suratnya, Paulus menyebut dirinya Pelayan Allah. Dan dalam bacaan kita dari Kisah Rasul 17:25 dan Markus 10: 45 mengatakan bahwa Tuhan tidak dilayani dan anak Manusia datang bukan untuk dilayani. Nah, pasti ada bentuk-bentuk pelayanan yang baik dan pelayanan yang jahat. Apa sih pelayanan yang baik itu? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelayanan yang baik adalah pelayanan yang digambarkan dalam 1 Petrus 4:11: ”Jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus.” Tuhan tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Dia memerlukan sesuatu. Anda harus menemukan cara untuk memuji, mengetik makalah, mendengarkan dosen, menyetir mobil, mengganti popok, melayankan firman sedemikian sehingga anda selalu menjadi ''penerima''. Karena sang Pemberi menerima kemuliaan dan si penerima menerima sukacita. Kapanpun kita melakukan hal-hal yang melanggar Kitab Kisah Rasul 17:25 –”Tuhan tidak dilayani oleh tangan manusia (seolah-olah Dia menjadi penerima) seolah-olah Dia memerlukan sesuatu” – kita sudah melakukan kesalahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemarin saya memberikan ilustrasi tentang tim kepemimpinan dalam konferensi ini, dari Mateus 6:24 tentang pelayanan dimana tertulis, ”Tak seorangpun dapat mengabdi pada 2 tuan. Karena dengan demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” Jadi, disinilah kita berbicara tentang pelayanan. Bagaimana anda ’melayani’ uang? Anda tidak melayani uang dengan cara memenuhi kebutuhan uang tersebut. Anda melayani uang dengan cara menyikapi kehidupan anda dengan tegas, dengan semua energi dan waktu dan usaha anda agar uang yang ada pada anda memberikan manfaat pada anda. Pikiran anda berputar-putar dengan angan-angan bagaimana cara terbaik untuk investasi, bagaimana mendapatkan harga yang terbaik, bagaimana cara investasi yang menguntungkan, dan anda tenggelam dengan pikiran-pikiran tentang bagaimana mencari keuntungan dari uang, karena uang adalah sumber anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila cara anda memperlakukan uang sudah benar, lantas bagaimana anda melayani Tuhan?Pada intinya sama&amp;amp;nbsp;: anda mempunyai sikap, dan anda membelokkan kehidupan anda, dan anda benar-benar mempersembahkan tenaga dan usaha dan waktu dan kreatifitas untuk menentukan posisi anda dibawah siraman ’air terjun’ berkat Tuhan yang terus menerus anda rasakan, sehingga Dia tetap menjadi ''sumber'' dan anda tetap menjadi penerima yang kosong. Tetap saja andalah yang mendapatkan keuntungannya, dan Dia tetap berposisi sebagai Pemberi, anda tetap berposisi lapar dan Dialah yang menjadi rotinya; anda tetap merasa haus dan Dialah yang menjadi air. Anda tidak perlu mencoba melakukan peran Tuhan yang sebenarnya berlawanan. Kita harus menemukan cara untuk melayani yang berada dalam kekuatan yang disediakan oleh Tuhan. Saya berada pada babak akhir penerimaan saat saya melayani. Jika tidak demikian maka saya bisa saja menempatkan Tuhan sebagai penerima manfaat dan sayalah yang memberikan manfaat, dan sekarang saya menjadi Tuhan. Dan ada banyak agama yang berpandangan demikian di dunia ini. Dengan demikian keberatan nomor 4 runtuh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5. Bukankah anda membuat diri anda menjadi pusat?''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Anda berbicara tentang mengejar sukacita dan kesenangan. Anda berbicara tentang tugas sebagai hal lain selain dari apa yang anda tahu, dan anda bilang bahwa kita harus berhati-hati tentang pelayanan. Kedengarannya sepertinya anda membelokkan dan memanipulasi bahasa Alkitab untuk membuat diri anda sendiri menjadi pusat.” Bukankah hal itu akan menjadi kritik yang menghancurkan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah jawaban saya: Saya sudah menikah selama 28 tahun per tanggal 21 Desember ini. Saya sangat mencintai Noel. Banyak hal yang kami alami bersama, saat-saat yang benar-benar indah dan saat-saat yang benar-benar berat. Kami sudah menyaksikan anak-anak remaja kami melalui masa-masa remaja yang cukup sulit. Saya paling gampang menangis apabila saya berpikir tentang anak-anak saya dan putri kecil saya. Misalnya saya pulang pada tanggal 21 Desember dengan 28 bunga mawar merah yang saya pegang di belakang punggung saya dan saya tekan bel pintu dan saat Noel membukakan pintu, tampak bingung, mengapa saya harus tekan bel di rumah sendiri, kemudian saya keluarkan ke-28 mawar merah tersebut dan berkata, ”Selamat merayakan ulang tahun pernikahan kita, Noel.” Dan Noel berkata, ”Johnny, mawar-mawar itu sungguh cantik luar biasa! Mengapa kamu melakukan ini semua?” Dan saya menjawab, ”Ini adalah tugas saya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban di atas salah. Mari kita ulangi lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:(Ding-dong)—”Selamat merayakan ulang tahun pernikahan kita, Noel!” – ”Johnny, mawar-mawar itu sungguh cantik luar biasa! Mengapa kamu melakukan ini semua?”—”Tidak ada yang membuatku lebih bahagia daripada membelikanmu mawar-mawar itu. Kenapa kamu tidak segera ganti baju karena saya sudah mencari suster dan kita bisa jalan-jalan keluar, melakukan sesuatu yang istimewa malam ini, karena tidak ada satu hal pun yang ingin saya lakukan kecuali menghabiskan senja ini bersamamu.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawaban kali ini benar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa? Mengapa dia tidak mengatakan, ”Kamu adalah seorang Hedonis Kristen yang paling egois yang pernah saya temui! Apa yang kamu pikirkan hanyalah hal-hal yang membuatmu bahagia!” Apa yang terjadi di sini? Kenapa ''tugas'' menjadi jawaban yang salah dan ''kesenangan'' menjadi jawaban yang benar?Apakah anda memahami hal ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apabila saat mendengarkan kisah ini anda bisa memahaminya, saya akan pulang ke Minneapolis dan bersorak memuji Tuhan. Istri saya merasa sangat tersanjung oleh saya apabila saya mendapatkan kepuasan darinya. Jika saya mencoba mengubah hubungan kami menjadi hubungan pelayanan, menjadi hubungan tugas pelayanan dimana saya tidak mengejar kesenangan saya dengannya, dia akan merasa tidak berguna.....dan Tuhanpun demikian. Suatu saat nanti apabila anda tiba di surga dan Bapa melihat anda dan berkata, ”Mengapa kamu ada di sini? Mengapa kamu menyerahkan hidupmu sepenuhnya untuk Aku?” maka lebih baik anda tidak mengatakan hal ini, “Oh, ini kan tugas saya untuk datang, karena saya adalah seorang Kristen.” Lebih baik anda katakan begini, “Kemana lagi saya akan pergi? Kepada siapa lagi saya bisa datang? Tuhanlah kerinduan jiwa saya. Dan inilah inti konferensi ini. Konferensi ini adalah tentang 2 hal besar yang secara bersamaan dimiliki oleh ke-268 keturunan dari Yesaya 26:8: yaitu adalah kerinduan Tuhan akan kemasyuran namaNya dan kerinduan hatiku untuk dipuaskan dalam segala keinginan jiwaku. Kedua hal tersebut adalah hal-hal yang tidak akan goyah di dalam dunia ini. Dan saya harap anda bisa melihat kedua hal tersebut sebagai satu kesatuan, karena Tuhan dan namaNya dan kemasyuranNya akan mendapatkan kemuliaan tertinggi saat saya merasa dipuaskan di dalam Dia.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:36:26 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kerinduan_akan_Kemahakuasaan_Tuhan,_Bagian_2</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kerinduan akan ke-Maha Kuasa an Tuhan, Bagian Pertama</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kerinduan_akan_ke-Maha_Kuasa_an_Tuhan,_Bagian_Pertama</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Passion for the Supremacy of God, Part 1}}''Kerinduan ’97'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Beberapa alasan untuk mengalami kerinduan ’97''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Alasan Pertama #1''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin memulai dengan menceritakan beberapa alasan mengapa saya ada ditempat ini. Salah satu keuntungan luar biasa dengan berada di gereja lokal dan menjadi pendeta selama 16-17 tahun adalah bahwa selama berbulan-bulan dan bertahun-tahun visi gereja dan visi pendeta itu sendiri menjadi satu. Kira-kira setahun yang lalu kami mencetuskan sebuah rumusan visi yang berbunyi seperti ini: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kita ada untuk menyebarkan kerinduan akan kemahakuasaan Tuhan dalam segala sesuatu untuk sukacita semua orang.&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Dengan demikian saya berpikir bahwa saya bisa berbicara tanpa ragu bahwa misi hidup saya sama seperti halnya misi Gereja Baptis Betlehem. Sehingga, ketika saya mendapatkan undangan ini, membaca tentang konferensi ini, melihat kata ”kerinduan”, dan melihat kebenaran dibalik kitab Yesaya 26:8 – ”Ya Tuhan, kami juga menanti-nantikan , saatnya Engkau menjalankan penghakiman; Kesukaan kami ialah menyebut nanaMu dan mengingat Engkau. ”- Saya terpaku ketika membacanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingin menyebarkan kerinduan akan kemahakuasaan Tuhan dalam segala sesuatu untuk sukacita anda dan seluruh orang di dunia ini. Dan inilah alasan pertama kenapa saya ada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Alasan nomer #2''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan kedua adalah bahwa saya ingin menjadi lilin kecil yang menerangi sukacita anda. Saya ingin anda meninggalkan tempat yang mengerikan dan berbalik dan menemukan kebahagiaan dalam Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Alasan nomer #3''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alasan ketiga adalah saya ingin anda melihat dari sudut Alkitab bahwa kedua alasan tersebut diatas adalah sama. Alasan-alasan tersebut satu jua adanya. Yaitu, untuk menyebarkan kerinduan akan kemahakuasaan Tuhan dan berbahagia dalam Tuhan. Keduanya identik. Karena Tuhan akan sangat dimuliakan dalam diri anda saat anda benar-benar merasakan kepuasan dalam Dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada kalimat yang ingin saya bahas terus-menerus: Tuhan akan sangat dimuliakan dalam diri anda saat anda benar-benar menemukan kepuasan dalam Dia. Sehingga, pujian-pujian yang sudah dinyanyikan dan kehausan yang sudah diekspresikan adalah merupakan cara-cara pemberian kemuliaan kepada Tuhan. Karena semakin kita temukan kepuasan dalam Dia, semakin kita minum air dariNya dan makan dari meja yang adalah Dia, semakin pula kemuliaan dan ’kekuasaan untuk mencukupi’ yang Dia lakukan dikagumi. Dengan demikian, tidak ada kompetisi- dan inilah sebenarnya keindahan itu, bagi saya inilah arti pemberitaan firman itu sendiri, hal ini saya temukan pada tahun ’68, ’69 dan ’70 pada saat Tuhan sedang bekerja dalam hidup saya. Tidak ada kompetisi antara kerinduan Tuhan untuk dimuliakan dan kerinduan anda untuk dipuaskan, karena kedua hal itu adalah satu adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada cara lain untuk mengatakan alasan ketiga saya mengapa saya ada: Saya ada untuk mencairkan gunung es. Saya punya gambaran dalam pikiran saya yang berasal dari Mateus 24. Dalam Mateus 24:12, pada saat melihat akhir jaman Yesus berkata: ” Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Saya benar-benar ketakutan bila kasih saya menjadi dingin. Saya benci bila melihat kenyataan bahwa kasih saya untuk Tuhan ataupun untuk sesama suatu hari nanti akan kering atau membeku. Tetapi Tuhan Yesus berfirman, ”Sudah datang!”. Dan kasih itu datang seperti gunung es yang mencair mengalir melintasi dunia. Sehingga, bagian dari apa yang saya lihat adalah bahwa pada hari-hari terakhir kedurhakaan akan dilipatgandakan dan kasih yang dimiliki banyak orang akan menjadi dingin. Dengan begitu, akan terjadi keremangan pada hari-hari terakhir. Tetapi bila anda tetap membaca Mateus 12 bagian bawah yang sampai pada ayat 13 berbunyi&amp;amp;nbsp;:”Tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat.”- dengan demikian kita bisa yakin bahwa ada seseorang yang akan bertahan. Kemudian ayat berikutnya berbunyi –” Dan Injil Kerajaan – dikutip dengan kata lain- Injil akan perluasan kerinduan akan kemahakuasaan Tuhan Yesus Raja – ”Injil kerajaan ini akan disampaikan sebagai sebuah kesaksian untuk seluruh bangsa-bangsa dan kemudian hari akhir akan tiba.” Sekarang apabila kita membaca ayat 12 bersamaan dengan ayat 14 , apakah anda merasakan ketegangan yang ada. ”Kedurhakaan akan berlipat ganda dan kasih akan menjadi dingin.” tetapi ”Injil Kerajaan ini”- dengan kekuasaan Kristus yang memerintah- ”akan meluas kesegala bangsa dan barulah kemudian ’akhir’ itu tiba.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah sekarang ada kebingungan yang terjadi dengan kedua ayat tersebut diatas. Alasan saya tahu bahwa terjadi kebingungan adalah bahwa bukan orang-orang yang menjadi dinginlah yang akan membawa Injil kembali ke rumah atau kampus anda. Bukan juga orang-orang yang dinginlah yang membawa Injil kepada orang-orang yang sulit dijangkau di dunia. Sekarang, bagaimana saya tahu akan hal itu? Karena bila anda harus kembali ke beberapa ayat, ke ayat 9, anda akan menemukan kata nubuatan yang amat sangat berbeda. Disitu tertulis,:”Pada waktu itu kamu akan diserahkan supaya disiksa, dan kamu akan dibunuh dan akan dibenci semua bangsa oleh karena namaKu”, kata Yesus”. Nah, apabila hal itu benar- apabila kita akan diserahkan kepada penguasa-penguasa dalam misi perkabaran Injil kita, apabila kita dibunuh, apabila kita dibenci oleh bangsa-bangsa kemanapun kita pergi—saya tahu satu hal dengan pasti: Bukanlah orang-orang yang dingin yang menyampaikan pesan itu. Tetapi mereka adalah pemuji-pemuji Tuhan Yesus yang sangat bersemangat dan yang tulus, dan merekalah yang akan menyelesaikan tugas itu. Karena itu, apa yang saya lihat pada ayat 9-14 dari Mateus 24 ini adalah, saat akhir hayat datang mendekat, akan ada orang-orang yang akan menjadi dingin seperti es, dan ada pula orang-orang yang akan tetap menjadi panas dan cukup bersemangat untuk menyerahkan dirinya untuk Yesus diantara orang-orang yang ada di dunia ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sehingga pelayanan saya di gereja Baptis Betlehem dan kedatangan saya didunia ini adalah untuk menyengat gunung-gunung es yang ada. Saya memberikan gambaran gambaran ini suatu hari kepada seorang gadis kecil, 6 atau 7 tahun, yang datang setelah pelayanan firman yang saya lakukan—Saya menghimbau anak-anak di gereja saya untuk mencoba menggambarkan kotbah-kotbah saya—dan dia berkata ”Inilah yang saya lihat.” Gadis kecil tersebut telah menggambar sebuah gunung es yang mengagumkan dengan tulisan Minneapolis dibawahnya; juga ada gambar orang (yang digambar dengan sederhana seperti lidi) yang memegang obor dan terdapat sebuah lubang di puncak gunung es tersebut. Diatasnya terrgambar sinar matahari yang sangat terang, yang menerangi lubang pada gunung es tersebut, turun sampai pada kedalaman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, sekarang, inilah eskatologi yang saya ungkapkan dalam pemikiran sempit saya. Jika anda ingin tahu seperti apa tempat tinggal anda ketika Yesus datang, atau apa itu Austin atau Minneapolis, atau dari manapun anda berasal, tempat itu akan seperti ini: gunung es itu akan bergerak, dan banyak orang akan menjadi dingin terhadap Tuhan- mengering, membeku- tetapi dalam Alkitab tidak tertulis bahwa pada akhir semuanya itu ”Gereja Baptis Betlehem” atau bahkan ”Minneapolis”, atau katakanlah ”Universitas Texas yang berada di Austin harus berada dibawah gunuing es tersebut.” Tidak ada ditulis seperti itu. Apabila ada cukup banyak orang yang tetap memegang obor Tuhan yang menyala putih dan panas, yang mencairkan gunung es tersebut, sebuah lubang besar bisa dibuat untuk rumah atau kampus atau gereja anda, untuk tempat kerja anda dan bahkan untuk kota anda. Dan karena itulah saya ada disini: Saya ingin mengangkat obor saya. Spurgeon pernah berkata di Inggris sekitar seratus tahun yang lalu, pada saat beliau berkotbah di Metropolitan Tabernacle, ”Orang-orang datang untuk menyaksikan saya terbakar” Mereka datang untuk mengambil obor mereka yang mulai menyala kecil dan menempelkannya pada obor saya dan kemudian keluar dan terbakar selama seminggu lagi untuk Tuhan Yesus. Saya akan sangat bersukacita dengan kegirangan apabila pagi ini anda membawa obor yang menyala dan kemudian meletakkannya dalam api saya. Untuk itulah saya ada disini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Tujuan Pesan Ini: Membentuk sebuah Dasar (Pondasi)''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada sebuah dasar untuk hal-hal yang ingin saya lakukan. Tugas saya disini adalah untuk berbicara tentang hidup untuk kemuliaan Tuhan, mempunyai kerinduan akan kemuliaan Tuhan. Saya mempunyai 2 buah pesan: pagi ini dan besok pagi. Pagi ini, adalah sebuah dasar/pondasi dan Besok Pagi adalah penerapannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dasar itu adalah begini: Kerinduan anda akan kemahakuasaan Allah dalam segala sesuatu berdasarkan tepat pada kerinduan Tuhan sendiri akan kemahakuasaan Tuhan dalam segala sesuatu. Pemusatan anda pada Tuhan- jika akan mengalami pencobaan- harus berpusat pada pemusatan Tuhan akan Tuhan. Jika anda ingin Tuhan berkuasa atas hidup anda, anda harus melihat, dan percaya, dan mencintai kebenaran akan kemahakuasaan Tuhan dalam kehidupan Tuhan. Bila anda ingin Tuhan menjadi harta kekayaan anda—seperti yang sudah kita nyanyikan disini—sehingga bagi anda Tuhan jauh lebih berharga dari apapun juga, anda harus melihat dan percaya bahwa harta kekayaan Tuhan adalah Tuhan, bahwa Tuhan juga menempatkan Tuhan jauh diatas segalanya. Kita mungkin tidak akan menarik kesukaan terbesar Tuhan di jagat raya ini, sebut saja, pujian untuk Tuhan. Itulah dasar itu; itulah hal yang akan saya bicarakan hari ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian waktu yang akan datang saya ingin berbicara tentang pencarian anda akan sukacita didalam Tuhan dan pencarian ini berada dibalik pencarian Tuhan akan kemuliaanNya dalam hidup anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Tuhan mempunyai kerinduan akan KemulianNya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya akan mulai dengan cerita singkat: Saya memberikan pidato di Wheaton College- alma mater saya—sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu. Ini adalah pengalaman pertama saya di ruang ibadah yang besar, indah, biru dengan lampu dekorasi yang sangat cantik. Dan saya berdiri dan berkata, ”Tujuan akhir yang dimaksudkan Tuhan adalah kemuliaanNya dan kemampuan untuk menikmati kehadiranNya”. Dan semua teman saya yang duduk dibalkon hanya berkomentar,” Ah, masa, dia mengutarakannya pada kesempatan pertamanya di alma mater nya sendiri untuk berkotbah didepan mahasiswa-mahasiswa ini, setelah 20 tahun tidak muncul, dan dia salah mengutip apa yang ditulis Westminster Catechism, dia bilang ”Tujuan utama Tuhan” yang seharusnya ”Tujuan utama manusia”. Dan untuk menenangkan mereka saya terus berkata, ”Saya benar-benar mempunyai maksud seperti itu”. Dan memang saya benar-benar bermaksud demikian pagi ini: Tujuan utama yang diharapkan Tuhan berakhir pada memuliakan Tuhan dan menikmati kehadiranNya, selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tumbuh dari keluarga penginjil. Ayah saya, Bill Piper, mengajari saya tentang 1 Korintus 10:31 semenjak saya masih sangat kecil&amp;amp;nbsp;: ”Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah itu semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Tetapi saya belum pernah mendengar orang yang bilang bahwa Tuhan melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Dan itulah akar dari kehidupan saya untuk kemuliaanTuhan; bahwasanya Tuhan hidup untuk kemuliaanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya tidak pernah melihat hasil karya anak Sekolah Minggu yang dibawa pulang bertuliskan seperti ini, ”Tuhan mengasihi diriNya sendiri lebih besar dari pada kasihNya kepadamu, oleh karena itu satu-satunya harapan adalah mungkin Dia mengasihimu walaupun sebenarnya anda tidak layak untuk mendapatkan kasihNya”. Saya tidak pernah menemukan hal seperti itu di Sekolah Minggu, karena itulah kami benar-benar berkutat dalam pengolahan kurikulum di gereja kami, Gereja Baptis Betlehem. Sebagian besar dari kami tumbuh di rumah dan di gereja, dimana kami benar-benar sangat bersukacita dengan menjadi orang Kristen. Kami pikir Tuhan juga bersukacita tentang kami, bukan sukacita karena fakta tentang Tuhan yang berpusat pada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan sangat mudah terjadi didunia yang berpusat manusia, dimana harga diri menjadi nilai tertinggi, untuk menjadi Kristen sampai tingkat pemahaman bahwa harga diri itu akan menopang apapun yang akan anda lakukan, tanpa pertolongan Tuhan. Siapa yang tidak akan menjadi Kristen? Baik , anda tidak akan menjadi Kristen apabila anda hanya menyukai apa yang akan anda sukai tanpa mempertemukannya dengan keindahan akan pemusatan Tuhan pada diriNya. Jika Tuhan hanya merupakan alat kemajuan anda yang membuat orang kagum pada anda, dan anda tidak melihat apa yang ada dalam diriNya sebagai sesuatu yang mulia selamanya, yaitu, sebagai Tuhan dengan manifestasi kemuliaanNya. Jika anda termasuk orang yang demikian, anda perlu memeriksa kembali perubahan yang terjadi. Ini adalah kenyataan besar yang memang harus diperiksa kembali, disini yaitu di Austin, pada konferensi tentang Kerinduan pada tahun 97. Sedikit orang yang berkata kepada saya tentang apa yang saya lihat di dalam firman Tuhan, bahwa Tuhan telah memilih saya untuk kemuliaanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya ingat saat mengajar dalam kelas pada waktu membahas kitab Efesus 1, pada tahun 1976. Saat itu ada istilah dengan apa yang sebut ”Interim” di Bethel College. Pada saat yang sama saya membahasnya dengan cara saya secara sistematis melalui 14 ayat pertama dari kitab Efesus. Saat itu juga, dengan segera dunia saya terbuka lagi. Karena pada ayat 6 ayat, 12 dan 14, disitu ditulis tiga kali bahwa Dia memilih kita dalam Dia sebelum dunia dijadikan dan Dia menentukan kita menjadi anak-anakNya, ''bagi pujian kemuliaan akan kemurahanNya.'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dia memilih anda. Kenapa? Bahwa kemuliaanNya dan kemurahanNya mungkin akan dipuji dan dikagumi. Keselamatan yang anda miliki adalah untuk kemuliaan Tuhan. Lahir baru yang terjadi dalam diri anda juga untuk kemuliaan Tuhan. Pengampunan yang terjadi juga untuk kemuliaan Tuhan. Pengudusan yang terjadi dalam diri anda adalah untuk kemuliaanNya. Dan suatu hari nanti, kemuliaan anda akan menyerap ke dalam kemuliaan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Anda diciptakan untuk kemuliaan Tuhan''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesaya 43:6, 7 , ”....Bawalah anak-anakKu laki-laki dari jauh, dan anak-anakKu perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan namaKu, yang kuciptakan untuk kemuliaanKu, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Tuhan menyelamatkan umatNya Israel dari Mesir untuk kemuliaanNya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
”Nenek moyang kami di Mesir tidak mengerti perbuatan-perbuatanMu yang ajaib, tidak ingat besarnya kasih setiaMu, tetapi mereka memberontak terhadap yang Maha Tinggi di tepi laut Teberau. Namun diselamatkanNya mereka oleh karena namaNya untuk memperkenalkan keperkasaanNya” Mazmur 106:7 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, Dia membelah Laut Teberau dan menyelamatkan umatNya yang memberontak, sehingga Dia akan memperlihatkan kemasyuran kuasaNya. Kejadian itu telah tersebar di sepanjang jalan menuju Yeriko dan mampu menyelamatkan seorang pelacur, sehingga saat mereka sampai disana dan siap meniup terompet wanita tersebut akan terlahir kembali karena dia berkata,”Kami mendengar akan namaMu dan kemasyuranMu.” Dan satu wanita dan seluruh keluarganya menjadi percaya pada pemusatan Tuhan akan diriNya dan akhirnya luput dari kebinasaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Tuhan menaruh belas kasihan pada Israel ditengah padang belantara untuk kemuliaanNya.''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuhan berulang-ulang menyelamatkan Israel di padang belantara. Kitab Yehezkiel mengutip perkataan Tuhan menulis, ”Tempat kediaman Israel memberontak melawan Aku di padang belantara, danAku berpikir akan menumpahkan amarahKu, tetapi Aku melakukannya demi namaKu dan itu akan menjadi pelajaran bagi bangsa-bangsa.” Dan kemudian Tuhan mengirim mereka pada penghakiman di Babylon, dan setelah 70 tahun kemurahan Tuhan dapat mereka rasakan. Dia tidak akan memisahkan mempelaiNya (umatNya) dan Dia akan membawa mereka kembali. Tetapi kenapa? Apakah motif yang berakar dalam hati Tuhan tentang hal-hal tersebut? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba kita lihat dalam kitab Yesaya 48: 9 ”Oleh karena namaKu aku menahan amarahKu, dan oleh karena kemasyuranKu Aku mengasihani engkau, sehingga Aku tidak melenyapkan engkau. Sesungguhnya Aku telah memurnikan engkau namun bukan seperti perak; tetapi Aku telah menguji engkau dalam dapur kesengsaraan. Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya, oleh karena Aku sendiri, sebab masakan namaKu akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaanKu kepada yang lain. Nah, inilah motif kemurahan yang berpusatkan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yesus datang dan mati untuk kemuliaan Allah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk alasan apa Yesus datang kedunia? Berapa kali kira mengutip Yohanes 3:16. Dan hal yang tertulis dalam ayat itu benar adanya. Sebelum kita selesai hari ini atau besok pagi, anda akan memahami betapa kutipan ayat yang sangat terkenal tersebut bukanlah hal yang aneh dan sia-sia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi, mengapa Dia datang ke dunia? Kenapa Yesus datang? Menurut Kitab Roma 15:8 Dia datang untuk alasan ini: “Bahwa oleh karena kebenaran Allah, Kristus telah menjadi pelayan orang-orang bersunat untuk mengokohkan janji yang telah diberikan-Nya kepada nenek moyang kita. Dan untuk memungkinkan bangsa-bangsa supaya mereka memuliakan Allah.” Kristus telah datang ke dunia, mengosongkan diriNya dan menjadi daging dan kemudian mati sehingga anda akan memuliakan Tuhan karena kemurahanNya. Dia datang karena BapaNya. Itu adalah alasan utama kedatanganNya, untuk kemuliaan BapaNya. Dan kemuliaanNya mencapai puncak tertinggi dalam kemurahanNya yang terus mengalir. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Coba kita renungkan kalimat ini dari Roma 3: ”Tuhan membuat Kristus sebagai persembahan dengan darahNya untuk menunjukkan kebenaran Tuhan. Hal ini terjadi untuk membuktikan bahwa pada masa ini hanya Dia sendirilah yang benar. Karena itulah Dia mati. Dia mati untuk menunjukkan kebenaran Tuhan yang telah terjadi baik masa lampau ataupun masa sekarang. Kita ambil contoh perbuatan dosa yang terjadi pada masa lampau, misalnya saja perbuatan dosa Daud karena menginginkan istri orang lain dan juga dosa Daud karena membunuh. Apakah hal ini pernah mengganggu pikiran anda ketika Tuhan terus membiarkan Daud tetap menjadi raja? Sebenarnya hal itu cukup mengganggu pikiran Paulus sampai batas kedalaman bahwa Tuhan tidak melakukan hal yang benar karena membiarkan dosa berlalu begitu saja. Dan hal itu bukan hanya Daud. Ada ribuan tokoh perjanjian lama dan tokoh masa kini yang yang seakan –akan dosanya tidak diungkapkan dan berlalu begitu saja. Dan Rasul Paulus pun menjerit,”Bagaimana mungkin Tuhan, bagaimana Tuhan yang adalah Tuhan tetapi tetap membiarkan dosa terjadi dan Daud tetap menjadi raja? Bagaimana Tuhan akan menjadi benar ketika ada tokoh Alkitab yang melakukan perbuatan dosa dan kehidupan tokoh tersebut tetap baik-baik saja? Bagaimana Tuhan menjadi adil saat tokoh itu melakukan perbuatan dosanya? Bagaimana Tuhan patut dipuji dan tetap membiarkan kesalahan-kesalahan para tokoh tersebut terjadi? – jika di Austin sendiri bisa memutuskan bahwa Tuhan berada dibatas akhir garis keadilan, jika tokoh tersebut bersih dari tuduhan penganiayaan anak, pemerkosa, pembunuh –dan Tuhan tetap membiarkan kesalahan orang-orang yang melakukannya tiap hari, jadi, Tuhan macam apa ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah solusi yang diberikan kepada permasalahan mega-teologia, sebut saja, ’Bagaimana Tuhan bisa tetap menjadi Tuhan dan mengampuni dosa-dosa?’ Kristus datang untuk menunjukkan aksi Tuhan saat menyelamatkan orang seperti anda. Keselamatan adalah sebuah skenario besar dan mulia yang berpusat pada Tuhan (God Centered) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Yesus akan datang untuk kemuliaanNya''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa Yesus akan datang kembali? Saudara, Yesus akan datang kembali, Dia akan datang. Dan saya ingin memberi tahu saudara untuk apa Dia kembali dan apa yang bisa anda lakukan saat Dia datang, sehingga anda bisa siap. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2 Tesalonika 1:9 dan 10, ”Mereka ini akan menjalani hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan dan dari kemuliaan kekuatanNya, apabila Ia datang pada hari itu untuk dimuliakan diantara orang-orang kudusNya dan untuk dikagumi oleh semua orang percaya.” Apakah anda melihat 2 hal yang disebutkan pada ayat tersebut? Dia akan datang untuk dimuliakan, dimuliakan orang-orang kudusNya dan dikagumi. Jika anda tidak mulai dari sekarang, anda tidak akan bisa melakukannya saat Dia datang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Konferensi ini diadakan untuk menyalakan api dalam diri anda dan memulai percikan api dalam pikiran anda dan di dalam hati anda untuk mempersiapkan diri bagi kedatanganNya, bertemu dengan Yesus Raja, sehingga anda bisa terus mengerjakan apa yang telah Dia siapkan untuk anda kerjakan, misalnya, untuk mengagumi dan memuliakan Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kita harus memuliakan Tuhan seperti Teleskop''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Muliakan Dia, tapi jangan seperti mikroskop. Anda tahu perbedaan antara jenis-jenis perbesaran, bukan? Ada perbesaran yang dilakukan oleh teleskop dan ada pula perbesaran yang dilakukan oleh mikroskop. Memandang kebesaran Tuhan dengan cara seprti mikroskop adalh sebuah penghinaan besar bagi Tuhan. Membesarkan Tuhan dengan cara seperti mikroskop adalah seperti melihat sesuatu yang kecil dan membuatnya lebih&amp;lt;br&amp;gt;besar. Apabila anda melakukan hal seperti itu berarti anda menghina Tuhan. Tetapi berbeda dengan teleskop. Teleskop memasang lensanya dengan perbesaran dan yang tidak bisa dibayangkan dan hanya mencoba membantu kita melihat seperti apa obyek yang ingin kita lihat itu. Itulah gunanya teleskop. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bintang-bintang kecil yang berkerlap-kerlip- coba lihat kelangit waktu malam hari dan bintang-bintang tersebut hanyalah sebesar titik. Tetapi sebenarnya ukuran bintang itu bukanlah sebesar yang kita lihat.. Tahukah anda, anda berada di sebuah College, bukan?Bintang-bintang itu berukuran sangat besar. Dan sangat panas. Tetapi andapun tidak mengetahui kenyataan itu sebelum orang menemukan teleskop. Setelah menggunakan teleskop itu, barulah kita berpikir,”Lebih besar dari dunia tempat kita, berjuta-juta kali lebih besar dari bumi”. Yah, seperti itulah Tuhan. Kehidupan anda ada untuk meneropong kemuliaan Tuhan di tempat anda, dikampus anda. Itu adalah sebuah panggilan yang sangat besar. Besok pagi, saya akan bicara tentang caranya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Jika Tuhan itu adalah Tuhan yang berpusatkan pada Tuhan (God-centered), bagaimana bisa Dia adalah Tuhan yang penuh Kasih?''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah pertanyaan kunci yang ingin saya tekankan lebih lagi, karena saya tahu, pertanyaan ini mulai muncul disini. Saya sudah mengatakan kebenaran ini, bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berpusatkan pada Tuhan dan pemusatanNya itu adalah akar dari pemusatan diri saya pada Tuhan.Saya sudah mengatakan hal itu selama 20 tahun kepada orang-orang, dan pertanyaan itu mulai muncul: ”Kedengarannya ini seperti bukan mengasihi, karena firman Tuhan katakan di 1 Korintus 13:5, ”Kasih itu sabar, murah hati, ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.....Ia tidak mencari keuntungan diri sendiri.” Dan selama lima belas menit yang lalu anda mengatakan bahwa Tuhan menghabiskan waktu untuk mencari diriNya. Jadi 2 hal yang terlihat adalah: ”apakah Tuhan itu memang bukan Tuhan yang mengasihi, atau, anda bohong.” Itu adalah masalah yang sangat besar. Mari , saya akan coba menjawab pertanyaan yang muncul diatas? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Bantuan dari C.S. Lewis''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya temukan kuncinya dalam buku C.S. Lewis. Jika diantara anda ada yang sudah pernah membaca ”Desiring God” maka anda akan mengingat kutipan ini. Lewis sangat terkenal sebagai orang yang tidak mengenal Tuhan sampai akhir usianya 20an dan dia sangat membenci kebesaran Tuhan. Dia mengatakan bahwa setiap kali Lewis memabaca kalimat dalam kitab Mazmur, ”Pujilah Tuhan, Pujilah Tuhan” dan semakin dia mengenal doktrin Kristen yang di inspirasikan oleh kitab Mazmur—dia tahu bahwa sebenarnya dalam kitab tersebut justru Tuhanlah yang berkata, ”Pujilah Aku, Pujilah Aku” dan kedengarannya seperti seorang wanita tua yang mencari kebaikan hatinya. Itu adalah kutipan dari Perenungan pada kitab Mazmur. Kemudian, dengan tiba-tiba Tuhan masuk dalam hidup C.S. Lewis. Dan inilah yang ditulisnya: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Kenyataan yang paling mencolok tentang pujian, baik untuk Tuhan ataupun untuk hal lainnya, secara aneh telah melepaskan saya dari pemahaman semula yang salah. Dahulu saya memikirkan hal itu sebagai sebuah timbal balik, persetujuan atau juga pemberian kehormatan. Saya tidak pernah memperhatikan bahwa semua kenikmatan secara spontan akan mengalir dalam pujian, apabila kita tidak mempertimbangkan perasaan malu dan enggan yang kita miliki. Dunia ini akan semarak dengan pujian: para orang yang sedang jatuh cinta saling memuji, pecinta puisi memuji penulisnya, pejalan kaki memuji keindahan pemandangan yang dilewatinya, para pecandu permainan memuji permainan kesukaannya, memuji cuaca, anggur, makanan, aktor, kuda, kampus, negara, sejarah karakter seseorang, anak-anak, bunga, gunung, perangko langka, serangga langka, bahkan kadang-kadang politisi dan bantuan financial yang diterima. Kesulitan umum saya secara menyeluruh tentang pemujian kepada Tuhan bergantung seutuhnya pada penyangkalan diri kita, dengan sebuah pemikiran kemahakuasaan yang sangat berarti, apa yang menyenangkan untuk dilakukan- bahkan saat diamana kita tidak mampu melakukannya- karena sesuatu hal, kita akan menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat berarti.&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Dan kemudian inilah kalimat kuncinya: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Semula saya berpikir bahwa kita senang melakukan hal-hal yang bisa dinikmati karena kesenangan itu tidak akan lengkap dan nyata sampai kita mengekspresikannya. Bukan berarti hal yang negatif apabila pasangan yang saling mencintai terus menerus saling mengatakan betapa cantik atau baik pasangannya. Kesenangan tidak akan lengkap sampai hal itu disampaikan/diekspresikan.&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Nah, bagi saya itulah kunci yang membuka pertanyaan tentang bagaimana Tuhan bisa menjadi Tuhan yang mengasihi sekaligus menyukai pujian bagi diriNya dalam segala hal yang dilakukanNya. Dengan kata lain, Biarkan saya membantu untuk mengumpulkan potongan-potongan yang sempat tercecer bagaikan puzzle ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Jawaban Pertanyaan yang muncul''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika Tuhan ada untuk mengasihi anda, apa yang harus Dia berikan kepada anda? Dia harus berikan apa yang terbaik buat anda. Andaikan saja Dia memberi anda kesehatan, pekerjaan yang terbaik, pasangan yang terbaik, komputer terbaik, liburan yang paling menyenangkan, sukses terhebat dalam realita apapun, tetapi apabila Dia tidak memberikan diriNya, bisa saja kemudian Dia akan membenci anda. Dan jika Dia berikan Tuhan (diriNya) dengan tidak ada motivasi lain, berarti Dia mengasihi anda selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya harus memiliki Tuhan didalam sukacita saya apabila Tuhan mengasihi saya. Sekarang Lewis mengatakan bahwa jika Tuhan memberikan diriNya kepada anda untuk dinikmati selamanya. Sukacita tersebut tidak akan terwujud sampai anda mengungkapkannya dalam bentuk pujian. Maka dari itu, agar Tuhan mengasihi anda seutuhnya Dia tidak bisa bersikap acuh saja apabila anda tidak membawa sukacita anda untuk diwujud nyatakan melalui pujian. Maka dari itu, Tuhan harus mengharapkan pujian anda karena anda sangat dicintaiNya. Apakah hal ini masuk akal? Saya ragu, haruskah saya mengulanginya lagi? Itulah intisari kehidupan saya. Saya percaya, itu jugalah intisari dari Alkitab. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena Dia mengasihi anda, Dia memberikan yang terbaik untuk anda. Dan Tuhan lah hal terbaik itu. ”Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; dihadapanMu ada sukacita berlimpah-limpah, ditangan kananMu ada nikmat senantiasa” (Mazmur16:11). Tuhan memberikan diriNya kepada kita untuk kesukaan kita. Tetapi Lewis sudah menunjukkan kepada kita bahwa jika kesukaan itu tidak diekspresikan dalam pujian kepada Tuhan, kesukaan itu akan menjadi sangat sempit dan terbatas. Karena itulah Tuhan tidak ingin membatasi kesukaan anda dalam hal apapun, seperti tertulis,”Pujilah Aku. Dalam segala hal yang kau lakukan, Pujilah Aku. Dalam segala hal yang engkau kerjakan, tinggikan Aku. Dalam segala hal yang engkau lakukan carilah kemahakuasaanKu,” yang artinya, bahwa kerinduan Tuhan untuk dimuliakan dan kerinduan anda untuk bersukacita dan dipuaskan bukanlah hal yang aneh dan terpisah. Keduanya adalah satu. Tuhan akan sangat dimuliakan pada saat anda menemukan kepuasan tertinggi dalamDia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, itulah akhir dari percakapan kita pagi ini. Saya akan beritahukan kepada anda apa yang akan kita bicarakan esok hari, sehingga anda bisa mendoakannya dan sehingga anda bisa hadir lagi dalam konferensi ini, dan menyelesaikanpembahasan tentang Tuhan bersama saya karena saat ini pembahasan itu belum selesai. Jika hal ini benar, yaitu jika Tuhan sangat dimuliakan dalam diri anda dan anda menemukan kepuasan tertinggi didalam Dia—dengan begitu tidaka ada lagi ketegangan dan kontradiksi antara kepuasan anda dan kemuliaanNya dalam diri anda—sehingga tugas anda dalam kehidupan anda adalah untuk kesenangan anda. Saya menyebutnya Hedonisme Kristen, dan saya akan menyampaikannya besok. Apakah artinya istilah itu, bagaimana anda bisa melakukannya, dan mengapa hal itu akan mengubah hubungan-hubungan anda, kampus anda, pujian anda, dan kekekalan anda.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:36:15 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kerinduan_akan_ke-Maha_Kuasa_an_Tuhan,_Bagian_Pertama</comments>		</item>
		<item>
			<title>Pengharapan-pengharapan lama</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pengharapan-pengharapan_lama</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Old Expectations}}Ketika Yesus memulai karyanya di bumi, ia memulai dengan “memberitakan injil kerayaan Allah” (Mat. 4:23). Kendati demikian, kita tidak mendapati dalam injil di mana Yesus menjelaskan arti kerajaan surga tersebut. Alasannya sederhana: Yesus tidak perlu menjabarkan apa yang dimaksud dengan kerajaan surga, karena para pendengarnya diwaktu Perjanjian Lama semua sudah terpelajar. Teka-teki bagi mereka adalah untuk mencari tahu bagaimana kedatangan Yesus itu sesuai dengan pengharapan sebagaimana yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Itulah sebabnya kemudian Yesus berkata, “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (Mat. 13:52). Kerajaan Allah, atau kerajaan surga seperti yang disebut dalam injil Matius, adalah sesuatu yang lama dan yang baru. Ini adalah sebuah konsep yang seumur dengan penciptaan itu sendiri, namun dengan kedatangan Kristus, kerajaan Allah sudah datang ke dunia dengan cara yang sangat berbeda. Dalam tulisan ini, kita akan menelusuri akar dari Kerajaan Allah dan menyelidiki bagaimana kerajaan itu diperbarui dan dicapai dalam karya Yesus Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah bermula sejak penciptaan. Allah adalah raja atas segala yang telah diciptakannya, yang berarti bahwa Ia memerintah atas segala sesuatu di bumi di sekeliling kita. Ia berkuasa atas bintang-bintang di langit dan di planet, suatu kekuasaan yang digambarkan dalam kekuasaan sub-ordinasi yang dilakukan oleh matahari dan bulan secara bergantian pada waktu siang dan malam, musim dan tahun. Ia berkuasa atas bumi dan segala mahluk yang ada di dalamnya, suatu kekuasaan yang diberikan melalui mandat kepada Adam dan Hawa untuk memerintah atas ciptaan yang lebih rendah, memenuhi dan menaklukkannya untuk kemuliaan Raja di atas segala Raja, yang dari gambarNya mereka telah diciptakan. Di taman Firdaus, mereka diharuskan untuk taat pada Hukum Raja di atas segala Raja dan tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Bahwa manifestasi pertama dari pemerintahan Allah adalah saat “kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus”, yang disebut oleh Paulus sebagai inti dari Kerajaan Allah dalam Roma 14:17. Namun ketika Adam dan Hawa berbuat dosa, semua itu hilang. Pemerintahan Allah atas ciptaan ditantang dengan tindakan pemberontakan: kebenaran diganti dengan kejahatan, dan akibatnya adalah hubungan yang harmonis dalam damai sejahtera dan sukacita antara raja dan umatNya terputus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, Allah tetap teguh untuk menciptakan kembali pemerintahanNya yang baik atas umat manusia. Untuk itulah maka Ia memanggil Abraham dari keturunan penyembah berhala dan menjanjikan untuk memberinya tanah di mana ia akan tinggal. Pada saat eksodus tersebut, Ia membawa keturunan Abraham keluar dari Mesir dan menyatakan bahwa mereka adalah harta kesayangan Allah sendiri: Israel akan menjadi kerajaan imam, bangsa yang kudus (Kel. 19:5–6). Allah akan menjadi gembala yang baik dan akan menggembalakan mereka di dunia, raja yang akan memerintah dengan bijaksana (Ulangan 17:15). Tuhan akan menjalankan kekuasaan tertinggiNya di seluruh dunia dengan kebenaran dan keadilan demi umatnya sendiri, Israel (Mazmur 99). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa menghadang kekuasaan Tuhan atas Israel, sama seperti sebelumnya dosa menantang kekuasaanNya atas ciptaan. Umat pilihan Allah mau berontak terhadap Dia dan melanggar perjanjian, mencari ilah lain untuk menggantikan Tuhan. Raja-raja yang telah diangkat Allah untuk memimpin umatnya dalam kebenaran malahan menyesatkan mereka, membuat patung bagi mereka untuk disembah. Akibatnya, bukannya kebenaran, damai sejahtera dan sukacita yang dialami bangsa Israel melainkan kutuk perjanjian, dan mencapai puncaknya dengan pembuangan dari tanah perjanjian. Raja di atas segala raja meninggalkan istana kediamanNya di Yerusalem, dan membiarkannya tanpa penjagaan dari serangan musuh-musuhnya. (Yeh. 9–10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, dosa manusia tidak akan pernah mendapat kata terakhir. Bahkan ketika Israel dan Yehuda sedang dibawa pergi untuk diasingkan, para nabi mengumumkan kepastian akan suatu permulaan yang baru, kerajaan yang baru yang akan dibangun di atas perjanjian baru (Jer. 31:31–33). Sebab sesungguhnya Allah akan menciptakan langit yang baru dan bumi yang baru (Yes. 65:17), suatu ciptaan baru yang berarti kembali kepada damai sejahtera dan kemakmuran seperti di Taman Firdaus (Yes. 11:6–9). Tuhan akan mengangkat kembali umatnya dari tanah asing dengan eksodus baru, dan dari bekas tulang-tulang kering Ia akan membentuk Israel yang baru. (Yeh. 37). Umat yang baru ini akan dipimpin oleh seorang raja yang baru yang dipilih sesuai kehendak Allah sendiri (Yeh. 34:23–24) dan bahkan akan mengikutsertakan orang-orang lain bukan Yahudi (Yes. 2:2–4; 56: 6–7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, permulaan yang baru untuk kerajaan Allah ini tidak akan terjadi segera atau secara cepat. Bahkan setelah kepulangan dari pembuangan, umat Israel harus menghadapi peristiwa-peristiwa kecil, mencoba untuk bertahan hidup tanpa raja mereka (Zak. 4:10). Mereka diperingati melalui nabi Daniel bahwa kesudahan alam belum dekat. – masih akan ada perjalanan panjang dan sulit yang harus ditempuh sebelum pemerintahan Tuhan dan orang-orang sucinya dimulai. Kerajaan yang akan datang yang akan mengakhiri semua kerajaan di bumi hanya akan datang setelah waktu yang lama dan berbagai pencobaan dalam sejarah (Dan. 8) . Tahun-tahun pembuangan hanyalah bagian kecil dari masa pencobaan dan kesengsaraan, yang akan berlangsung tidak hanya selama tujuh puluh tahun akan tetapi tujuh puluh kali tujuh tahun (Dan. 9:24; bandingkan dengan Mat. 18:22). Kerajaan Allah akan dimulai dengan kerikil kecil yang kemudian akan bertumbuh menjadi gunung yang akan menguasai bumi (Dan. 2:34–35). Namun pada akhirnya, perlawanan manusiawi atau piritual apapun yang akan menghadangnya, kerajaan Allah pasti akan menang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Yesus tiba dan memberitakan tentang kerajaan Allah, ia berbicara melawan latar belakang dari pengharapan-pengharapan Perjanjian Lama ini. Ia memberitakan tentang kedatangan pemerintahan Allah di bumi dengan cara yang baru dan nyata: Allah sendiri telah datang dan tinggal di antara manusia untuk mencapai misi abadiNya untuk memiliki umat kepunyaanNya. Kedatangannya akan membawa kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus (Luk 4:18–19). Kerajaan Allah telah muncul melalui kedatangan Israel baru, Yesus sendiri. Dalam injil Matius, silsilah Yesus menyatakan bahwa Yesus sebagai Israel baru, keturunan Abraham, anak Daud, anak seorang yang dibuang (Mat. 1:2–16). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seperti Israel, Yesus pergi ke Mesir sebagai seorang anak kecil dan dibawa keluar dengan selamat dari sana (Mat. 2:13–15). Ia dibaptis dan menghabiskan empat puluh hari di padang gurun, sama dengan yang dialami oleh bangsa Israel (Mat. 3–4), sebelum naik ke gunung untuk memberikan Hukum Taurat kepada umatnya (Mat. 5). Kendati Israel gagal dalam pengembaraan di padang gurun, Yesus tetap taat. Yesus telah datang untuk menggenapi Hukum Taurat yang telah menghancurkan Israel (Mat. 5:17). Melalui kematian dan kebangkitannya, Yesus telah menyelesaikan suatu eksodus baru bagi umatNya, melepaskan mereka dari jerat dosa dan kematian (Luk 9:31). Di dalam Dia, umat Allah yang baru – yang mempersatukan bangsa Yahudi, orang Samaria, dan Bangsa-bangsa bukan Yahudi – menjadi suatu kenyataan (Yoh 4; Ef. 2:11–22). Di dalam Kristus, kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam kehadiran Allah sekali lagi terbuka untuk manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, sementara kerajaan Allah datang ke dunia melalui pribadi Yesus lebih dari dua ribu tahun yang lalu, perwujudan akhirnya tetap menjadi pengharapan kita di masa datang. Itulah sebabnya Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya untuk mendoakan kedatangan kerajaan sorga (Mat. 6:10) dan dengan setia menantikannya, kendatipun kedatangannya masih lama (Mat. 25). Pemerintahan Allah telah dimulai, membawa serta damai sejahtera dan sukacita bagi umatNya, tetapi kita belum melihat surga baru dan bumi baru yang diberitakan oleh para nabi. Dalam pengertian yang sangat dalam, dengan kedatangan Kristus, dan khususnya dengan kematian dan kebangkitanNya, pemerintahan atas dunia ini telah dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapinya (Wah. 11:15). Namun demikian, kita belum tiba di Yerusalem baru, yang mencakup Firdaus yang baru, yang membawa semua sejarah manusia ke kesudahan alam. Kendati kita belum bisa melihatnya, akhir dari cerita ini adalah pasti. Batu itu telah menimpa kaki dari sebuah struktur kekuatan zaman ini yang terbuat dari tanah liat dan sedang menuju kehancurannya menjadi debu (Dan. 2:34–35). Untuk semua kemuliaan dan bentuk kegagahan mereka, terdapat tulisan pada dinding mengenai raja-raja dan kerajaan dunia ini – kebinasaan mereka sudah pasti. Kerajaan Allah adalah satu-satunya kerajaan yang akan tetap selama-lamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk sementara, kita menantikan kedatangan kembali raja kita dari surga dengan pengharapan yang penuh semangat. Ia akan datang kembali membawa kepenuhan atas kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus yang merupakan hasil perjanjian dari pemerintahanNya. Ia akan berkuasa atas lautan, atas pria dan wanita dari segala suku, bahasa dan bangsa. Pertempuran yang meyakinkan telah dimenangkan, dan kemenangan telah dinyatakan melalui kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Di dalam Yesus, kerajaan Allah telah datang ke dunia, dan pemerintahanNya akan tetap untuk selama-lamanya.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:36:06 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Pengharapan-pengharapan_lama</comments>		</item>
		<item>
			<title>Laki-Laki Dan Perempuan Diciptakan-Nya Mereka Menurut Gambar Allah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Laki-Laki_Dan_Perempuan_Diciptakan-Nya_Mereka_Menurut_Gambar_Allah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Male and Female He Created Them in the Image of God}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Kejadian 1:26-28''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Berfirmanlah Allah: “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak, penuihlah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pagi ini saya ingin berpikir bersama Anda mengenai tiga hal yang diajarkan dalam teks ini. Pertama ialah bahwa Allah menciptakan manusia. Kedua, Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya. Ketiga, Allah menciptakan kita laki-laki dan perempuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah mungkin untuk memercayai ketiga kebenaran ini dan kita bukan orang Kristen. Bagaimanapun, ketiga hal tersebut memang diajarkan dalam Kitab Suci Agama Yahudi. Karena itu, seorang Yahudi yang benar-benar percaya pada Kitab Sucinya akan menerima kebenaran-kebenaran tersebut. Tetapi sekalipun Anda dapat memercayai ketiga kebenaran tersebut, dan Anda bukan orang Kristen, keseluruhannya menunjuk kepada kekristenan. Kesemuanya meminta penyelesaian yang datang bersama karya Kristus. Itulah yang ingin saya sampaikan, khususnya berkaitan dengan kebenaran ketiga-yaitu bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah sebagai laki-laki dan perempuan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Marilah kita tinjau kebenaran pertama: bahwa manusia telah diciptakan oleh Allah. Saya pikir hal ini meminta suatu penjelasan. MENGAPA Ia menciptakan kita? Kalau Anda membuat sesuatu, Anda mempunyai alasan untuk membuatnya. Tetapi apakah dunia yang kita kenal sekarang ini dapat memberikan penjelasan yang memadai terhadap pertanyaan tersebut? Perjanjian Lama berbicara mengenai manusia yang menyebabkan dunia ini tunduk di bawah kedaulatan-Nya. Perjanjian Lama berbicara mengenai penciptaannya untuk menyatakan kemuliaan Allah (Yesaya 43:7). Perjanjian Lama berbicara mengenai bumi yang dipenuhi pengetahuan tentang kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi apa yang kita lihat? Kita melihat dunia yang memberontak terhadap Penciptanya. Kita lihat Kitab Suci Agama Yahudi diakhiri dengan kisah penciptaan yang sama sekali belum selesai dan pengharapan akan kemuliaan yang masih akan datang. Jadi sekadar memercayai bahwa Allah menciptakan manusia menurut versi Kitab Suci orang Yahudi mengajarkan bahwa Ia memang meminta agar sisa kisah itu diceritakan, dengan kata lain, kekristenan. Hanya dalam Kristus tujuan penciptaan dapat tercapai.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Atau tinjaulah kebenaran kedua, misalnya. Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya. Pastilah hal ini mempunyai suatu kaitan dengan mengapa kita berada di sini. Tujuan Allah dalam menciptakan kita pastilah mempunyai sesuatu yang luar biasa dalam kaitannya dengan fakta bahwa kita bukanlah katak atau kadal atau burung ataupun kera. Kita adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah, hanya kita, dan tidak ada makhluk lain yang diciptakan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi lihatlah kekacauan apa yang telah kita perbuat terhadap kewibawaan luar biasa ini. Apakah kita seperti Allah? Yah, ya dan tidak. Ya, kita serupa dengan Allah, sekalipun kita berdosa dan tidak percaya tentang keserupaannya. Kita tahu hal ini karena dalam Kejadian 9:6 Allah berkata kepada Nuh, ”Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.” Dengan perkataan lain, bahkan dalam dunia di mana dosa melimpah (yang mirip dengan pembunuhan), manusia tetap merupakan gambar Allah. Mereka tidak boleh dibunuh seperti tikus atau nyamuk. Anda mengorbankan hidup Anda bila Anda membunuh manusia (lihat Yakobus 3:9) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, apakah kita telah menjadi gambar Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya? Bukankah gambar itu telah dicemarkan, kadang-kadang sampai tidak dapat dikenali lagi? Apakah Anda merasa bahwa Anda serupa dengan Allah sebagaimana yang seharusnya? Jadi di sini sekali lagi dikemukakan, kepercayaan bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah meminta untuk diselesaikan – dalam kasus ini, suatu penyelamatan, suatu transformasi, suatu bentuk penciptaan kembali. Dan itulah sesungguhnya apa yang dibawa oleh kekristenan. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah; itu bukan hasil pekerjaanmu, jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik...dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef. 2:8-10,4:24). Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya, tetapi kita telah merusakkannya sedemikian rupa sehingga hampir tidak dapat dikenali lagi, dan Yesus adalah jawabannya. Ia datang karena iman, Ia mengampuni, Ia membersihkan, dan Ia memulai sebuah proyek reklamasi (pemulihan) yang disebut penyucian dan proyek itu akan berakhir dalam kemuliaan yang semula dimaksudkan Allah bagi umat manusia. Maka, karena kita tahu bahwa kita diciptakan menurut gambar Allah, dosa dan kerusakan moral kita meminta sebuah jawaban. Dan Yesus adalah jawabannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Kebenaran ketiga dalam ayat-ayat ini adalah bahwa Allah menciptakan kita laki-laki dan perempuan. Dan hal ini juga menunjuk kepada kekristenan dan meminta penyelesaian oleh Kristus. Bagaimana caranya? Sedikitnya dalam dua cara. Cara pertama berasal dari misteri pernikahan. Cara lainnya berasal dari sejarah keburukan hubungan laki-laki dan perempuan dalam dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tinjaulah misteri pernikahan. Dalam Kejadian 2:24, tepat sesudah uraian mengenai bagaimana perempuan diciptakan, Musa (penulis Kitab Kejadian) mengatakan, ”Sebab itu seorang laki-laki akan meniggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Sekarang ketika rasul Paulus mengutip ayat ini dalam Efesus 6:31, ia mengatakan, ”Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dengan jemaat-Nya.” Dan, dengan hal tersebut sebagai petunjuknya, ia menyingkapkan arti dari pernikahan: yaitu bahwa pernikahan adalah lambang dari kasih Kristus kepada jemaat-Nya, yang direpresentasikan dalam posisi kepala dari seorang suami yang penuh kasih kepada isterinya, dan juga lambang dari penyerahan sukarela jemaat kepada Kristus yang direpresentasikan dalam hubungan seorang isteri kepada suaminya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia menyebut Kejadian 2:24 sebagai sebuah “misteri” karena Allah tidak mengungkapkan dengan jelas seluruh maksud-Nya untuk pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan dalam Kitab Kejadian. Dalam Perjanjian Lama ada banyak isyarat dan petunjuk bahwa pernikahan serupa dengan hubngan Allah dengan umat-Nya. Tetapi baru ketika Kristus datang misteri pernikahan diungkapkan secara terinci. Pernikahan dimaksudkan sebagai gambaran perjanjian Kristus dengan umat-Nya, komitmen-Nya kepada jemaat-Nya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah Anda melihat bagaimana Allah menciptakan manusia sebagai laki-laki dan perempuan dan kemudian menahbiskan pernikahan sebagai hubungan di mana seorang laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya dalam ikatan perjanjian komitmen – betapa tindakan penciptaan dan penahbisan pernikahan ini meminta penyataan Kristus dan jemaat-Nya. Mereka meminta kekristenan sebagai penyataan misteri tersebut.&amp;lt;br&amp;gt;Hal ini merupakan pemikiran asing bagi sebagian besar orang, bahkan bagi sebagian besar orang Kristen, karena pernikahan merupakan institusi (lembaga) sekuler dan sekaligus lembaga Kristen juga. Anda menemukan pernikahan dalam semua jenis kebudayaan, tidak hanya dalam masyarakat Kristen. Jadi kita tidak terdorong untuk berpikir bahwa semua pernikahan non-Kristen yang kita ketahui sebagai lambang misterius dari hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Tetapi sebenarnyalah demikian, dan keberadaan kita sebagai laki-laki dan perempuan dalam pernikahan memohon agar Kristus menjadikan diri-Nya dikenal dalam hubungan-Nya dengan jemaat-Nya. Kekristenan menyelesaikan pemahaman kita akan perjanjian pernikahan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkenankanlah saya untuk menggoreskan sebuah gambaran bagi Anda di sini dan memberinya suatu pelintiran yang mungkin tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Kristus akan datang lagi ke dunia ini. Sebagaimana Anda melihat Ia pergi, Ia akan datang lagi, kata para malaikat. Jadi bayangkanlah hari itu bersama saya. Surga terbuka dan sangkakala berbunyi, dan Anak Manusia muncul di awan-awan dengan kuasa dan kemuliaan agung dan bersama puluhan ribu malaikat kudus yang bercahaya bagaikan matahari. Ia mengirimkan mereka untuk mengumpulkan orang-orang pilihan-Nya dari ke empat arah mata angin dan membangkitkan dari antara orang mati mereka yang meninggal dalam Kristus. Ia memberikan kepada mereka tubuh baru dan mulia seperti tubuh-Nya sendiri, dan mengubah kita yang masih tinggal dalam sekejap mata sehingga layak untuk kemuliaan-Nya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Persiapan berabad-abad dari mempelai Kristus (gereja!-jemaat) akhirnya selesai dan Ia menggandeng tangannya, dan menuntunnya ke meja perjamuan. Perjamuan pernikahan Anak Domba Allah sudah tiba saatnya. Ia berdiri di kepala meja dan suatu keheningan turun di antara ribuan orang kudus. Dan Ia berkata, ”Inilah, kekasih-kekasihku, arti daripada pernikahan. Inilah yang menjadi tujuan dari semuanya itu. Inilah sebabnya mengapa Aku menciptakan kamu sebagai laki-laki dan perempuan dan mentahbiskan perjanjian pernikahan. Sejak saat ini tidak akan ada lagi pernikahan dan penyerahan ke dalam pernikahan, karena realitas akhirnya telah tiba dan bayangannya dapat berlalu .” (Lihat Markus 12:25; Lukas 20:34-36 )&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang mari kita mengingat kembali apa yang sedang kita lakukan: kita sedang mencoba untuk melihat bahwa kebenaran ketiga, Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya sebagai laki-laki dan perempuan, menunjuk kepada kekristenan sebagai penyelesaiannya. Dan saya berkata, hal tersebut mewujudkannya dalam dua cara. Cara pertama ialah dalam misteri pernikahan. Penciptaan umat manusia sebagai laki-laki dan perempuan menyediakan kerangka kerja yang diperlukan dalam penciptaan untuk peneguhan pernikahan. Anda tidak dapat menyelenggarakan pernikahan tanpa laki-laki dan perempuan. Dan arti dari pernikahan tidak diketahui intinya atau kepenuhannya sampai kita melihatnya sebagai perumpamaan dari hubungan Kristus dengan jemaat-Nya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi penciptaan sebagai laki-laki dan perempuan menunjuk kepada pernikahan, dan pernikahan menunjuk kepada Kristus dan jemaat-Nya. Dan karena itu, kepercayaan bahwa Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya sebagai laki-laki dan perempuan tidaklah lengkap tanpa kekristenan-tanpa Kristus dan karya penyelamatan-Nya untuk jemaat-Nya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang, saya mengatakan bahwa ada cara lain bahwa penciptaan laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah menunjuk kepada kekristenan sebagai penyelesaian yang diperlukan, maksudnya dari penyimpangannya dalam keburukan bersejarah dari hubungan laki-laki dan perempuan. Perkenankan saya untuk mencoba menjelaskannya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika dosa masuk ke dalam dunia, efeknya pada hubungan kita sebagai laki-laki dan perempuan sangatlah dahsyat. Allah datang kepada Adam setelah ia memakan buah terlarang dan menanyakan mengenai apa yang telah terjadi. Adam berkata dalam Kejadian 3:12, ”Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Dengan perkataan lain, itu merupakan kesalahan perempuan itu (atau kesalahan Allah yang telah memberikan perempuan itu kepadaku!), jadi kalau seseorang harus mati karena memakan buah itu, lebih baik perempuan itu yang mati!&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di sana kita menyaksikan awal dari segala kekerasan dalam rumah tangga, semua penganiayaan terhadap isteri, semua pemerkosaan, semua pelecehan seksual, semua cara untuk merendahkan perempuan yang telah diciptakan Allah menurut gambar-Nya sendiri.&amp;lt;br&amp;gt;Kejadian 3:16 menjatuhkan kutukan kepada laki-laki dan perempuan seperti ini: kepada perempuan itu Allah berkata, “Susah payahmu pada waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Dengan perkataan lain, akibat dari dosa dan kutuk dalam zaman kita ialah konflik antara kedua jenis kelamin tersebut. Ayat ini bukanlah gambaran mengenai bagaimana seharusnya segala sesuatu berlangsung. Ayat ini menggambarkan bagaimana hal-hal akan terjadi di bawah kutuk itu sementara dosa memerintah. Kaum laki-laki yang mendominasi dan kaum perempuan yang penuh tipu daya. Ini bukanlah arti dari laki-laki dan perempuan yang diciptakan dalam gambar Allah. Gambaran ini menunjukkan keburukan dari dosa. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang bagaimana keburukan ini menunjuk kepada kekristenan? Hal tersebut menunjuk kepada kekristenan karena hal tersebut meminta penyembuhan yang dibawa oleh kekristenan terhadap hubungan antara laki-laki dan perempuan. Bila Allah menciptakan dalam gambar-Nya sebagai LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN, hal tersebut mengimplikasikan kesetaraan dari kemanusiaan, kesetaraan martabat, saling menghormati, keharmonisan, komplementer (saling melengkapi), kesatuan tujuan. Tetapi di manakah kesemua hal ini dalam sejarah dunia? Semuanya terdapat dalam kesembuhan yang dibawa oleh Yesus.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ada begitu banyak hal yang ingin dikatakan di sini. Namun, perkenankanlah saya menyebutkan hanya dua hal saja.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.1 Pertama, Petrus mengatakan dalam 1 Petrus 3:7, bahwa seorang suami dan isteri Kristen adalah ”sesama pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.” Apakah maksudnya? Hal itu berarti bahwa dalam Kristus laki-laki dan perempuan mendapatkan kembali apa yang dimaksudkan dengan diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah. Hal itu berarti bahwa bersama-sama sebagai laki-laki dan perempuan mereka harus mengemukakan citra kemuliaan Allah, dan bersama sebagai sesama pewaris mereka mewarisi kemuliaan Allah.&amp;lt;br&amp;gt;Penciptaan manusia sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah (ketika Anda melihatnya berdampingan dengan dosa) memohon penyelesaian untuk kesembuhan yang hadir bersama karya transformasi Kristus dan warisan yang dibeli-Nya untuk orang-orang berdosa. Kristus memulihkan dari dosa realitas bahwa laki-laki dan perempuan adalah sesama pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3.2 Hal lain yang dikemukakan mengenai cara Kristus mengubah berbagai hal dan mengatasi keburukan dari peperangan kita dan memenuhi panggilan sebagai ciptaan-Nya, yaitu laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah, terdapat dalam 1 Korintus 7. Di sana Paulus mengatakan sesuatu yang radikal, sedemikian rupa sehingga hampir tidak dapat dipercayai untuk zaman itu, ”Kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku (melajang)…Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan isterinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi.Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. Semuanya ini kukatakan …bukan untuk menghalang-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi…supaya kamu…melayani Tuhan tanpa gangguan” (1 Korintus 7:8, 32-35).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda melihat apa yang diimplikasikannya? Ayat tersebut mengimplikasikan bahwa kesembuhan yang dibawa oleh Tuhan Yesus kepada laki-laki dan perempuan yang diciptakan menurut gambar Allah tidak tergantung pada pernikahan. Bahkan pengalaman Paulus sebagai seorang laki-laki lajang (dan model Tuhan Yesus sebagai laki-laki yang tidak menikah) mengajarkan kepadanya bahwa ada suatu jenis pengabdian yang sepenuhnya terpusat kepada Tuhan yang mungkin bagi laki-laki atau perempuan yang tidak menikah, yang biasanya bukan menjadi porsi orang-orang kudus yang menikah. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara lain untuk mengatakan hal tersebut ialah sebagai berikut: pernikahan merupakan institusi (lembaga) yang bersifat sementara dalam zaman ini sampai saat kebangkitan orang mati. Inti dari arti dan tujuannya ialah untuk mewakili hubungan Kristus dengan gereja-Nya. Tetapi bila realitas itu tiba, representasi (perwakilan) sebagaimana yang kita ketahui itu akan dikesampingkan. Dan dalam zaman yang akan datang tersebut tidak akan ada lagi pernikahan atau penyerahan kepada pernikahan. Dan mereka yang tidak menikah dan memusatkan diri kepada Tuhan akan duduk di meja perjamuan Anak Domba sebagai sesama pewaris penuh dari kasih karunia kehidupan itu. Dan berdasarkan tingkat pengabdian mereka kepada Tuhan serta pengorbanan mereka, mereka akan mendapat pahala dalam kasih sayang dan hubungan-hubungan serta sukacita yang tidak terbayangkan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi marilah kita menyimpulkan apa yang telah kita pelajari tadi. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1) Allah menciptakan manusia. Dan sebagaimana akhir dari Perjanjian Lama, fakta menakjubkan ini menuntut kelanjutan dari kisahnya, kekristenan, untuk menjadikannya dapat memahami mengenai apa sebenarnya maksud Allah. Tujuan-tujuan penciptaan-Nya tidak sempurna tanpa pekerjaan Kristus.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2) Allah menciptakan kita MENURUT GAMBAR-NYA. Tetapi kita sudah mencemarkan citra tersebut sedemikian hebat sehingga hampir tidak dapat dikenali lagi. Oleh karenanya, kebenaran ini meminta penyempurnaannya dalam kekristenan karena apa yang dilakukan Tuhan Yesus merupakan pemulihan dari apa yang telah hilang. Hal tersebut disebut sebagai ”suatu ciptaan baru dalam Kristus.” Citra atau gambaran ini dipulihkan dalam kebenaran dan kekudusan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3) Allah menciptakan kita menurut gambar-Nya SEBAGAI LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN. Dan hal ini juga meminta penyelesaian dalam kebenaran kekristenan. Tidak seorang pun dapat sepenuhnya memahami apa artinya menjadi laki-laki dan perempuan dalam pernikahan sampai mereka melihat bahwa pernikahan dimaksudkan sebagai gambaran Kristus dengan jemaat-Nya. Dan tidak seorang pun mengetahui tujuan sebenarnya dari penciptaannya sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar (citra) Allah sampai mereka mengetahui bahwa laki-laki dan perempuan adalah sesama pewaris kasih karunia kehidupan. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan akhirnya, tidak seorang pun dapat sepenuhnya memahami arti dari keadaan tidak menikah (kelajangan) sebagai laki-laki dan perempuan menurut gambar Allah sampai mereka belajar dari Kristus bahwa dalam zaman yang akan datang tidak akan ada pernikahan, dan oleh karena itu tujuan akhir yang mulia dari menjadi laki-laki dan perempuan dalam citra Allah tidak tergantung pada pernikahan, tetapi pada pengabdian kepada Tuhan.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karenanya, tinggallah dalam kebenaran-kebenaran ini: Allah menciptakan Anda; Ia menciptakan Anda menurut gambar-Nya; dan Ia menciptakan Anda (sebagai) laki-laki dan perempuan agar Anda dapat sepenuhnya dan secara radikal dan secara unik mengabdi kepada Tuhan.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:56 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Laki-Laki_Dan_Perempuan_Diciptakan-Nya_Mereka_Menurut_Gambar_Allah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Yesus, Wanita, dan Pria</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Yesus,_Wanita,_dan_Pria</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Jesus, Women, and Men}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Lukas 13:10-17'''&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Lalu ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah. Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak: ”Ada enam hari untuk bekerja. Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada hari Sabat.” Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya: ”Hai orang-orang munafik, bukankah setiap orang di antaramu melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Dan waktu Ia berkata demikian, semua lawannya merasa malu dan semua orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukan-Nya.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus telah berbuat lebih daripada siapapun untuk menghantarkan kesucian dan harmoni di antara pria dan wanita. Saya ingin menggambarkan kebenaran ini dimulai dengan bacaan kita untuk kemudian juga menunjukkan hal yang sama dari bagian-bagian lain ajaran-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seorang wanita tengah berada di rumah ibadat pada hari Sabat. Ia bungkuk dan tidak dapat berdiri tegak. Ia berada dalam kondisi ini selama 18 tahun. Yesus juga sedang berada di rumah ibadat. Hari itu Ia-lah yang mengajar. Nah, apa yang terjadi sekarang di sini sungguh luar biasa. Yesus tidak bertanya padanya mengenai penyakitnya. Si wanita pun tidak meminta Yesus untuk menyembuhkannya. Ayat 12-13 hanya mengatakan,”Ketika Yesus melihat perempuan itu, Ia memanggil dia dan berkata kepadanya: ’Hai ibu, penyakitmu telah sembuh.’ Lalu ia meletakkan tangan-Nya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah perempuan itu, dan memuliakan Allah.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sang wanita tidak meminta apapun. Ia tak menjanjikan apa-apa. Ia tidak menghampiri Yesus. Ia tidak menekan tangan-Nya. Yesus bisa saja menyelesaikan ajaran-Nya dan pulang ke rumah dan tak seorangpun akan bahkan memikirkan wanita ini. Akan tetapi Ia berhenti. Ia memanggilnya. Ia mengambil inisiatif dan menaruh perhatian pada wanita ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi di sini Yesuslah yang lebih dulu bertindak. Ada sesuatu yang ingin dikatakan-Nya. Ia ingin menyampaikan sesuatu mengenai hari Sabat dan apa yang dimaksud dengan menjaganya tetap suci. Ada hal yang ingin dikatakannya mengenai kemunafikan para kepala rumah ibadat yang memberi minum lembunya di hari Sabat namun mengecam penyembuhan yang dilakukan Yesus. Dan Ia ingin menyampaikan sesuatu tentang wanita dan pria.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal terakhir inilah yang menjadi perhatian kita sekarang. Ayat 16 merupakan ayat kunci mengenai hal ini: ”Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?” Apabila satu-satunya hal yang ingin disampaikan Yesus sekedar mengenai berbuat baik di hari Sabat ataupun kemunafikan para kepala, Ia cukup berkata,”Bukankah perempuan ini, yang sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis, harus dilepaskan dari ikatannya itu?” Bagaimanapun, bukan itu yang Ia katakan. Ia menyebutnya seorang keturunan Abraham.” ” Bukankah perempuan ini, . . . harus dilepaskan dari ikatannya itu, karena ia adalah keturunan Abraham?”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata-kata tersebut,”keturunan Abraham” dimaksudkan untuk menyampaikan pesan kepada para kepala rumah ibadat. Pesannya kira-kira berbunyi demikian: Alasan terpenting di atas segalanya mengapa Anda harus lebih peduli pada seseorang yang menderita dibandingkan pada seekor lembu haus, adalah kenyataan bahwa wanita ini adalah seorang rekan pewaris dari berkat yang dijanjikan kepada Abraham. Anda membanggakan diri dengan berkata,”Kita adalah anak-anak Abraham.” Nah, wanita itu juga adalah seorang anak Abraham. Anda bersembunyi dari peringatan Yohanes Pembaptis dengan berkata,”Kita memiliki Abraham sebagai bapa kita.” Nah, wanita itu juga memiliki Abraham sebagai bapanya.&lt;br /&gt;
Karenanya pesan dari Yesus bagi para kepala rumah ibadat merupakan pesan yang bukan hanya mengenai penjagaan hari Sabat mereka belaka, pun bukan sekedar tentang kemunafikan mereka, akan tetapi mengenai bagaiman pria dan wanita semestinya berhubungan satu sama lain sebagai rekan pewaris janji Tuhan. Ia berseru kepada para pria di dalam rumah ibadat, dan Ia berseru kepada para pria di gereja saat ini,”Para wanita percaya di tengah-tengah kamu adalah pewaris janji Tuhan. Mereka juga adalah orang yang lemah lembut yang akan memiliki bumi (Matius 5:5). Mereka pun adalah orang-orang benar yang akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.” (Matius 13:43).&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Anda lihat apa artinya ini bagi kita, pria dan wanita di masa sekarang? Para suami  dan para isteri. Para saudara dan saudari. Para kekasih pria dan wanita. Kita semua sebagaimana kita berhubungan satu sama lain sebagai pria dan wanita. Ini berarti kita harus belajar untuk melihat satu sama lain melalui lensa perkataan Tuhan. Inilah yang saya maksudkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Wanita di rumah ibadat ini telah menderita bungkuk selama lebih dari 18 tahun. Bagaimanakah rasanya? Mengerikan. Begitulah rasanya. Orang-orang menatap. Mereka beranggapan Anda telah melakukan sejumlah dosa berat. Anak-anak menertawakan dan mencemooh. Anda tidak sanggup menatap mata siapapun. Orang-orang tidak tahu bagaimana untuk mengajak bercakap-cakap. Anda tidak dapat merasakan hubungan seksual yang normal dengan suamimu. Anda merasa seakan-akan Anda hanyalah sumber rasa malu bagi siapapun yang bersama dengan Anda.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apakah yang Anda lihat ketika melihat wanita ini? Bila Anda adalah suaminya apakah yang Anda lihat? Para suami (marilah kita langsung perbarui ini), apakah yang Anda lihat ketika Anda melihat isterimu? Jawaban untuk itu, tentu saja, bergantung dari kacamata apa yang Anda pergunakan. Apa yang Anda lihat akan teramat berbeda, tergantung dari apakah Anda melihatnya melalui kacamata majalah Playboy atau melalui kacamata Sabda Allah. Jika Anda melihat melalui kacamata Sabda Allah, Anda akan melihat seorang anak Abraham. Kalau kita belajar untuk memandang para wanita Kristen dengan cara yang sama seperti Yesus melihat wanita di rumah ibadat ini, kita akan mendapati mereka sebagai pewaris Raja Kemuliaan. Dan ini akan membawa efek yang begitu mendalam pada hubungan kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tentu saja ini berlaku dua arah. Para wanita bisa saja kecewa pada suami mereka sebagaimana para pria kecewa akan isteri mereka. Para wanita sama sejajarnya untuk berkata negatif mengenai suami mereka. Wanita sama sejajarnya untuk mencoba menjadikan suami mereka sesuai dengan semua hal yang mereka impikan. Dan karenanya perlu juga dikatakan bahwa wanita pun harus belajar untuk memandang pria melalui kacamata Sabda Allah. Ia adalah putera Abraham sebagai seorang yang percaya kepada Kristus. Suatu hari ia akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapanya. Dengan seluruh ketidaksempurnaan ia akan diubahkan dalam sekejap mata: semua dosa akan musnah selamanya; dan ia akan menerima tubuh seperti tubuh Kristus yang penuh kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya rasa, dalam masa-masa mendatang kita akan terheran-heran tatkala kita menoleh ke belakang untuk mendapati betapa parahnya kemampuan kita untuk memperlakukan satu sama lain dalam perjalanan menuju kemuliaan. Kehormatan dan respek dan bahkan kekaguman  seharusnya kita tunjukkan satu sama lain sebagai pria dan wanita. Betapa lebih bahagianya rumah kita bila diisi dengan ekspresi kehormatan ini! Dan rumah kita AKAN diisi dengan ekspresi-ekspresi ini hingga tahapan di mana kita belajar untuk melihat satu sama lain melalui kacamata Sabda Allah – sebagai putera-puteri Abraham; pewaris seluruh janji Tuhan; bersama-sama ditakdirkan atas kemuliaan yang tak terkatakan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah inilah hal yang Yesus lakukan untuk membantu kita kembali menjadi sebagaimana Allah menciptakan kita sebagai pria dan wanita yang mencerminkan citra Allah. Dan Ia melakukannya lagi dan lagi. Karena itu apa yang ingin saya lakukan dalam waktu yang tersisa adalah untuk memberikan lebih banyak gambaran mengenai bagaimana Yesus menolong kita untuk memulihkan kesucian dan harmoni dalam hal pria dan wanita saling berhubungan satu sama lain. Ada lebih banyak hal yang dapat diucapkan selain yang dapat ditulis di sini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Dalam Matius 5:28-29 Yesus berkata,”Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan satu perkataan ini Yesus mengecam segala bentuk pornografi dan seluruh kegiatan mengkomersialisasikan tubuh wanita dalam periklanan dan hiburan dengan cara yang paling mendesak (ancaman neraka). Dapatkah Anda bayangkan betapa besarnya murka di surga berkenaan dengan bisnis milyaran dolar yang melakukan apa yang jelas-jelas dilarang oleh Putera Allah – sebut saja, menggoda pria untuk memandang wanita dengan hasrat seksual – bukan sebagai pribadi, maaf, akan tetapi lebih sebagai objek kesenangan seksual belaka! Dan apa yang begitu jelas disampaikan dalam Matius 5:28f adalah bahwa Yesus Kristus bermaksud menyelamatkan kaum wanita dari gempuran atas hak kemanusiaan mereka ini. Para pria pengikut Yesus menjaga mata mereka untuk kebaikan para wanita dan untuk kemuliaan Allah. Dan para wanita pengikut Yesus menatap pada Yesus mengenai bagaimana menggunakan tubuh mereka, bukannya pada dunia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dalam Matius 7:12 Yesus berkata,”Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Tentunya Anda tidak berpikir bahwa di sini Yesus mengecualikan hubungan antara pria dan wanita – seakan-akan pria dan wanita tidak perlu memperlakukan satu sama lain sesuai dengan aturan emas ini, ya kan? Tidak. Kita seharusnya memperlakukan satu sama lain dengan cara yang sama kita ingin diperlakukan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Amatlah sulit untuk mengatakan sesuatu yang lebih radikal daripada ini. Hubungan-hubungan dikembangkan ketika dua orang manusia hidup dengan aturan emas ini. Alasannya ia begitu revolusioner adalah karena Anda dan saya secara alamiah memiliki hasrat yang begitu besar untuk diperlakukan baik oleh orang lain. Tak seorangpun dalam ruangan ini suka diolok-olok. Tak seorangpun di sini ingin diacuhkan dan diperlakukan seperti orang yang tak berguna. Tak seorangpun mau dieksploitasi dan dimanfaatkan. Ini berarti jika semua orang di ruangan ini hidup dengan aturan emas Yesus, maka tak seorangpun akan diolok-olok oleh orang-orang lain di sini. Tak seorangpun di sini akan diperlakukan seakan-akan ia tidak berguna oleh yang lain. Tak seorangpun di sini akan memanfaatkan yang lainnya. Ukuran cinta kita untuk kebahagiaan kita sendiri adalah ukuran seberapa antusiasnya kita mengejar kebahagiaan satu sama lain. Ini sepenuhnya revolusioner, terutama dalam pernikahan dan hubungan antara pria dan wanita secara umum. Dan itulah yang Yesus perintahkan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Hal paling mengejutkan yang pernah dikatakan Yesus mengenai dosa khusus pria dan wanita adalah kata-kata dalam Matius 18:3,” Sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” Para pria yang bersikap seperti pembuat onar dan para wanita yang bertingkah layaknya wanita genit tak berdaya tidaklah seperti anak-anak. Mereka kekanak-kanakan. Kemiripan dengan anak-anak yang murni dan kerendahan hati, seperti semua yang diajarkan Yesus, adalah revolusioner bagi hubungan antara pria dan wanita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nah, bagaimanakah hal ini terkait dengan kesimpulan kita minggu lalu – bahwa Allah memanggil pria untuk memegang tanggung jawab utama kepemimpinan dalam hubungannya dengan wanita? – bahwa pria bertanggung jawab lebih dulu kepada Allah dalam hal mengambil inisiatif melakukan apa yang dapat dilakukan untuk membuat segala hal berjalan sebagaimana mestinya dalam suatu hubungan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jawabannya adalah: Yesus menghapus kepemimpinan Kristen dalam segala hal yang membuatnya terlihat buruk dan membangunnya menjadi kepemimpinan Kristen yang membuatnya menjadi indah. Ia menghapusnya melalui merendahkan diri; dan Ia membangun ke dalamnya kenyataan tentang pelayanan. Ia berkata,”Barangsiapa merendahkan diri ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Itulah akhir dari keangkuhan dan perendahan diri dalam kepemimpinan Kristen. Dan ia berkata,” Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 20:26). Itulah kunci menuju kepemimpinan indah yang membangun yang lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Akan tetapi, adalah salah bila dikatakan bahwa Yesus menentang konsep kepemimpinan karena Ia menaikkan konsep pelayanan. Kita tahu dari apa yang Ia katakan dan lakukan bahwa ini tidaklah benar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang Ia katakan adalah demikian: ”Pemimpin hendaklah sebagai pelayan” (Lukas 22:26). Tetapi Ia tak pernah mengatakan,”Hendaklah pemimpin berhenti menjadi pemimpin.” Tidak pula Ia berkata,”Melayani membuat para pemimpin tak seberarti pemimpin.” Ia semata-mata berkata,”Ketika kepemimpinan merupakan hal yang tepat, hendaklah itu merupakan kepemimpinan pelayanan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan apa yang dilakukan-Nya adalah mempersembahkan diri sendiri sebagai teladan atas apa yang Ia katakan: pada titik terendah-Nya dalam pelayanan, dengan menggunakan kain Ia membasuh kaki murid-murid-Nya ibarat budak, dan tak seorangpun dalam ruangan itu yang meragukan siapakah yang jadi pemimpin. Dialah sosok yang akan mereka ikuti. Di kakinya – dan, bila mereka mengerti, they would be on theirs! Pelayanan tidaklah menihilkan atau membatalkan kepemimpinan; melainkan mengubah kepemimpinan. Ketika Yesus tergantung di kayu salib, nampak lemah dan sepenuhnya tak berdaya, ia tengah memimpin sebuah kelompok besar menuju kemuliaan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang Yesus lakukan bagi kita adalah: Ia menunjukkan pada kita dan mengajar kita bahwa jika seorang pria mengambil tanggung jawab kepemimpinan berdasarkan kitab Kejadian 2, ia tidak boleh menyalahgunakannya sebagai hak bagi dirinya sendiri; ia harus menerimanya sebagai sebuah tanggung jawab yang diberikan Allah. Bahasa kepemimpinan merupakan bahasa tanggung jawab bukan bahasa hak. Itu adalah tanggung jawab kepemimpinan pelayan, bukannya hak untuk dominasi keangkuhan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah tepatnya ke mana Paulus membawa kita dalam Efesus 5 ketika ia berbicara mengenai para suami yang mengasihi dan memimpin seperti Kristus. Dan ke sanalah kita akan beralih minggu depan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:49 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Yesus,_Wanita,_dan_Pria</comments>		</item>
		<item>
			<title>Jika Tuhan Menghendaki Penyakit, Mengapa Kita Perlu Berusaha Memberantasnya?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Jika_Tuhan_Menghendaki_Penyakit,_Mengapa_Kita_Perlu_Berusaha_Memberantasnya%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | If God Wills Disease, Why Should We Try to Eradicate It?}}Pertanyaan ini timbul dari ajaran Alkitab bahwa segala sesuatu ada di bawah kontrol Allah. &amp;quot;Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan&amp;quot; (Yes. 46:10). &amp;quot;TUHAN melakukan apa yang dikehendaki-Nya, di langit dan di bumi, di laut dan di segenap samudera raya&amp;quot; (Mazmur 135:6). &amp;quot;Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: 'Apa yang Kaubuat?'&amp;quot; (Dan. 4:35) &amp;quot;[Ia] di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya&amp;quot; (Efesus 1:11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini artinya Tuhan mengendalikan semua malapetaka dan penyakit. Setan memang nyata dan punya andil di dalamnya, tetapi ia bukan penentu dan tidak dapat melakukan apa pun kecuali yang Tuhan ijinkan (Ayub 1:12-2:10). Dan Tuhan tidak mengijinkan hal-hal secara serampangan. Ia mengijinkan hal-hal dengan alasan. Ada hikmat yang tidak terhingga dalam segala yang Ia kerjakan dan ijinkan. Jadi apa yang Ia ijinkan adalah bagian dari rencana-Nya sama seperti apa yang Ia lakukan secara lebih langsung. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena itu ini menimbulkan pertanyaan: Jika Tuhan menghendaki penyakit, mengapa kita perlu berusaha memberantasnya? Ini merupakan pertanyaan yang krusial bagi saya karena saya pernah mendengar orang-orang Kristen baru-baru ini berkata bahwa mempercayai kedaulatan Allah menghalangi orang-orang Kristen untuk bekerja keras memberantas penyakit seperti malaria, TBC, kanker, dan AIDS. Mereka pikir logikanya seperti ini: Jika Allah secara berdaulat menghendaki segala hal, termasuk malaria, maka kita sedang melawan Allah jika kita menghabiskan jutaan dolar untuk mencari cara memberantasnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu bukan logika yang diajarkan Alkitab. Dan itu bukan yang selama ini dipercayai Calvinis. Nyatanya, pencinta kedaulatan Allah ada di antara ilmuwan-ilmuwan yang paling agresif yang membantu menaklukkan ciptaan dan membawanya di bawah kekuasaan manusia bagi kebaikannya—seperti kata Mazmur 8:7, &amp;quot;Engkau membuat dia [manusia] berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Logika Alkitab berkata: Bertindaklah menurut &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah, bukan menurut &amp;quot;kehendak ketetapan&amp;quot;-Nya. &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah adalah apa saja yang terjadi. &amp;quot;Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu&amp;quot; (Yakobus 4:15). &amp;quot;Kehendak ketetapan&amp;quot; Allah menentukan Anak-Nya dikhianati (Lukas 22:22), dihina (Yes. 53:3), diolok (Lukas 18:32), disesah (Mat. 20:19), ditinggalkan (Mat. 26:31), ditikam (Yoh. 19:37), dan dibunuh (Markus 9:31). Tapi Alkitab mengajar kita secara gamblang supaya kita ''jangan'' mengkhianati, menghina, mengolok, menyesah, meninggalkan, menikam, atau membunuh orang yang tidak bersalah. Ini adalah &amp;quot;kehendak perintah&amp;quot; Allah. Kita tidak melihat kematian Yesus, yang jelas-jelas dikehendaki Allah, dan lantas menyimpulkan bahwa membunuh Yesus adalah baik dan bahwa kita harus mengikuti para pencemooh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Begitu pula, kita tidak melihat kerusakan yang ditimbulkan malaria atau AIDS dan menyimpulkan bahwa kita harus mengikuti mereka yang tidak berbuat apa-apa. Tidak. &amp;quot;Kasihilah sesamamu manusia&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 22:39). &amp;quot;Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Mat. 7:12). &amp;quot;Jika seterumu lapar, berilah dia makan&amp;quot; adalah kehendak perintah Allah (Roma 12:20). Bencana-bencana yang ditetapkan Allah tidak bertujuan melumpuhkan umat-Nya dengan ketidakpedulian, tetapi menggerakkan mereka dengan belas kasih. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Paulus mengajarkan bahwa ciptaan ditaklukkan kepada kesia-siaan (Roma 8:20), ia juga mengajarkan bahwa penaklukan ini adalah &amp;quot;dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah&amp;quot; (ay. 21). Tidak ada alasan mengapa orang-orang Kristen tidak boleh mengejar panggilan untuk mengangkat kesia-siaan ini sekarang. Allah akan menyempurnakannya pada saatnya kelak. Tapi adalah hal yang baik untuk sebisa mungkin mengalahkan sebanyak mungkin penyakit dan penderitaan sekarang dalam nama Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Malah, saya akan mengibarkan panji sekarang dan memanggil beberapa dari kalian untuk memasuki panggilan riset yang bisa menjadi alat mengatasi penyakit-penyakit besar dalam dunia ini. Ini bukan melawan Allah. Allah berkuasa atas riset sebagaimana Ia berkuasa atas penyakit. Engkau dapat menjadi alat di tangan-Nya. Ini bisa jadi waktunya bagi kemenangan yang dikehendakinya atas penyakit yang Ia tetapkan. Jangan mencoba membaca pikiran Allah dari ketetapan misterius-Nya akan bencana. Lakukan apa yang dikatakan-Nya. Dan apa yang dikatakan-Nya adalah: &amp;quot;Berbuat baik kepada semua orang&amp;quot; (Gal. 6:10). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rindu untuk meringankan penderitaan bersamamu, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:40 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Jika_Tuhan_Menghendaki_Penyakit,_Mengapa_Kita_Perlu_Berusaha_Memberantasnya%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Menjadi Orang yang Berpikir Spiritual?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Menjadi_Orang_yang_Berpikir_Spiritual%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How to Be Spiritually Minded}}Ditulis oleh John Piper &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Artikel ini muncul disebabkan karena alur pikiran saya pada hari Minggu siang terbawa oleh iklan video Apple Computer. Iklan-iklan tersebut lucu. Tetapi saat saya melihat Mac vs PC secara teliti, saya mulai bertanya pada diri saya, apakah sebenarnya saya ini terhanyut jauh dari cara berpikir secara spiritual. Saya percaya bahwa untuk berpikir tentang computer secara spiritual sangatlah mungkin. Tetapi apakah saya berpikir begitu pada waktu menonton iklan tadi? Ataukah saya terbawa kedalam situasi yang begitu indah dan kerinduan yang membuat Tuhan terasa sangat jauh dan Alkitab serasa membosankan dan surga adalah sesuatu yang tidak masuk akal dan neraka adalah sesuatu yang tidak dapat dibayangkan. Saat itu merupakan saat-saat yang sangat kritis. Dan Tuhan menangkap saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Menjadi orang yang berpikir secara spiritual adalah masalah hidup atau mati. Rasul Paulus berkata dalam Roma 8:6, “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Frase “keinginan Roh” diterjemahkan dari frase phronema tou pneumatos- kata benda yang berarti “keinginan Roh”. Tidak ada satupun kata dalam Bahasa Inggris yang artinya sama persis dengan phronema. Kata tersebut tidak hanya berarti “pikiran” tetapi juga “sikap”. Sehingga tidak hanya berarti “serangkaian pikiran” tetapi juga berarti “serangkaian sikap”. Phronema itu adalah kerangka dan susunan pikiran kita. Sehingga apabila kita berkata bahwa kita mempunyai “phronema Roh” berarti kita berkata bahwa Roh itu membentuk susunan sikap-cara berpikir kita seperti sikap-cara berpikir Roh itu sendiri. Hal itu akan meninggikan Kristus dan menghormati Tuhan dan juga menyenangkan Firman Tuhan dan memandang orang dan segala sesuatu dengan kesadaran akan keberadaan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya benar-benar rindu untuk berpikir secara Roh sepanjang waktu. Saya ingin melihat dunia dengan mata spiritual- misalnya saja: computer dan yang lain-lainnya. Sehingga saat ini saya berhenti merenungi computer dan kemudian menuliskan strategi-strategi berikut ini untuk menjadi orang yang berpikir secara Roh dan tetap menjaganya untuk terus berpikir secara Roh. Strategi-strategi ini tidak berada dalam urutan tertentu. Strategi-strategi ini saya tulis secara langsung, begitu ide-ide itu muncul. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sadarilah bahwa manusia lahiriah kita akan pudar dan manusia batiniah harus terus diperbaharui dengan memikirkan hal-hal yang dari atas &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Agar kita tidak kecewa. Walaupun manusia lahiriah kita akan pudar, manusia batiniah kita sedang diperbaharui. Hari demi hari. Dan penderitaan ringan yang hanya sementara ini memang terjadi untuk mempersiapkan kita untuk mendapatkan kemuliaan kekal yang tiada bandingannya, saat kita tidak hanya memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tidak kelihatan adalah kekal. (2 Korintus 4:16-18) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ambil langkah radikal untuk menjaga pikiran anda tetap bersih &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu telah mendengar firman, “Jangan berzinah”. Tetapi aku berkata kepadamu: setiap orang yang memandang perempuan dan menginginkannya sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika salah satu anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (Matius 5:27-29) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Buatlah Tuhan menjadi sumber kesukaan bagi segala sukacitamu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepadaMu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku! (Mazmur 43:4) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara harafiah, “sukacitaku” adalah “kegembiraanku karena ada sukacita”. Saya ambil ini dengan maksud bahwa di dalam seluruh sukacita kita, Tuhan haruslah menjadi kegembiraan dan sumber sukacita itu sendiri. Setiap sukacita haruslah menjadi sukacita di dalam Tuhan. Apabila sebuah sukacita tidak berhubungan dengan siapa Tuhan itu, dan tidak bisa dinikmati lebih dari itu, maka sukacita itu bukanlah sukacita yang berasal dari Roh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandanglah setiap orang yang anda temui seakan-akan anda akan bertemu seratus tahun lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara, di alam maut ia memandang keatas, dan dari jauh dilihatnya Abraham dan Lazarus duduk dipangkuannya. (Lukas 16: 22-23) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilaiNya demikian. (2 Korintus 5:16) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Perhatikan dengan teliti, setiap kejadian, bahkan pada saat yang paling membahagiakan sekalipun, ada luka dan kesedihan di berbagai tempat, di sekitar 10. 000 tempat, sebagian dari tempat tersebut bahkan sangat dekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah hal itu tidak akan menghapus seluruh sukacitacita kita? Lebih baik realistis walaupun harus sedih, daripada berpura-pura bahagia. Tetapi, saya pikir kita tidak harus memilih. Realita dan kebahagiaan dan kesedihan adalah hal-hal yang mungkin terjadi. Karena itulah kenapa Rasul Paulus berkata bahwa dia “berdukacita tetapi senantiasa bersukacita” (2 Korintus 6:10). &amp;lt;br&amp;gt; Coba kita lihat cerita David Brickner (Pemimpin Redaksi Jews for Jesus). Cerita ini mengiris hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa bulan yang lalu, dalam penerbangan pulang dari sebuah meeting, seseorang yang duduk di belakang saya mulai sesak nafas. Sebuah pengumuman yang terdengar dari intercom berbunyi bahwa saat itu diperlukan seorang dokter. Segera sesudah itu seorang dokter dan beberapa suster datang kepada laki-laki itu untuk menolong, tetapi tidak berhasil. Saya mulai berdoa untuk orang itu dan juga untuk istrinya yang duduk disebelahnya. Pilot mengumumkan bahwa karena keadaan darurat untuk pengobatan, pesawat akan mendarat di Edmonton. Saya bisa mendengar hal-hal yang dilakukan dibelakang tempat duduk saya, saat dokter dan para suster secara bergantian melakukan CPR (CPR: pertolongan pernafasan). Apabila anda belum pernah mengalami berada didekat orang yang sekarat walaupun dilakukan usaha pertolongan semacam ini, saya bisa meyakinkan anda bahwa hal itu sama seperti yang kita lihat di TV. Suara udara yang dipaksa keluar dari paru-paru orang itu, suara dan aroma kematian yang bergemerincing mengerikan. Saya mendengar dokter berkata pelan, “Waktu kematian, jam 10.25 pagi.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan kemudian kapten mengumumkan kepada para penumpang bahwa keadaan sudah stabil, berarti penerbangan bisa langsung dilanjutkan ke San Fransisco. Saya tidak tahu berapa banyak penumpang yang menyadari bahwa apa yang diumumkan sebagai keadaan darurat yang telah berlalu sesungguhnya adalah pengumuman tersamar tentang berlalunya kehidupan yan terjadi pada orang dibelakang saya tersebut. Tentunya penumpang disekitar saya tahu. Kemudian, pramugari menarik selimut dan menutupi orang tersebut hingga ke kepalanya. Istrinya, yang masih duduk disebelahnya, terisak-isak dan sangat berduka. Dan setelah itu, para pramugari mulai masuk melewati aisles (gang diantara barisan tempat duduk)….. menyajikan makan siang. Makan siang&amp;amp;nbsp;!? Bagaimana mungkin penumpang di kabin itu bisa makan setelah menyaksiakan kejadian yang baru saja terjadi? Tetapi ternyata mereka bisa. (Jews for Jesus, Newletter, Nopember 2006, hal. 1) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cerita ini adalah perumpamaan dunia yang bisa terjadi kapan saja. Sebagian orang menikmati makan siang, disaat ribuan orang berduka-cita. Cerita ini mengingatkan kita saat kita terhanyut oleh kenyataan yang disajikan oleh iklan-iklan computer. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah peringatan Tuhan Yesus tentang hal-hal yang mematikan kehidupan spiritual kita: kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Firman) Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. (Lukas 8:14) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. (Markus 4:19) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan dengan baik, apa yang harum untuk Tuhan dan apa yang menyukakanNya! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan hiduplah didalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diriNya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. (Efesus 5:2) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus ditengah-tengah mereka yang diselamatkan dan diantara mereka yang binasa. (2 Korintus 2:15) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia tidak suka kepada kegagahan kuda, Ia tidak senang kepada kaki laki-laki; Tuhan senang kepada orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setiaNya.(Mazmur 147:10-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bergaullah dengan orang-orang yang berpikiran spiritual &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Siapa yang bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa yang berteman dengan orang-orang bebal menjadi malang. (Amsal 13:20) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. (1 Korintus 15:33) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bacalah tulisan-tulisan yang spiritual dan memikat tentang Tuhan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai contoh, bacalah kotbah-kotbah dari Jonathan Edward dan John Owen pada Volume Tujuh dalam karyanya Works, On Spiritual Mindedness. Berikut ini adalah contoh judul-judul kotbah dari Vol. 25 pada edisi Yale dalam karya Edward Works, agar anda bisa ‘mencicipi’ berbagai kejadian yang terjadi pada masa itu: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
 “The Great Concern of a Watchman of Souls” (Keprihatinan besar yang dirasakan Penjaga Jiwa)&amp;lt;br&amp;gt; “The Beauty of Piety in Youth” (Indahnya Kepasrahan di Masa Muda)&amp;lt;br&amp;gt; “The Church’s Marriage To Her Sons, and to Her God.” (Pernikahan Gereja dengan Anak-anaknya dan dengan Tuhannya)&amp;lt;br&amp;gt; “Yield To God’s Word, or Be Broken by His Hand” (Berserahlah kepada Firman Tuhan, atau Diremukkan oleh TanganNya)&amp;lt;br&amp;gt; “Saving Faith and Christian Obedience Arise from Godly Love” (Meningkatkan Iman dan Ketaatan Kristen yang Muncul dari Kasih Ilahi)&amp;lt;br&amp;gt; “The Peace Which Christ Gives His True Followers”(Damai yang diberikan Kristus kepada Pengikut SetiaNya)&amp;lt;br&amp;gt; “Men’s Inhumanity to God” (Ketiadaan Belas Kasih Manusia terhadap Tuhan)&amp;lt;br&amp;gt; “Christ is The Heart Like A River to a Tree Planted by It”(Kristus adalah Jantungnya Seperti Sungai bagi Pepohonan yang ditanam ditepinya)&amp;lt;br&amp;gt; “God is Infinitely Strong”(Tuhan benar-benar Kuat, Tidak terbatas) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan Lebih Teliti Hidup anda yang Sebentar Lagi akan Menjadi Kehidupan tanpa Tubuh Jasmani &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi hati kami tabah, dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap bersama Tuhan. (2 Korintus 5:8) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Seberapa eratkah sukacita yang anda miliki menempel pada tubuh jasmani Anda? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pikirkan tentang betapa singkatnya kehidupan ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang hidup adalah seperti rumput, dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya. Inilah firman Tuhan yang disampaikan Injil kepada kamu.” (1 Petrus 1:24-25) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mintalah pada Tuhan agar memiliki cara berpikir secara Roh &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setiaMu, supaya kami bersorak-sorak dan bersukacita semasa hari-hari kami. (Mazmur 90:14) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Para pemazmur berdoa agar mendapatkan hati dan pikiran yang sudah lama mereka rindukan untuk dimiliki &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah bahwa anda mati bersama Kristus dan sudah menyalibkan daging &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. (Galatia 5:24) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kunci paling mendasar untuk memiliki pikiran yang spiritual adalah keyakinan mendalam bahwa anda benar-benar sudah mati dan dibangkitkan bersama Kristus dan bahwa anda sudah diampuni dan dibenarkan di dalam Dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terimalah penderitaan yang sudah dipilih Tuhan sebagai sebuah didikan yang membuat kita berpikir secara spiritual dengan lebih lagi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebab kami mau saudara-saudara, supaya kamu tahu penderiataan yang dialami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan diatas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa, juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati. (2 Korintus 1:8-9) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu sebagai anak. Dimanakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi , jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita beroleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh kekudusanNya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. (Ibrani 12:7-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pergilah ke Rumah Sakit dan berdoalah untuk orang yang sedang sekarat &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pergi ke rumah duka lebih baik dari pada pergi ke rumah pesta, karena dirumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. (Pengkotbah 7:2) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya melakukannya minggu lalu dan pasti selalu ada efek ketenangan yang terjadi yang menghapus keduniawian dari pikiran saya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Resiko yang terjadi&amp;amp;nbsp;: Kita dianggap aneh dan bodoh &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. (Matius 10:25) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sadarlah bahwa jutaan orang yang menganut agama lain di dunia ini tidak sedang mencari orang Amerika yang budayanya lebih keren atau yang mempunyai tehnologi yang canggih. Mereka mencari “orang kudus”, “orang pilihan Allah” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan yang terjadi bukanlah, “Apakah dia cerdas, pandai berbicara dan pintar?” Tetapi pertanyaannya akan seperti ini, “Apakah dia rajin berdoa? Apakah dia memahami Kitab Sucinya dengan sepenuh hatinya? Apakah dia hanya berfokus pada Tuhan dan melakukan penyangkalan diri? Apakah dia menemukan kuat di dalam kelemahannya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang selalu rindu untuk berpikir secara spiritual dengan anda, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Category:Unformatted]]&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:33 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Menjadi_Orang_yang_Berpikir_Spiritual%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Harusnya Kita Memperjuangkan Sukacita?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Harusnya_Kita_Memperjuangkan_Sukacita%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Shall We Fight for Joy?}}1. Memahami kalau sukacita murni di dalam Tuhan adalah suatu berkat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Memahami kalau sukacita harus diperjuangkan dengan tekad yang keras. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bertekad untuk memerangi dosa di dalam hidupmu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Mempelajari dosa/kesalahan yang berulang kali kau perbuat dan bertobat - mencari jalan untuk memerangi dosa sebagai orang yang telah dibenarkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Memahami kalau medan perang yang terutama adalah untuk menempatkan Allah sebagaimana layaknya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Merenungkan Firman Allah siang dan malam hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Berdoa dengan tekun dan terus menerus demi membuka mata hati yang tertuju kepada Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Belajar untuk berkotbah kepada diri sendiri kebanding mendengarkan diri sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
9. Habiskan waktu dengan orang-orang yang mengasihi Allah, yang bisa membantu matamu terfokus kepada Allah dan untuk melawan/memerangi dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
10. Bersabar di mana kamu sepertinya tidak merasakan kehadiran Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
11. Beristirahat dengan cukup dan mengatur pola makan sehat untuk memelihara tubuh yang telah diciptakan and diberi Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
12. Menggunakan wahyu Tuhan secara tepat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
13. Membaca buku-buku rohani yang bagus dan biografi orang-orang suci yang beriman kuat kepada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
14. Rela melakukan hal-hal sulit dan penuh kasih demi kepentingan orang lain (untuk kesaksian injil dan kemurahan hati). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
15. Temukan visi global diri demi kemuliaan Kristus dan berikan dirimu untuk melayani orang yang belum dijangkau dan diselamatkan.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:26 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Harusnya_Kita_Memperjuangkan_Sukacita%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana caranya agar tidak berhala ketika kita memberikan syukur kita kepada Tuhan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_caranya_agar_tidak_berhala_ketika_kita_memberikan_syukur_kita_kepada_Tuhan</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Not to Commit Idolatry in Giving Thanks}}Jonathan Edwards memiliki kata-kata yang rasanya akan lebih memiliki kesan jikalau ia hidup pada jaman ini. Ini ada hubungannya dengan inti dari rasa syukur. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan atas kebaikannya terhadap kita haruslah dilandaskan atas rasa cinta kepada diri Tuhan; tetapi rasa syukur di dalam natur manusia tidak memiliki dasar tersebut. Rasa bersyukur, yang digerakkan dari Cinta akan Tuhan atas kebaikan yang Ia berikan, haruslah selalu berasal dari rasa cinta akan Keagungan Tuhan dalam diri kita.&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, ''Religious Affections'', The works of Jonathan Edwards, Vol. 2, New Haven: Yale University Press, 1959, orig. 1746, p.247.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan kata lain, rasa syukur yang dapat menyenangkan hati Tuhan bukanlah berdasarkan keuntungan (berkat) yang Tuhan berikan (walaupun ini merupakan salah satu penyebab rasa syukur tersebut). Rasa syukur yang sebenarnya haruslah didasarkan atas pemikiran dari kenikmatan atas keindahahan dan keagungan dari karakter Tuhan. Apabila ini bukan landasan dari rasa syukur kita, maka kita tidak berbeda dengan orang yang tidak memiliki karunia roh kudus dan natur baru dari Kristus. Dengan begitu dapat kita lihat bahwa rasa syukur atas Tuhan yang berdasarkan berkat tidak ada bedanya dengan emosi dalam diri orang yang tidak percaya, dimana mereka tidak memiliki hati yang bersyukur kepada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kamu pasti tidak akan menyukai rasa syukur yang saya berikan jikakalau saya selalu berterimakasih atas segala pemberianmu kepada ku tampa mempertimbangkan anda sebagai suatu pribadi. Tentunya anda akan merasa terhina walaupun saya mengucapkan terimakasih yang berulang kali atas pemberianmu. Jikalau karakter dan pribadi-mu tidak memberikanku rasa ketertarikan dan senang bila saya berada dekat denganmu, maka kamu akan merasa telah dimanfaatkan oleh ku, dimana anda bagaikan suatu alat yang dipakai untuk menghasilkan sesuatu yang saya sukai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sama halnya dengan Tuhan. Jikalau kita tidak tertarik kepada pribadi dan karakter-Nya, maka rasa syukur yang kita ucapkan sama seperti rasa syukur seorang istri kepada suaminya yang telah memberikan uang yang dapat ia gunakan untuk berselingkuh dengan orang lain. Ini sejalan dengan gambaran yang diungkap kan dalam kitap Yakobus 4:3-4. Yakobus memberikan kritik terhadap motivasi doa yang memamfaatkan Tuhan sebagai suami dari wanita yang tidak setia: Kamu meminta dan tidak menerima, karena kamu telah meminta dengan alasan yang salah, dimana kamu berfikir kamu akan memakainya untuk kesenanganmu. Ya kamu yang berselingkuh, tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah kekejian bagi allah?” Kenapa Tuhan memanggil orang yang berdoa tersebut penyelingkuh? Ini karena, walaupun mereka berdoa, mereka meninggalkan suami mereka ( Tuhan) dan pergi mengejar pasangan selingkuhnya (dunia). Dan yang lebih keji lagi, mereka menyuruh suaminya (dalam doa) untuk membayar perselingkuhan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lebih heran lagi, kerusakan dinamika rohani ini kadangkala terlihat bila orang bersyukur kepada TUhan yang telah mengirimkan Kristus untuk mati untuk mereka. Mungkin kita sering mendengar orang berkata kita harus bersyukur atas kematian Kristus karena ini menunjukan betapa besarnya harga yang Tuhan taruh kepada kita. Apakah yang melandasi rasa syukur ini? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jonathan Edwards memanggil rasa syukur ini sebagai suatu tindakan yang munafik. Kenapa? Ini Karena: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Pertama-tama, mereka bergembira, dan mereka ditinggikan oleh Tuhan; Seolah-olah Tuhan terlihat sangat mereka kasihi…….. Mereka sangat senang dengan mendengar apa yang Tuhan dan Kristus lakukan kepada mereka.&amp;lt;ref&amp;gt;Jonathan Edwards, ''Religious Affections'', pp. 250-251.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengagetkan untuk mengetahui bahwa hal yang sangat umum sekarang dalam respon kita kepada salip merupakan ungkapan dari natur rasa cinta akan diri sendiri (egois) tampa ada nilai rohani. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita harusnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Jonathan Edwards. Bukankah ia hanya mengungkapkan kebenaran dari Alkitab dimana kita harus melakukan segalanya termasuk berterimakasih kepada kemuliaan dari Tuhan ( 1 Korintus 10:31)? Dan Tuhan tidak akan dapat dimuliakan bila dasar dari rasa syukur kita adalah atas pemberian-Nya bukan berdasarkan keagungan sang pemberi. Jikalau rasa syukur ini tidak berakarkan dari keindahan Tuhan tapi pemberian-Nya, maka ini merupakan berhala yang tersembunyi. Semoga Tuhan dapat memberikan kepada kita hati yang puas akan dirinya yang sesungguhnya; Denagn demikian rasa syukur kita terhadap pemberian-Nya merupakan ungkapan rasa puas kita akan keagungan sang pemberi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Diambil dari John Piper, ''A Godward Life'' (hidup yang mengarah kepada Tuhan) (Sisters, Oregon: Multomah, 1997), 213-214 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Catatan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;noinclude&amp;gt;[[Category:Bahasa Indonesia]]&amp;lt;/noinclude&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:16 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_caranya_agar_tidak_berhala_ketika_kita_memberikan_syukur_kita_kepada_Tuhan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Orang Mati Berjuang Melawan Dosa</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Orang_Mati_Berjuang_Melawan_Dosa</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Dead People Do Battle with Sin}}Terukir pada batang setiap pohon dalam taman Allah ialah kata-kata ini, &amp;quot;Jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah&amp;quot; (Yohanes 12:24). Tiga kata terukir dalam daging setiap orang Kristen: &amp;quot;KAMU ... TELAH ... MATI&amp;quot; (Kol. 3:3). Dan pengakuan sepenuh hati dari setiap orang percaya adalah, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus&amp;quot; (Gal. 2:19). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya ini? Siapa yang mati ketika aku menjadi seorang Kristen? Jawaban: &amp;quot;daging&amp;quot;ku mati. &amp;quot;Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan DAGING&amp;quot; (Gal. 5:24). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi apa artinya &amp;quot;daging&amp;quot;? Bukan kulitku. Bukan tubuhku. Tubuhku dapat menjadi alat kebenaran (Roma 6:13). &amp;quot;Perbuatan daging&amp;quot; adalah hal-hal seperti penyembahan berhala, perselisihan, amarah, dan kedengkian (Gal. 5:20-21) —sikap, bukan cuma perbuatan imoral yang dilakukan tubuh kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang paling mendekati definisi Alkitab tentang daging adalah Roma 8:7-8, &amp;quot;Keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.&amp;quot; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi daging adalah &amp;quot;aku&amp;quot; yang pernah memberontak terhadap Allah. Dalam daging aku berseteru dan tidak taat. Aku benci pikiran bahwa aku sakit karena dosa. Aku menentang ide bahwa kebutuhan terbesarku adalah seorang Tabib Baik untuk menyembuhkanku. Dalam daging aku percaya bijaksanaku, bukan Tuhan. Jadi tidak ada yang aku lakukan dalam daging dapat menyenangkan Allah, karena &amp;quot;tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah&amp;quot; (Ibr. 11:6). Dan daging melakukan sesuatu bukan dari iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi &amp;quot;daging&amp;quot; adalah aku yang mengandalkan diriku sendiri, dan yang tidak beriman. Inilah yang mati ketika Allah menyelamatkanku. Allah menjepit arteri pada hatiku yang membatu. Dan ketika hati ini mati Ia mengambilnya dan memberiku hati yang baru (Yehezkiel 36:26). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa bedanya hati yang baru ini, yang hidup, dengan -yang lama dan mati?- Jawabannya diberikan di Galatia 2:19-20. Dikatakan, &amp;quot;Aku telah disalibkan dengan Kristus. . . Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.&amp;quot; Hati lama yang mati percaya kepada dirinya sendiri; hati yang baru bersandar kepada Kristus setiap hari. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah jawaban atas pertanyaan pertama kita: Bagaimana orang mati berjuang melawan dosa? Mereka berjuang melawan dosa dengan percaya kepada Anak Allah. Mereka mati terhadap tipuan Setan, yang berbunyi seperti ini: &amp;quot;Engkau akan lebih bahagia jika engkau percaya pikiranmu sendiri tentang bagaimana menjadi bahagia, daripada percaya kepada nasehat dan janji-janji Kristus.&amp;quot; Orang Kristen sudah mati terhadap kebohongan itu. Jadi cara kita melawan Setan adalah dengan percaya bahwa jalan dan janji Kristus lebih baik daripada milik Setan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Cara berjuang melawan dosa ini disebut &amp;quot;pertandingan iman&amp;quot; (1 Tim. 6:12; 2 Tim. 4:7). Kemenangan-kemenangan perjuangan ini disebut &amp;quot;pekerjaan iman&amp;quot; (1 Tes. 1:3; 2 Tes. 1:11). Dan dalam peperangan ini orang Kristen &amp;quot;dikuduskan oleh iman&amp;quot; (Kis. 26:18; 2 Tes. 2:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita memikirkan tentang perjuangan iman ini. Bukan seperti perang-perangan dengan peluru karet. Kekekalan menjadi taruhannya. Roma 8:13 merupakan ayat kunci: &amp;quot;Jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Ini ditulis bagi orang-orang Kristen, dan poinnya adalah bahwa hidup kekal kita tergantung pada perjuangan kita melawan dosa. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan berarti kita mendapatkan hidup kekal dengan mematikan dosa. Bukan, &amp;quot;oleh Roh&amp;quot; kita berjuang. Ia akan mendapatkan kemuliaan, bukan kita. Roma 8:13 bukan pula berarti bahwa kita berjuang dengan ketidakpastian kemenangan. Sebaliknya, bahkan ketika kita berjuang kita punya keyakinan bahwa &amp;quot;Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus&amp;quot; (Filipi 1:6). Roma 8:13 juga bukan berarti bahwa kita harus sempurna sekarang dalam kemenangan kita atas dosa. Paulus tidak mengklaim telah mencapai kesempurnaan (Filipi 3:12). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tuntutan Roma 8:13 bukanlah ketidakberdosaan melainkan peperangan sampai mati melawan dosa. Ini sangat penting dalam hidup Kristen. Jika tidak kita tidak memberikan bukti bahwa daging sudah disalibkan. Dan jika daging belum disalibkan kita bukan milik Kristus (Gal. 5:24). Taruhan dalam peperangan ini sangatlah tinggi. Kita bukan sedang bermain perang-perangan. Hasilnya adalah sorga atau neraka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lalu bagaimana orang mati &amp;quot;mematikan perbuatan-perbuatan tubuh&amp;quot;? Kita telah menjawab, &amp;quot;Dengan iman!&amp;quot; Akan tetapi apa artinya? Bagaimana memerangi dosa dengan iman? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalnya saya dicobai oleh nafsu. Gambar seksual muncul dalam otak saya dan mendorong saya untuk mengejarnya. Pencobaan ini mendapatkan kuasanya dengan jalan membujuk saya untuk percaya bahwa saya akan lebih bahagia jika saya mengikutinya. Kuasa segala pencobaan adalah prospek bahwa itu akan membuat saya lebih bahagia. Tak seorang pun berdosa karena terpaksa ketika apa yang mereka sungguh inginkan adalah melakukan yang benar. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi apa yang harus saya lakukan? Beberapa orang akan berkata, &amp;quot;Ingatlah perintah Allah untuk suci (1 Petrus 1:16) dan taatlah karena Ia adalah Allah!&amp;quot; Akan tetapi ada sesuatu yang krusial yang hilang dari nasehat ini, yaitu IMAN. Banyak orang yang berjuang untuk memperbaiki moral tidak dapat berkata, &amp;quot;Hidupku yang kuhidupi sekarang ... adalah hidup OLEH IMAN&amp;quot; (Gal. 2:20). Banyak orang yang berusaha mengasihi tidak menyadari bahwa, &amp;quot;yang mempunyai sesuatu arti hanya IMAN yang bekerja oleh kasih&amp;quot; (Gal. 5:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan melawan nafsu (atau keserakahan atau ketakutan atau pencobaan yang lain) adalah perjuangan iman. Jika tidak akibatnya adalah legalisme. Saya akan berusaha menjelaskan bagaimana kita berjuang melawan dosa dengan iman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika pencobaan oleh nafsu datang, Roma 8:13 berkata, &amp;quot;jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.&amp;quot; Oleh Roh! Apa artinya? Dari semua senjata Allah yang diberikan kepada kita untuk melawan Setan, hanya satu yang digunakan untuk membunuh—pedang. Pedang ini disebut pedang ROH (Efesus 6:17). Jadi ketika Paulus berkata, &amp;quot;Matikanlah dosa oleh Roh,&amp;quot; saya mengartikannya, Bersandarlah kepada Roh, khususnya pedang-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa itu pedang Roh? Itu adalah Firman Allah (Efesus 6:17). Di sinilah iman datang. &amp;quot;Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus&amp;quot; (Roma 10:17). Firman Allah mengiris kabut kebohongan Setan dan menunjukkan kepada saya di mana kebahagiaan yang sejati dan kekal itu berada. Dengan demikian Firman menolong saya berhenti percaya kepada potensi dosa untuk membuat saya bahagia, dan sebagai gantinya mendorong saya untuk percaya kepada janji Allah akan sukacita (Mazmur 16:11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya bertanya-tanya berapa banyak orang percaya sekarang yang menyadari bahwa iman bukan hanya percaya bahwa Kristus mati buat dosa-dosa kita. Iman adalah juga yakin bahwa jalan-Nya lebih baik daripada dosa. Kehendak-Nya lebih berhikmat. Pertolongan-Nya lebih pasti. Janji-janji-Nya lebih berharga. Dan imbalan-Nya lebih memuaskan. Iman mulai dengan menoleh kepada salib, tapi iman hidup dengan menghadap janji-janji. &amp;quot;Abraham diperkuat dalam IMAN-nya ... dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia JANJIKAN&amp;quot; (Roma 4:20 dst.). &amp;quot;Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita HARAPKAN&amp;quot; (Ibr. 11:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika iman menguasai hatiku aku puas dengan Kristus dan janji-janji-Nya. Ini yang dimaksudkan Yesus ketika ia berkata, &amp;quot;Barangsiapa PERCAYA kepada-Ku, ia TIDAK AKAN HAUS LAGI&amp;quot; (Yoh. 6:35). Jika kehausanku akan sukacita dan makna dan semangat dipuaskan oleh kehadiran dan janji-janji Kristus, kuasa dosa dipatahkan. Kita tidak menerima tawaran daging sandwich ketika kita dapat melihat steak di atas panggangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjuangan iman adalah perjuangan untuk terus dipuaskan oleh Allah. &amp;quot;Karena iman maka Musa, ... lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa ... sebab pandangannya ia arahkan kepada upah&amp;quot; (Ibr. 11:24-26). Iman tidak puas dengan &amp;quot;kesenangan&amp;quot; yang sementara. Iman sangat lapar akan sukacita. Dan Firman Tuhan berkata, &amp;quot;Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa&amp;quot; (Mazmur 16:11). Jadi iman tidak akan tergelincir ke dalam dosa. Iman tidak akan gampang menyerah dalam pencariannya akan sukacita maksimum. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Peran Firman Allah adalah untuk memuaskan selera iman akan Allah. Dan dalam mengerjakan hal ini Firman Allah menyapih hati saya dari rasa nafsu yang menipu. Awalnya nafsu mulai mengelabui saya sehingga saya merasa bahwa saya akan kehilangan kepuasan besar jika saya mengikuti jalan kesucian. Tapi kemudian saya mengambil pedang Roh dan mulai berperang. Saya membaca bahwa adalah lebih baik untuk mencungkil mata saya daripada jatuh ke dalam nafsu (Mat. 5:29). Saya membaca bahwa jika saya memikirkan hal-hal yang suci dan manis dan baik, damai Allah akan menyertai saya (Filipi 4:8 dst.). Saya membaca bahwa mengarahkan pikiran pada kedagingan membawa maut, tapi mengarahkan pikiran pada Roh membawa hidup dan damai sejahtera (Roma 8:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan ketika saya berdoa agar iman saya dipuaskan oleh hidup dan damai Allah, pedang Roh mengikis salut gula lepas dari racun nafsu. Saya melihat yang sesungguhnya. Dan oleh kasih karunia Allah, kuasa nafsu yang memikat dipatahkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beginilah orang mati berjuang melawan dosa. Inilah artinya menjadi seorang Kristen. Kita mati dalam arti diri lama kita yang tidak percaya (daging) telah mati. Sebagai gantinya adalah ciptaan baru. Yang membuatnya baru adalah IMAN. Bukan hanya kepercayaan yang melihat ke belakang kepada kematian Yesus, tetapi kepercayaan yang melihat ke depan kepada janji-janji Yesus. Bukan hanya yakin atas apa yang dilakukan-Nya, tetapi juga puas dengan apa yang akan dilakukan-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan taruhan seluruh kekekalan, kita berjuang dalam perjuangan iman. Musuh utama kita adalah Kebohongan bahwa dosa akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Senjata utama kita adalah Kebenaran yang berkata bahwa Tuhan akan membuat masa depan kita lebih bahagia. Dan iman adalah kemenangan yang mengalahkan kebohongan itu, karena iman puas dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian tantangan di depan kita bukan sekedar melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia adalah Allah, tapi kerinduan melakukan apa yang Tuhan katakan karena Ia baik. Tantangannya bukan sekedar mengejar kebenaran, tetapi untuk lebih menginginkan kebenaran. Tantangannya adalah untuk bangun di pagi hari dan merenungkan Alkitab dengan doa sampai kita mengalami sukacita dan damai dalam mempercayai &amp;quot;janji-janji yang berharga dan yang sangat besar&amp;quot; dari Tuhan (Roma 15:13; 2 Petrus 1:4). Dengan sukacita ini di depan kita perintah-perintah Allah tidak berat (1 Yoh. 5:3) dan tawaran dosa akan nampak terlalu singkat dan terlalu dangkal untuk mempesona kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:10 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Orang_Mati_Berjuang_Melawan_Dosa</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Saya Bisa Berubah?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Can I Change?}}&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:35:01 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Dimana Semua Itu Dimulai</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/Dimana_Semua_Itu_Dimulai</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Can I Change?/Where it All Begins}}.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah isu yang beredar, menyatakan bahwa seorang musisi rock besar sudah “lahir baru” (born again). Dapat diperkirakan bahwa reaksi dari komunitas Kristen sangat antusias. Tapi begitu dia menyadari menyebarnya isu itu, sang musisi langsung memutus isu yang beredar: “Belakangan ada kabar yang menyatakan bahwa saya sudah lahir baru. Itu tidak benar. Apa yang saya katakan adalah bahwa saya kembali terikat dengan pornografi (porn again).&amp;quot;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu huruf dapat membuat perbedaan yang cukup besar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya cenderung skeptis ketika saya mendengar figur publik itu sudah lahir baru. Bahkan walaupun orang itu memang menyatakan diri bahwa ia berkomitmen untuk mengikut Kristus, gaya hidupnya jarang merefleksikan keseriusan untuk berubah. Bahkan seringkali tidak ada bukti pertobatan. Tidak ada keterlibatan di dalam gereja lokal. Sebagai masyarakat awam, Joe Six-Pack mengobservasi ketidak-sesuaian ini, dia secara tidak tepat dapat saja menyimpulkan bahwa inilah arti dari lahir baru.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:2-3'''. Apa itu “susu” yang disebut di sini? Mengapa susu murni itu penting untuk pertumbuhan spiritual?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Charles Colson adalah suatu pengecualian. Sebagai seorang mantan pengacara dan tim bantuan presiden dalam masa pemerintahan Nixon, Colson dijebloskan ke dalam penjara karena keterlibatannya di dalam skandal Watergate. Dalam jangka waktu itu, walaupun terkesan mencurigakan, dia menyatakan bahwa dirinya sudah menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Namun hal ini bukanlah suatu usaha dalam rangka mengurangi hukumannya. Pertobatan Colson adalah suatu hal yang murni, seperti yang dibuktikan dalam gaya hidup barunya. Bukunya, Born Again memberikan bukti yang kuat akan perjumpaan pribadinya dengan Injil.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun istilah “lahir baru” sering digunakan dalam budaya masa kini, makna (implikasi teologisnya) sudah mulai menyimpang. Misalnya, ketika seorang mantan petinju kelas berat George Foreman kembali bertanding, para komentator olahraga menyatakan bahwa karirnya sedang “lahir baru.” Seorang politisi yang pernah tenggelam kemudian kembali menjadi popular terkadang sering disebut sedang dalam kondisi lahir baru. Dan banyak orang mempersepsikan kelompok lahir baru sebagai kelompok hiperakfif yang berada di dalam gereja, tanpa menyadari bahwa kelahiran baru adalah suatu persyaratan utama sebelum menjadi bagian dari gereja!&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| “Menjadi seorang Kristen bukan berarti membuat lembaran baru di dalam hidup, melainkan menerima kehidupan baru untuk dijalani.&amp;lt;ref&amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide (Orlando, FL: Ligonier Ministries, Inc., 1988), Chapter I, p. 14.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;-'''Thomas Adams'''}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bahkan seorang Kristen yang dewasa dapat gagal memahami istilah penting ini. Namun apabila kita berharap untuk berubah seperti apa yang dikehendaki oleh Allah, kita harus memulai dari suatu pemahaman dan mengalami proses regenerasi- kelahiran baru. Inilah saat dimana seluruh proses penyucian itu dimulai.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 1 dari pernyataan berikut ini yang paling bisa menggambarkan, dalam pandangan anda, mengenai makna kelahiran baru ?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
❏ Mengambil keputusan untuk memulai kehidupan yang baru&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
❏ Memperbaharui komitmen terhadap Kristus&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
❏ Meminta Allah untuk mengampuni dosa anda dan hidup di dalam hati anda&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
❏ Memberitahu semua teman anda bahwa mereka akan pergi ke neraka&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
❏ Bukan salah satu di antaranya}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Didikan Seorang Farisi  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Istilah “lahir baru” tidak berasal dari jaman Presiden Jimmy Carter. Istilah itu berasal dari Yesus Kristus. Mari menyelidiki di mana Dia mmperkenalkan istilah itu dan bagaimana yang sebenarnya dimaksudkan olehNya seiring dengan usaha kita untuk menyelidiki kitab Yohanes Pasal 3.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Nikodemus adalah seorang Farisi dan anggota dari komite tinggi masyarakat Yahudi yang disebut Sanhedrin. Dia sangat dihormati di Yerusalem sebagai seorang theologian dan seorang pengajar hukum. Dalam kerangka kedudukan dan martabat yang dimiliki olehnya, sangat mengejutkan bahwa Nikodemus mau mengunjungi Yesus secara pribadi. Lagipula, Yesus tidak mengalami pelatihan formal yang sangat dijunjung tinggi oleh Nikodemus dan teman-temannya. Lagipula, guru yang sederhana ini baru saja menciptakan kehebohan di Bait Suci dan memberikan pernyataan bahwa dia mempunyai otoritas yang unik dari Allah (Yoh 2:13-22). Tapi Nikodemus tergugah oleh pengajaran Yesus, dan dia tidak bisa menyangkal mujizat-mujizat yang telah terjadi. Jadi, dengan kerendahan hati, pengajar religius yang terkemuka ini menyebut seorang tukang kayu yang tidak berpendidikan dari Galilea:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. (Yoh 3:2)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Jawaban''': Bukan salah satu di antaranya. Untuk definisi Alkitabiah, teruslah membaca.}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu hal yang bisa dikatakan tentang orang Farisi – bahwa mereka mengetahui pentingnya etiket. Dengan menyebut Yesus dengan “Rabi”, Nikodemus sedang mengekspresikan penghormatan pada status Yesus sebagai seorang guru, sekaligus menampilkan keinginan untuk belajar. Namun, pernyataan yang disampaikan olehnya setelah itu adalah suatu hal yang akan segera disesali olehnya: “Guru, kami tahu….”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan cara yang direkomendasikan untuk memulai percakapan dengan Anak Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus bisa saja mengkonfrontasi Nikodemus karena sikap arogannya dan segera mengakhiri percakapan yang ada. Sebaliknya, Ia memilih untuk menolong Nikodemus untuk melihat betapa terbatasnya pengetahuan yang dimiliki olehnya. Metode yang digunakan oleh Yesus? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kita jarang menganggap pengajaran ini [bahwa manusia tidak bisa masuk ke dalam kerqajaan Allah] dengan serius, mungkin karena hal ini memangkas akar kecenderungan kita untuk menganggap diri kita maha mampu. Hal ini menekankan pengajaran Alkitabiah yang menyatakan bahwa keselamatan kita adalah semata-mata karena anugerah Allah. Satu hal yang dibutuhkan di sini adalah hal yang bahkan kita sendiri tidak bisa melakukannya!&amp;lt;ref&amp;gt;Sinclair Ferguson, The Christian Life (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989), p. 55.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Sinclair Ferguson'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkata kepadamu,” Kata Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.&amp;quot; (ayat 3).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pernyataan yang disampaikan oleh Tuhan Allah membingungkan Nikodemus. &amp;quot;Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?” tanyanya. “Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?&amp;quot; Nikodemus tidak dapat memahami apa yang dimaksud oleh Yesus, dan dia juga tidak terbiasa mendapat perlakuan seperti ini. Biasanya dialah yang memberi jawaban, bukan mencari-cari jawaban. Bahka ia mungkin saja ada di dalam Bait Suci waktu Yesus yang berumur 12 tahun datang dan membuat takjub para pemuka agama dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan olehNya. Namun Yesus sekarang bukan lagi seorang bocah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Renungan Lebih Lanjut:''' baca Matius 19: 23-26. Apa saja yang menjadi persyaratan, selain dari intervensi Allah, bagi seseorang untuk masuk ke dalam kerajaan Allah?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku berkata kepadamu,” Lanjut Yesus, “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah… Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (ayat 5,7). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun Nikodemus memang terkejut. Bahkan pada kenyataannya, ia merasa terguncang. “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” tanyanya. Pada titik ini Nikodemus membutuhkan dua Tylenol. Ditambah dengan perasaan dipermalukan, terutama ketika Yesus mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?? “ (ayat 11-12) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;quot; Kelahiran baru bukan hanya suatu misteri yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun, namun hal itu juga adalah suatu mujizat yang tidak satu orangpun dapat melakukannya.”&amp;lt;ref&amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 20&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Richard Baxter'''}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mudah untuk memandang rendah Nikodemus, namun mari kita menguji diri kita sendiri: Apakah kita memahami apa yang Yesus maksud dengan ‘dilahirkan kembali’? apakah kita terkejut mendengar pernyataan Yesus? Kecuali jika kita sudah pernah mencapai titik dimana, seperti Nikodemus, kita bertanya “Bagaimana hal ini bisa terjadi?”, kecil kemungkinan bagi kita untuk memahami misteri dan keajaiban dari regenerasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Tidak Ada Yang Bisa Dikontribusikan ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Apakah dengan menelaah pernyataan Yesus kata per kata, anda mendapat pencerahan baru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Kamu''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''harus''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''dilahirkan''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''kembali''}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang Yesus sengaja hilangkan adalah semua sugesti yang menyatakan bahwa Nikodemus secara pribadi bertanggung jawab dalam proses kelahiran kembali. Malahan, Ia menyatakan hal yang sebaliknya: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.” (Yohanes 3:6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bagaimana kisah Abraham dalam mendapatkan Ishak dan Ismael menunjukkan kekontrasan antara usaha kita dan Allah? (Lihat Kejadian 21:1-13 dan Roma 9:6-9)}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak sulit untuk memahami mengapa Nikodemus menganggap pernyataan Kristus cenderung membingungkan. Karena orang Farisi cenderung salah sangka dan salah menginterpretasikan Firman, mereka cenderung untuk berusaha membangun kebenaran mereka sendiri dihadapan Allah. Nikodemus dapat menganggap bahwa kelahiran baru (apapun itu maksudnya) melibatkan beberapa usaha atau kontribusi dari pihaknya. Kebanyakan dari kita juga mungkin berpikiran yang sama. Dan hal itulah yang ditantang oleh Yesus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Kamu harus dilahirkan kembali” bukanlah suatu perintah untuk percaya kepada Kristus; itu adalah pernyataan yang mengklarifikasikan apa yang harus Ia lakukan di dalam kita. “Regenerasi adalah suatu perubahan yang dibawa oleh Allah ke dalam diri kita.” Tulis C. Samuel Storms, “bukanlah suatu tindakan otomatis yang dihasilkan di dalam diri kita oleh usaha kita sendiri.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita berhenti sejenak untuk merenungkan implikasi yang mengejutkan dari perkataan Kristus:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
■ Walaupun hal ini sangat penting bagi kehidupan kekristenan, regenerasi tidak bisa dijangkau dengan usaha manusia.&amp;lt;ref&amp;gt;C. Samuel Storms, Chosen for Life (Grand Rapids, MI: Baker Book House, 1987), p. 108.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
■ Allah adalah satu-satunya pemrakarsa dari kelahiran baru; hal ini bukanlah tindakan kooperatif antara dua pihak.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
■ Regenerasi adalah suatu pengalaman yang harus kita alami, namun hanya bisa disediakan oleh Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan karena Nikodemus kurang cerdas sehingga ia menemukan pernyataan Tuhan sangat membingungkan; melainkan karena hal itu membutuhkan perubahan cara pandang (paradigma) di dalam pikirannya. Hal yang dinyatakan oleh Tuhan memberikan pencerahan betapa tidak berdayanya dan sangat bergantungnya ia pada belas kasih Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebelum kita melanjutkan, biarkan saya mengklarifikasi satu hal. Saya bukannya meminimalisir pentingnya pertobatan dan iman. Hal-hal ini harus mencirikan respon kita terhadap regenerasi, dan hal-hal tersebut sangat penting dalam proses perubahan dan kelanjutan dari proses penyucian kita. Namun dari pandangan saya, hal-hal tersebut adalah hasil dari kelahiran baru, bukan hal yang menjadi penyebab kelahiran baru. Teologis A.A Hodge mengingatkan kita untuk terus mempertahankan pandangan Alkitabiah: “apapun yang manusia lakukan setelah regenerasi, kebangkitan dari kematian harus dimulai dari Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| &amp;quot;Suatu malam, ketika saya sedang duduk di dalam rumah Allah, saya tidak begitu menaruh perhatian pada kotbah yang disampaikan, karena saya tidak mempercayai apa yang sedang disampaikan. Tiba-tiba suatu pemikiran mendatangi saya, ‘Bagaimana kamu menjadi seorang Kristen?’ Saya mencari Allah. ‘Tapi bagaimana kamu bisa memutuskan untuk mencari Allah?’ Suatu kebenaran tersirat di dalam pikiran saya sesaat – Saya tidak mungkin mencari Allah kecuali ada suatu hal yang mempengaruhi pemikiran saya yang membuat saya memutuskan untuk mencari Allah. Saya berdoa, piker saya, namun kemudian saya bertanya kepada diri saya sendiri, Bagaimana saya bisa memutuskan untuk berdoa? Saya berdoa karena telah dipengaruhi oleh Kitab Suci ketika saya membacanya. Bagaimana saya bisa membaca Kitab Suci? Saya memang membacanya, tapi apa yang menuntun saya untuk membacanya?. Lalu dalam waktu yang singkat, saya menyadari bahwa Allah ada dibalik semuanya itu, dan bahwa Ia adalah pencipta dari iman saya. Lalu seluruh doktrin dari anugerah dibukakan bagi saya, dan saya tidak pernah beranjak dari doktrin tersebut sampai saat ini., dan saya berkeinginan untuk menjadikan hal ini kesaksian tetap saya, ‘Saya menyatakan bahwa Allah adalah penyebab utama perubahan diri saya.’&amp;lt;ref&amp;gt;Charles Spurgeon, Autobiography, 1 (Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1962), pp. 164-65.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Charles H. Spurgeon'''}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertimbangkan hal ini baik-baik. Sadari bahwa transformasi radikal itu dibutuhkan, dan betapa tak berdayanya kita untuk menghasilkan hal itu. Regenerasi adalah karya Allah. Sebagaimana dinyatakan oleh J.I Packer, “Hal itu bukanlah suatu perubahan yang dapat diciptakan oleh manusia, sebagaimana halnya seorang bayi tidak bisa berkontribusi dalam proses pembuahan dan kelahirannya.” &amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, God’s Words (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981), p. 151.&amp;lt;/ref&amp;gt; Kita tidak lahir dari “keinginan seorang laki-laki… melainkan dari Allah” tulis Yohanes (Yohanes 1:13).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Suatu sifat dasar yang mengandung kebenaran sudah diimpartasikan, yang di dalamnya Allah adalah satu-satunya pengarang utama. Sebagai tambahan, kita mendapat kepastian bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Fil 1:6). Ini adalah suatu hal yang menggembirakan! &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Renungkan Titus 3:4-7'''. Mengetahui sumber dari keselamatan kita (ayat 5) memperkuat harapan kita terhadap kehidupan kekal (ayat 7).}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak perlu lagi khawatir apakah kehendak pribadi dan disiplin diri kita pribadi sudah cukup. Hal itu tidak cukup. Diubahkan menjadi gambar Allah bukanlah semata-mata tergantung pada kemampuan kita. Namun, kita bisa yakin akan pertumbuhan rohani kita karena Allah-lah yang akan bekerja di dalamnya. Ia telah meletakkan suatu kecenderungan baru di dalam kita, suatu hasrat untuk mengejar kebenaran. “Hal ini.” Menurut J. Rodman Williams, “adalah mukjizat terbesar yang pernah dialami oleh seseorang.”&amp;lt;ref&amp;gt;J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II: Salvation, The Holy Spirit, and Christian Living (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1990), p. 37.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Datanglah Hidup yang Baru ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa yang terjadi ketika kita mengalami kelahiran baru?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
J.I Packer menyatakan bahwa kata regenerasi “menandakan permulaan baru di dalam hidup.. hal itu menampilkan renovasi kreatif yang dibuat dengan kuasa Allah.”&amp;lt;ref&amp;gt;J.I. Packer, God’s Words, pp. 148-149.&amp;lt;/ref&amp;gt; Ketika Allah meregenerasi Anda, Ia memanggil Anda untuk menjadi suatu hal yang belum pernah ada sebelumnya. Alkitab menggambarkan hal ini sebagai dengan cara: “Sebab Allah yang telah berfirman: &amp;quot;Dari dalam gelap akan terbit terang!&amp;quot;, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.” (2 Korintus 4:6). Kesejajaran di sini yang kita liat antara regenerasi kita dan proses penciptaan adalah suatu hal yang disengaja. Regenerasi kita juga merupakan suatu tindakan kreatif Allah. Allah yang sama yang menyatakan, “Jadilah terang”, berbicara pada kita suatu waktu dan berkata, “Datanglah hidup yang baru.” Dan memang hidup itu sungguh nyata adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:23'''. Bagaimana analogi ini menambah pemahaman anda mengenai kelahiran baru?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kelahiran baru juga bisa dilihat sebagai suatu kebangkitan. Walaupun kita sudah mati di dalam dosa dan tidak mampu untuk mengubah kondisi ini, sekarang kita sudah dibangkitkan oleh Allah dengan karya regenerasi dari Roh Kudus. Teolog R.C Sproul menjelaskan hal ini dengan lebih terperinci: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Berikut ini adalah situasinya: anda adalah pakar anak muda yang melakukan konseling bagi anak-anak dengan gangguan mental yang langka –mereka tentu saja yakin kalau mereka lahir karena usaha mereka sendiri. Kecemasan seperti apa yang menurut anda dapat mereka rasakan sebagai hasil dari pemikiran seperti ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(Apakah kecemasan yang sama bisa muncul di dalam diri orang Kristen yang tidak memahami peran Allah dalam regenerasi?)}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Roh memperbaharui hati manusia, membangkitkan hati kita dari kematian spiritual. Orang-orang yang sudah mengalami regenerasi adalah ciptaan-ciptaan baru. Dimana sebelumnya mereka tidak mempunyai kecenderungan, keinginan, atau hasrat untuk hal-hal yang berkaitan dengan Allah, kini mereka memiliki kecenderungan hati kepada Allah. Di dalam regenerasi, Allah menanamkan hasrat akan DiriNya sendiri di dalam hati manusia, yang tidak mungkin terjadi kecuali melalui proses ini.&amp;lt;ref&amp;gt;R.C. Sproul, Essential Truths of the Christian Faith (Wheaton, IL: Tyndale House, 1992), pp. 171-172.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Orang mati tidak bisa campur tanan dalam proses kebangkitan dirinya,” menurut W.G.T. Shedd.&amp;lt;ref&amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter III, p. 19.&amp;lt;/ref&amp;gt; Jikalau bukan karena karya anugerah Roh Kudus, yang memberikan kepada kita kehidupan yang baru beserta segala kecenderungan dan keinginan untuk menyenangkan, melayani, mematuhi, dan memuliakan Allah, kita masih mati secara spiritual dan bertindak kejam kepada Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Regenerasi berbeda dengan sisi-sisi lain di dalam keselamatan kita. Contohnya, jika pembenaran mengubah status legal kita di mata Allah (di sini kita dinyatakan sebagai orang yang benar, bukan orang yang bersalah), regenerasi mengubah kecenderungan dasar kita. Perubahan internal ini sangat radikal dan ekstensif sehingga kita disebut sebagai ciptaan-ciptaan baru. Gambar Allah yang rusak ketika kejatuhan Adam dan Hawa, kini kembali dipulihkan lewat kelahiran baru dan secara progresif diperbaharui lewat penyucian. Namun, berbeda dengan penyucian, regenerasi bukanlah suatu proses. Hal ini tidak terjadi secara bertahap dan lewat derajat-derajat tertentu. Hal ini adalah kuasa dan karya instan Allah di dalam hidup kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Regenerasi adalah suatu perubahaan yang dapat diketahui dan dirasakan: dapat diketahui dari dampak kekudusan dan dapat dirasakan lewat pengalaman yang penuh anugerah.”&amp;lt;ref&amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 17.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Charles H. Spurgeon'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah paham akan apa yang baru saja saya katakan. Tidak semua orang mengalami regenerasi dengan cara yang dramatis seperti yang dialami oleh Paulus. Ia adalah seseorang yang dibutakan secara supernatural selama tiga hari dan mendengar suara yang langsung dari surga. Namun Paulus bukanlah satu-satunya orang yang lahir baru di dalam Kisah Para Rasul. Ketika Lidia mendengar Injil saat dia sedang mengikuti persekutuan doa wanita, “Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus” (Kis 16:14). Inilah perbedaannya. Mata Paulus dibutakan sementara, dan hati Lidia secara diam-diam dibukakan oleh Allah. Pengalaman yang berbeda, namun hasil yang dihasilkan sama persis adanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Siapa yang membuat seorang manusia kudus? (Ibrani 2:11) Pada tahap penyucian manakah Ia bertanggung jawab? (Ibrani 12:2)}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Terkadang kita tergoda untuk mengukur sejauh mana kebenaran suatu pertobatan berdasarkan kejadian-kejadian yang mengiringi pertobatan itu. Semua orang sangat menyukai pengalaman pertobatan dari seorang pemimpin gerombolan orang jahat atau pengedar narkoba yang hidupnya diubahkan secara dramatis. Namun misalnya anda adalah Lidia. Anda sedang mengendarai mobil anda suatu hari, mendengarkan rekaman kaset yang dipinjamkan orang lain, lalu dengan tanpa disaksikan oleh siapapun, Allah dengan lembut membuka hati anda. Anda tidak mendengar suara apapun, dan mobil anda tidak terpelanting di jalan. Tidak ada hal yang dramatis. Namun begitu anda sampai di tempat kerja anda, anda mengetahui, meskipun anda tidak menjabarkannya dengan kata-kata, bahwa suatu hal yang signifikan telah terjadi. Anda berbeda. Anda sudah dilahirkan kembali.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mendapat kehormatan untuk dapat mengunjungi tempat di Inggris dimana John Wesley dilahirkan kembali. Pertimbangkan pernyataan sederhana yang ia katakan pada saat itu: “Saya merasakan kehangatan di dalam hati saya secara misterius.” Nyaris tidak ada orang yang akan mengatakan bahwa pengalaman itu adalah suatu pengalaman yang menguncangkan, namun kebenaran dan pengaruh dari regenerasi John Wesley tidak bisa disangkal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 4 Di bawah ini, gambarlah suatu tahapan di dalam hidup anda, dimulai dari saat anda lahir sampai pada saat ini. Lalu, beri tanda kapan anda mengalami setiap kejadian ini: regenerasi, pembenaran, penyucian, pertobatan, dan iman. Apa yang terjadi pada momen spesifik tersebut? Manakah yang masih berlangsung sampai saat ini?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik itu secara diam-diam maupun dramatis, setiap kelahiran baru memiliki kesamaan dalam hal ini: kelahiran baru secara eksklusif dan sepenuhnya merupakan karya Allah. Alur cerita dan karakter-karakter yang terlibat di dalamnya mungkin saja unik. Namun intinya tetaplah sama. Kita adalah ciptaan-ciptaan baru. Yang lama telah berlalu, yang baru telah datang.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Keputusan yang Sia-Sia ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita menemukan Yohanes memuat pernyataan-pernyataan penting yang terkait dengan regenerasi tidak hanya di dalam kitab yang ditulis olehnya sendiri. Mari kita mengakhiri dengan memperhatikan pernyataan ini: Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. (1 Yoh 3:9).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda pernah membaca ayat ini dan merasa bingung? Ayat ini tidak memiliki maksud seperti apa yang ditulis di dalamnya .. bukan? Hanya segelintir orang yang bisa bertahan satu atau dua jam tanpa berbuat dosa dalam satu atau lain hal. Mungkin maksud sebenarnya dari ayat ini salah diterjemahkan. Atau di lain pihak, kita kawatir, Bagaimana kalau itu benar? Sepertinya itu bukan seperti pengalaman saya… apa ini artinya saya belum “dilahirkan kembali”?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yohanes tidak bermaksud menyatakan bahwa orang Kristen yang benar tidak mungkin lagi berbuat dosa. Hal ini dapat dibuktikan dari pasal pertama dari kitab ini, dimana ia menulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1Yoh 1:8). Tidak—dosa masih hadir di tengah keberadaan kita, dan walaupun dominasi dosa di dalam kehidupan kita sudah dihancurkan, kita masih bisa rentan terhadap pengaruhnya setiap saat. Namun ketika Yohanes menyatakan bahwa mereka yang dilahirkan dari Allah “tidak dapat berbuat dosa.” Yohanes mau menunjukkan bahwa regenerasi membuat kita tidak mampu terus menerus berbuat dosa.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maksud Yohanes dalam pasal ini, menurut Anthony Hoekema adalah bahwa orang Kristen “tidak terus melakukan dan menikmati perbuatan dosa… Orang tersebut tidak bisa terus menikmati saat-saat dimana ia melakukan perbuatan yang berdosa, dan tidak mampu untuk terus hidup dalam kubangan dosa.” &amp;lt;ref&amp;gt;Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), p. 100.&amp;lt;/ref&amp;gt; John R.W Stott merangkum hal ini dengan cara yang sederhana: “orang percaya mungkin jatuh di dalam dosa, namun ia tidak akan berjalan di dalam dosa.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah anda melihat adanya perbedaan di antara keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Regenerasi timbul pertama kali di dalam area utama di dalam hidup manusia. katakan, hati atau roh-nya. Pada tingkatan terdalam di dalam keberadaan manusia, ada suatu perubahaan yang sungguh-sungguh.&amp;quot;&amp;lt;ref&amp;gt;J. Rodman Williams, Renewal Theology, Volume II, p. 50.&amp;lt;/ref&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''J. Rodman Williams'''}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Misalkan saya bertindak bodoh untuk menguji pernyataan Yohanes dengan membuat keputusan pribadi: “dalam jangka waktu 6 bulan ke depan saya akan menampilkan gaya hidup yang penuh dosa.” Hal ini jelas bukan sesuatu yang saya inginkan atau rekomendasikan. Namun, saya juga tidak percaya kalau saya bisa menjalankan keputusan seperti itu. Mengapa? Karena saya sudah dilahirkan dari Allah. Sekarang saya mempunyai hati yang baru, hidup yang baru, dan kecenderungan baru untuk mengejar kebenaran dan menyenangkan hati Allah. Walaupun saya masih melakukan dosa, namun karena kuasa ini, saya tidak mempunyai kemampuan untuk mengabdikan diri saya pada dosa dan terus melakukan perbuatan berdosa. Saya tidak akan mampu menikmati gaya hidup yang penuh dosa. Hanya tindakan ilahi yang mampu melakukan hal seperti ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|'''Renungkan Efesus 4:22-24'''. Apa yang menandakan “hidup yang baru” yang ada di dalam kita melalui proses regenerasi?}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita tidak akan merasa putus asa atau rentan di dalam perjuangan harian kita dengan dosa. Kita tidak ditakdirkan untuk terus berjalan dalam ketidaktaatan dan kekalahan. Allah secara internal, supernatural, dan mendasar telah mengubah kita. Sekarang kita memiliki hasrat dan kemampuan untuk menyenangkan hatiNya sepanjang hidup kita. Dengan didorong dan dibawah kuasa anugerah Allah, kita dapat memperolah perubahan yang progresif sepanjang hayat kita.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah awal dari proses penyucian—di dalam perasaan aman dan keyakinan bahwa kita telah dilahirkan kembali, bukan oleh usaha pribadi kita namun oleh kuasa dan kehendak dari Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Diskusi Kelompok ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kata-kata apa saja yang mungkin digunakan oleh non Kristen untuk menggambarkan orang Kristen yang “lahir baru” pada umumnya?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Apa penyebab yang paling mungkin mengapa pertobatan kalangan selebriti cenderung palsu?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Thomas Adams menulis, “Lenyapkan misteri dari kelahiran baru dan anda telah melenyapkan keagungannya.”&amp;lt;ref&amp;gt;Quoted in R.C. Sproul, Born Again: Leader Guide, Chapter II, p. 16.&amp;lt;/ref&amp;gt; Apa yang membuat regenerasi begitu misterius?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Apakah sulit bagi anda untuk percaya bahwa hanya Allah saja yang bertanggung jawab terhadap kelahiran baru anda?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Jika Lidia dan Paulus mewakili dua kutub ekstrim dari pengalaman kelahiran baru, dimana posisi anda? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Diskusikan gambaran waktu yang anda buat. Apakah ada pertanyaan mengenai tahapan keselamatan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
7. Baca Ibrani 12:2. Bagaimana “jaminan tanpa syarat” ini mempengaruhi pendapat anda mengenai pengudusan?&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
8. Apakah bagian ini memicu pribadi anda untuk memiliki pandangan berbeda mengenai kelahiran baru? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Bacaan yang Direkomendasikan  ===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
The Christian Life by Sinclair Ferguson (Carlisle, PA: The Banner of Truth Trust, 1989) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
God’s Words by J.I. Packer (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 1981) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=== Referensi===&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;references /&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:34:53 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/Dimana_Semua_Itu_Dimulai</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Bagaimana Menggunakan Buku Ini</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/Bagaimana_Menggunakan_Buku_Ini</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Can I Change?/How to Use This Book}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Saya Bisa Berubah?, seperti setiap buku dalam seri ''Pursuit of Godliness'', buku ini dirancang untuk penggunaan berkelompok maupun individual. Seri ini secara logis didasari oleh empat keyakinan mendasar:&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Alkitab adalah dasar kita yang terutama dalam hal iman, doktrin, dan praktek. Mereka yang menolak kewenangan Alkitab akan digoncang oleh perasaan mereka sendiri dan oleh tren-tren budaya yang ada. &lt;br /&gt;
*Pengetahuan tanpa penerapan secara nyata adalah suatu hal yang sia-sia. Agar bisa diubahkan, kita harus menerapkan dan terus melatih diri kita untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Firman Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. &lt;br /&gt;
*Penerapan terhadap prinsip-prinsip ini adalah suatu hal yang mustahil jika dilakukan tanpa penyertaan dari Roh Kudus. Walaupun kitalah yang ambil bagian dalam proses perubahan, namun dari Dia-lah kuasa untuk melakukan perubahan itu berasal. &lt;br /&gt;
*Gereja diperuntukkan Allah sebagai wadah untuk perubahan. Allah tidak pernah menginginkan kita untuk hidup memisahkan diri dengan orang percaya lainnya. Lewat partisipasi yang penuh komitmen di gereja lokal, kita menemukan petunjuk, penghiburan, koreksi, dan kesempatan-kesempatan untuk menuju kedewasaan rohani dalam Kristus.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saat anda membaca buku ini, kami percaya bahwa dasar-dasar keyakinan ini akan diperkuat di dalam hati anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selain pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam “Diskusi Kelompok”, format dari buku ini cocok untuk pengunaan secara individual atau dalam kelompok kecil. Berbagai elemen yang bervariasi sudah ditambahkan ke dalam setiap perikop agar pembahasaan dapat lebih menarik. Bagi anda yang belum dipuaskan oleh pembahasan di setiap perikop, kami sudah membuat daftar buku-buku tambahan yang dapat anda baca pada akhir pembahasan, untuk menolong anda agar dapat lebih bertumbuh di dalam Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika anda tergugah untuk mulai mempraktekkan hal-hal yang dituliskan di dalam buku ini, bagaimanapun diskusi kelompok akan lebih efektif untuk dilakukan apabila setiap anggota kelompok sudah membaca materi yang ada lebih dahulu. Dan ingatlah bahwa anda tidak akan pernah membaca buku ini sendirian. Roh Kudus adalah pembimbing anda. Dengan pertolonganNya, buku ini mempunyai potensi untuk mengubah hidup anda.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:34:40 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/Bagaimana_Menggunakan_Buku_Ini</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Saya Bisa Berubah?/ Pendahuluan</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/_Pendahuluan</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Can I Change?/Foreword}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya SMP, ada suatu peraturan yang menyatakan bahwa semua anak harus diukur kecepatannya waktu sedang lari jarak jauh. Biasanya saya hanya menampilkan penampilan standar saja. Tapi kali ini, saya memutuskan untuk memberikan seluruh tenaga saya.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jangan salah sangka-- walaupun saya bukan seorang atlit yang memukau, tapi biasanya saya menampilkan yang terbaik dan bersedia untuk berpartisipasi lebih jauh di bidang olahraga yang lain. Tapi lari jarak jauh sungguh berbeda. Itu bukan suatu hal yang mudah. Bukan suatu hal yang kompleks-- hanya sulit. Itu melibatkan rasa nyeri, dan saya bukan penggemar rasa nyeri. Malahan, sewaktu di kelas atletik ada program lari lintas negara, saya dan teman-teman, menghilang dari pelatih kami, dan melitasi rute yang lebih pendek yang akan membawa kami ke dalam gedung sekolah, memasuki aula di mana kelas mengetik sedang berlangsung, dan kemudian berlari lagi ke lapangan luar. Kami berhasil memotong seperempat mil dari lintasan sesungguhnya, sampai guru di kelas mengetik akhirnya mendapatkan pencerahan atas suara hentakan-hentakan kaki yang selalu menganggu kelangsungan pembelajaran di kelasnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi kali ini saya memutuskan untuk melakukan yang terbaik. Jadi, setelah mengumpulkan segenap niat di dalam diri saya, saya memforsir diri saya melebihi batas kemampuan saya, dan ternyata hasilnya sangat membanggakan. Sangat membanggakan sampai-sampai, pada kenyataannya, pelatih utama lomba lari lintas negara mendengar mengenai prestasi saya dan mencoba untuk menarik saya untuk masuk ke dalam tim. Saya merespon dengan cara yang sama dengan cara saya merespon ibu saya ketika ibu menyarankan saya untuk mengambil les balet bersama saudara-saudara perempuan saya: “Tidak, terima kasih.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Tapi, Robin,” katanya, “anak laki-laki kan juga menari balet.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi bukan anak laki-laki ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya merasa seakan-akan saya hendak mati sehabis saya menyelesaikan lintasan, dan dengan alasan yang sangat jelas. Saya kurang melatih diri saya untuk perlombaan itu –jelas kenapa- jadi saya tidak bisa mempunyai daya tahan yang kuat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dua puluh lima tahun kemudian, saya mulai memperoleh respek dalam hal lari jarak jauh. Ini adalah salah satu perumpamaan terbaik yang ada untuk memahami kehidupan kekristenan, seperti yang dapat kita lihat dengan jelas di dalam Alkitab: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. (Ibrani 12:1, penekanan ditambahkan) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saksi-saksi yang mengelilingi kita bagaikan awan ini juga termasuk pahlawan-pahlwan di dalam sejarah Alkitab—seperti Abraham, Yusuf, dan Musa—yang berlomba dengan penuh ketekunan (Ibrani 10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Walaupun ada banyak perumpamaan atau ilustrasi yang bisa lebih menolong kita untuk memahami kehidupan kekristenan di dalam Alkitab, perumpamaan mengenai lari jarak jauh cenderung lebih mampu mengambarkan hal itu dengan jelas. Karena hal itu membutuhkan daya tahan dan ketekunan. Karena hal itu membutuhkan disiplin dan pelatihan. Karena hal itu membutuhkan mata yang tertuju pada tujuan. Dan walaupun itu bukanlah hal yang kompleks, namun para pelari jarak jauh yang berhasil, tergolong dalam golongan atlet yang cerdas. Mereka mampu menyusun kemampuan (sumber daya yang ada di dalam diri) mereka dan tetap memfokuskan diri terhadap tugas yang diemban oleh mereka, selangkah demi selangkah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kami menulis buku ini untuk para pelari – para lelaki dan perempuan Kristen yang dengan tulus ingin berlari dalam pertandingan yang diperuntukkan untuk mereka. Untuk mereka yang telah mencoba dan gagal, dan nyaris menyerah dan tak berpengharapan, kami menawarkan penghiburan. Berdasarkan pengalaman kami yang sempat terjatuh di sepanjang jalan, kami secara konsisten dan terus menerus telah menemukan bahwa Dia yang memanggil kita untuk berlari, adalah setia. Firman dan Roh-Nya disediakan untuk kita. Bukan hanya itu, tapi Ia juga sangat-sangat tertarik melihat keberhasilan kita. “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya,” kata nabi Yesaya, “dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya.” (Yesaya 42:3). Ketika anda benar-benar merasa lemah dan putus asa, ketika anda merasa api yang ada di dalam diri anda akan memudar, Ia ada di sana untuk memulihkan anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi mereka yang mungkin merasa sudah mencapai tahap sukses dalam menjalani kehidupan kekristenan, kami menawarkan nasihan dan teguran. Nabi memperingati pendengarnya, “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion!” (Amos 6:1). Sikap seperti itu sangat berbahaya, karena ketika kita merasa kita sudah suci, kita akan cenderung untuk bersantai dan mempercayai diri kita sendiri, daripada mempercayai Allah. Pada saat itu, biasanya diperlukan suatu krisis atau masalah untuk membawa kita kembali pada kenyataan yang ada. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada akhirnya, buku ini ditujukan bagi mereka yang memiliki keinginan untuk bertumbuh sebagai seorang kristen, mereka yang dipuaskan di dalam Kristus, tapi belum merasa puas terhadap diri mereka sendiri. Mungkin anda merasa frustrasi dengan perkembangan anda. Mungkin anda tidak yakin harus memulai darimana. Mungkin anda sudah berlari begitu lama dan butuh penyegaran. Kami percaya buku ini dapat menolong anda. Pada masa dimana solusi instan bagi masalah pelik begitu mudah ditawarkan, kami memilih untuk menyarankan anda untuk mengambil cara yang kuno, yang sudah diuji kebenarannya. Tidak ada jalan pintas bagi kedewasaan rohani. Tidak ada jalan yang bebas dari salib yang harus dipikul dalam mengikuti Tuhan, tidak ada rahasia instan bagi kehidupan kekristenan. Tapi, seperti lari jarak jauh, walau jalan menuju salib itu tidak mudah, namun hal itu juga tidak rumit atau kompleks. Allah menyediakan kita sebuah jalan, yang biarpun sempit, namun lurus. Ia membuat jalan-jalannya dapa dimengerti untuk mereka yang benar-benar tulus ingin mengikutiNya, dan Dia akan menunjukkan betapa kuat Dirinya bagi mereka yang mempersembahkan hati hanya untukNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan kami dalam memperkenalkan doktrin kekudusan (itu yang kami harap bisa kami lakukan lewat buku ini) adalah bahwa kita bisa diubahkan menjadi serupa dengan Yesus Kristus (Roma 8:29). Dan bahwa kami ingin menekankan fakta bahwa Roh Allah adalah Pribadi yang akan mengubah kita (2 Korintus 3:18). Walaupun kita wajib mengerahkan segenap tenaga kita dalam proses perubahan ini, namun semua pertumbuhan itu bersumber dari kasih karunia Allah. Dengan mengetahui kebenaran yang indah itu sebagai titik awal, marilah kita mulai maju dengan keyakinan bahwa “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Filipi 1:6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''—Robin Boisvert''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2 Korintus 3:18)&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:34:35 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/_Pendahuluan</comments>		</item>
		<item>
			<title>Bagaimana Saya Bisa Berubah?/Terperangkap di Tengah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/Terperangkap_di_Tengah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | How Can I Change?/Caught in the Gap Trap}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Semua yang kini sedang bergumul melawan amarah, silakan maju ke depan. Kami mau berdoa untuk anda.”&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu itu hari Minggu pagi. Saya baru saja menyelesaikan khotbah mengenai amarah, dan saya mau memberikan waktu bagi Roh Kudus untuk bekerja di dalam hati orang-orang yang hadir saat itu. Namun saya terkejut melihat respon yang diberikan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekitar dua puluh orang-orang yang rendah hati maju ke depan mimbar—untuk ukuran gereja kami, jumlah ini cukup besar. Namun, bukan jumlahnya yang menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang maju ke depan. Sembilan belas dari dua puluh orang yang maju ke depan adalah para ibu muda! (Amarah sangat rentan dialami oleh para ibu, sejauh yang saya ketahui.) Sebagai gembala, saya tahu bahwa para wanita ini adalah orang kristen yang sungguh-sungguh. Apa yang menyebabkan mereka maju ke depan adalah rasa frustasi mendalam mereka yang dialami karena mereka merasa terperangkap di tengah -- zona antara standar Alkitabiah yang berkaitan dengan penguasaan diri, dan kegagalan mereka untuk hidup menurut standar Alkitabiah itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Entah masalah itu berkaitan dengan amarah, ketakutan, kekuatiran, atau suatu hal yang umum, seperti kemalasan, kita semua sudah mengalami perasaan terperangkap di tengah, antara siapa diri kita saat ini, dan siapa diri kita seharusnya. Alkitab menyatakan bahwa kita adalah ciptaan baru, para pemenang, penakluk. Dan kita bukan hanya sekedar pemenang, melainkan lebih dari seorang pemenang (Roma 8:37). Kadang kita memang merasa seperti itu. Namun yang lebih sering, kita mengalami kesulitan melihat suatu hal yang melampaui kelemahan-kelemahan dan kegagalan-kegagalan kita. Dan yang menariknya, justru di saat-saat seperti ini, ayat dalam Matius 5:48 mendadak jadi tampil ke permukaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Untuk Dipelajari Lebih Lanjut:''' Bahkan Rasul Paulus mengalami saat dimana ia merasa terperangkap di tengah (Roma 7:21-25). Dapatkah anda membandingkan rasa frustrasi anda dengan rasa frustrasi yang dialami Rasul Paulus?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perlahan kita menghela nafas dan berkata,''Hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan''. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menyebut kondisi ini sebagai “perangkap tengah”. Berikut adalah cara kerjanya: Sebagai orang kristen, kita semua memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang diharapkan Allah dari diri kita. Namun pada kenyataannya, apa yang kita capai jauh dari apa yang -kita tahu- sebenarnya harus kita capai. Maka, terciptalah suatu jarak antara apa yang kita tahu harus kita lakukan, dan performa kita yang sesungguhnya. Apabila jarak antara keduanya terlampau jauh, kita bisa saja langsug di cap sebagai seorang munafik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| “Kehidupan kekristenan semata-mata berkaitan dengan perubahan karakter intrinsik kita menuju karakter Kristus.. Tujuan dari ayat-ayat ini (Misalnya Roma 6, Kolose 3: 5-14, Efesus 4:22-32) adalah untuk menunjukkan kepada kita bahwa ada jarak yang hebat antara siapa kita di dalam Kristus (pembenaran) dan siapa kita sebenarnya dalam kehidupan keseharian kita (pengudusan), yang tujuannya adalah untuk mendorong kita agar kita menutup jarak yang ada antara keduanya... Tujuan Paulus adalah untuk mengugah kita supaya dalam kehidupan keseharian kita, kita mampu menampilkan perilaku-perilaku yang menggambarkan siapa kita sebenarnya di dalam Kristus.” &amp;lt;br&amp;gt;- '''Jay Adams'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Situasi ini adalah suatu hal yang nyata dalam kehidupan kekristenan. Bagi sebagian besar, tidak dibutuhkan orang lain untuk memberitahu kita mengenai ketidak-konsistenan di dalam hidup kita—kita semua terlalu manyadarinya. Kesadaran itu seharusnya membuat kita menjadi semakin rendah hati dan menggantungkan diri kepada Tuhan supaya kita bisa berhasil menutup ketidak-konsistenan itu. Namun biasanya momen ‘terjebak di tengah’ ini muncul akibat ketidakpedulian kita akan doktrin atau ajaran mengenai pengudusan. Daripada menyadari kalau jarak ini ada sebagai pertanda bahwa kita membutuhkan pertolongan dari Allah saja, kita malah membiarkan jarak ini untuk menghukum kita, dan memperlambat kemajuan kita. Kita menjadi terjebak dalam pemikiran bahwa kita adalah seorang pecundang, bodoh, orang yang penuh kegagalan... dan mungkin saja bukan benar-benar seorang Kristen. Beberapa orang bahkan terperosok lebih jauh dalam ketidaktaatan. Mereka yang terjebak di situasi seperti ini (dan pada level tertentu, kita semua termasuk di dalamnya) mengalami penderitaan (yang sebenarnya tidak diperlukan) karena patah semangat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagai seorang gembala, salah satu tanggung jawab utama saya adalah membantu orang-orang agar bisa keluar dari jebakan ini. Saya sering menyampaikan pada orang-orang, “Hal itu tidak akan instan terjadi, dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh, namun supaya bisa keluar dari jebakan itu tidaklah rumit. Dan percayalah, anda tidak akan kecewa melihat hasilnya.” Mungkin anda merasa bahwa anda sedang berada di posisi seperti ini. Jika demikian, kami yakin buku ini dapat menolong anda untuk menutup jarak yang ada antara siapa anda seharusnya di dalam Kristus dan siapa anda sebenarnya dalam kehidupan keseharian anda. Dapatkah anda membayangkan kehidupan dimana anda mematahkan kebiasaan-kebiasaan anda yang penuh dosa dan membuat kemajuan nyata dalam kehidupan rohani anda? kehidupan seperti itu sungguh mungkin adanya. Dan buku ini ditulis untuk menguatkan dan menyertai anda seiring dengan usaha anda untuk mencapai yang kehidupan seperti itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diantara “Sekarang” dan “Yang Akan Datang” &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| Apakah ada area-area dalam hidup anda yang anda sadari kurang memenuhi ekpektasi Allah? (Tuliskan dengan singkat sebuah area itu di bawah)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidak diragukan, bahwa salah satu hal yang paling membuat kita frustrasi terkait dengan kehidupan kekristenan adalah kontradiksi yang nyata antara siapa kita di mata Allah, dan siapa diri kita dalam pendapat kita sendiri. Ambil contoh jemaat di Korintus, misalnya. Rasul Paulus pada satu titik meyakinkan mereka bahwa, “Kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” (1 Korintus 6:11). Sepertinya berhenti sampai di situ saja, bukan? Sampai kita membaca surat kedua Paulus pada jemaat ini, yang isinya nyaris bertolak-belakang dengan yang pertama disampaikan: “Marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di pikiran saya, mungkin saja para jemaat di Korintus merasa bingung. Apakah mereka sudah disucikan... atau masih tercemar? sebenarnya dua-duanya berlaku untuk mereka, dan juga kita. Untuk menjelaskan hal itu, mari saya ajak anda untuk menyimak hal di berikut ini.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Yohanes 3:2-3'''. Apa pengaruh dari pemikiran kita tentang “yang akan datang” terhadap apa yang ada “saat ini”}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kerajaan Allah itu adalah “saat ini” dan “yang akan datang”. Dalam beberapa hal, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa kini, dan untuk beberapa hal lainnya, Kerajaan Allah berkaitan dengan masa mendatang. Allah kita telah menyatakan dan menunjukkan bahwa Kerajaan (atau hukum) Allah sudah bersinggungan dengan sejarah manusia: “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Lukas 11:20). Namun, Kerajaan Allah belum datang seutuhnya. Hal itu tidak akan terjadi sampai Yesus datang kembali dalam kuasaNya, ketika setiap lutut kan bertelut dan semua lidah mengaku bahwa Dialah Allah. Sampai hal itu terjadi, tanpa menyangkal kehadiran Kerajaan Allah yang ada di dalam dunia ini, kita berdoa, “''Datanglah'' Kerajaan-Mu” (Matius 6:10) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian, Kerajaan Allah berjalan seiringan dengan kehidupan kita. Allah, lewat karya pembenaran-Nya, sudah menyatakan bahwa kita adalah orang-orang benar. Posisi kita di mata Allah sudah berubah. Masalah itu sudah diselesaikan sekali dan untuk selama-lamanya di Surga. Namun, di sisi surga lainnya (bumi), perubahan internal kita merupakan suatu proses yang sedang berjalan. Proses penyucian ini membuat saya sibuk sebagai seorang pribadi Kristen, dan juga memberikan saya banyak pekerjaan dan tugas sebagai seorang gembala. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apakah kita sudah memiliki kemenangan di dalam Yesus atau belum? apakah kita para pemenang, atau apakah kita masih harus berjuang? Oscar Cullmann memberikan ilustrasi dari Perang Dunia ke-2, yang saya percaya dapat membantu kita menangkap hal yang kesannya bertentangan ini. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Oscar Cullman, Christ and Time (Philadelphia, PA: The Westminster Press, 1964), p. 3.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang menjadi pangkal berakhirnya Perang Dunia ke-2: D-Day dan VE-Day. D-Day terjadi pada 6 Juni 1944, ketika para pasukan Sekutu mendarat di Normandy, Perancis. Ini adalah titik balik dalam perang yang berlangsung; ketika pendaratan ini berhasil, nasib Hitler sudah sangat jelas. Pada dasarnya, perang sudah berakhir. Namun kemenangan total di Eropa (VE-Day) tidak terjadi sampai tanggal 7 Mei 1945 ketika pasukan Jerman menyerah di Berlin. Periode sebelas bulan ini dicatat sebagai salah satu periode pertumpahan darah terbesar sepanjang sejarah perang. Pertempuran-pertempuran terjadi di seluruh Perancis, Belgia, dan Jerman. Walaupun secara fisik para musuh sudah terluka, namun mereka tidak sepenuhnya menyerah.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Pemilihan Ilahi adalah jaminan bahwa Allah akan bekerja dalam melengkapi pemilihan kita (untuk diselamatkan oleh anugerah-Nya) dengan anugerah pengudusan-Nya. Ini adalah arti dari Perjanjian Baru: Allah tidak hanya sekedar memerintahkan agar kita taat kepadaNya, namun juga memberikan kemampuan pada kita untuk menaatiNya.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
-'''John Piper''' }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salib adalah D-Day kita. Di sana, Tuhan kita Yesus Kristus mati disalibkan, untuk mematahkan belenggu dosa dari umatNya. Berdasarkan kematian dan kebangkitanNya, kita semua dibenarkan. Namun, kemenangan akhir akan terjadi ketika Ia datang. Tidak ada keraguan mengenai hasil akhirnya. Namun kita masih akan menemui gesekan-gesekan dan pertandingan-pertandingan sampai Tuhan muncul di dalam kemuliaanNya untuk memusnahkan kuasa kegelapan selamanya. {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Bacalah 1 Petrus 5:8-9. Walaupun kemenangan akhir Allah tidak bisa disangkal, namun kita harus tetap berjuang melawan musuh kita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Fakta ini, apabila kita tetap berusaha untuk mengingatnya, dapat membuat kita tidak patah semangat. Pertarungan masih berlangsung, namun peperangan utama sudah dimenangkan. Kesadaran akan karya pengorbanan Kristus yang telah dilakukan bagi kita sangat penting untuk memacu semangat moral kita seiring dengan usaha kita untuk mencapai suatu kekudusan hidup. Kita harus mempelajari dan merenungkan doktrin utama mengenai pembenaran sampai hal itu sungguh tertanam dalam kesadaran kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== '''Butuh Obat Kumur?'''  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Meskipun kita sudah dibenarkan sepenuhnya di dalam Kristus (D-Day), bukan berarti kita sudah sepenuhnya disucikan (VE-Day). Beberapa orang gagal memahami hal ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengajar Alkitab Ern Baxter menyampaikan kejadian yang terjadi saat Latter Rain Revival di akhir tahun 1940-an. Ada suatu ajaran menyimpang yang dinamakan “manifestasi anak-anak Allah”. Pada intinya ajaran itu menyampaikan doktrin yang menjanjikan kekudusan total di dalam hidup ini. Pada bentuk ekstrimnya, ajaran itu termasuk kepercayaan bahwa elit spiritual akan menerima tubuh kemuliaan sebelum kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada sesi penutupan acara dimana Baxter menjadi pembicaranya, beberapa ‘anak-anak Allah’ muncul di pojok auditorium berbalutkan jubah putih. Ketika ia selesai menyampaikan Firman, mereka berjalan ke depan dan mulai mencoba untuk menarik pengikut-pengikut baru bagi doktrin mengenai kesempurnaan total yang mereka ajarkan. Ketika ia mengingat peristiwa itu, ia menyatakan, “Wanita yang menjadi kelompok di grup itu benar-benar membutuhkan Listerine (merek obat kumur). Bukan itu jenis kesempurnaan yang saya nantikan.” &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Ern Baxter, taped message, “Sanctification,” n.d. &amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lebih umum dari skenario yang terjadi lewat peristiwa yang dialami oleh Ern Baxter diatas, adalah situasi-situasi yang terjadi akibat dari kurangnya pengetahuan dan kecenderungan untuk menyederhanakan konsep kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 2 Kalau anda mencari kesempurnaan total di dalam hidup ini, kira-kira mana dari antara beberapa hal di bawah ini yang paling sulit untuk dilakukan oleh anda? &lt;br /&gt;
*Sama sekali tidak akan pernah mengendarai mobil lebih dari batas kecepatan. &lt;br /&gt;
*Berbicara dengan hangat dan lembut pada setiap sales yang menelepon rumah anda. &lt;br /&gt;
*Mengindari semua kalori yang tidak dibutuhkan. &lt;br /&gt;
*Tidak pernah memukul jam weker anda ketika ia membangunkan anda. &lt;br /&gt;
*Senantiasa membayar pajak penghasilan anda dengan sukacita.}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Waktu saya baru menjadi orang percaya, saya berjumpa dengan seorang pria muda bernama Greg, mengaku menjadi seorang perampok dan pengguna obat terlarang yang sepertinya bertobat waktu di dalam penjara. Pegangan hidup Greg dalam menjalani kehidupan kekristenan sangat memukau diri saya. Ia membawakan dirinya dengan keyakinan penuh dan sedikit keangkuhan. Ia berbicara seakan-akan dosa itu bukan menjadi suatu masalah lagi baginya. Lebih dari sekali dia mengatakan kepada saya betapa ia sudah “diselamatkan, disucikan, dan dipenuhi oleh Roh Kudus.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mendengar dia mengatakan hal itu, sepertinya membuat hal itu seakan-akan mudah dan sederhana. Sebagai seorang Kristen yang baru, pada suatu waktu ia naik ke dalam kereta, dan waktu dia baru berangkat, beberapa jam kemudian ia sudah mengalami apa yang dinamakan olehnya sebagai “pengalaman pengudusan.” Dia berusaha meyakinkan saya bahwa pengalaman itu adalah hal yang dibutuhkan pertama kali untuk menerima baptisan Roh Kudus, dan sekali itu terjadi, itu akan berlaku selamanya. Saya harus mengakui di sini, bahwa ada beberapa hal tentang Greg yang kesannya tidak terlalu kudus. Ia mempunyai kecenderungan untuk menghakimi orang dan perilaku seorang farisi. Ia bisa menjadi seorang yang terlalu menguasai dan picik. Saya ingat pada suatu saat ketika seorang teman tidak sengaja meletakkan suatu benda di atas Alkitabnya: “Maaf—itu kan Firman Allah!” Tapi tetap saja, dia yakin dia bisa mengutip Alkitab, dan sepertinya sangat memahami perihal pengudusan.&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| '''Untuk Renungan Lebih Lanjut''': Bacalah Matius 26:41. Kapan waktunya kita bisa aman menganggap bahwa kita sudah “sampai” pada titik pengudusan?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sangat mengejutkan ketika pada akhirnya ia kembali mengedarkan dan memakai obat terlarang. Masalah Greg terkait dengan kurangnya pemahaman dan juga kesalah-pahaman mengenai ajaran Alkitab terkait dengan konsep pengudusan. Ia sudah melakukan kesalahan seperti yang banyak orang lakukan dengan hanya memfokuskan perhatian pada beberapa ayat Alkitab favorit yang sepertinya membenarkan pengalaman pribadinya.&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| &amp;quot;Kekudusan bukan jalan menuju Kristus. Kristus, adalah jalan menuju kekudusan.&amp;quot;&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; '''—Adrian Rogers'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; Kekudusan itu sifatnya ''pasti'' (terjadi saat kita bertobat) dan ''progresif'' (terus berlangsung). Semua ini tidak terjadi pada sekali waktu di masa lalu, dan bukan juga suatu hal yang akan terjadi secara bertahap. Kita ''sudah diubahkan'' dan kita ''sedang berubah''. Tanpa mengesampingkan keberhasilan pendaratan kita di Normandy, marilah kita bijak dan realistis saat menilai adanya oposisi yang ada diantara kita dan Berlin. Kita tidak punya pilihan yang memungkinkan kita untuk mendapatkan tiket naik ke dalam kereta pengudusan, seperti yang Greg yakini. Hal itu akan menjadi suatu pertandingan di setiap langkah kehidupan kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Setimpal dengan Usahanya  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi beberapa orang, “pengudusan” adalah suatu istilah teologis yang sering didengar, namun jarang dimengerti. Kedengarannya itu adalah suatu hal yang cocok untuk mahasiswa teologia dan kurang praktis untuk kehidupan sehari-hari. Namun sebaliknya, hal itu adalah suatu hal yang sangat amat praktis, dan bisa dikaitan dengan kehidupan keseharian. Doktrin mengenai pengudusan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh hampir seluruh orang Kristen di dalam sejarah gereja. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa berubah? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya bisa bertumbuh? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana saya menjadi serupa dengan Kristus? &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Bagaimana saya bisa tidak terperangkap di tengah?'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apapun yang bisa menjawab pertanyaan itu akan mengharuskan kita untuk melakukan beberapa usaha. Lampiran A (halaman 93) menunjukkan bahwa beberapa cabang gereja sudah membicarakan masalah ini di masa lalu, namun mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari mengenai aplikasi dari doktrin yang penting ini pada masa kini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Arti Alkitabiah dari kata ''menguduskan'' (menyucikan) adalah “untuk memisahkan; mengkhususkan.” (''Kesucian'' berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa Yunani) Hal ini bisa diaplikasikan pada orang, tempat, situasi, atau benda tertentu. Ketika suatu hal dikuduskan, hal itu akan dipisahkan dari pemakaian pada umumnya dan didedikasikan untuk kepentingan khusus. Misalnya, pada jaman Musa, Hari Raya Pendamaian dikuduskan bagi Allah yang Kudus. Hari itu menjadi hari yang kudus. Sebuah hal yang dikuduskan tidak akan serta merta menjadi suci karena dipisahkan dari hal lainnya; kesucian yang didapat akan berasal dari untuk apa (atau kepada siapa) kah hal itu disucikan. Karena hanya Allah saja yang suci, maka hanya Dia-lah yang bisa mengimpartasikan kesucian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Secara teologis, istilah “pengudusan” telah dipergunakan untuk menggambarkan proses yang dilalui oleh seorang percaya ketika Roh Allah sedang bekerja di dalam hidupnya untuk membuat dirinya semakin menyerupai Kristus. Prosesnya dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. Hal ini ditandai dengan konflik keseharian seiring dengan usaha kita untuk mengalahkan dosa yang ada di dalam diri kita dengan anugerah dan kekuatan yang Allah berikan bagi kita. Camkan di dalam pikiran bahwa rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran, sebagaimana yang dijelaskan oleh Anthony Hoekema; penyucian menghilangkan ''pencemaran'' akibat dosa: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang dimaksud dengan ''rasa bersalah'' adalah kondisi di mana kita layak mendapatkan penghukuman atau harus bertanggung jawab untuk menerima hukuman karena telah melanggar hukum Allah. Yang dimaksud dengan pembenaran, sebagai tindakan deklaratif Allah, adalah bahwa rasa bersalah akibat dosa dihilangkan atas dasar karya utama Yesus Kristus. Yang dimaksud dengan ''pencemaran'' adalah bahwa kita memiliki kecenderungan bawaan yang terjadi sebagai akibat dari dosa yang juga pada akhirnya menciptakan dosa lain lebih lanjut. Sebagai akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa, kita semua lahir dengan kondisi seperti ini; dosa-dosa yang kita lakukan tidak hanya berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, namun juga menambah kecenderungan itu sendiri. Yang dimaksud dengan ''penyucian'' adalah kondisi dimana pencemaran yang didapat dari dosa sedang dalam proses (tahapan) pembersihan (walaupun hal itu tidak akan sepenuhnya dibersihkan sampai kita memasuki hidup baru di Surga).&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;7. Anthony A. Hoekema, Saved by Grace (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989), pp. 192-93.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; {{RightInsert| '''Untuk Bacaan Lebih Lanjut''': Apakah anda menyadari betapa penting dan bermanfaatnya apabila kita memiliki perasaan takut akan Allah? (Lihat Mazmur 19:9 dan 25:14, Amsal 1:7 dan 9:10, dan 1 Petrus 1:17.)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Alkitab juga mendefinisikan penyucian sebagai proses pertumbuhan menuju hidup yang saleh. Hidup yang saleh merujuk pada suatu kehidupan yang menunjukkan dedikasi kepada Allah, dan karakter yang muncul akibat dedikasi tersebut. Hidup yang saleh melibatkan kasih terhadap Allah dan kerinduan akan Allah.&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Jerry Bridges, The Practice of Godliness (Colorado Springs, CO: NavPress, 1983), pp. 15-20.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Selain itu juga mengandung rasa takut akan Allah, yang menurut John Murray adalah “jiwa dari hidup yang saleh”. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Ibid., p. 24.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Karena telah ditebus dari ancaman hukuman kekal, orang Kristen menyatakan rasa takutnya kepada Allah dengan memfokuskan diri tidak kepada murka Allah, tapi kepada “kemuliaan, kekudusan dan keagunganNya...”. ”&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Ibid., p. 26.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Rasa takut akan Allah mempunyai dampak yang baik bagi hati kita, dimana rasa ini akan memurnikan hati kita, dan juga hal ini adalah syarat apabila kita hendak menjalin hubungan yang lebih intim dengan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hidup yang saleh melibatkan lebih dari sekedar unsur moralitas atau tindakan fanatik. Hal tersebut berasal dari kesatuan dengan Kristus dan hasrat untuk memuliakanNya. Seorang yang saleh akan berkeinginan untuk menjadi seperti Tuhan-nya juga ingin untuk menyenangkan hatiNya. Ia ingin merasakan apa yang dirasakan olehNya, memikirkan apa yang dipikirkan oleh Tuhan-nya melebihi dirinya sendiri, dan melakukan apa yang menjadi kehendakNya. Secara singkat, orang seperti ini ingin menjadi seseorang yang memiliki karakter Allah, sehingga Allah bisa dimuliakan lewat hidupnya. Tidak ada hal lain yang layak diperjuangkan sepanjang hidup kita: “Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang” (1 Timotius 4:8). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baik Allah maupun manusia memegang peran penting dalam konteks penyucian. Allah, dengan anugerahNya, memulai karya penebusan di dalam kita dan memberikan keinginan serta kuasa untuk mengalahkan dosa. Sebagai respon sekaligus sambil bersandar pada anugerahNya, kita menaati perintah Alkitab&amp;amp;nbsp;: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan” (Filipi 2:12-13) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert|“Penyucian, menurut Westminster Shorter Catechism, adalah ‘pekerjaan dari anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma, dimana kita diperbaharui menjadi manusia seutuhnya berdasarkan gambaran Allah, dan dimampukan lebih dan lebih lagi untuk mati bagi dosa, dan hidup bagi kebenaran.’ Konsep yang terkandung di dalam hal ini adalah bukan berarti dosa itu dihapuskan total (hal ini terlalu berlebihan) atau hanya ditangkis (hal ini terlalu meremehkan), namun berkaitan dengan perubahan karakter ilahi kita yang membebaskan kita dari kebiasaan-kebiasaan kita yang penuh dosa dan membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus dalam hal perasaan, sifat, dan karakteristik-karakteristik lainnya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
— '''J.I. Packer'''&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam Perjanjian Baru, posisi dari hidup kudus itu berada pada titik tengah antara legalitas di satu sisi, dan lisensi di sisi lainnya. Semua tradisi gereja yang terlalu menitik beratkan pada karya Allah di dalam kita tanpa menaruh pengharapan bahwa karya itu akan menghasilkan suatu hasrat yang terus bertambah di dalam diri kita untuk menuju suatu kesalehan hidup, akan cenderung menuju ke arah lisensi. “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:18-19). Di lain pihak ada juga pihak yang terlalu menitik beratkan pada porsi manusia sehingga mereka menyimpang dari kebenaran Allah dan berakhir pada prinsip legalitas. (Tentu saja seluruh hal ini mempunyai kadar yang bervariasi). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| '''Renungkan 1 Timotius 6: 11-16.''' Paulus adalah seorang yang sangat mampu menjadi seorang motivator yang handal. }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bagaimana Meraih Kesempurnaan &amp;lt;br&amp;gt;  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu pertanyaan yang umum diucapkan oleh orang Kristen adalah, “Sejauh mana saya bisa berharap pada proses penyucian ini? Apakah pada akhirnya saya bisa benar-benar bebas dari dosa?” Jenis pertanyaan ini akan menjadi relevan terutama ketika kita membaca pernyataan seperti yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Filipi: “Karena itu marilah kita, ''yang sempurna'', berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu” (Filipi 3:15). Bahkan Yesus menyampaikan hal itu lebih gamblang di ayat yang sudah disebutkan sebelumnya: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48).&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{LeftInsert| 3 Cobalah untuk menjawab kuis Benar/Salah di bawah ini, untuk mengetahui sejauh mana anda sudah memahami materi ini: (Jawaban dicetak terbalik di bagian bawah halaman 9) &lt;br /&gt;
*Arti dari kata “menguduskan (menyucikan)” adalah “menajiskan, memisahkan” '''B S''' &lt;br /&gt;
*Proses penyucian dimulai saat kita lahir baru, dan terus berlangsung sepanjang kita hidup. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Rasa bersalah yang didapat dari dosa sudah dihilangkan lewat pembenaran '''B S'''&lt;br /&gt;
*Hidup yang saleh hanya memiliki arti yang berkaitan dengan unsur moralitas atau tindakan fanatik seseorang. '''B S''' &lt;br /&gt;
*Hanya Allah yang bertanggung jawab terhadap proses penyucian kita. '''B S'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Allah sungguh berharap supaya kita mencapai tahap kesempurnaan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keinginan untuk menjadi sempurna sudah menginspirasi banyak orang untuk mencari Allah. Di sepanjang sejarah manusia, banyak penulis puisi dan filosofer yang mengekspresikan keinginan untuk mencapai kembali kesucian hidup. Penulis lagu kontemporer Crosby, Stills, dan Nash merayakan pengalaman Woodstock dengan lagu yang berlirik, “Kita adalah debu bintang-bintang, kita ini berharga, kita terjebak di dalam penawaran iblis. Dan kita harus mencari cara kembali ke Taman (Surga).” Masalahnya, kita semua tahu kalau kita ini jauh dari kesempurnaan. Dalam dunia khayal perfilman, Mary Poppins bisa saja dengan riang menyatakan bahwa dia adalah “sempurna di segala hal,” namun di kehidupan nyata, hal itu tidak mungkin terjadi. Dan tentu saja kita tidak bisa menjadi sempurna lewat metode Woodstock. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| &amp;quot;Ketika terang cahaya...kemuliaan Allah jatuh ke atas roh kita, kita dimenangkan dari segala pemikiran yang palsu dan kurang tepat mengenai kesucian kita sendiri. Kita juga dilindungi dari segala pengajaran murahan yang mendorong kita untuk mempercayai bahwa ada jalan-jalan pintas yang memudahkan kita untuk mencapai kesucian hidup. Kesucian hidup bukanlah sebuah pengalaman; itu adalah penyatuan kembali karakter kita, juga pemugaran kembali satu hal yang sudah menjadi reruntuhan. Hal itu memerlukan ketrampilan dan merupakan suatu proyek jangka panjang yang memerlukan segala hal yang sudah diberikan oleh Allah dalam menjalani hidup kita juga untuk mencapai suatu kesalehan hidup.&amp;quot;[12]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;— '''Sinclair Ferguson''' }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
R.A. Muller menyatakan bahwa Alkitab jelas menyatakan bahwa kita harus menjadi sempurna, namun pada saat yang bersamaan memberikan bukti bahwa kesempurnaan penuh itu tidak bisa dicapai di dalam hidup ini. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;R.A. Muller, The International Standard Bible Encyclopedia, Volume Four (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1988), p. 324.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Hal ini menghantarkan kita pada titik dilematis. Kita tidak bisa secara bebas mengangkat tangan dan mengakui kekalahan. Namun kita juga tidak bisa memiliki mentalitas ‘over pede (percaya diri)’ berkaitan dengan konsep kesempurnaan, yang lebih umum ditemukan di dalam konteks metode berpikir positif daripada yang ada di dalam Alkitab. Satu-satunya cara untuk memecahkan dilema ini adalah dengan menyadari bahwa Perjanjian Baru melihat konsep kesempurnaan dalam dua cara. &amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;William Hendriksen, New Testament Commentary: Philippians (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1962), p. 176.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pandangan Paulus tentang jemaat Filipi adalah kedewasaan, bukan ketidak-bercelaan. Perhatikan bagaimana Alkitab versi New International Version menerjemahkan perkataannya kepada gereja di Filipi: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Setiap dari kita yang sudah dewasa harus memiliki kecenderungan yang sama dalam berbagai hal” (Fil 3:15). “Kesempurnaan” dalam hal ini bisa lebih tepat didefinisikan sebagai “mereka yang sudah menunjukkan perkembangan berarti dalam hal spiritualitas dan keseimbangan hidup” &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| '''Renungkan 1 Petrus 1:14-16'''. Apakah perintah ini kedengarannya tidak realistis? Apakah mungkin Allah meminta anda untuk melakukan suatu hal yang mustahil? }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah suatu hal yang alamiah apabila semua anak mau untuk bertumbuh dengan sempurna. Ini juga berlaku bagi orang percaya. Daripada mengambil pendekatan jalan pintas dan prinsip mencoba-coba dalam mencapai pertumbuhan, kita seharusnya membiarkan panggilan untuk menjadi sempurna itu mendorong kita untuk masuk ke dalam proses pencarian yang serius mengenai bagaimana caranya supaya kita menjadi seperti Yesus. Contoh dari Paulus sendiri seharusnya mampu menjadi contoh bagi kita semua: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{RightInsert| '''Jawaban''': S, B, B, S, S }} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. (Filipi 3:12-14) &amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| 4 Ada stiker mobil yang pernah populer, bertuliskan, “Orang Kristen Itu Tidak Sempurna – Hanya Dimaafkan.”&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
}} &amp;lt;br&amp;gt; {{RightInsert| “Pertama-tama kita harus dibuat menjadi sesuatu yang baik sebelum kita bisa melakukan kebaikan.” &amp;lt;br&amp;gt;'''— Hugh Latimer'''}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kita melihat pengulangan kata sempurna di dalam surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus. “Tetapi jika yang sempurna tiba,” katanya, “maka yang tidak sempurna itu akan lenyap” (1 Korintus 13:10). Dalam konteks ini, sempurna adalah istilah yang diberikan secara khusus pada Allah Bapa– sebuah konsep kesempurnaan yang tidak akan bisa ditemukan sampai Kristus datang. Teolog Louis Berkhof lebih cenderung untuk membicarakan ''kesempurnaan-kesempurnaan'' Allah daripada kualitas karakteristikNya. .&amp;amp;lt;ref&amp;amp;gt;Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1941), p. 52.&amp;amp;lt;/ref&amp;amp;gt; Allah itu benar-benar tak bercacat cela. Tidak peduli seberapa matangnya kita di dalam hidup ini, kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan sampai suatu saat Allah menyempurnakan kita di dalam kemuliaan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Tujuh Alasan Untuk Menutup Celah  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pada umumnya, dunia sudah memiliki kesan negatif terhadap kesucian. Banyak pihak menyamakan hal itu dengan suatu hal yang suram, memikul salib tanpa adanya sukacita. Hal itu lebih dilihat sebagai suatu kondisi “lebih-suci-dari-kamu” sebagai suatu tindakan pembenaran diri sendiri, daripada melihat hal itu sebagai suatu pengalaman yang penuh sukacita. Sebelum kita menutup bagian ini, marilah kita menghilangkan pendapat demikian dengan melihat pada beberapa keuntungan dan berkat yang dapat kita peroleh dari tindakan mengikuti Kristus. Ini adalah tujuh buah dari penyucian (pengudusan): &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Allah dipermuliakan'''. Ketika kita suci, kita semakin mempercayai bahwa Allah itu sungguh nyata dan menakjubkan seperti yang dinyatakan sendiri olehNya. Paulus menyatakan bahwa pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh orang Kristen memperindah doktrin mengenai Kristus (Titur 2:10). Bahkan mereka yang menolak Allah akan dipaksa untuk mengakui keberadaanNya ketika para pengikutnya berjalan di jalanNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Hubungan berkelanjutan dengan Allah Bapa di dalam hidup ini.''' “Jika seorang mengasihi Aku,” kata Yesus “ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia” (Yohanes 14:23). Merupakan suatu sukacita dan ketenangan yang luar biasa apabila kita mengalami hadirat Allah dan Anak melalui Roh kudus. Dan Yesus menandakan bahwa hadirat ini adalah suatu hadirat yang dipenuhi dengan kasih, bukan dengan nuansa yang dingin. Tentu saja, bersamaan dengan kehadiranNya akan datang juga kuasaNya, yang memampukan kita untuk mengalahkan tantangan-tantangan di dalam hidup kita. &amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Persekutuan dengan orang percaya lainnya'''. Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, kita tidak bisa menikmati persekutuan yang tulus dengan sesama orang percaya. “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7). Allah berjanji untuk melengkapi kita dengan belas kasihan, hai rekan-rekan seperjalanan yang sedang menjalani jalan menuju penyucian. Bagi saya pribadi, saya menemukan bahwa kebenaran Allah ditambah dengan contoh-contoh para pelayan Allah lainnya adalah suatu hal yang penting bagi pertumbuhan spiritual saya. Dan selama saya berjalan di jalanNya, saya tidak pernah kekurangan keduanya. Kita saling membutuhkan satu sama lain (dalam konteks gereja) apabila kita hendak berhasil. Kekudusan dan komunitas Kristiani akan saling melengkapi satu sama lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''K''''''eyakinan akan keselamatan'''. Walaupun keselamatan kita tidak didasarkan pada usaha kita untuk mencapai kekudusan, keyakinan akan keselamatan cenderung untuk berkaitan dengan kekudusan hidup. Di dalam surat Petrus yang kedua, Petrus menggugah para pembaca untuk sungguh-sungguh berusaha senantiasa mengumpulkan karakteristik spiritual, menambahkan kepada iman kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang yang dimiliki secara berkelimpahan (2 Petrus 1:5-9). Dia mengingatkan bahwa apabila ada yang tidak memiliki semuanya itu, maka ia akan lupa .... ... bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan. Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. (2 Petrus 1:9-11) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pengabaran Injil. '''Sebagai seorang muda yang masih dibawah pengaruh dosa, saya mencoba sebisa saya untuk menemukan kesalahan-kesalahan di dalam hidup orang percaya supaya saya bisa menolak pesan yang mereka sampaikan dan mencap mereka sebagai orang munafik. Namun walaupun mereka tidak sempurna, tapi saya tidak bisa menemukan ketidak-konsistenan yang tergolong fatal. Sebuah keluarga besar yang menjangkau saya dengan Injil lebih memberikan pengaruh kepada saya lewat gaya hidup mereka daripada dengan perkataan-perkataan yang diucapkan. Sang suami mengasihi istrinya, sang istri menghormati suaminya, anak-anak menaati orang tuanya, dan mereka semua sangat bersuka cita. Saya tidak pernah melihat hal seperti itu. {{RightInsert| '''Renungkan 1 Petrus 2:12'''. Walaupun orang yang belum percaya mungkin menghina gaya hidup anda sekarang, akibat apa yang mungkin mereka terima pada akhirnya?&lt;br /&gt;
}}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sudah disampaikan bahwa meskipun dunia mungkin tidak membaca Alkitab, tapi dunia membaca orang-orang Kristen. Allah menggunakan orang-orang kudus untuk menjangkau orang lain. Bukan orang yang sempurna, namun kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Pemahaman, kebijakan, dan pengetahuan'''. Harta-harta inilah yang akan diperoleh mereka yang mencari Allah dengan sepenuh hati (Amsal 2:1-11). Mereka terlindungi dari para penghujat, pemberontak, dan para orang bodoh. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Melihat Allah.''' Alkitab menyatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Meskipun arti sebenarnya dari pasal ini masih dilingkupi oleh misteri, tapi Alkitab bisa memberikan gambaran mengenai “Penglihatan yang Menakjubkan,” atau melihat Allah. Hal itu akan terjadi ketika Tuhan datang kembali, ketika semua musuh sudah dikalahkan dan kita semua sudah disucikan dengan sempurna. Pada saat itu, penglihatan kita mengenai Allah akan berkelanjutan dan intens, tanpa distraksi atau tindakan yang berfokus pada ke ‘aku’ an akibat dari dosa. Bukan berarti pengetahuan kita akan Allah akan menjadi sempurna, karena Ia akan terus menyatakan diriNya lebih dan lebih lagi.&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt; {{LeftInsert| “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;—'''Yesus''' (Matius 5:8) }}&amp;lt;br&amp;gt; &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, “ kata Yesus, “karena mereka akan melihat Allah” (Matius 5:8). Penyataan akan kebesaran dan kebaikanNya adalah hal terindah yang bisa kita dapatkan apabila kita menjalani hidup kita dengan penuh kekudusan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;Seperti yang sudah anda lihat, ada banyak alasan baik yang dapat menggugah kita untuk menutup celah antara harapan Allah akan diri kita, dan pengalaman kita pribadi. Kita diciptakan untuk turut ambil bagian dalam kekudusanNya-bukan hanya di surga, namun juga di bumi. Selangkah demi selangkah, kita bisa belajar untuk mengalahkan dosa dan hidup dengan cara yang semakin lama semakin memancarkan kemuliaan dan karakter Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Di dalam bab pertama, kami sudah mencoba untuk menarik minat anda pada kesalehan hidup. Dimulai dari bab kedua, kami akan membangun kerangka Alkitabiah yang dibutuhkan untuk mendukung suatu kehidupan yang kudus- dan penuh sukacita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Diskusi Kelompok  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Apa gejala-gejala yang menandakan seseorang sedang terperangkap di tengah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Celah antara standar-standar Allah dan perilaku kita sendiri tidak bisa dihindari; namun terlalu berlebihan apabila kita menamakan diri kita munafik. Di mana kita bisa menarik garis untuk membedakan keduanya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Bagaimana menjelaskan hubungan antara penyucian diri kita dengan sejarah masa lalu dan harapan di masa depan? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Rasa takut akan Allah, menurut penulis, adalah suatu “syarat untuk mencapai keintiman rohani dengan Allah.” (Hal. 7) Apa maksudnya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sejauh mana seorang kristen yang dewasa rohani bisa bebas dari dosa? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Sekarang setelah anda selesai membaca bagian ini, bagaimana anda akan menjelaskan Matius 5:48 kepada orang yang baru percaya? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
== Bacaan Yang Direkomendasikan  ==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*How to Help People Change 'by Jay E. Adams (Grand Rapids, MI: Zondervan Publishing House, 1986)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*Saved by Grace by Anthony A. Hoekema (Grand Rapids, MI: Eerdmans Publishing Co., 1989)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Referensi &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;amp;lt;references /&amp;amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:34:26 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Bagaimana_Saya_Bisa_Berubah%3F/Terperangkap_di_Tengah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Dia Tidak Ada Di sini, Dia Telah Bangkit</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Dia_Tidak_Ada_Di_sini,_Dia_Telah_Bangkit</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | He is Not Here, He is Risen}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Banyak orang Kristen sepertinya puas untuk meninggalkan Yesus di kayu salib, sementara kebangkitan-Nya sering kali menderita karena diabaikan. Namun, jika salib menerima sedemikian banyak perhatian, hal tersebut bukan tanpa tuntutan. Bagaimanapun, peristiwa tersebut merupakan ”satu perbuatan kebenaran” sehingga “semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rm. 5:18). Maksud hal itu ialah, satu tindakan kebenaran Manusia tersebut merupakan tindakan puncak dari ketaatan seumur hidup Yesus kepada kehendak dan tujuan Bapa-Nya, ketika Ia mengorbankan hidup-Nya untuk umat-Nya. Membawanya selangkah lebih jauh, banyak dari kita cenderung untuk mengatakan bahwa kita akan hidup di bawah aib publik dan murka salib sampai Kristus kembali, bahwa hal tersebut menentukan masa di mana kita hidup sekarang. Karena kita hidup dalam dunia yang penuh penderitaan, begitulah pemikiran manusia, penyaliban menyediakan penyataan sempurna dari empati Allah terhadap ciptaan-Nya. Namun alasan menyeluruh bahwa satu tindakan itu tetap merupakan poros adalah karena tepatnya Injil menganggapnya sebagai kemenangan pasti oleh Dia yang tergantung mati di kayu salib. Namun, kemenangan apakah yang dicapai oleh Kristus yang mati tergantung di sana? Di manakah letak kemenangan dalam kisah seorang Galilea yang kecewa yang tidak dapat meminta Allah untuk memantapkan kerajaan-Nya di dunia? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Memang tidak ada. Tanpa kebangkitan, salib memang adalah kebodohan.&amp;lt;br&amp;gt;Kesemua ini menyatakan bahwa salib itu sendiri sepenuhnya tidak dapat dipisahkan dari tindakan-tindakan penyelamatan Allah lainnya melalui Yesus dalam sejarah-kehidupan, kematian, kebangkitan, kenaikan-Nya dan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta-kesemua ini membentuk sebuah medan di mana zaman dosa dan kematian menemukan lawan tandingnya. Dan kekalahan kedua hal menakutkan itu belum pernah diproklamasikan secara lebih gamblang daripada saat pagi Paskah. Kebangkitan berdiri sebagai satu-satunya penyataan yang paling dahsyat oleh Allah, bahwa manusia sejati Yesus ini ”diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya,” yang juga ”menurut Roh Kekudusan dinyatakan,... bahwa... Ia adalah Anak Allah yang berkuasa” (Kis. 2:23; Rm. 1:4) Yesus dan karya-karya-Nya yang luar biasa dibersihkan dari tuduhan ketika Allah membangkitkan-Nya dari antara orang mati, meninggikan Dia sebagai “Tuhan dan Kristus” (Kis. 2:36), bukan lagi rendah dan terbatas, sekarang Mesias dari umat-Nya dan Penguasa seluruh dunia.&amp;lt;br&amp;gt;Bila kebangkitan tidak terjadi, maka kita, para pengikut Yesus, bersama rasul Paulus, “adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia” (1 Kor. 15:19). . Dengan perkataan lain, seandainya Kristus tidak dibangkitkan, kita adalah kumpulan orang yang paling merana, tidak bahagia, penuh penyesalan, yang pernah dilihat oleh dunia, karena kita telah mempercayai tipuan yang paling jahat-pengharapan akan keselamatan ketika apa yang tersisa bagi kita hanyalah dosa, kesia-siaan, dan kematian. Namun kebangkitan memang terjadi, dan dipercayai, karena Yesus sendiri mengatakan, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Hal ini, tentu saja, merupakan sebabnya mengapa Yohanes menuliskan Injil ini. ”Semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (ay. 31).Kebangkitan merupakan bagian dan paket pesan Injil tentang kehidupan dalam nama Kristus. Ini tidak bisa ditawar-tawar. Seseorang tidak dapat menganggap dirinya sejalan dengan ”Kekristenan apostolik” tanpa peneguhan tentang kebangkitan tubuh Yesus dari Nazaret. Hal ini merupakan kesaksian yang jelas dari tulisan-tulisan Perjanjian Baru, yang diungkapkan paling gamblang dalam Roma 10:9: “Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalahTuhan, dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Mereka yang menyangkalinya, meskipun diperlakukan dengan “kelembutan dan hormat” (1 Pet. 3:16), tidak boleh disetujui di meja persekutuan: “Kekristenan” mereka tidak boleh diakui.&amp;lt;br&amp;gt;Namun, pertanyaan yang kita hadapi bukanlah tentang bukti kebangkitan itu sendiri, tetapi lebih cenderung pada apa artinya. Apa signifikansi dari kebangkitan Yesus dalam rencana penyelamatan Allah?&amp;lt;br&amp;gt;Dalam ungkapan paling sederhana, kebangkitan menjungkirbalikkan kutuk Kejatuhan (dosa, kesia-siaan, dan kematian). Namun, bukan hanya kebangkitan itu sendiri, tetapi termasuk di dalamnya juga peristiwa yang mengarah kepada kebangkitan: kepatuhan Yesus kepada kehendak Bapa-Nya (kadang-kadang disebut sebagai ketaatan ”aktif”) dan ketaatan-Nya sampai mati (ketaatan ”pasif”). Dalam ketaatan aktif, peranan Yesus sebagai Adam kedua tampil dengan jelas. Mesias yang diutus Allah ini mengalahkan dosa ketidaktaatan Adam dengan ketaatan sempurnya-Nya terhadap apa yang telah gagal dilakukan bangsa Israel secara kolektif, maksudnya, tetap menaati perjanjian tersebut.&amp;lt;br&amp;gt;Ketika Adam tidak menaati perintah illahi itu, Allah mengutus Abraham dan bangsa Israel mengikutinya untuk mengantarkan cahaya Injil keselamatan Allah (lihat Yes. 41:8-9;49:3-6). Ketika gagal melakukan hal ini, Yesus datang sebagai wakil bangsa Israel; Ia sanggup melakukan hal ini karena Ia diutus sebagai Kristus (“Yang Diurapi”). Di Israel, yang diurapi, atau raja, adalah kedua-duanya merupakan wakil negara di hadapan Tuhan, dan juga sebagai wakil pilihan Tuhan untuk bangsa itu (contoh, 2 Sam 19:43; 20:1). Demikian juga, seperti Israel (lihat Yes. 63:16), raja tersebut adalah Anak Allah&amp;amp;nbsp;: “Aku akan menjadi Bapa-Nya dan Ia akan menjadi Anak-Ku” (2 Sam. 7:14; juga Mzm. 2:6-7). Raja Israel, tentu saja, tidak didewakan seperti para Firaun Mesir (tidak seperti Yesus, yang adalah manusia Allah). Jadi untuk Yesus, menjadi Kristus berarti Ia diidentifikasikan sangat dekat dengan umat-Nya sehingga apa pun yang dapat dikatakan tentang Dia dapat, setidaknya secara prinsip, dikatakan tentang mereka. &amp;lt;br&amp;gt;Jadi, bagi orang Kristen (baik Yahudi maupun orang non-Yahudi, lihat Rm. 9:4-8) ini berarti bahwa mereka mengambil bagian dalam perjanjian Allah, karena iman, menjadi pewaris janji-janji-Nya, setia kepada kehendak dan maksud-Nya, justru karena Yesus telah melakukan hal tersebut. Rasul Paulus tidak mengurangi maksudnya sedikit pun ketika ia menulis bahwa kita telah “dibaptis dalam Kristus Yesus” (lihat Rm. 6:1-14). Akhirnya, karunia yang mengalir dari ketaatan sempurna oleh Yesus ini merupakan karunia kehidupan itu sendiri (“Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan,” 1 Kor. 15:45), dan membawa kita kembali pada apa yang digambarkan Paulus sebagai “satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup” (Rm. 5:18)&amp;lt;br&amp;gt;Dalam ketaatan Yesus sampai mati itulah kontras antara Adam pertama dan Adam terakhir menjadi sangat nyata. ”Karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam” (Rm. 5:15). Bahkan, karunia Allah jauh leibh besar, anugerah Allah yang berlimpah secara sempurna menutupi pelanggaran Adam. Namun, bagaimana anugerah itu dapat tiba? Tuntutan dari Allah terhadap bangsa Israel ialah, sebagaimana disebutkan di atas, adalah untuk hidup dalam perjanjian dengan Dia sebagai sarana mereka untuk menentang kutuk dan kebinasaan akibat kejatuhan Adam. Tetapi dalam hal ini rasul Paulus mengatakan, “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat yang aku perbuat” (Rm. 7:19). Artinya, “perbuatan baik” dalam menaati Taurat selalu menyerah kepada “perbuatan jahat” yaitu melanggar Hukum Taurat selama Adam tetap menjadi perwakilan bangsa Israel. Jadi mereka gagal. Namun, kebutuhan akan karya Hamba Allah itu tetap ada bila dosa harus dikalahkan dan manusia Adam yang lama diselamatkan (lihat Yes. 53:11). Siapa yang telah menebus kita dari tubuh kematian? Jawabnya? “Syukur kepada Allah, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Rm. 7:25). Yesus dating dan dengan sempurna menaati kehendak Allah Bapa, bahkan sampai mati. Dengan melakukan hal tersebut, Ia membalikkan ketidaktaatan Adam, sebagai gantinya, memulai dalam hidup kebangkitan-Nya suatu keluarga Allah yang memiliki sifat-sifat-Nya, dan mengarahkan dunia yang telah jatuh ke dalam dosa serta rusak itu menuju jalan pembaharuannya (lihat Rm. 8:21-22).&amp;lt;br&amp;gt;&amp;lt;br&amp;gt;Jadi, satu titik utama dari kesemuanya ini sekarang ialah bahwa, dengan dibaptiskan dalam Kristus, kita juga turut mengambil bagian dalam kemenangan dan pemuliaan-Nya (Rm. 5:1 dst). Bukan saja dosa dikalahkan oleh ketaatan sempurna (berlangsung sampai pada kebangkitan) Yesus, maut juga dibinasakan. Karena maut menerima sengatnya dari dosa. Seolah-olah pijakan maut direnggutkan dari bawah kakinya, dan ia menjadi tidak berdaya untuk mempertahankan Dia di dalam kubur. Bersama dengan hal ini datang juga jaminan bahwa mereka yang mati satu kali, bila mereka dalam persekutuan dengan Kristus, tidak akan mati lagi. Dengan perkataan lain, kebangkitan pertama itu, merupakan ”buah sulung” dari kebangkitan besar yang akan datang itu (lihat 1 Kor. 15:12-33;51-57). Dengan cara ini, orang-orang Kristen yang telah ditebus mengambil bagian dalam pemuliaan Kristus, karena dibenarkan hubungannya dengan Allah dan hukum-Nya, diperhitungkan sebagai benar di hadapan Hakim Suci itu.&amp;lt;br&amp;gt;Jadi pada hari yang ketiga, Paskah pagi menyaksikan terbitnya sebuah hari yang baru. Namun, hari itu bukan sekadar hari biasa seperti hari-hari sebelumnya, melainkan menjadi hari yang mengandung masa depan yang telah ditunjukkannya. Analogi peperangan yang lama tersirat dalam pikiran: kemenangan telah diproklamirkan, peperangan hampir berakhir, meski dosa dan maut masih harus mendengar berita itu, dan kita masih memerangi keduanya. Namun kedua hal itu tidak lagi perlu ditakuti, kita bukan lagi budak dari kedua hal tadi. Sang Pemenang, Yesus, telah menghancurkan kuk dosa dan maut, beban yang telah ditanggung-Nya itu. Kisah kosongnya kubur Yesus secara harfiah bukan hanya menegaskan pengharapan yang kita pegang, tetapi pada waktu yang sama, hal tersebut juga menawarkan kepada kita, bahkan sekarang ini, hidup kebangkitan di masa mendatang kepada setiap orang yang berada dalam Kristus. Ketidakpastian dan kekosongan dari dunia ini, yang terkadang menekan, tidak boleh membuat kita berputus asa terus-menerus. Tidak ada tempat bagi hal tersebut dalam hidup orang yang percaya kepada kemenangan Allah melalui Yesus Kristus yang telah ditinggikan. Bagaimanapun beratnya, di tengah-tengah kedukaan dan empati dari tragedi, kita harus bersyukur kepada Allah dalam terang janji ini: ciptaan baru, surga di dunia. Jadi kita secara rutin memproklamirkan kepercayaan ini pada setiap Hari Tuhan: ”Kristus telah mati, Kristus telah bangkit, Kristus akan datang kembali.” Akan datang suatu hari di mana lalang akan ditumpas oleh rumpun anggur manis, kebenaran sejati akan memerintah, dan orang-orang berdosa yang tadinya akan binasa tidak akan melakukan hal lain selain hidup dibangkitkan secara sempurna dan merendah di hadapan hadirat Sang Penguasa&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:34:20 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Dia_Tidak_Ada_Di_sini,_Dia_Telah_Bangkit</comments>		</item>
		<item>
			<title>Implikasi Injil</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Implikasi_Injil</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Gospel Implications}}'''Menggembalakan Jemaat Saudara untuk Berpikir dan Hidup Sesuai dengan Kebenaran Injil''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah gereja dianggap sehat apabila (1) guru jemaatnya mampu secara tepat dan effektif dan secara luas membawa injil untuk menjadi bagian dari kehidupan nyata dari jemaatnya; dan (2) jemaatnya memiliki pengertian pribadi yang mendalam tentang apresiasi terhadap injil, sehingga mampu hidup baik setiap hari sebagaimana dikatakan dalam injil. Saya menyebutnya sebagai ''keterpusatan fungsional'' pada injil. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang amat penting untuk mencapai tujuan ini adalah ''membuat jelas'' hubungan antara injil dan implikasi-implikasi doktrin dan perilakunya. Kita bisa menyebut hubungan ini masing-masing sebagai “kebenaran injil” dan “perilaku injil”. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkanlah tiga buah lingkaran konsentris. Injil berada di tengah-tengahnya, mungkin paling tepat sebagaimana diungkapkan dalam I Korintus 15:3 “ Kristus mati karena dosa-dosa kita.” Ungkapan yang sederhana ini berbicara tentang realitas dosa kita, perlunya hukuman dari Tuhan, dan anugerah keselamatan yang sangat indah dari murka Allah dalam Kristus. Paulus menyebut ini “berita baik” sebagai sesuatu yang “paling penting”, dan kita sangat memaklumi prioritas yang ia berikan terhadap berita ini dalam pengajaran-pengajaran dan tulisan-tulisannya (bandingkan. I Korintus 2:1-4). Jadi, tentang keterpusatannya. Namun agar ia mempunyai keterpusatan yang ''fungsional'' ia harus ''dihubungkan'' dengan hal-hal di mana jemaat hidup di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini membawa kita ke lingkaran kedua, yaitu kebenaran-kebenaran injil. Hal ini merupakan sesuatu yang khusus, berfokus pada implikasi doktrinal dari injil; atau, sebagaimana ditulis oleh Paulus “doktrin yang sesuai dengan (yaitu terbentuk dari) injil yang mulia” (1 Timotius 1:10-11). Kebenaran-kebenaran injil ini membat injil tertanam secara khusus dalam pikiran; kebenaran ini bermanfaat untuk memperbarui pikiran sehingga pola pikir kita semakin terbentuk oleh kebenaran injil itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebagaimana mungkin kita harapkan, kitab Roma khususnya dipenuhi dengan kebenaran-kebenaran injil ini. Saya berikan tiga contoh sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(1) Dalam Roma 5:1 Paulus menyatakan, “''Sebab itu, karena'' kita telah dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Perhatikan logika dari ayat ini. Sesuatu mengikuti dari kebenaran esensial injil. Mempunyai damai sejahtera dengan Tuhan bukanlah injil itu sendiri, melainkan implikasi kuat dari injil—suatu “kebenaran injil”. Dan memahami kebenaran injil ini adalah bagian dari penyesuaian pola pikir seseorang terhadap Injil yang mulia itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(2) Dalam Roma 8:1 kita baca, “''Demikianlah sekarang'' tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” Sekali lagi, perhatikan argumentasinya. Di sini Paulus bukan mempersembahkan injil itu sendiri akan tetapi sesuatu yang benar “sekarang” ''karena'' injil. Tetapi implikasinya sangat luar biasa! Bila benar-benar dimengerti oleh orang percaya hal ini akan membuat perubahan yang revolusioner dalam lingkup pemikiran mereka dan injil akan ''berfungsi'' dengan kuat bagi mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
(3) Roma 8:32 adalah favorit: “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia ''juga'' tidak akan mengaruniakan segala sesuatu kepada kita ''bersama-sama dengan Dia''? Perhatikan kata “juga” dan “bersama-sama dengan dia”. Hal ini menyatakan sesuatu yang timbul dari injil. Ketika orang melihat hubungan antara kebenaran dari injil itu sendiri (“Ia tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua”) dan kebenaran injil ini mengenai semua yang disediakan Tuhan secara baik untuk memenuhi apa yang kita butuhkan untuk pengudusan kita (bandingkan ayat 28-29), injil akan ''berfungsi'' untuk memperkuat kepercayaan mereka sehari-hari terhadap apa yang disediakan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, injil bukan hanya membentuk pola pikir kita, juga terdapat begitu banyak implikasi ''perilaku'' dari injil. Injil bukan saja untuk memperbarui pikiran kita, namun juga memperingatkan akan perilaku kita. Ada banyak contoh ayat-ayat Alkitab mengenai kehidupan yang diperingatkan oleh injil ini. Dalam Galatia 2:14 Paulus menegur Petrus atas tindakannya yang “tidak sejalan dengan kebenaran Injil” dan dalam Filipi 1:27 ia mendorong orang-orang percaya untuk “''bertingkah laku'' sesuai dengan injil.” Dengan kata lain, salah satu jalan dimana injil dapat berfungsi adalah dengan memberitahukan tingkah laku yang khusus. Jadi, kita harus membaca Alkitab dengan perhatian khusus pada hubungan-hubungan ini. Misalnya pada waktu Paulus menyerukan kepada orang-orang di Korintus untuk “menjauhkan diri dari perbuatan cabul” ia secara eksplisit mendasarkan seruannya itu pada injil—“kamu bukan milik kamu sendiri, sebab kamu telah dibeli. ''Karena itu'' muliakanlah Allah dengan tubuhmu” (I Korintus 6:18-20). Ketika ia mendorong orang untuk memberi pengampunan, ia secara eksplisit merujuk kepada injil sebagai motivasi dan teladan (Efesus 4:32). Ketika ia mengatakan suami harus mengasihi istrinya ia menyatakan hal itu dengan mengaitkan nasihatnya secara langsung dengan injil (Efesus 5:25). Ketika ia menasihati orang-orang Korintus agar terus-menerus berbuat baik ia secara eksplisit mengingatkan mereka akan kebaikan Allah dalam injil (2 Korintus 8:7,9; 9:12-13, 15). Banyak contoh lain lagi yang dapat diberikan. Pada akhirnya semua tingkah laku orang Kristen harus mengalir dari injil; sembari berupaya keras untuk menghindari kehambaran, hubungan harus dibuat dengan semua segi kehidupan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salah satu tantangan yang paling besar dan tugas yang paling penting dari guru-jemaat adalah ''menunjukkan'' secara jelas hubungan-hubungan ini sehingga jemaat dapat secara spesifik dan tepat membawa injil untuk bertahan dalam pikiran dan perilaku mereka. Jadi injil menjadi pusat ''secara fungsional'' bagi orang Kristen secara individu dan bagi gereja setempat.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:34:11 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Implikasi_Injil</comments>		</item>
		<item>
			<title>Pemberian Tuhan yang Dunia Tidak Layak Menerimanya: Orang-orang Kristen yang Menderita</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pemberian_Tuhan_yang_Dunia_Tidak_Layak_Menerimanya:_Orang-orang_Kristen_yang_Menderita</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | God's Undeserved Gift to the World: Christian Sufferers}}''Renungan dari Ibrani 11:37-39'' &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Ibrani 11:37-39'''&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan--dunia ini tidak layak bagi mereka--mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua dan celah-celah gunung. Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik…&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Yesus berterus terang bahwa semua pengikutnya harus memikul salib dan mengikut dia (Markus 8:34). Ia juga mengatakan bahwa jika orang menyebut Yesus “Beelzebul, apalagi seisi rumahnya” (Matius 10:25). “Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yohanes 15:20). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi mereka yang membaktikan hidupnya untuk mengabarkan injil, Alkitab menjanjikan bahwa akan banyak lagi penderitaan. Misalnya, Yesus berkata kepada Ananias untuk memberitahukan kepada Paulus, “Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yag harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (Kisah Para Rasul 9:16). Penderitaan ini adalah strategis. Ia memiliki suatu rancangan yang indah. Ini dimaksudkan untuk mengungkapkan kasih Kristus kepada dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menjelaskan bahwa rancangan seperti ini: “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus” (Kolose 1:24). Kita tahu dari Filipi 2:30 bahwa “untuk memenuhi apa yang masih kurang” tidak berarti menambah pada apa yang sudah ada, akan tetapi meneruskan apa yang sudah ada kepada mereka yang merupakan sasarannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi bagi orang-orang Filipi, itu berarti bahwa Epaphroditus akan membawa kasihnya kepada Paulus dalam bentuk hadiah. Dalam Kolose 1:24, ini berarti bahwa Paulus akan membawa “penderitaan Kristus” kepada dunia dalam penderitaannya sendiri. Rancangan penderitaan Paulus adalah untuk mewujudkan dan menunjukkan penderitaan Kristus. Ketika dunia melihat seorang misioner menderita pada saat memberitakan Kristus kepada manusia, mereka sedang melihat kasih Kristus kepada mereka di atas kayu salib. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia tidak layak menerima hadiah penderitaan orang Kristen. Namun Tuhan tetap memberikannya. Ibrani 11:27-38 menjelaskan sebagian dari penderitaan orang-orang Kristen ini dan bagaimana dunia tidak layak menerimanya. “Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang. Mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan--dunia ini tidak layak bagi mereka”. Kata-kata terakhir ini berarti bahwa dunia tidak layak menerima hadiah dari orang-orang Kristen yang menderita ini. Namun Tuhan tetap memberikannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana mungkin para orang suci (santo) yang menderita ini merupakan hadiah bagi dunia? Jawabannya terletak pada iman mereka. Semua ini “dipercayakan melalui iman mereka (ayat 39). Yaitu, penderitaan-penderitaan itu diijinkan oleh Tuhan. Penderitaan mereka bukanlah karena kurangnya iman mereka, akan tetapi harga dari penderitaan mereka benar-benar terletak pada iman mereka. Bagaimana mungkin? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan dalam Ibrani 11 bahwa kadang-kadang Tuhan melakukan mujizat pertolongan melalui penderitaan (Ibrani 11:27-35a). Dan kadang-kadang ia memberi iman untuk menanggung dukacita dan kematian (Ibrani 11:35b-39). Sebutan umum tentang iman yang hilang dan iman yang bertahan adalah di mana Tuhan lebih dimuliakan di atas kebebasan dan kehidupan. Orang yang hilang imannya berkata, “Yesus lebih baik daripada apa yang aku dapatkan.” Orang yang mati berkata, “Yesus lebih baik daripada apa yang hilang dari padaku.” Itu adalah inti dari iman: Yesus dipercaya dan dimuliakan di atas segala-galanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itulah sebabnya orang-orang Kristen yang menderita ini--khususnya para misionaris yang menderita--merupakan hadiah bagi dunia. Penderitaan mereka demi Yesus mewujudkan kebenaran injil bahwa Yesus lebih berharga daripada apa yang dapat diberikan oleh hidup dan apa yang dapat diambil oleh maut. Sungguh suatu pernyataan salib yang hidup! Kebenaran ini adalah suatu hadiah yang paling berharga yang dapat diberikan oleh seorang Kristen bagi dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dunia tidak layak menerimanya. “Dunia ini tidak layak bagi mereka.” Namun kita tetap memberikannya. Saya berdoa semoga kamu sekalian akan memiliki iman yang teguh dalam Yesus ketika tiba saatnya untuk memberi hadiah penderitaan bagi dunia. Bersiaplah untuk itu dengan mengenal Yesus secara mendalam. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bersiap-siap bersama anda untuk memberi, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:34:02 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Pemberian_Tuhan_yang_Dunia_Tidak_Layak_Menerimanya:_Orang-orang_Kristen_yang_Menderita</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kabar Baik Allah Sehubungan Dengan Anak-Nya</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kabar_Baik_Allah_Sehubungan_Dengan_Anak-Nya</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | God's Good News Concerning His Son}} &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;'''Roma 1:1-4''' Dari Paulus, hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. 2 Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, 3 tentang Anak-Nya, yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud, 4 dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. &amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Minggu lalu kita melihat dari ayat 1 bahwa Paulus adalah hamba Kristus Yesus, artinya, dia dibeli dan dimiliki serta tunduk kepada Kristus. Dia hidup untuk menyenangkan Kristus. Dan agar kita tidak salah tafsir bahwa Kristus bergantung kepada inisiatif and perbudakan Paulus, kita harus memperhatikan Roma 15:18 bahwa Paulus bergantung kepada Kristus di dalam semua yang Paulus kerjakan dalam melayani Kristus: “Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan.” Dengan kata lain, Paulus melayani Kristus di dalam kuasa yang dilayani oleh Kristus untuk Paulus. “Anak manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Markus 10:45; lihat juga 1 Korintus 15:10; 1 Petrus 4:11). Kita akan membelokkan seluruh makna kitab Roma sejak awal jika kita tidak melihat bahwa Paulus melayani Kristus di dalam kuasa yang diberikan Kristus, sehingga Kristus beroleh kemuliaan di dalam pelayanan Paulus (lihat 1 Petrus 4:11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kristus yang berdaulat, yang memberikan semuanya adalah yang kita temui di dalam frasa berikut, “dipanggil menjadi rasul.” Kristus memanggil Paulus dalam perjalanan menuju Damsyik dan memberikan kuasa kepada dia untuk menjadi wakilnya dalam mendirikan gereja dengan pengajaran yang benar. Selanjutnya kita melihat tangan Allah yang berdaulat, yang merencanakan semuanya di frasa berikut, “dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah.” Allah menguduskan Paulus sebelum dia dilahirkan, kata Galatia 1:15. Allah begitu serius tentang kedatangan dan pewahyuan Injil-Nya sehingga dia tidak membiarkan apapun untuk terjadi secara kebetulan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sekarang kita akan melihat perkataan ini, “Injil Allah” (1:1) dan bagaimana Paulus menjelaskannya di ayat 2-4. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci,”&amp;lt;br&amp;gt;Hal pertama yang dikatakan Paulus adalah sepenuhnya apa yang kita baru saja lihat: bahwa Allah serius ingin menunjukkan bahwa Injil direncanakan jauh sebelum diwujudkan. Ayat 2: “…[Paulus] dikuduskan bagi Injil Allah, yang dijanjikan sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan tiga hal ini dari ayat 2. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Injil Allah adalah penggenapan dari janji-janji Perjanjian Lama &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini bukan agama yang baru. Ini adalah penggenapan dari sebuah agama lama. Allah Perjanjian Lama adalah Allah Perjanjian Baru. Apa yang Dia persiapkan dan janjikan di masa lalu, Dia genapi di dalam kedatangan Yesus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Allah menepati janji-janji-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ratusan tahun berlalu sudah. Orang-orang Yahudi bertanya-tanya apakah Mesias akan datang. Mereka mengalami penderitaan yang luar biasa. Lalu Allah bertindak dan janji itu digenapi. Ini berarti Allah dapat dipercaya. Mungkin kelihatannya dia telah melupakan janji-janji-Nya. Tetapi dia tidak lupa. Jadi ayat 2 bukan hanya sebuah pernyataan tentang isi Injil, tetapi juga adalah alasan untuk percaya kepadanya. Jika kita dapat melihat bahwa God menjanjikan Kristus beratus-ratus tahun sebelum Dia datang dan bahwa dalam banyak hal-hal terinci dia menggenapi janji-janji ini, iman kita dikuatkan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Ini adalah tulisan-tulisan yang kudus dan diwahyukan yang harus kita hormati dan percayai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan implikasi yang luar biasa pentingnya dari ayat 2 bagi doktrin Alkitab kita. Pertama-tama ada Allah; kemudian ada janji yang Allah dikehendaki untuk diperbuat; lalu ada nabi-nabi yang “dengan perantaraan” mereka (Perhatikan: bukan “oleh” mereka, tetapi “dengan perantaraan” mereka, Allah tetap sebagai pembicara) Allah mengucapkan janji-Nya; lalu ada tulisan-tulisan; dan tulisan-tulisan ini disebut kudus. Mengapa disebut kudus – dipisahkan dari semua tulisan lain dan unik serta berharga? Karena Allah yang berbicara di dalamnya. Bacalah ayat ini dengan hati-hati: Dia [Allah] menjanjikan sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci. Allah berjanji di dalam Alkitab. Allah berbicara di dalam Alkitab. Ini yang membuat tulisan-tulisan itu kudus. Ini adalah pemahaman Paulus tentang Alkitab dan juga seharusnya adalah pemahaman kita. Jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa di halaman depan Alkitab kita tertulis “Kitab Suci,” Roma 1:2 adalah jawabannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan agar keterkaitan langsung ini tidak luput dari perhatian kita dalam eksposisi kitab Roma, kita perlu ingat tiga hal:&amp;lt;br&amp;gt;1. Paulus melihat dirinya di 1:1 sebagai seorang rasul Kristus Yesus, dia berbicara dan menulis dengan penuh kuasa Kristus sebagai seorang pendiri gereja. Dengan kata lain, seperti salah seorang nabi di masa lalu (Efesus 2:20).&amp;lt;br&amp;gt;2. Paulus mengatakan di 1 Korintus 2:13, “Kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.” Dengan kata lain, Paul mengklaim akan adanya suatu wahyu khusus di dalam pengajarannya.&amp;lt;br&amp;gt;3. Dalam 2 Petrus 3:16, Petrus mengatakan bahwa sebagian “orang memutarbalikkan [surat Paulus], sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.” Dengan demikian Petrus menempatkan surat-surat Paulus ke dalam kategori yang sama dengan Kitab Suci yang kita baca sekarang. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu sebabnya khotbah begitu penting di dalam kehidupan kita bersama. Kita percaya bahwa surat Paulus kepada jemaat di Roma adalah firman Tuhan, bukan hanya perkataan manusia. Injil dijanjikan di dalam kitab suci yang diwahyukan Allah; dan Injil disingkapkan dan dilestarikan bagi kita di dalam kitab suci yang diwahyukan Allah. Ini yang kita percayai, dan ini menimbulkan perbedaan yang luar biasa dalam cara kita memandang kebenaran dan doktrin dan khotbah dan ibadah dan segala sesuatu di dunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian hal pertama yang dikatakan Paulus tentang Injil Allah adalah bahwa Injil direncanakan dan dinubuatkan jauh sebelumnya (1:2). Ini adalah Injil “yang telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“tentang Anaknya, …”&amp;lt;br&amp;gt;Hal kedua yang dia katakan tentang Injil Allah (1:3) adalah bahwa Injil ini adalah tentang anak-Nya. “…Injil itu telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, …” Injil Allah berhubungan dengan Anak Allah. Kita perlu segera menjelaskan dua hal tentang Anak Allah, agar kita tidak jauh tersesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anak Allah telah ada sebelum Ia menjadi manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Lihat Roma 8:3, “Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging.” Allah mengutus dia untuk mengambil rupa manusia. Dengan demikian Sang Anak ada sebagai Anak Allah sebelum dia menjadi manusia. Ini artinya Kristus sekarang dan dahulu adalah Anak Allah secara unik – tidak seperti kita yang juga merupakan anak-anak Allah (Roma 8:14, 19). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Kristus sendiri adalah Allah &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Roma 9:5, tentang keistimewaan Israel, Paulus mengatakan, “Mereka [Israel] adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaan-Nya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!” Dan di Kolose 2:9 Paulus mengatakan, “Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan.” Dengan demikian ketika Paulus mengatakan bahwa Injil Allah tentang Anak-Nya, maksudnya Injil ini berhubungan dengan Anak yang ilahi dan ada sejak semula. Injil Allah bukan tentang Allah mengatur urusan manusia menjadi lebih baik. Injil Allah adalah tentang Allah menerobos urusan manusia dari luar di dalam diri Anak-Nya yang merupakan gambar Bapa yang sempurna dan merupakan Allah sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian Paulus memberikan penekanan yang kuat atas “Injil Allah” dengan mengatakan, pertama, bahwa ia dijanjikan – direncanakan – oleh Allah jauh sebelum ia muncul, dan, kedua, bahwa ia berhubungan dengan Anak-Nya yang ilahi. Pencipta alam semesta yang berdaulat telah merencanakan kebaikan bagi dunia, dan di pusat rencana ini adalah Anak-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“…yang menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud…”&amp;lt;br&amp;gt;Hal ketiga yang dikatakan Paulus tentang Injil Allah adalah bahwa Sang Anak yang ilahi ini “menurut daging diperanakkan dari keturunan Daud.” Kalimat ini secara bersamaan mengatakan dua hal: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Anak Allah menjadi seorang manusia.&amp;lt;br&amp;gt;Dia dilahirkan. Pekerjaan yang harus Dia lakukan – misi Dia – menuntut Dia untuk mengambil natur manusia, bersamaan dengan natur ilahinya. Allah tidak memilih seorang manusia dan menjadikan dia anak-Nya; Dia memilih untuk menjadikan Anak-Nya yang tunggal dan kekal sebagai manusia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dia dilahirkan di dalam garis keturunan Raja Daud dari Perjanjian Lama&amp;lt;br&amp;gt;Mengapa ini adalah bagian dari Injil Allah? Mengapa ini adalah kabar baik? Jawabannya adalah semua janji-janji Perjanjian Lama bergantung kepada kedatangan Mesias – Yang diurapi – yang akan memerintah sebagai raja di dalam garis keturunan Daud dan menaklukkan musuh-musuh umat Allah serta membawa keadilan dan damai sejahtera selamanya. Dia akan menjadi “Ya” bagi semua janji-janji Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perhatikan beberapa janji-janji Perjanjian Lama. Yeremia 23:5, “Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.” Atau Yesaya 11:10, “Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai [yaitu Anak Daud, keturunan Isai] akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian Injil Allah adalah kabar baik yang sekarang, setelah ratusan tahun, diwujudkan Allah untuk menggenapi rencana dan janji-Nya bahwa seorang raja akan datang dari garis keturunan Daud, dan, sebagaimana dikatakan Yesaya 9:6-7, “Lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dengan demikian “Injil Allah” adalah kabar baik bahwa waktunya telah genap dan kerajaan Allah sudah dekat (Markus 1:14-15, “Yesus datang ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: ‘Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!’”). Kedatangan Anak Allah ke dalam dunia adalah kedatangan “Anak Daud,” Raja yang dijanjikan. Dia akan memerintah bangsa-bangsa dan mengalahkan musuh-musuh Allah serta memerintah dengan keadilan dan damai sejahtera dan, menurut Yesaya 35:10, “Orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh.” Itulah yang membuat ayat 3 “Injil Allah.” Kedatangan Anak Allah sebagai Anak Daud akan berarti sukacita abadi di hadapan Allah – bagi orang-orang yang dibebaskan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa”&amp;lt;br&amp;gt;Ada satu hal lagi yang Paulus katakan tentang “Injil Allah.” Injil Allah bukan hanya direncanakan dan dijanjikan sebelum realisasi; dan Injil Allah bukan hanya tentang Anak Allah yang ilahi dan ada sejak semula; dan Injil Allah bukan hanya kabar bahwa Sang Anak ini telah dilahirkan sebagai Anak Daud untuk menggenapi harapan dan impian Perjanjian Lama tentang keadilan dan damai sejahtera dan sukacita di dalam kerajaan Allah; tetapi di ayat 4, Paulus mengatakan sesuatu yang secara bersamaan mengejutkan dan menggembirakan. Dia mengatakan bahwa Anak Allah “dinyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, menurut Roh kekudusan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mengapa saya mengatakan ini mengejutkan? Kebanyakan orang Yahudi di zaman Paulus mengharapkan Mesias akan datang dengan kuasa secara politis, dan akan mengalahkan pemerintah dunia yang menindas, orang Romawi, dan mendirikan kerajaan dunia di Yerusalem dan hidup berkemenangan selamanya bersama umat-Nya. Tetapi dari apa yang dikatakan Paulus di ayat 4 tersirat bahwa di antara ayat 3 dan 4 Anak Daud mati. Dia mati! Mereka yang mengira Dia adalah Mesias terkejut. Mesias mestinya tidak mati. Dia hidup dan menaklukkan dan memerintah. Dia tidak ditangkap dan dipukul dan dihina dan disalibkan serta membiarkan umat-Nya terlantar. Ini sungguh mengejutkan. (Lukas 24:21, “Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.”). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus akan kembali membicarakan kematian Kristus di pasal 3 dan 5 dan 8. Tetapi untuk sekarang ini dia segera membahas catatan menggembirakan tentang kemenangan pada Injil Allah. Mesias yang mati ini, Paulus katakan di ayat 4, dibangkitkan dari antara orang mati. Ini adalah jantung dari Injil Allah. Dan Paulus mengatakan dua hal tentang kebangkitan ini: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Kebangkitan dari antara orang mati ini adalah “menurut Roh kekudusan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apa artinya ini? Menurut saya ini paling sedikit mempunyai dua arti: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
a. Roh Allah yang kudus membangkitkan Yesus dari antara orang mati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya mendapat petunjuk dari Roma 8:11 di mana Paulus berkata, “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.” Ini mengajarkan bahwa kita akan dibangkitkan oleh Roh Allah yang diam di dalam kita, sebagaimana Kristus dibangkitkan. Dengan demikian Roh dilibatkan dalam membangkitkan Yesus dari kematian. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
b. Tetapi mengapa Paulus memakai istilah yang tidak lazim, “Roh kekudusan” (tidak ditemukan di tempat lain di Perjanjian Baru)?&amp;lt;br&amp;gt;Ini usul saya. Berhubungan dengan orang mati adalah urusan yang menjijikkan. Ketika Raja Saul ingin berkomunikasi dengan orang mati dia pergi ke perempuan pemanggil arwah (1 Samuel 28:7 dst.), dan ini adalah sebuah usaha yang serba rahasia dan melanggar hukum. Pemanggil arwah, peramal, dan perdukunan merupakan hal-hal yang terkutuk di Israel. Ketika orang mati meninggal, kita membiarkan mereka dan tidak berurusan lagi dengan mereka. Berkomunikasi dengan arwah adalah sesuatu yang tidak dibenarkan bagi orang percaya. Berhubungan dengan orang mati merupakan sejenis ilmu hitam, bukan sesuatu yang indah, bersih, dan kudus. Berbicara tentang orang mati yang dieksekusi dibangkitkan dari orang mati pasti kedengarannya sungguh mengerikan dan menjijikkan, seperti ilmu hitam dan perdukunan. Bertolak belakang dengan ini Paulus menekankan yang sebaliknya: Kristus dibangkitkan dari antara orang mati menurut Roh kekudusan, bukan roh kegelapan atau roh jahat, tetapi Roh Allah sendiri yang terlebih-lebih ditandai dengan kekudusan. Dia tidak menjadi tercemar karena membangkitkan Yesus. Ini merupakan sesuatu yang kudus untuk dilakukan. Ini adalah benar dan baik dan bersih dan indah dan memuliakan Allah, bukan meremehkan Allah. Ini adalah kudus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Dengan kebangkitan ini Kristus “dinyatakan Anak Allah yang berkuasa.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perkataan kunci di sini adalah “yang berkuasa.” Saya kira Alkitab bahasa Inggeris versi NASB dan KJV dan RSV benar dengan menunjukkan bahwa frase ini menerangkan “Anak Allah.” Maksudnya bukanlah bahwa Kristus bukan Anak Allah sebelum kebangkitan. Maksudnya adalah pada kebangkitan Kristus bergerak dari Anak Allah di dalam kerendahan dan keterbatasan dan kelemahan manusia menjadi Anak Allah yang berkuasa. Perkataan kuncinya adalah “yang berkuasa.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ini adalah maksud Yesus ketika dia mengatakan setelah kebangkitan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18). Ini adalah maksud Paulus di 1 Korintus 15:25-26 ketika dia berbicara tentang Kristus yang bangkit, “Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya. Musuh yang terakhir, yang dibinasakan ialah maut.” Dengan kata lain, Yesus adalah Raja Mesianik. Dia sedang memerintah sekarang atas seluruh bumi. Dia sedang meletakkan semua musuhnya di bawah kakinya. Akan tiba waktunya ketika Dia menerobos dari pemerintahan-Nya yang tidak kelihatan dengan kemuliaan yang kelihatan dan mendirikan kerajaan-Nya secara terbuka dan mulia di atas bumi. Itu yang Paulus maksudkan dengan “Anak Allah yang berkuasa.” Dia sedang memerintah sekarang. Dia sedang mewujudkan tujuanNya melalui Roh-Nya dan gereja-Nya. Dan akan tiba saatnya ketika Kristus akan mengalahkan semua musuh, dan setiap lutut akan bertekuk dan mengaku bahwa Dia adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa (Filipi 2:10-11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu akan merupakan konsumasi dari Injil Allah. Kepadanya kita berkata, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus.”&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:33:55 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kabar_Baik_Allah_Sehubungan_Dengan_Anak-Nya</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kemuliaan Tuhan dan Sukacita terdalam Jiwa Manusia adalah Satu</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kemuliaan_Tuhan_dan_Sukacita_terdalam_Jiwa_Manusia_adalah_Satu</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | God's Glory and the Deepest Joy of Human Souls Are One Thing}}''Lima belas Implikasi'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jonathan Edwards menulis: &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;Tuhan dalam menginginkan kemuliaan-Nya menginginkan kebaikan ciptaan-Nya, karena pancaran kemuliaan-Nya ... berarti ... kebahagiaan ciptaan-Nya. Dan dalam menyampaikan kepenuhan-Nya kepada mereka, Ia melakukannya untuk diri-Nya sendiri, karena kebaikan mereka, yang Ia inginkan, begitu bersatu dan berada dalam persekutuan dengan-Nya. Tuhan adalah kebaikan mereka. Kemuliaan dan kebahagiaan mereka tidak lain adalah pancaran dan ekspresi kemuliaan Tuhan. Tuhan, dalam menginginkan kemuliaan dan kebahagiaan mereka, menginginkan diri-Nya, dan dalam menginginkan diri-Nya, ... Ia menginginkan kemuliaan dan kebahagiaan mereka.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;Karena itu mudah untuk mengerti bagaimana Tuhan menginginkan kebaikan ciptaan-Nya ... bahkan kebahagiaannya, dengan tidak mengabaikan keagungan diri-Nya; karena kebahagiaannya timbul dari ... pemberian keagungan darinya kepada Tuhan ... dalam memandang kemuliaan-Nya, dalam menghargai dan mencintainya, dan bersukacita di dalamnya.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;Penghargaan Tuhan terhadap kebahagiaan ciptaan, dan penghargaan-Nya terhadap diri-Nya, bukanlah penghargaan yang terpecah; melainkan keduanya bersatu, karena kebahagiaan ciptaan yang diinginkan-Nya adalah kebahagiaan dalam persatuan dengan diri-Nya sendiri.&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
Dalam bukunya, ''God's Passion for His Glory: Living the Vision of Jonathan Edwards''(dengan teks lengkap dari The End for Which God Created the World (Wheaton, Ill.: Crossway Books, 1998), John Piper mengusulkan lima belas implikasi kebenaran yang dikutip di atas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1.''' Kerinduan Tuhan akan kemuliaan-Nya dan kerinduan-Nya akan sukacita saya tidaklah bertentangan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2.''' Dengan demikian, Tuhan peduli dengan sukacita saya yang kekal dan yang terus bertambah di dalam Dia sama seperti Dia dengan kemuliaan-Nya sendiri. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3.''' Kasih Tuhan bagi orang-orang berdosa bukanlah membesarkan mereka, melainkan pemberian kebebasan dan kemampuan kepada mereka untuk menikmati membesarkan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4.'''Segala kebaikan yang sejati dari manusia harus bertujuan membawa manusia bersukacita dalam kemuliaan Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5.''' Dosa adalah penukaran yang bersifat bunuh diri antara kemuliaan Tuhan dengan benda-benda ciptaan yang seperti bejana-bejana pecah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''6.''' Sorga akan merupakan penyingkapan yang tidak kunjung berakhir dan yang terus bertambah akan kemuliaan Tuhan dengan sukacita dalam Dia yang semakin bertambah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''7.''' Neraka adalah sungguh nyata, mengerikan, dan kekal—pengalaman di mana Tuhan menunjukkan kebesaran kemuliaan-Nya dalam murka suci kepada mereka yang tidak mau menginginkan apa yang tidak terhingga mulianya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''8.''' Penginjilan berarti melukiskan keindahan Kristus dan karya penebusan-Nya dengan desakan kasih yang sungguh yang berusaha menolong orang-orang menemukan kepuasan mereka dalam Dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''9.''' Khotbah Kristen, sebagai bagian ibadah gereja Kristus, adalah eksposisi kegembiraan akan kemuliaan Tuhan dalam firman-Nya, untuk menarik umat Tuhan dari kesemuan kesenangan dosa kepada jalan pengorbanan menuju kepuasaan yang taat dalam Dia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''10.''' Esensi ibadah yang sejati adalah pengalaman bersama akan kepuasan yang sungguh dalam kemuliaan Tuhan, atau kegentaran bahwa kita tidak memilikinya dan kerinduan yang besar untuk mendapatkannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''11.''' Misi dunia adalah deklarasi kemuliaan Tuhan di antara bangsa-bangsa yang belum terjangkau, dengan tujuan mengumpulkan penyembah-penyembah yang membesarkan Tuhan melalui kebahagiaan hidup yang taat secara radikal. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''12.''' Doa adalah seruan minta tolong kepada Tuhan supaya nyata bahwa Ia kaya secara mulia dan kita dengan rendah hati dan bahagia membutuhkan kasih karunia. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''13.''' Tugas penggarapan ilmu Kristen adalah untuk mempelajari realita sebagai manifestasi kemuliaan Tuhan, untuk membicarakannya dengan akurasi, dan mengecap keindahan Tuhan di dalamnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''14.''' Cara membesarkan Tuhan dalam kematian adalah dengan menemui kematian sebagai keuntungan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''15.''' “Adalah tugas Kristiani, sebagaimana kamu ketahui, bagi setiap orang untuk menjadi sebisa mungkin berbahagia.” (C. S. Lewis)&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:33:49 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Kemuliaan_Tuhan_dan_Sukacita_terdalam_Jiwa_Manusia_adalah_Satu</comments>		</item>
		<item>
			<title>Lima Langkah Mudah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Lima_Langkah_Mudah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Five Easy Steps}}Pada awal minggu ini saya berbicara dengan seorang sahabat karib saya yang baru saja melewati periode yang penuh dengan kekecewaan pribadi, hal yang melemahkan semangat, perlakuan yang tidak sepantasnya dan bahkan gossip palsu tentang karakter dan pelayanan Kristianinya. Saya sangat tersentuh dan kagum dengan responnya, “Hal yang menghibur saya hanyalah ini,” Ia berkata,”Ibadah kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. (I Tim 6:6)” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah reaksi terhadap kesulitan yang sedemikian itu (dalam konteks di mana kepuasaan Kristiani diuji juga diperlihatkan) tidaklah pernah merupakan hasil dari keputusan kehendak yang sementara, juga tidak dihasilkan hanya karena memiliki perencanaan waktu dan hidup yang teratur, jernih serta matang diperhitungkan untuk melindungi kita dari situasi yang melenceng di luar kuasa kita. Itu berarti menjadi puas dengan kehendak Tuhan di dalam setiap aspek penyertaanNya. Karenanya, hal ini adalah masalah mengenai siapa diri kita, jati diri kita; hal ini tidak dihasilkan hanya dengan berapa banyak kita melakukan sesuatu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Melakukan dan Keberadaan Diri''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepuasan adalah anugerah yang seringkali tidak dihargai. Sebagaimana pada abad ke 17 ketika Jeremiah Burroughs menghasilkan karya tulis yang luar biasa mengenai tema ini, begitu pula sampai hari ini hal itu tetaplah “Harta yang langka.” Jika hal itu bisa dihasilkan dengan cara terprogram (Lima langkah menuju kepuasan dalam 1 bulan), hal itu menjadi biasa-biasa saja. Sesungguhnya, Kristen harus menemukan cara kuno-kepuasan; kita harus mempelajarinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Oleh karena itu, kita tidak bisa “melakukan” kepuasaan. Hal ini diajarkan oleh Allah, kita disekolahkan dalam hal ini. Ini adalah bagian dari proses transformasi melalui pembaharuan akal budi (Roma 12:1-2). Hal ini diperintahkan kepada kita, tetapi, secara paradoks, hal ini dilakukan bagi kita, bukan oleh kita. Hal ini bukanlah sebuah hasil dari serangkaian aksi, tetapi hasil dari karakter yang dibaharui dan ditransformasi. Hanya pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagi Kristen kontemporer nampaknya beberapa prinsip menjadi lebih sulit dimengerti. Petunjuk yang jelas bagi kehidupan Kristiani sangatlah penting bagi kita. Tetapi, secara menyedihkan, banyak dari pengajaran terprogram yang berat saat ini dalam penginjilan ditekankan terutama pada tindakan eksternal dan mencapai pertumbuhan karakter menjadi terpangkas. Orang Kristen di Amerika Serikat secara khusus pasti mengenali bahwa mereka hidup di dalam lingkungan sosial yang paling pragmatis di dunia in (jika ada orang yang “bisa”, kita juga bisa!). Adalah menyakitkan bagi harga diri kita menemukan bahwa kehidupan Kristiani tidak didasari oleh apa yang kita bisa lakukan, tetapi di dalam apa yang perlu dilakukan bagi kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Beberapa tahun yang lalu saya diperhadapkan pada sebuah kejadian yang cukup menyakitkan dengan mentalitas ”katakan pada kami dan kami akan melakukannya.” Setengah perjalanan dalam sebuah Konferensi Siswa Kristiani, saya dipanggil untuk berkumpul dengan delegasi dari anggota staff yang merasa bertanggung jawab untuk menantang saya dengan kekurang lengkapan dari 2 eksposisi Firman Tuhan yang saya bagikan. Tema yang diberikan adalah Mengenal Kristus. “Bapak telah mengungkapkan bagian ini selama 2 jam!” mereka mengajukan tuntutan mereka, “dan bapak tidak memberitahukan kepada kami satu hal pun yang harus kami lakukan.” Ketidaksabaran untuk melakukan sesuatu menutupi ketidaksabaran dengan prinsip rasul bahwa hanya di dalam mengenal Kristus kita bisa melakukan apapun. (ref: Fil 3:10; 4:13). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana hal ini bisa diaplikasikan pada kepuasan, sebuah tema kunci dalam perbincangan bulan ini di “Mejadiskusi”? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepuasan Kristiani berarti bahwa kepuasan saya tidak tergantung dari situasi sekeliling saya. Ketika Paulus berkata mengenai kepuasan dirinya dalam Fil 4:11, ia menggunakan sebuah terminologi yang umum di kalangan sekolah filsuf Yunani kuno dari Stoik dan Cynics. Dalam kosa kata mereka, kepuasan berarti puas diri, dalam arti tidak tergantung dari situasi yang berubah-ubah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi bagi Paulus kepuasan berakar tidak di dalam pemuasan diri sendiri, tetapi dalam pemuasan Kristus (Fil 4:13). Paulus mengatakan bahwa ia bisa melakukan apapun – baik itu dihina atau melimpah-limpah- di dalam Kristus. Jangan melewati frase terakhir ini. Adalah sangat tepat bahwa di dalam kesatuan dengan Kristus dan penemuan atas kelayakanNya di mana kita tidak bisa kembali pada keputusan sesaat. Hal ini adalah buah dari hubungan yang terus berjalan, intim dan terbangun secara mendalam denganNya. Menggunakan istilah Paulus, kepuasan adalah sesuatu yang harus kita pelajari. Dan inilah akar dari masalah ini: bagaimana kita bisa belajar untuk puas? Kita harus mendaftar ke sekolah ilahi di mana kita diajari pengajaran alkitabiah dan pengalaman ilahi. Sebuah contoh yang baik dari pembelajaran ini di sekolah tersebut ada di Mazmur 131 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Sebuah Contoh Alkitabiah''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam Mazmur 131, Raja Daud memberikan kepada kita sebuah gambaran yang jelas tentang apa arti bagi dirinya untuk belajar menjadi puas. Ia menggambarkan pengalamannya dalam terminologi seorang anak yang disapih dari susu kepada makanan padat: “Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.” (Mzm 131:2) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bayangkan gambarnya dan dengar suaranya. Semakin akan lebih nyata jika anda ingat bahwa di masa PL anak tidak akan disapih sampai ia berusia 3 atau 4 tahun! Menjadi cukup sulit bagi seorang ibu untuk bisa menghadapi tangisan seorang anak yang tidak puas, penolakan akan makanan padat dan pertentangan kehendak pada masa disapih tersebut. Bayangkan pertentangan dengan anak berusia 4 tahun! Itulah ukuran pertarungan yang dialami Daud sebelum ia belajar untuk menjadi puas dan nyaman. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''Dua pokok utama''' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi perjuangan apa sesungguhnya hal ini? Sekali lagi Daud menolong kita dengan mengusulkan 2 pokok utama yang perlu diluruskan dalam hidup ini. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong” (Mzm 131:1). Ia tidak bermaksud bahwa ambisi dalam hal ini dan pada dasarnya adalah salah. Ia telah ditentukan untuk naik tahta, pada akhirnya(I Sam 16:12-13). Tetapi ia memiliki ambisi yang lebih tinggi: untuk mempercayai kebijaksaan Allah dalam menyediakan, menempatkan dan pada waktuNya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingat kejadian ketika dimana ia bisa meraih posisi dan kuasa dengan cara di mana dia bisa mengkompromikan komitmennya kepada Tuhan? Pertama, Saul masuk ke dalam gua dimana Daud dan pengikutnya sedang bersembunyi (I Sam 24:6). Setelah itu, David dan Abisai merangkak menuju tenda Saul dan menemukannya sedang tidur (I Sam 26:9-11). Tetapi sementara itu, ia puas untuk hidup dengan petunjuk dari Firman Allah dan menunggu dengan sabar akan waktu Allah. Kepuasan Kristiani, karenanya, adalah sebuah buah langsung dari tidak memiliki ambisi yang lebih tinggi selain untuk dimiliki oleh Allah dan secara total berada dalam keadaan siap sedia bagi Allah, di tempat yang Dia tempatkan, pada waktu yang Ia pilih, dengan perlengkapan yang Ia akan sediakan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Adalah dengan kebijaksanaan yang matang, Robert Murray M’Cheyne muda menulis, “Adalah selalu menjadi ambisi saya untuk tidak memiliki rencana sebagaimana yang saya ingini.” “Sangat tidak biasa!”, kata kita. Ya, tetapi apa yang orang-orang kenali dari M’Cheyne adalah bukan apa yang dia lakukan atau katakan yang tidak biasa – itu adalah dirinya dan sikap dari keberadaan dirinya. Hal itu, akhirnya, adalah hasil dari menjadi puas dengan satu ambisi, “Saya mau mengenal Kristus.” (Fil 3:10). Bukanlah kebetulan bahwa, ketika kita membuat Kristus menjadi ambisi kita, kita menemukan bahwa Ia menjadi kenyamanan dan kita belajar untuk menjadi puas di dalam setiap dan segala situasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.” Mzm 131:1 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kepuasan adalah buah dari cara berpikir yang memahami keterbatasan-keterbatasan kita. Daud tidak mengijinkan dirinya dikuasai dengan apa yang Allah tidak ingin berikan kepadanya, atau ia tidak mengijinkan pikirannya menjadi terpusat kepada hal-hal yang Allah tidak ingin jelaskan kepadanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sebuah kehendak awal akan menyiksa kepuasan. Jika saya memaksa untuk mengetahui apa yang sedang Allah lakukan dalam situasi saya dan apa yang Ia rencanakan untuk hidup saya di kemudian hari, jika saya meminta untuk memahami jalanNya dengan saya di masa lalu, saya tidak akan pernah menjadi puas, akhirnya, sampai saya sendiri menjadi sejajar dengan Allah. Betapa lambannya kita mengenali godaan mental yang tidak terkenali gema dari ular di taman Eden berdesis,”Expresikan ketidakpuasaanmu atas cara Allah, firman Allah dan pemeliharaan Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dalam tradisi Agustinian, selalu dikatakan bahwa dosa pertama adalah superbia, kesombongan. Tetapi lebih kompleks dari hanya itu, hal itu termasuk ketidakpuasan. Ketika kita melihat segala hal dalam terang itu, kita mengenali betapa tidak kudusnya ketidakpuasan tersebut. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pelihara terus dua prinsip dalam pemandangan kita dan kita tidak akan mudah terperangkap dalam kisaran ketidakpuasan. Kembalilah ke sekolah di mana kita akan mengalami kemajuan dalam menjadi seorang Kristen. Pelajari pelajaranmu, luruskan isu mengenai ambisi, buatlah Kristus menjadi kehendak awalmu, dan engkau akan belajar untuk menikmati hak istimewa dari menjadi betul-betul puas. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:33:40 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Lima_Langkah_Mudah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Khotbah Eksposisi dan Aplikasi</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Khotbah_Eksposisi_dan_Aplikasi</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Expositional Preaching and Application}}Suatu hari saya mendapat pertanyaan yang saya sadari sering ditanyakan kepada saya—ketika Anda berkhotbah secara eksposisi, bagaimana Anda mengaplikasikan teks dalam khotbah? &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertama, kita harus memperhatikan bahwa di balik pertanyaan ini, bisa jadi ada banyak asumsi yang perlu dipertanyakan. Penanya mungkin mengingat khotbah-khotbah &amp;quot;eksposisi&amp;quot; yang telah didengarnya (atau mungkin bahkan dikhotbahkannya) yang tidak ada bedanya dengan kuliah Alkitab di perguruan tinggi atau seminari. Khotbah-khotbah ini mungkin strukturnya baik dan akurat, tetapi nampaknya hanya ada sedikit dorongan kesalehan atau hikmat penggembalaan di dalamnya. Khotbah-khotbah eksposisi ini mungkin hanya punya sedikit aplikasi, jika ada. Di lain pihak, penanya bisa jadi punya pengertian yang salah tentang aplikasi. Mungkin ada banyak aplikasi dalam khotbah-khotbah yang dipertanyakannya, tapi ia tidak mengenalinya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
William Perkins, teolog Puritan abad ke-16 di Cambridge, mengajar pengkhotbah-pengkhotbah untuk membayangkan macam-macam pendengar yang akan mendengarkan khotbah mereka, dan untuk memikirkan aplikasi-aplikasi kebenaran yang dikhotbahkan kepada macam-macam hati—orang berdosa yang keras, orang yang ragu-ragu dan bertanya-tanya, orang Kristen yang lelah, orang muda yang antusias—dan masih banyak lagi. Akan tetapi, saya mau menjawab pertanyaan tersebut dengan sedikit berbeda. Banyak dari kita yang dipanggil untuk mengkhotbahkan Firman Allah pasti sudah tahu hal ini, tapi akan menolong jika kita diingatkan lagi kenyataan ini: Bukan saja ada bermacam-macam pendengar, tapi ada juga bermacam-macam aplikasi yang semuanya merupakan aplikasi yang sah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika saya mengkhotbahkan Firman, saya dipanggil untuk menguraikan Kitab Suci, untuk mengambil sebagian dari Firman Allah dan membahasnya dengan jelas, dengan kuasa, bahkan dengan mendesak. Dalam proses ini, sedikitnya ada tiga macam aplikasi yang merefleksikan tiga macam problem yang kita temui dalam perjalanan hidup Kristen kita sendiri. Pertama, kita bergumul dengan ketidaktahuan. Kedua, kita bergumul dengan keraguan, seringkali lebih dari yang kita sadari pada awalnya. Terakhir, kita berdosa entah melalui tindakan ketidaktaatan langsung, atau melalui kelalaian yang berdosa. Dalam ketiganya kita berharap melihat perubahan dalam diri kita dan pendengar kita setiap kali kita mengkhotbahkan Firman Allah. Dan masing-masing menghasilkan setiap aplikasi yang berbeda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketidaktahuan merupakan masalah mendasar dalam dunia yang jatuh. Kita telah mengasingkan Allah. Kita memutuskan diri kita dari persekutuan langsung dengan Pencipta kita. Karena itu, tidak mengherankan kalau memberi tahu orang kebenaran tentang Allah adalah semacam aplikasi yang berkuasa—dan yang sungguh-sungguh kita perlukan. Ini bukan dalih bagi khotbah yang dingin atau tidak bersemangat. Saya dapat menjadi sama (dan lebih) bergairahnya terhadap kalimat-kalimat indikatif seperti terhadap kalimat-kalimat imperatif. Perintah-perintah Injil untuk bertobat dan percaya tidak berarti apa-apa tanpa pernyataan indikatif mengenai Allah, diri kita, dan Kristus. Informasi itu vital. Kita dipanggil untuk mengajar kebenaran, untuk menyerukan pesan yang agung mengenai Allah. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari ketidaktahuan kepada pengetahuan akan kebenaran. Pemberitahuan sepenuh hati seperti ini adalah aplikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Keraguan berbeda dari ketidaktahuan biasa. Dalam keraguan, kita mengambil ide-ide atau kebenaran yang kita kenal, dan kita mempertanyakan mereka. Kesangsian seperti ini tidak jarang di antara orang Kristen. Malah, keraguan bisa jadi merupakan isu yang paling penting untuk ditelusuri dengan penuh pengertian dan ditantang dengan tuntas dalam khotbah kita. Kita kadang-kadang mengira bahwa sedikit apologetika sebelum pertobatan adalah satu-satunya waktu di mana kita sebagai pengkhotbah perlu menjawab keraguan, tapi bukan begitu. Beberapa orang yang duduk dan mendengarkan khotbah Anda Minggu kemarin, dan yang tahu fakta-fakta yang Anda sebutkan mengenai Kristus, Allah, atau Onesimus, mungkin sedang bergumul apakah mereka sungguh-sungguh percaya fakta-fakta tersebut adalah benar. Kadang-kadang keraguan seperti itu bahkan tidak nampak. Kita sendiri mungkin tidak sadar kalau kita ragu. Tapi ketika kita mulai menelusuri Alkitab, dalam bayang-bayang kita menemukan pertanyaan, ketidakpastian, dan keragu-raguan, semuanya membuat kita sadar akan tarikan keraguan, jauh di sana, menarik kita dari jalan musafir yang setia. Bagi orang seperti itu—mungkin bagi bagian hati kita sendiri yang seperti itu—kita ingin memberi alasan bagi dan mendesakkan kebenaran Firman Allah dan urgensi untuk mempercayainya. Kita dipanggil untuk mendorong para pendengar untuk percaya kebenaran Firman Allah. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari keraguan kepada kepercayaan sepenuh hati akan kebenaran. Khotbah tentang kebenaran yang mendesak, dan menelusuri semacam ini adalah aplikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dosa juga merupakan suatu masalah dalam dunia yang jatuh ini. Ketidaktahuan dan keraguan bisa jadi merupakan dosa itu sendiri, atau akibat dosa-dosa tertentu, atau bukan dua-duanya. Tapi dosa tentu lebih dari kelalaian atau keraguan. Ketahuilah bahwa orang yang mendengar khotbah Anda bergumul dengan ketidaktaatan kepada Allah dalam minggu yang baru lewat, dan mereka hampir pasti bergumul dengan ketidaktaatan dalam minggu yang baru mereka mulai. Dosa-dosa mereka bermacam-macam. Beberapa berupa ketidaktaatan melakukan sesuatu; yang lain berupa ketidaktaatan tidak melakukan sesuatu. Tapi entah itu melakukan atau tidak melakukan, dosa adalah ketidaktaatan kepada Allah. Sebagian dari apa yang kita harus lakukan ketika berkhotbah adalah menantang umat Allah untuk hidup suci, yang mencerminkan kesucian Allah sendiri. Jadi bagian dari aplikasi Alkitab yang kita khotbahkan adalah menarik implikasi-implikasi dari bacaan kita bagi tindakan kita dalam minggu itu. Kita sebagai pengkhotbah dipanggil untuk menghimbau umat Allah untuk taat kepada Firman-Nya. Kita ingin orang yang mendengar pesan kita untuk berubah dari ketidaktaatan yang berdosa, kepada ketaatan yang bersukacita dan bahagia kepada Allah, menurut kehendak-Nya yang dinyatakan dalam firman-Nya. Himbauan untuk taat seperti ini tentu merupakan aplikasi. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pesan utama yang kita perlu terapkan setiap kali kita berkhotbah adalah Injil. Beberapa orang belum mengenal Kabar Baik Yesus Kristus. Beberapa orang bahkan yang selama ini duduk mendengar khotbah Anda mungkin terganggu, mengantuk, melamun, atau tidak memperhatikan. Mereka perlu mendengar Injil. Mereka perlu diberi tahu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yang lain mungkin pernah mendengar, mengerti, dan bahkan sungguh-sungguh menerima kebenarannya, tapi sekarang mendapati diri mereka bergumul dengan keraguan tentang hal-hal yang Anda bahas (atau asumsikan) dalam khotbah Anda. Orang-orang seperti ini perlu didorong untuk percaya kebenaran Kabar Baik Kristus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan, juga, orang mungkin telah mendengar dan mengerti, tapi mungkin lambat untuk bertobat dari dosa-dosa mereka. Mereka bahkan mungkin tidak meragukan kebenaran apa yang Anda katakan; mereka mungkin lambat untuk bertobat dari dosa-dosa mereka dan berpaling kepada Kristus. Bagi pendengar semacam ini, aplikasi yang paling berkuasa yang dapat Anda buat adalah mendorong mereka untuk membenci dosa-dosa mereka dan lari kepada Kristus. Dalam semua khotbah kita, kita harus berusaha menerapkan Injil dengan memberi tahu, mendesak, dan mendorong. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu tantangan yang biasa kita hadapi sebagai pengkhotbah dalam mengaplikasikan Firman Allah dalam khotbah kita adalah bahwa kadang-kadang mereka yang punya masalah dalam suatu area tertentu akan berpikir bahwa Anda TIDAK mengaplikasikan Kitab Suci dalam khotbah Anda, jika Anda tidak menjawab masalah tertentu mereka. Apakah mereka benar? Tidak tentu. Sementara khotbah Anda akan membaik jika Anda mulai menjawab keraguan lebih sering, atau lebih menyeluruh, tidaklah salah bagi Anda untuk berkhotbah kepada mereka yang perlu diberi tahu, atau yang perlu didorong untuk meninggalkan dosa, meskipun orang yang berkata kepada Anda tidak menyadari keperluan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu catatan terakhir. Amsal 23:12 berkata, &amp;quot;Arahkanlah (Inggris: apply) perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan.&amp;quot; Dalam terjemahan bahasa Inggris, nampaknya kata-kata yang diterjemahkan menjadi &amp;quot;apply&amp;quot; dalam Alkitab hampir selalu (mungkin selalu?) merujuk bukan kepada pekerjaan pengkhotbah (sebagaimana homiletika mengajar kita) ataupun kepada pekerjaan Roh Kudus (sebagaimana sistematika mengajar kita) tetapi kepada pekerjaan ia yang mendengar Firman. Kita dipanggil untuk mengaplikasikan firman kepada hati kita sendiri, dan mengaplikasikan diri kita kepada pekerjaan itu. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Itu, mungkin, adalah aplikasi tunggal yang paling penting yang dapat kita buat hari Minggu yang akan datang bagi kebaikan seluruh umat Allah.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:33:28 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Khotbah_Eksposisi_dan_Aplikasi</comments>		</item>
		<item>
			<title>Delapan Alasan Mengapa Saya Percaya Bahwa Yesus Bangkit dari Antara Orang Mati</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Delapan_Alasan_Mengapa_Saya_Percaya_Bahwa_Yesus_Bangkit_dari_Antara_Orang_Mati</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Eight Reasons Why I Believe That Jesus Rose from the Dead}}__NOTOC__  &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 1. Yesus sendiri bersaksi tentang kebangkitannya kelak dari antara orang mati.  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus berbicara secara terbuka tentang apa yang akan terjadi padanya: penyaliban dan kemudian kebangkitan dari antara orang mati. “Anak manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari” (Markus 8:31); lihat juga Matius 17:22; Lukas 9:22). Bagi yang mengganggap kebangkitan Kristus itu tidak dapat dipercaya mungkin akan berkata bahwa Yesus menyesatkan atau (kemungkinan besar) bahwa gereja mula-mula menaruh pernyataan ini di mulutnya untuk membuatnya mengajarkan sesuatu yang salah yang telah mereka rencanakan sendiri. Namun mereka yang membaca Injil dan sampai pada suatu keyakinan bahwa dia yang berbicara sedemikian meyakinkan melalui saksi-saksi ini bukanlah seorang pengkhayal dengan imaginasi bodoh akan kecewa dengan usaha ini untuk memberi alasan guna menghilangkan kesaksian dari Yesus sendiri mengenai kebangkitannya dari antara orang mati. Hal ini benar adanya mengingat fakta bahwa firman yang menubuatkan tentang kebangkitan bukanlah semata-mata firman sederhana dan langsung seperti dikutip di atas, akan tetapi firman yang sangat tidak langsung yang jauh lebih tidak mungkin merupakan sesuatu yang sederhana yang dibuat oleh murid-murid yang menyesatkan. Misalnya, dua saksi yang secara terpisah memberikan kesaksian dengan dua cara yang sangat berbeda tentang pernyataan Yesus selama hidupnya bahwa jika musuhnya merusak bait suci (tubuhnya), ia akan mendirikannya kembali dalam waktu tiga hari (Yohanes 2:19; Markus 14:58; bandingkan Matius 26:61). Ia juga berbicara dengan perumpamaan tentang “tanda Yunus”—tiga hari di dalam perut bumi (Matius 12:39; 16:4). Kemudian ia menggambarkan kembali dalam Matius 21:42—“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Selain kesaksiannya sendiri tentang kebangkitannya kelak, para pendakwanya mengatakan bahwa hal ini adalah bagian dari klaim Yesus: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidupnya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit.” (Matius 27:63). Jadi, bukti pertama kita tentang kebangkitan adalah bahwa Yesus sendiri yang mengatakannya. Jadi luas dan sifat dari perkataan-perkataan itu membuatnya tidak mungkin jika ia hanya dibuat-buat oleh gereja yang menyesatkan. Dan sifat Yesus sendiri, yang diungkapkan dalam saksi-saksi ini, tidak dianggap oleh kebanyakan orang sebagai orang tidak waras atau penyesat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 2. Kubur kosong pada waktu Paskah.  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dokumen yang paling tua menuliskan hal berikut: “dan setelah masuk mereka tidak menemukan mayat Tuhan Yesus” (Lukas 24:3). Dan musuh-musuh Yesus membenarkan hal itu dengan mengatakan bahwa para murid telah mencuri mayatnya (Matius 28:13). Mayat Yesus tidak ditemukan. Ada 4 cara yang mungkin dapat menjelaskan hal ini. &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;2.1 ''Musuh-musuhnya mencuri mayat Yesus.'' Seandainya benar (dan mereka tidak pernah menyatakan telah melakukan hal itu), maka pasti mereka sudah memperlihatkan mayat tersebut untuk menghentikan penyebaran agama Kristen di kota di mana penyaliban terjadi. Namun mereka tidak dapat memperlihatkannya.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;2.2 ''Kawan-kawannya mencuri mayat Yesus.'' Ini adalah kabar burung mula-mula (Matius 28:11-15). Apakah itu mungkin? Mungkinkah mereka telah mengalahkan para penjaga di kubur Yesus? Yang lebih penting lagi, apakah mungkin mereka telah memulai mengajarkan dengan wewenang sedemikian rupa bahwa Yesus dibangkitkan, padahal mereka tahu bahwa Ia tidak dibangkitkan? Apakah mereka berani mempertaruhkan nyawanya dan menerima pukulan atas sesuatu yang mereka tahu adalah penipuan?&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;2.3 ''Yesus tidak mati, tapi hanya pingsan pada waktu mereka membaringkannya di dalam kubur.'' Ia bangun, memindahkan batu penutup lubang kubur, mengalahkan para tentara, dan lenyap dari sejarah setelah beberapa pertemuan dengan para muridnya di mana ia meyakinkan mereka bahwa ia dibangkitkan dari kematian. Bahkan para lawan Yesus tidak mencoba jalur ini. Ia nyata-nyata mati. Orang-orang Romawi menjaganya. Batu itu tidak dapat dipindahkan oleh satu orang dari dalam yang baru saja ditikam di lambungnya oleh sebuah tombak dan menderita selama enam jam terpaku di kayu salib.&amp;lt;/blockquote&amp;gt;&amp;lt;blockquote&amp;gt;2.4 ''Allah membangkitkan Yesus dari kematian.'' Inilah yang Ia katakan akan terjadi. Ini jugalah yang dikatakan oleh para murid benar-benar terjadi. Namun selama ada kemungkinan yang tipis untuk menjelaskan tentang kebangkitan secara natural, orang-orang moderen berkata kita seharusnya tidak langsung memberi penjelasan supernatural. Apakah ini masuk akal? Buat saya tidak. Sudah tentu kita tidak ingin menjadi mudah tertipu. Akan tetapi kita juga tidak ingin menolak kebenaran hanya karena ia aneh. Kita harus waspada bahwa komitmen kita pada titik ini banyak dipengaruhi oleh pilihan-pilihan kita—baik demi keadaan yang akan muncul dari kebenaran tentang kebangkitan, atau dari keadaan yang akan timbul dari kebohongan tentang kebangkitan. Bila berita tentang Yesus telah membawa Anda kepada realitas Allah dan kebutuhan akan pengampunan, misalnya, maka dogma anti-supernatural akan kehilangan kuasanya dari pikiran Anda. Mungkinkah bahwa keterbukaan ini bukanlah suatu prasangka tentang kebangkitan, melainkan kebebasan dari prasangka terhadap kebangkitan?&amp;lt;/blockquote&amp;gt; &lt;br /&gt;
==== 3. Para murid hampir dalam seketika berubah dari manusia yang putus asa dan takut setelah penyaliban (Lukas 24:21, Yohanes 20:19) menjadi orang-orang yang percaya diri dan saksi-saksi yang berani tentang kebangkitan Kristus (Kisah Para Rasul 2:24, 3:15, 4:2).  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Penjelasan mereka tentang perubahan ini adalah karena mereka telah melihat kebangkitan Kristus dan telah diberi kuasa untuk menjadi saksi-saksinya (Kisah Para Rasul 2:32). Penjelasan bertentangan yang sangat populer adalah bahwa keyakinan mereka disebabkan oleh halusinasi. Ada banyak masalah dengan dugaan seperti itu. Para murid bukanlah orang yang gampang tertipu, melainkan para skeptis yang berpikiran waras baik sebelum maupun setelah kebangkitan. (Markus 9:32, Lukas 24:11, Yohanes 20:8-9,25). Lagipula, apakah halusinasi dibuat dari suatu pengajaran yang mulia dan mendalam dari orang-orang yang menyaksikan tentang kebangkitan Kristus? Bagaimana dengan surat Paulus kepada orang-orang di Roma? Saya sendiri mendapati bahwa sulit untuk menganggap seorang yang sangat pandai dan mempunyai jiwa yang begitu terbuka sebagai seorang yang menyesatkan atau menipu, dan ia mengklaim telah melihat Kristus yang bangkit. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 4. Paulus mengklaim bahwa ia bukan hanya telah melihat Kristus yang bangkit, akan tetapi 500 orang lain juga telah melihatnya, dan banyak dari antara mereka masih hidup ketika ia membuat pernyataan publik ini.  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Sesudah itu ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal” (I Korintus 15:6). Apa yang membuat hal ini begitu relevan adalah bahwa ini ditulis untuk orang-orang Yunani yang skeptis terhadap klaim demikian ketika banyak dari saksi-saksi ini masih hidup. Jadi ini adalah klaim yang berisiko apabila ia tidak dapat dibuktikan melalui sedikit penelitian dari dekat. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 5. Kenyataan akan keberadaan gereja Kristen mula-mula yang menaklukkan kerajaan-kerajaan dan berkembang dengan pesat menguatkan kebenaran dari klaim tentang kebangkitan.  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Gereja terus menyebarkan kekuatan dari kesaksian bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati dan kemudian Allah membuatnya sebagai Tuhan dan Krisus (Kisah Para Rasul 2:36). Ke-Tuhanan Kristus di seluruh bangsa didasarkan pada kemenangannya atas kematian. Inilah berita yang tersebar ke seluruh dunia. Kekuatannya untuk melintasi budaya dan menjadikan satu orang percaya adalah suatu kesaksian yang kuat tentang kebenarannya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 6. Pertobatan Rasul Paulus mendukung kebenaran dari kebangkitan.  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ia memperdebatkan di hadapan sebagian orang-orang yang tidak simpatik dalam Galatia 1:11-17 bahwa injil yang ia beritakan berasal dari Yesus Kristus yang telah bangkit, bukannya dari manusia. Alasannya adalah sebelum perjalanannya ke Damaskus ketika ia melihat Yesus yang bangkit, ia sangat menentang agama Kristen (Kisah Para Rasul 9:1). Akan tetapi sekarang, yang membuat orang terheran-heran, ia mempertaruhkan nyawanya untuk injil (Kisah Para Rasul 9:24-25). Penjelasannya: Yesus yang bangkit menampakkan diri kepadanya dan memberinya wewenang untuk memolopori misi bagi bangsa-bangsa. (Kisah Para Rasul 26:15-18). Dapatkah kita mempercayai kesaksian yang demikian? Ini membawa kita kepada argumen berikutnya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 7. Saksi-saksi dalam Perjanjian Baru tidak menyandang cap korban penipuan atau penyesatan.  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Anda menilai seorang saksi? Bagaimana Anda memutuskan apakah akan mempercayai kesaksian seseorang? Keputusan untuk mempercayai kesaksian seseorang tidak sama dengan mengerjakan persamaan matematika. Kepastiannya berbeda, namun sama pastinya (saya percaya akan kesaksian istri saya bahwa ia setia). Ketika saksi meninggal, kita hanya dapat mendasarkan penilaian kita pada isi dari tulisan-tulisannya dan dari kesaksian orang lain tentang dia. Bagaimana membandingkan Petrus dan Yohanes dan Matius dan Paulus? Dalam penilaian saya (dan pada titik ini kita bisa hidup secara otentik hanya dari penilaian kita sendiri—Lukas 12:57), tulisan orang-orang ini tidak tampak sebagai hasil karya dari orang yang gampang tertipu atau penyesat. Pandangan mereka tentang sifat manusia sangat dalam. Komitmen pribadi mereka sederhana dan diungkapkan secara hati-hati. Pengajaran mereka masuk akal dan tidak tampak seperti sesuatu yang dibuat oleh orang yang tidak stabil. Standar moral dan spiritualnya tinggi. Dan kehidupan orang-orang ini seluruhnya dicurahkan untuk kebenaran dan kemuliaan Allah. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==== 8. Ada kemuliaan yang terbukti sendiri dalam injil tentang kematian dan kebangkitan Kristus sebagaimana dikisahkan oleh saksi-saksi Injil.  ====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Perjanjian Baru mengajarkan bahwa Allah mengirim Roh Kudus untuk memuliakan Yesus sebagai Anak Allah. Yesus berkata, “apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran…Ia akan memuliakan Aku” (Yohanes 16:13). Roh Kudus tidak melakukan hal ini dengan mengatakan bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati. Ia melakukannya dengan cara membuka mata kita untuk melihat kemuliaan Kristus yang terbukti sendiri dalam kisah hidupnya, kematiannya dan kebangkitannya. Ia memampukan kita untuk melihat Yesus seperti apa adanya, sehingga ia adalah suatu kebenaran yang indah dan menarik. Rasul menyatakan tentang masalah kebutaan kita serta solusinya sebagai berikut: “Ilah jaman ini telah membutakan pikiran orang-orang tidak percaya, untuk membutakan mereka dari terang injil dari kemuliaan Kristus, yang adalah rupa Allah…Sebab Allah, yang berfirman, “Dari dalam gelap akan terbit terang,” telah terbit dalam hati kita untuk menerangi pengetahuan tentang kemuliaan Allah di wajah Yesus Kristus” (2 Korintus 4:4,6). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pengetahuan tentang penyelamatan Kristus yang disalibkan dan bangkit bukanlah semata-mata hasil dari penalaran yang benar tentang fakta-fakta sejarah. Ini adalah hasil dari penerangan spiritual untuk melihat fakta-fakta tersebut sesungguhnya: suatu pewahyuan dari kebenaran dan kemuliaan Allah di wajah Kristus—yang adalah sama kemarin hari ini dan selamanya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pendeta John &amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:33:20 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Delapan_Alasan_Mengapa_Saya_Percaya_Bahwa_Yesus_Bangkit_dari_Antara_Orang_Mati</comments>		</item>
		<item>
			<title>Pengkhotbah</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pengkhotbah</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Ecclesiastes}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Pengkhotbah? Huh - betapa naas dan suram! Lebih baik mempelajari kitab Injil yang lain.&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tapi tunggu dulu. Tentu saja tidak etis memulai ini dengan mengatakan pada pembaca bahwa mereka telah melakukan kesalahan - tapi dalam hal ini, anda memang telah melakukan kesalahan! Penulis dari kitab Pengkhotbah bukanlah orang tua yang sinis dan tengik yang mengalami kemunduran dalam hidupnya seperti yang diduga oleh beberapa orang. Ia bukanlah seorang pesimis terbebal di dunia. Tentu saja, sebagian (mungkin malah sebagian besar) dari ayat-ayat yang ditulisnya bernada tidak berpengharapan, namun Qoheleth (Salomo yang menjadi pengkhotbah) mempunyai maksud yang pada dasarnya positif. Sifat pesimistisnya berpusat pada &amp;quot;kehidupan di bawah matahari.&amp;quot; Sesungguhnya, saat anda membaca kitab ini dengan fokus terhadap apa maksud yang sebenarnya, anda akan mendapatkan pengkhotbah sebagai seorang yang tenang, bahkan ramah. Ia telah melalui segala hal - hal buruk maupun hal baik - dan, dalam pertobatannya, telah berdamai dengan kehidupan. Damai Allah, tentunya. Sebenarnya, banyak hal yang jika diinterpretasikan dengan tepat, akan memberi orang percaya keyakinan dan sukacita dalam menghadapi kesulitan. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Butuh penjelasan yang lebih untuk meyakinkanku akan hal itu!&amp;quot;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Baiklah. Marilah kita cermati kitab ini. Pertama-tama, perhatikan bahwa judul kitab, &amp;quot;Pengkhotbah&amp;quot; (&amp;quot;pendeta&amp;quot;), diberikan oleh penerjemah dari Kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani, bahasa Ibrani aslinya, ''Qoheleth'', berarti &amp;quot;seseorang yang menghimpun orang-orang.&amp;quot; Salomo menghimpun umatnya (dan kemungkinan juga yang lain) untuk berkhotbah kepada mereka: &amp;quot;berhikmat, Qoheleth mengajarkan kepada mereka pengetahuan... Pengkhotbah berusaha mendapatkan kata-kata yang menyenangkan dan menulis kata-kata kebenaran secara jujur&amp;quot; (12:9-10; Saya menggunakan terjemahan sendiri dalam artikel ini). Ia menginginkan kata-katanya, saat diterbitkan, menjadi &amp;quot;kusa dan kumpulan-kumpulannya seperti paku-paku yang tertancap&amp;quot; (12:11). Dialek dalam Pengkhotbah mengindikasikan bahwa ia tidak hanya menulis untuk Israel, tetapi juga bagi bangsa Fenesia. Kitab ini, lebih dari yang lainnya, menginjili, disusun bagi setiap orang yang belum percaya baik di rumah maupun dimana saja. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Selanjutnya, perhatikan kata-kata &amp;quot;di bawah matahari.&amp;quot; Frase yang sering muncul ini menggambarkan kehidupan tidaklah lebih dari tujuan-tujuan duniawi. Hal ini menggambarkan seseorang terburu-buru melelahkan dirinya untuk mengejar kegiatan yang sia-sia, karena hanya itulah alasan hidupnya. Sebaliknya, kehidupan Kristen adalah hidup yang teratur, &amp;quot;di bawah sang Anak,&amp;quot; yang diwujudkan lebih dulu oleh Salomo dalam berbagai bentuk dan perayaan. Salomo berkeinginan untuk mengubah orang dari cara hidup sebelumnya: &amp;quot;Sekarang dengarkanlah kesimpulan dari semuanya: takutlah akan Allah dan berpeganglah kepada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban bagi setiap orang&amp;quot; (12:13). Jadi, ia menyimpulkan dengan peringatan yang keras: &amp;quot;Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan, termasuk segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat&amp;quot; (12:14). Hal ini tidak berarti bahwa setiap orang dibenarkan oleh perbuatannya tetapi bahwa dalam pengadilan perbuatannya akan menjadi bukti dari apakah ia diselamatkan atau tidak. Ajaran Perjanjian Baru membenarkan hal ini (lihat Matius 25:31-46; Wahyu 20:12-15).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun apakah Salomo ''benar-benar'' ramah dan berdamai dengan kehidupan? Dan apa yang ia tawarkan kepada orang Kristen?&amp;quot;&amp;lt;br&amp;gt;Dalam kitab yang luar biasa ini, Salomo mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting - yang jika anda mengambil waktu untuk merenungkannya dengan serius, akan anda pertanyakan pula saat ini. Ia menanyakan, &amp;quot;Mengapa bersusah payah untuk melakukan suatu pekerjaan, padahal hasilnya hanya bersifat sementara dan, karena itu, sia-sia? Mengapa mencari uang, ketenaran, kekuasaan dan harta yang tidak dapat memuaskan? Mengapa menyusahkan diri tentang sesuatu saat orang yang bebal dan orang yang berhikmat pada akhirnya sama-sama akan mati?&amp;quot; Jawabannya? Allah dengan cermat menganugerahi setiap orang menurut kehendak-Nya. Salomo ingin anda untuk tenang di dalam iman akan kehendak Allah yang berdaulat!&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kata yang sering digunakannya, &amp;quot;kesia-siaan,&amp;quot; berarti bahwa kehidupan di bawah matahari adalah &amp;quot;hampa,&amp;quot; karena kehidupan itu ''tidak kekal''. Tema tersebut meresapi isi kitab ini. Ia mengatakan, &amp;quot;Keturunan yang satu pergi dan keturunan yang lain datang&amp;quot; (1:4), bahwa &amp;quot;tidak ada kenang-kenangan dari masa lampau&amp;quot; (1:11), dan bahwa sebagaimana seorang &amp;quot;datang&amp;quot; ke dalam dunia melalui kelahiran, &amp;quot;demikianpun ia akan pergi&amp;quot; meninggalkan dunia tanpa membawa apa-apa (5:15). Pada Pasal 3, Ayat 1-15, Salomo membuat daftar beberapa hal yang terus menerus berubah. Orang-orang dilahirkan, kemudian meninggal, tumbuhan ditanam, kemudian dicabut, ada yang dirombak, ada yang dibangun. Ada yang dijahit, ada yang dirobek; ada yang disimpan, ada yang dibuang; ada waktu untuk menangis dan waktu untuk tertawa, waktu untuk meratap dan waktu untuk menari - dan seterusnya. Hidup terus berputar. Tidak ada hal yang tetap. Karena itulah, kita seharusnya mengendurkan pegangan. Usaha untuk menjadikan segala sesuatu kekal sangatlah memusingkan dan sungguh tidak berguna. &lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo mengatakan bahwa kekayaan dan harta yang banyak adalah bodoh karena anda tidak dapat terus membawanya. Daripada menaruh pengharapan kepada sesuatu di bawah matahari, ia mendesak anda untuk percaya kepada Penciptanya. Bagaimana hal ini dapat meningkatkan hidup? Tidak saja hal ini bermanfaat dalam pengadilan, namun menyediakan juga suatu filosofi kehidupan yang membebaskan anda dari kecemasan dan kekecewaan. Karena Allah telah menetapkan &amp;quot;kekekalan dalam hati setiap orang&amp;quot; (3:11), engkau dapat melihat ke suatu masa saat hal-hal yang sifatnya sementara akan terlupakan. Dan suatu hari, maksud Allah - yang sekarang kelihatannya tidak masuk akal - akan dimengerti: &amp;quot;Ia telah memberikan kekekalan dalam hati setiap orang yang tanpanya mereka tidak dapat memahami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir&amp;quot; (3:11). Engkau dapat menenangkan pikiranmu - segala sesuatu akan menjadi jelas pada waktuNya.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena apa yang engkau lakukan di dunia ada konsekuensinya, haruslah engkau berhati-hati dan lebih rajin dalam usaha-usahamu. Tetapi janganlah engkau mengharapkan hadiah dari hasil usahamu sebelum waktunya. Jangan pula engkau dengan bodoh berupaya mencari kepuasan abadi dari segala sesuatu dalam dunia yang tidak kekal ini.&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Karena, sebagaimana yang diperjelas oleh Salomo, berusaha mencoba sesuatu yang mustahil adalah kesia-siaan, ia menganjurkan kehidupan yang tenang, bertanggung jawab, pekerjaan yang sewajarnya untuk mencapai hal yang patut dicapai, dan kenikmatan akan berkat-berkat Allah. Ia menginginkan engkau untuk tidak khawatir tentang hari esok juga tidak bekerja terlalu berlebihan! Simaklah ayat yang mencerahkan ini:&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&amp;lt;blockquote&amp;gt;&amp;quot;Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah&amp;quot; (2:24; lihat juga 3:12-13; 5:18; 8:15; dan 9:7-8).&lt;br /&gt;
 &amp;lt;/blockquote&amp;gt;&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
Pada ayat-ayat ini tema yang kerap muncul: menikmati makan dan minum dan hal-hal sederhana yang menyenangkan dalam hidup. Tetapi ingatlah, bahkan hal-hal ini tidaklah kekal: engkau makan dan dikenyangkan, hanya untuk lapar lagi (seringnya ia menyebutkan makan dan minum menjelaskan contoh sifat sementara dari segala sesuatu). Berhentilah kecewa terhadap apa yang tak dapat diubah. Nikmatilah makanan yang enak dan saat yang menyenangkan (ingatlah bahwa apapun yang engkau lakukan akan dibawa ke pengadilan nantinya; baca 12:14).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Jadi, apa maksud dari kitab Pengkhotbah? Setelah hidup secara berlebihan, setelah bekerja terlalu keras untuk mencapai ketenaran dan kekayaan, setelah memanjakan diri dalam dosa, Salomo hanya bisa berkata, &amp;quot;Aku membenci hidup ... Aku membenci semua usaha yang kulakukan dengan jerih payah.&amp;quot; Mengapa? Karena ia menyadari bahwa, pada akhirnya, segala sesuatu yang dilakukannya tidak lebih dari &amp;quot;kesia-siaan dan usaha menjaring angin&amp;quot; (2:17-18).&lt;br /&gt;
 &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Salomo menulis untuk membantumu melihat hal ini. Apakah Pengkhotbah mengarahkanmu untuk merenungkan hidup sebagaimana laiknya orang percaya? Jika tidak, bacalah lagi - dan lagi, dan lagi. Waktumu tidak akan terbuang sia-sia melakukannya!&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:33:14 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Pengkhotbah</comments>		</item>
		<item>
			<title>Jangan Sia-Siakan Penyakit Kanker Anda</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Jangan_Sia-Siakan_Penyakit_Kanker_Anda</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Don't Waste Your Cancer}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[Pesan Editor: Kawan kita, David Powlison dari Christian Counseling and Education Foundation, yang baru-baru ini juga didiagnosis menderita kanker prostat telah menambahkan beberapa pengembangan yang amat membantu pada 10 poin John Piper. Paragraf bertakuk dengan diawali ”DP:” ditulis oleh David Powlison.]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menulis ini di malam sebelum operasi prostat dilakukan. Saya percaya akan kekuatan Allah untuk menyembuhkan – melalui mujizat dan obat-obatan. Saya percaya bahwa berdoa untuk kedua jenis penyembuhan ini adalah hal yang benar dan baik. Penyakit kanker tidaklah sia-sia kala ia disembuhkan oleh Allah. Ia ditinggikan dan itulah mengapa penyakit kanker ada. Karenanya, penyakit kanker Anda akan sia-sia bila Anda tidak berdoa bagi kesembuhan. Akan tetapi, kesembuhan bukanlah rencana Allah bagi setiap orang. Ada banyak cara lain menyia-nyiakan kanker Anda. Saya berdoa bagi diri sendiri dan Anda semoga kita tidak akan menyia-nyiakan rasa sakit ini.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Saya (David Powlison) menambahkan pencerminan ini pada pernyataan John Piper di pagi hari setelah menerima kabar bahwa saya didiagnosis menderita kanker prostat (3 Maret 2006). Kesepuluh poin utama dan paragraf pertama adalah pernyataannya, sedangkan paragraf kedua adalah pernyataan saya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''1.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda tidak percaya bahwa itu dirancang oleh Allah bagi Anda.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah tepat bila dikatakan bahwa Allah hanya menggunakan penyakit kanker kita namun tidak merancangnya. Apa yang diizinkan Allah, Ia mengizinkannya untuk suatu alasan. Dan alasan itu adalah rancangan-Nya. Bila Allah memperkirakan perkembangan molekul menjadi kanker, Ia dapat menghentikannya ataupun tidak. Jika Ia tidak menghentikannya, Ia memiliki tujuan. Adalah benar untuk menyebut tujuan ini sebagai sebuah rancangan karena Ia sungguh Mahabijaksana. Iblis adalah nyata dan mendatangkan banyak kesenangan maupun rasa sakit. Namun ia tidaklah abadi. Maka ketika ia menghantam Ayub dengan barah (Ayub 2:7), Ayub pada akhirnya menyerahkannya kepada Allah (2:10) dan sang penulis yang terinspirasi ini setuju: Mereka . . . menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan Tuhan kepadanya” (Ayub 42:11). Bila Anda tidak percaya bahwa penyakit kanker Anda dirancang bagimu untuk Allah, maka Anda akan menyia-nyiakannya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Mengenali sentuhan rancangannya-Nya tidaklah membuat Anda menjadi seorang yang tabah atau tidak jujur ataupun bersukacita palsu. Sebaliknya, kenyataan akan rancangan Allah membawa dan menghubungkan pergumulan jujur Anda pada satu-satunya Penyelamat hidup Anda. Rancangan Allah mengundang pernyataan jujur, bukannya pengakuan kita dalam diam. Pertimbangkanlah kejujuran dalam Mazmur, Raja Hezekiah (Yesaya 38), dan Habakuk 3. Orang-orang ini bersikap jujur apa adanya dan percaya penuh, karena mereka tahu bahwa Allah adalah Allah dan menumpukan harapan mereka di dalam Dia. Mazmur 28 mengajarkan Anda tentang doa langsung yang penuh gairah kepada Allah. Ia pasti mendengar Anda. Ia akan mendengar Anda. Ia akan terus bekerja di dalam Anda dan situasi Anda. Ratapan ini datang dari perasaan bahwa Anda membutuhkan pertolongan (28:1-2). Lalu sebutkan masalah khusus Anda kepada Allah (28:3-5). Anda bebas untuk menyesuaikannya dengan masalah-masalah Anda sendiri. Seringkali melalui “berbagai cobaan” dalam hidup (Yakobus 1:2), apa yang Anda hadapi tidak persis menggambarkan hal-hal khusus yang dihadapi oleh Daud atau Yesus – akan tetapi kedinamisan iman selalu sama. Pancarkan kasihmu pada-Nya yang mengasihimu, lalu nyanyikan sukacitamu (28:6-7): damai yang dianugerahkan Tuhan yang jauh melampaui pengertian. Dan akhirnya, karena iman selalu bermuara menuju kasih, maka kebutuhan dan sukacita pribadi Anda akan berbuah pada perhatian penuh kasih pada sesama (28:8-9). Sakit dapat mempertajam kesadaran Anda mengenai betapa penuhnya Allah itu dan selalu bekerja dalam setiap rincian kehidupan Anda. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''2.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda percaya bahwa ia adalah sebuah kutukan dan bukanlah sebuah karunia.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.” (Roma 8:1). “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita” (Galatia 3:13). “Tidak ada mantera yang mempan terhadap Yakub, ataupun tenungan yang mempan terhadap Israel.” (Bilangan 23:23). “Sebab Tuhan Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan. Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela.” (Mazmur 84:12).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Berkat datang dari apa yang dilakukan Allah untuk kita, bersama kita, dan melalui kita. Ia membawa pengorbanan besar dan penuh belas kasih ke atas panggung kutukan. Penyakit kanker Anda, dalam dirinya sendiri, merupakan salah satu dari 10.000 ’lembah kekelaman’ (Mazmur 23:4) yang menghampiri setiap orang dari kita: semua tekanan, kehilangan, rasa sakit, kekurangan, kekecewaan, kejahatan. Namun dalam anak-anak yang dikasihi-Nya, Bapa kita mengerjakan hal terindah melalui kehilangan kita yang paling mendukakan: terkadang penyembuhan dan pemulihan tubuh (secara sementara, hingga bangkitnya orang-orang mati menuju hidup kekal), selalu mendukung dan mengajarkan kita bahwa kita dapat mengenal dan mengasihi-Nya dengan lebih tulus. Dalam pencobaan iblis, iman Anda menjadi kuat dan nyata, dan kasihmu menjadi terarah dan arif: Yakobus 1:2-5, I Petrus 1:3-9, Roma 5:1-5, Roma 8:18-39.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''3.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda mencari kelegaan dari peluang Anda bukannya dari Allah.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rancangan Allah atas penyakit kanker Anda bukanlah untuk melatih Anda dalam perhitungan manusia akan kesempatan rasionalistis. Dunia ini beroleh kenyamanan dari perkiraan mereka. Tidak demikian dengan umat Kristen. Sebagian menghitung kereta perang mereka (persentase bertahan hidup) dan sebagian lagi menghitung kuda-kuda mereka (efek samping perawatan), tapi kita percaya dalam nama Allah Bapa kita (Mazmur 20:7). Dalam II Korintus 1:9 jelaslah sudah rancangan Allah,”Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.” Tujuan Allah akan penyakit kanker Anda (di antara ribuan hal baik lainnya) adalah untuk menghantam penopang dari dalam lubuk hati kita agar kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Allah sendirilah kelegaan Anda. Ia menyerahkan diri-Nya. Himne “Be Still My Soul” (oleh Katerina von Schlegel) menggambarkan kemungkinan tersebut dengan cara yang tepat: kita 100% pasti menderita, dan Kristus 100% pasti berjumpa kita, datang pada kita, melegakan kita, dan mengembalikan sukacita kasih termurni. Hymne “How Firm a Foundation” menggambarkan kemungkinan ini dengan cara yang sama: Anda 100% pasti melewati tekanan duka, dan Sang Penyelamat 100% pasti “bersamamu, memberkatimu dalam kesusahan, menyucikanmu dalam penderitaan terberat.” Bersama Allah, Anda tidak bermain persentase, akan tetapi hidup dalam kepastian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''4.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda menolak untuk berpikir tentang kematian.'''&lt;br /&gt;
	&lt;br /&gt;
Kita semua akan mati bila Yesus menunda kedatangan-Nya kembali. Tidak berpikir mengenai akan seperti apa meninggalkan hidup ini dan berjumpa Allah adalah suatu kebodohan. Pengkhotbah 7:2 says, “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya.” Bagaimana Anda akan menanamkannya dalam hati bila Anda enggan berpikir tentangnya? Mazmur 90:12 berkata,” Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Menghitung hari-hari Anda maksudnya berpikir tentang betapa sedikitnya hari-hari dan bahwa hari-hari tersebut akan berakhir. Bagaimana Anda akan beroleh kebijakan hati bila Anda menolak untuk berpikir tentang hal ini? Sungguh suatu kesia-siaan bila kita tidak berpikir tentang kematian.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Paulus mendeskripsikan Roh Kudus adalah ’pembayaran di muka’ yang tak terlihat dan tersembunyi dalam kepastian kehidupan. Dengan iman, Allah memberikan perasaan indah berhadapan muka dengan kehidupan kekal dalam kehadiran Tuhan kita dan Kristus. Kita dapat pula mengatakan bahwa kanker merupakan ‘pembayaran di muka’ untuk kematian yang tak terhindarkan, yang memberikan rasa tak sedap akan kenyataan mengenai kematian kita. Kanker merupakan sebuah rambu yang mengacu pada sesuatu yang lebih besar: musuh terakhir yang mesti Anda hadapi. Tapi Kristus telah mengalahkan musuh terakhir ini: I Korintus 15. Kematian telah ditenggelamkan oleh kemenangan. Penyakit kanker hanyalah salah satu kelompok pengintai musuh yang tengah berpatroli. Ia tak memiliki kekuatan akhir bila Anda adalah anak kebangkitan, jadi Anda dapat menentangnya berhadap-hadapan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''5.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda berpikir bahwa ”mengalahkan” kanker berarti bertahan hidup bukannya meninggikan Allah.'''&lt;br /&gt;
Rancangan iblis dan Allah atas penyakit kanker Anda tidaklah sama. Iblis berencana untuk menghancurkan cintamu pada Kristus. Allah merancang untuk memperdalam cintamu pada Kristus. Penyakit kanker tidak menang bila Anda meninggal. Ia menang bila Anda gagal meninggikan Kristus. Rancangan Allah adalah untuk memutuskan Anda dari sokongan duniawi dan memberi makan Anda dalam kecukupan Kristus. Ia dimaksudkan untuk menolong Anda untuk berkata dan merasakan,“Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya.” Dan untuk mengetahui bahwa karenanya, “Hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 3:8; 1:21).&lt;br /&gt;
:'''DP''': Meninggikan Kristus menunjukkan dua kegiatan utama iman: kebutuhan mendesak dan sukacita penuh. Banyak pemazmur berseru dalam ”nada minor”: kita meninggikan Penyelamat kita dengan meminta-Nya untuk menyelamatkan kita dari masalah nyata, dosa nyata, penderitaan nyata, kesedihan nyata. Banyak pula pemazmur yang bersenandung dalam ’nada mayor’: kita meninggikan Penyelamat kita dengan bersukacita di dalam Dia, mengasihi Dia, bersyukur pada-Nya untuk semua berkat-Nya bagi kita, bersukacita karena pengorbanan-Nya adalah hal paling berarti di dunia dan bahwa Ia-lah yang memegang keputusan akhir. Dan banyak pemazmur memulai dengan satu nada serta diakhiri dengan nada lainnya. Meninggikan Kristus bukanlah monokromatis; Anda menjalani keseluruhan spektrum pengalaman manusia bersama-Nya. ’Mengalahkan’ kanker adalah hidup dengan menyadari bahwa Bapa kita memiliki perhatian pada anak yang dikasihi-Nya, karena Ia mengetahui apa adanya Anda, bahwa Anda hanyalah debu. Kristus Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup. Hidup adalah untuk mengenal-Nya, yang kita tahu pasti untuk dikasihi.&lt;br /&gt;
'''6.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda menghabiskan terlalu banyak waktu dengan membaca mengenai kanker dan tidak cukup waktu untuk membaca mengenai Allah.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tidaklah salah untuk mengetahui hal-hal mengenai kanker. Ketidakpedulian bukanlah suatu kebaikan. Akan tetapi godaan untuk mengetahui lebih dan lebih banyak lagi serta kurangnya hasrat untuk mengenal Allah lebih dan lebih lagi merupakan gejala ketidakpercayaan. Kanker dimaksudkan untuk menyadarkan kita akan realita Allah. Ia dimaksudkan untuk menanamkan perasaan dan kekuatan di balik perintah, “Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal Tuhan” (Hosea 6:3). Ia dimaksudkan untuk menyadarkan kita akan kebenaran Daniel 11:32,” Umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” Ia dimaksudkan untuk menumbuhkan pohon ek yang tak tergoyahkan dan tak dapat dihancurkan dalam diri kita: “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat Tuhan, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:2). Sungguh suatu penyia-nyiaan penyakit kanker bila siang dan malam kita membaca mengenai kanker dan tidak mengenai Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Apa yang berlaku bagi bacaanmu juga berlaku bagi percakapanmu dengan orang lain. Orang lain kerap kali mengungkapkan perhatian dan kepedulian mereka dengan bertanya tentang kesehatan Anda. Itu sesuatu yang baik, akan tetapi dengan mudah percakapan terhenti sampai di situ. Jadi beritahu mereka secara terbuka tentang sakit Anda, mintalah doa dan bimbingan mereka, namun kemudian ubahlah arah percakapan dengan memberitahu mereka tentang apa yang Allah lakukan untuk menopang Anda secara tulus melalui 10.000 belas kasih. Robert Murray McCheyne berkata dengan arif,”Untuk setiap satu orang yang melihat dosamu, alihkan sepuluh pandangan pada Kristus.” Ia mengecam kecenderungan kita untuk membalikkan perbandingan 10:1 itu dengan meratapi kegagalan kita dan melupakan Allah yang Mahakasih. Apa yang dikatakan McCheyne mengenai dosa-dosa kita dapat pula kita terapkan pada penderitaan kita. Untuk setiap satu kalimat yang Anda katakan pada orang lain mengenai penyakit kanker Anda, katakanlah sepuluh kalimat mengenai Allahmu, dan harapanmu, dan apa yang tengah diajarkan-Nya, dan berkat-berkat kecil setiap harinya. Untuk setiap jam yang Anda luangkan untuk mempelajari ataupun berdiskusi mengenai penyakit kanker Anda, luangkanlah 10 jam untuk mempelajari dan berdiskusi dan melayani Allahmu. Kaitkanlah semua yang Anda pelajari mengenai kanker kembali kepada-Nya dan tujuan-Nya, maka Anda tak akan menjadi terobsesi.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''7.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda membiarkannya menenggelamkan Anda dalam kesendirian dan bukannya memperdalam hubungan Anda dengan kasih nan nyata.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ketika Epaphroditus membawa hadiah bagi Paulus yang dikirim oleh gereja Filipi, iapun sakit dan hampir meninggal. Paulus menyampaikan pada orang-orang Filipi,”Karena ia sangat rindu kepada kamu sekalian dan susah juga hatinya, sebab kamu mendengar bahwa ia sakit.” (Filipi 2:26-27). Sungguh respon yang luar biasa! Tidaklah dikatakan bahwa mereka susah hati karena ia sakit, namun ia bersusah hati karena mereka mendengar bahwa ia sakit. Itulah jenis hati yang dimaksudkan Allah untuk dibentuk melalui kanker: kebaikan yang mendalam, hati yang penuh kasih kepada orang lain. Jangan sia-siakan penyakit kanker Anda dengan menarik diri.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Budaya kita adalah gentar menghadapi kematian. Ia diobsesikan dengan obat-obatan. Ia mengidolakan masa muda, kesehatan, dan energi. Ia berusaha menyembunyikan kelemahan ataupun ketidaksempurnaan. Anda akan membawa banyak berkat bagi orang lain dengan hidup terbuka dan percaya penuh, dan penuh kasih dalam kelemahanmu. Sebaliknya, melibatkan diri ke dalam suatu hubungan ketika Anda terluka dan lemah sesungguhnya akan memperkuat orang lain. ‘Satu sama lain’ adalah merupakan jalan dua arah pemberian yang murah hati dan penerimaan yang penuh syukur. Kebutuhan Anda memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mengasihi. Dan karena kasih selalu merupakan tujuan Allah di dalam Anda, Anda pun akan mempelajari pelajaran-Nya yang terbaik dan terindah ketika Anda menemukan cara sederhana untuk menunjukkan kepedulian pada sesama bahkan di kala Anda dalam keadaan paling lemah. Kelemahan besar yang mengancam kehidupan terbukti mampu membebaskan dengan luar biasa. Tak ada hal lain untuk dilakukan kecuali untuk dicintai oleh Allah dan sesama, dan untuk mencintai Allah dan sesama.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''8.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda berduka seperti mereka yang tak berpengharapan'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paulus menggunakan ungkapan ini dalam kaitannya dengan mereka yang telah kehilangan orang-orang terkasih: “Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berduka cita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.” (I Tesalonika 4:13). Ada dukacita saat kematian. Bahkan bagi orang-orang percaya yang meninggal, ada rasa kehilangan sementara – kehilangan tubuh, dan kehilangan mereka yang dikasihi, juga kehilangan pelayanan di dunia. Namun duka itu berbeda – ia dipenuhi dengan harapan. “Dan terlebih suka kami beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan.” (II Korintus 5:8). Jangan sia-siakan kanker Anda dengan meratap seperti mereka yang tidak memiliki harapan.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Tunjukkanlah pada dunia cara berduka yang lain ini. Paulus berkata bahwa ia pasti merasakan “duka di atas duka” jika temannya Epaphroditus telah meninggal. Ia telah berduka, merasakan sakit yang dalam akan sakitnya sang sahabat. Ia akan berduka lebih dalam bila sahabatnya meninggal. Akan tetapi, duka yang penuh kasih, tulus, dan berorientasi pada Allah dibarengi dengan “selalu bersukacita” dan “damai Allah yang melampaui pengertian” dan “menunjukkan kepedulian yang tulus akan kebaikanmu.” Bagaimana mungkin rasa sakit hati dibarengi dengan kasih, sukacita, damai, dan kesadaran akan tujuan hidup yang tak terhancurkan? Dalam logika terdalam dari iman, ini amatlah masuk akal. Bahkan, karena Anda memiliki harapan, Anda dapat merasakan penderitaan hidup ini lebih berat: duka di atas duka. Sebaliknya, duka yang tanpa harapan seringkali memilih penyangkalan ataupun pelarian atau kesibukan sebab ia tak mampu menghadapi kenyataan tanpa menjadi tertekan. Dalam Kristus, Anda memahami hal apa yang menjadi ancaman, dan karenanya Anda merasakan sepenuhnya apa yang salah dengan dunia yang fana ini. Anda tidak menerima rasa sakit dan kematian selaku kebenaran. Anda mengasihi apa yang baik, dan membenci apa yang jahat. Bagaimanapun, Anda mengikuti citra “seseorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.” Namun Yesus memilih salib-Nya dengan sukarela “ganti sukacita yang disediakan bagi Dia.” Ia hidup dan mati dalam pengharapan yang menjadi kenyataan. Rasa sakit-Nya tidak dibungkam oleh penyangkalan ataupun pengobatan, ataupun dinodai oleh keputusasaan, ketakutan, ataupun pergumulan demi secercah harapan yang mungkin mengubah keadaan-Nya. Janji terakhir Yesus meluap dengan kegembiraan akan harapan yang kokoh di tengah-tengah duka: ”Sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. Dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu daripadamu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka.” (dipilih dari Yohanes 15-17).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''9.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda memandang dosa sama seperti sebelumnya.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Apakah Anda memandang dosa semenarik sebelum Anda menderita kanker? Bila demikian berarti Anda menyia-nyiakan penyakit kanker Anda. Penyakit kanker dirancang untuk menghancurkan selera akan dosa. Kesombongan, keserakahan, hasrat, kebencian, enggan mengampuni, ketidaksabaran, kemalasan, penundaan – semuanya ini adalah musuh yang dimaksudkan untuk diserang oleh kanker. Jangan hanya berpikir tentang berjuang melawan kanker. Pikirkanlah pula berjuang bersama kanker. Semua hal tersebut adalah musuh-musuh terbesar dibandingkan dengan penyakit kanker. Jangan sia-siakan kekuatan kanker untuk menghancurkan musuh-musuh ini. Biarkanlah kehadiran kekekalan membuat dosa-dosa waktu sebagai hal yang sia-sia sebagaimana layaknya mereka. ”Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Penderitaan sungguh ditujukan untuk memenangkan Anda dari dosa dan memperkuat iman Anda. Bila Anda tak ber-Tuhan, maka penderitaan memperbesar dosa. Akankah Anda menjadi semakin pahit, putus asa, ketagihan, ketakutan, kalut, menghindar, sentimental, dan tak bertuhan dalam menjalani hidup? Akankah Anda berpura-pura bahwa ini adalah urusan biasa?  Akankah Anda disadarkan pada kematian, menurut istilah Anda? Akan tetapi bila Anda milik Allah, maka penderitaan dalam tangan Kristus akan mengubahkan Anda, selalu perlahan-lahan, terkadang cepat. Anda disadarkan pada kehidupan dan  kematian menurut istilah-Nya. Ia akan melembutkan Anda, menyucikan Anda, membersihkan Anda dari kesombongan. Ia akan membuat Anda membutuhkan-Nya dan mengasihi Dia. Ia mengatur kembali prioritas Anda sehingga hal utama seringkali datang lebih dulu. Ia akan berjalan bersama Anda. Tentu saja Anda sesekali akan gagal, barangkali terperangkap oleh kegeraman atau kemuraman, pelarian atau ketakutan. Namun Ia akan selalu menopangmu ketika Anda terjatuh. Musuh di dalam diri Anda – kanker moral yang 10.000 kali lebih mematikan daripada kanker fisik Anda – akan mati seiring dengan pencarian berkesinambungan dan penemuan Anda akan Penyelamat Anda: ”Oleh karena nama-Mu, ya Tuhan, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu. Siapakah orang yang takut akan Tuhan? Kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.” (Mazmur 25)&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
'''10.	Anda akan menyia-nyiakan penyakit kanker Anda bila Anda gagal mempergunakannya sebagai cara untuk bersaksi akan kebenaran dan kebesaran Kristus.'''&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kaum Kristen berada di suatu tempat bukan karena kebetulan semata. Ada alasan-alasannya mengapa kita berada di mana kita berada. Pertimbangkanlah apa yang Yesus katakan mengenai keadaan di luar rencana yang menyakitkan: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi.” (Lukas 21:12-13). Demikian pula dengan penyakit kanker. Ini akan menjadi sebuah kesempatan untuk bersaksi. Kristus sungguh layak disembah. Inilah kesempatan emas untuk menunjukkan bahwa Ia lebih berharga daripada hidup. Jangan sia-siakan itu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:'''DP''': Yesus adalah hidupmu. Di hadapan-Nyalah semuanya akan berlutut. Ia telah mengalahkan kematian selamanya. Ia akan menyelesaikan apa yang telah Ia mulai. Biarkanlah sinarmu bercahaya karena kau hidup di dalam-Nya, oleh-Nya, melalui-Nya, dan untuk-Nya. Salah satu himne lama gereja mengungkapkannya seperti ini:&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Kritus besertaku,&lt;br /&gt;
:Kristus di dalamku,&lt;br /&gt;
:Kristus di belakangku,&lt;br /&gt;
:Kristus di hadapanku,&lt;br /&gt;
:Kristus di sisiku,&lt;br /&gt;
:Kristus memenangkanku,&lt;br /&gt;
:Kristus melegakan dan memulihkanku,&lt;br /&gt;
:Kristus di bawahku,&lt;br /&gt;
:Kristus di atasku,&lt;br /&gt;
:Kristus dalam diam,&lt;br /&gt;
:Kristus dalam bahaya,&lt;br /&gt;
:Kristus dalam hati semua yang mengasihi aku,&lt;br /&gt;
:Kristus dalam mulut teman dan orang-orang asing&lt;br /&gt;
:(dari ”I bind unto myself the name”).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Melalui penyakit kanker Anda, Anda akan membutuhkan saudara-saudari Anda untuk bersaksi tentang kebenaran dan kebesaran Kristus, untuk berjalan bersama Anda, untuk memelihara iman di samping Anda, untuk mencintai Anda. Dan Anda pun dapat berbuat hal yang sama bersama mereka dan orang-orang lainnya, menjadi hati yang mengasihi dengan kasih Kristus dan mulut yang dipenuhi pengharapan, baik bagi sahabat maupun orang-orang asing.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Ingatlah bahwa Anda tidak akan dibiarkan sendirian. Anda akan memperoleh pertolongan yang Anda butuhkan. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastur John&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:33:07 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Jangan_Sia-Siakan_Penyakit_Kanker_Anda</comments>		</item>
		<item>
			<title>Apakah Mereka Sungguh Menginginkan Selai Kacang?</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Apakah_Mereka_Sungguh_Menginginkan_Selai_Kacang%3F</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Do They Really Want Peanut Butter?}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Perenungan mengenai Metro Food Share'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&amp;quot;Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan ''barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian''.” (Lukas 3:11). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Inilah deskripsi Yohanes Pembaptis mengenai “buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (3:8). Satu ciri pertobatan adalah apa yang kaulakukan dengan makananmu. Oh, betapa mendunianya kabar baik! Ia mengubah orang-orang dan membuat mereka berpikir dengan cara berbeda mengenai makanan mereka. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun, tak hanya makanan mereka – tapi juga mereka yang miskin. ”Membagi dengan ''yang tidak punya''” maksudnya memperhatikan mereka yang tak punya. Bacaan terbaik setelah Lukas 3:11 mengenai mengapa kita perlu berbagi makanan dengan orang-orang miskin adalah kisah tentang Orang Samaria yang Murah Hati. Kunci pernyataannya adalah&amp;amp;nbsp;: “ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan” (Lukas 10:33). Orang Yahudi dan Orang Samaria saling membenci satu sama lain. Akan tetapi orang Samaria ini menaruh belas kasihan pada sang orang Yahudi. Mengapa? Karena ia ada di sana dan amat membutuhkan. Maksud Yesus&amp;amp;nbsp;: Jadilah jenis orang yang tidak mampu lewat begitu saja dari seberang jalan. Janganlah bertanya apakah orang miskin itu seorang Kristen. Tolonglah dia, karena kau penuh dan dia kosong. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Paragraf lain yang mendorong kita untuk memberi makan mereka yang lapar adalah Roma 12:20. “Jika seterumu lapar, berilah dia makan.” Begitu kosong kedengarannya ketika beberapa tahun silam seorang saudara Kristen di Green Bay berdiri dan menentang resolusi gaya hidup sederhana dengan mendebat Yohanes bahwa orang-orang yang kita jaga adalah para umat Kristen. Dukungan bagi orang-orang tidak percaya bukanlah urusan kita – urusan kita hanyalah pemberitaan kabar baik. Tetapi Yesus berseru,”Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27). Dan Paulus berkata,”Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada ''semua orang'', dan terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Galatia 6:10). Atau mengacu pada perkataannya di I Tesalonika 3:12, ”Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap ''semua orang''.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Metro Food Share'' merupakan sebuah upaya yang dilakukan oleh Gereja Minnesota untuk mengumpulkan 200.000 pon makanan di bulan Februari untuk mengisi rak-rak makanan yang akan dibagikan kepada mereka yang paling membutuhkan. Pillsburry akan mengimbangi persembahan ini sampai 100.000 pon. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Rak makanan yang kami kumpulkan adalah Community Emergency Services di 11th Ave dan 19th St. Anggota kami, Sally dan David Michael bekerja di sana. Ketika kami bertanya apa yang mereka butuhkan, mereka menjawab selai kacang. Alasannya: Protein dan penggunaan yang fleksibel. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
''Karenanya ayo kita beri mereka seribu botol!'' &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Setiap hari Minggu selama bulan Februari akan ada kotak-kotak di gereja di mana Anda dapat menaruh botol. Ada sekitar 100 botol yang telah dimasukkan. Belilah beberapa botol ketika berbelanja dan bawalah kemari. Itu akan menjadi “buah-buah yang sesuai dengan pertobatan.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Demi kemuliaan Yesus Pemenuh kita, &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pastur Yohanes&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:32:59 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Apakah_Mereka_Sungguh_Menginginkan_Selai_Kacang%3F</comments>		</item>
		<item>
			<title>Membela Kemurkaan Bapa</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Membela_Kemurkaan_Bapa</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Defending My Father's Wrath}}Ada kekuatan-kekuatan budaya yang bekerja di dalam dan diluar gereja yang membuat saya benar-benar ingin memberikan pembelaan terhadap kemurkaan Bapa terhadap saya sebelum saya diangkat anak. Sebetulnya Dia tidak memerlukan pembelaan saya. Akan tetapi saya percaya bahwa Dia akan semakin dihormati karena pembelaan itu. Sehubungan dengan pembelaan itu Dia memerintahkan kita, ”Hormatilah ayahmu.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Saya menuliskan ini dari Cambridge, England, dan ledakan kemarahan saya terhadap Bapa saya adalah dengan gaya Inggris. Fitnah yang terpikirkan dalam benak saya tertulis dalam sebuah paragraf yang ditulis oleh seorang penulis terkenal dari Inggris. Bunyinya adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Kenyataan yang ada adalah bahwa salib bukanlah suatu bentuk universal tentang pelecehan anak- seorang Bapa yang murka, yang menghukum puteraNya karena permasalahan yang (bahkan) bukan menjadi urusannya. Suatu hal yang cukup bisa dimengerti apabila orang-orang yang ada di dalam maupun diluar gereja menganggap dan memahami versi kejadian yang secara moral tertukar balik ini sebagai hal yang agak membingungkan dan menjadi penghalang yang sangat besar terhadap iman. Tetapi, lebih dalam dari hal tersebut adalah bahwa konsep pengertian seperti itu benar-benar berlawanan dengan pernyataan ini: ”Allah adalah kasih”. Jadi jikalau salib adalah sebuah perbuatan kekerasan individu yang secara salah telah dilakukan dengan sengaja oleh Tuhan terhadap umat manusia lewat PuteraNya, maka hal itu menjadi penghinaan bagi pengajaran-pengajaran Yesus sendiri tentang Kasih terhadap musuh dan menolak membalas kejahatan dengan kejahatan (Steve Chalke dan Alan Mann, ''The Lost Message of Jesus'', [Grand Rapids, MI: Zondervan, 2003], pp. 182-183) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal yang sangat menggembirakan ini berasal dari sebuah profesi Kristen. Demi nama Bapa di surga, saya akan memberikan kesaksian tentang kebenaran sebelum Dia mengangkat saya sebagai anak. KemurkaanNya tertuju kepada saya. Yesus berkata, ”Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, mealinkan murka Allah tetap ada atasnya.” (Yohanes 3:36). Kemurkaan tetap ada pada kita selama tidak ada iman dalam Yesus. Rasul Paulus mengatakannya seperti ini: Kita ” adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.” Efesus 2:3). Sifat alami saya pantas untuk dimurkai. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tujuan hidup saya dahulu adalah untuk bertahan dalam ”api yang menyala-nyala” dan ”pembalasan terhadap mereka yang tidak mentaati Injil Yesus, Tuhan kita (dan yang) akan menjalani hukuman kebinasaan” (2Tesalonika 1:8-9). Dahulu saya bukan anak Tuhan. Dan Tuhan bukan Bapa saya. Dia adalah hakim dan eksekutor saya. Dahulu saya adalah ”anak-anak durhaka” (Efesus 2:2). Dahulu saya mati dalam pencobaan dan dosa. Dan hukuman dari Hakim saya sangat jelas dan menakutkan:”Karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah terhadap orang-orang durhaka.”(Efesus 5:6) &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dahulu hanya ada satu harapan buat saya—yaitu dengan adanya hikmat Tuhan yang tidak terbatas yang akan membuka jalan untuk Kasih Tuhan untuk menumpahkan kemurkaan Nya sehingga ada kemungkinan saya akan menjadi anak Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Dan inilah hal yang persis terjadi, dan saya akan memujikannya selamanya. Setelah berkata bahwa secara alami dahulu saya adalah anak durhaka yang pantas mendapat murka, Rasul Paulus berkata,”Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkannya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita- oleh kasih karunia kamu diselamatkan.” (Efesus 2:4-5). ”Apabila kegenapan waktunya sudah tiba, Tuhan mengirimkan PuteraNya ....... untuk menebus mereka yang berada dibawah hukum taurat, sehingga kita akan diangkat menjadi anak-anak-Nya”. Tuhan mengirimkan Putera-Nya untuk menyelamatkan saya dari murka-Nya dan mengangkat saya menjadi anak-Nya. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Bagaimana Dia melakukannya? Dia melakukannya sama persis seperti yang disebut Steve Chalke secara memojokkan sebagai ”pelecehan anak secara umum”. Putera Allah telah menjadi kutuk untuk saya. ”Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan ''menjadi kutuk karena kita-'' sebab ada tertulis: ”Terkutuklah orang yang tergantung pada kayu salib!” (Galatia 3:13). Andai saja orang-orang yang hidup pada abad 20 ini menemukan kasih yang begitu besar ”yang secara moral membingungkan dan menjadi penghalang besar terhadap iman”, hal itu tidaklah berbeda dari masa-masa Paulus. ”Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu ''batu sandungan'' dan untuk orang bukan Yahudi suatu ''kebodohan''.” (1 Korintus 1:23). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Tetapi untuk orang-orang yang dipanggil Tuhan dan percaya pada Yesus, hal ini merupakan ”kekuatan Allah dan hikmat Allah” (1 Korintus 1:24). Ini adalah hidup saya. Dan ini adalah satu-satunya cara agar Tuhan bisa menjadi Bapa saya. Saat ini, kemurkaan-Nya tidak tertuju kepada saya (Yohanes 3:36), Dia telah mengirimkan Roh yang menjadikan saya putera-Nya, mengalir deras dalam hati saya, menjerit Abba Bapa (Roma 8:15). Karena itulah, saya berdoa, ”Tuhan, saya mohon Tuhan mengetahui bahwa saya sungguh bersyukur dengan segenap hati saya, dan bahwa saya mengukur kasih Bapa untuk saya dengan besarnya murka yang pantas saya terima dan dengan agungnya belas kasihan Bapa dengan menaruh Kristus sebagai pengganti saya.&amp;lt;br&amp;gt;&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:32:50 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Membela_Kemurkaan_Bapa</comments>		</item>
		<item>
			<title>Penghianatan Kosmik (Januari 2007)</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Penghianatan_Kosmik_(Januari_2007)</link>
			<description>&lt;p&gt;PagePush: Automated: copied from main site&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;{{ info | Cosmic Treason (January 2007)}} &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Pertanyaan tentang “Apakah dosa itu?” dikemukakan dalam Westminster Shorter Catechism. Jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan katekismus ini secara sederhana adalah: “Dosa adalah keinginan untuk menyesuaikan dengan atau pelanggaran terhadap hukum Allah.” &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mari kita melihat sebagian dari unsur tanggapan katekisme. Pertama-tama, dosa adalah suatu keinginan atau kekurangan. Dalam abad pertengahan, para ahli teologi Kristen mencoba melukiskan iblis atau dosa dengan istilah kekurangan (''privatio'') atau ketiadaan (''negatio''). Dalam istilah-istilah ini, iblis atau dosa dikenal dari ketidak-sesuaiannya dengan kebaikan. Istilah negatif yang dihubungkan dengan dosa dapat dilihat dalam ayat-ayat alkitab seperti ketidak-patuhan, ketidak-bertuhanan, atau ketidak-bermoralan. Di dalam seluruh istilah tersebut, kita melihat ada penekanan terhadap sifat negatifnya. Ilustrasi selanjutnya mencakup kata-kata seperti ''aib, antikris,'' dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Namun demikian, untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai dosa, kita harus melihat bahwa dosa mencakup lebih daripada penegatifan dari kebaikan, atau lebih daripada sekedar kurangnya kebajikan. Kita mungkin cenderung menganggap bahwa dosa, bila dijabarkan secara ekskusif dalam istilah negatif, hanyalah sekedar ilusi. Tetapi kebinasaan dari dosa menunjuk secara dramatis kepada realitas dari kekuatannya, yang tidak pernah dapat dijelaskan dengan ilusi. Para penganut pembaharuan menambahkan pada makna dari ''privatio'' tersebut suatu pendapat tentang aktualitas atau aktivitas, sehingga iblis dilihat dalam frasa, ''”privatio actuosa.”'' Hal ini menekankan pada sifat aktif dari dosa. Dalam katekismus, dosa dijabarkan bukan hanya sebagai keinginan untuk menyesuaikan namun suatu tindakan pelanggaran, suatu tindakan yang mencakup melangkahi atau menyalahi standar.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Untuk memahami arti dari dosa, kita tidak dapat menjabarkannya secara terpisah dari hubungannya dengan hukum Taurat. Hukum Tauratlah yang menentukan apa yang dimaksud dengan dosa. Dalam Perjanjian Baru, Rasul Paulus, terutama dalam kitab Roma, dengan tegas menekankan bahwa ada hubungan yang tidak dapat dipisahkan antara dosa dan maut dan antara dosa dan hukum Taurat. Rumus sederhanyanya adalah sebagai berikut: Tidak ada dosa sama dengan tidak ada maut. Tidak ada hukum Taurat sama dengan tidak ada dosa. Rasul membantah bahwa dimana tidak ada hukum Taurat, tidak ada dosa, dan dimana tidak ada dosa, tidak ada maut. Hal ini berdasarkan pada alasan bahwa maut menyerbu kehidupan manusia sebagai tindakan penghukuman ilahi atas dosa. Maut tidak dapat memasuki kehidupan manusia sampai Taurat Allah dinyatakan pertama kali. Untuk alasan inilah maka rasul menentang bahwa hukum moral sudah berlaku sebelum Allah memberikan kode Mosaik kepada Israel. Argumentasinya adalah bahwa maut sudah ada di muka bumi sebelum Sinai, bahwa maut berkuasa sejak Adam sampai Musa. Ini hanya berarti bahwa hukum moral Allah diberikan kepada ciptaan-Nya jauh sebelum loh batu dikirim kepada bangsa Israel.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Hal ini memberikan kepercayaan pada pernyataan tegas Immanuel Kant tentang perintah moral universal yang ia sebut ''categorical imperative'' (perintah pasti), yang terdapat dalam hati nurani setiap orang yang dapat merasakan. Oleh karena hukum Tauratlah yang menjelaskan sifat dari dosa, maka kita dibiarkan menghadapi akibat yang mengerikan dari ketidak-patuhan kita terhadap hukum Taurat. Apa yang diperlukan oleh orang berdosa untuk diselamatkan dari aspek penghukuman ini adalah apa yang disebut Solomon Stoddard sebagai kebenaran dari Hukum Taurat. Sama seperti dosa digambarkan sebagai ketidak-sesuaian dengan Hukum Taurat, atau pelanggaran terhadap Hukum Taurat, maka penangkal satu-satunya terhadap pelanggaran itu ialah ketaatan terhadap Hukum Taurat. Jika kita memiliki ketaatan terhadap Hukum Allah, maka kita akan luput dari bahaya penghakiman Allah.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Solomon Stoddard, kakek dari Jonathan Edwards, menulis dalam bukunya, ''The Righteousness of Christ'', kesimpulan berikut mengenai nilai dari kebenaran Hukum Taurat: “Cukuplah bagi kita bila kita memiliki kebenaran Hukum Taurat. Tidak ada lagi bahaya dari kegagalan kita apabila kita memiliki kebenaran itu. Jaminan dari para malaikat di surga adalah karena mereka memiliki kebenaran hukum Taurat, dan itu adalah jaminan yang cukup bagi kita bila kita memiliki kebenaran hukum Taurat. Apabila kita memiliki kebenaran hukum Taurat, maka kita tidak akan terkena kutukan hukum Taurat. Kita tidak lagi ditakuti oleh hukum taurat; pengadilan tidak dibangkitkan atas kita; penghukuman dari hukum Taurat tidak dapat mencekeram kita; hukum tidak lagi mempunyai keberatan melawan keselamatan kita. Jiwa yang memiliki kebenaran hukum Taurat berada di luar jangkauan ancaman-ancaman dari hukum Taurat. Manakala tuntutan dari hukum Taurat dijawab, maka hukum Taurat tidak mendapati adanya kesalahan. Hukum Taurat hanya mengutuk ketidak-taatan yang sempurna. Ya, lebih dari itu, manakala terdapat kebenaran hukum Taurat, Allah telah mengikatkan diri-Nya untuk memberikan hidup yang kekal. Manusia yang demikian adalah ahli waris kehidupan, menurut janji hukum Taurat. Hukum Taurat menyebut mereka sebagai ahli waris kehidupan, Galatia 3:12, ’siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya’ (Kebenaran Kristus, ayat 25).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Satu-satunya kebenaran yang memenuhi persyaratan hukum Taurat adalah kebenaran Kristus. Hanya karena tuduhan terhadap kebenaran itulah maka orang berdosa bisa memiliki kebenaran hukum Taurat. Hal ini sangat penting dalam pemahaman kita pada saat ini dimana tuduhan terhadap kebenaran Kristus itu mendapat banyak tantangan. Jika kita mengabaikan pikiran tentang kebenaran Kristus, kita tidak mempunyai pengharapan, karena hukum Taurat tidak pernah dinegosiasikan oleh Allah. Selama hukum Taurat ada, kita terbuka terhadap penghakimannya kecuali dosa kita ditutupi oleh kebenaran hukum Taurat. Penutup satu-satunya yang dapat kita miliki dari kebenaran itu adalah yang kita dapati melalui ketaatan Kristus yang aktif, dimana Ia sendiri telah memenuhi setiap catatan dan judul dari hukum Taurat. Pemenuhan terhadap hukum Taurat dalam diri-Nya sendiri adalah merupakan aktivitas yang dilakukan untuk orang lain dan melaluinya Ia mencapai penghargaan sebagai hasil dari ketaatan tersebut. Ia melakukan ini bukan untuk diri-Nya sendiri namun untuk umat-Nya. Adalah kebenaran yang dituduhkan ini, penyelamatan dari penghukuman hukum Taurat, dan keselamatan dari kebinasaan dari dosa inilah yang menjadi latar belakang dari penyucian orang Kristen, dimana kita harus menahan nafsu dosa yang masih ada dalam kita, karena Kristus telah mati untuk dosa kita.&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 16:32:42 GMT</pubDate>			<dc:creator>PagePush</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Penghianatan_Kosmik_(Januari_2007)</comments>		</item>
	</channel>
</rss>