<?xml version="1.0"?>
<?xml-stylesheet type="text/css" href="http://id.gospeltranslations.org/w/skins/common/feed.css?239"?>
<rss version="2.0" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
	<channel>
		<title>Berkat dari Kerendahan Hati - Riwayat revisi</title>
		<link>http://id.gospeltranslations.org/w/index.php?title=Berkat_dari_Kerendahan_Hati&amp;action=history</link>
		<description>Riwayat revisi halaman ini di wiki</description>
		<language>id</language>
		<generator>MediaWiki 1.16alpha</generator>
		<lastBuildDate>Mon, 04 May 2026 03:59:00 GMT</lastBuildDate>
		<item>
			<title>Kathyyee: Melindungi &quot;Berkat dari Kerendahan Hati&quot; ([edit=sysop] (selamanya) [move=sysop] (selamanya))</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/w/index.php?title=Berkat_dari_Kerendahan_Hati&amp;diff=388&amp;oldid=prev</link>
			<description>&lt;p&gt;Melindungi &amp;quot;&lt;a href=&quot;/wiki/Berkat_dari_Kerendahan_Hati&quot; title=&quot;Berkat dari Kerendahan Hati&quot;&gt;Berkat dari Kerendahan Hati&lt;/a&gt;&amp;quot; ([edit=sysop] (selamanya) [move=sysop] (selamanya))&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;
			&lt;col class='diff-marker' /&gt;
			&lt;col class='diff-content' /&gt;
			&lt;col class='diff-marker' /&gt;
			&lt;col class='diff-content' /&gt;
		&lt;tr valign='top'&gt;
		&lt;td colspan='2' style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;←Revisi sebelumnya&lt;/td&gt;
		&lt;td colspan='2' style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;Revisi per 12:21, 30 April 2013&lt;/td&gt;
		&lt;/tr&gt;&lt;!-- diff generator: internal 2026-05-04 03:59:00 --&gt;
&lt;/table&gt;</description>
			<pubDate>Tue, 30 Apr 2013 12:21:20 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kathyyee</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Berkat_dari_Kerendahan_Hati</comments>		</item>
		<item>
			<title>Yahya Kristiyanto pada 04:58, 24 April 2013</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/w/index.php?title=Berkat_dari_Kerendahan_Hati&amp;diff=379&amp;oldid=prev</link>
			<description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;
			&lt;col class='diff-marker' /&gt;
			&lt;col class='diff-content' /&gt;
			&lt;col class='diff-marker' /&gt;
			&lt;col class='diff-content' /&gt;
		&lt;tr valign='top'&gt;
		&lt;td colspan='2' style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;←Revisi sebelumnya&lt;/td&gt;
		&lt;td colspan='2' style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;Revisi per 04:58, 24 April 2013&lt;/td&gt;
		&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Baris 9:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Baris 9:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6). Apa yang menyebabkan seorang percaya menjadi lapar dan haus akan kebenaran? Tumbuhnya kesadaran akan keberdosaannya yang terus-menerus, bersama dengan kesadaran yang menggembirakan bahwa dosa-dosanya telah ditebus oleh darah Kristus dan bahwa mereka telah mengenakan jubah kebenaran-Nya. Mereka memiliki kerinduan yang dalam untuk mengalami apa yang telah mereka miliki di hadapan Tuhan. Mereka rindu untuk lebih dan lebih lagi dibebaskan dari pola keberdosaan yang menetap di dalam hidup mereka dan untuk melihat lebih banyak lagi karakter kasih yang di dalam Alkitab dinamakan “buah-buah Roh”. Ketegangan antara keadaan yang mereka inginkan dan keadaan di mana mereka melihat diri mereka berada saat ini menyebabkan kerendahan hati yang terus-menerus di hadapan Tuhan dan sesama.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6). Apa yang menyebabkan seorang percaya menjadi lapar dan haus akan kebenaran? Tumbuhnya kesadaran akan keberdosaannya yang terus-menerus, bersama dengan kesadaran yang menggembirakan bahwa dosa-dosanya telah ditebus oleh darah Kristus dan bahwa mereka telah mengenakan jubah kebenaran-Nya. Mereka memiliki kerinduan yang dalam untuk mengalami apa yang telah mereka miliki di hadapan Tuhan. Mereka rindu untuk lebih dan lebih lagi dibebaskan dari pola keberdosaan yang menetap di dalam hidup mereka dan untuk melihat lebih banyak lagi karakter kasih yang di dalam Alkitab dinamakan “buah-buah Roh”. Ketegangan antara keadaan yang mereka inginkan dan keadaan di mana mereka melihat diri mereka berada saat ini menyebabkan kerendahan hati yang terus-menerus di hadapan Tuhan dan sesama.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang murah hatinya” (ay. 7). Dalam bentuk yang paling dasar, kemurahan hati menggambarkan perasaan sayang atau belas kasihan kepada mereka yang berada dalam keadaan menderita. Tetapi kadang-kadang kemurahan hati berarti pengampunan, seperti ketika pemungut cukai berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Tidak dapat diragukan lagi, arti inilah yang dimaksudkan Yesus. Gambaran yang paling baik bagi kemurahan hati ini dapat dijumpai dalam perumpamaan hamba yang tidak mau mengampuni (Mat 18:23-35). Sang raja menaruh belas kasihan kepada hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta dan mengampuni hutangnya yang sangat besar itu. Tidak lama berselang hamba itu bertemu dengan hamba lainnya yang berhutang seratus dinar kepadanya (jumlah yang sangat remeh dibandingkan dengan jumlah hutangnya) &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;dan &lt;/del&gt;ia menolak untuk mengampuninya. Sang raja, setelah mendengar tentang hal itu, berkata, “Hai hamba yang jahat&lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;! Seluruh &lt;/del&gt;hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;engkaupun &lt;/del&gt;harus &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;mengasihi &lt;/del&gt;kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (ay. 32-33). &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang murah hatinya” (ay. 7). Dalam bentuk yang paling dasar, kemurahan hati menggambarkan perasaan sayang atau belas kasihan kepada mereka yang berada dalam keadaan menderita. Tetapi kadang-kadang kemurahan hati berarti pengampunan, seperti ketika pemungut cukai berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;18:13). Tidak dapat diragukan lagi, arti inilah yang dimaksudkan Yesus. Gambaran yang paling baik bagi kemurahan hati ini dapat dijumpai dalam perumpamaan hamba yang tidak mau mengampuni (Mat&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;18:23-35). Sang raja menaruh belas kasihan kepada hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta dan mengampuni hutangnya yang sangat besar itu. Tidak lama berselang hamba itu bertemu dengan hamba lainnya yang berhutang seratus dinar kepadanya (jumlah yang sangat remeh dibandingkan dengan jumlah hutangnya &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;sendiri&lt;/ins&gt;)&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;, tetapi &lt;/ins&gt;ia menolak untuk mengampuninya. Sang raja, setelah mendengar tentang hal itu, berkata, “Hai hamba yang jahat&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;, seluruh &lt;/ins&gt;hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;engkau pun &lt;/ins&gt;harus &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;mengasihani &lt;/ins&gt;kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (ay. 32-33). &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Maka, orang yang murah hati adalah orang yang menyadari betapa besar mereka telah diampuni, dan mereka bersedia untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada mereka. Kemurahan hati berawal dari kerendahan hati, dengan kesadaran yang mendalam mengenai kemiskinan rohaninya, bersama dengan tumbuhnya kesadaran mengenai seberapa besar ia telah diampuni oleh Tuhan. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Maka, orang yang murah hati adalah orang yang menyadari betapa besar mereka telah diampuni, dan mereka bersedia untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada mereka. Kemurahan hati berawal dari kerendahan hati, dengan kesadaran yang mendalam mengenai kemiskinan rohaninya, bersama dengan tumbuhnya kesadaran mengenai seberapa besar ia telah diampuni oleh Tuhan. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang suci hatinya” (Mat 5:8). Memiliki hati yang suci berarti bebas dari kecemaran di pusat hidup kita. Ini bukan berarti kesempurnaan tanpa dosa, tetapi ini berarti hidup seseorang ditandai dengan keinginan yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengejar kekudusan itu, yang tanpanya tidak seorang pun dapat melihat Tuhan (Ibr 12:14). &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang suci hatinya” (Mat&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;5:8). Memiliki hati yang suci berarti bebas dari kecemaran di pusat hidup kita. Ini bukan berarti kesempurnaan tanpa dosa, tetapi ini berarti hidup seseorang ditandai dengan keinginan yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengejar kekudusan itu, yang tanpanya tidak seorang pun dapat melihat Tuhan (Ibr&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;12:14). &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang membawa damai” (Mat 5:9). Sang pembawa damai pertama-tama berusaha untuk berdamai dengan sesamanya. Seperti yang dikatakan Paulus, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (&lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Rom &lt;/del&gt;12:18). Itu artinya kita mengambil inisiatif untuk berdamai, bahkan ketika kita telah dirugikan. Hanya jika kita memiliki sikap ini terhadap diri kita sendiri, barulah kita dapat menjadi pembawa damai bagi orang lain. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang membawa damai” (Mat&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;5:9). Sang pembawa damai pertama-tama berusaha untuk berdamai dengan sesamanya. Seperti yang dikatakan Paulus, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Rm. &lt;/ins&gt;12:18). Itu artinya kita mengambil inisiatif untuk berdamai, bahkan ketika kita telah dirugikan. Hanya jika kita memiliki sikap ini terhadap diri kita sendiri, barulah kita dapat menjadi pembawa damai bagi orang lain. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Mereka yang berusaha untuk menghidupi ketujuh &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Sabda &lt;/del&gt;Bahagia ini umumnya akan menonjol di masyarakat. Orang akan mengira bahwa masyarakat akan mengagumi dan menghargai mereka yang hidupnya ditandai dengan karakteristik ini. Tetapi biasanya, yang sebaliknyalah yang terjadi. Masyarakat tidak menghargai kerendahan hati karena itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai mereka. Sebagai akibatnya, Anda mungkin dicerca dan bahkan dianiaya, namun pada akhirnya Anda akan diberkati karena “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Mereka yang berusaha untuk menghidupi ketujuh &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Ucapan &lt;/ins&gt;Bahagia ini umumnya akan menonjol di &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;dalam &lt;/ins&gt;masyarakat. Orang akan mengira bahwa masyarakat akan mengagumi dan menghargai mereka yang hidupnya ditandai dengan karakteristik ini. Tetapi biasanya, yang sebaliknyalah yang terjadi. Masyarakat tidak menghargai kerendahan hati karena itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai mereka. Sebagai akibatnya, Anda mungkin dicerca dan bahkan dianiaya, namun pada akhirnya Anda akan diberkati karena “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;4:6).&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;!-- diff generator: internal 2026-05-04 03:59:01 --&gt;
&lt;/table&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 04:58:50 GMT</pubDate>			<dc:creator>Yahya Kristiyanto</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Berkat_dari_Kerendahan_Hati</comments>		</item>
		<item>
			<title>Yahya Kristiyanto pada 04:54, 24 April 2013</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/w/index.php?title=Berkat_dari_Kerendahan_Hati&amp;diff=378&amp;oldid=prev</link>
			<description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;table style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;
			&lt;col class='diff-marker' /&gt;
			&lt;col class='diff-content' /&gt;
			&lt;col class='diff-marker' /&gt;
			&lt;col class='diff-content' /&gt;
		&lt;tr valign='top'&gt;
		&lt;td colspan='2' style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;←Revisi sebelumnya&lt;/td&gt;
		&lt;td colspan='2' style=&quot;background-color: white; color:black;&quot;&gt;Revisi per 04:54, 24 April 2013&lt;/td&gt;
		&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Baris 1:&lt;/td&gt;
&lt;td colspan=&quot;2&quot; class=&quot;diff-lineno&quot;&gt;Baris 1:&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;{{info|The Blessings of Humility}}Dua karakter Kristiani yang paling sering diajarkan dalam Perjanjian Baru adalah kasih dan kerendahan hati. Perikop &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;klasik &lt;/del&gt;mengenai kasih adalah, tentu saja, &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;I &lt;/del&gt;Korintus 13. Perikop &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;klasik &lt;/del&gt;mengenai kerendahan hati, walaupun kata ini tidak pernah disebutkan di dalamnya, adalah Matius 5:2-12, yang dikenal dengan &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Sabda &lt;/del&gt;Bahagia. Dan sebagaimana &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;I &lt;/del&gt;Korintus menggambarkan kasih, maka Sabda Bahagia menggambarkan kerendahan hati. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;{{info|The Blessings of Humility}}Dua karakter Kristiani yang paling sering diajarkan dalam Perjanjian Baru adalah kasih dan kerendahan hati. Perikop &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;yang terkenal &lt;/ins&gt;mengenai kasih adalah, tentu saja, &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;1 &lt;/ins&gt;Korintus 13. Perikop &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;yang terkenal &lt;/ins&gt;mengenai kerendahan hati, walaupun kata ini tidak pernah disebutkan di dalamnya, adalah Matius 5:2-12, yang dikenal dengan &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Ucapan &lt;/ins&gt;Bahagia. Dan sebagaimana &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;1 &lt;/ins&gt;Korintus menggambarkan kasih, maka Sabda Bahagia menggambarkan kerendahan hati.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Yesus memulai &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;pengajaranNya &lt;/del&gt;dengan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang telah menyadari kemiskinan rohaninya. Mereka melihat &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kedosaan &lt;/del&gt;mereka yang terus menerus walaupun mereka telah menjadi percaya. Berlawanan dengan orang Farisi munafik yang berdoa,&lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;”Ya &lt;/del&gt;Allah, aku &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;bersyukur &lt;/del&gt;karena aku tidak sama seperti semua orang lain,” mereka adalah seperti pemungut cukai yang berseru, ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Luk 18:9-13). Inilah awal dari kerendahan hati, menyadari secara penuh tentang &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kedosaan &lt;/del&gt;kita yang terus menerus. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Yesus memulai &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;pengajaran-Nya &lt;/ins&gt;dengan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;5:3). Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang telah menyadari kemiskinan rohaninya. Mereka melihat &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;keberdosaan &lt;/ins&gt;mereka yang terus&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;-&lt;/ins&gt;menerus walaupun mereka telah menjadi percaya. Berlawanan dengan orang Farisi munafik yang berdoa, &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;&amp;quot;Ya &lt;/ins&gt;Allah, aku &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;mengucap syukur kepada-Mu &lt;/ins&gt;karena aku tidak sama seperti semua orang lain,” mereka adalah seperti pemungut cukai yang berseru, ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Luk&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;18:9-13). Inilah awal dari kerendahan hati, menyadari secara penuh tentang &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;keberdosaan &lt;/ins&gt;kita yang terus&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;-&lt;/ins&gt;menerus.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Yesus melanjutkan, “Berbahagialah orang yang berduka cita” (Mat 5:4). &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Sabda &lt;/del&gt;Bahagia kedua ini secara alamiah mengikuti yang pertama. Mereka yang melihat &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kedosaan &lt;/del&gt;mereka yang terus menerus berduka cita karenanya. Mereka &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;merindukan &lt;/del&gt;untuk dapat melihat kemajuan di dalam usaha mereka untuk mematikan &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kedosaan &lt;/del&gt;yang menetap dalam hidup mereka – termasuk dosa-dosa “terhormat” yang &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;seringkali &lt;/del&gt;kita &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;toleransi &lt;/del&gt;dalam diri kita. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;Yesus melanjutkan, “Berbahagialah orang yang berduka cita” (Mat&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;. &lt;/ins&gt;5:4). &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Ucapan &lt;/ins&gt;Bahagia &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;yang &lt;/ins&gt;kedua ini secara alamiah mengikuti yang pertama. Mereka yang melihat &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;keberdosaan &lt;/ins&gt;mereka yang terus&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;-&lt;/ins&gt;menerus&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;, &lt;/ins&gt;berduka cita karenanya. Mereka &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;rindu &lt;/ins&gt;untuk dapat melihat kemajuan di dalam usaha mereka untuk mematikan &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;keberdosaan &lt;/ins&gt;yang menetap &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;di &lt;/ins&gt;dalam hidup mereka – termasuk dosa-dosa “terhormat” yang &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;sering kali &lt;/ins&gt;kita &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;tolerir &lt;/ins&gt;dalam diri kita.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;&lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Sabda &lt;/del&gt;Bahagia ketiga, “Berbahagialah orang yang lemah lembut,” (ay. 5), muncul dari kedua &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;sabda pertama&lt;/del&gt;. Kelemahlembutan bukanlah tanda dari kelemahan karakter, melainkan kekuatan karakter. Ini adalah sikap orang yang, menyadari kemiskinan rohaninya sendiri, mengakui bahwa ia tidak layak menerima pemberian dari Tuhan atau dari sesamanya. Ia tidak menjadi marah jika mengalami nasib buruk atau jika diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Ia percaya bahwa Tuhan akan bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan baginya, sehingga ia menyerahkan masalahnya kepada Tuhan. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Ucapan &lt;/ins&gt;Bahagia &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;yang &lt;/ins&gt;ketiga, “Berbahagialah orang yang lemah lembut,” (ay. 5), muncul dari kedua &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;ucapan sebelumnya&lt;/ins&gt;. Kelemahlembutan bukanlah tanda dari kelemahan karakter, melainkan kekuatan karakter. Ini adalah sikap orang yang, menyadari kemiskinan rohaninya sendiri, mengakui bahwa ia tidak layak menerima pemberian dari Tuhan atau dari sesamanya. Ia tidak menjadi marah jika mengalami nasib buruk atau jika diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Ia percaya bahwa Tuhan akan bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan baginya, sehingga ia menyerahkan masalahnya kepada Tuhan. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;-&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #ffa; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6). Apa yang menyebabkan seorang percaya menjadi lapar dan haus akan kebenaran? Tumbuhnya kesadaran akan &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kedosaannya &lt;/del&gt;yang terus menerus, bersama dengan kesadaran yang menggembirakan bahwa dosa-dosanya telah ditebus oleh darah Kristus dan bahwa mereka telah mengenakan jubah &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kebenaranNya&lt;/del&gt;. Mereka memiliki kerinduan yang dalam untuk mengalami apa yang telah mereka miliki di hadapan Tuhan. Mereka rindu untuk lebih dan lebih lagi dibebaskan dari pola &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kedosaan &lt;/del&gt;yang menetap di dalam hidup mereka dan untuk melihat lebih banyak lagi karakter kasih yang dalam Alkitab dinamakan “buah-buah &lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Roh&lt;/del&gt;.&lt;del class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;” &lt;/del&gt;Ketegangan antara keadaan yang mereka inginkan dan keadaan di mana mereka melihat diri mereka berada saat ini menyebabkan kerendahan hati yang terus menerus di hadapan Tuhan dan sesama. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt;+&lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #cfc; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6). Apa yang menyebabkan seorang percaya menjadi lapar dan haus akan kebenaran? Tumbuhnya kesadaran akan &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;keberdosaannya &lt;/ins&gt;yang terus&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;-&lt;/ins&gt;menerus, bersama dengan kesadaran yang menggembirakan bahwa dosa-dosanya telah ditebus oleh darah Kristus dan bahwa mereka telah mengenakan jubah &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;kebenaran-Nya&lt;/ins&gt;. Mereka memiliki kerinduan yang dalam untuk mengalami apa yang telah mereka miliki di hadapan Tuhan. Mereka rindu untuk lebih dan lebih lagi dibebaskan dari pola &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;keberdosaan &lt;/ins&gt;yang menetap di dalam hidup mereka dan untuk melihat lebih banyak lagi karakter kasih yang &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;di &lt;/ins&gt;dalam Alkitab dinamakan “buah-buah &lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;Roh”&lt;/ins&gt;. Ketegangan antara keadaan yang mereka inginkan dan keadaan di mana mereka melihat diri mereka berada saat ini menyebabkan kerendahan hati yang terus&lt;ins class=&quot;diffchange diffchange-inline&quot;&gt;-&lt;/ins&gt;menerus di hadapan Tuhan dan sesama.&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;tr&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang murah hatinya” (ay. 7). Dalam bentuk yang paling dasar, kemurahan hati menggambarkan perasaan sayang atau belas kasihan kepada mereka yang berada dalam keadaan menderita. Tetapi kadang-kadang kemurahan hati berarti pengampunan, seperti ketika pemungut cukai berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Tidak dapat diragukan lagi, arti inilah yang dimaksudkan Yesus. Gambaran yang paling baik bagi kemurahan hati ini dapat dijumpai dalam perumpamaan hamba yang tidak mau mengampuni (Mat 18:23-35). Sang raja menaruh belas kasihan kepada hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta dan mengampuni hutangnya yang sangat besar itu. Tidak lama berselang hamba itu bertemu dengan hamba lainnya yang berhutang seratus dinar kepadanya (jumlah yang sangat remeh dibandingkan dengan jumlah hutangnya) dan ia menolak untuk mengampuninya. Sang raja, setelah mendengar tentang hal itu, berkata, “Hai hamba yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihi kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (ay. 32-33). &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;td class='diff-marker'&gt; &lt;/td&gt;&lt;td style=&quot;background: #eee; color:black; font-size: smaller;&quot;&gt;&lt;div&gt;“Berbahagialah orang yang murah hatinya” (ay. 7). Dalam bentuk yang paling dasar, kemurahan hati menggambarkan perasaan sayang atau belas kasihan kepada mereka yang berada dalam keadaan menderita. Tetapi kadang-kadang kemurahan hati berarti pengampunan, seperti ketika pemungut cukai berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Tidak dapat diragukan lagi, arti inilah yang dimaksudkan Yesus. Gambaran yang paling baik bagi kemurahan hati ini dapat dijumpai dalam perumpamaan hamba yang tidak mau mengampuni (Mat 18:23-35). Sang raja menaruh belas kasihan kepada hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta dan mengampuni hutangnya yang sangat besar itu. Tidak lama berselang hamba itu bertemu dengan hamba lainnya yang berhutang seratus dinar kepadanya (jumlah yang sangat remeh dibandingkan dengan jumlah hutangnya) dan ia menolak untuk mengampuninya. Sang raja, setelah mendengar tentang hal itu, berkata, “Hai hamba yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihi kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (ay. 32-33). &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;
&lt;!-- diff generator: internal 2026-05-04 03:59:01 --&gt;
&lt;/table&gt;</description>
			<pubDate>Wed, 24 Apr 2013 04:54:15 GMT</pubDate>			<dc:creator>Yahya Kristiyanto</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Berkat_dari_Kerendahan_Hati</comments>		</item>
		<item>
			<title>Kathyyee: ←Membuat halaman berisi '{{info|The Blessings of Humility}}Dua karakter Kristiani yang paling sering diajarkan dalam Perjanjian Baru adalah kasih dan kerendahan hati. Perikop klasik mengenai kasi...'</title>
			<link>http://id.gospeltranslations.org/w/index.php?title=Berkat_dari_Kerendahan_Hati&amp;diff=189&amp;oldid=prev</link>
			<description>&lt;p&gt;←Membuat halaman berisi &amp;#39;{{info|The Blessings of Humility}}Dua karakter Kristiani yang paling sering diajarkan dalam Perjanjian Baru adalah kasih dan kerendahan hati. Perikop klasik mengenai kasi...&amp;#39;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;b&gt;Halaman baru&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div&gt;{{info|The Blessings of Humility}}Dua karakter Kristiani yang paling sering diajarkan dalam Perjanjian Baru adalah kasih dan kerendahan hati. Perikop klasik mengenai kasih adalah, tentu saja, I Korintus 13. Perikop klasik mengenai kerendahan hati, walaupun kata ini tidak pernah disebutkan di dalamnya, adalah Matius 5:2-12, yang dikenal dengan Sabda Bahagia. Dan sebagaimana I Korintus menggambarkan kasih, maka Sabda Bahagia menggambarkan kerendahan hati. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus memulai pengajaranNya dengan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” (Mat 5:3). Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang telah menyadari kemiskinan rohaninya. Mereka melihat kedosaan mereka yang terus menerus walaupun mereka telah menjadi percaya. Berlawanan dengan orang Farisi munafik yang berdoa,”Ya Allah, aku bersyukur karena aku tidak sama seperti semua orang lain,” mereka adalah seperti pemungut cukai yang berseru, ”Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini!” (Luk 18:9-13). Inilah awal dari kerendahan hati, menyadari secara penuh tentang kedosaan kita yang terus menerus. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Yesus melanjutkan, “Berbahagialah orang yang berduka cita” (Mat 5:4). Sabda Bahagia kedua ini secara alamiah mengikuti yang pertama. Mereka yang melihat kedosaan mereka yang terus menerus berduka cita karenanya. Mereka merindukan untuk dapat melihat kemajuan di dalam usaha mereka untuk mematikan kedosaan yang menetap dalam hidup mereka – termasuk dosa-dosa “terhormat” yang seringkali kita toleransi dalam diri kita. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Sabda Bahagia ketiga, “Berbahagialah orang yang lemah lembut,” (ay. 5), muncul dari kedua sabda pertama. Kelemahlembutan bukanlah tanda dari kelemahan karakter, melainkan kekuatan karakter. Ini adalah sikap orang yang, menyadari kemiskinan rohaninya sendiri, mengakui bahwa ia tidak layak menerima pemberian dari Tuhan atau dari sesamanya. Ia tidak menjadi marah jika mengalami nasib buruk atau jika diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Ia percaya bahwa Tuhan akan bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan baginya, sehingga ia menyerahkan masalahnya kepada Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran” (ay. 6). Apa yang menyebabkan seorang percaya menjadi lapar dan haus akan kebenaran? Tumbuhnya kesadaran akan kedosaannya yang terus menerus, bersama dengan kesadaran yang menggembirakan bahwa dosa-dosanya telah ditebus oleh darah Kristus dan bahwa mereka telah mengenakan jubah kebenaranNya. Mereka memiliki kerinduan yang dalam untuk mengalami apa yang telah mereka miliki di hadapan Tuhan. Mereka rindu untuk lebih dan lebih lagi dibebaskan dari pola kedosaan yang menetap di dalam hidup mereka dan untuk melihat lebih banyak lagi karakter kasih yang dalam Alkitab dinamakan “buah-buah Roh.” Ketegangan antara keadaan yang mereka inginkan dan keadaan di mana mereka melihat diri mereka berada saat ini menyebabkan kerendahan hati yang terus menerus di hadapan Tuhan dan sesama. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang murah hatinya” (ay. 7). Dalam bentuk yang paling dasar, kemurahan hati menggambarkan perasaan sayang atau belas kasihan kepada mereka yang berada dalam keadaan menderita. Tetapi kadang-kadang kemurahan hati berarti pengampunan, seperti ketika pemungut cukai berdoa, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13). Tidak dapat diragukan lagi, arti inilah yang dimaksudkan Yesus. Gambaran yang paling baik bagi kemurahan hati ini dapat dijumpai dalam perumpamaan hamba yang tidak mau mengampuni (Mat 18:23-35). Sang raja menaruh belas kasihan kepada hamba yang berhutang sepuluh ribu talenta dan mengampuni hutangnya yang sangat besar itu. Tidak lama berselang hamba itu bertemu dengan hamba lainnya yang berhutang seratus dinar kepadanya (jumlah yang sangat remeh dibandingkan dengan jumlah hutangnya) dan ia menolak untuk mengampuninya. Sang raja, setelah mendengar tentang hal itu, berkata, “Hai hamba yang jahat! Seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihi kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” (ay. 32-33). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Maka, orang yang murah hati adalah orang yang menyadari betapa besar mereka telah diampuni, dan mereka bersedia untuk mengampuni orang lain yang bersalah kepada mereka. Kemurahan hati berawal dari kerendahan hati, dengan kesadaran yang mendalam mengenai kemiskinan rohaninya, bersama dengan tumbuhnya kesadaran mengenai seberapa besar ia telah diampuni oleh Tuhan. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang suci hatinya” (Mat 5:8). Memiliki hati yang suci berarti bebas dari kecemaran di pusat hidup kita. Ini bukan berarti kesempurnaan tanpa dosa, tetapi ini berarti hidup seseorang ditandai dengan keinginan yang tulus dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mengejar kekudusan itu, yang tanpanya tidak seorang pun dapat melihat Tuhan (Ibr 12:14). &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
“Berbahagialah orang yang membawa damai” (Mat 5:9). Sang pembawa damai pertama-tama berusaha untuk berdamai dengan sesamanya. Seperti yang dikatakan Paulus, “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang” (Rom 12:18). Itu artinya kita mengambil inisiatif untuk berdamai, bahkan ketika kita telah dirugikan. Hanya jika kita memiliki sikap ini terhadap diri kita sendiri, barulah kita dapat menjadi pembawa damai bagi orang lain. &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
Mereka yang berusaha untuk menghidupi ketujuh Sabda Bahagia ini umumnya akan menonjol di masyarakat. Orang akan mengira bahwa masyarakat akan mengagumi dan menghargai mereka yang hidupnya ditandai dengan karakteristik ini. Tetapi biasanya, yang sebaliknyalah yang terjadi. Masyarakat tidak menghargai kerendahan hati karena itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai mereka. Sebagai akibatnya, Anda mungkin dicerca dan bahkan dianiaya, namun pada akhirnya Anda akan diberkati karena “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6).&lt;/div&gt;</description>
			<pubDate>Thu, 19 Jul 2012 18:19:51 GMT</pubDate>			<dc:creator>Kathyyee</dc:creator>			<comments>http://id.gospeltranslations.org/wiki/Pembicaraan:Berkat_dari_Kerendahan_Hati</comments>		</item>
	</channel>
</rss>